Chapter Six
Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
POV: Mika
Aku butuh empat puluh menit untuk memilih baju, dan aku tidak menyesal satu menit pun.
Gaun pertama terlalu formal. Gaun kedua terlalu santai. Gaun ketiga warna merah marun, dan aku memakainya selama tiga menit penuh di depan cermin sebelum melepasnya lagi, karena merah marun terlalu jelas. Terlalu aku-sengaja-pakai-ini-untukmu. Dan aku belum boleh sejelas itu. Belum.
Yang akhirnya kupakai adalah gaun selutut berwarna biru tua, berbahan crepe yang jatuh lurus dengan potongan leher persegi dan lengan tiga perempat. Sederhana. Rapi. Warna yang tenggelam di antara dekorasi, supaya pasangan yang merayakan ulang tahun pernikahan tetap jadi pusat perhatian.
Dan warna yang, menurut tiga artikel majalah fotografi yang kubaca tengah malam, paling cocok dengan kulit hangat di bawah cahaya jendela sore.
Aku tidak berbohong pada diriku sendiri. Aku memilih gaun ini untuk lensa 85mm-nya.
Rambutku kugerai, dengan satu sisi diselipkan ke belakang telinga supaya anting mutiaraku terlihat. Lipstik merah bata, yang sama dengan malam pertama di Lembang. Sedikit parfum di pergelangan tangan, di bagian dalam, di tempat nadiku berdenyut. Kalau aku memegang nadinya lagi hari ini, dan aku akan memegang nadinya lagi hari ini, aku mau wangi itu tertinggal di kulitnya.
Aku menatap perempuan di cermin.
Perempuan di cermin balas menatapku dengan mata yang sudah dirias dengan baik, kulit yang sudah ditutup lingkaran gelapnya, dan bibir yang melengkung sedikit di satu sudut. Ia terlihat percaya diri. Ia terlihat seperti seseorang yang tidak pernah ditolak seumur hidupnya.
Ia pembohong yang sangat baik.
“Oke,” kataku padanya. “Hari ini nggak boleh nangis.”
Pak Darmawan dan Bu Sumarni sudah menikah lima puluh tahun, tujuh bulan, dan dua hari. Bu Sumarni yang menghitung. Ia memberitahuku angka itu waktu pertama kali kami bertemu untuk konsultasi, dengan suara pelan dan senyum seperti anak gadis yang menyimpan rahasia.
“Bapak nggak pernah ingat tanggal,” katanya. “Jadi saya yang ingat untuk dua orang.”
Mereka tidak minta resepsi besar. Mereka minta aula lantai empat di gedung tua Jalan Braga, tempat mereka latihan dansa setiap Minggu selama dua puluh tahun. Mereka minta lagu Bengawan Solo versi keroncong, karena itu lagu yang diputar waktu Pak Darmawan melamar di Pasar Baru tahun tujuh puluhan. Mereka minta seratus tamu, anak cucu dan teman-teman lama dari klub dansa.
Dan mereka minta satu hal yang membuatku menangis di mobil setelah konsultasi pertama.
“Kami mau janji lagi,” kata Pak Darmawan, dengan suaranya yang berat dan sedikit serak. “Bukan karena janji yang dulu sudah habis. Tapi karena sekarang kami tahu janji itu harganya berapa.”
Aku berdiri di pojok aula, di dekat meja vendor, dan memperhatikan semuanya berjalan seperti jam yang baru diminyaki.
Lantai kayunya berkilat seperti madu. Cahaya sore masuk dari jendela-jendela tinggi yang menghadap Jalan Braga, jatuh miring di lantai dalam garis-garis keemasan. Grup keroncong di panggung kecil sudah memainkan lagu pembuka. Cucu-cucu Pak Darmawan berlarian di antara kursi, dan salah satunya, anak laki-laki berumur lima tahun dengan peci kebesaran, sudah dua kali mencoba memanjat meja kue sebelum ditangkap ibunya.
Dan Evan ada di mana-mana.
Aku bisa melacaknya tanpa melihat. Itu kemampuan yang kupelajari dalam tiga minggu terakhir, sama seperti orang belajar mengenali suara langkah keluarganya di rumah. Langkahnya pelan. Ia selalu berhenti sebentar sebelum membidik, seperti sedang bernapas. Dan ia selalu, selalu, berdiri dengan bahu sedikit miring ke kiri, karena kamera di lehernya lebih berat dari yang kelihatan.
Kamera tua. Leica. Bodinya hitam dengan cat yang sudah mengelupas di sudut-sudut, seperti benda yang sudah dipegang oleh banyak tangan selama banyak tahun.
Aku tahu kamera itu milik ayahnya. Aku tahu dari wawancara majalah empat tahun lalu, paragraf ketujuh. Saya selalu bawa kamera Bapak. Bukan untuk motret. Cuma supaya beliau ikut.
Aku membaca paragraf itu empat puluh kali.
“Bu.” Lulu muncul di sebelahku dengan clipboard. “Laporan. Mas Dodo bawa drone.”
“Drone?”
“Untuk foto udara dari luar jendela. Katanya konsep sinematik.” Lulu menatapku dengan wajah datar. “Saya sudah larang. Dia bilang drone-nya punya nama.”
“Siapa namanya?”
“Ibu Negara Dua.”
Aku menutup mulutku dengan punggung tangan supaya tawaku tidak keluar terlalu keras.
“Saya tambahkan ke kolom ancaman, Bu,” kata Lulu. Lalu, setelah jeda yang sangat singkat, “Mas Dodo juga bawakan saya es teh. Tidak saya minta. Saya sudah taruh di meja. Saya belum minum.”
“Kenapa belum?”
“Saya sedang menganalisis motifnya.”
Lulu pergi sebelum aku sempat menjawab. Di meja vendor, segelas es teh manis dengan sedotan bergaris berdiri sendirian, embunnya menetes ke taplak. Lima menit kemudian aku melihat gelas itu sudah setengah kosong.
Upacara janji ulang dimulai pukul lima sore.
Pak Darmawan berdiri di depan Bu Sumarni dengan jas abu-abu yang sedikit kebesaran di bahu, karena ia sudah menyusut lima senti dalam sepuluh tahun terakhir. Bu Sumarni memakai kebaya hijau pupus yang ia jahit sendiri, dengan sanggul kecil yang ditusuk tusuk konde perak peninggalan ibunya. Tangannya gemetar. Bukan karena gugup. Karena Parkinson. Ia memberitahuku itu juga, waktu konsultasi pertama, dengan nada yang sama seperti ketika ia memberitahuku tentang tanggal pernikahan mereka. Tangan saya sekarang suka joget sendiri, Neng. Tapi kalau dipegang Bapak, berhenti.
Pak Darmawan memegang tangan istrinya. Tangan itu berhenti gemetar.
Aku melihat Evan di sisi aula, di belakang kamera. Ia tidak bergerak. Biasanya ia mengambil foto dalam rentetan cepat, klik-klik-klik, mencari momen di antara momen. Tapi sekarang ia diam. Kameranya terangkat, matanya di viewfinder, dan jarinya tidak menekan apa-apa.
Lalu ia menurunkan kamera sedikit. Dan menatap mereka dengan mata telanjang.
Aku melihat dadanya naik turun lebih cepat. Aku melihat jam di pergelangan tangannya menyala sebentar, layar kecil berwarna hijau yang tidak bisa kubaca dari jarak ini.
Tapi aku tidak perlu membacanya. Aku tahu.
Dia sedang melihat.
“Lima puluh tahun lalu,” kata Pak Darmawan, dengan suara yang bergetar tapi jelas, “aku janji akan menjagamu. Aku nggak selalu berhasil. Aku pernah lupa ulang tahunmu tiga kali. Aku pernah bikin kamu nangis gara-gara aku main catur sampai subuh. Aku pernah kehilangan pekerjaan dan nggak bilang selama dua bulan karena malu.”
Beberapa tamu tertawa kecil. Bu Sumarni tersenyum dengan mata yang sudah basah.
“Tapi aku nggak pernah berhenti memilihmu,” lanjut Pak Darmawan. “Setiap pagi. Lima puluh tahun. Delapan belas ribu lebih pagi. Aku bangun, aku lihat kamu masih tidur di sebelahku, dan aku pilih kamu lagi.” Ia menarik napas. “Hari ini aku janji, aku akan terus memilihmu sampai pagi yang terakhir. Pagiku atau pagimu. Siapa pun yang duluan.”
Aula sunyi. Bahkan anak laki-laki berpeci kebesaran berhenti memanjat.
Bu Sumarni tidak menjawab dengan janji panjang. Ia hanya mengangkat tangan suaminya yang masih menggenggam tangannya, menempelkannya ke pipinya yang keriput, dan berkata:
“Sama.”
Satu kata. Dan seratus orang di aula itu menangis bersamaan.
Termasuk aku.
Aku sudah melanggar janji pada perempuan di cermin dalam waktu kurang dari tiga jam.
Setelah upacara, saat grup keroncong mulai memainkan Bengawan Solo dan Pak Darmawan membimbing istrinya ke tengah lantai dansa, aku menemukan Evan di balkon.
Balkon kecil di ujung aula, dengan pagar besi tempa yang dicat hijau tua dan dua pot bunga kertas yang sudah lama tidak disiram. Dari sini terlihat Jalan Braga yang mulai menyalakan lampu-lampunya, gedung-gedung art deco yang berderet seperti gigi-gigi tua yang dirawat dengan baik, dan langit Bandung yang berubah dari jingga ke ungu.
Ia berdiri bersandar ke pagar, dengan kamera tergantung di dada dan tangan di saku celana.
Matanya merah.
Aku berhenti di ambang pintu balkon. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Tiga minggu aku melihatnya cemberut, panik, malu, kesal, tertawa tertahan. Belum pernah aku melihatnya seperti seseorang yang baru saja ditinggalkan sesuatu.
“Kamu nangis,” kataku.
Ia tidak menoleh. “Debu.”
“Di lantai empat?”
“Gedungnya tua.”
Aku berjalan ke sebelahnya. Bersandar ke pagar, menghadap jalan, dengan jarak satu jengkal di antara bahu kami. Angin sore Braga bertiup pelan, membawa bau aspal yang masih hangat dan kue cubit dari pedagang di bawah.
Kami diam lama.
“Kakekku,” katanya akhirnya, pelan sekali, seperti bicara pada jalanan di bawah. “Dia juga begitu. Kayak Pak Darmawan. Lima puluh dua tahun sama Nenek.”
Aku tidak bicara. Aku menunggu. Aku sudah sangat pandai menunggu.
“Nenek meninggal waktu aku umur sembilan belas. Pemakamannya di Garut. Hujan.” Ia menarik napas. “Waktu jenazahnya diturunkan ke liang, aku berdiri di sebelah Kakek. Aku lihat...”
Ia berhenti. Aku melihat rahangnya mengeras, seperti sedang memutuskan apakah kalimat berikutnya boleh diucapkan.
“Aku lihat sesuatu,” katanya akhirnya. “Kedengarannya aneh.”
“Aku suka yang aneh.”
Ia hampir tersenyum. Hampir.
“Kayak ada sesuatu yang keluar dari dadanya Kakek. Sesuatu yang... masih nyambung ke Nenek. Padahal Nenek sudah di bawah tanah.” Suaranya sangat pelan sekarang. “Dan pelan-pelan, sesuatu itu naik. Ke atas. Ke langit. Lurus. Kayak asap yang nggak ketiup angin.”
Ia tertawa kecil, tawa yang tidak sampai ke matanya.
“Aneh, kan? Mungkin aku kebanyakan nangis waktu itu. Mataku kabur.”
Aku menatap jalan di bawah. Menatap lampu-lampu yang menyala satu per satu. Menatap apa saja kecuali dia, karena kalau aku menatapnya sekarang, ia akan melihat sesuatu di wajahku yang belum boleh ia lihat.
Dia nggak tahu betapa aku percaya cerita itu.
Dia nggak tahu betapa lamanya aku menunggu dia cerita hal seperti itu.
“Nggak aneh,” kataku akhirnya, dan suaraku keluar lebih tenang dari yang kukira. “Itu artinya kakekmu masih sayang. Bahkan setelah nenekmu pergi.”
Evan menoleh padaku.
“Kamu percaya?”
“Aku percaya.” Aku akhirnya menatapnya. “Aku percaya semua yang kamu lihat.”
Ia menatapku lama. Lama sekali. Dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, campuran antara bingung dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlihat seperti orang yang baru saja diberi minum setelah berjalan jauh di bawah matahari.
Dan pelan-pelan, sangat pelan, aku melihat dadanya mulai naik turun lebih cepat.
Aku tahu angka itu sedang naik. Aku tahu tanpa perlu melihat jam tangannya.
Jadi aku melakukan sesuatu yang tidak ada di spreadsheet Lulu.
Aku mendekat.
Satu jengkal di antara bahu kami jadi setengah jengkal. Lalu jadi tidak ada. Bahuku menyentuh lengannya. Aku mendongak, dan wajahnya ada di sana, lebih dekat dari yang pernah kuizinkan diriku sendiri. Aku bisa melihat bulu matanya yang ternyata panjang untuk ukuran laki-laki. Aku bisa melihat bekas luka kecil di dagunya, garis putih tipis yang tidak pernah terlihat di foto-foto wawancaranya. Aku bisa mencium wanginya: sabun, kertas foto, dan sesuatu yang hangat seperti roti yang baru dipanggang.
Aku mengangkat tanganku dan menyentuh kerah kemejanya. Tidak untuk merapikannya. Kerahnya sudah rapi. Aku hanya menyentuhnya, dengan ujung jari, di sisi lehernya, di tempat aku bisa merasakan denyutnya berdetak cepat di bawah kulit.
“Evan,” bisikku.
Ia tidak menjawab. Ia tidak mundur.
Matanya turun dari mataku ke bibirku. Lalu kembali lagi ke mataku. Lalu turun lagi.
Aku memiringkan wajahku sedikit. Ia menunduk sedikit. Jarak di antara kami tinggal satu tarikan napas. Aku bisa merasakan napasnya di bibirku, hangat dan tidak teratur. Aku memejamkan mata...
BZZZZZZZZZZZZZZ.
Sesuatu berdengung keras di dekat kepala kami. Seperti tawon raksasa. Seperti mesin cukur yang marah.
Aku membuka mata.
Di udara, tepat di luar pagar balkon, setinggi wajah kami, melayang sebuah drone putih dengan empat baling-baling yang berputar kencang dan satu lampu merah kecil yang berkedip-kedip. Kamera di bawahnya menghadap lurus ke arah kami.
Dari dalam aula, terdengar suara Dodo yang berteriak panik:
“WAH! MAAF! MAAF, BANG! IBU NEGARA DUA NYASAR! SINYALNYA KEHALANG TEMBOK!”
Drone itu berputar di tempat, seolah ikut kebingungan. Lalu menabrak pot bunga kertas, membuatnya bergoyang, sebelum meluncur turun ke arah Jalan Braga dengan suara yang makin menjauh.
Kami berdua menatap drone itu sampai hilang di balik atap gedung seberang.
Lalu Evan mundur satu langkah. Lalu dua. Wajahnya merah sampai ke telinga. Ia menatap jam tangannya, menatap pintu balkon, menatap jalanan di bawah, menatap apa saja kecuali aku.
“Aku... harus motret dansanya,” katanya.
“Evan.”
“Lagu kedua. Lagu kedua biasanya lebih bagus. Mereka sudah pemanasan.”
Ia berjalan cepat ke pintu balkon, terlalu cepat, sampai bahunya membentur kusen. Ia meringis, mengusap bahunya, dan menghilang ke dalam aula tanpa menoleh.
Aku berdiri sendirian di balkon, dengan jantung yang berdetak terlalu keras dan bibir yang masih menunggu sesuatu yang tidak datang.
Lalu aku tertawa. Tertawa sampai harus bersandar ke pagar besi tempa dan menutup wajahku dengan kedua tangan.
Dodo. Ibu Negara Dua. Aku akan membunuh mereka berdua.
Aku menemukan Dodo di tangga darurat lima belas menit kemudian. Ia baru naik dari jalan, terengah-engah, memeluk drone yang salah satu baling-balingnya sudah patah.
“Mbak,” katanya begitu melihatku, dengan wajah orang yang sudah siap dieksekusi. “Saya bisa jelasin.”
“Silakan.”
“Saya lagi motret dari luar jendela. Konsep sinematik, Mbak. Pak Darmawan sama Bu Sumarni dansa, terus kameranya pelan-pelan mundur keluar jendela, terus naik ke langit. Kayak di film.” Ia memeluk drone-nya lebih erat. “Terus sinyalnya hilang. Terus Ibu Negara Dua belok sendiri. Terus... terus saya lihat di layar monitor...”
Ia berhenti.
“Kamu lihat apa?” tanyaku pelan.
Dodo menelan ludah. “Saya lihat Abang sama Mbak. Di balkon. Hampir...” Ia membuat gerakan aneh dengan tangannya, dua jari yang saling mendekat. “Dan saya panik, Mbak. Saya panik banget. Tangan saya kepencet tombol return home. Padahal home-nya di bawah. Jadi drone-nya lewat depan kalian.”
Aku menatapnya.
Dodo menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Mbak, sumpah, saya fans berat kalian berdua. Saya bahkan udah bikin nama kapal. Saya nggak akan pernah sengaja ganggu momen bersejarah begitu.”
“Nama kapal?”
“EvKa, Mbak. Evan-Kaela. Kayak merek sabun, tapi romantis.”
Aku tidak tahu harus marah atau tertawa. Akhirnya aku melakukan keduanya. Aku mengambil drone dari pelukannya, memeriksa baling-baling yang patah, lalu mengembalikannya.
“Mas Dodo.”
“Iya, Mbak.”
“Lain kali,” kataku, sambil berjalan melewatinya ke arah pintu aula, “matikan drone-nya duluan.”
Di belakangku, aku mendengar Dodo terkesiap. Lalu, dengan suara gemetar penuh rasa hormat:
“Siap, Bu Negara.“
Aku kembali ke aula saat grup keroncong memainkan lagu ketiga.
Pak Darmawan dan Bu Sumarni masih berdansa, pelan, berputar di tengah lantai kayu yang berkilat. Tangan Bu Sumarni tidak gemetar sama sekali di bahu suaminya. Di sekeliling mereka, anak-anak, cucu-cucu, dan teman-teman dari klub dansa ikut bergoyang. Bahkan anak laki-laki berpeci kebesaran berdansa dengan neneknya yang lain, dengan kaki menginjak kaki neneknya.
Evan ada di sisi lantai dansa, memotret.
Tapi kali ini, di antara bidikan, ia menoleh.
Menatapku.
Hanya sebentar. Satu detik. Lalu ia kembali ke viewfinder.
Tapi itu cukup. Satu detik itu cukup, karena aku melihat jam di pergelangan tangannya menyala lagi. Hijau. Berkedip.
Aku tidak bisa membaca angkanya dari sini. Tapi aku tersenyum juga, sendirian, di pojok aula yang dipenuhi lagu keroncong dan cahaya lampu yang mulai menggantikan matahari.
Aku menunggu angka itu.
Aku selalu menunggu angka itu.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku merasa ia juga mulai menunggu sesuatu.
Malamnya, Lulu mengirimiku pesan.
Lulu: Bu. Laporan tambahan.
Lulu: Kolom “Momen Kritis” sudah saya isi. Status: gagal, karena gangguan teknis (drone).
Lulu: Saya juga sudah update kolom baru.
Lulu: [gambar]
Aku membuka gambarnya. Tangkapan layar spreadsheet dengan judul kolom yang baru, diketik dengan huruf tebal:
PROBABILITAS MAS EVAN MENYERAH
Di bawahnya, satu angka:
61% (naik dari 48% sebelum insiden balkon)
Lulu: Catatan: angka akan lebih tinggi jika Mas Dodo tidak membawa drone.
Lulu: Catatan kedua: Mas Dodo minta maaf lewat saya. Saya bilang saya bukan perantara. Dia tetap minta saya sampaikan.
Lulu: Catatan ketiga: es tehnya enak. Ini tidak ada hubungannya dengan apa pun.
Aku tertawa di tempat tidur sampai perutku sakit.
Lalu aku berbaring, menatap langit-langit, dan menyentuh bibirku dengan ujung jari.
Hampir.
Hampir saja.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun reading
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?