← Gadis Tanpa Benang

Chapter Twenty

Amplop

POV: Mika

Papa masuk rumah sakit hari Selasa, dua hari setelah Ciater.

Bi Iyah meneleponku pukul lima pagi. Suaranya gemetar. Papa muntah darah di kamar mandi. Papa jatuh. Papa tidak mau dibawa ke rumah sakit, katanya nanti saja, tunggu Mika bangun, jangan bikin Mika panik.

Aku menyetir dari apartemen ke Setiabudi dalam dua belas menit, menerobos tiga lampu merah dan satu polisi tidur yang membuat kepalaku membentur atap mobil. Aku tidak ingat apa yang kupakai. Belakangan Lulu memberitahuku: piyama motif awan, jaket denim tua milik Evan, dan sandal jepit yang berbeda warna.

Papa duduk di lantai kamar mandi, bersandar ke dinding keramik, dengan wajah kuning pucat dan kemeja batik yang ternoda merah di bagian depan. Bi Iyah berlutut di sebelahnya memegang handuk basah.

Ia tersenyum begitu melihatku.

“Nah,” katanya lemah. “Ini dia. Papa bilang jangan panik.”

“Pa.”

“Kamu pakai sandal beda warna.”

“Pa.“

“Papa cuma bilang fakta.”

Aku menangis di lantai kamar mandi sambil memeluknya, dan ia mengusap rambutku dengan tangan yang terasa seringan kertas.


Rumah Sakit Borromeus. Lantai lima. Kamar 512.

Kamar VIP yang dipaksakan Papa, karena katanya kalau mau sakit, sakitnya harus nyaman. Satu tempat tidur dengan seprai putih yang terlalu kaku. Sofa untuk penunggu yang terlalu pendek untuk tidur. Jendela besar yang menghadap ke Jalan Juanda, dengan pohon-pohon besar di tepi jalan dan langit Bandung yang sejak pagi kelabu.

Dokter bilang Papa harus dirawat beberapa hari. Mungkin seminggu. Mungkin lebih. Dokter tidak mau menyebut angka pasti. Dokter memakai kata-kata seperti kita pantau, kita lihat perkembangannya, kita usahakan senyaman mungkin.

Aku tahu artinya senyaman mungkin. Aku sudah mengatur dua ratus tiga belas pernikahan. Aku tahu cara orang memakai kata-kata halus untuk menyampaikan hal-hal yang tidak bisa diubah.

Papa tidur hampir sepanjang hari pertama. Infus di tangan kirinya. Selang oksigen tipis di hidungnya. Monitor di sebelah tempat tidur yang terus berbunyi pelan, bip, bip, bip, dengan garis hijau yang naik-turun dan angka yang berubah-ubah.

Delapan puluh dua. Delapan puluh lima. Delapan puluh.

Aku duduk di kursi di sebelah tempat tidurnya dan menatap angka itu berjam-jam.

Lucu. Sudah berbulan-bulan aku menatap angka di pergelangan tangan seorang laki-laki, menunggunya naik. Sekarang aku menatap angka di monitor rumah sakit, berdoa supaya angka itu tidak turun.


Evan datang hari Rabu sore.

Aku mengiriminya pesan hari Selasa pagi. Satu kalimat. Papa masuk RS Borromeus, kamar 512. Ia membalas satu jam kemudian: Aku ke sana besok.

Satu kalimat. Tanpa emoji. Tanpa kamu nggak apa-apa? Tanpa aku sayang kamu versi Evan, yang biasanya berbentuk sudah makan? atau foto kucing liar di depan studio.

Sejak Ciater, semua pesannya seperti itu.

Pendek. Sopan. Jauh.

Ia masuk ke kamar 512 dengan sekeranjang buah dan majalah teka-teki silang edisi baru. Ia memakai kemeja biru, yang Ibu suruh ia pakai waktu pertama kali makan di rumah Papa. Rambutnya diikat setengah. Wajahnya pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata, seperti seseorang yang tidak tidur selama berhari-hari.

Ia tidak menatapku. Ia menatap Papa.

“Pak,” katanya pelan.

Papa membuka mata. Tersenyum lemah dari balik selang oksigen.

“Nak Evan. Kamu bawa buah. Papa nggak boleh makan buah.”

“Saya tahu, Pak. Buahnya buat Mika.”

“Majalahnya?”

“Itu buat Bapak.”

Papa tertawa kecil. Tawanya berubah jadi batuk. Aku sudah berdiri sebelum batuk kedua, tanganku di punggungnya, tapi Evan juga sudah bergerak. Ia berdiri di sisi lain tempat tidur, menuangkan air ke gelas plastik, memegangnya di dekat bibir Papa dengan sedotan.

Papa minum sedikit. Batuknya reda.

“Terima kasih, Nak.”

“Sama-sama, Pak.”

Evan duduk di kursi di sisi lain tempat tidur. Mengambil majalah teka-teki silang. Membukanya.

“Mendatar nomor satu,” katanya. “Enam huruf. Tempat orang menunggu kereta.“

“Stasiun,” kata Papa.

“Tujuh huruf, Pak.”

“Peron.”

“Lima huruf.”

“Ya ampun, ini teka-teki silang atau teka-teki tipu?” Papa tertawa lagi, lebih pelan kali ini. “Halte. Bukan, itu bus. Hmm.”

Mereka mengisi teka-teki silang bersama selama satu jam. Evan membacakan pertanyaan. Papa menebak, salah, menebak lagi, menyuruh Evan curang dengan melihat kunci jawaban di halaman belakang. Evan menolak dengan alasan integritas teka-teki silang. Papa menyebutnya menantu kaku. Evan tidak membantah kata menantu.

Aku duduk di sofa penunggu yang terlalu pendek dan memperhatikan mereka.

Evan baik pada Papa. Sangat baik. Sabar, lembut, tertawa di saat yang tepat. Ia memijat tangan Papa yang tidak diinfus ketika Papa mengeluh kesemutan. Ia membetulkan bantal Papa tanpa diminta. Ia merapikan selimut Papa dengan gerakan yang sama dengan gerakanku setiap malam, seperti ia sudah memperhatikanku melakukannya dan mempelajarinya.

Tapi ia tidak menatapku.

Sekali pun. Selama satu jam.


Papa tertidur pukul lima sore, dengan majalah teka-teki silang di dadanya dan kacamata baca yang melorot di ujung hidung.

Evan berdiri. Mengambil majalah dari dada Papa. Melepas kacamatanya dengan hati-hati dan meletakkannya di meja kecil di sebelah tempat tidur. Menarik selimut sampai ke dada Papa.

Lalu ia berjalan ke pintu.

“Evan,” kataku.

Ia berhenti. Tidak menoleh.

“Kamu mau ke mana?”

“Pulang. Ada editing.”

“Kamu baru datang satu jam.”

“Papamu udah tidur. Dia butuh istirahat.”

Aku berdiri dari sofa. Berjalan ke arahnya. Berhenti di belakangnya, cukup dekat untuk menyentuhnya, tapi aku tidak menyentuhnya.

“Kamu kenapa?” tanyaku pelan. “Sejak Ciater kamu beda.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Bohong.”

Ia akhirnya menoleh.

Dan aku melihat matanya.

Mata yang dulu menatapku di puncak bianglala. Mata yang dulu menatapku di bawah lampu merah darkroom. Mata yang dulu menatapku seperti seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga di tengah tumpukan sampah.

Mata itu sekarang menatapku seperti seseorang yang sedang menatap pintu yang perlahan menutup.

Seperti seseorang yang sedang menonton sesuatu pergi. Pelan-pelan. Dan tidak bisa berbuat apa-apa selain menonton.

“Aku capek, Mika,” katanya. Suaranya lelah. Sangat lelah. “Aku cuma capek.”

“Capek kenapa?”

Ia diam. Lama. Matanya bergerak, dari wajahku, turun sedikit, ke dadaku. Berhenti di sana. Lalu kembali ke wajahku.

“Nanti,” katanya. “Nanti aku cerita.”

Nanti aku cerita.

Kalimatku. Di parkiran Ciater. Ia mengembalikannya padaku seperti seseorang mengembalikan barang pinjaman yang rusak.

Lalu ia membuka pintu dan pergi.

Aku berdiri di depan pintu kamar 512 yang tertutup, dengan monitor Papa yang berbunyi pelan di belakangku, bip, bip, bip, dan tidak tahu harus berbuat apa.

Dia lihat sesuatu.

Aku tahu. Aku tahu dari matanya. Dari caranya menatap dadaku, lalu memalingkan wajah. Dari caranya melepaskan tanganku di parkiran Ciater, pelan, tidak kasar, tapi melepaskan.

Dia lihat sesuatu di Ciater. Waktu aku di parkiran. Waktu dia datang.

Tapi apa?

Apa yang ia lihat yang membuatnya menatapku seperti itu? Seperti menatap Sasha?

Aku memutar ulang semuanya di kepalaku. Parkiran. Motor tua. Kotak bolu pisang. Tangan besar yang menepuk kepalaku dengan canggung. Aku tersenyum. Aku menangis sedikit. Aku mengucapkan satu kata pelan waktu motor itu pergi.

Itu tidak mungkin terlihat seperti...

Itu terlalu beda. Itu sama sekali beda. Siapa pun yang melihat pasti tahu bedanya.

Kan?


Malamnya, aku tidur di sofa penunggu yang terlalu pendek, dengan kaki menggantung di ujungnya dan jaket denim Evan sebagai selimut.

Aku tidak benar-benar tidur. Aku hanya memejamkan mata dan mendengarkan monitor Papa. Bip. Bip. Bip. Dan mendengarkan napas Papa yang berat, yang sesekali tersendat, membuatku membuka mata dengan jantung berdebar, sampai napas berikutnya datang.

Pukul dua pagi, ponselku bergetar.

Aku meraihnya dari meja kecil. Nama di layar bukan Yang Melihat.

K.

K: Dek. Maaf ganggu malam-malam. Saya baru pulang dari bengkel.
K: Bolu pisangnya gimana? Kemanisan nggak? Saya baru belajar bikin dari YouTube. Percobaan keempat. Tiga yang pertama gosong.
K: Saya dengar dari kamu kemarin, ayahmu masuk rumah sakit. Saya nggak tahu harus bilang apa. Saya nggak pinter ngomong. Maaf.
K: Kalau ada yang bisa saya bantu, bilang aja. Saya bisa nyetir, bisa angkat-angkat, bisa nunggu. Saya pinter nunggu.

Aku menatap pesan terakhir itu.

Saya pinter nunggu.

Dua orang dalam hidupku yang pinter nunggu. Aku. Dan dia.

Seumur hidupnya ia tidak tahu aku ada. Seumur hidupku aku tidak tahu ia ada. Aku membaca betapa lamanya itu di amplop cokelat di laci paling bawah, di halaman kedua, dalam angka-angka kecil yang tidak peduli betapa beratnya mereka untuk dibaca.

Dan sekarang, dalam satu bulan, ia sudah membuat bolu pisang empat kali. Tiga gosong.

Aku tersenyum dalam gelap, dan mataku panas.

Aku: Bolunya enak. Nggak kemanisan. Pas.
Aku: Itu bohong. Agak kemanisan. Tapi aku habisin semua.
K: Haha. Oke. Percobaan kelima saya kurangin gulanya.
K: Dek, saya mau tanya. Boleh?
Aku: Boleh.
K: Ayahmu udah tahu soal saya?

Aku menatap pertanyaan itu lama. Lama sekali. Monitor Papa berbunyi di belakangku. Bip. Bip. Bip.

Aku menoleh menatap Papa. Tidur dengan mulut sedikit terbuka. Selang oksigen di hidungnya. Wajahnya kuning pucat di bawah lampu malam yang redup. Tangannya, yang dulu gemuk dan hangat dan menepuk-nepuk kepalaku setiap malam di ruang baca, sekarang kurus dan bertulang dan tergeletak di atas selimut dengan jarum infus di punggung tangan.

Papa yang berlutut di depan anak perempuan tiga belas tahun dan bertanya boleh saya jadi papamu.

Papa yang sampai sekarang masih takut, aku tahu, jauh di dalam, di tempat yang tidak pernah ia tunjukkan padaku, bahwa suatu hari anak perempuan itu akan menemukan keluarga yang lebih asli. Yang sedarah. Yang punya hak lebih dulu.

Aku tidak akan membuat Papa merasa diganti. Tidak sekarang. Tidak waktu ia sedang menghitung pagi.

Aku: Belum.
Aku: Maaf. Aku belum siap. Papa lagi sakit. Aku takut dia...
Aku: Aku takut dia mikir yang nggak-nggak.
K: Saya ngerti. Nggak apa-apa.
K: Saya bisa nunggu.
K: Kamu juga udah nunggu lama, kan.

Aku menutup mulutku dengan tangan supaya isakanku tidak membangunkan Papa.


Lulu datang pukul tujuh pagi dengan termos teh, dua bungkus bubur ayam, dan tas berisi baju ganti untukku, karena ia tahu aku tidak akan pulang.

Ia melihatku duduk di sofa penunggu dengan mata sembab dan jaket denim di bahu. Ia melihat Papa yang masih tidur. Ia melihat ponselku yang tergeletak di pangkuanku dengan layar yang masih menyala, menampilkan percakapan dengan K.

Lulu tidak pernah membaca ponselku. Ia tidak melakukannya sekarang. Tapi ia melihat layarnya menyala, dan ia melihat wajahku, dan ia duduk di sebelahku di sofa yang terlalu pendek tanpa berkata apa-apa.

Lama kami diam. Bubur ayam mendingin di kantong plastiknya.

“Bu,” kata Lulu akhirnya. “Saya nggak tanya. Saya cuma mau lapor.”

“Lapor apa?”

“Mas Dodo bilang, Mas Evan nggak tidur dua malam. Mas Dodo bilang Mas Evan duduk di depan dinding foto sampai subuh. Bukan foto hitam-putih. Foto lain.” Lulu berhenti. “Foto pernikahan dr. Fikri.”

Aku menatapnya.

“Mas Dodo juga bilang,” lanjut Lulu, “Mas Evan sempat pingsan. Hampir pingsan. Hari Senin, di studio. Dia lagi berdiri, terus tiba-tiba pegang dada, terus duduk di lantai. Mas Dodo panik. Mas Evan bilang jangan bilang siapa-siapa. Terutama jangan bilang Ibu.”

Tanganku dingin.

“Mas Dodo tetap bilang ke saya,” kata Lulu. “Dia bilang dia nggak sanggup simpan rahasia itu sendirian. Saya juga nggak sanggup.” Ia menatapku. “Jadi saya bilang ke Ibu.”

Aku menatap Lulu. Lulu Anggraini, yang tidak pernah melanggar perintah, yang tidak pernah bertanya hal yang tidak perlu ditanyakan, yang baru saja melanggar permintaan Evan dan janji Dodo untuk memberitahuku.

“Dia pegang dada?” bisikku.

“Mas Dodo bilang begitu, Bu. Detak jantungnya tinggi banget, katanya. Tanpa alasan. Dr. Fikri nggak tahu, karena Mas Evan matiin sinkronisasi jam tangannya ke aplikasi dr. Fikri sejak hari Minggu.”

Sejak Ciater.

Ia mematikan jam tangannya. Supaya Fikri tidak melihat angkanya.

Supaya tidak ada yang melihat angkanya.

“Lulu,” kataku. Suaraku pecah. “Aku nggak ngerti. Aku nggak ngerti apa yang terjadi. Dia tiba-tiba jauh. Dia lihat sesuatu di Ciater, aku tahu dia lihat sesuatu, tapi aku nggak tahu apa. Dan sekarang dia sakit dan dia nggak bilang...”

Lulu menatapku. Lalu menatap ponsel di pangkuanku. Layarnya sudah mati, tapi aku tahu ia ingat apa yang tadi menyala di sana.

“Bu,” katanya pelan, dengan hati-hati, seperti seseorang yang melangkah di atas es tipis. “Di Ciater. Waktu Ibu ketemu... seseorang. Di parkiran. Mas Evan ada di mana?”

Aku diam.

Aku tidak tahu. Aku tidak melihatnya. Ia bilang ia dari atas. Dari jalan setapak. Dari...

Jalan setapak itu menghadap ke parkiran.

Pohon-pohon pinus. Jalan berbatu yang menurun.

Dari sana, siapa pun bisa melihat parkiran dengan jelas.

“Ya Allah,” bisikku.

Lulu tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu cukup. Ia tidak perlu tahu sisanya.

“Bu,” katanya. “Saya nggak tahu siapa laki-laki itu. Saya nggak akan tanya. Tapi kalau Mas Evan lihat Ibu sama laki-laki lain di parkiran, sendirian, dikasih kado, ditepuk kepalanya, lalu Ibu bilang nanti aku cerita...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Ia tidak perlu.

Kamu terlalu curigaan, Van. Aku nggak ke mana-mana.

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.


Pukul sembilan, setelah Lulu pergi ke kantor untuk menangani rapat yang kubatalkan, aku duduk di kursi di sebelah tempat tidur Papa dan menatap ponselku.

Dua percakapan terbuka. Yang Melihat. Dan K.

Aku harus bilang. Aku tahu aku harus bilang. Ke Evan. Hari ini. Sekarang. Laki-laki di parkiran itu bukan siapa-siapa, Evan. Maksudku, dia siapa-siapa. Dia sangat siapa-siapa. Tapi bukan seperti yang kamu pikir.

Tapi kalau aku bilang ke Evan sekarang, lewat pesan, lewat telepon, dari kamar rumah sakit ini, dan Papa bangun dan mendengar...

Atau Evan tidak percaya. Evan, yang hanya percaya pada apa yang ia lihat sendiri. Evan, yang mendengar kamu terlalu curigaan empat bulan setiap pagi.

Kalau aku bilang lewat kata-kata, ia tidak akan percaya. Kata-kata adalah satu-satunya hal yang tidak ia percaya.

Ia harus lihat.

Aku menatap Papa yang tidur. Monitor berbunyi pelan. Delapan puluh tiga. Delapan puluh empat.

Lalu aku mengetik pesan ke K.

Aku: Kak.

Aku menatap kata itu lama. Satu kata. Tiga huruf. Pertama kalinya aku mengetiknya. Pertama kalinya aku memanggilnya begitu, bahkan di kepalaku sendiri.

Aku menghapusnya. Mengetiknya lagi. Menghapusnya lagi.

Lalu, akhirnya, aku mengetik yang lain.

Aku: Besok kamu bisa ke Bandung? Ada orang yang mau aku kenalin.
Aku: Tapi sebelum itu, aku mau ketemu kamu dulu. Berdua. Ada yang mau aku tanya.
Aku: Kafe di Dago. Jam empat. Aku kirim lokasinya.
K: Bisa. Saya libur besok.
K: Orang yang mau kamu kenalin siapa?
Aku: Orang yang penting.
Aku: Orang yang harus lihat sendiri.

Aku mengirim lokasi kafe. Sebuah kafe kecil di Jalan Dago bagian atas, tidak jauh dari studio. Kafe yang selalu Evan lewati setiap pagi waktu membeli roti di toko sebelahnya.

Rencananya sederhana. Besok sore, aku bertemu dia dulu. Aku bertanya apakah ia siap bertemu Evan. Aku bertanya apakah ia keberatan kalau Evan tahu sebelum Papa tahu. Kalau ia bilang ya, aku akan menelepon Evan dan memintanya datang ke kafe itu. Dan Evan akan melihat sendiri. Dengan matanya sendiri. Siapa laki-laki itu.

Lalu, setelah Papa lebih kuat, setelah Papa keluar dari rumah sakit, aku akan bilang ke Papa. Pelan-pelan. Dengan Evan di sebelahku.

Satu per satu. Tidak ada yang terluka.

Itu rencananya.

Aku mengirim satu pesan lagi. Ke Yang Melihat.

Aku: Evan. Besok sore, kamu bisa?
Aku: Aku mau ngenalin kamu sama seseorang.
Aku: Aku tahu kamu lihat sesuatu di Ciater. Aku nggak tahu apa. Tapi apa pun itu, bukan seperti yang kamu pikir.
Aku: Tolong tunggu sampai besok. Satu hari aja.

Pesan terkirim. Satu centang. Dua centang.

Dua centang biru.

Ia membacanya.

Aku menunggu balasannya. Satu menit. Lima. Sepuluh. Setengah jam.

Tidak ada balasan.

Hanya dua centang biru. Dibaca. Tidak dijawab.

Aku menatap layar sampai mataku perih. Lalu meletakkan ponsel di meja kecil di sebelah tempat tidur, menelungkup, dan menatap Papa.

Papa membuka mata. Pelan. Menatapku dari balik selang oksigen.

“Kamu nangis lagi,” katanya serak.

“Nggak, Pa.”

“Bohong. Matamu kayak tomat.”

Aku tertawa, dan tawaku keluar lebih basah dari yang kumau.

Papa mengulurkan tangannya yang tidak diinfus. Aku meraihnya. Tangan itu dingin dan ringan dan bertulang, tapi genggamannya masih sama. Masih Papa.

“Fotografermu?” tanyanya.

Aku tidak menjawab.

Papa menatapku lama. Lalu ia tersenyum, senyum kecil yang lelah.

“Dia lagi takut, ya,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya, Pa.”

“Orang yang pernah patah hati sekali, Mika, kalau takut, dia lari. Bukan karena dia nggak sayang. Karena dia terlalu sayang.” Papa mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. “Kasih dia waktu. Tapi jangan kasih dia jarak.”

“Gimana caranya, Pa?”

“Kamu tunggu. Di tempat yang bisa dia lihat.” Papa memejamkan mata lagi. “Kamu jago itu, kan. Nunggu.”

Aku menunduk. Menempelkan dahiku ke tangan Papa di atas selimut.

Besok, kataku pada diriku sendiri. Besok dia akan lihat. Besok semuanya beres.

Satu hari lagi.

Aku sudah menunggu dua belas tahun.

Satu hari bukan apa-apa.

Satu hari bukan apa-apa.

Satu hari bukan apa-apa.