Chapter Thirty One
Kali Ini Aku yang Tanya
POV: Mika
Rumah Papa tidak pernah seramai ini selama dua belas tahun aku tinggal di dalamnya.
Malam ketiga tahlilan. Ruang tamu yang biasanya sunyi, dengan sofa kulit tua dan lemari kaca berisi piala-piala lomba percetakan, sekarang penuh tikar pandan yang digelar sampai ke teras. Dua ratus orang duduk bersila, membaca Yasin dengan suara yang bergemuruh pelan seperti ombak di kejauhan. Karyawan-karyawan percetakan dengan peci hitam. Tetangga-tetangga Setiabudi. Teman-teman catur Papa dari lobi rumah sakit, termasuk Satpam Dedi, yang membaca Yasin dengan suara paling keras dan paling sumbang.
Dan di dapur, Ibu Evan memasak.
Ia datang pukul tiga sore dengan tiga panci soto raksasa yang dibawa pakai mobil bak terbuka sewaan, dua karung beras, dan kerudung oranye menyala yang langsung ia ganti dengan kerudung hitam di depan pintu. Ia tidak bertanya apa yang dibutuhkan. Ia langsung mengambil alih dapur Bi Iyah, menggulung lengan bajunya, dan mulai memotong daun bawang dengan kecepatan yang membuat Bi Iyah menatapnya dengan kagum.
“Bi,” kata Ibu Evan, tanpa berhenti memotong. “Tahlilan dua ratus orang, soto tiga panci kurang. Ibu udah telepon Pak Darto. Dia bawa satu panci lagi dari warung.”
“Pak Darto, Bu?”
“Tukang servis AC langganan Ibu. Dia punya mobil bak.” Ibu Evan berhenti memotong. Pipinya sedikit merah. “Dia juga bisa masak. Sedikit.”
Bi Iyah menatapnya. Lalu tersenyum. Senyum yang sama dengan senyum Papa kalau sedang menemukan sesuatu yang menarik.
Aku berdiri di pintu dapur dan melihat semua itu, dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, sesuatu di dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Dodo dan Lulu menjadi sistem logistik.
Dodo membawa nampan-nampan berisi gelas teh manis dari dapur ke ruang tamu, berjalan di antara dua ratus orang yang duduk bersila dengan kehati-hatian seorang penari tali. Ia memakai kemeja koko putih yang disetrika Lulu dan peci hitam yang terlalu besar, yang terus melorot sampai menutupi alisnya.
Lulu berdiri di pintu dapur dengan clipboard, menghitung gelas yang keluar dan gelas yang kembali.
“Mas Dodo. Meja tiga kurang tujuh gelas.”
“Siap, Mbak.”
“Mas Dodo. Peci melorot.”
“Siap, Mbak.”
“Mas Dodo. Jangan lewat depan Pak Ustaz. Itu nggak sopan.”
“Siap, Mbak. Maaf, Pak Ustaz.”
Pak Ustaz, yang sedang memimpin doa, menatap Dodo sebentar dengan alis terangkat, lalu melanjutkan doa. Dodo membungkuk dalam-dalam sampai pecinya jatuh ke tikar.
Seorang ibu di barisan depan tertawa tertahan. Lalu seorang bapak di sebelahnya. Lalu Satpam Dedi.
Aku menutup mulutku dengan tangan, di pintu dapur, dan merasakan air mata yang aneh. Air mata yang bukan karena sedih.
Papa pasti suka ini. Papa pasti duduk di kursi goyangnya dan memberi Dodo lima poin karena keberanian melintasi wilayah musuh.
Kak Bima datang setiap malam. Dengan Teh Neneng.
Teh Neneng ternyata lebih pemalu dari Lulu, lebih kecil dari aku, dan punya suara yang sangat lembut sampai aku harus mendekat untuk mendengarnya. Tapi ia bisa membungkus lontong dengan kecepatan yang membuat Ibu Evan berhenti memotong daun bawang hanya untuk menonton.
“Neng,” kata Ibu Evan. “Kamu belajar dari mana?”
“Dari Emak, Bu,” bisik Teh Neneng. “Emak jualan lontong dari saya SD.”
“Kamu calon istrinya Bima?”
Teh Neneng menjadi merah seperti tomat. Kak Bima, yang sedang mengangkat panci soto keempat dari mobil bak Pak Darto, hampir menjatuhkannya.
“Bu Ratih!” katanya.
“Apa? Ibu cuma nanya.” Ibu Evan menatap Kak Bima dengan mata yang menyipit. “Kamu sudah lamar?”
“Belum, Bu.”
“Kenapa belum?”
“Baru jadian tiga hari, Bu!”
“Tiga hari cukup buat lamar. Bapaknya Evan dulu lamar Ibu habis dua kali ketemu.”
Kak Bima membuka mulut. Menutupnya lagi. Menatapku dengan wajah orang yang minta tolong.
Aku tertawa. Sungguh-sungguh tertawa. Untuk pertama kalinya sejak subuh di kamar 512.
Evan ada di mana-mana malam itu, tapi tidak pernah di tempat yang sama terlalu lama.
Ia membantu Pak Darto mengangkat panci. Ia menggelar tikar tambahan di teras ketika tamu datang lebih banyak dari perkiraan. Ia mengisi ulang termos teh. Ia mengantar Bu Ningsih pulang ke Cibeunying dan kembali dalam empat puluh menit. Ia memotret, dari jauh, dengan Leica tua milik ayahnya, tanpa flash, foto-foto yang tidak akan pernah ia tunjukkan pada siapa pun kecuali aku.
Tapi setiap kali aku mencarinya, ia ada di dekatku.
Tidak menempel. Tidak mengganggu. Hanya ada. Di ujung ruangan. Di pintu dapur. Di teras. Di mana pun aku menoleh, ia ada dalam jangkauan pandanganku.
Seperti seseorang yang berdiri di tempat yang bisa kulihat.
Kamu tunggu. Di tempat yang bisa dia lihat.
Papa yang bilang itu. Untukku. Di kamar 512. Waktu Evan sedang menjauh.
Sekarang Evan yang melakukannya untukku.
Tahlilan selesai pukul sepuluh malam. Tamu-tamu pulang satu per satu, dengan bungkusan nasi dan soto di tangan. Ibu Evan dan Pak Darto mencuci panci di halaman belakang, berdua, dengan selang air dan sabut kelapa. Aku mendengar Ibu Evan tertawa dengan tawa yang lebih tinggi dan lebih lembut dari biasanya.
Kak Bima mengantar Teh Neneng pulang ke Cimahi. Lulu dan Dodo membereskan tikar di ruang tamu.
Aku naik ke ruang baca.
Ruangan kecil di lantai atas, dengan rak buku dari lantai sampai langit-langit, kursi goyang kayu jati dengan selimut wol di sandarannya, dan lampu berdiri yang cahayanya kuning seperti madu.
Kursi goyang itu kosong.
Selimut wolnya terlipat rapi di sandaran, seperti terakhir kali Bi Iyah melipatnya sebelum Papa masuk rumah sakit. Kacamata baca Papa tergeletak di meja kecil di sebelahnya, di atas majalah teka-teki silang yang dibawa Evan. Mendatar nomor satu sudah terisi, dengan tulisan tangan Papa yang gemetar: PERON.
Tujuh huruf. Seharusnya lima. Papa salah. Papa selalu salah di teka-teki silang dan selalu menyuruh Evan curang.
Dan di dinding, di tempat paling terang, bingkai kayu jati yang sudah kembali. Enam puluh kali sembilan puluh senti. Kaca bening yang baru dibersihkan.
Anak perempuan di undakan tangga. Print asli. Kertas fiber. Dengan tanda tangan anak SMA di sudut kanan bawah.
Evan yang menggantungnya kembali. Tadi sore. Sebelum tahlilan dimulai. Ia berdiri di atas kursi dengan bingkai berat itu di tangannya, dan aku memegangi kursinya, dan kami tidak berkata apa-apa.
Aku duduk di karpet. Di sebelah kursi goyang yang kosong. Bersandar ke kakinya, seperti dulu, seperti waktu aku tiga belas tahun dan takut tidur sendirian.
Kursi itu bergoyang sedikit ketika aku bersandar. Berderit. Suara yang sama dengan dua belas tahun.
Dan aku menangis.
Tidak keras. Tidak seperti di kamar 512. Tangisan yang pelan. Diam. Air mata yang jatuh satu per satu ke karpet motif bunga yang sudah pudar di bagian yang paling sering diinjak.
Pintu ruang baca terbuka pelan.
Evan berdiri di ambang pintu. Dengan kemeja koko putih yang dipinjam dari lemari Papa, terlalu besar di bahu, dan wajah yang pucat dan lelah.
Ia tidak bertanya. Ia tidak berkata apa-apa. Ia masuk, menutup pintu di belakangnya, dan duduk di karpet di sebelahku. Bersandar ke kaki kursi goyang yang sama.
Lama kami diam.
“Kursinya berderit,” bisikku akhirnya.
“Iya.”
“Papa nggak pernah mau benerin. Katanya bunyinya kayak lagu.”
“Lagu apa?”
“Lagu Papa ada di sini.” Suaraku pecah. “Biar aku tahu dia di mana. Dari kamarku di lantai bawah. Kalau kursinya berderit, berarti Papa lagi baca. Berarti Papa belum tidur. Berarti aku boleh naik.”
Evan meraih tanganku.
Aku membiarkannya.
Ia menggenggamnya lama. Lalu, pelan, ia mengangkat tanganku. Membawanya ke dadanya. Meletakkannya di sana, di atas kemeja koko Papa yang terlalu besar, telapak tanganku di atas jantungnya.
Aku menatapnya.
Ia menatapku balik. Matanya di bawah lampu berdiri yang kuning terlihat lebih gelap. Lebih dalam. Lebih sedih.
“Sekarang berapa?” tanyanya.
Pelan. Hampir berbisik.
Aku berhenti bernapas.
Dua belas tahun aku menanyakan kalimat itu. Ratusan kali. Di depan cermin. Di ballroom Lembang. Di ruang editing. Di ruang tunggu pengantin. Di puncak bianglala. Di taman rumah sakit pukul lima pagi.
Selalu aku yang bertanya. Selalu ia yang menjawab.
Tidak pernah sebaliknya.
“Kamu,” bisikku. “Kamu nanya aku?”
“Kali ini aku yang tanya.” Ia tersenyum. Kecil. Lelah. “Kamu yang rasain. Sekarang berapa?”
Aku menatap tanganku di dadanya.
Jantungnya berdetak di bawah telapak tanganku. Melalui kain kemeja koko yang tipis, melalui kulit dan tulang, aku bisa merasakannya. Denyut demi denyut. Seperti seseorang yang mengetuk pintu dari dalam.
Aku tidak tahu cara menghitungnya. Aku bukan dokter. Aku bukan Fikri. Aku tidak punya jam tangan yang menyala hijau.
Tapi aku mencoba. Aku memejamkan mata dan menghitung. Satu. Dua. Tiga. Empat.
Pelan.
Lebih pelan dari yang kukira. Lebih pelan dari yang pernah kurasakan. Di ruang editing, di darkroom, di bianglala, jantungnya selalu berlari di bawah tanganku. Seperti genderang. Seperti seseorang yang menaiki tangga dengan terburu-buru.
Sekarang jantungnya berjalan. Pelan. Hati-hati.
Lalu tiba-tiba lompat.
Satu ketukan yang terlalu cepat. Terlalu keras. Seperti seseorang yang tersandung di tangga. Lalu jeda. Jeda yang terlalu panjang. Aku menahan napas, menunggu ketukan berikutnya.
Datang. Pelan lagi.
Lalu lompat lagi.
Aku membuka mata. Menatapnya.
“Enam puluh...” Aku ragu. “Enam puluh... tujuh? Aku nggak tahu. Aku nggak bisa hitung.”
Evan tertawa kecil. Tawa yang lelah.
“Enam puluh tujuh,” katanya. “Hampir benar. Enam puluh empat.”
Aku menatapnya. Lalu menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Layarnya menyala hijau ketika tanganku bergerak di dadanya.
64.
Enam puluh empat.
Aku sedang duduk di sebelahnya. Tanganku di dadanya. Wajahku hanya beberapa senti dari wajahnya. Di ruang baca yang redup, dengan lampu kuning seperti madu.
Dua bulan lalu, dalam situasi seperti ini, jam tangannya sudah berbunyi. Seratus dua puluh. Seratus tiga puluh.
Sekarang enam puluh empat.
Aku tidak mengerti.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
“Kenapa apa?”
“Kenapa pelan?”
Evan menatapku. Lama. Dan aku melihat sesuatu bergerak di matanya. Sesuatu yang ia sembunyikan. Sesuatu yang berat.
“Aku capek,” katanya akhirnya. “Tiga hari nggak tidur. Jantungku juga capek.”
“Tapi tadi lompat. Kayak... kayak kesandung.”
“Itu biasa. Kalau capek.”
Aku menatapnya.
Aku ingin percaya. Aku sangat ingin percaya. Papa baru tiga hari dikubur. Aku tidak punya tenaga untuk satu ketakutan lagi.
Tapi ada sesuatu yang dingin di perutku. Sesuatu yang berbisik.
Dia nggak bisa lihat.
Kalau jantungnya enam puluh empat, ia tidak bisa melihat benang. Ia tidak bisa melihat benangku ke dia. Ia tidak bisa melihat apa pun.
Dan ia tidak terlihat takut.
Dua bulan lalu, Evan yang tidak bisa melihat benangku akan bersembunyi di toilet. Akan menaiki tangga darurat tiga kali. Akan memaksakan jantungnya sampai dunia berubah warna, hanya untuk memastikan.
Sekarang ia duduk di sebelahku dengan jantung enam puluh empat, dan ia tidak berusaha melihat.
Kenapa?
“Mika,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kamu tahu aku lihat apa di pemakaman.”
“Kamu bilang. Benang Papa naik.”
“Aku lihat yang lain juga.” Ia menatap foto anak perempuan di undakan tangga di dinding. “Aku naik ke bukit kecil di ujung pemakaman. Dari sana aku lihat semuanya. Ribuan benang. Dari ribuan makam. Naik ke langit. Semua.”
Aku menatapnya.
“Aku nggak pernah lihat itu sebelumnya,” katanya. “Dua belas tahun. Aku cuma lihat benang orang hidup. Ke orang hidup. Aku nggak pernah lihat berapa banyak cinta yang masih ada buat orang yang udah nggak ada.” Ia menelan ludah. “Banyak banget, Mika. Kayak hutan.”
Aku tidak bisa bicara.
“Dan di tengah semuanya,” lanjutnya, “ada satu yang paling tebal. Punyamu. Ke Papa. Naik. Dan turun lagi. Ke kamu.” Ia menatapku. “Papa belum pergi, Mika. Papa cuma pindah tempat berdiri.”
Aku menangis lagi.
Ia menarikku ke dadanya. Ke kemeja koko Papa yang terlalu besar. Aku bisa mencium wangi Papa di sana. Sabun batang dan minyak kayu putih dan kertas cetakan. Dan di bawahnya, wangi Evan. Sabun dan kertas foto dan sesuatu yang hangat seperti roti.
Dua wangi orang yang menungguku. Di satu kemeja.
Ia memelukku di karpet ruang baca, di sebelah kursi goyang yang kosong, di bawah foto anak perempuan yang dulu tidak punya siapa-siapa.
Dan aku mendengar jantungnya di bawah telingaku.
Pelan. Pelan. Lompat. Jeda. Pelan.
Seperti burung kecil yang kelelahan, yang sudah berhenti mengepak tapi sesekali masih tersentak dalam tidurnya.
Aku hampir mengatakannya malam itu.
Di pelukannya. Di karpet ruang baca. Dengan wajah di dadanya dan tangannya di rambutku.
Kalimat itu ada di sana. Di ujung lidahku. Tiga kata. Tidak, sekarang terasa lebih dari tiga kata. Terasa seperti seluruh dua belas tahun ingin keluar sekaligus, dalam satu tarikan napas, seperti ijab kabul Rendi yang gagap.
Aku cinta kamu. Aku cinta kamu dari umur tiga belas. Aku cinta kamu waktu kamu nangis karena soto tumpah. Aku cinta kamu waktu kamu jual foto itu. Aku cinta kamu waktu kamu sembunyi di toilet. Aku cinta kamu waktu kamu putusin aku pakai WhatsApp. Aku cinta kamu waktu kamu duduk di bangku besi empat jam meluk boneka beruang. Aku cinta kamu sekarang, di kemeja Papa yang kebesaran, dengan jantung yang pelan dan kesandung-sandung.
Aku cinta kamu dan aku nggak tahu cara bilangnya.
Aku mengangkat kepala dari dadanya.
Ia menatapku. Menunggu.
Ia selalu menunggu sekarang. Ia sudah belajar.
“Evan,” kataku.
“Hm.”
“Aku...”
Bibirku bergetar. Tenggorokanku menutup. Kata-kata itu menumpuk di belakang gigi seperti air di balik bendungan.
Lalu, dari bawah, terdengar suara.
Suara Ibu Evan. Keras. Tertawa. Dan suara laki-laki lain, berat, sopan, yang ikut tertawa.
Dan suara kursi goyang yang berderit.
Aku menoleh. Kursi goyang di sebelah kami bergoyang. Pelan. Sendiri. Berderit.
Mungkin karena aku bersandar terlalu keras tadi. Mungkin karena angin dari jendela yang sedikit terbuka. Mungkin karena lantai kayu tua di ruang baca tidak rata.
Mungkin.
Lagu Papa ada di sini.
Aku menatap kursi itu. Bergoyang. Berderit. Pelan. Lalu berhenti.
Kata-kata di tenggorokanku hilang. Kembali ke tempat mereka bersembunyi selama dua belas tahun.
Aku menunduk. Menyandarkan dahiku kembali ke dadanya.
“Nanti,” bisikku. “Nanti aku bilang.”
Evan tidak memaksa. Ia mengusap rambutku.
“Oke,” katanya. “Aku tunggu.”
Ia tertidur di karpet ruang baca pukul satu pagi. Bersandar ke kaki kursi goyang. Dengan kepala miring dan mulut sedikit terbuka. Kemeja koko Papa terbuka satu kancing di leher.
Aku tidak tidur.
Aku duduk di sebelahnya dan menatap jam tangan di pergelangan tangannya, yang menyala hijau setiap kali ia bergerak dalam tidur.
Enam puluh satu. Lima puluh delapan. Enam puluh dua.
Lalu tiba-tiba: seratus dua puluh tujuh.
Dalam tidur. Tanpa bergerak. Tanpa mimpi buruk yang terlihat.
Seratus dua puluh tujuh, selama tiga detik. Lalu turun lagi. Enam puluh. Lima puluh sembilan.
Aku menatap angka itu.
Lalu aku menatap wajahnya. Tenang. Tertidur. Tidak tahu.
Aku meletakkan tanganku di dadanya lagi. Pelan. Supaya tidak membangunkannya.
Pelan. Pelan. Pelan.
Lalu lompat. Keras. Seperti seseorang yang menendang dari dalam.
Lalu jeda.
Jeda yang terlalu panjang.
Aku menahan napas. Satu detik. Dua detik.
Ketukan berikutnya datang.
Aku menghembuskan napas. Tanganku gemetar di dadanya.
Aku capek. Jantungku juga capek.
Itu biasa. Kalau capek.
Aku tidak tahu apa yang biasa dan apa yang tidak. Aku bukan dokter. Aku tidak bisa melihat benang. Aku tidak bisa melihat apa pun di dalam dadanya.
Aku hanya bisa merasakan.
Dan yang kurasakan, di bawah telapak tanganku, di ruang baca Papa pukul satu pagi, adalah sesuatu yang membuat perutku dingin dan dadaku sesak.
Aku mengambil ponselku dari saku. Membuka kontak.
dr. Fikri.
Aku belum pernah meneleponnya. Lulu yang menyimpan nomornya di ponselku, minggu lalu, dengan catatan untuk keadaan darurat.
Aku menatap nama itu lama.
Lalu menatap Evan yang tertidur.
Lalu kursi goyang yang kosong.
Jangan ambil waktu dia.
Papa tidak mengatakan itu padaku. Papa mengatakan itu pada Evan. Aku tidak tahu. Aku tidak ada di ruangan itu.
Tapi aku tahu bagaimana rasanya seseorang mengambil waktuku. Tiga bulan. Papa bilang maag. Papa bilang kecapekan. Papa bilang jangan pulang, Mika, Papa baik-baik aja.
Aku capek. Jantungku juga capek.
Aku mengetik pesan.
Aku: dr. Fikri. Ini Mika. Maaf mengganggu tengah malam.
Aku: Jantung Evan. Ada yang aneh. Pelan banget, terus tiba-tiba lompat, terus jeda lama. Tadi waktu tidur sempat 127.
Aku: Dia bilang cuma kecapekan.
Aku: Itu beneran cuma kecapekan?
Kirim.
Satu centang. Dua centang. Dua centang biru. Hampir seketika.
dr. Fikri sedang mengetik...
Berhenti.
Sedang mengetik...
Berhenti.
Lama.
Lalu, satu pesan.
dr. Fikri: Mika. Besok pagi, sebelum Evan bangun, buka laci dapur di studionya. Di belakang toples decaf.
dr. Fikri: Maaf. Saya udah janji sama dia satu minggu. Satu minggunya habis besok.
dr. Fikri: Saya nggak bisa nunggu lagi.
Aku menatap pesan itu.
Lalu menatap Evan, yang tertidur di karpet ruang baca Papa dengan kemeja koko yang kebesaran, dengan jantung yang pelan dan kesandung-sandung di bawah tanganku.
Ia tersenyum dalam tidurnya. Sedikit. Seperti sedang bermimpi tentang sesuatu yang baik.
Aku tidak tidur sampai subuh.
Aku duduk di sebelahnya, dengan tangan di dadanya, menghitung setiap ketukan. Menunggu setiap jeda. Menahan napas di setiap lompatan.
Seperti dua belas tahun lalu, di anak tangga ketiga, menatap gerbang.
Menunggu sesuatu yang aku tidak tahu apakah akan datang.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya reading
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?