← Gadis Tanpa Benang

Chapter Thirty Seven

Seratus Dua Puluh Satu

POV: Evan

Aku bangun dengan rasa terbakar di dada.

Bukan sakit. Lebih seperti seseorang menempelkan setrika panas di kulitku, di dua tempat, di bawah tulang selangka kanan dan di samping rusuk kiri. Fikri bilang itu bekas pad kardioversi. Kejut listrik. Kami restart jantungmu, Van. Kayak komputer yang hang.

Aku tidak ingat apa-apa setelah bordes lantai delapan.

Aku hanya ingat lampu hijau pucat. Tabung oksigen yang menggelinding. Dan wajahnya. Di atasku. Dengan dua tangan di pipiku. Basah. Pucat. Ketakutan.

Dan benangnya.

Di bordes lantai delapan, dengan jantung seratus delapan puluh empat dan dunia yang berputar dan menggelap di pinggiran, aku melihatnya. Satu kali lagi. Benang setebal tali kapal dari dadanya ke dadaku.

Masih ada.

Setelah semuanya. Setelah tujuh pesan WhatsApp. Setelah aku nggak bisa. Setelah jaket terlipat di sofa abu-abu.

Masih ada.

Lalu gelap.


Monitor di samping tempat tidurku berbunyi pelan. Bip. Bip. Bip. Teratur sekarang. Delapan puluh dua.

Tirai di sekelilingku hijau pucat. Lampu neon di langit-langit. Bau antiseptik. Suara-suara dari luar tirai: perawat, troli, seseorang menangis di bilik sebelah.

Tirai tersibak.

Ia masuk.

Ia masih memakai baju dari pernikahan. Gaun panjang berwarna hijau sage, yang sama dengan pagi pertama di studio, waktu ia datang membawa dua gelas kopi dan kontrak dua belas pernikahan. Gaun itu kotor sekarang. Debu tangga darurat di bagian lutut. Noda gelap di bagian dada, mungkin keringatku, mungkin air matanya. Rambutnya lepas sepenuhnya dari kepangan, berantakan di bahu.

Wajahnya merah dan basah dan bengkak.

Ia cantik. Selalu cantik. Bahkan sekarang, dengan wajah yang hancur, di IGD, di bawah lampu neon yang tidak mengampuni. Cantik seperti seseorang yang baru saja berlari menuruni delapan lantai tangga gelap sambil memegang nadi laki-laki yang pingsan dan tidak melepaskannya sekali pun.

Ia berdiri di ujung tempat tidur. Menatapku.

Lalu ia berjalan ke sisiku. Pelan. Duduk di tepi kasur. Meraih tanganku. Yang kiri. Yang ada jam tangannya.

Dua jari di pergelangan. Di bawah tali jam tangan.

Ia tidak bertanya angkanya. Ia hanya merasakannya. Lama. Dengan mata terpejam.

“Delapan puluhan,” bisiknya akhirnya.

“Delapan puluh dua.”

“Teratur.”

“Kata Fikri, mereka restart.”

Ia membuka mata. Menatapku.

“Kamu bodoh,” katanya. Suaranya serak.

“Aku tahu.”

“Delapan lantai, Evan.”

“Aku tahu.”

“Fikri bilang kamu nggak boleh naik tangga sama sekali.”

“Aku tahu, Mika.”

“Kamu bisa mati.”

Aku menatapnya. Lama.

“Kamu bilang kamu nggak bisa kehilangan orang lagi di depan matamu,” kataku. “Aku dengar. Lulu nyalain speaker.”

Mikaela menatapku. Bibirnya gemetar.

“Jadi kamu lari delapan lantai,” katanya. “Supaya aku nggak kehilangan Oma Lies. Dan hampir bikin aku kehilangan kamu.”

“Oma Lies gimana?”

“Selamat.” Ia menyeka matanya dengan punggung tangan. “Tabungnya sampai. Dokter gigi itu pasang. Ambulans datang. Oma Lies di Borromeus sekarang. Ayu telepon tadi. Dia bilang Oma Lies nanya, mana laki-laki yang lari bawa tabung, Oma mau cium.”

Aku tertawa. Tawa kecil yang membuat dadaku terbakar di bekas pad.

Mikaela tidak tertawa.

Ia menatapku. Dengan mata yang merah dan basah dan sesuatu di dalamnya yang belum pernah kulihat. Sesuatu yang besar. Berat. Sesuatu yang sudah ia bawa sangat lama dan tidak bisa ia bawa lebih lama lagi.

“Fikri bilang malam ini,” katanya pelan. “Ablasi. Dua jam lagi.”

“Aku tahu. Dia bilang waktu aku sadar.”

“Kamu mau?”

Aku menatapnya.

“Aku mau,” kataku. “Aku udah bilang ke Fikri Rabu malam. Aku mau bilang ke kamu hari ini. Setelah pernikahan. Di depan kamu. Supaya kamu lihat aku serius.”

Ia menatapku.

“Aku nggak sempat,” kataku. “Lift mati.”

Mikaela menutup mulutnya dengan tangan.

“Kamu bakal operasi,” bisiknya di balik tangannya.

“Aku bakal operasi.”

“Dan minum obat seumur hidup.”

“Seumur hidup.”

“Dan kamu nggak akan pernah lihat lagi.”

“Nggak akan pernah.”

Ia menurunkan tangannya. Menatapku. Lama.

“Kenapa?” bisiknya. “Kenapa sekarang? Tiga hari lalu kamu bilang nggak bisa.”

Aku menatap langit-langit. Lampu neon. Bercak air di plafon yang bentuknya seperti peta pulau yang tidak dikenal. Sama dengan dua minggu lalu, waktu aku bangun di sini setelah Pangalengan.

“Ibu,” kataku. “Ibu bilang aku nggak pernah belajar percaya. Karena aku nggak pernah perlu. Aku selalu bisa lihat.”

Aku menoleh padanya.

“Ibu bilang, ya belajar, atuh. Mulai dari Neng Mika. Dia gampang dipercaya. Dia nunggu kamu dua belas tahun. Itu udah bukti.“

Mikaela tertawa. Basah. Patah.

“Ibumu,” katanya.

“Ibuku.” Aku tersenyum. “Dan aku jalan di belakangmu empat puluh menit ke Dago atas. Tanpa bisa lihat. Nggak tahu kamu masih sayang aku atau nggak. Nggak tahu benangmu masih ada atau nggak.”

Aku meremas tangannya.

“Dan kamu noleh. Di bawah lampu jalan. Kamu noleh ke belakang.”

Ia diam.

“Aku nggak tahu artinya,” kataku. “Aku nggak bisa lihat. Tapi aku... percaya. Bahwa kamu noleh karena kamu masih mau lihat aku di sana.”

Air matanya jatuh. Ke tangan kami yang saling menggenggam di atas selimut putih rumah sakit.

“Dan tadi,” lanjutku pelan. “Di bordes lantai delapan. Aku lihat sekali lagi. Jantungku seratus delapan puluh empat. Dunia merah. Dan benangmu...”

“Masih ada,” bisiknya. “Kamu bilang. Aku dengar.”

“Masih ada. Setebal tali kapal. Setelah semuanya.” Suaraku pecah. “Setelah aku bilang nggak bisa. Setelah kamu kembaliin jaket. Benangmu nggak tipis sedikit pun.”

Ia menunduk. Bahunya bergetar.

“Aku nggak perlu lihat lagi, Mika,” kataku. “Aku udah lihat cukup. Dua belas tahun. Benang paling tebal yang pernah aku lihat seumur hidupku. Nggak pernah tipis. Bahkan waktu aku bikin kamu nangis. Bahkan waktu aku putusin kamu. Bahkan waktu aku nolak permintaan pertamamu.”

Aku menarik napas. Dadaku terbakar.

“Kalau benangmu nggak tipis waktu aku seburuk itu,” kataku, “aku nggak perlu ngawasin. Aku cukup percaya.”


Mikaela mengangkat kepalanya.

Wajahnya basah. Matanya merah. Bibirnya gemetar. Ia menatapku dengan cara yang membuat bekas pad di dadaku terasa tidak ada apa-apanya dibanding sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam, yang terbakar di dalam rusukku.

Lalu ia membuka mulutnya.

Aku melihatnya. Aku melihat kalimat itu naik di tenggorokannya. Aku melihat bibirnya membentuk huruf pertama. Aku melihat ia berhenti. Ragu. Seperti di tangga darurat hotel. Seperti di mobil dengan kopi Gayo. Seperti di sofa rumah sakit dengan kamu bawa payung?

Aku tidak mendesaknya.

Aku hanya menunggu.

Aku sudah belajar.

Mikaela menarik napas. Napas yang panjang dan gemetar. Seperti Rendi di depan meja akad. Seperti seseorang yang berdiri di tepi tebing dan memutuskan untuk melompat.

“Evan,” katanya.

“Hm.”

Ia menatapku. Langsung. Tanpa berkedip.

“Aku cinta kamu.”


Hening.

Monitor di samping tempat tidurku berbunyi. Bip.

Bip.

Bip-bip-bip-bip.

Aku tidak bisa bernapas.

Ia mengatakannya. Tiga kata. Kalimat paling sederhana di dunia, yang diucapkan jutaan orang setiap hari tanpa berpikir dua kali. Kalimat yang ia simpan dua belas tahun. Yang ia telan di tangga darurat hotel. Yang ia belokkan jadi yang pernah kutunggu dan kopi ini dan kamu bawa payung.

Ia mengatakannya. Di IGD. Di bawah lampu neon. Dengan gaun kotor dan wajah basah dan suara yang pecah di kata terakhir.

“Aku cinta kamu,” katanya lagi. Lebih keras sekarang. Lebih jelas. Seperti bendungan yang retak dan tidak bisa ditahan lagi. “Aku cinta kamu dari umur tiga belas. Dari anak tangga ketiga. Dari waktu kamu bilang nanti ada yang nungguin kamu. Aku cinta kamu waktu kamu nangis karena soto tumpah. Aku cinta kamu waktu kamu jual foto itu. Aku cinta kamu waktu kamu sembunyi di toilet dan takut burung kenari dan ganti uang siomay lima belas ribu.”

Air matanya jatuh. Ia tidak mengusapnya.

“Aku cinta kamu waktu kamu putusin aku pakai WhatsApp. Aku cinta kamu waktu kamu duduk di bangku besi empat jam meluk boneka beruang. Aku cinta kamu waktu kamu bohong bilang aku baik-baik aja. Aku cinta kamu waktu kamu bilang nggak bisa.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Aku cinta kamu waktu kamu lari delapan lantai bawa tabung oksigen buat nenek orang yang nggak kamu kenal, karena kamu dengar aku nangis.”

Ia meremas tanganku.

“Aku cinta kamu, Evan. Aku nggak mau kamu cuma lihat. Aku mau kamu dengar.”

Monitor berbunyi. Cepat. Lebih cepat.

Aku menoleh. Menatap layarnya. Angka hijau di sudut kanan atas, di atas garis yang naik turun.

118.

119.

120.

121.

Dan dunia berubah warna.


Untuk terakhir kalinya.

Aku tahu itu yang terakhir. Aku tahu sebelum aku melihatnya. Dua jam lagi, dr. Haris akan memasukkan kateter ke pembuluh darah di pangkal pahaku dan membakar jalur kecil di jantungku yang membuat semua ini mungkin. Dan setelah itu, obat. Seumur hidup. Dan setelah itu, tidak pernah lagi di atas seratus dua puluh.

Ini yang terakhir.

Jadi aku melihat dengan seluruh mataku.

Tirai hijau pucat IGD berubah. Benang-benang muncul di pinggiran pandanganku, seperti cat merah yang dituang ke air jernih. Dari bilik sebelah, tempat seseorang menangis, benang ke arah luar, ke arah parkiran, ke arah seseorang yang sedang menunggu. Dari perawat yang lewat di luar tirai, benang ke arah rumah. Dari luar, menembus tirai, satu benang tenang dan tebal masuk ke dadaku. Dari arah ruang tunggu. Dari Ibu.

Aku tidak bisa melihat ruang tunggu dari sini. Tapi aku tahu apa yang ada di sana. Aku sudah melihatnya berkali-kali minggu-minggu ini. Benang Ibu ke langit, ke Bapak, tipis dan tidak putus, di samping benang barunya ke Pak Darto. Benang Lulu dan Dodo, dua, saling, setebal tali sepatu. Benang Bima ke Teh Neneng, bergetar dan hangat.

Aku tidak perlu melihat semuanya untuk tahu semuanya ada.

Mungkin itu yang pertama kali kupelajari malam ini.

Dan dari Mikaela.

Benang ke langit. Ke Papa. Naik dan turun kembali. Setebal tali tambang.

Benang ke Bima, di ruang tunggu. Tenang. Tebal.

Dan benang ke aku.

Aku menatapnya.

Benang itu tidak setebal tali kapal lagi.

Benang itu lebih tebal.

Aku tidak punya kata untuk ketebalannya. Tidak ada tali, tidak ada tambang, tidak ada apa pun di dunia yang setebal itu. Benang itu memenuhi seluruh ruang di antara dadanya dan dadaku, satu jengkal, dua jengkal, merah tua yang begitu pekat sampai hampir hitam, bergetar dengan getaran yang begitu kuat sampai aku bisa merasakannya di tulang rusukku. Menyala. Bukan seperti bara. Seperti matahari. Seperti seseorang menyalakan semua lampu di seluruh Bandung sekaligus dan menuangkannya ke dalam satu benang.

Setelah ia mengatakannya.

Setelah tiga kata itu.

Benangnya menebal dalam satu detik lebih banyak dari dua belas tahun.

Dan dari dadaku, ke arahnya.

Aku menunduk.

Benangku sendiri.

Yang lahir di bawah payung di Lembang. Setipis benang jahit paling halus. Yang tumbuh di ruang tunggu pengantin di Pusdai. Yang menebal di tangga darurat hotel. Yang menyala di puncak bianglala. Yang hampir setebal benangnya, di bangku besi di taman rumah sakit pukul lima pagi.

Sekarang sama.

Sama persis.

Dua benang, dengan ketebalan yang tidak punya nama, dari dua dada, di IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin, di bawah lampu neon. Menyala bersamaan. Bergetar dengan getaran yang sama. Seperti dua senar gitar yang disetem pada nada yang sama, dan ketika yang satu dipetik, yang lain ikut bernyanyi.

Paling tebal yang pernah kulihat seumur hidupku.

Dua-duanya.

Aku tidak bisa berhenti menangis.

Aku menatap benang-benang itu, dan aku mengingat semuanya. Setiap detail. Ketebalannya. Warnanya. Getarannya. Cahayanya. Seperti fotografer yang tahu ini adalah frame terakhir di rol film, dan tidak ada rol film lain.

Aku menyimpannya. Di tempat yang tidak bisa dicapai kateter atau obat atau apa pun.

Lalu aku menatap wajahnya.


Ia membungkuk.

Pelan. Di atasku. Dengan rambut yang jatuh di sekeliling wajah kami seperti tirai. Dengan air mata yang jatuh ke pipiku.

Ia menyentuh pergelangan tangan kiriku. Dua jari. Di bawah tali jam tangan.

“Sekarang berapa?” bisiknya.

Aku tersenyum. Dengan air mata. Dengan dada yang terbakar di dua tempat. Dengan dunia yang merah dan menyala untuk terakhir kalinya.

“Seratus dua puluh satu,” kataku.

Ia menatapku.

Lalu ia menciumku.


POV: Mika

Bibirnya asin.

Air mataku. Air matanya. Aku tidak tahu yang mana. Bercampur di antara bibir kami, di IGD, di bawah lampu neon, dengan monitor yang berbunyi cepat di samping tempat tidur.

Aku menciumnya pelan. Hati-hati. Seperti mencium sesuatu yang bisa pecah.

Ia membalas.

Tangannya, yang tadi kugenggam, naik ke pipiku. Pelan. Lemah. Jari-jarinya gemetar. Ia membalas, dan aku merasakan sesuatu di sana yang tidak pernah kurasakan di bianglala atau di darkroom atau di bawah pohon trembesi.

Aku merasakan ia mendengar.

Bukan melihat. Mendengar.

Tiga kata yang kuucapkan, yang kusimpan dua belas tahun, sampai di tempatnya. Aku bisa merasakannya di cara ia menciumku. Lebih pelan dari biasanya. Lebih dalam. Seperti seseorang yang baru saja menerima surat yang sudah lama ia tunggu, dan membacanya pelan-pelan, kata demi kata, supaya tidak ada yang terlewat.

Monitor berbunyi. Cepat. Lebih cepat.

Aku tidak peduli.

Aku menciumnya sampai tirai tersibak dan suara Fikri berdeham keras di belakangku.

“Mika,” katanya. Pelan. “Waktunya.”

Aku melepaskan bibirnya. Tidak jauh. Dahiku bersandar di dahinya. Napas kami bercampur.

Ia menatapku dari jarak yang sangat dekat. Matanya basah. Merah. Dan sangat, sangat tenang. Seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang sudah ia bawa terlalu lama.

“Aku lihat,” bisiknya. “Tadi. Yang terakhir.”

“Gimana?”

Ia tersenyum.

“Nggak ada namanya,” katanya. “Nggak ada tali yang setebal itu. Punyamu ke aku. Punyaku ke kamu. Sama.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku simpan,” katanya. “Di sini.” Ia mengetuk dahinya dengan ujung jari. Pelan. “Kayak foto. Frame terakhir di rol film.”

Perawat masuk. Dua orang. Dengan tempat tidur dorong dan wajah yang profesional dan lembut.

Aku harus melepaskannya.

Aku tidak mau melepaskannya.

Tapi aku melepaskannya.

Mereka memindahkannya ke tempat tidur dorong. Ia meringis ketika dadanya bergerak. Lalu ia menoleh padaku. Mengulurkan tangannya.

Aku meraihnya.

Kami berjalan bersama di koridor IGD. Ia di tempat tidur dorong, aku di sebelahnya, tangan kami saling menggenggam. Melewati ruang tunggu. Ibunya berdiri dan menyentuh pipinya. Pak Darto menepuk bahunya. Kak Bima menangis dengan suara keras sampai perawat menegurnya. Teh Neneng memeluk lengan Kak Bima. Dodo melambai dengan sapu tangan berinisial L. Lulu tidak melambai. Lulu hanya berdiri dengan clipboard di dada dan air mata yang mengalir di balik kacamata, dan ia tidak menyekanya.

Kami sampai di pintu ruang kateterisasi. Pintu ganda dengan jendela kaca kecil dan tulisan DILARANG MASUK SELAIN PETUGAS.

Perawat berhenti.

“Mbak,” katanya lembut. “Sampai sini.”

Aku menatap Evan. Ia menatapku.

“Kamu tunggu?” tanyanya.

Aku tersenyum. Dengan air mata yang tidak berhenti.

“Aku jago nunggu,” kataku. “Paling jago se-Bandung.”

Ia tertawa. Kecil. Lalu meremas tanganku sekali lagi.

“Mika.”

“Hm.”

“Aku juga cinta kamu.”

Aku membeku.

Ia mengatakannya. Dengan suara. Bukan dengan benang. Bukan dengan foto. Bukan dengan jaket di bawah hujan atau empat jam di bangku besi atau delapan lantai tangga darurat.

Dengan suara.

“Aku belum pernah bilang,” katanya. “Aku pikir kamu udah tahu. Aku pikir kamu bisa lihat dari semuanya.” Ia tersenyum. “Tapi kamu bilang kamu mau dengar. Jadi...”

Ia menatapku.

“Aku cinta kamu. Dari payung di Lembang. Mungkin sebelum itu. Mungkin dari ballroom. Mungkin dari tangga panti, dua belas tahun lalu, waktu aku belum tahu itu apa.”

Pintu ruang kateterisasi terbuka.

Perawat mendorong tempat tidurnya masuk.

Tangannya lepas dari tanganku. Jari demi jari.

Ia menoleh ke belakang. Menatapku. Melalui pintu yang mulai menutup.

Lalu menoleh lagi. Sekali lagi.

Dua kali.

Pintu tertutup.


Aku berdiri di depan pintu ganda itu lama sekali.

Lampu merah di atas pintu menyala. SEDANG DALAM TINDAKAN.

Merah.

Aku menatap lampu merah itu. Dan aku memikirkan semua hal merah dalam hidupku. Lampu darkroom. Lipstik merah bata di malam pertama di Lembang. Benang-benang yang tidak pernah bisa kulihat, tapi selalu kupercaya ada.

Aku duduk di kursi plastik di depan pintu. Di koridor yang sunyi.

Kak Bima datang dan duduk di sebelah kiriku. Lulu di sebelah kananku. Dodo di sebelah Lulu. Ibu Evan dan Pak Darto di kursi di seberang. Fikri berdiri di dekat pintu dengan tangan di saku jas putih, menatap lampu merah.

Tidak ada yang bicara.

Kami hanya menunggu.

Dan aku menyadari sesuatu.

Dua belas tahun aku menunggu sendirian. Di anak tangga ketiga. Di kamar mandi apartemen Singapura. Di sofa penunggu yang terlalu pendek di kamar 512.

Malam ini, aku menunggu bersama tujuh orang.

Kakakku. Asistenku yang membawa clipboard. Asisten Evan yang membawa sapu tangan. Ibu Evan yang memasak soto untuk dua ratus orang. Laki-laki yang membawa kipas angin pukul sepuluh malam. Dokter yang patah hati dan berlari delapan lantai.

Dan di atas sana, di langit, di tempat benangnya pergi, Papa.

Sudah banyak, Mika. Sudah banyak yang nunggu kamu.

Aku memejamkan mata.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menunggu dengan takut.

Aku menunggu dengan tahu.

Bahwa ketika pintu itu terbuka, ia akan ada di sana.

Bahwa ia akan menoleh.

Dua kali.