Chapter Seven
Benang yang Tidak Bergetar
POV: Evan
Undangan makan malam itu datang dalam bentuk yang tidak bisa kutolak: pesan WhatsApp dari ibuku.
Ibu: Van. Neng Mika ngundang kamu makan malam di rumah papanya hari Jumat.
Ibu: Ibu sudah bilang kamu mau.
Ibu: Pakai kemeja yang biru. Yang bagus. Jangan yang linen kucel itu.
Aku: Bu, kenapa undangannya lewat Ibu?
Ibu: Karena kalau lewat kamu, kamu pasti nolak.
Ibu: Neng Mika pintar. Ibu suka.
Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku membuka percakapan dengan Mikaela, yang tersimpan dengan nama Yang Bikin Repot.
Aku: Kamu ngundang aku lewat ibuku?
Yang Bikin Repot: Strategi.
Yang Bikin Repot: Kamu boleh nolak aku. Tapi kamu nggak akan berani nolak ibumu. 😌
Aku: Ini manipulasi.
Yang Bikin Repot: Ini diplomasi keluarga.
Yang Bikin Repot: Papa mau kenalan. Dia penasaran sama fotografer yang bikin aku pulang larut terus.
Yang Bikin Repot: Tolong jangan kabur lewat jendela. Rumah Papa jendelanya tinggi.
Sejak kejadian di balkon Braga, kami belum membahas apa pun. Tidak tentang drone. Tidak tentang jarak satu tarikan napas di antara wajah kami. Tidak tentang apa yang hampir terjadi sebelum Ibu Negara Dua memutuskan untuk lewat.
Aku sudah memutar ulang momen itu di kepalaku tujuh puluh tiga kali. Aku tidak bangga dengan angka itu. Aku menghitungnya karena aku memang selalu menghitung.
Aku memakai kemeja biru.
Rumah Hadi Wirawan ada di ujung jalan kecil yang menanjak di Setiabudi. Rumah tua bergaya kolonial dengan jendela-jendela tinggi berbingkai putih, atap genteng merah yang sudah berlumut di beberapa bagian, dan halaman depan penuh pohon kemuning yang wanginya menyergap begitu aku membuka pintu mobil.
Mikaela menungguku di teras.
Ia memakai sweater rajut berwarna krem yang longgar, celana jins biru muda, dan kaus kaki tebal. Rambutnya diikat asal dengan jepit kayu di belakang kepala. Tidak ada lipstik merah bata. Tidak ada anting mutiara. Wajahnya hampir polos, hanya sedikit pelembap yang membuat kulitnya berkilat lembut di bawah lampu teras yang kekuningan.
Aku belum pernah melihatnya seperti ini. Seperti seseorang yang sedang di rumah. Seperti seseorang yang tidak sedang memainkan peran apa pun.
Dan ia cantik dengan cara yang membuatku ingin menurunkan semua kamera di dunia dan hanya melihat. Tanpa lensa. Tanpa bingkai. Karena tidak ada lensa yang bisa menangkap bagaimana ia terlihat ketika tidak berusaha terlihat seperti apa pun.
“Kamu pakai kemeja biru,” katanya.
“Ibuku yang suruh.”
“Aku tahu. Aku yang minta ibumu nyuruh.” Ia tersenyum, dan senyum itu lebih santai dari biasanya, lebih mirip senyum anak kecil yang berhasil menyembunyikan permen. “Biru bagus di kamu.”
“Kamu nggak dandan.”
“Ini rumah Papa. Di sini aku nggak perlu dandan.” Ia memiringkan kepala. “Kenapa? Kecewa?”
“Nggak.” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Aku berdeham. “Maksudku, ini... bagus. Juga.”
Senyumnya melebar. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya meraih tanganku, menarikku melewati pintu depan, dan aku membiarkannya karena aku sudah berhenti pura-pura bisa menolak hal-hal kecil seperti ini.
Hadi Wirawan bukan laki-laki yang kubayangkan.
Aku membayangkan pengusaha percetakan yang sukses: gemuk, berkumis, berkacamata emas, dengan suara besar dan jabat tangan yang terlalu kuat. Yang menyambutku di ruang makan memang berkacamata, dan suaranya memang besar. Tapi ia kurus. Terlalu kurus untuk kemeja batik cokelat yang ia pakai, yang menggantung longgar di bahunya seperti dipinjam dari orang lain. Kulitnya pucat kekuningan. Tulang pipinya menonjol.
Dan ia tidak berdiri ketika aku masuk. Ia duduk di kursi kayu dengan bantal tebal di punggung, dan baru mengulurkan tangan setelah aku sampai di depannya.
“Jadi ini,” katanya, menggenggam tanganku dengan tangan yang terasa ringan dan dingin, “fotografer yang bikin anak saya pulang jam sebelas malam tiga kali seminggu.”
“Pa,” kata Mikaela.
“Apa? Papa cuma konfirmasi data.” Hadi menatapku dari balik kacamata, dengan mata yang ternyata masih sangat tajam. “Duduk, Nak Evan. Duduk. Bi Iyah masak gurame bakar. Kalau kamu nggak suka gurame, bilang sekarang, supaya Papa bisa kecewa sejak awal.”
“Saya suka gurame, Om.”
“Bagus. Satu poin.” Ia menunjuk kursi di seberangnya. “Jangan panggil Om. Saya bukan om-om. Panggil Pak. Atau Papa, kalau kamu sudah berani.”
Mikaela menendang kaki kursi papanya dari bawah meja. Hadi tertawa, tawa yang besar dan hangat, dan langsung berubah jadi batuk.
Batuknya dalam. Kering. Membuat seluruh tubuhnya membungkuk ke depan dan bahunya bergetar seperti ranting yang ditiup angin keras. Mikaela sudah berdiri sebelum batuk kedua, tangannya di punggung papanya, menepuk pelan, dengan wajah yang tiba-tiba kehilangan semua warnanya.
Aku diam di kursiku. Aku tidak tahu harus melakukan apa.
Batuk itu reda. Hadi melambaikan tangan, menyuruh Mikaela duduk.
“Sudah, sudah. Keselek gurame yang belum dimakan.”
Mikaela duduk. Tapi tangannya tidak langsung kembali ke pangkuan. Tangannya tetap di dekat lengan papanya, di atas meja, seperti siap meraih kapan saja.
Aku menatapnya. Ia tidak menatapku.
Ia tidak pernah bilang papanya sakit.
Gurame bakarnya enak. Bi Iyah, perempuan setengah baya dengan daster bermotif bunga dan senyum malu-malu, membakarnya dengan bumbu kecap dan cabai yang dioles berlapis-lapis sampai kulit ikannya mengilap seperti dipernis. Ada juga sayur asem, tempe goreng, lalapan, dan sambal terasi yang, Mikaela memastikan dengan tegas, tidak pedas.
Hadi tidak makan banyak. Ia mengambil satu sendok nasi, sepotong kecil daging ikan, dan sayur asem tanpa isinya. Tapi ia bicara terus. Tentang bisnis percetakannya yang dimulai dari satu mesin fotokopi bekas di Jalan Pungkur. Tentang Mikaela yang waktu kecil takut kucing tapi diam-diam memberi makan kucing liar di belakang rumah. Tentang Singapura dan betapa makanan di sana mahal sekali tapi nasi lemaknya enak.
Dan ia menginterogasiku.
Bukan dengan pertanyaan langsung. Dengan lelucon.
“Nak Evan,” katanya di tengah makan, “kalau ada dua perempuan tenggelam, ibumu dan anak saya, kamu tolong yang mana dulu?”
“Pa!”
“Ini pertanyaan standar, Mika. Semua calon menantu ditanya ini.”
“Dia bukan calon menantu!”
“Belum.”
Aku meletakkan sendokku. “Saya nggak bisa berenang, Pak.”
Hadi menatapku. Lalu tertawa sampai harus menahan dadanya dengan satu tangan.
“Jawaban bagus! Jujur! Tapi nggak berguna! Dua poin!”
Lalu: “Nak Evan, berapa kali kamu pernah patah hati?”
“Pa, itu bukan lelucon.”
“Siapa bilang Papa mau bercanda? Papa serius kali ini.” Hadi menatapku, dan kali ini memang tidak ada senyum di wajahnya. “Berapa kali?”
Aku diam. Mikaela juga diam, tapi aku bisa merasakan matanya di wajahku.
“Sekali,” jawabku.
“Parah?”
“Cukup parah sampai saya nggak mau ngulang.”
Hadi mengangguk pelan. Lama. Seperti sedang menimbang sesuatu yang berat.
“Sekali itu cukup,” katanya akhirnya. “Orang yang patah hati sekali biasanya lebih hati-hati memegang hati orang lain. Orang yang nggak pernah patah hati, nggak tahu harga barangnya.” Ia mengambil gelas tehnya. “Tiga poin.”
Aku tidak tahu berapa poin yang kubutuhkan. Aku tidak tahu ini kompetisi apa. Tapi entah kenapa, aku ingin menang.
Setelah makan, Mikaela membantu Bi Iyah membereskan piring di dapur. Hadi memintaku menemaninya ke ruang baca.
Ruangannya kecil dan hangat, dengan rak buku dari lantai sampai langit-langit, kursi goyang kayu jati dengan selimut wol di sandarannya, dan lampu berdiri yang cahayanya kuning seperti madu. Di dinding ada beberapa bingkai foto. Mikaela waktu wisuda SMA, dengan toga dan senyum yang canggung. Mikaela dan Hadi di depan Merlion, dua-duanya memakai topi rajut yang sama. Mikaela kecil, mungkin empat belas tahun, di depan kue ulang tahun dengan lilin berbentuk angka satu dan empat.
Dan satu bingkai kosong.
Bingkai kayu berukuran besar, mungkin enam puluh kali sembilan puluh senti, tergantung di tempat paling terang di dinding. Di dalamnya hanya ada kertas karton putih. Tidak ada foto. Tidak ada lukisan. Hanya putih.
“Itu tempat foto yang lagi diperbaiki,” kata Hadi, ketika melihat aku menatapnya. “Bingkainya Papa biarin di situ supaya nggak lupa tempatnya.”
“Foto apa, Pak?”
“Foto yang penting.” Ia duduk di kursi goyangnya, pelan, dengan napas yang sedikit tersengal. “Saya kolektor kecil-kecilan, Nak Evan. Foto-foto lama. Kebanyakan fotografer lokal. Orang-orang yang belum terkenal waktu saya beli karyanya.”
“Ada yang sekarang terkenal?”
Hadi menatapku. Lama. Dengan mata yang tajam di balik kacamata, dan ekspresi yang tidak bisa kubaca.
Terlalu lama.
Seperti seseorang yang sedang memutuskan apakah ia akan mengatakan sesuatu atau tidak.
“Beberapa,” katanya akhirnya. Lalu ia tersenyum, dan senyum itu kembali jadi senyum lelucon yang besar. “Duduk, duduk. Kamu berdiri kayak satpam.”
Aku duduk di kursi kecil di seberangnya.
“Saya mau tanya satu hal,” kata Hadi. “Dan kali ini saya nggak bercanda.”
“Silakan, Pak.”
“Kamu tahu anak saya dari mana?”
Aku diam sebentar. “Panti asuhan, Mika pernah bilang.”
Itu tidak sepenuhnya benar. Mikaela tidak pernah bilang. Aku menyimpulkannya. Dari cara ia menatap foto anak perempuan di undakan tangga itu. Dari cara Ibu menyebut anak angkat waktu bercerita tentang obrolan mereka di Ciumbuleuit. Dari cara ia bilang aku sudah biasa nunggu.
Hadi mengangguk. “Saya juga anak panti. Dulu. Di Sukabumi. Panti yang sudah nggak ada sekarang, sudah jadi minimarket.” Ia tertawa kecil. “Ironis. Tempat saya dulu nunggu dijemput, sekarang tempat orang beli rokok.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Saya nggak pernah dijemput,” kata Hadi, dengan nada biasa, seperti sedang bercerita tentang cuaca. “Umur delapan belas saya keluar sendiri. Nggak ada yang nunggu di gerbang. Jadi saya bikin sendiri. Usaha sendiri. Rumah sendiri.” Ia menatap bingkai-bingkai foto di dinding. “Terus waktu umur lima puluh, saya lihat satu foto di koran. Anak perempuan di tangga panti. Matanya persis kayak mata saya waktu kecil.”
Ia menoleh padaku.
“Dan saya pikir, ya Allah. Masa anak ini harus nunggu sampai umur delapan belas juga. Masa anak ini harus bikin semuanya sendiri juga.”
Ruang baca itu sunyi. Hanya ada suara jam dinding dan suara piring yang dicuci di dapur, jauh.
“Jadi saya datang,” kata Hadi. “Saya bilang, Boleh saya jadi papamu? Dan dia diam lama banget. Lama banget, Nak Evan. Papa sampai pegal berlutut. Terus dia ngangguk. Satu kali. Kecil banget. Kayak takut kalau ngangguknya kebesaran, Papa bakal berubah pikiran.”
Ia tersenyum, dan matanya basah di balik kacamata.
Aku menatapnya.
Anak perempuan di tangga panti. Foto di koran.
Ada sesuatu yang berdenyut di belakang kepalaku. Sesuatu yang mencoba menyambungkan dua titik yang terlalu jauh.
Banyak anak perempuan di banyak panti. Banyak foto di banyak koran. Itu tidak mungkin. Itu terlalu kebetulan. Dan aku tidak percaya kebetulan.
“Kamu kenapa pucat, Nak?”
“Nggak apa-apa, Pak.”
“Kamu mirip Mika waktu pertama kali makan durian.” Hadi tertawa. “Sudah, sudah. Papa jadi melankolis. Orang sakit memang suka melankolis. Jangan bilang Mika Papa cerita begini, nanti dia ngomel.”
Orang sakit.
Ia mengatakannya dengan santai. Seperti mengatakan orang tua atau orang Sunda.
“Pak,” kataku pelan. “Bapak sakit apa?”
Hadi menatapku. Senyumnya tidak hilang, tapi berubah. Lebih kecil. Lebih tenang.
“Sakit yang nggak usah dibahas waktu makan gurame,” katanya. “Mika belum cerita, kan?”
“Belum.”
“Bagus. Biar dia yang cerita. Kalau sudah siap.” Ia mengusap lengan kursi goyangnya. “Anak saya itu jago banget pura-pura nggak butuh siapa-siapa, Nak Evan. Jago banget. Sampai kadang saya lupa dia bisa capek.”
Mikaela muncul di ambang pintu ruang baca dengan dua cangkir teh di tangan.
“Kalian ngobrolin apa? Kok serius?”
“Gurame,” kata Hadi.
“Bohong.”
“Durian.”
“Pa.”
“Oke, oke. Papa cerita kamu takut kucing.”
Mikaela memutar matanya, meletakkan satu cangkir di meja kecil di sebelah papanya, dan menyerahkan cangkir kedua padaku. Jari kami bersentuhan di gagang cangkir. Ia tidak menariknya.
“Hati-hati,” katanya pelan. “Panas.”
Lalu ia membungkuk, merapikan selimut wol di pangkuan papanya, membetulkan bantal di punggungnya, dan menyeka sesuatu dari sudut bibir Hadi dengan ibu jarinya. Sisa kecap, mungkin. Gerakan kecil yang sudah dilakukan ratusan kali.
Hadi menggerutu, “Papa bukan bayi,” tapi tidak menepis tangannya.
Dan aku, dengan cangkir teh yang panas di tangan dan pemandangan itu di depan mataku, merasa dadaku menyempit dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan detak jantung.
Atau mungkin ada.
Jam tanganku bergetar.
Seratus enam belas. Seratus sembilan belas.
Mikaela menoleh, mungkin karena mendengar getarannya. Ia menatapku dari tempatnya membungkuk di samping kursi papanya, dengan sweater krem yang melorot sedikit di satu bahu dan rambut yang mulai lepas dari jepit kayunya. Matanya bertemu mataku.
Lalu ia tersenyum. Senyum kecil. Senyum rumah.
Seratus dua puluh tiga.
Ruang baca itu berubah warna.
Dari dada Hadi, sebuah benang menjulur ke dada Mikaela. Benang itu setebal tali tambang. Lurus. Tenang. Tidak bergetar sedikit pun. Seperti tiang jembatan yang sudah berdiri puluhan tahun dan tidak akan roboh oleh angin apa pun.
Benang keluarga.
Dan dari dada Mikaela, benang yang sama, kembali ke dada papanya. Sama tebalnya. Sama tenangnya. Dua tiang jembatan yang saling menopang.
Aku sudah melihat ribuan benang keluarga. Ayah ke anak perempuan. Ibu ke anak laki-laki. Kakak ke adik. Kebanyakan setebal benang jahit, beberapa setebal tali sepatu. Hanya sedikit yang setebal ini. Biasanya milik orang tua yang pernah hampir kehilangan anaknya. Atau anak yang pernah hampir tidak punya orang tua.
Aku menatap benang itu dan memikirkan anak perempuan di tangga panti yang tidak punya benang sama sekali. Dan aku berharap, dengan cara yang hampir seperti doa, bahwa siapa pun anak perempuan itu, ia sekarang punya benang setebal ini. Ke seseorang. Ke siapa saja.
Lalu mataku bergerak.
Benang setebal tali kapal itu masih ada. Merah tua, bergetar hangat, menjulur dari dada Mikaela melintasi ruang baca yang kecil, ke dadaku. Berbeda sekali dengan benang keluarganya. Benang ke papanya tenang. Benang ke aku hidup. Berdenyut. Bergetar seperti senar yang tidak pernah berhenti dipetik.
Dan tidak ada benang lain.
Aku memeriksa. Aku memaksa mataku memeriksa setiap sudut. Dari dada Mikaela, hanya ada dua benang. Satu ke papanya, tenang. Satu ke aku, hidup.
Tidak ada benang asmara lain. Tidak ke mantan. Tidak ke laki-laki di Singapura. Tidak ke siapa pun.
Hanya aku.
Aku tidak tahu harus merasa apa. Takut, mungkin. Karena benang setebal itu, kalau suatu hari menipis, akan butuh waktu lama sekali untuk hilang. Dan aku harus menyaksikannya pelan-pelan, sehelai demi sehelai, seperti dulu.
Tapi ada perasaan lain di bawah rasa takut itu. Perasaan yang tidak mau kunamai.
Lalu aku melihat sesuatu yang membuatku lupa bernapas.
Dari dada Hadi, ada benang ketiga. Tipis, tua, dan tenang. Benang itu tidak menuju siapa pun di ruangan ini.
Benang itu naik.
Pelan. Lurus. Menembus langit-langit ruang baca, ke arah yang sama dengan benang Ibu ke Bapak. Benang cinta untuk seseorang yang sudah tidak ada. Seorang perempuan, mungkin. Istri yang meninggal muda, atau perempuan yang tidak pernah sempat ia nikahi. Aku tidak tahu. Aku tidak akan pernah bertanya.
Tapi yang membuatku tidak bisa bernapas bukan benang itu.
Yang membuatku tidak bisa bernapas adalah betapa tipisnya benang itu sekarang dibandingkan benangnya ke Mikaela. Seperti seseorang yang sudah lama sekali berduka, lalu suatu hari menemukan alasan untuk berhenti menatap ke atas, dan mulai menatap ke depan.
Ke seorang anak perempuan yang menyeka kecap dari sudut bibirnya.
Aku menatapnya. Ia sedang menyesap teh, dengan mata terpejam karena uapnya, dan sama sekali tidak tahu apa yang menjulur dari dadanya.
Detak jantungku turun. Seratus delapan belas. Seratus sepuluh. Benang-benang memudar.
Mikaela masih menatapku. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menatap, dengan senyum kecil yang tidak hilang, dan mata yang entah kenapa terlihat sedikit lebih basah dari tadi.
Aku pamit pukul sepuluh.
Hadi tidak mengantar ke pintu. Ia menyalamiku dari kursi goyangnya, dengan tangan yang lebih dingin dari tadi, dan menahan tanganku sedikit lebih lama.
“Datang lagi,” katanya. “Minggu depan. Bi Iyah mau masak ayam bakakak. Kalau kamu nggak datang, Papa makan sendiri, dan Papa sedih. Orang sakit nggak boleh sedih.”
“Pa,” kata Mikaela dari pintu.
“Apa? Papa cuma bilang fakta medis.”
Mikaela mengantarku ke mobil. Halaman depan gelap, hanya diterangi lampu teras dan bulan yang separuh. Pohon-pohon kemuning menggugurkan bunga putih kecil yang wanginya makin kuat di malam hari.
Di samping pintu mobil, aku berhenti.
“Kamu nggak bilang papamu sakit.”
Mikaela diam. Ia memeluk dirinya sendiri, kedua tangan di lengan sweaternya, meskipun malam tidak terlalu dingin.
“Kanker,” katanya akhirnya. Sangat pelan. “Pankreas. Stadium empat. Dokter bilang... dokter nggak bilang berapa lama. Dokter bilang ‘kita lihat saja’.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku tidak bilang apa-apa.
“Itu alasanku pulang,” lanjutnya. “Bukan cuma itu. Tapi itu yang paling besar.”
Ia mendongak menatapku, dan di bawah lampu teras yang kuning, aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat. Bukan perempuan yang mengatur empat ratus tamu dengan satu telepon. Bukan perempuan yang memegang nadiku di depan semua orang. Seorang anak perempuan yang ketakutan, yang sedang berusaha sangat keras untuk tidak terlihat ketakutan.
Anak perempuan yang jago pura-pura tidak butuh siapa-siapa.
“Jangan kasihan sama aku,” katanya cepat. “Aku nggak cerita supaya kamu kasihan.”
“Aku nggak kasihan.”
“Bohong.”
“Aku nggak kasihan,” ulangku. “Aku...”
Aku tidak tahu kata yang tepat. Jadi aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan dalam lima tahun.
Aku mengulurkan tangan dan menyelipkan rambutnya yang lepas dari jepit kayu ke belakang telinganya.
Pelan. Hati-hati. Seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah.
Mikaela tidak bergerak. Napasnya tertahan. Matanya menatapku dengan ekspresi yang membuat dadaku sesak lagi.
“Ayam bakakak,” kataku. “Minggu depan. Aku datang.”
Ia menatapku lama. Lalu tertawa, tawa kecil yang basah, dan menunduk supaya aku tidak melihat matanya.
“Oke,” bisiknya.
Aku masuk ke mobil. Menyalakan mesin. Menatapnya dari balik kaca, berdiri sendirian di halaman gelap dengan bunga kemuning yang jatuh di rambutnya.
Ia melambai.
Aku melambai balik.
Dan di sepanjang jalan pulang menuruni Setiabudi, aku memikirkan dua hal yang tidak mau berhenti berputar di kepalaku.
Tatapan seorang laki-laki sekarat yang terlalu lama berhenti di wajahku, seperti sedang mencocokkan wajahku dengan sesuatu yang pernah ia lihat.
Dan bingkai kosong di dinding ruang baca, enam puluh kali sembilan puluh senti, yang menunggu foto yang penting.
Ukuran yang persis sama dengan print asli yang kujual lima tahun lalu.
Aku menggelengkan kepala.
Kebetulan. Bandung penuh bingkai berukuran standar.
Aku tidak percaya kebetulan. Tapi malam itu, aku memaksa diriku percaya.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar reading
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?