Chapter Ten
Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
POV: Evan
Pengantin laki-laki pingsan empat menit sebelum akad.
Namanya Bagas. Dua puluh delapan tahun, insinyur sipil, tinggi seratus delapan puluh tujuh senti, berat sembilan puluh dua kilo, dan, menurut pengakuan ibunya setelah kejadian, belum makan apa pun sejak kemarin siang karena takut perutnya kelihatan buncit di beskap.
Ia pingsan dengan cara yang sangat dramatis. Ia sedang berdiri di depan cermin besar di ruang tunggu pengantin pria di lantai dua Masjid Pusdai, merapikan blangkon untuk kesembilan kalinya, ketika lututnya tiba-tiba lemas. Ia jatuh ke belakang seperti pohon yang ditebang, lurus dan pelan, dan kepalanya mendarat tepat di pangkuan Dodo, yang kebetulan sedang duduk di lantai mengganti baterai lampu flash.
Dodo menatap kepala pengantin di pangkuannya. Lalu menatapku.
“Bang,” katanya, dengan suara yang sangat tenang untuk ukuran Dodo. “Kayaknya saya baru dapat bayi.”
Dalam tiga puluh detik, ruang tunggu itu berubah jadi kepanikan berskala nasional.
Ibu Bagas menjerit. Ayah Bagas menelepon seseorang dan berteriak “AMBULANS! AMBULANS!” ke ponsel yang ternyata sedang tersambung ke grup arisan RT. Dua sepupu Bagas berebut mengipasi wajahnya dengan undangan pernikahan. Penghulu, yang sudah menunggu di bawah, naik ke atas, melihat pengantin pria telentang di lantai dengan kepala di pangkuan seorang fotografer berkaos ALIEN BANGUN PIRAMIDA, dan langsung turun lagi tanpa berkata apa-apa.
Dan aku berdiri di tengah ruangan, dengan kamera di tangan, memikirkan satu hal yang sangat tidak profesional.
Detak jantungku seratus empat. Dan naik.
Bukan karena Bagas. Karena kekacauan. Karena teriakan. Karena orang-orang yang berlarian dan suara yang memantul di dinding. Kekacauan selalu membuatku naik.
“Evan.”
Satu suara, tenang, dari pintu.
Mikaela berdiri di sana dengan gaun panjang berwarna hijau zamrud yang dipotong sederhana, lengan panjang, kerudung tipis berwarna senada yang diselipkan longgar di bahu karena venue-nya masjid. Rambutnya digelung rapi di balik kerudung, hanya beberapa helai yang lolos di pelipis. Tidak ada perhiasan selain anting mutiara kecil yang biasa.
Ia tidak terlihat panik sedikit pun. Ia terlihat seperti seseorang yang baru saja masuk ke ruangan yang terbakar dan memutuskan bahwa api itu tidak sopan.
Dalam satu tatapan, ia membaca semuanya: pengantin pingsan, ibu menjerit, ayah salah telepon, sepupu mengipasi dengan undangan, Dodo memangku kepala, dan aku berdiri dengan wajah yang mungkin sudah mulai pucat.
“Lulu,” katanya ke ponselnya. “Teh manis hangat, roti, dan pisang. Ruang tunggu pria. Sekarang. Dan bilang ke penghulu kita mundur lima belas menit.”
Lalu ia memasukkan ponselnya dan menunjuk.
“Ibu, tolong duduk di sini dan pegang tangan Bagas. Bapak, tolong matikan teleponnya dan buka jendela. Kalian berdua...” ia menunjuk dua sepupu, “...berhenti mengipas pakai undangan, itu nggak efektif, pakai buku Yasin yang di meja, kertasnya lebih lebar.”
Semua orang langsung bergerak, seperti pion catur yang tiba-tiba punya pemain.
“Mas Dodo, jangan bergerak. Kepala Bagas tetap di situ, tapi kakinya angkat. Evan.”
Aku menatapnya.
“Bantu aku angkat kakinya. Taruh di atas kursi. Supaya darahnya turun ke kepala.”
Aku meletakkan kamera di meja. Berlutut di sebelahnya. Bersama-sama, kami mengangkat kaki Bagas yang panjang dan berat, dengan selop beludru yang masih terpasang, dan meletakkannya di atas kursi kayu.
“Kamu tahu pertolongan pertama?” tanyaku, setengah berbisik.
“Aku wedding planner. Pengantin pingsan itu masalah bulanan.” Ia membuka kancing beskap Bagas yang paling atas, longgarkan kerahnya. “Kebanyakan karena nggak makan. Sisanya karena takut sama mertua.”
Bagas mengerang. Matanya berkedip pelan.
“Nah,” kata Mikaela lembut, menepuk pipi Bagas dua kali. “Mas Bagas. Halo. Mas pingsan sebentar. Nggak apa-apa. Pengantin perempuannya masih nunggu di bawah. Dia nggak kabur.”
Bagas menatapnya dengan mata berkabut. Lalu menatap Dodo, yang wajahnya ada tepat di atasnya.
“...Ini malaikat?” bisiknya.
“Bukan, Mas,” jawab Dodo dengan penuh kasih. “Ini Dodo.”
Seisi ruangan tertawa. Ibu Bagas tertawa sambil menangis. Bahkan ayah Bagas, yang masih memegang ponsel yang tersambung ke grup arisan, tertawa sampai harus bersandar ke jendela.
Dan aku, berlutut di samping Mikaela dengan tangan masih memegangi pergelangan kaki pengantin yang berselop beludru, merasa detak jantungku pelan-pelan turun.
Bukan karena kekacauan berakhir.
Karena ia ada di sebelahku.
Lulu datang dalam dua menit dengan nampan berisi teh manis hangat, roti tawar, dan tiga buah pisang. Dodo, dengan kepala Bagas masih di pangkuannya, menyuapi pengantin itu roti sedikit demi sedikit seperti menyuapi bayi.
“Pelan-pelan, Mas. Kunyah. Satu, dua, tiga.”
“Mas fotografer,” kata Bagas dengan mulut penuh roti. “Mas fotografer baik banget.”
“Saya asisten fotografer, Mas.”
“Mas asisten fotografer baik banget.”
Lulu berdiri di belakang Dodo, dengan nampan kosong di tangan dan clipboard di ketiak, menatap pemandangan itu dengan wajah datar. Lalu ia mengeluarkan pulpen.
Aku sudah menyerah mencoba tidak melihat clipboard Lulu. Aku melirik.
Mas Dodo, suapin pengantin. Sabar. Lembut. Lalu, dicoret: Lucu. Lalu, ditulis lagi di atas coretan, lebih kecil: Lucu.
Aku membuang muka dan pura-pura tidak melihat apa-apa.
Lalu terjadi hal kedua.
Ibu Bagas, yang masih panik meskipun anaknya sudah sadar, berdiri terlalu cepat dari kursinya dan menyenggol meja kecil di sebelahnya. Meja itu bergoyang. Di atasnya ada gelas-gelas kaca berisi air mineral untuk keluarga, disusun di atas nampan aluminium.
Nampan itu jatuh.
Aku bergerak sebelum berpikir. Tanganku terulur, menangkap nampan itu di udara, tapi terlambat sepersekian detik. Dua gelas jatuh dan pecah di lantai. Gelas ketiga pecah di tanganku. Pecahannya menggores telapak tangan kiriku, dari pangkal ibu jari sampai ke tengah telapak.
Rasanya tidak sakit. Belum. Rasanya hanya hangat, lalu basah.
Aku menatap telapak tanganku. Darah mengalir di garis tangan, merah terang, menetes ke lantai dan bercampur dengan air dari gelas-gelas yang pecah.
“EVAN!”
Mikaela sudah di depanku. Aku tidak tahu kapan ia bergerak. Satu detik ia berlutut di samping Bagas, detik berikutnya ia sudah menggenggam pergelangan tanganku dengan dua tangannya, mengangkat tanganku ke atas, di atas jantung.
“Jangan diturunin,” katanya. Suaranya tidak setenang tadi. “Lulu, kotak P3K. Mobil. Jok belakang.”
“Sudah jalan, Bu.”
“Aku nggak apa-apa,” kataku.
“Diam.”
“Cuma tergores.”
“Kamu berdarah, Evan. Diam.”
Ia menarikku ke kursi di pojok ruangan, jauh dari pecahan kaca. Mendudukkanku. Berlutut di depanku, dengan gaun hijau zamrud yang terhampar di lantai dan kerudung yang melorot dari bahunya, dan memegang tanganku yang berdarah di antara kedua tangannya.
Lulu datang dengan kotak P3K berwarna putih. Mikaela membukanya tanpa melihat, seperti sudah hafal letak setiap barang di dalamnya. Kasa. Antiseptik. Plester. Perban gulung.
Ia membersihkan lukaku dengan kasa yang dibasahi cairan antiseptik.
Kali ini sakitnya datang. Tajam, dingin, membakar. Aku mendesis tanpa sadar.
Mikaela berhenti. Mendongak menatapku.
Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia menunduk dan meniup lukaku.
Pelan. Hati-hati. Seperti ibu yang meniup lutut anaknya yang lecet. Napasnya hangat di telapak tanganku yang terbuka. Ujung bibirnya hampir menyentuh kulitku. Hampir.
Aku tidak bisa bergerak.
Ia meniup lagi. Lalu membersihkan lagi. Lalu meniup lagi. Sampai lukanya bersih, dan perihnya berubah jadi denyut tumpul yang hangat. Lalu ia menempelkan kasa, membalut tanganku dengan perban gulung, melilitnya pelan-pelan dari pangkal ibu jari sampai pergelangan, dengan jari-jari yang bergerak rapi dan tidak ragu.
Tapi jarinya gemetar.
Aku melihatnya. Gemetar kecil, sangat kecil, di ujung jari telunjuk dan jari tengahnya, setiap kali ia menyentuh kulitku. Gemetar yang tidak ada waktu ia menangani pengantin pingsan. Gemetar yang tidak ada waktu ia mengatur empat ratus tamu di ballroom Lembang.
Gemetar itu hanya untuk aku.
Ia selesai membalut. Menyimpul ujung perbannya. Lalu, masih berlutut di depanku, masih memegang tanganku yang terbalut di antara kedua tangannya, ia menggeser jarinya ke pergelangan tanganku.
Ke bawah tali jam tangan. Ke tempat nadi.
Ia menekan dua jarinya di sana. Lalu mendongak.
Matanya basah. Tidak menangis. Tapi basah, dengan cara yang membuat bulu matanya yang panjang terlihat lebih gelap.
“Sekarang berapa?” tanyanya.
Pelan sekali. Hampir berbisik. Dan kali ini tidak ada godaan di suaranya. Tidak ada senyum di sudut bibir. Hanya pertanyaan. Seperti seseorang yang benar-benar ingin tahu apakah jantung orang di depannya masih baik-baik saja.
Aku tidak melihat jam tanganku. Aku tidak perlu.
“Seratus dua puluh enam,” kataku.
Ruangan itu berubah warna.
Benang setebal tali kapal dari dadanya ke dadaku. Seperti biasa. Hangat, berdenyut, tidak berubah sedikit pun meskipun aku sudah menghindarinya tiga hari, bersembunyi di toilet, membalas pesannya dengan satu kata.
Dan benang tipis dari dadaku ke dadanya.
Benang yang lahir di bawah payung di Lembang. Benang yang kuharap, setiap malam selama empat hari terakhir, sudah layu karena tidak disiram.
Benang itu tidak layu.
Benang itu tumbuh.
Sedikit. Sangat sedikit. Dari benang jahit paling halus menjadi benang jahit biasa. Tapi tumbuh. Bergetar lebih kuat dari sebelumnya, seolah tahu bahwa perempuan di ujungnya sedang memegang nadiku dengan jari yang gemetar.
Mikaela menatapku. Lalu menatap tangan kami. Lalu menatapku lagi.
“Kamu bodoh,” katanya pelan. “Kenapa ditangkap? Itu cuma gelas.”
“Refleks.”
“Refleksmu jelek.”
“Kamu juga refleks. Tadi kamu teriak.”
Ia diam. Pipinya memerah sedikit.
“Aku nggak teriak.”
“Kamu teriak ‘Evan’ pakai huruf kapital semua.”
“Itu... itu suara normal.”
“Ibu Bagas sampai berhenti nangis.”
Mikaela menunduk. Menatap tanganku yang terbalut. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik.
“Oke,” katanya. “Mungkin sedikit teriak.”
Akad nikah dimulai tiga puluh lima menit terlambat. Bagas, yang sudah makan dua potong roti, satu pisang, dan segelas teh manis, mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas dengan suara yang bergetar tapi lantang. Pengantin perempuan menangis. Ibu Bagas menangis. Dodo, yang berdiri di belakang dengan kamera kedua, juga menangis, dan kemudian mengaku bahwa ia merasa seperti ayah angkat Bagas.
Aku memotret dengan tangan kiri dibalut perban. Tidak nyaman, tapi bisa. Aku memegang kamera dengan tangan kanan dan menopang lensanya dengan pergelangan tangan kiri.
Setiap kali aku menurunkan kamera, aku menemukan Mikaela menatap tanganku dari seberang ruangan.
Malam itu, setelah semua selesai, ia tidak membiarkanku menyetir pulang.
“Tanganmu,” katanya, di parkiran masjid, sambil mengambil kunci mobil dari tanganku yang sehat. “Aku yang nyetir.”
“Mobilmu?”
“Lulu yang bawa pulang. Sama Dodo.”
Aku menoleh. Di ujung parkiran, Lulu sedang duduk di kursi pengemudi mobil Mikaela dengan wajah datar, dan Dodo sedang memasang sabuk pengaman di kursi penumpang dengan wajah orang yang baru menang undian umrah.
“Mereka...”
“Jangan tanya,” kata Mikaela. “Lulu yang usul. Aku cuma setuju.”
Ia menyetir mobilku ke Dago dengan kecepatan tepat enam puluh kilometer per jam. Aku tidak memintanya. Ia hanya tahu.
Di studio, ia tidak langsung pulang. Ia memeriksa perbanku di bawah lampu ruang depan, membuka sedikit untuk memastikan darahnya sudah berhenti, lalu membalutnya lagi. Lalu ia membuat teh. Di dapurku. Dengan cangkirku. Seperti sudah tinggal di sana bertahun-tahun.
Kami duduk di sofa abu-abu, berdampingan, dengan dua cangkir teh di meja jati dan dinding foto di depan kami. Lampu ruangan hanya satu yang menyala, lampu berdiri di pojok, yang membuat semua foto di dinding terlihat seperti jendela-jendela ke tempat lain.
Lama kami diam.
“Kamu menghindari aku,” katanya akhirnya. Bukan menuduh. Hanya menyatakan.
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatap foto-foto di dinding. Kakek-nenek Garut. Pasangan tuna rungu. Fikri dan Nadia. Anak perempuan di undakan tangga.
“Lima tahun lalu,” kataku, “aku punya pacar.”
Mikaela tidak bergerak. Ia tidak berkata apa-apa. Ia menunggu, seperti yang selalu ia lakukan.
“Namanya Sasha. Kami pacaran tiga tahun. Aku pikir...” Aku berhenti. Menelan sesuatu yang tersangkut di tenggorokan. “Aku pikir aku tahu dia. Aku pikir aku bisa lihat semuanya. Cara dia natap aku. Cara dia pegang tanganku. Aku yakin banget. Lebih yakin dari apa pun.”
“Terus?”
“Terus suatu hari, aku mulai lihat dia berubah.” Aku menatap tanganku yang terbalut di pangkuan. “Pelan. Sedikit-sedikit. Setiap hari dia sedikit lebih jauh. Setiap hari ada sedikit yang hilang. Aku lihat semuanya. Aku lihat setiap hari. Selama empat bulan.”
Aku tidak bisa mengatakan bagaimana aku melihatnya. Bahwa aku menaikkan detak jantungku dengan sengaja setiap pagi, naik turun tangga apartemen tiga kali, hanya untuk mengecek benangnya. Bahwa aku melihat benang setebal tali sepatu menjadi benang jahit, lalu benang jahit menjadi helai rambut. Bahwa aku melihat benang baru tumbuh dari dadanya ke arah lain, ke arah seorang laki-laki bernama Bram yang bekerja di lantai yang sama dengannya, dan benang itu makin tebal setiap kali benangnya ke aku makin tipis. Seperti jam pasir. Seperti seseorang memindahkan air dari satu gelas ke gelas lain di depan mataku.
“Aku tanya dia,” lanjutku. “Berkali-kali. Kamu kenapa? Ada yang beda? Dan dia selalu jawab sama. Sambil senyum. Sambil pegang tanganku.” Suaraku pecah sedikit. “Kamu terlalu curigaan, Van. Aku nggak ke mana-mana.“
Mikaela menahan napas. Aku mendengarnya.
“Dia bohong di depan mataku. Empat bulan. Setiap hari. Dan aku lihat dia bohong, tapi aku tetap mau percaya. Karena aku mau percaya.” Aku tertawa kecil, tawa yang tidak lucu sama sekali. “Lalu suatu pagi aku bangun, dan dia sudah pergi. Lemarinya kosong. Dan rekening yang kami buka bareng buat nikah, yang kami isi tiga tahun, juga kosong. Dia ambil semuanya. Bahkan nggak ninggalin surat.”
“Evan...”
“Aku jual foto itu.” Aku menunjuk foto anak perempuan di undakan tangga, tanpa melihatnya. “Print aslinya. Satu-satunya barang berharga yang kupunya. Buat bayar kontrakan. Buat mulai lagi dari nol.”
Ruangan itu sunyi. Hanya ada suara jam dinding dan suara motor yang lewat di Jalan Dago.
“Aku menghindarimu,” kataku pelan, “karena aku takut. Aku takut lihat itu lagi. Aku takut suatu hari aku bangun dan lihat kamu pelan-pelan pergi. Sedikit demi sedikit. Dan aku harus menonton semuanya, setiap hari, tanpa bisa berbuat apa-apa.”
Aku akhirnya menoleh padanya.
Mikaela menatapku. Matanya merah. Tidak menangis, tapi merah, dan rahangnya mengeras dengan cara yang belum pernah kulihat. Bukan sedih.
Marah.
Marah dengan tenang, dengan cara yang membuat udara di sekitarnya terasa lebih dingin.
“Dia ambil semuanya,” katanya pelan. “Tabungan nikah kalian. Dan kamu harus jual foto itu.”
“Iya.”
“Dan dia bilang kamu terlalu curigaan.”
“Iya.”
Mikaela menatap foto anak perempuan di undakan tangga untuk waktu yang lama. Lama sekali. Rahangnya masih mengeras. Tangannya, yang terletak di pangkuan, mengepal pelan.
Lalu ia menoleh padaku.
“Aku bukan dia,” katanya.
Pelan. Jelas. Setiap kata seperti batu yang diletakkan dengan hati-hati di atas tumpukan batu lain.
Aku menatapnya. Aku ingin percaya. Aku sangat ingin percaya.
“Semua bilang gitu,” kataku, dan suaraku keluar lebih lelah dari yang kumaksud. “Sebelum... sebelum berubah.”
Mikaela tidak membantah. Ia tidak bilang aku janji. Ia tidak bilang kamu harus percaya. Ia tidak mengatakan apa pun yang biasa dikatakan orang dalam situasi seperti ini.
Ia hanya mengambil tanganku yang terbalut. Pelan. Meletakkannya di pangkuannya, telapak menghadap ke atas, di atas gaun hijau zamrud yang sudah kusut setelah seharian bekerja. Lalu ia meletakkan tangannya sendiri di atas tanganku. Tidak menggenggam. Hanya meletakkannya di sana, telapak di atas perban, seperti menutup sesuatu yang luka.
“Kalau gitu jangan percaya kata-kataku,” katanya pelan. “Lihat aja.”
Aku menatapnya.
“Lihat aku setiap hari,” lanjutnya. “Selama yang kamu mau. Empat bulan. Satu tahun. Dua belas tahun. Lihat aku sampai kamu capek ngelihat.” Ia tersenyum, senyum kecil yang gemetar di ujungnya. “Aku nggak akan ke mana-mana. Dan kamu nggak perlu percaya aku. Kamu cukup lihat.”
Detak jantungku naik. Aku merasakannya di telinga. Di tenggorokan. Di tanganku yang terbalut, yang ada di bawah tangannya.
Aku tidak menunduk melihat jam tanganku.
Aku tidak perlu melihat benang malam ini.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku memilih untuk melihat sesuatu yang lain. Wajahnya. Matanya yang merah karena marah untukku. Bibirnya yang gemetar karena menahan sesuatu yang belum boleh keluar. Tahi lalat kecil di bawah mata kirinya, yang terlihat lebih gelap di bawah lampu berdiri.
Dan aku menyadari, dengan cara yang membuatku takut sekaligus lega, bahwa aku sedang melanggar aturan ketujuh.
Aku menatapnya terlalu lama.
Dan aku tidak mau berhenti.
Ia pulang pukul sebelas, dijemput Lulu, yang entah kenapa datang bersama Dodo, yang entah kenapa memegang dua es teh.
Aku berdiri di depan pintu studio, melambai dengan tangan yang tidak terbalut.
Setelah mobil mereka hilang di tikungan, aku kembali masuk. Mematikan lampu berdiri. Berdiri di depan dinding foto dalam gelap.
Di tengah dinding, anak perempuan di undakan tangga menatap gerbang yang kosong.
Aku nggak akan ke mana-mana.
Aku menatap mata anak perempuan itu dalam gelap. Mata yang terlalu besar untuk wajahnya.
Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku memperhatikan sesuatu yang selama ini tidak pernah kuperhatikan. Sesuatu yang terlalu kecil untuk terlihat di cetakan pertama, karena kertas fiber pameran membuat semua bayangan jadi hitam pekat. Sesuatu yang baru muncul di cetak ulang ini, karena lab yang berbeda mencetaknya dengan kontras yang lebih lembut.
Di bawah mata kiri anak perempuan itu, ada titik kecil.
Hitam. Bulat. Sangat kecil.
Seperti tahi lalat.
Aku berdiri di sana lama sekali, dalam gelap, dengan jantung yang berdetak terlalu keras.
Lalu aku menyalakan lampu, mendekat ke foto itu, dan menatap titik kecil itu dari jarak sepuluh senti.
Debu, mungkin. Noda tinta. Cacat cetak.
Aku tidak percaya kebetulan.
Tapi malam itu, sekali lagi, aku tidak berani tidak memercayainya.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan reading
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?