← Gadis Tanpa Benang

Chapter Twenty Four

Kunci Inggris

POV: Evan

Aku tidak tahu kenapa aku datang ke rumah sakit pukul satu pagi.

Aku hanya tahu bahwa aku tidak bisa tidur. Bahwa aku sudah duduk di lantai ruang editing selama tujuh jam, menatap foto anak perempuan di undakan tangga dalam gelap, mencoba mengingat kalimat yang kukatakan padanya dua belas tahun lalu. Bahwa aku tidak berhasil.

Dan bahwa satu-satunya hal yang aku tahu pasti, dari semua yang terjadi hari itu, adalah benang setebal tali kapal yang tidak menipis.

Bahkan setelah tujuh pesan WhatsApp.

Dodo sudah pulang pukul sepuluh, setelah aku bersumpah tiga kali bahwa aku tidak akan pingsan. Pukul dua belas, aku berdiri. Mengambil jaket. Mengambil Satu-Dua-Nol dari kasur di lantai atas, karena aku tidak tahu harus membawa apa lagi. Bunga terlalu basi. Cokelat terlalu murah. Permintaan maaf terlalu kecil.

Aku membawa boneka beruang yang ia menangkan untukku dengan lemparan gelang ketujuh.

Aku menyetir ke Rumah Sakit Borromeus. Satpam di gerbang menatapku, menatap boneka beruang di kursi penumpang, dan membiarkanku masuk ke parkiran tanpa bertanya.

Aku tidak masuk ke gedung. Aku tidak naik ke lantai lima. Aku tidak mengetuk pintu kamar 512.

Ia bilang ia butuh waktu. Ia bilang ia capek. Ia bilang nggak sekarang.

Aku tidak punya hak untuk mengetuk.

Jadi aku duduk di bangku besi di taman rumah sakit, di bawah pohon trembesi yang besar, menghadap pintu masuk. Supaya kalau ia turun, kalau ia keluar untuk membeli kopi atau menghirup udara atau pulang untuk ganti baju, ia akan melihatku.

Dan ia akan tahu aku di sini.

Tanpa aku harus mengatakan apa-apa.

Udara pukul satu pagi di Bandung dingin. Jaket bomberku tidak cukup tebal. Aku memeluk Satu-Dua-Nol supaya tanganku tidak kedinginan.

Pukul dua, seorang satpam lewat, menatapku, dan bertanya apakah aku menunggu keluarga yang dirawat.

“Iya, Pak,” kataku.

“Siapa, Mas?”

Aku berpikir lama.

“Orang yang paling penting,” kataku akhirnya.

Satpam itu menatapku, menatap boneka beruang di pelukanku, lalu mengangguk pelan dan pergi. Sepuluh menit kemudian, ia kembali dengan segelas teh manis panas dalam gelas plastik.

“Biar nggak masuk angin, Mas,” katanya. “Nunggu itu capek.”

Aku menerimanya. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Pukul tiga, aku mulai mengerti.

Aku duduk di bangku besi yang dingin, dengan teh manis yang sudah habis dan boneka beruang di pelukan, menatap pintu yang tidak terbuka. Dan aku mengerti, untuk pertama kalinya, apa yang ia lakukan selama dua belas tahun.

Duduk. Menatap. Menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan datang.

Tujuh tahun di anak tangga ketiga. Lima tahun membaca wawancaraku di kamar mandi apartemen. Berbulan-bulan memegang nadiku dan bertanya sekarang berapa?, menungguku melihat.

Menungguku melihat dengan benar.

Pukul empat, aku menangis. Sendirian. Di bangku besi di taman rumah sakit. Tanpa suara. Dengan wajah tenggelam di kepala boneka beruang.

Pukul lima, langit mulai abu-abu.

Dan aku mendongak, entah kenapa, ke arah gedung. Ke lantai lima. Ke jendela-jendela yang masih gelap.

Satu jendela menyala.

Dan di jendela itu, ada siluet seseorang. Berdiri. Dengan telapak tangan menempel di kaca.

Menatapku.


Ia turun pukul lima lewat tujuh belas.

Aku tahu jamnya karena aku menatap jam tanganku setiap lima detik sejak melihat siluet itu. Detak jantungku sudah seratus delapan belas sejak siluet itu muncul, dan tidak mau turun.

Pintu otomatis di lobi rumah sakit terbuka. Ia keluar.

Ia memakai blus putih yang sama dengan kemarin, kusut, dan celana jins. Di bahunya, jaket denim tuaku. Di kakinya, sepatu flat berwarna krem, dan aku melihat sapu tangan kumal masih terikat di punggung kaki kirinya. Rambutnya tergerai berantakan. Wajahnya pucat, matanya bengkak, dan ada bekas merah di pipi kanannya seperti bekas tidur di lengan kursi.

Ia berjalan menyeberangi taman. Pelan. Tidak tergesa. Tidak lambat.

Langkah yang sama dengan malam pertama di ballroom Lembang.

Ia berhenti di depan bangkuku. Menatapku dari atas. Menatap boneka beruang di pelukanku. Menatap gelas plastik kosong di sebelahku. Menatap wajahku, yang aku tahu basah dan merah dan berantakan.

“Kamu di sini dari jam berapa?” tanyanya. Suaranya serak.

“Satu.”

“Satu pagi?”

“Iya.”

“Kenapa nggak naik?”

“Kamu bilang kamu butuh waktu.” Aku menunduk. “Aku nggak punya hak buat ngetuk.”

Ia diam lama.

“Jadi kamu nunggu.”

“Iya.”

“Empat jam.”

“Iya.”

“Di bangku besi. Jam satu pagi. Pakai jaket tipis. Sambil meluk boneka beruang.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak perlu.

Mikaela menatapku. Lalu, pelan, sudut bibirnya bergetar. Seperti seseorang yang mencoba tidak tertawa, atau tidak menangis, dan tidak yakin yang mana yang akan menang.

“Kamu bodoh,” katanya.

“Aku tahu.”

“Kamu bisa masuk angin.”

“Satpamnya kasih teh.”

“Kamu bodoh, Evan.”

“Aku tahu, Mika.”

Aku berdiri. Satu-Dua-Nol jatuh dari pangkuanku ke rumput yang basah embun. Aku tidak memungutnya.

Aku berdiri di depannya, dengan jarak satu langkah, dan aku tidak tahu harus memulai dari mana.

“Aku nggak ingat,” kataku akhirnya. “Kalimat itu. Yang aku bilang ke kamu di tangga. Aku coba ingat semalaman. Aku nggak bisa.”

Mikaela menatapku.

“Tapi aku ingat sesuatu yang lain,” lanjutku. Suaraku pecah. “Aku ingat hari itu, pertama kalinya aku lihat benang. Aku ingat aku marah. Aku nggak tahu kenapa aku marah. Aku cuma ingat aku lihat semua anak punya benang, dan ada satu yang nggak punya, dan aku marah banget sampai aku pengen muntah.”

Aku menarik napas yang gemetar.

“Dua belas tahun aku lihat benang setiap hari. Dan aku nggak pernah sekali pun ngerti apa yang aku lihat. Aku pikir benang itu jam pasir. Aku pikir benang itu selalu menipis. Aku pikir yang baru selalu ngambil tempat yang lama.” Aku menatapnya. “Aku pikir aku bisa lihat semuanya. Ternyata aku nggak lihat apa-apa.”

Mikaela tidak bergerak.

“Benang yang baru tumbuh kelihatan sama semua,” kataku. “Setipis rambut. Merah. Aku nggak bisa bedain mana benang keluarga, mana benang... yang lain. Aku tahu itu. Aku udah tahu itu dari dulu. Tapi waktu aku lihat benangmu ke kakakmu di Ciater, aku nggak mikir. Aku nggak nanya. Aku cuma lihat benang baru, dan aku langsung...”

“Langsung mikir Sasha.”

“Langsung mikir Sasha.” Aku menunduk. “Dan Nadia. Dan semua benang yang pernah aku lihat menipis. Aku nggak lihat kamu, Mika. Aku lihat masa laluku. Pakai mukamu.”

Hening.

Burung-burung mulai berkicau di pohon trembesi di atas kami. Langit di timur sudah berubah dari abu-abu ke jingga pucat.

“Dan benangmu ke aku,” kataku pelan. “Yang setebal tali kapal. Yang nggak pernah tipis sekali pun. Aku lihat itu setiap hari. Dan aku tetap pilih takut.”

Aku mengangkat kepala. Menatapnya.

“Kamu benar. Aku pilih percaya sama yang tipis.”

Mikaela menatapku lama. Air mata mulai mengalir lagi dari matanya yang bengkak. Ia tidak mengusapnya.

“Maaf,” kataku. “Aku nggak tahu harus bilang apa lagi selain maaf. Aku nggak pinter ngomong. Kamu tahu itu. Tapi aku...”

Ia melangkah maju.

Satu langkah. Jarak di antara kami hilang.

Ia meraih pergelangan tangan kiriku. Jarinya dingin karena udara subuh. Dua jarinya menekan bagian dalam pergelangan, di bawah tali jam tangan, di tempat nadi.

Ia mendongak. Matanya basah dan merah dan menatap langsung ke dalam mataku.

“Sekarang berapa?” bisiknya.

Aku tidak melihat jam tangan.

Aku menatapnya. Dan aku menjawab dengan jujur, untuk pertama kalinya, bukan dengan angka.

“Aku nggak tahu,” kataku. “Aku nggak peduli angkanya. Aku cuma mau kamu.”

Ia menatapku.

Lalu ia menangis. Sungguh-sungguh menangis. Bukan air mata yang mengalir diam-diam. Isakan yang keluar dari dadanya, yang membuat bahunya bergetar, yang membuatnya membungkuk ke depan sampai dahinya menempel di dadaku.

Aku memeluknya.

Erat. Sangat erat. Seperti seseorang yang hampir kehilangan sesuatu dan baru menemukannya kembali di detik terakhir. Tanganku di punggungnya, di atas jaket denim tua yang dulu satu-satunya barang dari hidupku yang tidak dikotori siapa pun, dan sekarang dipakai oleh orang yang paling kuinginkan di dunia.

“Aku cuma mau kamu lihat,” isaknya di dadaku. “Itu aja. Dua belas tahun. Aku cuma mau kamu lihat.”

“Aku lihat.”

“Kamu lihat yang salah.”

“Aku tahu. Aku tahu. Maaf.”

“Kamu putusin aku pakai WhatsApp.”

“Aku tahu.”

“Tujuh pesan, Evan.”

“Aku tahu, Mika. Aku tahu.”

Ia mengangkat wajahnya dari dadaku. Wajahnya basah, merah, berantakan. Maskara kemarin yang sudah luntur meninggalkan bayangan hitam di bawah matanya. Bibirnya pecah-pecah karena udara dingin.

Ia tidak pernah terlihat lebih cantik.

Aku menunduk dan menciumnya.

Asin. Air mata kami berdua bercampur. Bibirnya dingin dan gemetar di bawah bibirku. Tangannya mencengkeram jaket bomberku, menarikku lebih dekat, seolah takut aku akan pergi lagi.

Aku tidak akan pergi lagi.

Aku menciumnya di bawah pohon trembesi di taman Rumah Sakit Borromeus, pukul lima lewat dua puluh pagi, dengan matahari yang mulai naik di belakang gedung dan burung-burung yang berkicau di atas kepala kami, dan boneka beruang bernama Satu-Dua-Nol yang tergeletak di rumput basah di kaki kami, menatap langit dengan mata kancing hitamnya.

Dan jantungku, tanpa izin, tanpa peduli, tembus seratus dua puluh.

Dunia berubah warna.

Benangnya ke arahku. Setebal tali kapal. Menyala seperti bara yang ditiup angin.

Benangku ke arahnya. Bukan setebal tali sepatu lagi. Lebih tebal. Jauh lebih tebal. Dalam satu malam di bangku besi yang dingin, benangku tumbuh, menebal, dan sekarang hampir setebal benangnya.

Hampir.

Dua benang. Saling. Menyala bersamaan.


Kami duduk di bangku besi itu sampai matahari benar-benar terbit.

Ia bersandar di bahuku. Satu-Dua-Nol, yang sudah kupungut dari rumput dan kukeringkan dengan ujung jaket, duduk di pangkuannya.

“Evan,” katanya pelan.

“Hm.”

“Benangku ke kamu. Setebal apa?”

Aku menatapnya. Ia tidak menatapku. Ia menatap langit pagi.

“Kamu tahu soal benang dua belas tahun,” kataku. “Tapi kamu nggak pernah tahu setebal apa?”

“Gimana aku bisa tahu? Aku nggak bisa lihat. Aku cuma bisa berharap kamu lihat.” Ia tersenyum kecil. “Aku cuma tahu ada. Kamu bilang di tangga, nanti juga punya. Dan aku tahu ke mana punyaku pergi.”

Aku diam sebentar.

“Tali kapal,” kataku. “Setebal tali tambang yang dipakai buat nambatin perahu nelayan di Pangandaran. Aku cuma pernah lihat setebal itu sekali sebelum kamu. Kakek-nenek di Garut. Lima puluh empat tahun nikah.”

Ia tidak bergerak. Tapi aku merasakan bahunya bergetar di bahuku.

“Lima puluh empat tahun,” bisiknya.

“Dan punyamu dua belas tahun. Tapi setebal itu.”

Ia menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Punyaku ke kamu,” lanjutku, sebelum ia sempat bertanya, “waktu di Lembang, nggak ada. Sama sekali. Muncul pertama kali di bawah payung. Setipis benang jahit paling halus. Terus tumbuh. Terus tumbuh. Aku coba hentiin. Toilet. Operasi Menyebalkan. Decaf. Nggak bisa.” Aku menelan ludah. “Semalam, di bangku ini, tumbuh lagi. Sekarang hampir setebal punyamu.”

Ia menoleh. Menatapku dengan mata yang basah lagi.

“Hampir?”

“Hampir. Kasih aku waktu. Aku telat dua belas tahun.”

Ia tertawa. Tawa yang basah, yang serak, yang keluar dari balik telapak tangannya.

Dan aku menyadari sesuatu.

Ia menangis untukku. Ia berlari tiga ratus meter tanpa sepatu untukku. Ia menunggu dua belas tahun untukku. Ia menyimpan guntingan koran di dompet sampai kertasnya jadi kain, untukku. Ia membalut tanganku dengan jari gemetar. Ia mencuri jaketku dan kemejaku. Ia menciumku di bianglala dan di darkroom dan di bawah pohon trembesi.

Ia sudah mengatakan ya, iya, tentu saja. Ia sudah mengatakan aku udah nunggu. Ia sudah mengatakan aku cuma mau kamu lihat.

Tapi ia tidak pernah sekali pun mengatakan tiga kata itu.

Tidak sekali pun. Dalam semua bulan ini.

Ia hampir mengatakannya di tangga darurat hotel. Ia membelokkannya jadi yang pernah kutunggu. Ia hampir menuliskannya di balik foto. Ia menuliskan aku udah nunggu kamu nanya dari dulu.

Aku cuma mau kamu lihat.

Supaya ia tidak perlu mengatakannya.

Aku menatap profilnya di bawah cahaya matahari pagi. Bulu matanya yang basah. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya. Bibirnya yang pecah-pecah.

Aku tidak bertanya. Belum. Aku tidak mau mendorongnya. Aku tahu, dari dua belas tahun di anak tangga ketiga, bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa didorong. Yang harus ditunggu.

Dan untuk pertama kalinya, aku tahu cara menunggu.


Bima menemukan kami pukul enam pagi.

Ia keluar dari pintu lobi rumah sakit dengan kemeja flanel yang sama dengan kemarin, sekarang sangat kusut, rambut yang berantakan, dan wajah orang yang tidur di kursi plastik kantin rumah sakit. Di tangannya ada termos dan tiga gelas plastik.

Dan di saku belakang celananya, mencuat, sebuah kunci inggris besar dari besi.

Ia berhenti di depan bangku kami. Menatap Mikaela yang bersandar di bahuku. Menatap Satu-Dua-Nol di pangkuan Mikaela. Menatapku.

Lama.

Lalu ia meletakkan termos dan gelas-gelas plastik di bangku di sebelahku. Mengeluarkan kunci inggris dari saku belakangnya. Memegangnya di tangan kanan, dengan santai, seperti memegang pulpen.

Dan duduk di sebelahku.

Sangat dekat. Bahunya yang lebar menempel di bahuku yang lain. Kunci inggris di pangkuannya.

“Pagi, Mas,” katanya. Suaranya berat dan tenang.

“...Pagi, Bang.”

“Saya Bima. Kita belum kenalan dengan benar kemarin.”

“Saya Evan.”

“Saya tahu.” Ia memutar kunci inggris di tangannya. Pelan. Satu putaran. “Mas tahu ini apa?”

“Kunci inggris.”

“Ukuran tiga puluh dua. Saya pakai buat buka baut roda truk.” Ia menatap kunci inggris itu dengan sayang. “Saya bawa dari bengkel. Lupa ditaruh. Kebetulan.”

Mikaela, di bahuku, menahan tawa. Aku bisa merasakannya.

“Kak,” katanya. “Jangan.”

“Saya nggak ngapa-ngapain, Dek. Saya cuma ngobrol sama calon... sama Mas Evan.” Bima menatapku. “Mas Evan. Saya mau tanya beberapa hal. Boleh?”

“...Boleh, Bang.”

“Mas kerja apa?”

“Fotografer pernikahan.”

“Penghasilan tetap?”

“...Tergantung musim nikah, Bang.”

Bima mengangguk pelan. Memutar kunci inggris satu putaran lagi.

“Mas pernah bikin adik saya nangis?”

Aku diam.

“Kemarin,” jawabku jujur. “Dan semalam. Dan mungkin tadi pagi.”

Bima berhenti memutar kunci inggrisnya. Menatapku. Lama. Matanya, yang begitu mirip mata Mikaela, menyipit.

“Tiga kali,” katanya. “Dalam dua puluh empat jam.”

“Iya, Bang.”

“Mas tahu saya cari adik saya enam tahun?”

“Saya tahu, Bang.”

“Enam tahun. Semua panti di Bandung. Pakai motor yang businya harus diganti tiap dua bulan.” Ia mengangkat kunci inggrisnya sedikit. “Saya baru ketemu dia sebulan. Satu bulan. Saya belum sempat lihat dia ketawa sampai sakit perut. Saya belum sempat ngajak dia makan durian. Saya belum sempat bilang ke dia saya bangga punya adik secantik dan sepinter dia.”

Ia berhenti. Matanya basah.

“Dan dalam sebulan itu, dia udah nangis tiga kali gara-gara Mas.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Kak Bima,” kata Mikaela pelan. “Dia nunggu aku empat jam. Di bangku ini. Dari jam satu pagi.”

Bima menoleh pada adiknya. Lalu padaku. Lalu menatap Satu-Dua-Nol di pangkuan Mikaela.

“Empat jam?”

“Empat jam, Kak.”

“Pakai jaket tipis?”

“Pakai jaket tipis.”

“Meluk boneka?”

“Meluk boneka.”

Bima menatapku lagi. Lama sekali. Kunci inggris masih di tangannya.

Lalu, tiba-tiba, wajahnya yang berewok dan tegas dan mengintimidasi itu pecah. Bibirnya bergetar. Matanya yang basah menjadi lebih basah. Ia menunduk, menatap kunci inggris di pangkuannya, dan bahunya mulai berguncang.

“Ya Allah,” katanya serak. “Meluk boneka. Empat jam. Kayak di sinetron.”

Mikaela menatapku. Aku menatap Mikaela. Kami berdua menatap Bima, laki-laki besar berewok dengan kunci inggris ukuran tiga puluh dua, yang sekarang menangis tersedu-sedu di bangku taman rumah sakit pukul enam pagi.

“Kak,” kata Mikaela, setengah tertawa. “Kakak nangis?”

“Saya gampang terharu, Dek.” Bima mengusap matanya dengan lengan kemeja flanel. “Saya nangis nonton iklan sirup Lebaran. Saya nangis waktu motor saya dicuri, terus ketemu lagi. Saya nangis waktu tahu kamu suka bolu pisang saya, padahal kemanisan.”

Ia mengangkat kunci inggrisnya dan menunjukkannya padaku dengan tangan yang masih gemetar karena tangis.

“Mas Evan,” katanya, dengan suara yang berusaha keras terdengar mengancam. “Kalau Mas bikin adik saya nangis lagi...”

Ia berhenti. Menatap kunci inggris itu. Lalu menatapku. Lalu mengisak lagi.

“...saya nangis juga,” katanya akhirnya. “Dan itu lebih serem. Percaya sama saya. Saya kalau nangis lama.”

Mikaela tertawa sampai Satu-Dua-Nol jatuh dari pangkuannya untuk kedua kalinya pagi itu.

Aku memungutnya. Lalu, tanpa berpikir, aku mengulurkan tanganku ke Bima.

Ia menatap tanganku. Lalu menyeka hidungnya dengan lengan kemeja. Lalu menyimpan kunci inggrisnya di saku belakang dan menjabat tanganku dengan tangan yang besar, kasar, dan berbau oli.

Jabat tangannya kuat. Sangat kuat. Sampai buku-buku jariku berbunyi.

“Selamat datang di keluarga, Mas,” katanya, masih terisak. “Keluarga kami cuma dua orang. Sekarang tiga. Jangan bikin jadi dua lagi.”

Jantungku tembus seratus dua puluh. Aku tidak mau melihat. Tapi aku melihat.

Dari dada Bima, benang tenang ke Mikaela. Sudah tidak setipis rambut. Sudah lebih dari benang jahit. Lurus, diam, tidak bergetar sama sekali. Benang seorang kakak yang menghabiskan enam tahun dan entah berapa busi motor untuk menemukan adiknya.

Dan dari dada Mikaela, dua benang. Berdampingan. Ke dua arah yang berbeda.

Satu ke kakaknya. Tenang. Lurus. Seperti tali jemuran yang menghubungkan dua rumah yang akhirnya bertetangga.

Satu ke aku. Setebal tali kapal. Bergetar. Hidup. Menyala.

Dua benang dari satu dada, ke dua laki-laki yang duduk di bangku yang sama. Kemarin aku melihat pemandangan yang hampir sama, dan aku menghancurkan segalanya karenanya.

Hari ini aku melihatnya lagi. Dan kali ini aku tahu bedanya.

Kali ini aku tidak perlu menyipitkan mata.

Aku menjabat tangan Bima sedikit lebih lama dari yang seharusnya, dan aku tidak bilang apa-apa tentang apa yang kulihat.

Tapi di bawah pohon trembesi, dengan jari-jari Bima yang meremukkan tanganku dan Mikaela yang tertawa sambil memeluk boneka beruang, aku berjanji pada diriku sendiri satu hal.

Lain kali aku melihat benang yang tidak kumengerti, aku akan bertanya.