Chapter Thirteen
Dua Belas Tahun
POV: Mika
Laki-laki di foto ini sudah nggak ada.
Aku membawa kalimat itu pulang ke apartemen malam itu, seperti membawa batu di saku. Aku meletakkannya di nakas, di sebelah guntingan koran yang sudah kulipat lagi, dan menatapnya sampai pukul tiga pagi.
Aku bukan dia lagi.
Bodoh. Laki-laki bodoh.
Ia pikir aku menunggu dua belas tahun untuk anak SMA berumur tujuh belas yang bahkan tidak ingat namaku. Ia pikir aku jatuh cinta pada foto di koran, pada kenangan, pada hantu. Ia pikir yang kucintai adalah versi dirinya yang belum rusak.
Ia tidak tahu bahwa aku menyimpan setiap wawancaranya. Bukan hanya wawancara saat ia menang lomba. Semuanya. Wawancara waktu ia masih jadi asisten fotografer di studio orang lain, dua puluh tiga tahun, dengan wajah yang terlihat terlalu serius di foto profilnya. Wawancara waktu ia membuka Studio Mahendra, dua puluh empat tahun, dengan mata yang terlihat lebih tua dari sebelumnya, dan satu kalimat di paragraf terakhir yang kubaca berulang-ulang: Saya belajar bahwa foto yang paling jujur adalah foto orang yang baru saja kehilangan sesuatu.
Aku tahu ia patah hati sebelum aku tahu nama perempuan itu. Aku membacanya dari matanya di foto profil majalah.
Aku tidak mencintai anak tujuh belas tahun.
Aku mencintai laki-laki yang patah, dan tetap memotret orang-orang yang bahagia. Yang minum decaf karena takut. Yang menghitung anak tangga. Yang menyimpan jaket denim tua sebagai satu-satunya barang dari hidupnya yang tidak dikotori siapa pun, lalu memberikannya padaku di bawah hujan tanpa berpikir.
Aku mencintai yang itu. Yang sekarang. Yang ada di depanku.
Aku tahu kalimatnya. Lima kata. Seharusnya mudah.
Aku tidak bisa mengucapkannya.
Pagi harinya, ia mengirimiku pesan pukul tujuh.
Yang Melihat: Kamu sibuk hari ini?
Aku: Nggak terlalu. Kenapa?
Yang Melihat: Aku mau ke Cibeunying.
Yang Melihat: Kamu mau ikut?
Aku menatap pesan itu lama sekali.
Aku: Panti masih ada?
Yang Melihat: Ibu telepon Bu Ningsih tadi subuh. Masih ada. Bu Ningsih masih di sana.
Yang Melihat: Katanya kalau kamu nggak datang hari ini, dia yang datang ke apartemenmu. Dia udah tujuh puluh dua tahun, Mika. Tolong selamatkan lututnya.
Aku tertawa sendirian di dapur, dengan cangkir teh di tangan dan mata yang tiba-tiba panas lagi.
Panti Asuhan Kasih Ibu masih berdiri di tempat yang sama. Di ujung jalan sempit di Cibeunying, di antara rumah-rumah warga yang berimpitan dan warung kelontong yang menjual pulsa dan es mambo.
Ia lebih kecil dari yang kuingat. Itu yang pertama kusadari begitu turun dari mobil. Gerbangnya, yang dulu terlihat seperti gerbang istana, ternyata hanya pintu besi setinggi dua meter yang catnya sudah diganti, dari hijau tua menjadi biru muda. Halamannya, yang dulu terasa seluas lapangan sepak bola, ternyata hanya sepetak semen dengan satu pohon jambu air di pojoknya.
Pohon jambu air itu masih ada. Lebih besar. Lebih tua.
Dan terasnya. Tiga anak tangga semen.
Aku berhenti di gerbang. Kakiku tidak mau bergerak.
Evan berdiri di sebelahku. Ia tidak bilang apa-apa. Ia juga tidak masuk duluan. Ia hanya berdiri, dengan tangan di saku jaket, menunggu.
Tiga anak tangga. Anak tangga ketiga retak di ujung kiri.
Masih retak. Tidak pernah diperbaiki.
“Mika,” kata Evan pelan.
“Sebentar.”
“Oke.”
Ia tidak menyuruhku masuk. Ia tidak memegang tanganku. Ia hanya berdiri di sana sampai kakiku siap, dan itu, entah kenapa, lebih membantu daripada apa pun yang bisa ia katakan.
Lalu pintu panti terbuka, dan seorang perempuan tua berkerudung abu-abu keluar dengan langkah yang terseret dan tongkat di tangan kanan.
Bu Ningsih.
Lebih pendek dari yang kuingat. Lebih bungkuk. Wajahnya penuh keriput, seperti kertas yang dilipat dan dibuka ratusan kali. Tapi matanya masih sama. Mata yang dulu mengepang rambutku setiap pagi, yang memeriksa dahiku kalau aku demam, yang menatapku dengan sedih setiap hari Minggu jam dua siang ketika jam jenguk selesai dan aku masih duduk di anak tangga ketiga.
Ia berhenti di teras. Menatapku.
Lalu tongkatnya jatuh.
“Mika,” katanya. “Mika nomor tujuh belas.”
Kakiku akhirnya bergerak.
Kami duduk di ruang tamu panti, yang masih sama dengan dua belas tahun lalu. Sofa rotan dengan bantal batik yang sudah pudar. Meja kayu dengan taplak renda yang dikanji. Lemari kaca berisi piala-piala kecil dari lomba tujuh belasan dan foto-foto anak-anak yang sudah diadopsi.
Fotoku tidak ada di lemari itu. Fotoku ada di koran. Bu Ningsih menunjukkannya padaku: guntingan koran yang sama dengan milikku, tapi dalam kondisi jauh lebih baik, dilaminasi plastik dan ditempel di dinding di atas lemari, di samping kalender.
“Ibu laminasi,” kata Bu Ningsih bangga. “Biar nggak rusak. Punyamu pasti udah lecek.”
“Udah kayak kain, Bu.”
“Kamu bawa ke mana-mana?”
“Di dompet. Dua belas tahun.”
Bu Ningsih menatapku. Lalu menatap Evan, yang duduk di kursi rotan di sebelahku dengan punggung tegak dan wajah seperti anak yang dipanggil ke ruang kepala sekolah.
Lalu matanya menyipit.
“Kamu,” katanya, menunjuk Evan dengan jari yang gemetar. “Kamu anak soto.”
Evan berkedip. “Maaf, Bu?”
“Anak soto! Yang tiap Jumat antar soto pakai motor tua! Yang pernah jatuh di depan gerbang, pancinya tumpah, terus kamu nangis!”
“Bu, saya nggak nangis...”
“Nangis! Ibu inget! Kamu nangis karena sotonya tumpah, terus kamu bilang, Bu, maaf, Ibu saya masak dari subuh. Terus anak-anak sini ngumpulin soto dari aspal pakai mangkuk.” Bu Ningsih tertawa sampai batuk. “Ya Allah. Anak soto sekarang udah gede. Udah ganteng. Udah bawa Mika pulang.”
Evan menatapku dengan wajah merah padam.
Aku menutup mulut dengan tangan. Bahuku bergetar.
“Kamu tahu itu?” desisnya.
“Aku inget,” bisikku, di antara tawa. “Aku salah satu yang ngumpulin soto dari aspal.”
“Kamu...”
“Kamu nangis.”
“Aku nggak...”
“Kamu nangis, Evan. Ingusmu keluar.”
Bu Ningsih tertawa lagi. Evan menutup wajahnya dengan dua tangan dan bersandar ke kursi rotan dengan suara erangan yang panjang.
Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, aku merasa batu di sakuku sedikit lebih ringan.
Setelah teh dan kue bolu pandan yang dipanggang Bu Ningsih pagi itu (Ibu tahu kamu datang, Ibu bangun jam empat), aku menceritakan semuanya.
Tidak semuanya. Hampir semuanya.
Tentang hari Papa datang. Hari Kamis, empat hari setelah foto itu dimuat di koran. Laki-laki gemuk berkemeja batik yang berlutut di ruang tamu ini, di atas karpet yang sama, dan bertanya boleh saya jadi papamu. Tentang aku yang mengangguk satu kali, kecil sekali, karena takut kalau ngangguknya kebesaran, ia akan berubah pikiran.
Tentang Singapura. Sekolah internasional di mana aku satu-satunya murid yang tidak tahu cara memakai garpu dan pisau. Tentang guru yang bilang aku cantik dengan nada heran. Tentang belajar bahasa Inggris dari film-film yang Papa sewa di rental DVD. Tentang Papa yang menjual satu mesin cetak besar supaya bisa membayar uang sekolahku tahun pertama.
Tentang foto di koran.
“Papa yang guntingin,” kataku, menatap guntingan yang dilaminasi di dinding. “Malam pertama aku tidur di rumahnya. Dia kasih ke aku dan bilang, Ini orang yang bikin Papa nemuin kamu. Simpan, ya. Biar kamu ingat, ada orang yang lihat kamu waktu nggak ada yang lihat.“
Evan diam. Ia tidak menatapku. Ia menatap guntingan koran di dinding.
“Aku simpan,” lanjutku. “Di dompet. Aku pindahin setiap ganti dompet. Lima kali.” Aku tersenyum kecil. “Lalu waktu umur lima belas, aku cari nama itu di internet. Evan Mahendra, fotografer. Waktu itu cuma ada satu hasil. Foto kamu di pameran pemenang. Pakai kemeja kotak-kotak kebesaran.”
“Itu kemeja Bapak.”
“Aku tahu. Kebesaran di bahu.”
Ia tertawa kecil. Tawa yang tidak sampai ke mata.
“Terus aku ikutin,” kataku. “Bukan setiap hari. Aku bukan penguntit.” Aku berhenti. “Oke. Mungkin sedikit penguntit. Tapi penguntit yang sopan. Aku cuma baca wawancaramu. Lihat fotomu di Instagram. Tahu kamu kuliah di mana. Tahu kamu kerja jadi asisten di studio mana. Tahu kamu buka studio sendiri.”
Aku tidak bilang bahwa aku tahu ia patah hati. Aku tidak bilang bahwa aku membaca kesedihannya dari foto profil majalah dan menangis di kamar mandi apartemen Singapura jam dua pagi untuk laki-laki yang tidak tahu aku ada.
“Aku nggak tahu kenapa,” kataku. “Mungkin karena kamu satu-satunya orang di dunia yang lihat aku sebelum aku punya siapa-siapa. Sebelum aku punya Papa. Sebelum aku punya nama belakang. Waktu aku cuma nomor tujuh belas yang duduk di tangga.”
Ruang tamu panti sunyi. Bu Ningsih, dengan kebijaksanaan yang sama dengan Ibu Evan, sudah menyelinap ke dapur dengan alasan mau ngecek bolu kedua.
Evan akhirnya menatapku.
“Mika,” katanya pelan. “Itu yang aku takutin.”
“Apa?”
“Kamu cinta anak SMA itu.” Suaranya serak. “Anak yang lihat kamu. Anak yang nangis karena soto tumpah. Anak yang belum rusak.” Ia menunduk. “Kamu nunggu dua belas tahun untuk orang yang udah nggak ada. Dan sekarang yang datang cuma aku. Cowok penakut yang minum decaf dan sembunyi di toilet.”
Dadaku sesak.
Bukan. Bukan dia. Kamu. Aku cinta yang di depanku. Aku cinta yang minum decaf. Aku cinta yang sembunyi di toilet. Aku cinta kamu yang sekarang, kamu yang rusak, kamu yang takut. Aku nggak pernah cinta anak SMA itu. Aku cuma berterima kasih sama dia. Yang aku cinta itu kamu.
Semua kalimat itu ada di tenggorokanku. Menumpuk. Mendesak. Seperti air di balik bendungan.
Aku membuka mulut.
Tidak ada yang keluar.
Tidak ada satu kata pun.
Karena kalau aku mengucapkannya, kalau aku bilang aku cinta kamu dan ia menatapku dengan tatapan kasihan, atau tatapan bingung, atau tatapan seseorang yang tidak bisa membalas, aku akan kembali jadi anak di anak tangga ketiga. Ujung kiri. Menatap gerbang yang tidak terbuka.
Dua belas tahun aku membangun diriku jauh dari anak tangga itu. Aku tidak sanggup kembali ke sana dalam satu kalimat.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Aku berdiri. Mengulurkan tanganku kepadanya.
“Ayo,” kataku.
Ia menatap tanganku. “Ke mana?”
“Tangga.”
Kami duduk di anak tangga ketiga.
Aku di ujung kiri, di bagian yang retak dan sedikit miring. Ia di sebelahku. Bahunya menyentuh bahuku. Anak tangga itu terlalu sempit untuk dua orang dewasa, jadi kami harus duduk sangat dekat. Lututnya menyentuh lututku.
Dari sini, gerbang terlihat jelas. Pintu besi biru muda. Jalan sempit di baliknya. Warung kelontong dengan es mambo.
“Dari sini,” kataku, “aku nunggu. Tiap Minggu. Jam sepuluh sampai jam dua. Tujuh tahun.”
Evan diam.
“Aku nggak nunggu siapa-siapa. Aku tahu nggak ada yang datang. Aku cuma nunggu karena semua anak nunggu.” Aku menatap gerbang. “Lalu suatu hari Minggu, ada anak laki-laki datang. Bukan untuk aku. Untuk antar soto. Untuk tugas sekolah. Dia bawa kamera pinjaman, dan dia motret anak-anak lain yang lari ke gerbang.”
Aku diam sebentar.
“Lalu dia berhenti. Dan dia lihat aku.”
Aku masih ingat. Bagaimana ia menurunkan kameranya, seperti seseorang yang baru saja ditampar. Bagaimana wajahnya pucat dan berkeringat, padahal hari itu tidak terlalu panas. Bagaimana ia menatapku, bukan seperti orang menatap anak panti yang kasihan, tapi seperti orang yang menemukan sesuatu yang salah di dunia dan marah karenanya.
Dan aku ingat apa yang ia katakan.
Satu kalimat. Hari itu. Sebelum ia mengangkat kameranya lagi.
Kalimat yang ia lupakan. Kalimat yang aku tidak pernah lupakan.
Aku tidak menceritakan kalimat itu. Belum.
Satu hal lagi belum, kataku pada diriku sendiri. Belum waktunya.
“Dia motret aku,” kataku saja. “Lama. Berkali-kali. Aku nggak ngerti kenapa. Aku pikir dia aneh. Tapi dia nggak berhenti. Dan waktu dia akhirnya pergi, dia noleh ke belakang. Dua kali.”
“Aku noleh?”
“Dua kali. Di gerbang. Kamu noleh, terus jalan, terus noleh lagi.” Aku tersenyum. “Belum pernah ada yang noleh ke aku dua kali.”
Evan diam lama sekali.
Lalu, pelan, tangannya bergerak. Tangan kirinya, yang masih ada plester tipis di telapaknya. Tangannya menemukan tanganku di atas anak tangga yang retak, dan menggenggamnya.
Tidak erat. Hanya menggenggam. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku, hangat dan sedikit kasar, dengan bekas luka yang masih baru di bawah plester.
Aku tidak bergerak. Aku tidak berani bernapas.
“Mika,” katanya.
“Hm.”
“Aku masih takut.”
“Aku tahu.”
“Aku takut kamu kecewa. Aku takut suatu hari kamu sadar aku bukan dia, dan kamu pelan-pelan...” Ia berhenti. Rahangnya mengeras. “Aku takut lihat itu lagi.”
Aku menatap tangan kami di atas anak tangga ketiga. Tangannya di atas tanganku. Di tempat yang dulu aku duduk sendirian tujuh tahun.
“Kalau gitu jangan berhenti lihat,” kataku pelan. “Lihat terus. Kamu bakal tahu kalau aku kecewa. Kamu bakal lihat.”
Ia menoleh padaku. Wajahnya dekat. Sangat dekat. Aku bisa melihat bekas luka kecil di dagunya. Bulu matanya yang panjang. Matanya yang menatapku dengan cara yang membuatku ingin menangis lagi.
Aku tahu angkanya sedang naik. Aku bisa merasakannya di tangannya. Denyutnya berdetak di telapak tanganku, cepat, kuat.
Aku tidak bertanya berapa.
Aku hanya membiarkan ia melihat.
Ia menatapku lama sekali. Lalu matanya turun ke dadaku. Lalu ke dadanya sendiri. Lalu kembali ke wajahku, dan ekspresinya berubah. Bukan takut. Bukan kaget.
Bingung.
Seperti seseorang yang baru saja menemukan bahwa angka di timbangan tidak cocok dengan perkiraannya. Seperti sesuatu yang ia lihat lebih besar dari yang seharusnya.
“Kenapa?” bisikku.
“Nggak apa-apa,” katanya. Suaranya aneh. “Cuma... lebih dari yang kukira.”
Aku tidak tahu apa yang ia maksud. Aku tidak bertanya.
Tapi ia tidak melepaskan tanganku.
Kami pulang menjelang asar. Bu Ningsih memeluk kami berdua di gerbang, dengan bolu pandan kedua yang dibungkus kertas minyak di tangan Evan.
“Anak soto,” katanya, menepuk pipi Evan dengan tangan keriputnya. “Jaga Mika nomor tujuh belas. Dia anak paling sabar di panti ini. Saking sabarnya, Ibu kadang pengen marahin dia. Mika, minta! Sekali-sekali minta! Tapi dia nggak pernah minta.”
Evan menatapku.
“Dia juga nggak pernah bilang kalau dia mau sesuatu,” lanjut Bu Ningsih. “Dia cuma... nunggu. Kamu harus perhatiin baik-baik, anak soto. Mika nggak akan bilang. Mika cuma akan nunggu sampai kamu lihat sendiri.”
Aku menunduk. Wajahku panas.
Evan tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, satu kali, serius sekali, seperti sedang menerima perintah dari jenderal.
Di mobil, di perjalanan pulang, kami tidak banyak bicara. Bolu pandan di pangkuanku. Radio memutar lagu lama yang tidak kukenal.
Di lampu merah Jalan Surapati, ponselku bergetar.
Papa: Gimana? Sudah ketemu Bu Ningsih?
Aku: Sudah, Pa. Bu Ningsih titip salam. Katanya Papa harus makan.
Papa: Bu Ningsih selalu galak.
Papa: Evan ikut?
Aku: Ikut.
Papa: Dia sudah tahu?
Aku: Sudah. Soal foto.
Papa: Soal kamu?
Aku menatap pertanyaan itu. Lama.
Aku: Belum, Pa. Aku belum bilang apa-apa.
Papa: Nggak apa-apa. Pelan-pelan.
Papa: Papa sayang kamu, Mika nomor satu.
Aku menyimpan ponsel di pangkuan, di bawah bolu pandan, dan menatap jalanan Bandung yang macet di balik kaca.
Satu lagi. Masih ada satu lagi.
Dan aku tidak tahu kapan aku akan cukup berani untuk membiarkannya tahu itu juga.
“Mika,” kata Evan, di sebelahku, tanpa menoleh dari jalan.
“Hm.”
“Tadi Bu Ningsih bilang kamu nggak pernah minta.”
“Hm.”
“Kamu mau minta sesuatu? Sekarang? Ke aku?”
Aku menoleh padanya. Ia menatap jalan, tangannya di setir, rahangnya tegang. Telinganya merah.
Aku berpikir lama.
“Nanti,” kataku akhirnya. “Kalau aku sudah berani.”
Ia mengangguk pelan.
“Oke,” katanya. “Aku tunggu.”
Dan entah kenapa, mendengar Evan Mahendra mengatakan aku tunggu, laki-laki yang selama ini selalu lari, membuatku harus memalingkan wajah ke jendela dan menggigit bibirku sampai sakit.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun reading
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?