← Gadis Tanpa Benang

Chapter Twelve

Belum Ada yang Menunggu

POV: Evan

Aku punya negatifnya.

Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun, termasuk Ibu. Ketika aku menjual print asli Belum Ada yang Menunggu lima tahun lalu, aku tidak menjual negatifnya. Negatif itu ada di dalam amplop kertas minyak, di dalam kotak sepatu, di laci paling bawah lemari besi di darkroom lantai atas studio. Bersama negatif-negatif lain dari masa SMA yang tidak pernah kucetak dan tidak pernah sanggup kubuang.

Malam setelah pernikahan kelima, setelah aku berdiri di pagar panti dan menatap tahi lalat di bawah mata kiri Mikaela terlalu lama, aku naik ke darkroom untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

Ruangannya kecil, pengap, dan bau. Bau cairan pengembang yang sudah lama mengering. Bau kertas foto yang lembap. Aku menyalakan lampu merah, satu-satunya lampu di ruangan itu, dan dunia berubah jadi warna darah yang tenang.

Aku tidak menaikkan detak jantungku. Aku tidak perlu. Lampu merah darkroom cukup untuk membuat semuanya terasa seperti melihat benang.

Aku menemukan kotak sepatu itu. Menemukan amplop kertas minyaknya. Mengeluarkan selembar film hitam-putih dengan hati-hati, memegangnya di pinggiran supaya sidik jariku tidak menempel.

Lalu aku memasangnya di enlarger dan memperbesar satu bagian saja.

Wajahnya.

Butuh empat jam. Aku mencampur cairan pengembang baru dari bubuk yang hampir kedaluwarsa. Aku membuang tujuh lembar kertas yang gagal: terlalu gelap, terlalu terang, terlalu kabur. Tanganku yang terluka berdenyut di balik plester setiap kali aku mencelupkan kertas ke nampan.

Lembar kedelapan berhasil.

Aku mengangkatnya dari nampan fiksasi dengan penjepit kayu, membiarkan airnya menetes, dan menatapnya di bawah lampu merah.

Wajah seorang anak perempuan tiga belas tahun. Diperbesar sampai hanya mata, hidung, dan pipi yang tersisa. Butir-butir film terlihat jelas seperti pasir. Matanya besar, terlalu besar, menatap ke suatu tempat di luar bingkai.

Dan di bawah mata kirinya, jelas, tidak mungkin salah, tidak mungkin debu atau noda tinta atau cacat cetak:

Sebuah tahi lalat kecil.

Bulat. Gelap. Di tempat yang persis sama.

Aku duduk di lantai darkroom, di bawah lampu merah, dengan kertas foto yang masih basah di tangan, dan menatapnya sampai aku lupa berapa lama.

Jam tanganku bergetar. Aku tidak melihatnya. Aku tahu angkanya tinggi. Tapi di darkroom yang gelap dan merah ini, aku tidak bisa membedakan benang dari cahaya lampu.

Mungkin itu yang terbaik.


Aku tidak tidur malam itu.

Pukul enam pagi, aku mengirim pesan ke Ibu.

Aku: Bu. Masih ingat panti di Cibeunying? Yang dulu Ibu kirimin soto tiap Jumat?
Ibu: Kasih Ibu? Ingat atuh. Kenapa?
Aku: Ibu ingat anak perempuan yang aku foto? Yang menang lomba?
Ibu: Ingat sedikit. Kurus. Suka duduk di tangga. Ibu sering kasih dia kerupuk lebih soalnya dia nggak pernah minta.
Ibu: Kenapa, Van?
Ibu: Kamu ketemu dia?

Aku menatap pertanyaan terakhir itu lama. Lalu mengetik.

Aku: Bu, nanti malam masak soto spesial ya. Mika mau datang.
Ibu: YA ALLAH.
Ibu: IYA.
Ibu: IBU BELANJA SEKARANG.
Ibu: Van kamu belum jawab pertanyaan Ibu.

Aku tidak menjawab.


Warung Soto Bu Ratih ada di gang kecil di belakang Jalan Cihampelas, di antara toko jins dan penjual cireng. Warungnya sederhana: enam meja kayu dengan taplak plastik bermotif kotak-kotak merah, bangku panjang tanpa sandaran, kipas angin yang berputar dengan suara berderit, dan dinding yang ditempeli kalender-kalender lama dari toko bangunan dan kertas bertuliskan SOTO AYAM / SOTO DAGING / ES TEH MANIS / BAYAR DI DEPAN, MAKAN DI BELAKANG, JANGAN KABUR.

Di dinding paling belakang, di atas meja tempat Ibu menyimpan kerupuk, ada satu bingkai foto. Bapak. Hitam-putih. Tersenyum di depan warung yang sama, waktu masih baru, dengan celemek dan sendok sayur di tangan.

Ibu menutup warung lebih awal malam itu. Pukul enam sore, papan bertuliskan TUTUP — ADA ACARA KELUARGA sudah tergantung di pintu.

“Acara keluarga apa, Bu?” tanyaku.

“Acara calon mantu makan soto.”

“Bu.”

“Diam. Bantu Ibu cuci mangkuk.”

Mikaela datang pukul tujuh tepat.

Ia memakai blus putih sederhana dengan lengan digulung sampai siku, celana jins, dan sandal kulit. Rambutnya dikuncir tinggi. Riasannya hampir tidak ada. Hanya lipstik warna mawar yang sama dengan kemarin, dan matanya, yang menatapku begitu ia masuk, sedikit sembab, seperti seseorang yang tidak tidur nyenyak.

Di bawah lampu neon warung yang putih dan tidak mengampuni, ia tetap cantik. Kipas angin berderit menggoyangkan anak-anak rambut di pelipisnya. Ibu menatapnya dari balik panci dengan wajah orang yang sedang menyaksikan matahari terbit.

“Neng Mika! Sini, sini! Duduk di sini, ini meja paling bagus, kakinya nggak goyang!”

“Terima kasih, Bu.” Mikaela tersenyum, lalu menatapku. “Aku bawa dompet.”

“Bagus.”

“Kenapa aku harus bawa dompet?”

“Supaya kamu bisa bayar.”

“Ibumu nggak pernah mau dibayar. Kamu sendiri yang bilang.”

“Makanya.”

Ia mengernyit, bingung. Aku tidak menjelaskan.


Soto spesial Ibu adalah soto daging dengan kuah santan kuning yang kental, irisan daging sapi yang direbus empat jam sampai empuk, kentang goreng tipis, emping, dan perasan jeruk nipis yang banyak. Ibu menyajikannya dalam mangkuk besar bergambar ayam jago, mangkuk yang biasanya hanya keluar di hari Lebaran.

“Ini mangkuk khusus,” kata Ibu, meletakkannya di depan Mikaela dengan dua tangan, seperti menyerahkan pusaka. “Dulu Bapaknya Evan yang beli. Di Pasar Baru. Tahun sembilan puluh tiga. Cuma ada tiga. Satu sudah pecah dilempar Evan waktu umur lima tahun.”

“Aku nggak lempar, Bu. Jatuh.”

“Kamu lempar ke kucing.”

“Kucingnya yang mulai.”

Mikaela tertawa. Lalu ia mencicipi kuahnya, dan matanya terpejam.

“Bu,” katanya pelan. “Ini enak sekali.”

Ibu berdiri di samping meja dengan tangan di dada, mata berkaca-kaca, seperti baru menerima penghargaan.

“Neng suka?”

“Suka banget, Bu.”

“Tambah lagi nanti, ya. Ibu masak dua panci. Satu buat Neng, satu buat Evan sama Ibu. Kalau Evan mau nambah, dia ambil punya dia sendiri.”

“Bu, aku anak Ibu.”

“Neng Mika tamu. Tamu lebih penting.”

Kami makan. Ibu bercerita tentang warung. Tentang Bapak, yang membuka warung ini tahun delapan puluh sembilan dengan modal pinjaman dari koperasi dan resep soto dari neneknya di Garut. Tentang aku waktu kecil, yang suka bersembunyi di bawah meja warung dan menggigit kaki pelanggan. Tentang tetangga sebelah yang jualan cireng dan selalu mencuri resep sambal Ibu.

“Terus waktu SMA,” kata Ibu, menyendokkan tambahan daging ke mangkuk Mikaela tanpa diminta, “Evan ini disuruh antar soto tiap Jumat ke panti di Cibeunying. Ibu nggak sanggup lagi naik-turun angkot bawa panci. Jadi Evan yang bawa. Pakai motor Bapaknya.”

Sendok Mikaela berhenti di udara.

Aku melihatnya. Gerakan kecil, sangat kecil. Sendok yang berhenti satu detik, lalu bergerak lagi ke mulutnya, terlalu cepat.

Ibu tidak menyadarinya. “Ada anak di sana,” lanjutnya, “Ibu ingat banget. Kurus. Suka duduk di tangga sendirian. Nggak pernah ikut rebutan soto sama anak-anak lain. Nunggu dikasih. Jadi Ibu selalu sisihin satu mangkuk buat dia, sama kerupuk dua. Biar dia nggak usah rebutan.”

Mikaela meletakkan sendoknya.

“Terus anak itu dipotret Evan,” lanjut Ibu, dengan bangga. “Fotonya menang lomba se-Indonesia! Masuk koran! Terus kata Bu Ningsih, pengasuhnya, anak itu diadopsi. Ibu seneng banget dengernya. Ibu sampai syukuran kecil-kecilan di warung.”

Mikaela menunduk. Menatap mangkuk soto bergambar ayam jago di depannya.

Bahunya bergetar. Sedikit sekali.

“Neng? Neng kenapa? Kepedesan? Ibu nggak kasih sambal...”

“Nggak, Bu.” Suara Mikaela serak. “Sotonya... enak banget. Bikin pengen nangis.”

“Aduh, Neng. Sini, sini, Ibu ambilin air.”

Ibu bergegas ke dapur di belakang. Kipas angin berderit. Di jalan gang, seorang penjual cireng lewat dengan gerobak yang rodanya berdecit.

Aku menatap Mikaela di seberang meja. Ia masih menunduk. Ia tidak menatapku.

Aku tidak berkata apa-apa. Belum.


Setelah makan, Mikaela berdiri dan berjalan ke meja kasir di depan warung. Meja kayu kecil dengan kaleng biskuit tua tempat Ibu menyimpan uang kembalian, kalkulator yang angkanya sudah pudar, dan stiker TERIMA KASIH, DATANG LAGI yang tertempel miring.

“Bu, aku bayar ya.”

“Nggak! Nggak usah! Neng tamu!”

“Bu, aku makan dua mangkuk.”

“Mangkuk kedua Ibu yang maksa!”

“Tetap harus bayar, Bu. Aku nggak enak.”

Mikaela membuka tasnya, mengeluarkan dompet kulit berwarna cokelat tua, dan membukanya. Ibu, yang bertubuh kecil tapi bertenaga seperti kuli angkut di Pasar Kosambi, langsung meraih tangan Mikaela untuk menutup dompet itu.

“Nggak usah, Neng!”

“Bu, sedikit aja!”

“Ibu bilang nggak!”

Tarik-menarik kecil. Dompet di tengah. Ibu menarik tangan Mikaela. Mikaela menarik dompetnya. Dompet itu terbuka lebar. Kartu-kartu tergelincir dari slotnya.

Dan dompet itu jatuh.

Ke lantai semen warung. Terbuka. Isinya berhamburan. Kartu KTP. Kartu kredit. Kartu nama krem berhuruf emas. Struk belanja. Uang kertas dua puluh ribuan.

Dan selembar kertas koran yang dilipat empat, yang terlepas dari balik foto KTP dan meluncur di lantai sampai berhenti tepat di ujung sepatuku.

Aku berjongkok. Memungutnya.

Kertas itu sangat lunak. Lebih mirip kain daripada kertas, dengan lipatan yang sudah hampir putus di bagian tengah. Pinggirannya menguning. Tintanya pudar.

Aku tahu. Aku sudah tahu sejak darkroom. Aku sudah tahu sejak pagar panti. Mungkin aku sudah tahu sejak benang setebal tali kapal di ballroom Lembang, dan hanya terlalu takut untuk mengakuinya.

Tapi aku membukanya juga. Pelan. Satu lipatan. Dua. Tiga.

Halaman koran yang sudah dipotong rapi dengan gunting. Bagian atasnya judul berita: PELAJAR BANDUNG JUARAI LOMBA FOTO NASIONAL. Di bawahnya, foto hitam-putih yang dicetak dengan tinta koran yang kasar dan sedikit buram.

Seorang anak perempuan di undakan tangga semen. Memeluk lutut. Menatap gerbang.

Dan di bawah foto itu, dalam huruf kecil yang sudah hampir hilang:

“Belum Ada yang Menunggu.” Foto: Evan Mahendra, 17, SMAN 3 Bandung.

Warung itu sunyi. Ibu berhenti di tengah gerakan memungut kartu-kartu dari lantai. Kipas angin berderit.

Aku mendongak.

Mikaela berdiri di depan meja kasir, dengan tangan kosong yang masih terangkat setengah, seperti baru saja melepaskan sesuatu. Ia menatapku. Matanya tidak terkejut. Tidak takut. Tidak malu.

Matanya basah. Dan tenang. Seperti seseorang yang sudah lama sekali berdiri di depan pintu, mendengar langkah kaki akhirnya mendekat dari dalam.

Ia tersenyum. Senyum yang kecil, gemetar, dan lebih tulus dari semua senyum yang pernah ia berikan padaku.

“Akhirnya,” katanya pelan, “kamu lihat.”


Ibu yang pertama bergerak.

Ia menatap guntingan koran di tanganku. Lalu menatap Mikaela. Lalu menatap guntingan koran lagi. Lalu menatap Mikaela lagi, lebih lama, dengan mata yang menyipit, mencari sesuatu di wajah perempuan cantik berumur dua puluh lima tahun di depannya.

Mencari anak kurus berumur tiga belas tahun yang duduk sendirian di tangga.

“Ya Allah,” bisik Ibu. Tangannya naik ke mulut. “Ya Allah, ya Allah. Neng...”

“Halo, Bu,” kata Mikaela pelan. Suaranya pecah di tengah. “Terima kasih kerupuknya. Yang dua. Dulu.”

Ibu menangis.

Bukan menangis pelan. Menangis seperti ibu-ibu Sunda menangis di pemakaman dan di pernikahan anak: keras, basah, dengan seluruh badan. Ia meninggalkan kartu-kartu di lantai, berjalan memutari meja kasir, dan memeluk Mikaela begitu erat sampai Mikaela terhuyung ke belakang.

“Neng! Ya Allah, Neng! Ibu kira Neng di mana! Ibu doain Neng tiap Jumat! Ibu nanya terus ke Bu Ningsih, katanya Neng ke luar negeri, Ibu nggak tahu ke mana!”

“Singapura, Bu.”

“SINGAPURA!” Ibu melepaskan pelukannya, memegang wajah Mikaela dengan dua tangan, menatapnya dari dekat. “Ya Allah, sudah segede ini. Sudah cantik begini. Dulu kurus kayak lidi! Rambutnya dipotong sendiri pakai gunting dapur!”

“Bu...”

“Ibu inget! Bu Ningsih ngomel-ngomel! Katanya poninya miring kayak dipotong kambing!”

Mikaela tertawa dan menangis bersamaan. Ibu menangis dan tertawa bersamaan. Mereka berpelukan lagi di depan meja kasir, di antara kartu-kartu dan uang dua puluh ribuan yang berserakan di lantai semen, di bawah lampu neon dan kipas angin yang berderit.

Dan aku berdiri di sana dengan guntingan koran di tangan, menatap mereka, tidak bisa bergerak.


Ibu akhirnya, dengan kebijaksanaan yang jarang ia tunjukkan, mengusir kami keluar.

“Kalian ngobrol di luar,” katanya, menyeka matanya dengan ujung kerudung. “Ibu mau beres-beres. Ibu juga mau nangis sendirian. Nggak enak nangis ditonton anak.”

Gang di depan warung sudah sepi. Penjual cireng sudah pulang. Lampu jalan yang kuning menyorot aspal yang retak-retak dan genangan air bekas hujan sore. Dari kejauhan, suara klakson dari Jalan Cihampelas terdengar seperti dengung lebah.

Kami berdiri berhadapan di bawah lampu jalan. Aku masih memegang guntingan koran itu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya.

“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyaku akhirnya.

Mikaela memeluk dirinya sendiri. Bukan karena dingin.

“Karena aku mau kamu lihat sendiri.”

“Kamu bisa bilang dari hari pertama. Hai, aku anak di fotomu. Selesai.”

“Lalu apa?” Ia menatapku. “Kamu akan lihat aku dan lihat anak tiga belas tahun yang kasihan. Kamu akan merasa harus baik sama aku. Harus jaga aku. Harus bertanggung jawab.” Suaranya bergetar. “Aku nggak mau itu, Evan. Aku nggak datang supaya kamu kasihan.”

“Lalu kamu datang supaya apa?”

Ia diam. Bibirnya terbuka. Tertutup. Terbuka lagi.

Aku melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang besar, berat, sesuatu yang sudah ia bawa selama bertahun-tahun dan hampir, hampir sekali, keluar.

Lalu ia menunduk.

“Supaya kamu lihat,” katanya pelan. “Itu aja.”

Aku menatapnya. Perempuan cantik di bawah lampu jalan Cihampelas, dengan blus putih dan mata sembab. Perempuan yang mengatur empat ratus tamu dengan satu telepon. Yang memegang nadiku di depan semua orang. Yang menunggu di luar toilet. Yang membalut tanganku dengan jari gemetar.

Anak perempuan di undakan tangga.

Aku sudah biasa nunggu.

Aku sudah menunggu terlalu lama untuk ditolak.

Dan benang setebal tali kapal. Yang tumbuh selama... berapa lama? Dua belas tahun?

Aku mengerti sekarang. Benang itu bukan keajaiban. Bukan cinta pada pandangan pertama. Bukan kesalahan.

Benang itu sudah ada sejak lama. Sejak seorang anak SMA dengan kamera pinjaman sekolah memotret anak perempuan yang tidak punya siapa-siapa. Dan anak perempuan itu menyimpan guntingan koran di dompetnya selama dua belas tahun, sampai kertasnya berubah jadi kain.

Dan sesuatu yang dingin merayap di dadaku.

Karena yang ia cintai selama dua belas tahun itu bukan aku.

Yang ia cintai adalah anak laki-laki tujuh belas tahun dengan kamera. Anak laki-laki yang belum pernah patah hati. Yang belum pernah melihat benang pacarnya menipis setiap pagi. Yang belum pernah jual foto terbaiknya untuk bayar kontrakan. Yang belum pernah bersembunyi di toilet dari perempuan cantik yang membawakan kopi.

Anak laki-laki itu sudah tidak ada.

Yang tersisa cuma aku.

“Mika,” kataku pelan.

Ia mendongak.

Aku mengulurkan tangan dan memberikan guntingan koran itu kepadanya. Ia menerimanya dengan dua tangan, hati-hati, seperti menerima sesuatu yang bisa remuk.

“Laki-laki di foto ini,” kataku, “anak tujuh belas tahun yang motret kamu...”

“Evan.”

“...dia udah nggak ada.”

Mikaela menatapku. Matanya melebar sedikit.

“Aku bukan dia lagi,” kataku. “Aku nggak tahu kamu nunggu apa selama dua belas tahun. Tapi apa pun itu, aku takut aku bukan orang itu.”

Lampu jalan berkedip sekali. Dari dalam warung, terdengar suara mangkuk-mangkuk yang ditumpuk Ibu, dan suara isakan yang ditahan.

Mikaela memeluk guntingan koran itu ke dadanya. Ia tidak menjawab. Ia tidak membantah.

Ia hanya menatapku, dengan mata yang basah dan bibir yang gemetar, seperti seseorang yang ingin mengatakan seratus hal sekaligus dan tidak bisa memilih satu pun.

Jam tanganku bergetar.

Aku menunduk. Seratus dua puluh dua.

Gang Cihampelas berubah warna.

Dan benang itu ada di sana. Seperti selalu. Setebal tali kapal. Menjulur dari dada Mikaela, melewati guntingan koran yang ia peluk, ke dadaku. Merah tua, berdenyut.

Tidak menipis sedikit pun setelah aku bilang aku bukan dia lagi.

Malah sebaliknya.

Aku menyipitkan mata. Aku tidak yakin. Aku tidak pernah mengukur benang dengan penggaris.

Tapi benang itu terlihat, di bawah lampu jalan yang kuning, sedikit lebih tebal dari tadi.

Seolah perempuan di ujungnya baru saja mendengar laki-laki di depannya mengakui ketakutannya, dan memutuskan untuk mencintainya sedikit lebih banyak karena itu.

Aku tidak mengerti.

Aku tidak mengerti sama sekali.