Chapter Twenty Six
Aku Udah Tahu
POV: Evan
Dodo datang ke studio hari Senin pagi dengan kaos baru.
Kaos putih polos, dengan tulisan hitam besar di dada yang jelas dicetak di tukang sablon kaki lima di Jalan Cihampelas, karena huruf-hurufnya sedikit miring dan tintanya sudah retak di beberapa tempat:
LULU ITU NYATA. SAYA SUDAH BUKTIKAN.
“Dod,” kataku.
“Ya, Bang?”
“Kamu nggak boleh pakai itu ke venue.”
“Kenapa, Bang?”
“Karena itu kaos konspirasi.”
“Ini bukan konspirasi, Bang. Ini fakta ilmiah.” Ia menepuk dadanya dengan bangga. “Konspirasi itu sesuatu yang belum terbukti. Lulu sudah terbukti. Di lift. Pakai clipboard.”
“Lulu tahu kamu bikin kaos itu?”
Dodo diam sebentar. Wajahnya berubah sedikit.
“Mbak Lulu bilang kaos ini tidak sesuai standar profesional,” katanya. “Terus dia minta dibikinin satu.”
Aku menatapnya.
“Ukuran S,” lanjut Dodo, dengan wajah orang yang baru saja diberitahu bahwa ia memenangkan hadiah Nobel. “Warna hitam. Tulisannya beda. Dia yang tentuin.”
“Tulisannya apa?”
Dodo mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan foto kertas yang ditulis tangan dengan tulisan kecil dan rapi milik Lulu:
DODO ITU BERBAHAYA. SAYA SUDAH CATAT.
Aku menutup mataku. Lalu tertawa. Tawa yang pertama dalam beberapa hari yang tidak dipaksa.
Dodo nyengir lebar. Lalu, pelan, wajahnya berubah serius.
“Bang,” katanya. “Abang jadi ngomong sama dr. Fikri?”
Tawaku berhenti.
Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Di bawah pohon trembesi di taman rumah sakit, dengan tangan Bima yang meremukkan buku-buku jariku.
Lain kali aku melihat benang yang tidak kumengerti, aku akan bertanya.
Benang Nadia ke Arman tidak perlu kutanyakan. Aku mengerti benang itu. Dua benang, saling, setebal tali sepatu, bergetar hangat. Aku sudah melihatnya tiga minggu lalu di taman kecil penuh tanaman cabai, dan aku memilih diam.
Karena aku pengecut. Karena aku tidak mau menghancurkan sahabatku. Karena aku tidak punya bukti selain mata yang tidak bisa kujelaskan.
Tapi sekarang aku tahu sesuatu yang tidak kutahu tiga minggu lalu.
Aku tahu rasanya memutuskan sesuatu berdasarkan apa yang kulihat, tanpa bertanya. Aku tahu rasanya menyimpan sesuatu sendirian sampai sesuatu itu membusuk di dalam dada.
Dan aku tahu bahwa Mikaela, yang berlari tiga ratus meter tanpa sepatu, lebih memilih sakit karena tahu daripada bahagia karena dibohongi.
Kalau aku jadi Fikri, aku mau tahu.
Aku tidak tahu apakah Fikri akan mau tahu.
Tapi aku tahu aku tidak bisa terus menjadi orang yang melihat semuanya dan tidak mengatakan apa-apa.
Aku datang ke rumah Fikri hari Kamis malam. Seperti biasa. Tradisi. Tiga tahun.
Rumah di Antapani itu terlihat sama dari luar. Tanaman cabai di taman depan. Lampu teras yang menyala kuning. Mobil Fikri di garasi.
Mobil Nadia tidak ada.
Fikri membukakan pintu dengan kaos oblong abu-abu dan celana training. Rambutnya berantakan. Ada bayangan gelap di bawah matanya, lebih gelap dari yang kulihat di syukuran. Ia tersenyum ketika melihatku.
“Van. Masuk. Nadia lembur lagi.”
Ia mengatakannya dengan santai. Seperti mengatakan Nadia ke pasar.
Aku masuk.
Rumahnya berantakan. Bukan berantakan biasa. Berantakan rumah yang sudah beberapa minggu tidak ditinggali dengan benar. Piring-piring kotor menumpuk di wastafel. Bungkus mie instan di meja makan. Bunga di vas dekat jendela sudah layu dan kering, kelopaknya jatuh di sekitar vas seperti konfeti dari pesta yang sudah lama selesai.
Meja makan, yang biasanya penuh piring sate dan tiga jenis sambal dengan label tulisan tangan Nadia, kosong.
“Aku pesen nasi Padang,” kata Fikri, mengambil dua bungkus dari kantong plastik di dapur. “Nggak ada yang masak. Aku nggak bisa masak. Kamu tahu itu.”
“Iya.”
Kami makan di meja makan yang kosong. Fikri bicara tentang IGD. Tentang pasien yang datang dengan serangan jantung karena makan sate kambing lima puluh tusuk. Tentang perawat baru yang pingsan waktu lihat darah. Ia bicara dengan nada yang sama dengan biasanya, dengan lelucon-lelucon yang sama dengan biasanya.
Tapi ia tidak menyebut Nadia sekali pun.
Aku meletakkan sendokku.
“Fik.”
“Hm?”
“Aku mau ngomong sesuatu.”
Fikri berhenti mengunyah. Menatapku. Lalu, pelan, meletakkan sendoknya juga.
“Oke,” katanya.
Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan tujuh.
“Aku bisa lihat sesuatu,” kataku. “Dari umur tujuh belas.”
Fikri tidak bereaksi. Ia hanya menatapku.
“Kalau detak jantungku di atas seratus dua puluh,” lanjutku, “aku bisa lihat benang. Benang merah. Dari tiap orang ke orang yang mereka cintai. Kalau mereka saling cinta, benangnya dua. Kalau cintanya besar, benangnya tebal. Kalau cintanya hilang, benangnya tipis. Lalu putus.”
Hening.
Aku menunggu Fikri tertawa. Atau menatapku seperti orang gila. Atau mengambil stetoskop dan memeriksa apakah aku demam.
Fikri tidak melakukan apa pun. Ia hanya duduk di sana, menatapku, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Itu kenapa kamu pingsan di Sumedang,” katanya akhirnya. Pelan.
Aku menatapnya.
“Dua tahun lalu,” lanjut Fikri. “Detakmu seratus enam puluh. Kamu bilang serangan panik. Aku nggak percaya. Serangan panik nggak bikin orang natap udara kosong kayak natap hantu.” Ia mengusap wajahnya dengan dua tangan. “Itu kenapa aku pasang aplikasi itu. Aku nggak tahu apa yang kamu lihat. Tapi aku tahu kamu lihat sesuatu.”
“Kamu percaya?”
“Aku kardiolog, Van. Aku percaya sama data.” Ia menurunkan tangannya. “Dan datamu nggak pernah masuk akal. Jantungmu nggak pernah naik karena olahraga. Jantungmu naik karena orang. Selalu karena orang.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Fikri menatapku lama. Lalu menatap meja makan yang kosong. Lalu vas bunga layu di dekat jendela.
“Kamu mau bilang soal Nadia,” katanya. Bukan pertanyaan.
Jantungku berhenti sebentar.
“Fik...”
“Kamu lihat benangnya. Di ulang tahun pernikahan kami.” Suaranya datar. Sangat datar. “Waktu kamu tiba-tiba pucat di samping panggangan sate. Waktu kamu natap Nadia, terus natap teras. Waktu kamu keluar ke taman dan nggak balik-balik.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Kamu lihat benangnya ke Arman,” kata Fikri.
Aku menunduk.
“Iya,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar. “Benangnya ke kamu tipis, Fik. Dan benangnya ke Arman... tebal. Dua-duanya. Saling.”
Hening.
Lama.
Aku mengangkat kepala, siap menghadapi apa pun. Marah. Tangis. Tidak percaya.
Fikri tersenyum.
Senyum yang paling menyakitkan yang pernah kulihat di wajah siapa pun.
“Aku udah tahu, Van,” katanya pelan. “Aku nggak perlu benang buat tahu.”
Ia bercerita.
Pelan. Dengan suara yang datar dan tenang, seperti dokter yang sedang menjelaskan diagnosis kepada keluarga pasien. Seperti seseorang yang sudah mengulang cerita ini di kepalanya ribuan kali sampai semua emosinya terkikis habis.
Enam bulan lalu, Nadia mulai pulang larut. Deadline. Empat bulan lalu, Nadia mulai membawa ponsel ke kamar mandi. Tiga bulan lalu, Nadia mulai tertawa dengan cara yang berbeda waktu membaca pesan di ponselnya. Lebih lembut. Lebih tinggi. Seperti anak gadis.
“Aku pernah denger tawa itu,” kata Fikri. “Dulu. Waktu kami pacaran. Waktu dia baca pesanku.”
Dua bulan lalu, Fikri menemukan struk restoran di saku jaket Nadia. Restoran Jepang di Dago. Dua porsi. Hari Kamis. Hari yang sama dengan makan malam kami, ketika Nadia bilang ia lembur.
“Aku nggak tanya,” kata Fikri. “Aku simpen struknya. Di laci. Aku pikir, mungkin sama klien. Mungkin sama teman kantor. Mungkin...”
Ia berhenti.
“Sebulan lalu, aku lihat mereka,” katanya. “Di parkiran kantornya. Aku mau jemput dia, kasih kejutan, karena dia bilang lembur lagi. Aku bawa martabak kesukaannya. Aku parkir di seberang jalan.” Ia tertawa kecil. Tawa yang kosong. “Mereka keluar bareng. Arman bukain pintu mobil buat dia. Dia ketawa. Pakai tawa itu.”
“Fik...”
“Aku pulang. Martabaknya aku makan sendiri di mobil. Di parkiran Indomaret di Antapani. Habis satu loyang.” Ia menatap meja makan. “Martabak telur. Spesial. Dua telur bebek. Aku nggak suka martabak telur. Itu kesukaan Nadia.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Terus ulang tahun pernikahan,” kata Fikri. “Dia undang Arman. Ke rumah kita. Di ulang tahun pernikahan kita.” Ia menatapku. “Dan aku pidato. Pakai stetoskop. Nadia, Nadia, Nadia.“
“Kenapa?” Suaraku pecah. “Kenapa kamu pidato kayak gitu kalau kamu udah tahu?”
Fikri menatapku lama.
“Karena aku mau dia dengar,” katanya. “Satu kali lagi. Sebelum dia pergi. Aku mau dia tahu bahwa jantungku masih bunyi namanya. Bahkan setelah semuanya.” Ia tersenyum lagi. Senyum yang patah. “Aku pikir, mungkin kalau dia dengar, dia bakal... balik.”
“Dan?”
“Dan dia peluk aku. Erat banget.” Fikri menunduk. “Terus dia lirik Arman dari balik bahuku.”
Aku ingat. Aku melihatnya juga.
“Kamu lihat?” tanya Fikri.
“Aku lihat.”
“Sepersekian detik.”
“Sepersekian detik.”
Fikri mengangguk pelan. Seperti seseorang yang baru saja dikonfirmasi diagnosisnya oleh dokter kedua.
“Dia pergi dua minggu lalu,” katanya. “Nggak ngumpet-ngumpet. Nggak kayak Sasha-mu. Dia duduk di sini. Di kursi yang kamu duduki sekarang. Dia bilang dia minta maaf. Dia bilang dia nggak bermaksud. Dia bilang itu terjadi gitu aja.” Fikri menatap kursiku. “Dia bilang dia masih sayang aku. Tapi beda.”
Beda.
Benang setipis benang jahit. Masih ada. Masih bergetar. Tapi beda.
“Aku nggak marah,” kata Fikri. “Itu yang aneh. Aku nggak marah sama sekali. Aku cuma... capek. Kayak habis jaga IGD tujuh puluh dua jam nonstop.” Ia menatapku. “Van, kamu mau tahu apa yang paling sakit?”
Aku tidak menjawab.
“Yang paling sakit itu, dia nggak bohong.” Suaranya akhirnya pecah. Sedikit. Di ujung. “Dia nggak pernah bilang kamu terlalu curigaan. Dia nggak pernah bilang aku nggak ke mana-mana. Dia cuma... pelan-pelan pergi. Dan aku lihat. Tiap hari. Tanpa benang. Tanpa jam tangan. Tanpa apa-apa. Aku cuma lihat pakai mata biasa.”
Ia mengusap matanya dengan punggung tangan.
“Ternyata nggak perlu mata aneh buat lihat orang yang kamu sayang pelan-pelan pergi, Van. Mata biasa juga bisa.”
Kami duduk di meja makan yang kosong sampai pukul sepuluh malam. Nasi Padang dingin di bungkusnya. Fikri tidak menangis lagi. Aku juga tidak.
Kami hanya duduk.
Lalu terdengar suara mobil di depan rumah.
Fikri menegang. Aku melihatnya. Bahunya, tangannya di atas meja, rahangnya. Semuanya menegang sekaligus, seperti hewan yang mendengar langkah pemburu.
Pintu depan terbuka. Langkah sepatu hak di lantai.
Nadia masuk ke ruang makan.
Ia memakai blazer abu-abu dan celana panjang, pakaian kantor. Rambut pendeknya dirapikan dengan jepit mutiara yang sama dengan di ulang tahun pernikahan. Di tangannya ada beberapa tas kertas kosong yang dilipat.
Ia berhenti begitu melihatku.
“Van,” katanya pelan.
“Nad.”
Ia menatap Fikri. Fikri menatap meja.
“Aku cuma mau ambil sisa barang,” kata Nadia. Suaranya hati-hati. “Buku-buku. Sama baju yang di lemari atas. Aku udah bilang ke Fikri lewat WhatsApp.”
“Iya,” kata Fikri, tanpa mengangkat kepala. “Ambil aja.”
Nadia berdiri di ambang pintu ruang makan beberapa detik lagi. Menatap meja yang kosong. Bungkus nasi Padang. Vas bunga layu di dekat jendela.
Aku melihat matanya berkaca-kaca sebentar. Lalu ia berbalik dan naik ke lantai atas.
Jantungku melompat.
Lagi. Tanpa izin. Burung kecil di rusukku menabrak dinding sangkarnya. Seratus dua puluh. Seratus tiga puluh. Seratus tiga puluh dua.
Rumah di Antapani berubah warna.
Aku tidak mau melihat. Aku tidak punya pilihan.
Dari dada Fikri, sebuah benang. Setebal tali sepatu. Masih. Bergetar. Hangat. Menjulur ke atas, ke arah tangga, ke arah lantai dua tempat Nadia sedang mengemasi buku-buku dan baju dari lemari atas.
Mencari.
Dan dari arah tangga, dari lantai dua, tidak ada yang kembali.
Tidak ada benang dari Nadia ke Fikri.
Bukan setipis benang jahit. Bukan setipis rambut. Tidak ada. Hanya udara kosong di tempat benang itu dulu menjulur, tiga tahun, dari dada perempuan yang tertawa sampai matanya menyipit jadi garis di Gedung Sate.
Putus.
Benang Fikri ke Nadia menggantung di udara. Tebal. Hangat. Bergetar. Tanpa ujung yang menerimanya.
Benang yang tidak dibalas selalu terlihat lebih menyakitkan daripada benang yang putus.
Aku menatap sahabatku. Fikri, yang duduk di meja makan dengan kepala tertunduk dan tangan yang mengepal di atas taplak. Fikri, dengan benang yang menjulur dari dadanya ke lantai atas, mencari, dan tidak menemukan apa-apa.
Aku melihat diriku sendiri. Lima tahun lalu. Di kontrakan di Sekeloa. Dengan lemari kosong dan benang yang menggantung keluar pintu.
“Fik,” bisikku.
Fikri mengangkat kepalanya. Menatapku. Lalu menatap jam tanganku, yang layarnya menyala hijau.
“Seratus tiga puluh dua,” katanya, membaca layarnya. Pelan. “Kamu lagi lihat.”
Aku tidak menjawab.
“Benangnya udah nggak ada, kan?” tanya Fikri. “Dari dia ke aku.”
Aku menatapnya. Aku tidak bisa berbohong. Aku tidak akan berbohong lagi. Aku sudah berjanji.
“Udah nggak ada, Fik.”
Fikri mengangguk. Pelan. Seperti dokter yang menerima hasil lab yang sudah ia duga.
“Punyaku?” tanyanya. “Ke dia?”
Aku menatap benang setebal tali sepatu yang menjulur dari dadanya ke tangga.
“Masih ada.”
Fikri menatapku lama. Lalu tertawa. Tawa yang pecah, yang serak, yang berubah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan.
“Bodoh, ya,” katanya. “Benangku sendiri.”
Ia menunduk. Bahunya bergetar.
Aku berdiri. Berjalan memutari meja makan. Duduk di kursi di sebelahnya. Dan memeluknya.
Fikri tidak membalas pelukanku. Ia hanya duduk di sana, kaku, dengan bahu yang bergetar dan wajah yang tertunduk. Tapi ia tidak menepisku juga.
Dari lantai atas, terdengar suara lemari yang ditutup. Langkah sepatu hak di tangga. Nadia turun dengan tiga tas kertas yang penuh.
Ia berhenti di ambang pintu ruang makan. Melihat kami berdua. Fikri yang tertunduk. Aku yang memeluknya.
Aku melihat wajahnya. Matanya basah. Bibirnya gemetar. Ia mengangkat satu tangan, seperti mau mengatakan sesuatu.
Lalu menurunkannya lagi.
“Maaf,” bisiknya. Hanya itu.
Ia pergi. Pintu depan tertutup. Suara mobil menyala dan menjauh.
Benang Fikri ke arahnya memanjang, keluar pintu, ke jalan, ke arah mobil yang menjauh. Makin panjang. Makin panjang.
Tidak menipis.
Tidak putus.
Hanya menggantung, mencari, di udara malam Antapani.
Aku pulang hampir tengah malam. Fikri menyuruhku pulang. Ia bilang ia baik-baik saja. Ia bilang ia mau tidur. Ia bilang besok ada jaga pagi.
Di pintu, sebelum aku pergi, ia menahan lenganku.
“Van.”
“Hm?”
“Foto di dinding studiomu. Foto pernikahan kami. Yang di Gedung Sate.”
Aku menunggu.
“Turunin, ya,” katanya. Pelan. “Bukan dibuang. Turunin aja. Aku nggak sanggup bayangin dia masih ketawa di sana. Tiap hari. Diliatin orang.”
Aku menatapnya. Lalu mengangguk.
“Oke, Fik.”
Ia melepaskan lenganku. Lalu, ketika aku sudah sampai di pagar, ia memanggil lagi.
“Van.”
Aku menoleh.
Fikri berdiri di ambang pintu, dengan lampu teras di belakangnya yang membuat wajahnya gelap.
“Kamu matiin sinkronisasi jam tanganmu ke aplikasiku,” katanya. “Sejak dua minggu lalu.”
Aku membeku.
“Aku lihat datamu terakhir,” lanjutnya. Suaranya berubah. Bukan suara sahabat yang patah hati. Suara dokter. “Sebelum kamu matiin. Ada lonjakan-lonjakan aneh. Tanpa pemicu. Seratus empat puluh, waktu kamu lagi diem. Pola yang nggak teratur.”
“Aku kecapekan, Fik.”
“Van.”
“Beneran. Kurang tidur.”
Fikri menatapku lama dari ambang pintu.
“Nyalain lagi sinkronisasinya,” katanya. “Besok. Aku serius.”
“Fik, kamu lagi...”
“Aku lagi patah hati. Aku tahu.” Ia tersenyum, senyum kecil dan lelah. “Tapi jantungku masih bisa kerja. Jantungmu yang aku khawatirin.”
Aku tidak menjawab.
Aku masuk ke mobil. Menyalakan mesin. Menyetir pulang dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam.
Di lampu merah Jalan Supratman, jantungku melompat lagi.
Seratus empat puluh satu. Tanpa alasan. Tanpa siapa pun di mobil.
Burung kecil di rusukku menabrak dinding sangkarnya begitu keras sampai aku harus mencengkeram setir dan menunduk sampai dahiku menempel di setir.
Dunia merah. Tidak ada benang di mobil, kecuali benangku sendiri. Ke Ibu. Dan ke arah Rumah Sakit Borromeus, ke arah perempuan yang sedang tidur di sofa penunggu yang terlalu pendek.
Mobil di belakangku membunyikan klakson. Lampu sudah hijau.
Aku menarik napas. Empat hitungan. Tahan tujuh. Buang delapan.
Enam kali sebelum aku bisa menyetir lagi.
Aku tidak menyalakan sinkronisasi jam tanganku malam itu.
Aku tidak menyalakannya besok.
Hari Sabtu, sebelum berangkat ke venue, aku menurunkan foto pernikahan Fikri dan Nadia dari dinding studio.
Pelan. Dengan hati-hati. Dodo memegangi tangga.
Nadia tertawa di foto itu. Sampai matanya menyipit jadi garis. Fikri menatapnya seperti orang yang baru memenangkan lotre tapi takut tiketnya hilang.
Ternyata ia benar untuk takut.
Aku membungkus foto itu dengan kertas cokelat dan menyimpannya di gudang di lantai atas, di sebelah kotak sepatu berisi negatif-negatif lama.
Di dinding, di tempat foto itu tergantung tiga tahun, sekarang ada persegi panjang yang warnanya sedikit lebih terang dari dinding di sekitarnya. Bekas. Seperti bayangan sesuatu yang dulu ada.
Dodo menatap bekas itu lama.
“Bang,” katanya pelan. “Itu kayak... benang yang putus, ya?”
Aku menatapnya.
“Iya, Dod,” kataku. “Kurang lebih.”
Dodo menatap bekas itu sekali lagi. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia mengeluarkan ponselnya, membuka percakapan dengan Lulu, dan mengetik sesuatu.
Aku tidak melihat apa yang ia ketik.
Tapi aku melihat wajahnya waktu mengetik. Wajah seseorang yang baru saja menyadari bahwa sesuatu yang berharga bisa hilang, dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu hari ini, bukan besok.
Lalu ia memasukkan ponselnya ke saku, nyengir padaku, dan berkata, “Ayo, Bang. Pernikahan kesembilan. Jangan telat.”
Aku mengikutinya keluar studio.
Jantungku seratus sepuluh. Tanpa alasan.
Aku tidak bilang apa-apa.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu reading
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?