← Gadis Tanpa Benang

Chapter Thirty Eight

Kopi Asli

POV: Evan

Hal pertama yang kulihat setelah ablasi adalah langit-langit ruang pemulihan.

Putih. Bersih. Tanpa bercak air yang bentuknya seperti peta pulau. Lampu neon yang redup. Bunyi monitor di sebelah kepalaku. Bip. Bip. Bip. Pelan. Teratur. Seperti jam dinding di ruang baca Papa.

Hal kedua yang kulihat adalah wajahnya.

Ia duduk di kursi di samping tempat tidurku. Masih dengan gaun hijau sage yang kotor. Rambut yang berantakan. Mata yang bengkak dan merah. Tangannya di pergelangan tanganku. Dua jari. Di bawah tali jam tangan.

Ia tertidur dengan posisi itu. Kepalanya bersandar di tepi kasur, di sebelah tanganku. Napasnya pelan dan teratur.

Aku tidak bergerak. Aku tidak mau membangunkannya.

Aku hanya menatapnya.

Lalu aku menatap jam tanganku.

71.

Aku menatap dadanya. Di balik gaun hijau sage. Di tempat benang setebal sesuatu yang tidak punya nama menjulur ke dadaku, tujuh jam lalu, di IGD.

Tidak ada apa-apa.

Hanya kain hijau sage. Hanya udara.

Aku tahu ini akan terjadi. Fikri sudah menjelaskan. Dr. Haris sudah menjelaskan. Aku sudah menandatangani formulir persetujuan dengan tangan yang gemetar.

Tapi tahu tidak sama dengan melihat.

Atau tidak melihat.

Aku menatap dadanya lama sekali. Mencari sesuatu. Apa saja. Benang setipis rambut. Bayangan merah di pinggiran pandanganku. Getaran di udara.

Tidak ada.

Dunia sudah berhenti berubah warna.

Dan aku menyadari, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, betapa sepinya dunia tanpa benang.


Ruang pemulihan Rumah Sakit Hasan Sadikin punya enam tempat tidur, dipisahkan tirai-tirai biru muda. Di tempat tidur sebelah kiri, seorang bapak tua yang baru dipasang ring jantung mendengkur dengan bunyi seperti mesin jahit. Di tempat tidur sebelah kanan, seorang ibu muda sedang ditemani suaminya, yang memegang tangannya dan membacakan berita sepak bola dari ponselnya.

Dua belas tahun lalu, aku akan tahu apakah suami itu benar-benar mencintai istrinya. Aku akan naik turun tangga darurat di ujung koridor, kembali dengan detak jantung seratus dua puluh tiga, dan melihat benangnya. Tebal atau tipis. Bergetar atau tidak. Ke istrinya atau ke tempat lain.

Sekarang aku hanya bisa melihat tangannya. Memegang tangan istrinya. Dan suaranya, yang membacakan berita sepak bola dengan intonasi yang terlalu dramatis supaya istrinya tertawa.

Istrinya tertawa.

Dan aku menyadari bahwa aku tidak perlu benang untuk tahu.

Tapi aku ingin. Aku sangat ingin. Seperti orang yang baru kehilangan satu indra dan terus mencoba menggunakannya, seperti orang yang baru diamputasi yang terus merasakan gatal di kaki yang sudah tidak ada.

Aku memejamkan mata.

Tangan di pergelangan tanganku bergerak.

Aku membuka mata. Mikaela sudah bangun. Mengangkat kepalanya dari tepi kasur. Menatapku dengan mata yang setengah terbuka dan bekas lipatan seprai di pipinya.

“Kamu bangun,” bisiknya.

“Kamu tidur.”

“Aku nggak tidur. Aku istirahat mata.”

“Kamu ngorok.”

“Aku nggak ngorok.”

“Sedikit. Kayak kucing.”

Ia menatapku. Lalu tertawa. Tawa kecil yang serak, yang membuat bahunya bergetar, yang membuat matanya berair lagi.

Lalu ia berhenti. Menatapku dengan cara yang lain.

“Gimana?” tanyanya pelan.

Aku tahu apa yang ia tanyakan. Bukan gimana jantungmu. Fikri pasti sudah memberitahunya semua detailnya. Ablasi berhasil. Jalur tambahan sudah dibakar. Irama jantung normal. Fraksi ejeksi masih empat puluh, tapi dengan obat, dalam enam bulan, bisa naik.

Ia bertanya hal yang lain.

“Sepi,” kataku jujur.

Ia meremas pergelangan tanganku.

“Aku lihat kamu,” kataku. “Tadi. Waktu bangun. Aku langsung lihat dadamu. Nyari.”

“Nggak ada?”

“Nggak ada.”

Ia diam lama. Lalu meraih tanganku. Mengangkatnya. Meletakkannya di dadanya. Di atas gaun hijau sage, di atas jantungnya.

“Rasain,” katanya.

Aku merasakannya. Detak jantungnya. Di bawah telapak tanganku. Cepat. Lebih cepat dari jantungku sekarang.

“Itu punyaku,” katanya. “Kamu nggak bisa lihat benangnya. Tapi kamu bisa rasain jantungnya.”

Ia menatapku.

“Dan aku bisa bilang.” Suaranya pelan. Tapi tidak bergetar. “Aku cinta kamu.”

Kedua kalinya. Lebih mudah dari yang pertama. Aku bisa melihatnya di wajahnya. Seperti seseorang yang baru belajar naik sepeda dan menemukan bahwa putaran kedua tidak semenakutkan putaran pertama.

Jam tanganku bergetar.

89.

Tidak ada benang. Tidak ada merah. Tidak ada apa-apa.

Hanya angka delapan puluh sembilan di layar hijau kecil, dan perempuan di depanku dengan tanganku di dadanya.

Dan itu, ternyata, cukup.


Aku pulang ke studio empat hari kemudian.

Fikri yang menyetir. Mikaela di kursi belakang denganku. Dodo dan Lulu di mobil lain, di belakang kami, dengan lampu hazard menyala, karena Dodo bersikeras bahwa pasien jantung harus dikawal.

Studio tidak berubah. Ruang depan dengan sofa abu-abu dan meja jati. Ruang editing dengan kursi yang punggungnya sudah menyerah. Dinding foto. Anak perempuan di undakan tangga. Bekas persegi panjang tempat foto Fikri dan Nadia dulu tergantung.

Dan di meja jati, satu gelas kopi.

Gelas kertas dari kedai kopi di ujung Jalan Dago. Uapnya masih naik pelan-pelan. Di sebelahnya, sticky note kuning dengan tulisan tangan yang miring ke kanan.

Kopi asli. Gayo. V60. Tanpa gula. Satu gelas. Sudah disetujui dr. Fikri. — M.

Aku menatap gelas itu.

Lalu menatap Mikaela, yang berdiri di ambang pintu dengan tangan di belakang punggung dan wajah yang pura-pura tidak tahu apa-apa.

Lalu menatap Fikri.

“Satu gelas,” kata Fikri. “Sehari. Nggak lebih. Kamu udah pakai beta-blocker. Jantungmu nggak akan lari.”

Aku mengambil gelas itu.

Menyesapnya.

Asam. Tajam. Sedikit pahit di ujung lidah. Dengan sisa rasa seperti buah beri yang jatuh di tanah setelah hujan.

Rasa yang sama dengan pagi itu. Pagi kedua. Ketika ia datang dengan dua gelas kopi dan aku tidak berani meminumnya sampai ia pergi.

Aku menunggu.

Satu menit. Lima menit.

Jam tanganku bergetar.

88.

Delapan puluh delapan. Kopi asli. Dengan perempuan yang berdiri di ambang pintu dengan tangan di belakang punggung.

Dulu, ini akan jadi seratus dua puluh dalam sepuluh menit. Dunia akan berubah warna. Aku akan melihat benang setebal tali kapal. Aku akan lari ke toilet.

Sekarang delapan puluh delapan. Tidak naik. Tidak berubah.

Aku menatap angka itu.

Lalu aku tertawa.

Aku tidak tahu kenapa. Tawa itu keluar begitu saja. Dari tempat yang dalam. Dari tempat yang sudah lima tahun dikunci dengan tujuh aturan dan alarm di angka seratus sepuluh. Tawa yang membuat bahuku berguncang dan kopi di gelas kertas bergoyang dan tumpah sedikit ke tanganku.

Lalu aku menangis.

Juga tidak tahu kenapa. Air mata keluar bersamaan dengan tawa. Bercampur. Seperti hujan di tengah matahari.

Mikaela berjalan ke arahku. Mengambil gelas kopi dari tanganku dan meletakkannya di meja jati. Lalu memelukku.

Aku menangis dan tertawa di bahunya. Di ruang depan studio. Dengan Fikri yang berdiri di ambang pintu dan Dodo dan Lulu yang mengintip dari jendela kaca.

“Kenapa?” bisiknya di telingaku. “Kenapa ketawa? Kenapa nangis?”

“Delapan puluh delapan,” kataku. Di antara isak dan tawa. “Aku minum kopi asli. Sama kamu di sini. Dan cuma delapan puluh delapan.”

“Itu bagus?”

“Itu bagus,” kataku. “Itu bagus banget, Mika. Aku nggak harus lari ke toilet.”

Ia tertawa juga. Di bahuku. Basah.


Malam itu, aku mematikan alarm.

Alarm di angka seratus sepuluh. Yang sudah lima tahun berbunyi seperti microwave setiap kali jantungku naik. Yang membuatku berhenti melakukan apa pun yang sedang kulakukan dan menarik napas empat hitungan, menahan tujuh, membuang delapan.

Aku membuka pengaturan di jam tanganku. Mencari menu yang sudah lima tahun tidak kusentuh. Peringatan Detak Jantung Tinggi. Ambang Batas: 110 BPM.

Nonaktifkan?

Jariku melayang di atas layar.

“Jangan dimatiin semua,” kata Fikri dari sofa. Ia belum pulang. Ia duduk di sofa abu-abu dengan kaki di atas meja jati dan semangkuk soto dari warung Ibu yang dibawa Dodo. “Ganti aja. Jangan buat yang tinggi. Buat yang rendah.”

“Rendah?”

“Beta-blocker bisa bikin detakmu terlalu rendah. Kalau di bawah lima puluh, aku mau tahu.” Fikri menyuap soto. “Pasang di lima puluh. Bukan seratus sepuluh.”

Aku menatap layar jam tanganku.

Lalu aku mengubah angkanya. Dari seratus sepuluh ke lima puluh. Dari batas atas ke batas bawah. Dari takut terlalu banyak merasa ke takut terlalu sedikit.

Aku menekan Simpan.

Jam tanganku bergetar sekali. Mengonfirmasi.

Lalu diam.

Aku menatap jam tangan itu lama. Lalu menatap Fikri.

“Kamu gimana, Fik?” tanyaku.

Fikri berhenti menyuap. Menatap mangkuk sotonya.

“Gimana apa?”

“Nadia.”

Fikri diam lama. Lalu meletakkan sendoknya.

“Surat cerai udah sampai,” katanya. “Minggu lalu. Waktu kamu pingsan di Pangalengan.” Ia tertawa kecil. “Aku tanda tangan di ruang dokter. Di sela-sela pasien.”

“Fik...”

“Nggak apa-apa.” Ia menatapku. “Aku baik-baik aja, Van. Beneran. Bukan baik-baik aja versimu.”

Aku tidak menjawab.

“Aku masih sayang dia,” kata Fikri pelan. “Benangku ke dia masih ada, kan? Kamu bilang.”

“Waktu itu masih ada.”

“Ya. Mungkin masih. Mungkin bakal ada lama.” Ia mengangkat bahu. “Tapi kamu tahu apa yang aku pelajari dari ibumu?”

Aku menatapnya.

“Ibumu cerita,” kata Fikri. “Waktu nungguin kamu di ruang kateterisasi. Soal benangnya ke Bapak. Yang nggak putus, cuma naik. Dan benangnya ke Pak Darto. Yang tumbuh di sebelahnya.”

Ia tersenyum. Senyum kecil yang lelah, tapi senyum.

“Benang yang lama nggak harus putus supaya yang baru boleh tumbuh.” Ia mengambil sendoknya lagi. “Aku nggak tahu kapan yang baru bakal tumbuh. Mungkin lama. Mungkin nggak pernah. Tapi aku nggak mau berhenti nunggu cuma karena yang lama masih ada.”

Ia menyuap soto.

“Lagian,” katanya dengan mulut penuh, “aku baru adopsi kucing. Dari depan IGD. Namanya Stetoskop. Dia galak. Mirip Nadia.”

Aku tertawa sampai dadaku sakit di bekas luka kateter.


Ibu datang hari Minggu. Dengan Pak Darto.

Dan dengan cincin.

Ia tidak bilang apa-apa ketika masuk ke studio. Ia hanya meletakkan panci soto di meja jati, mengatur mangkuk-mangkuk, menyuruh Dodo mengambil sendok, menyuruh Lulu mengambil kerupuk, menyuruh Mikaela duduk.

Lalu ia duduk di sofa abu-abu, di sebelahku, dengan tangan kiri yang ia letakkan di pangkuan dengan sangat sengaja.

Di jari manisnya, cincin emas tipis dengan satu batu kecil berwarna merah.

Aku menatap cincin itu. Lalu menatap Ibu. Lalu menatap Pak Darto, yang berdiri di dekat pintu dengan kemeja batik cokelat dan wajah orang yang menunggu vonis hakim.

“Bu,” kataku pelan.

“Ibu mau minta izin,” kata Ibu. Tanpa menatapku. Menatap cincin di jarinya. “Pak Darto lamar Ibu. Kemarin. Di warung. Waktu benerin kipas angin yang baru.”

“Di warung?”

“Dia naik tangga buat pasang kipasnya. Terus dia turun. Terus dia berlutut. Terus Ibu kira dia jatuh.” Ibu tertawa kecil, malu-malu, dengan pipi yang merah. “Ternyata lamar.”

Pak Darto, di dekat pintu, menutup wajahnya dengan satu tangan.

“Ibu belum jawab,” kata Ibu. “Ibu bilang Ibu mau tanya anak Ibu dulu.”

Ia akhirnya menatapku.

“Van. Kamu izinin?”

Aku menatap Ibu. Perempuan lima puluh enam tahun dengan kerudung oranye menyala dan cincin emas tipis di jari manis. Yang empat belas tahun memasak soto setiap subuh. Yang menunggu anaknya pulang. Yang mengirim soto ke panti asuhan setiap Jumat.

Yang benangnya ke Bapak tidak pernah putus. Hanya naik.

Aku tidak bisa melihat benang itu lagi. Aku tidak akan pernah bisa melihatnya lagi.

Tapi aku ingat.

“Bu,” kataku. “Benang Ibu ke Bapak.”

Ibu menatapku.

“Waktu terakhir aku lihat,” kataku, “di IGD, sebelum operasi. Benang Ibu ke Bapak masih ada. Naik ke langit. Tipis. Nggak putus. Sama kayak empat belas tahun lalu.”

Ibu menutup mulutnya dengan tangan.

“Dan benang Ibu ke Pak Darto,” lanjutku. “Udah setebal benang jahit. Di sebelahnya. Berdampingan.”

Aku menatap Pak Darto. Laki-laki yang membawa freon ke syukuran dan kipas angin pukul sepuluh malam dan berlutut di dapur warung soto setelah turun dari tangga.

“Bapak nggak marah, Bu,” kataku. “Kalau Bapak marah, benangnya bakal tipis. Tapi nggak. Bapak cuma... ada. Di atas. Nonton.”

Aku mengulurkan tanganku ke Pak Darto.

Ia berjalan ke arahku. Pelan. Menjabat tanganku. Tangannya kasar dan hangat dan gemetar.

“Jaga Ibu ya, Pak,” kataku. “Dia suka masak kebanyakan. Dia suka nangis nonton sinetron. Dia suka bangun jam empat subuh dan nggak bisa tidur lagi.”

“Saya tahu, Mas,” kata Pak Darto. Matanya basah. “Saya udah perhatiin dua tahun.”

Ibu menangis. Keras. Seperti ibu-ibu Sunda menangis di pernikahan anak. Ia memelukku, lalu memeluk Pak Darto, lalu memeluk Mikaela, lalu memeluk Dodo, yang kebetulan lewat dengan sendok di tangan.

Lulu, di ambang pintu dapur, mengeluarkan clipboard dan menulis sesuatu. Aku sempat membaca judul kolomnya.

PERNIKAHAN BERIKUTNYA (DAFTAR TUNGGU KAELA WEDDING).

Di bawahnya, tiga baris. Ditulis dengan tulisan tangan yang kecil dan rapi.

1. Bu Ratih & Pak Darto.
2. Mas Bima & Teh Neneng.
3.

Baris ketiga kosong.

Lulu melihatku membaca. Ia menutup clipboard-nya dengan cepat. Telinganya merah.


Mikaela datang setiap pagi.

Ke studio. Pukul tujuh. Dengan dua gelas kopi. Satu Gayo untukku. Satu teh untuknya, karena ia bilang kalau aku hanya boleh satu gelas sehari, ia juga akan berhenti minum kopi supaya adil.

Ia duduk di sofa abu-abu. Aku duduk di sebelahnya. Kami minum dalam diam. Menatap dinding foto.

Pagi ketiga, aku bertanya.

Aku tidak merencanakannya. Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti tawa di depan gelas kopi.

“Hari ini setebal apa?”

Mikaela menoleh. Menatapku.

“Apa?”

“Benangmu ke aku.” Aku menatap gelas kopi di tanganku. “Aku nggak bisa lihat lagi. Jadi aku tanya. Hari ini setebal apa?”

Ia diam lama.

Lalu, pelan, ia tersenyum. Senyum yang membuat lesung tipis di pipi kanannya terlihat.

“Hmm,” katanya. Dengan dahi berkerut, seperti sedang berpikir keras. “Hari ini... setebal...”

Ia menatap sekeliling studio. Mencari sesuatu.

“Setebal kabel charger laptopmu,” katanya akhirnya. Menunjuk kabel hitam yang melilit di meja editing.

Aku menatap kabel itu. Lalu menatapnya.

“Kabel charger?”

“Itu kabel paling tebal yang aku lihat sekarang.”

“Kemarin di IGD setebal sesuatu yang nggak ada namanya.”

“Kemarin aku lagi emosional.” Ia menyesap tehnya. “Hari ini aku cuma ngantuk. Jadi kabel charger.”

Aku tertawa.

Ia tertawa juga.

Pagi keempat, aku bertanya lagi. Hari ini setebal apa? Ia menjawab: Setebal tali tambang yang dipakai Kak Bima buat derek motor mogok.

Pagi kelima: Setebal selang air di halaman rumah Papa.

Pagi keenam: Setebal... gulungan kertas foto ukuran besar. Yang di darkroom.

Pagi ketujuh, ia diam lama sebelum menjawab. Lalu menatapku. Lama.

“Setebal kemarin,” katanya. “Dan kemarinnya. Dan kemarinnya lagi. Setiap hari sama. Kamu nggak perlu nanya, Evan.”

“Aku tahu.”

“Terus kenapa nanya?”

Aku menatapnya.

“Karena aku suka dengar kamu jawab,” kataku.

Ia menatapku. Lalu menunduk. Pipinya merah. Ia menyesap tehnya untuk menyembunyikan senyum.

“Kamu tahu,” katanya pelan, ke dalam gelas tehnya, “itu lebih romantis daripada semua benang yang pernah kamu lihat.”


Malam itu, aku bermimpi.

Bukan mimpi buruk. Bukan mimpi tentang lemari kosong atau tangga darurat atau monitor yang berbunyi panjang.

Aku bermimpi tentang gerbang.

Gerbang besi hijau tua. Catnya mengelupas. Di ujung jalan sempit di Cibeunying. Panti Asuhan Kasih Ibu.

Aku tujuh belas tahun. Dengan seragam SMA abu-abu yang lengannya digulung. Dengan kamera pinjaman sekolah dengan tali oranye. Dengan jantung yang berdetak sangat cepat dan kepala yang pening dan dunia yang merah di mana-mana.

Aku berjalan ke gerbang. Keluar.

Aku menoleh ke belakang.

Anak perempuan di anak tangga ketiga. Ujung kiri. Menatapku.

Aku berjalan lagi.

Lalu aku menoleh lagi.

Dua kali.

Dan di mimpi itu, di gerbang hijau tua itu, dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat setelah satu jam memotret, aku melihat sesuatu.

Sesuatu yang tipis. Sangat tipis. Lebih tipis dari rambut. Merah.

Muncul dari udara.

Dari dada anak perempuan di anak tangga ketiga.

Menjulur...

Aku terbangun.

Pukul tiga pagi. Di kasur lantai atas studio. Dengan Satu-Dua-Nol di sebelah bantal. Dengan jam tangan yang menyala hijau di pergelangan tanganku.

62.

Jantungku tidak berlari. Obatnya bekerja.

Tapi kepalaku berlari.

Aku duduk di tepi kasur, dalam gelap, dan mencoba mengingat mimpi itu. Gerbang. Anak tangga ketiga. Menoleh dua kali.

Dan sesuatu yang tipis.

Merah.

Dari dadanya.

Menjulur ke...

Aku tidak ingat.

Aku memejamkan mata. Mencoba lagi. Mencoba melihat apa yang kulihat dua belas tahun lalu, di gerbang hijau tua, waktu aku menoleh untuk kedua kalinya.

Tidak ada apa-apa. Hanya gelap.

Tapi ada sesuatu di sana. Aku tahu ada. Seperti negatif film yang belum dicuci. Gambarnya sudah ada di sana, terekam, tersimpan. Hanya belum muncul.

Aku turun dari kasur. Berjalan ke darkroom. Menyalakan lampu merah.

Bukan untuk mencuci foto.

Hanya untuk duduk di bawah cahaya merah. Satu-satunya cahaya merah yang masih bisa kulihat.

Satu-satunya cahaya yang bisa dipakai untuk melihat sesuatu yang belum jadi.

Aku duduk di lantai darkroom sampai subuh, mencoba mengingat.

Dan pelan-pelan, sangat pelan, seperti gambar yang muncul di kertas foto di dalam nampan pengembang, sesuatu mulai muncul.