← Gadis Tanpa Benang

Chapter Three

Strategi

POV: Mika

Tanganku baru berhenti gemetar pukul sembilan malam.

Aku tahu jamnya karena aku sedang duduk di depan meja rias di apartemenku di lantai dua belas, dengan kapas yang dibasahi micellar water di tangan kanan, dan aku baru sadar sudah tiga menit menatap pantulan diriku tanpa menghapus apa pun. Jariku diam. Untuk pertama kalinya sejak jam sepuluh pagi, jariku benar-benar diam.

Aku menghela napas panjang dan mulai menghapus riasan.

Lipstik warna anggur tua dulu. Dua kali usap, dan bibirku kembali ke warna aslinya, merah muda pucat yang selalu membuatku terlihat seperti baru bangun tidur. Lalu maskara. Lalu eyeliner tipis yang kutarik sedikit ke atas di ujung, supaya mataku terlihat lebih tajam dari aslinya. Lalu alas bedak yang menutupi lingkaran gelap di bawah mata, hasil tidur empat jam selama tiga minggu terakhir.

Perempuan di cermin pelan-pelan berubah.

Aku tahu wajahku. Aku tidak akan berpura-pura tidak tahu, karena itu kebohongan, dan aku tidak suka berbohong pada diri sendiri. Aku tahu bahwa mataku besar dan ujungnya sedikit naik, sehingga orang selalu mengira aku sedang menahan senyum. Aku tahu bahwa tahi lalat kecil di bawah mata kiriku membuat orang menatap sedikit lebih lama. Aku tahu bahwa ketika aku masuk ke sebuah ruangan dengan bahu tegak dan langkah yang tidak tergesa, kepala-kepala akan menoleh.

Aku belajar wajah ini seperti orang belajar memakai alat. Pelan-pelan, sejak umur lima belas, sejak pertama kali seorang guru di sekolah internasional di Singapura berkata, “Kamu cantik sekali, Mikaela,” dengan nada heran, seolah tidak percaya anak angkat dari panti asuhan di Bandung boleh punya wajah seperti itu.

Aku belajar bahwa wajah ini bisa membuka pintu. Bisa membuat vendor katering menurunkan harga. Bisa membuat klien yang marah tiba-tiba tenang. Bisa membuat seorang MC yang bersembunyi di toilet keluar dalam dua detik.

Aku juga belajar bahwa wajah ini tidak bisa membuat siapa pun tinggal.

Kapas terakhir. Aku membuangnya ke tempat sampah kecil di bawah meja dan menatap perempuan di cermin, yang sekarang tanpa riasan, dengan rambut yang mulai kusut dan bekas ikat rambut di tengkuk.

Masih cantik. Aku tahu. Tapi lebih muda. Lebih lelah. Lebih mirip seseorang yang dulu duduk di undakan tangga semen dan menunggu.

“Kamu bodoh,” kataku pada perempuan itu.

Perempuan itu tidak membantah.


Lulu datang pukul sembilan lewat dua puluh dengan dua bungkus martabak manis dan laptop.

“Bu,” katanya, berdiri di depan pintu apartemenku dengan kacamata yang berembun karena udara dingin di lorong. “Saya bawa martabak keju-cokelat dan martabak kacang-wijen. Saya tidak tahu Ibu sedang butuh yang mana, jadi saya bawa dua-duanya.”

“Lulu, sudah kubilang jangan panggil ‘Ibu’ di luar jam kerja.”

“Siap, Bu.”

Aku menyerah.

Lulu Anggraini sudah bekerja denganku sejak tiga tahun lalu di Singapura. Ia anak Bandung yang kuliah di sana dengan beasiswa, melamar jadi asisten paruh waktu, dan dalam dua minggu sudah membuat spreadsheet yang mengubah seluruh sistem kerja Kaela Wedding. Ia tidak pernah tertawa keras. Ia tidak pernah terlambat. Ia tidak pernah bertanya hal-hal yang tidak perlu ditanyakan.

Dan ketika aku memutuskan pulang ke Bandung, ia ikut tanpa bertanya kenapa.

Kami duduk di lantai ruang tengah, bersandar ke sofa, dengan martabak di atas kotak kardusnya dan laptop Lulu di atas meja kopi. Di layar ada sebuah spreadsheet berwarna-warni dengan judul yang diketik dalam huruf kapital tebal:

RENCANA OPERASI FOTOGRAFER — RAHASIA — JANGAN DIBUKA DI DEPAN KLIEN

“Lulu,” kataku. “Kenapa judulnya begitu?”

“Ibu yang kasih judul, Bu. Dua minggu lalu. Jam satu pagi.”

Aku menatap layar. Benar. Aku ingat. Aku ingat duduk di depan laptop ini jam satu pagi, setelah pulang dari rumah sakit, dan mengetik judul itu dengan perasaan seperti sedang merencanakan perampokan bank.

“Laporan hari ini,” kata Lulu, menggulir ke bawah. “Fase Satu: Kontak Awal. Status: selesai. Catatan: kontak awal terjadi lebih cepat dari rencana karena WO Bahagia Selamanya kabur. Ibu memanfaatkan momen. Efektivitas: tinggi.”

“Efektivitas tinggi?”

“Ibu pegang nadinya, Bu. Di depan empat ratus tamu.” Lulu mendorong kacamatanya ke atas hidung. “Saya lihat dari pintu. Dia kelihatan seperti mau pingsan.”

Aku menyuap martabak keju-cokelat supaya tidak perlu menanggapi itu.

“Fase Dua: Kontrak. Status: selesai, tadi pagi. Catatan: subjek menolak dua kali sebelum menerima. Fee naik dua kali lipat dari angka awal. Anggaran Fase Tiga sampai Enam harus direvisi.”

“Revisi saja.”

“Sudah, Bu. Saya potong dari anggaran dekorasi bunga pernikahan nomor tujuh. Klien nomor tujuh minta bunga lily, tapi lily mahal dan bikin bersin. Saya akan sarankan baby’s breath.”

“Kamu jenius.”

“Saya tahu, Bu.”

Lulu menggulir lagi. Di bawah Fase Dua ada kolom panjang berjudul OBSERVASI SUBJEK. Dan di bawahnya, dalam font yang lebih kecil, ada poin-poin yang ia ketik sendiri dengan kecepatan yang mengerikan:

  • Subjek minum decaf. Masih. (Konfirmasi Kopi Flamboyan, terima kasih Mas Barista.)
  • Subjek menghindari tangga. Pakai lift bahkan untuk naik satu lantai.
  • Subjek pakai smartwatch, sering dicek. Tidak jelas kenapa.
  • Subjek punya asisten bernama Dodo. Dodo berbahaya.

Aku menunjuk poin terakhir. “Dodo berbahaya?”

Lulu menatap layar dengan wajah datar yang tidak berubah sedikit pun.

“Dia menangkap kue dengan dada, Bu.”

“Itu bukan berbahaya. Itu heroik. Agak bodoh, tapi heroik.”

“Dia juga minta nomor WhatsApp saya.”

“Lalu?”

“Saya tolak.”

“Lalu?”

Lulu diam sebentar. Sesuatu di wajahnya bergeser, sedikit sekali. Hanya orang yang sudah mengenalnya tiga tahun yang bisa melihatnya.

“Lalu dia bilang, ‘Belum jadi dua-duanya,’ Bu. Saya tidak mengerti maksudnya. Saya sudah memikirkannya selama dua belas jam.” Ia membetulkan kacamatanya lagi, padahal kacamatanya tidak melorot. “Itu berbahaya.”

Aku tertawa sampai martabak hampir jatuh dari tanganku.

Lulu menunggu dengan sabar sampai tawaku reda, lalu melanjutkan.

“Fase Tiga, Bu. Kedekatan Profesional. Dua belas pernikahan. Saya sudah susun jadwalnya supaya Ibu dan subjek selalu dalam satu venue setidaknya enam jam per pernikahan. Pernikahan pertama minggu depan. Klien: keluarga Hartono, Ciumbuleuit. Risiko: bridesmaid yang suka pengantin laki-laki.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Dia mengirim pesan ke saya tiga kali minta pidatonya diletakkan setelah sesi potong kue. Bukan sebelum. Itu tanda bahaya, Bu. Orang yang mau berpidato setelah potong kue biasanya mau bilang sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.”

Aku menatap Lulu dengan rasa kagum yang tulus.

“Kamu harus dibayar lebih.”

“Saya sudah dibayar lebih, Bu. Ibu yang lupa.” Ia menutup laptopnya separuh. “Satu hal lagi.”

“Apa?”

“Fase Empat sampai Enam.” Lulu menatapku, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat ragu. “Ibu belum isi tujuannya. Kolomnya kosong. Saya tidak tahu apa yang harus saya rencanakan kalau saya tidak tahu tujuannya.”

Aku diam.

Di luar jendela, lampu-lampu Bandung berkelip seperti bintang yang jatuh terlalu rendah. Dari lantai dua belas aku bisa melihat jalan Dago yang berkelok ke utara, dan aku tahu, kalau aku menyipitkan mata cukup lama, aku bisa menebak di mana kira-kira deretan ruko itu berada. Ruko dua lantai dengan jendela kaca lebar dan pohon flamboyan di depannya.

“Tujuannya,” kataku pelan, “supaya dia lihat.”

Lulu menunggu.

“Itu saja?”

“Itu saja.”

“Lihat apa, Bu?”

Aku tidak menjawab.

Lulu tidak bertanya lagi. Itu salah satu hal yang paling kusukai darinya. Ia mengetik sesuatu di kolom kosong itu, menutup laptopnya, dan mengambil sepotong martabak kacang-wijen.

Nanti, setelah ia pulang, aku akan membuka laptop itu dan melihat apa yang ia tulis. Hanya tiga kata, dalam huruf kecil yang rapi:

supaya dia lihat.


Pukul sepuluh lewat lima belas, aku menyetir ke Setiabudi.

Rumah Papa ada di ujung jalan kecil yang menanjak, rumah tua bergaya kolonial dengan jendela-jendela tinggi dan taman depan yang penuh pohon kemuning. Papa membelinya dua puluh tahun lalu, waktu bisnis percetakannya mulai besar, dan tidak pernah mau pindah. Rumah ini sudah tahu bau Papa, katanya. Kalau pindah, Papa harus ngajarin rumah baru dari nol.

Bi Iyah, yang sudah mengurus rumah itu sejak sebelum aku datang, membukakan pintu dengan daster bermotif bunga dan wajah mengantuk.

“Neng Mika. Bapak belum tidur. Nungguin Neng.”

“Kontrolnya gimana tadi, Bi?”

Bi Iyah tidak langsung menjawab. Ia menatapku sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke lantai.

“Bapak bilang, nanti Bapak sendiri yang cerita.”

Aku menemukan Papa di ruang baca, duduk di kursi goyang kesayangannya dengan selimut wol di pangkuan dan buku teka-teki silang di tangan. Kacamata bacanya melorot di ujung hidung. Lampu berdiri di sebelahnya menyorot wajahnya dari samping.

Dan aku melihat, sekali lagi, betapa ia sudah berubah.

Tiga bulan lalu, waktu terakhir ia mengunjungiku di Singapura, pipinya masih penuh. Perutnya masih membulat di balik kemeja batik yang selalu ia pakai, bahkan untuk tidur. Sekarang kemeja batiknya menggantung longgar di bahu, dan tulang pipinya terlihat jelas di bawah lampu, seperti seseorang sudah mengikis wajahnya pelan-pelan dengan pisau tumpul.

“Nah, ini dia,” kata Papa, menurunkan buku teka-teki silangnya. “Anak Papa yang paling cantik se-Bandung Raya.”

“Papa cuma punya satu anak.”

“Makanya paling cantik. Nggak ada saingan.” Ia tersenyum lebar, dan senyum itu masih sama. Senyum yang pertama kali kulihat dua belas tahun lalu di ruang tamu panti, senyum seorang laki-laki gemuk berkemeja batik yang berlutut supaya matanya sejajar dengan mataku dan berkata, Halo. Saya Hadi. Saya sudah lihat fotomu di koran. Boleh saya jadi papamu?

Aku duduk di karpet, di sebelah kursi goyangnya, dan bersandar ke lututnya seperti waktu aku masih tiga belas tahun dan takut tidur sendirian.

“Kontrolnya gimana, Pa?”

“Biasa. Dokternya galak. Suster-susternya cantik. Satu suster bilang Papa mirip Didi Petet.”

“Didi Petet sudah meninggal, Pa.”

“Makanya. Papa tersinggung. Papa minta ganti suster.” Ia mengusap rambutku dengan tangan yang terasa lebih ringan dari biasanya. Lebih kurus. “Dokternya mau ganti obat. Itu saja. Jangan pasang muka begitu.”

“Muka apa?”

“Muka yang kamu pakai waktu umur empat belas, waktu Papa bilang kita mau pindah ke Singapura. Muka aku-nggak-percaya-tapi-aku-nggak-mau-bilang.”

Aku diam. Ia tahu aku. Ia selalu tahu aku.

“Gimana fotografermu?” tanyanya.

“Bukan fotograferku.”

“Belum.”

“Papa.”

“Apa? Papa cuma bilang ‘belum’. Itu kata yang netral. Kata yang optimis.” Ia tertawa kecil, lalu tawanya berubah jadi batuk. Batuk yang dalam, kering, yang membuat seluruh tubuhnya membungkuk.

Aku bangkit setengah, tanganku di punggungnya. Aku bisa merasakan tulang punggungnya di bawah kemeja batik. Satu per satu. Seperti anak tangga.

Batuknya reda. Ia melambaikan tangan, menyuruhku duduk lagi.

“Sudah, sudah. Cuma keselek ludah sendiri. Ludah Papa terlalu bersemangat dengar cerita anaknya.” Ia menarik napas. “Jadi. Sudah ketemu?”

“Sudah.”

“Kontraknya?”

“Sudah ditandatangani.”

“Dia ingat?”

Aku menunduk. Menatap motif karpet di bawah kakiku. Motif bunga-bunga kecil berwarna merah tua yang sudah pudar di bagian yang paling sering diinjak.

“Belum.”

Papa diam lama. Lalu tangannya kembali ke rambutku, mengusapnya pelan, seperti mengusap kepala kucing.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Kamu punya dua belas pernikahan.”

“Kalau setelah dua belas dia tetap nggak ingat?”

“Bikin pernikahan ketiga belas.”

Aku tertawa, dan tawaku terdengar lebih basah dari yang kumau.


Aku pulang ke apartemen hampir tengah malam. Kota sudah sepi. Jalan Setiabudi yang biasanya macet sekarang lengang, hanya diisi beberapa motor ojek online dan angkot terakhir yang melaju terlalu cepat.

Di lampu merah perempatan Cipaganti, aku mengambil dompet dari tas di kursi penumpang.

Aku tidak perlu membukanya. Aku tahu persis apa yang ada di dalamnya. Tapi tanganku membukanya juga, seperti setiap malam selama dua belas tahun.

Di balik foto KTP, di balik kartu kredit dan kartu nama dan struk belanja yang lupa kubuang, ada selembar kertas koran yang dilipat empat. Kertas itu sudah sangat lunak, lebih mirip kain daripada kertas, dengan lipatan yang sudah hampir putus di bagian tengah. Tintanya pudar. Pinggirannya menguning.

Aku tidak membuka lipatannya. Aku hanya menyentuhnya dengan ujung jari. Satu kali.

Lampu berubah hijau.


Di apartemen, aku berbaring di tempat tidur tanpa mengganti baju, menatap langit-langit.

Aku mengulang adegan tadi siang di kepalaku. Bukan yang di studio. Yang kemarin malam. Di ballroom Grand Lembang Hall, ketika aku berjalan ke arahnya, dan ia menatapku seperti fotografer menatap komposisi yang tidak masuk akal.

Aku mengulang saat aku meraih pergelangan tangannya. Jariku di nadinya. Kulitnya hangat, sedikit lembap, dan denyutnya di bawah ujung jariku cepat, teratur, seperti seseorang yang sedang berlari menaiki tangga padahal ia hanya berdiri diam.

Detak jantungmu sekarang berapa?

Aku sudah melatih kalimat itu. Ratusan kali. Di depan cermin di Singapura. Di dalam mobil. Di kamar mandi, dengan suara pelan supaya Lulu tidak dengar. Aku melatih nadanya, supaya tidak terdengar terlalu putus asa. Aku melatih tatapanku, supaya terlihat tenang. Aku melatih tanganku, supaya tidak gemetar waktu menyentuh nadinya.

Tanganku tetap gemetar. Aku hanya menyembunyikannya dengan baik.

Dan ketika jam tangannya berbunyi, ketika angka itu naik di layar kecil berwarna hijau, ketika ia menatapku dengan mata yang tiba-tiba berubah, melebar, seperti seseorang yang tiba-tiba ketakutan pada sesuatu yang belum ia mengerti...

Aku menunggu angka itu.

Aku selalu menunggu angka itu.

Seratus dua puluh tiga. Seratus dua puluh tujuh. Seratus tiga puluh empat.

Aku membacanya keras-keras supaya ia tahu aku tahu. Lalu aku melepaskan tangannya dan berjalan pergi, karena kalau aku tetap di sana satu detik lagi, aku akan menangis di tengah ballroom di depan empat ratus tamu dan seorang laki-laki yang memeluk kue.

Aku menarik selimut sampai ke dagu.

Di kepalaku, dengan suara yang sudah kulatih selama dua belas tahun dan tidak pernah sekali pun kuucapkan keras-keras, aku berkata padanya:

Kamu harus lihat sendiri, Evan. Aku nggak bisa bilang. Aku nggak pernah bisa bilang.

Jadi lihat.

Lihat aku.

Ponselku bergetar di nakas. Satu pesan dari nomor yang belum kusimpan, tapi sudah kuhafal sejak tiga minggu lalu.

+62 812-xxxx-0417: Kopinya enak.
+62 812-xxxx-0417: Ini bukan berarti aku setuju sama semua yang kamu tulis di kartu nama.
+62 812-xxxx-0417: Ini Evan.

Aku menatap tiga pesan itu sampai layarnya meredup.

Lalu aku menyimpan nomor itu dengan nama yang sudah kuputuskan jauh sebelum aku punya nomornya.

Yang Melihat.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, aku tidur lebih dari empat jam.