Chapter Nineteen
Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
POV: Evan
Pertama kali terjadi di tengah sesi foto keluarga, dan aku tidak memikirkannya.
Pernikahan ketujuh digelar di sebuah resort di Ciater, di lereng gunung dengan udara dingin yang berbau belerang dari pemandian air panas di dekatnya. Pengantinnya, Gilang dan Sekar, adalah klien yang dulu meminta bunga lily dan dibujuk Lulu untuk menggantinya dengan baby’s breath. Mereka tidak menyesal. Pelaminan terbuka mereka di tepi kolam renang, dengan rangka besi putih yang dililit baby’s breath dan daun eucalyptus, terlihat seperti awan yang turun ke bumi dan memutuskan untuk tinggal.
“Bersin tamu hari ini: nol,” lapor Lulu dengan nada puas, mencentang sesuatu di clipboard. “Dibandingkan rata-rata pernikahan dengan bunga lily: tiga sampai tujuh bersin per jam.”
“Kamu menghitung bersin tamu?”
“Saya menghitung semuanya, Mas.”
Dodo, di sebelahnya, memegang tripod dengan satu tangan dan sapu tangan katun putih berinisial L di tangan lain. Ia tidak pernah mengembalikan sapu tangan itu sejak syukuran. Ia membawanya ke mana-mana. Aku pernah melihatnya menyetrika sapu tangan itu di studio dengan kehati-hatian seorang ahli bom.
“Mbak Lulu,” kata Dodo. “Saya mau kembalikan sapu tangannya.”
“Simpan saja, Mas.”
“Tapi ini punya Mbak.”
“Saya punya dua belas.” Lulu tidak menoleh dari clipboard. “Yang itu sudah nggak masuk hitungan.”
Dodo menatap sapu tangan itu. Lalu menatap Lulu. Lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca, dan bibirnya membentuk kata tanpa suara: Bang. Dia bilang nggak masuk hitungan. Itu artinya punya saya.
Aku menepuk bahunya dan berjalan ke arah keluarga pengantin yang sudah berbaris di depan pelaminan.
Tiga baris. Orang tua di tengah. Anak-anak di depan. Kakek-nenek di kursi. Seperti biasa. Aku mengangkat kamera, membidik, mengatur fokus.
Dan jantungku melompat.
Tidak ada pemicu. Tidak ada Mikaela yang berbisik di telingaku. Tidak ada tangga. Tidak ada sambal. Tidak ada kopi. Aku sedang berdiri diam di rumput, membidik dua puluh tiga anggota keluarga yang tersenyum ke kamera, dan jantungku tiba-tiba melompat seperti seseorang menendangnya dari dalam.
Seratus sepuluh. Seratus dua puluh. Seratus tiga puluh satu.
Dalam tiga detik.
Dunia berubah warna. Benang-benang bermunculan di antara dua puluh tiga anggota keluarga, dari kakek ke nenek, dari ayah ke ibu, dari ibu ke anak laki-laki, dari pengantin ke pengantin.
Dan dadaku terasa aneh. Bukan sakit. Lebih seperti ada burung kecil yang terperangkap di rusukku dan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan panik. Napasku pendek. Ada sesuatu yang dingin di ujung jari-jariku.
Aku menurunkan kamera.
“Mas?” Ayah pengantin perempuan menatapku. “Sudah, Mas? Kita sudah senyum dari tadi.”
“Sebentar, Pak. Cek cahaya.”
Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan tujuh. Buang delapan.
Jantungku turun. Seratus dua puluh. Seratus lima. Sembilan puluh dua. Sama cepatnya seperti saat naik.
Benang-benang memudar.
Burung kecil di rusukku diam.
Aku mengangkat kamera lagi dan memotret. Klik. Klik. Klik. Dua puluh tiga anggota keluarga tersenyum ke kamera, dan tidak ada satu pun yang tahu bahwa fotografernya baru saja merasa seperti akan pingsan selama sepuluh detik tanpa alasan sama sekali.
Kecapekan, pikirku. Kurang tidur.
Aku memang kurang tidur. Sejak malam darkroom, aku hampir tidak tidur. Aku bahagia di siang hari dan ketakutan di malam hari, dan keduanya menghabiskan energi yang sama.
Aku tidak bilang apa-apa ke siapa pun.
Ponselku tidak bergetar. Fikri tidak mengirim pesan. Mungkin ia sedang jaga IGD. Mungkin ia sedang sibuk.
Mungkin ia sedang di rumah, di Antapani, menunggu istrinya pulang dari deadline.
Kedua kalinya terjadi satu jam kemudian, di dekat pintu dapur resort, ketika aku sedang mengganti lensa.
Lebih lama. Dua puluh detik. Burung kecil itu mengepak lebih keras. Aku harus bersandar ke dinding.
Ketiga kalinya terjadi saat makan siang. Aku sedang duduk di meja kru, di sebelah Dodo yang sedang bercerita pada Lulu tentang teori bahwa Ciater sebenarnya gunung berapi alien. Aku sedang menyendok nasi. Jantungku melompat lagi. Sendok di tanganku bergetar dan nasi jatuh ke taplak.
“Bang?” Dodo berhenti di tengah teori. “Abang kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Abang pucat.”
“Dingin. Ciater dingin.”
Lulu menatapku dari seberang meja. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia mengeluarkan clipboard-nya dan menulis sesuatu. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ia memutar clipboard itu ke arahku.
Mas Evan. Pucat. Tangan gemetar. 12.47. Ketiga kali hari ini (saya lihat dua kali sebelumnya). Saya beri tahu Bu Mika?
Aku menatap tulisan itu. Lalu menatap Lulu.
Aku menggeleng pelan.
Lulu menatapku lama. Lalu mengambil kembali clipboard-nya, mencoret pertanyaan di ujung tulisan itu, dan menulis sesuatu di bawahnya. Aku tidak bisa membacanya dari sini.
“Mas harus ke dokter,” katanya pelan, dengan suara yang hanya bisa didengar olehku.
“Aku punya sahabat kardiolog.”
“Itu bukan jawaban, Mas. Itu fakta.”
Ia benar. Aku tahu ia benar.
Aku tidak menjawab.
Mikaela sibuk sepanjang hari. Pernikahan di resort selalu lebih rumit: lebih banyak vendor, lebih banyak tamu yang menginap, lebih banyak hal yang bisa salah. Ia bergerak dari satu ujung resort ke ujung lain dengan ponsel di telinga dan tablet di tangan, dengan gaun panjang berwarna biru langit yang berkibar-kibar ditiup angin gunung, dengan rambut yang digelung rendah dan anting mutiara yang sama.
Kami hanya sempat bicara dua kali. Sekali ketika ia membawakan kopi Gayo dan menciumku di pipi di balik pilar, cepat sekali, sebelum ada yang melihat. Sekali lagi ketika ia berdiri di sebelahku saat akad, dan jari kelingkingnya mencari jari kelingkingku di antara kami, dan mengaitkannya.
“Kamu pucat,” bisiknya waktu itu.
“Ciater dingin.”
“Pakai jaketmu.”
“Jaketku dicuri.”
“Jaket barumu, Evan.”
Aku tidak bilang apa-apa tentang burung kecil di rusukku.
Resepsi berakhir pukul empat sore.
Tamu-tamu mulai pulang. Tim Kaela Wedding membongkar dekorasi. Dodo dan Lulu membereskan peralatan foto di kamar kru, dengan Dodo yang terus bicara dan Lulu yang sesekali menjawab dengan satu kata.
Aku berjalan ke parkiran untuk memasukkan tas lensa ke mobil.
Parkiran resort ada di bawah, di ujung jalan setapak berbatu yang menurun dari area kolam renang. Dikelilingi pohon-pohon pinus yang tinggi. Udaranya dingin dan basah, berbau belerang dan daun cemara.
Aku sedang di tengah jalan setapak ketika jantungku melompat lagi.
Keempat kalinya hari ini. Lebih keras dari sebelumnya. Seratus dua puluh dalam dua detik. Seratus tiga puluh lima dalam lima detik.
Aku berhenti. Bersandar ke batang pohon pinus terdekat. Menarik napas. Empat hitungan. Tahan tujuh.
Tidak berhasil. Jantungku tidak mau turun. Seratus tiga puluh delapan. Burung kecil di rusukku mengepak dengan panik, dan dunia di sekitarku merah, penuh benang dari tamu-tamu yang sedang berjalan ke parkiran.
Dan di parkiran di bawah, aku melihat Mikaela.
Ia berdiri di samping mobilnya, di sudut parkiran yang paling dekat dengan gerbang. Sendirian. Ia tidak tahu aku di sini. Ia tidak menoleh ke arah jalan setapak.
Ia sedang menunggu seseorang.
Aku tahu cara orang menunggu. Aku sudah memotret ribuan orang yang menunggu. Pengantin perempuan yang menunggu di balik pintu. Ibu yang menunggu anaknya pulang dari luar kota. Anak perempuan di undakan tangga semen yang menunggu gerbang terbuka.
Mikaela sedang menunggu dengan cara yang sama. Berdiri dengan tangan bersedekap, menatap gerbang parkiran, dengan berat badan yang berpindah-pindah dari kaki kiri ke kaki kanan.
Lalu terdengar suara motor.
Motor tua. Suaranya kasar dan batuk-batuk, seperti mesin yang sudah bekerja terlalu lama. Motor itu masuk dari gerbang parkiran: motor bebek berwarna hijau tua yang catnya sudah pudar, dengan knalpot yang mengeluarkan asap abu-abu tipis.
Pengendaranya laki-laki.
Besar. Itu yang pertama kulihat. Bahunya lebar, lengannya tebal, dan ia memakai jaket kulit hitam yang sudah retak-retak di bagian siku. Ia memarkir motornya di sebelah mobil Mikaela, melepas helmnya, dan aku melihat wajahnya.
Berewok. Rambutnya hitam, sedikit gondrong, diikat asal di belakang kepala. Kulitnya gelap terbakar matahari. Umurnya mungkin awal tiga puluhan.
Ia turun dari motor. Mengambil sesuatu dari kantong kresek yang digantung di setang. Sebuah kotak kardus kecil, diikat dengan tali rafia.
Ia menyerahkannya pada Mikaela.
Mikaela menerimanya dengan dua tangan.
Dan tersenyum.
Senyum yang belum pernah kulihat. Bukan senyum menggoda. Bukan senyum rumah. Bukan senyum yang ia berikan padaku di bianglala atau di darkroom. Senyum yang lain. Senyum yang kecil, malu, gugup. Senyum seseorang yang tidak tahu apakah ia boleh tersenyum sebesar yang ia mau.
Laki-laki itu menggaruk tengkuknya. Ia mengatakan sesuatu. Aku tidak bisa mendengar dari sini, tapi aku melihat bibirnya bergerak, dan aku melihat Mikaela tertawa kecil, dan aku melihat tangannya, tangan Mikaela, naik untuk menyeka sesuatu di sudut matanya.
Lalu laki-laki itu mengulurkan tangannya yang besar. Ragu-ragu. Menepuk kepala Mikaela, sekali, dua kali, dengan canggung, seperti menepuk kepala kucing yang tidak ia yakin akan mencakarnya.
Mikaela tidak bergerak. Ia membiarkannya.
Detak jantungku masih seratus tiga puluh delapan.
Dunia masih merah.
Dan aku melihatnya.
Dari dada Mikaela, benang setebal tali kapal menjulur ke arah jalan setapak. Ke arahku, di balik pohon pinus. Seperti biasa. Merah tua. Berdenyut.
Dan dari dada Mikaela, sebuah benang lain.
Baru.
Tipis. Setipis helai rambut. Merah, sangat merah, merah terang yang berbeda dari merah tua benangnya ke arahku. Menjulur dari dadanya ke dada laki-laki berewok itu. Jarak mereka hanya satu langkah, jadi benang itu sangat pendek. Tapi ada.
Dan dari dada laki-laki itu, sebuah benang yang sama tipisnya, sama barunya, kembali ke Mikaela.
Dua benang. Saling. Baru.
Aku menyipitkan mata. Mencoba melihat getarannya. Benang asmara bergetar. Benang keluarga tenang. Dua belas tahun aku bisa membedakannya dengan mudah, seperti membedakan tawa dari tangis.
Tapi benang itu terlalu tipis.
Benang setipis helai rambut tidak punya cukup ketebalan untuk menunjukkan getarannya. Aku sudah tahu itu. Benang yang baru tumbuh selalu terlihat sama. Merah. Tipis. Ambigu. Seperti tunas yang baru keluar dari tanah, yang belum bisa dibedakan apakah akan tumbuh jadi pohon mangga atau rumput liar.
Aku tidak bisa membedakannya.
Aku menatap benang itu. Lalu menatap benang Mikaela ke arahku, yang setebal tali kapal. Lalu menatap benang baru itu lagi.
Dan di kepalaku, seperti rekaman yang diputar ulang tanpa izin, aku melihat sesuatu yang lain.
Benang Sasha. Empat bulan sebelum lemari kosong. Pertama kali aku melihat benang baru tumbuh dari dadanya ke arah Bram. Setipis helai rambut. Merah. Ambigu. Waktu itu aku bilang pada diriku sendiri, mungkin itu cuma benang pertemanan. Mungkin itu cuma benang rekan kerja. Mungkin aku salah lihat.
Benang Nadia. Tiga minggu lalu. Di taman kecil penuh tanaman cabai. Benang ke Arman yang sudah setebal tali sepatu. Yang pasti juga dimulai dari setipis helai rambut, suatu hari, di kantor arsitektur di Jalan Riau, tanpa ada yang melihat.
Benang baru.
Seperti Sasha.
Seperti Nadia.
Jantungku melompat lagi. Seratus empat puluh. Seratus empat puluh tiga.
Burung kecil di rusukku mengepak dengan panik, dan dadaku sesak, dan ujung-ujung jariku dingin, dan aku harus mencengkeram batang pohon pinus dengan kedua tangan supaya tidak jatuh.
Di parkiran di bawah, laki-laki berewok itu memakai helmnya lagi. Menyalakan motor tuanya yang batuk-batuk. Mikaela berdiri di sebelahnya, memeluk kotak kardus kecil dengan tali rafia itu ke dadanya.
Laki-laki itu mengatakan sesuatu lagi.
Dan Mikaela mengucapkan sesuatu balik. Satu kata. Pendek. Bibirnya bergerak pelan.
Aku tidak bisa mendengarnya.
Aku hanya bisa melihat.
Motor itu pergi. Asap abu-abu tipis dari knalpotnya melayang di antara pohon-pohon pinus dan menghilang.
Mikaela berdiri di parkiran, menatap gerbang tempat motor itu menghilang, dengan kotak kardus kecil di pelukannya.
Benang baru itu masih ada. Tipis. Menjulur dari dadanya ke arah gerbang. Ke arah jalan. Ke arah mana pun laki-laki itu pergi.
Dan benang setebal tali kapal ke arahku masih ada juga.
Dua benang dari satu dada. Ke dua arah yang berbeda.
Aku sudah melihat ini sebelumnya. Aku tahu bagaimana cerita ini berakhir.
Aku menunggu sampai detak jantungku turun. Sampai benang-benang memudar. Sampai burung kecil di rusukku diam.
Lima menit. Lama sekali.
Lalu aku berjalan turun ke parkiran.
Mikaela sedang memasukkan kotak kardus itu ke kursi belakang mobilnya. Dengan hati-hati. Seperti memasukkan sesuatu yang bisa pecah. Ia mendengar langkahku di kerikil dan menoleh.
Wajahnya berubah. Sepersekian detik. Dari lembut ke kaget. Dari kaget ke... sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlihat, sangat sedikit, seperti rasa bersalah.
Lalu senyumnya kembali. Senyum yang biasa.
“Evan! Kamu dari mana?”
“Dari atas.” Suaraku keluar datar. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuatnya terdengar lain. “Mau taruh tas.”
“Oh. Oke.” Ia menutup pintu belakang mobilnya. Terlalu cepat. “Kamu masih pucat. Kamu udah makan?”
“Udah.”
Aku menatap pintu belakang mobilnya. Menatap kotak kardus kecil di balik kaca, dengan tali rafia yang diikat simpul mati.
“Tadi siapa?” tanyaku.
Pertanyaan itu keluar sebelum aku bisa menghentikannya.
Mikaela diam. Satu detik. Dua detik.
Terlalu lama.
“Teman,” katanya akhirnya.
“Teman?”
“Teman lama.” Ia tersenyum. Senyum yang sedikit terlalu lebar. Senyum yang tidak sampai ke matanya. “Dia kebetulan lewat Ciater. Nganterin titipan.”
“Titipan apa?”
“Bolu.”
“Bolu?”
“Bolu pisang.” Ia menatapku, dan aku melihat sesuatu bergerak di balik matanya. Sesuatu yang ingin keluar dan ditahan dengan sangat keras. “Evan, nanti aku cerita, ya. Nggak sekarang. Ada... ada beberapa hal yang harus aku beresin dulu. Aku janji aku cerita.”
Nanti aku cerita.
Aku janji.
Kamu terlalu curigaan, Van. Aku nggak ke mana-mana.
Aku menatapnya. Perempuan di depanku, dengan gaun biru langit dan rambut yang mulai lepas dari gelungannya dan pipi yang merah karena udara dingin Ciater. Perempuan yang menciumku di bianglala. Yang mencuri kemejaku. Yang menulis aku udah nunggu kamu nanya dari dulu di balik foto. Yang punya benang setebal tali kapal ke dadaku, yang tidak pernah menipis sejak hari pertama.
Dan yang sekarang punya benang baru. Setipis rambut. Ke laki-laki lain. Yang membawakannya bolu pisang dan menepuk kepalanya dengan canggung di parkiran, dan membuatnya tersenyum dengan senyum yang belum pernah ia berikan padaku.
Nanti aku cerita.
Aku tahu kalimat itu. Aku sudah mendengarnya. Dalam versi yang berbeda, dengan suara yang berbeda, empat bulan setiap pagi.
“Oke,” kataku.
Hanya itu.
Mikaela menatapku. Ia meraih tanganku. Jari-jarinya dingin.
“Evan. Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kayak...”
“Aku capek, Mika. Ciater dingin. Aku pulang duluan, ya.”
Aku melepaskan tangannya. Pelan. Tidak kasar. Tapi aku melepaskannya.
Aku berjalan ke mobilku di ujung parkiran yang lain. Memasukkan tas lensa ke bagasi. Masuk ke kursi pengemudi. Menyalakan mesin.
Di kaca spion, aku melihatnya berdiri di samping mobilnya, menatapku. Tangannya masih terangkat sedikit, di tempat aku melepaskannya.
Aku menyetir pergi.
Di jalan berkelok-kelok menuruni gunung dari Ciater ke Subang, di antara kebun teh yang mulai gelap dan kabut yang turun pelan-pelan, aku tidak menyalakan radio. Aku tidak menelepon siapa pun. Aku hanya menyetir dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, dengan tangan yang mencengkeram setir terlalu keras, dan jantung yang terus-menerus melompat-lompat tanpa alasan.
Seratus dua puluh dua di tikungan pertama. Seratus tiga puluh di tikungan kelima. Dunia merah. Lalu normal. Lalu merah lagi.
Setiap kali dunia merah, aku menatap dadaku sendiri.
Benangku ke arahnya masih ada. Setebal tali sepatu. Menjulur ke belakang, ke arah gunung, ke arah resort, ke arah perempuan yang berdiri di parkiran dengan kotak bolu pisang di kursi belakang mobilnya.
Bodoh. Benangku sendiri bodoh. Tidak tahu kapan harus berhenti.
Benang baru.
Seperti Sasha.
Seperti Nadia.
Aku menyetir sampai kabut menelan jalan di depanku, dan aku tidak bisa membedakan apakah yang buram itu kabut atau mataku sendiri.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru reading
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?