Chapter Two
Kontrak
POV: Evan
Aku minum decaf.
Bukan karena aku membangkang pada kartu nama seorang perempuan asing. Aku minum decaf karena aku sudah minum decaf setiap pagi selama lima tahun, dan seorang laki-laki dewasa tidak mengubah kebiasaan lima tahunnya hanya karena satu kalimat yang ditulis tangan dengan tinta hitam dan huruf miring ke kanan.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri sambil berdiri di dapur kecil di belakang Studio Mahendra pukul tujuh pagi, menatap cangkir decaf yang uapnya naik pelan-pelan, dan merasa seperti pengkhianat.
Pengkhianat dari apa, aku tidak tahu.
“Bang.” Dodo muncul di pintu dapur dengan rambut yang masih basah dan kaus bertuliskan BUMI ITU DATAR, BUKA MATAMU. “Abang kok pagi banget.”
“Nggak bisa tidur.”
“Kenapa? Mikirin Ibu Negara?”
Aku menatapnya. “Siapa?”
“Mbak Mikaela, Bang. Saya udah sepakat sama diri saya sendiri, mulai sekarang dia Ibu Negara. Karena dia ngatur semuanya, cantiknya kebangetan, dan saya takut sama dia.” Dodo membuka kulkas, mengambil susu kotak, dan meminumnya langsung dari kotaknya. “Dan Mbak Lulu itu Menteri Pertahanan.”
“Karena dia ngatur pertahanan?”
“Karena dia nolak saya tiga kali kemarin. Pertahanannya kuat banget, Bang.”
“Tiga kali?”
“Satu waktu saya ngenalin diri. Satu waktu saya nawarin bantu angkat genset. Satu lagi waktu saya minta nomor WhatsApp.” Dodo menyeka bibirnya. “Yang terakhir dia bilang, ‘Nomor saya cuma untuk klien dan keluarga. Mas bukan dua-duanya.’”
“Itu jelas penolakan.”
“Itu tantangan, Bang. Belum jadi dua-duanya.”
Aku membawa cangkirku ke depan.
Studio Mahendra tidak besar. Lantai bawahnya ruko dua lantai di Jalan Dago bagian atas, dengan jendela kaca lebar yang menghadap jalan dan pohon flamboyan yang setiap Oktober menjatuhkan bunga merah ke trotoar. Ruang depan untuk menerima klien: sofa abu-abu, meja kopi dari kayu jati bekas, rak berisi album-album contoh. Di belakangnya ruang editing dengan dua monitor besar dan kursi yang punggungnya sudah menyerah. Di lantai atas ada darkroom kecil yang hampir tidak pernah kupakai lagi, tapi tidak pernah sanggup kubongkar, dan kamar tempat aku tidur kalau lembur.
Dan dindingnya penuh foto.
Foto-foto pernikahan yang paling kusukai, dicetak besar dan dibingkai kayu tipis. Pengantin yang tertawa di bawah hujan di Kebun Teh Rancabali. Kakek-nenek Garut dengan benang setebal tali kapal (yang tentu saja tidak terlihat di foto, tapi aku ingat). Sepasang tuna rungu yang mengucapkan janji dengan bahasa isyarat, tangan mereka kabur karena bergerak terlalu cepat.
Foto pernikahan Fikri dan Nadia, tiga tahun lalu, di Gedung Sate. Nadia tertawa sampai matanya menyipit jadi garis, dan Fikri menatapnya seperti orang yang baru memenangkan lotre tapi takut tiketnya hilang. Aku memotret foto itu dengan detak jantung seratus dua puluh tiga, karena aku sengaja naik-turun tangga gedung dua kali sebelum sesi foto. Aku ingin melihat benang sahabatku. Aku ingin memastikan.
Benang Nadia ke Fikri waktu itu setebal tali sepatu. Bergetar hangat. Aku pulang malam itu dan tidur nyenyak untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.
Dan di tengah dinding, di tempat paling terang, ada satu foto hitam-putih yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan.
Seorang anak perempuan, kurus, berumur sekitar tiga belas tahun, duduk di undakan tangga semen sebuah bangunan tua. Rambutnya dipotong pendek asal-asalan, seperti dipotong sendiri dengan gunting dapur. Ia memeluk lututnya. Di belakangnya, buram dan jauh, ada anak-anak lain yang berlari ke arah pintu gerbang, ke arah orang-orang dewasa yang datang menjenguk. Anak perempuan itu tidak berlari. Ia hanya menatap ke arah gerbang, dengan mata yang terlalu besar untuk wajahnya, dan ekspresi yang bukan sedih, bukan juga marah.
Ekspresi orang yang sudah tidak berharap.
Di bawah foto itu, dicetak kecil di atas plakat kuningan:
Belum Ada yang Menunggu
Evan Mahendra, 17 tahun
Aku berdiri di depan foto itu dengan cangkir decaf di tangan, seperti hampir setiap pagi.
Itu foto pertama yang pernah kumenangkan. Lomba fotografi nasional untuk pelajar, dua belas tahun lalu. Tugas sekolah: Potret Kehidupan di Sekitarmu. Teman-temanku memotret pasar, tukang becak, nenek penjual gorengan. Aku memotret Panti Asuhan Kasih Ibu di Cibeunying, karena ibuku dulu sering mengirim soto ke sana setiap Jumat dan aku yang disuruh mengantar.
Hari itu hari Minggu. Hari jenguk.
Hari itu juga, untuk pertama kalinya, dunia berubah warna.
Aku tidak pernah benar-benar tahu kenapa terjadi hari itu. Mungkin karena aku sedang marah. Aku ingat marahnya: melihat anak-anak berlari ke gerbang, melihat ayah-ayah dan kakak-kakak laki-laki datang membawa kantong plastik berisi jajanan, melihat benang-benang tenang yang tiba-tiba muncul, menjulur dari anak-anak perempuan itu ke ayah mereka, ke kakak mereka, ke paman mereka. Benang keluarga. Lurus. Tenang. Seperti tali jemuran yang menghubungkan dua rumah.
Dan satu anak perempuan di undakan tangga, yang tidak punya benang sama sekali.
Tidak ke siapa pun. Tidak dari siapa pun.
Detak jantungku waktu itu pasti di atas seratus dua puluh. Aku ingat kepalaku pening, keringat dingin di pelipis, dan perasaan ingin muntah. Aku ingat mengangkat kamera pinjaman sekolah dan memotret anak perempuan itu, berkali-kali, karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Satu-satunya cara untuk berkata: aku melihatmu.
Aku tidak ingat namanya. Aku bahkan tidak yakin aku pernah tahu namanya. Aku hanya ingat matanya. Dan bahwa setelah foto itu menang dan dimuat di koran, Ibu bilang anak itu diadopsi.
Aku selalu berharap itu benar. Aku selalu berharap sekarang ia punya benang. Banyak benang.
Foto yang tergantung di dinding ini cetak ulang. Print aslinya, yang dicetak di kertas fiber oleh lab terbaik di Bandung untuk pameran pemenang, sudah kujual lima tahun lalu kepada pembeli anonim yang membayar dengan harga yang terlalu tinggi untuk foto karya anak SMA. Waktu itu aku butuh uang. Waktu itu tabungan nikahku baru saja dikuras habis oleh perempuan yang benangnya pernah kukira akan selamanya ke arahku.
Aku tidak mau memikirkan itu pagi ini.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh delapan menit.
Lonceng di atas pintu studio berbunyi pukul sepuluh tepat.
Ia datang membawa dua gelas kopi.
Hari ini ia memakai gaun midi berwarna hijau sage, berbahan satin yang jatuh lembut mengikuti tubuhnya dan bergerak seperti air setiap kali ia melangkah. Lengan panjang, kerah sedikit terbuka, ikat pinggang tipis berwarna emas. Rambutnya digelung longgar di tengkuk, dengan beberapa helai yang sengaja (atau tidak sengaja, tapi aku curiga sengaja) dibiarkan jatuh di sisi wajah. Anting mutiaranya masih sama. Lipstiknya kali ini lebih gelap, warna anggur tua, dan membuat kulitnya terlihat semakin terang di bawah cahaya pagi yang masuk dari jendela.
Di bawah sinar matahari jam sepuluh pagi Bandung, yang lembut dan miring dan merupakan cahaya favorit setiap fotografer di kota ini, Mikaela Wirawan terlihat seperti foto yang sudah diedit. Padahal aku tahu, sebagai orang yang mengedit foto untuk hidup, tidak ada aplikasi yang bisa membuat orang terlihat seperti itu.
“Pagi,” katanya, dan meletakkan satu gelas kopi di meja jati, tepat di sebelah cangkir decaf-ku. Ia melirik cangkir itu. Lalu melirikku. Lalu tersenyum.
“Kamu minum decaf.”
“Aku selalu minum decaf.”
“Padahal sudah kuperingatkan.”
“Kartu nama bukan peringatan.”
“Ya, kan. Kartu nama itu janji.” Ia mendorong gelas kopinya ke arahku dengan satu ujung jari. “Ini single origin Gayo, diseduh V60, tanpa gula. Kesukaanmu waktu kuliah.”
Aku menatapnya.
“Bagaimana...”
“Kamu pernah diwawancara majalah fotografi lokal empat tahun lalu,” katanya santai, sambil duduk di sofa abu-abu tanpa menunggu dipersilakan, menyilangkan kakinya dengan gerakan yang membuat ujung gaunnya tersingkap sedikit di atas mata kaki. “Ada pertanyaan, kebiasaan pagi apa yang kamu rindukan? Dan kamu jawab, kopi Gayo V60 tanpa gula, waktu kuliah. Lalu kamu bilang sekarang kamu minum decaf karena alasan kesehatan.”
“Kamu baca wawancara itu?”
“Aku baca semua wawancaramu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Di belakangku, Dodo yang pura-pura sedang membersihkan lensa berbisik terlalu keras, “Stalker level dewa.“
Mikaela menoleh ke arah Dodo dan tersenyum manis. “Riset, Mas Dodo. Namanya riset. Aku nggak akan menawarkan kontrak ke fotografer yang belum kuriset.”
Dodo menegakkan punggung. “Mbak tahu nama saya?”
“Tentu. Ridho Firmansyah. Asisten Studio Mahendra sejak tiga tahun lalu. Pernah jadi juara dua lomba makan kerupuk tingkat kelurahan Coblong. Punya akun TikTok tentang teori konspirasi dengan dua ribu tiga ratus pengikut.”
Dodo menatapku dengan wajah orang yang baru bertemu Tuhan.
“Bang,” bisiknya. “Saya mau sujud.”
“Jangan.”
Aku duduk di kursi di seberang Mikaela, dengan meja jati di antara kami. Jarak yang aman. Jarak profesional. Aku tidak menyentuh kopi Gayo itu, meskipun wanginya, yang tajam dan sedikit asam seperti buah beri, membuat lidahku mengingat sesuatu.
“Tawaranmu,” kataku.
“Langsung ke inti. Aku suka.” Mikaela mengeluarkan map tipis berwarna krem dari tas kulitnya dan meletakkannya di meja. “Kaela Wedding baru buka di Bandung bulan ini. Kantor pusatku dulu di Singapura, tapi aku pulang. Untuk setahun ke depan aku sudah pegang dua belas pernikahan. Aku mau satu fotografer untuk semuanya. Eksklusif.”
“Aku punya klien sendiri.”
“Jadwalmu bulan depan kosong delapan belas hari. Bulan setelahnya dua puluh dua.”
Aku memejamkan mata sebentar.
“Kamu juga riset jadwalku?”
“Aku telepon studiomu tiga minggu lalu, pura-pura jadi calon pengantin, dan tanya tanggal-tanggal kosong ke Mas Dodo.” Ia melirik Dodo. “Mas Dodo sangat membantu.”
Aku menoleh ke Dodo. Dodo tiba-tiba sangat sibuk membersihkan lensa yang sudah bersih.
“Aku nggak tertarik,” kataku.
“Kamu belum dengar angkanya.”
“Aku nggak perlu dengar.”
Mikaela membuka map itu, membalik halaman pertama, dan memutarnya ke arahku. Jarinya, yang lentik dengan kuku berwarna nude, menunjuk satu angka di bagian bawah.
Aku membaca angka itu.
Lalu aku membacanya lagi, karena pasti ada nol yang kelebihan.
Tidak ada.
Angka itu tiga kali lipat dari tarif normalku per pernikahan. Dikalikan dua belas.
“Masih nggak tertarik?” tanya Mikaela.
“...Masih.”
Ia mengangguk pelan, seperti sudah menduga. Lalu ia mengambil pulpen dari tasnya. Bukan pulpen biasa, tapi pulpen tinta celup berwarna hitam dengan ujung emas. Ia mencoret angka itu, menulis angka baru di sebelahnya, dan memutar map itu kembali ke arahku.
Dua kali lipat dari angka sebelumnya.
Dari belakangku terdengar suara benda jatuh. Aku menoleh. Dodo terbaring di lantai ruang editing, telentang, tangan terentang, mata terpejam.
“Dodo.”
“Saya pingsan, Bang.”
“Kamu masih bisa ngomong.”
“Pingsannya pingsan sadar, Bang. Ini angka yang bisa bikin saya beli motor baru. Biarin saya pingsan dulu.”
Mikaela tertawa.
Itu pertama kalinya aku mendengarnya tertawa. Bukan tawa sopan yang biasa dipakai untuk klien, tapi tawa yang lepas, sedikit serak di ujungnya, seperti tawa yang tidak sering dipakai. Ia menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan bahunya bergetar, dan matanya menyipit sampai bulu mata panjangnya hampir bertemu.
Aku memalingkan wajah, karena jam tanganku baru saja bergetar.
Seratus tiga.
“Kenapa aku?” tanyaku, sedikit lebih keras dari yang kurencanakan. “Ada puluhan fotografer pernikahan di Bandung. Lebih senior, lebih terkenal, lebih murah dari angka gila itu.”
Tawa Mikaela mereda. Ia menatapku, dan untuk sesaat, sekilas saja, ekspresinya berubah. Ada sesuatu yang lewat di matanya. Sesuatu yang lebih tua dari umurnya, lebih lelah dari wajahnya.
Lalu hilang.
“Karena fotomu bukan foto acara,” katanya pelan. “Semua fotografer di Bandung bisa motret acara. Pelaminan, dekorasi, pengantin senyum ke kamera. Tapi fotomu itu...” Ia mencari kata. “Fotomu itu foto orang. Kamu motret orang seperti kamu bisa melihat sesuatu di dalam mereka yang orang lain nggak bisa lihat.”
Aku diam.
Ia tidak tahu betapa dekat kalimat itu dengan kenyataan.
“Itu pujian yang berlebihan,” kataku akhirnya.
“Itu observasi.” Ia bersandar di sofa, menyilangkan tangannya di perut. “Pujiannya nanti. Kalau kamu sudah tanda tangan.”
Lalu ia berdiri.
Aku pikir ia akan pergi. Tapi ia berjalan ke dinding foto, pelan, dengan tangan di belakang punggung, seperti pengunjung galeri. Ia berhenti di depan foto kakek-nenek Garut dan tersenyum kecil. Ia berhenti di depan foto pasangan tuna rungu dan menyentuh bingkainya dengan satu ujung jari. Ia berhenti di depan foto Fikri dan Nadia dan berkata, “Mereka kelihatan bahagia.”
“Mereka sahabatku.”
“Masih bahagia?”
Pertanyaan itu sederhana. Pertanyaan yang biasa ditanyakan orang. Tapi entah kenapa, aku merasakan sesuatu yang dingin di tengkukku.
“Masih,” jawabku. “Kurasa.”
Mikaela mengangguk. Lalu ia berjalan ke tengah dinding.
Ke foto hitam-putih itu.
Ia berhenti di depannya. Dan tidak bergerak.
Aku menunggu ia berkomentar seperti di foto-foto lain. Tapi ia tidak bicara. Ia hanya berdiri di sana, punggungnya tegak, tangannya masih di belakang punggung, menatap anak perempuan kurus di undakan tangga itu.
Lama.
Cahaya pagi jatuh dari jendela, menyorot sisi wajahnya. Dari tempatku duduk, aku hanya bisa melihat profilnya: garis hidungnya yang lurus, bulu matanya yang tidak berkedip, rahangnya yang sedikit mengeras. Seperti sedang menahan sesuatu.
“Belum Ada yang Menunggu,” ia membaca pelan, judul di plakat kuningan itu.
“Itu foto lama,” kataku. “Waktu aku masih SMA.”
“Aku tahu.”
Ia tahu. Tentu saja ia tahu. Ia membaca semua wawancaraku.
“Kamu motret di mana?” tanyanya, masih tanpa menoleh.
“Panti asuhan. Di Cibeunying.”
“Kamu tahu siapa namanya?”
“Nggak.”
“Kamu pernah cari tahu?”
Aku diam sejenak. “Nggak.”
“Kenapa?”
Karena aku takut menemukan bahwa ia masih tidak punya benang. Karena selama aku tidak tahu, aku bisa berharap. Karena aku pengecut, dan aku sudah tahu itu sejak umur tujuh belas.
“Nggak sempat,” jawabku.
Mikaela akhirnya menoleh. Matanya sedikit lebih basah dari sebelumnya. Atau mungkin hanya pantulan cahaya. Aku tidak yakin. Aku fotografer, aku seharusnya tahu bedanya, tapi pagi itu aku tidak yakin pada apa pun.
“Siapa yang nunggu dia sekarang?” tanyanya.
Pertanyaan itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam sumur.
“Nggak tahu,” kataku jujur. “Semoga ada.”
Mikaela menatapku lama. Lalu ia tersenyum, dan senyum itu bukan senyum menggoda yang ia pakai sejak tadi. Senyum itu lebih kecil. Lebih tenang. Seperti seseorang yang baru saja mendengar jawaban yang sudah lama ia tunggu.
“Semoga,” ulangnya pelan.
Ponselku bergetar di saku. Aku mengabaikannya. Bergetar lagi. Aku mengeluarkannya dengan niat mematikannya, dan melihat dua pesan di layar.
Yang pertama dari Fikri:
dr. Fikri Kardio: 103 jam 10.14. Pagi-pagi udah olahraga?
Yang kedua dari Pak Haji Soleh, pemilik ruko:
Pak Haji Soleh: Assalamualaikum Nak Evan. Mengingatkan, sewa ruko sudah lewat dua bulan. Bapak tidak enak menagih terus, tapi Bapak juga punya cicilan. Mohon dikabari minggu ini ya Nak. Wassalam.
Aku menatap pesan itu lama.
Dua bulan. Sudah dua bulan. Sejak tiga klien besar membatalkan kontrak karena pengantinnya putus (satu karena selingkuh, satu karena beda agama, satu karena pengantin laki-lakinya ternyata sudah punya istri di Cirebon). Sejak lensa 70-200mm-ku jatuh dari tripod dan biaya servisnya sama dengan harga motor bekas. Sejak tabungan yang kubangun ulang dari nol dalam lima tahun terakhir pelan-pelan menipis lagi, seperti benang yang tidak ingin kulihat.
Aku mengangkat kepala.
Mikaela sudah kembali duduk di sofa. Ia tidak melihat ponselku. Ia tidak bertanya. Ia hanya menungguku dengan sabar, dengan kaki yang masih menyilang dan tangan yang terlipat di pangkuan, seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya dan bersedia menunggu berapa lama pun sampai aku sendiri tahu.
“Ada syaratnya,” kataku.
Alisnya terangkat sedikit. “Oh?”
“Aku yang menentukan konsep foto. Kamu nggak boleh ikut campur.”
“Setuju.”
“Nggak ada sesi foto pre-wedding di atas gunung, tebing, atau tempat yang harus didaki lebih dari dua puluh menit.”
Matanya berbinar geli. “Karena?”
“Karena aku nggak suka capek.”
“Karena jantungmu?”
Aku diam.
“Setuju,” katanya cepat, seolah menyesal bertanya. “Apa lagi?”
“Itu saja.”
“Hanya dua? Aku sudah siapkan jawaban untuk sepuluh.”
“Kamu sudah siapkan jawaban untuk sepuluh syarat yang belum kusebutkan?”
“Tentu.” Ia mengambil pulpen tinta celupnya, membuka map ke halaman terakhir, dan menyodorkan pulpen itu padaku dengan ujung emasnya menghadap ke arahku. “Aku sudah menunggu terlalu lama untuk ditolak karena alasan yang belum kupikirkan.”
Menunggu terlalu lama. Aku menyimpan kalimat itu di suatu tempat di kepalaku. Nanti. Nanti aku pikirkan.
Aku menerima pulpennya. Jari kami bersentuhan. Ringan sekali, hanya ujung jari telunjuknya di buku jariku, tapi ia tidak menariknya cepat-cepat seperti orang yang tidak sengaja. Ia membiarkannya di sana satu detik. Dua detik. Lalu menariknya pelan, dengan cara yang membuatku sadar ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
Seratus sembilan.
Aku menandatangani kontrak itu.
Di lantai ruang editing, Dodo bangkit dari pingsan sadarnya dan bertepuk tangan dengan khidmat, seperti di upacara bendera.
Mikaela pergi sepuluh menit kemudian.
Di pintu, dengan satu tangan memegang gagang pintu kaca dan lonceng di atas kepalanya yang bergoyang pelan, ia berhenti dan menoleh.
“Evan.”
“Hm?”
“Kamu nggak tanya bagaimana aku tahu kamu minum decaf. Kemarin. Waktu aku tulis di kartu nama.”
Aku menatapnya. “Wawancara majalah.”
“Wawancara majalah itu empat tahun lalu. Bisa saja kamu sudah berhenti decaf.” Ia memiringkan kepala, dan cahaya dari luar membuat siluetnya berpendar di pinggiran, seperti foto yang sengaja diambil melawan matahari. “Tapi aku tahu kamu masih minum decaf. Bukan menebak.”
“Bagaimana?”
Mikaela tersenyum.
“Kamu punya dua belas pernikahan untuk cari tahu,” katanya. “Minum kopinya. Mumpung masih hangat.”
Lonceng berbunyi. Pintu tertutup.
Aku duduk sendirian di ruang depan studio, dengan cangkir decaf yang sudah dingin di satu sisi dan gelas kopi Gayo yang masih hangat di sisi lain.
Aku menatap keduanya lama.
Lalu aku mengambil gelas kopi Gayo itu dan menyesapnya.
Rasanya persis seperti yang kuingat. Asam, tajam, sedikit pahit di ujung lidah, dengan sisa rasa seperti buah beri yang jatuh di tanah setelah hujan. Rasa yang sudah lima tahun tidak kucicipi.
Jam tanganku bergetar.
Sembilan puluh delapan. Lalu seratus dua. Lalu seratus empat.
Mungkin kafeinnya. Mungkin.
Di dinding, anak perempuan di undakan tangga itu masih menatap ke arah gerbang yang tidak pernah didatangi siapa pun.
“Bang,” kata Dodo dari belakangku, pelan, dengan nada yang jarang ia pakai. “Abang sadar nggak?”
“Apa?”
“Tadi Ibu Negara lihatin foto itu lama banget. Lebih lama dari foto-foto lain.” Ia menggaruk kepala. “Kayak... kayak dia kenal.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku juga melihatnya. Dan aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya.
Belum.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak reading
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?