← Gadis Tanpa Benang

Chapter Thirty Three

Pernikahan Kesepuluh: Jaket

POV: Mika

Pernikahan kesepuluh adalah pernikahan pertama dalam kontrak yang kutangani tanpa Evan.

“Mas Evan sakit,” kata Dodo di parkiran Gedung Sabuga pukul enam pagi, dengan tiga tas kamera di bahunya dan seorang fotografer cadangan di sebelahnya. Fotografer cadangan itu bernama Wawan, umur dua puluh tiga, dengan rambut cepak dan kaos band metal, yang Dodo rekrut dari grup WhatsApp fotografer Bandung tadi malam. “Abang bilang, Abang minta maaf. Abang bilang hasil fotonya tetap Abang yang edit.”

“Dia sakit apa?” tanyaku, meskipun aku sudah tahu.

Dodo menatapku. Lalu menatap aspal parkiran.

“Mbak sudah tahu, Mbak.”

Aku tidak menjawab.

Tiga hari sejak ruang praktik Fikri. Tiga hari sejak strip-strip tablet putih berserakan di lantai. Tiga hari sejak aku berjalan keluar dengan langkah yang berat dan tidak menoleh.

Ia mengirim pesan setiap hari. Satu pesan. Pagi hari.

Hari pertama: Aku minum obatnya. Pagi ini. Satu tablet.

Hari kedua: Aku minum obatnya. Pagi ini. Satu tablet. Jantungku 64.

Hari ketiga, pagi tadi: Aku minum obatnya. Aku nggak bisa lihat apa-apa. Dunia nggak pernah merah lagi. Aku kangen kamu.

Aku membaca ketiga pesan itu puluhan kali. Aku tidak membalas satu pun.

Bukan karena aku marah. Aku tidak tahu apakah aku marah.

Aku tidak membalas karena aku tidak tahu harus bilang apa. Karena setiap kali aku mengetik sesuatu, yang keluar hanyalah kalimat-kalimat yang terdengar seperti Papa. Jangan ambil waktuku. Jangan bilang kamu baik-baik aja. Jangan.

Dan aku tidak mau jadi orang yang hanya bisa bilang jangan.


Pengantinnya, Dika dan Saras, adalah pasangan yang aneh dengan cara yang menyenangkan.

Dika seorang pemadam kebakaran di Dinas Damkar Kota Bandung. Tinggi, kekar, dengan suara yang terbiasa berteriak di tengah suara sirene dan tangan yang penuh bekas luka bakar kecil. Saras seorang perawat di ICU Rumah Sakit Santosa. Kecil, tenang, dengan wajah yang terbiasa menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien.

Mereka bertemu di IGD tiga tahun lalu, ketika Dika dibawa masuk dengan luka bakar di lengan setelah menyelamatkan seorang nenek dari kebakaran rumah di Cicadas. Saras yang merawatnya. Ia memarahi Dika karena masuk ke rumah yang terbakar tanpa menunggu bantuan. Dika memarahinya balik karena terlalu galak pada pasien. Mereka bertengkar selama tiga hari perawatan.

Di hari keempat, Dika keluar dari rumah sakit. Di hari kelima, ia kembali. Bukan sebagai pasien. Dengan bunga.

“Saya takut tiap hari, Mbak,” kata Saras padaku di ruang rias, sambil penata rias memasang siger Sunda di kepalanya. “Tiap kali ada sirene. Tiap kali dia nggak angkat telepon. Tiap kali saya lihat berita kebakaran.”

“Terus kenapa kamu nikah sama dia?”

Saras menatapku dari cermin. Lalu tersenyum. Senyum perawat ICU. Senyum yang sudah melihat banyak orang pergi.

“Karena saya lebih takut nggak nikah sama dia, Mbak,” katanya. “Takut kehilangan dia itu satu hal. Tapi nggak pernah punya dia sama sekali, itu kehilangan yang lebih besar.”

Aku menatapnya lama.

Penata rias menyelesaikan siger. Saras berdiri. Merapikan kebayanya. Lalu menatapku lagi.

“Mbak kenapa? Mbak kelihatan kayak mau nangis.”

“Nggak apa-apa,” kataku. “Kamu cantik.”

“Bohong. Mbak yang cantik. Saya cuma rapi.” Ia tertawa. Lalu berhenti. Menatapku dengan mata perawat ICU yang sudah terlatih membaca wajah orang. “Mbak lagi takut kehilangan seseorang, ya?”

Aku tidak menjawab.

Saras menepuk tanganku. Pelan. Dua kali.

“Jangan takut sendirian, Mbak,” katanya. “Itu yang paling berat. Takut sendirian.”


Hari itu, aku melihat diriku sendiri lewat mata orang lain berkali-kali, seperti di pernikahan kelima.

Bedanya, kali ini yang mereka lihat bukan perempuan cantik yang tersenyum.

“Mbak Mika pucat,” kata ibu pengantin perempuan. “Sudah sarapan?”

“Mbak Mika, matanya merah. Kurang tidur?” kata kepala katering.

“Mbak, Mbak nggak apa-apa?” kata MC, yang sudah bekerja denganku di tiga pernikahan dan selalu memanggilku Bu Bos. “Biasanya Mbak marahin saya kalau saya telat lima menit. Saya telat lima belas menit, Mbak diam aja.”

Bahkan Wawan, fotografer cadangan dengan kaos band metal, menatapku dari balik kameranya di sela-sela sesi foto keluarga dan berkata, “Mbak, maaf, Mbak boleh senyum dikit nggak? Mbak masuk frame terus, tapi mukanya kayak lagi di pemakaman.”

Aku menatapnya. Ia langsung menunduk dan menggumamkan maaf.

Dodo, yang berdiri di sebelahnya, menyikut rusuknya keras-keras.

“Wan,” desisnya. “Mbak Mika baru seminggu ditinggal papanya.”

Wawan menjadi pucat. “Ya Allah, Mbak. Maaf. Saya nggak tahu.”

“Nggak apa-apa,” kataku.

Aku memang tidak apa-apa. Aku memakai gaun hitam sederhana dengan lengan panjang, yang kupilih karena aku tidak sanggup memakai warna lain. Rambutku dikuncir rendah. Riasanku hampir tidak ada. Aku tidak memilih apa pun untuk lensa siapa pun hari ini.

Karena hari ini tidak ada lensa yang perlu kuperhatikan.

Ia tidak ada di sini.

Untuk pertama kalinya dalam sembilan pernikahan, aku bergerak di antara tamu-tamu dan tidak merasakan seseorang menatapku dari balik kamera. Tidak ada bahu yang miring ke kiri karena berat Leica tua. Tidak ada napas yang tertahan sebelum tombol rana ditekan. Tidak ada mata cokelat gelap yang mengikutiku dari seberang ruangan dan langsung berpaling begitu tertangkap.

Ruangan terasa lebih besar tanpanya. Lebih dingin.


Akad berjalan lancar. Dika mengucapkan ijab kabul dengan suara pemadam kebakaran yang menggelegar sampai ke parkiran. Saras menangis di balik tirai. Rekan-rekan Dika dari Damkar, dua puluh orang dengan seragam lengkap, bertepuk tangan dan membunyikan sirene kecil yang mereka bawa dari pos.

Pak penghulu hampir jatuh dari kursinya.

Dan di tengah semua kebisingan itu, Dika menatap istrinya yang baru saja keluar dari balik tirai, dengan kebaya putih dan siger dan air mata, dan berkata dengan suara yang tiba-tiba sangat pelan, hampir tidak terdengar di antara sirene:

“Aku pulang tiap malam. Aku janji. Apa pun yang terjadi di luar sana, aku pulang.”

Saras tersenyum. Air mata jatuh dari matanya.

“Kamu nggak bisa janji itu.”

“Aku tahu,” kata Dika. “Tapi aku janji juga.”

Aku harus keluar dari aula. Aku berdiri di tangga darurat Sabuga, sendirian, bersandar ke dinding beton yang dingin, dan menangis tanpa suara selama lima menit.

Aku pulang tiap malam.

Kamu nggak bisa janji itu.

Aku tahu. Tapi aku janji juga.

Lalu aku menghapus air mataku, merapikan rambutku, dan kembali ke aula.

Pernikahan ini milik Dika dan Saras. Bukan milikku.


Aku pulang ke rumah Papa pukul sepuluh malam.

Bukan apartemen. Rumah Papa. Di Setiabudi. Aku belum kembali ke apartemen sejak tahlilan. Aku tidak sanggup. Apartemen terasa terlalu jauh. Terlalu tinggi. Terlalu sepi.

Rumah Papa juga sepi. Bi Iyah pulang kampung ke Garut untuk tiga hari, menjenguk cucu pertamanya yang baru lahir. Rumah tua bergaya kolonial dengan jendela-jendela tinggi ini sekarang hanya berisi aku, dan suara jangkrik dari halaman, dan wangi pohon kemuning yang masuk dari celah jendela.

Aku tidak menyalakan lampu ruang tamu. Aku langsung naik ke ruang baca.

Kursi goyang. Selimut wol terlipat. Kacamata baca di atas majalah teka-teki silang. Bingkai kayu jati di dinding dengan foto anak perempuan di undakan tangga.

Dan jaket denim tua yang tergantung di sandaran kursi goyang.

Aku membawanya dari apartemen hari tahlilan pertama. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya mengambilnya dari sandaran kursi makan, memeluknya di dada, dan membawanya ke sini. Sejak itu jaket itu tergantung di kursi goyang Papa, di ruangan yang paling sering kumasuki.

Aku mengambilnya. Memakainya.

Terlalu besar. Bahuku tenggelam. Lengannya menutupi tanganku sampai ke ujung jari. Kancing logamnya dingin di kulitku.

Aku berbaring di karpet. Di sebelah kursi goyang. Meringkuk di dalam jaket itu seperti anak kucing di dalam kardus.

Wanginya sudah hampir hilang. Aku sudah mencucinya dua kali, dan sudah berbulan-bulan sejak ia terakhir memakainya. Hanya tinggal sedikit, sangat sedikit, di bagian kerah. Sabun dan kertas foto dan sesuatu yang hangat seperti roti.

Aku menarik kerah itu ke hidungku dan memejamkan mata.

Aku minum obatnya. Aku nggak bisa lihat apa-apa. Dunia nggak pernah merah lagi. Aku kangen kamu.

Aku tidur di karpet ruang baca dengan jaket denim tua sampai pukul tiga pagi.

Lalu aku bangun. Dan tidak bisa tidur lagi.


Pukul tujuh pagi, aku menyetir ke Cimahi.

Bengkel Kak Bima ada di Jalan Raya Cimahi, di deretan ruko satu lantai yang berimpitan dengan toko onderdil dan warung kopi. Papan namanya ditulis tangan dengan cat merah di atas seng: BENGKEL BIMA — SERVIS SEGALA MOTOR — HARGA BERSAHABAT. Di bawahnya, ditulis lebih kecil dengan cat biru yang jelas lebih baru: & LONTONG SAYUR TEH NENENG (DEPAN).

Teh Neneng sedang berdiri di depan gerobak lontongnya ketika aku turun dari mobil. Ia tersenyum malu-malu dan langsung menyiapkan sepiring lontong sayur tanpa aku minta.

“Teh Mika. Sarapan dulu.”

“Aku nggak lapar, Teh.”

“Kata Bang Bima, Teh Mika nggak pernah lapar. Kata Bang Bima, itu tandanya Teh Mika lagi sedih.” Teh Neneng menyodorkan piringnya. “Kalau lagi sedih, harus makan lontong. Biar sedihnya ada yang nemenin.”

Aku menatap piring lontong sayur dengan kuah santan kuning, telur rebus, dan kerupuk merah muda di atasnya. Lalu menatap Teh Neneng, yang suaranya hampir tidak terdengar, yang wajahnya merah karena malu bicara sepanjang itu.

Aku menerima piringnya.

Kak Bima keluar dari dalam bengkel dengan baju montir biru yang penuh noda oli, kunci inggris di tangan, dan wajah yang langsung berubah begitu melihatku.

“Dek.”

“Kak.”

Ia tidak bertanya. Ia mengambil dua kursi plastik dari dalam bengkel, meletakkannya di trotoar di sebelah gerobak lontong, dan duduk di salah satunya.

Aku duduk di kursi yang lain. Dengan piring lontong sayur di pangkuan dan jaket denim tua di bahu.

Lama kami diam. Motor-motor lewat di jalan raya. Asap knalpot. Klakson angkot. Suara kunci inggris dari bengkel sebelah.

“Mas Evan,” kata Kak Bima akhirnya.

Aku tidak menjawab.

“Dodo telepon saya. Semalam. Dia cerita semua.” Kak Bima memutar kunci inggris di tangannya. “Soal jantung. Soal operasi yang dibatalin. Soal obat yang nggak diminum.”

“Dodo cerita?”

“Dodo nggak bisa nyimpen rahasia, Dek. Kamu tahu itu.”

Aku hampir tertawa. Hampir.

“Dia juga cerita soal benang,” kata Kak Bima.

Aku menatapnya.

“Saya nggak ngerti,” lanjutnya. “Saya montir, Dek. Saya ngertinya mesin. Busi. Karburator. Rantai. Saya nggak ngerti benang merah dari dada orang.” Ia menggaruk tengkuknya. “Tapi saya ngerti satu hal.”

“Apa?”

“Mesin yang dipaksa terus, lama-lama jebol.” Ia menatap kunci inggris di tangannya. “Saya sering lihat. Motor yang tiap hari dipaksa ngebut. Pemiliknya nggak pernah ganti oli. Nggak pernah servis. Pokoknya tarik gas terus. Suatu hari mesinnya meledak di tengah jalan.”

Aku menatap lontong sayur di pangkuanku.

“Mas Evan kayak gitu,” kata Kak Bima. “Dari ceritanya Dodo. Dia maksa jantungnya terus. Bertahun-tahun. Buat lihat.”

“Aku tahu, Kak.”

“Dan kamu marah sama dia karena itu.”

“Aku nggak marah.”

“Kamu marah, Dek.” Kak Bima menatapku. “Kamu kabur dari ruang dokter. Kamu nggak bales pesannya tiga hari. Itu marah.”

Aku tidak menjawab.

“Kenapa?” tanya Kak Bima. “Kenapa kamu marah?”

Aku menatap jalan raya. Angkot hijau yang berhenti mendadak. Penjual koran di lampu merah. Anak sekolah yang berlari mengejar bus.

“Karena dia nggak mau berhenti lihat,” kataku akhirnya. Pelan. “Karena dia lebih milih mati daripada nggak bisa lihat benang aku ke dia. Karena dia nggak percaya sama aku. Bahkan sekarang. Bahkan setelah semuanya.”

Suaraku pecah.

“Dua belas tahun, Kak. Aku nunggu dia lihat. Dan sekarang dia udah lihat, dan dia tetap nggak percaya. Dia tetap mau ngawasin. Kayak aku Sasha. Kayak aku bakal pergi kapan aja.”

Kak Bima diam lama.

Lalu ia meletakkan kunci inggrisnya di trotoar. Memutar kursinya menghadapku. Menatapku dengan mata yang begitu mirip mataku sendiri.

“Dek,” katanya. “Saya mau tanya. Kamu udah pernah bilang ke dia?”

“Bilang apa?”

“Kamu tahu bilang apa.”

Aku membeku.

“Teh Neneng,” kata Kak Bima, tanpa menoleh ke gerobak di sebelahnya. “Dua tahun saya beli lontong tiap pagi. Saya nggak pernah bilang apa-apa. Saya pikir dia bakal tahu sendiri. Saya pikir dari cara saya beli, dari cara saya senyum, dari cara saya bayar pakai uang pas tiap hari biar dia nggak repot cari kembalian, dia bakal ngerti.”

Di sebelah kami, Teh Neneng berhenti mengaduk kuah santan. Wajahnya merah sampai ke telinga.

“Dia nggak ngerti,” lanjut Kak Bima. “Dia pikir saya cuma pelanggan yang suka lontong. Dua tahun. Dia bilang ke temannya, Bang Bima mah baik, tapi kayaknya nggak tertarik sama saya.” Ia tersenyum kecil. “Padahal saya udah naksir dari hari pertama.”

“Kak...”

“Dia nggak bisa baca pikiran saya, Dek. Nggak ada yang bisa.” Kak Bima menatapku. “Mas Evan bisa lihat benang. Oke. Hebat. Tapi lihat itu bukan sama dengan denger.”

Aku tidak bisa bicara.

“Kamu bikin dia lihat,” kata Kak Bima. “Dua belas tahun. Kamu pegang nadinya. Kamu bikin jantungnya naik. Kamu bikin dia lihat benangmu ke dia. Supaya kamu nggak perlu bilang.”

Ia mengulurkan tangannya yang besar dan penuh oli dan menyentuh kepalaku. Pelan. Canggung. Seperti di parkiran Ciater.

“Kamu takut bilang duluan,” katanya. “Dia takut nggak bisa lihat. Kalian berdua sama-sama penakut, Dek.”

Aku menatapnya.

“Dia butuh lihat karena dia nggak pernah denger,” lanjut Kak Bima pelan. “Dia nggak pernah denger kamu bilang. Jadi dia harus terus lihat buat yakin. Kalau dia berhenti lihat, dia nggak punya apa-apa lagi buat dipegang.”

Air mata jatuh dari mataku. Ke lontong sayur. Ke kuah santan kuning.

“Kalau kamu mau dia berhenti lihat,” kata Kak Bima, “kasih dia sesuatu yang lain buat dipegang.”


Teh Neneng menyodorkan tisu. Aku menerimanya. Kak Bima mengambil kunci inggrisnya dari trotoar dan kembali ke bengkel tanpa berkata apa-apa lagi.

Di pintu bengkel, ia berhenti. Menoleh.

“Dek,” katanya. “Papa bilang ke saya di rumah sakit. Malam terakhir. Waktu kamu ke kamar mandi.”

Aku menatapnya.

“Papa bilang, Nak Bima, adikmu itu jago nunggu. Paling jago se-Bandung. Tapi dia nggak pernah minta. Kalau suatu hari dia mau sesuatu, bantu dia minta.“

Ia tersenyum. Matanya basah.

“Jadi saya bantu, Dek. Sekarang. Kamu mau apa dari Mas Evan?”

Aku menatap kakakku. Laki-laki besar berewok dengan baju montir penuh oli, yang mencari aku enam tahun dengan motor butut, yang membuat bolu pisang enam kali sampai gulanya benar.

“Aku mau dia hidup,” bisikku.

“Terus?”

“Aku mau dia operasi.”

“Terus?”

Aku menelan ludah. Tenggorokanku sakit.

“Aku mau dia percaya sama aku. Tanpa lihat.”

Kak Bima mengangguk pelan.

“Ya udah,” katanya. “Minta.”

Lalu ia masuk ke bengkel, dan aku mendengar suara mesin motor dinyalakan, dan suara kunci inggris di atas logam, dan suara Teh Neneng yang tertawa malu-malu karena Kak Bima mencium pipinya diam-diam di balik tumpukan ban bekas.


Aku menghabiskan lontong sayur Teh Neneng. Semuanya. Sampai kuah santannya habis.

Lalu aku duduk di kursi plastik di trotoar Jalan Raya Cimahi, dengan jaket denim tua di bahu dan piring kosong di pangkuan, dan mengeluarkan ponselku.

Tiga pesan dari Yang Melihat. Tiga hari. Tidak dibalas.

Aku mengetik.

Aku: Evan.
Aku: Aku mau ketemu. Malam ini. Di studio.
Aku: Aku mau minta sesuatu.
Aku: Pertama kalinya aku minta sesuatu ke kamu.

Kirim.

Satu centang. Dua centang. Dua centang biru. Hampir seketika.

Yang Melihat sedang mengetik...

Yang Melihat: Aku di sini.
Yang Melihat: Aku tunggu.

Aku menatap dua kata terakhir itu lama.

Aku tunggu.

Laki-laki yang tidak pernah menunggu. Yang selalu lari. Ke toilet. Ke darkroom. Ke balik tujuh aturan.

Sekarang ia selalu bilang aku tunggu.

Aku menarik kerah jaket denim itu ke hidungku. Sedikit, sangat sedikit, masih ada wanginya di sana.

Kalau kamu mau dia berhenti lihat, kasih dia sesuatu yang lain buat dipegang.

Aku tidak tahu apakah aku bisa.

Tapi malam ini, aku akan mencoba.

Aku akan minta.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun.