← Gadis Tanpa Benang

Chapter Thirty Five

Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu

POV: Evan

Pernikahan kesebelas adalah pernikahan paling dingin yang pernah kufoto.

Bukan karena cuaca. Cuaca Bandung hari itu cerah, dengan langit biru dan matahari yang hangat. Venue-nya hangat juga: sebuah restoran keluarga di Jalan Sukajadi, dengan dinding bata ekspos dan lampu-lampu gantung berwarna kuning. Pengantinnya, Arif dan Dewi, sepasang guru SD yang mengajar di sekolah yang sama, hangat sekali. Mereka tertawa sepanjang acara. Mereka menyuapi kue ke wajah satu sama lain dengan sengaja.

Yang dingin adalah aku dan Mikaela.

Ia datang pukul tujuh pagi dengan gaun biru tua dan rambut yang dikepang rapi. Ia menyapa Dodo. Ia menyapa Lulu. Ia menyapaku.

“Pagi, Evan.”

“Pagi.”

Lalu ia berjalan ke dapur restoran untuk mengecek katering, dan tidak menoleh lagi.

Sepanjang hari, kami bekerja seperti dua mesin yang dirakit di pabrik yang sama. Ia mengatur rundown. Aku memotret. Ia memberi tanda kapan pengantin masuk. Aku sudah di posisi. Ia menyuruh MC mengumumkan sesi foto keluarga. Aku sudah memasang tripod.

Kami tidak pernah salah. Kami tidak pernah terlambat. Kami tidak pernah bertabrakan.

Kami tidak pernah bicara lebih dari lima kata.

“Sesi keluarga, lima menit.”

“Siap.”

“Lampunya kurang di kiri.”

“Aku geser.”

“Pengantin mau foto berdua di taman belakang.”

“Oke.”

Lulu, yang berdiri di dekat meja vendor dengan clipboard, menatap kami bergantian dengan wajah datar. Tapi aku melihat pulpennya tidak bergerak. Ia tidak mencatat apa pun hari itu.

Itu yang paling menakutkan. Lulu yang tidak mencatat.


Di sela-sela sesi foto, aku memotretnya.

Tidak sengaja. Atau sengaja. Aku tidak tahu lagi bedanya.

Ia berdiri di dekat jendela restoran, membetulkan rangkaian bunga di meja pengantin. Cahaya pagi masuk dari kaca jendela yang lebar, menyorot separuh wajahnya. Kepangannya sedikit longgar di bagian ujung. Ada helaian rambut yang lepas di dekat telinganya, bergoyang setiap kali ia menunduk.

Ia cantik. Selalu cantik. Dengan cara yang membuat lensa 85mm-ku terasa tidak adil, seperti malam pertama di ballroom Lembang.

Tapi wajahnya, di balik viewfinder, terlihat berbeda.

Lebih tirus. Matanya lebih cekung. Ada bayangan di bawah tulang pipinya yang tidak ada sebulan lalu. Ia sudah kehilangan berat badan sejak Papa masuk rumah sakit, dan belum kembali.

Ia menunduk menatap bunga-bunga di meja. Tidak tersenyum. Tidak menahan senyum.

Dulu, matanya selalu terlihat seperti sedang menahan senyum. Bahkan ketika bibirnya diam.

Sekarang tidak.

Aku menekan tombol rana. Klik.

Ia mendongak. Menatap kamera. Menatapku di balik kamera.

Aku menurunkan kameraku.

Kami saling menatap dari seberang restoran. Di antara meja-meja yang dipenuhi tamu, di antara pelayan-pelayan yang membawa nampan, di antara lampu-lampu gantung kuning.

Jantungku enam puluh sembilan.

Aku tidak bisa melihat benangnya.

Aku menatap dadanya, di balik gaun biru tua, dan tidak ada apa-apa. Hanya kain. Hanya udara.

Dulu, di saat seperti ini, aku akan melihat benang setebal tali kapal menjulur melintasi restoran ke dadaku. Merah tua. Berdenyut. Menyala.

Sekarang aku hanya bisa melihat wajahnya.

Dan wajahnya, menatapku dari seberang restoran, tidak memberitahuku apa-apa.

Ia berpaling. Kembali ke bunga-bunga di meja.

Aku mengangkat kamera lagi dan memotret pengantin yang sedang menyuapi kue ke wajah satu sama lain.


Malamnya aku pulang ke warung Ibu.

Bukan ke studio. Aku tidak tahu kenapa. Kakiku membawaku ke gang kecil di belakang Jalan Cihampelas, di antara toko jins dan penjual cireng, ke warung dengan papan bertuliskan SOTO AYAM / SOTO DAGING / BAYAR DI DEPAN, MAKAN DI BELAKANG, JANGAN KABUR.

Warung sudah tutup. Papan TUTUP sudah tergantung di pintu. Tapi lampu dapur masih menyala.

Aku mengetuk pintu belakang.

Ibu membuka pintu. Dengan daster bermotif bunga dan kerudung yang dipasang asal. Ia menatapku. Lalu menatap wajahku.

Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia menarikku masuk dan mendudukkanku di bangku panjang tanpa sandaran di dapur.

“Kamu belum makan,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Udah, Bu. Di venue.”

“Bohong.” Ibu mengambil mangkuk dari rak. Mangkuk bergambar ayam jago. Salah satu dari dua yang tersisa. “Ibu tahu muka kamu kalau belum makan. Mirip Bapakmu.”

Ia menuang soto dari panci yang masih hangat di atas kompor. Menaruh mangkuk itu di depanku. Menaruh sendok. Menaruh kerupuk.

Lalu ia duduk di seberangku.

Dan ia tidak bicara.

Itu aneh. Ibu selalu bicara. Ibu bicara ketika memasak, ketika mencuci piring, ketika melayani pelanggan, ketika menonton sinetron. Ibu bicara pada kucing tetangga dan pada panci soto dan pada foto Bapak di atas meja kerupuk.

Malam ini, Ibu duduk diam di seberangku dan menatapku makan.

Aku menyendok soto. Mengunyah. Menelan. Rasanya sama seperti selalu. Santan kuning yang kental. Daging sapi yang empuk. Jeruk nipis yang banyak.

Rasa rumah.

Aku menghabiskan setengah mangkuk sebelum Ibu akhirnya bicara.

“Dodo cerita,” katanya pelan.

Sendokku berhenti di udara.

“Soal jantungmu,” lanjut Ibu. “Soal pingsan di Pangalengan. Soal operasi.”

Aku meletakkan sendok.

“Dodo...”

“Jangan marahin Dodo. Dodo nangis waktu cerita. Di sini. Di bangku ini. Tiga hari lalu.” Ibu menatapku. “Dia bilang, Bu, saya nggak bisa nyimpen ini, Bu. Saya takut Abang mati, Bu.“

Aku menunduk.

“Kenapa kamu nggak bilang ke Ibu, Van?”

“Ibu udah cukup sedih, Bu. Bapak...”

“Bapak.“ Ibu tertawa kecil. Tawa yang tidak lucu. “Kamu tahu Bapakmu meninggal kenapa?”

Aku menatapnya.

“Serangan jantung,” kataku. “Di warung. Waktu Ibu ke pasar.”

“Iya. Serangan jantung.” Ibu menatap foto Bapak di atas meja kerupuk. “Kamu tahu Bapakmu udah sakit dada dua bulan sebelumnya?”

Aku membeku.

“Dua bulan,” kata Ibu. “Bapak bilang maag. Bapak bilang masuk angin. Bapak bilang kecapekan angkat panci. Bapak nggak mau ke dokter. Katanya mahal. Katanya warung lagi sepi. Katanya nanti aja kalau udah ada uang.”

Suaranya pecah sedikit.

“Ibu percaya. Ibu kerok punggungnya tiap malam. Ibu kasih minyak kayu putih. Ibu bikinin jahe anget.” Ibu menyeka matanya dengan ujung kerudung. “Ibu nggak tahu. Ibu nggak bisa lihat. Bapak nggak bilang.”

“Bu...”

“Kalau Bapak bilang, Van.” Ibu menatapku. Matanya merah. “Kalau Bapak bilang sakit dadanya beneran sakit, Ibu bakal seret dia ke rumah sakit. Ibu jual kalung emas Ibu. Ibu jual warung ini. Ibu jual apa aja.”

Air matanya jatuh.

“Tapi Bapak nggak bilang. Karena Bapak nggak mau Ibu susah. Karena Bapak sayang Ibu.”

Ia menatapku lama.

“Dan karena itu Ibu jadi janda empat belas tahun.”


Aku tidak bisa bernapas.

Ibu tidak berhenti menatapku. Tangannya di atas meja, mengepal di samping mangkuk soto.

“Kamu sama kayak Bapakmu, Van,” katanya. “Persis. Kamu nyimpen semuanya sendiri. Kamu pikir kalau kamu nggak bilang, orang yang kamu sayang nggak akan susah.”

“Bu, aku cuma...”

“Neng Mika kehilangan papanya dua minggu lalu.” Suara Ibu naik sedikit. “Kamu mau dia kehilangan kamu juga? Kamu mau dia jadi kayak Ibu? Duduk di warung sendirian empat belas tahun, tiap hari mikir kalau aja dia bilang?”

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.

Ibu tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya duduk di sana. Lama. Lalu tangannya meraih tanganku di atas meja. Menarik tanganku dari wajahku. Menggenggamnya.

Tangan Ibu kasar. Penuh bekas luka bakar kecil dari minyak goreng dan bekas sayatan pisau dapur. Tangan yang sudah memasak soto setiap subuh selama tiga puluh tahun.

“Van,” katanya pelan. “Ibu mau cerita sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Pak Darto,” kata Ibu.

Aku membeku lagi. Dengan cara yang berbeda.

Ibu tersenyum. Senyum kecil yang malu-malu, yang membuatnya terlihat lebih muda sepuluh tahun.

“Ibu tahu kamu lihat,” katanya. “Waktu syukuran. Kamu keluar dari warung tiba-tiba. Neng Mika nyusul. Ibu lihat muka kamu waktu Pak Darto masuk.”

Aku tidak menjawab.

“Kamu nggak suka,” kata Ibu. “Ibu tahu.”

“Bukan nggak suka, Bu.”

“Terus apa?”

Aku menatap foto Bapak di atas meja kerupuk. Bapak yang tersenyum dengan celemek dan sendok sayur. Di depan warung yang masih baru.

“Bapak,” kataku. Suaraku pecah. “Bu, Bapak...”

“Bapak udah meninggal empat belas tahun, Van.”

“Tapi Ibu masih sayang Bapak.”

“Iya. Ibu masih sayang Bapak.” Ibu menatapku. “Sampai sekarang. Sampai Ibu mati nanti.”

“Terus kenapa...”

“Karena sayang itu nggak cuma satu, Van.” Ibu meremas tanganku. “Ibu sayang kamu. Ibu sayang Bapak. Ibu sayang almarhumah Nenek. Ibu sayang Neng Mika, padahal baru kenal tiga bulan. Ibu sayang Dodo, yang kayak anak Ibu sendiri. Itu semua sayang. Dan nggak ada yang ngambil tempat yang lain.”

Ia tersenyum.

“Pak Darto juga gitu. Istrinya meninggal lima belas tahun lalu. Dia masih sayang istrinya. Dia cerita ke Ibu tiap minggu, waktu benerin AC. Soal istrinya yang suka nyanyi lagu Rhoma Irama di kamar mandi. Soal anaknya yang sekarang kerja di Batam.” Ibu tertawa kecil. “Dan dia juga sayang Ibu. Dikit. Pelan-pelan. Kayak tunas.”

Aku menatap Ibu.

Kayak tunas.

Benang tipis yang tumbuh dari dada Ibu ke dada Pak Darto. Di syukuran. Setipis benang jahit paling halus. Tumbuh di samping benang tua yang naik ke langit-langit warung. Ke Bapak.

Benang yang lama tidak menipis.

Benang yang baru tidak menggantikan.

Dua-duanya ada. Berdampingan.

“Bu,” kataku pelan. “Ibu tahu? Soal... soal aku bisa lihat?”

Ibu menatapku. Lama.

“Dodo cerita juga,” katanya. “Soal benang.”

Tentu saja Dodo cerita.

“Ibu nggak ngerti,” kata Ibu. “Ibu cuma tukang soto, Van. Ibu nggak ngerti soal benang merah dari dada orang. Tapi Ibu mau tanya satu hal.”

“Apa, Bu?”

“Benang Ibu ke Bapak,” kata Ibu. Suaranya bergetar. “Masih ada?”

Aku menatap Ibu. Perempuan lima puluh enam tahun dengan daster bermotif bunga dan kerudung yang dipasang asal, yang duduk di dapur warung soto yang dibangun suaminya dengan pinjaman koperasi.

Aku tidak bisa melihat benangnya sekarang. Jantungku tujuh puluh. Obatnya bekerja.

Tapi aku ingat.

“Masih ada, Bu,” kataku. “Naik ke langit-langit. Ke atas. Tipis, tapi nggak putus. Udah empat belas tahun, dan nggak pernah berubah sedikit pun.”

Ibu menutup mulutnya dengan tangan.

“Bahkan setelah benang Ibu ke Pak Darto tumbuh,” lanjutku. “Benang Ibu ke Bapak nggak tipis sedikit pun. Aku lihat sendiri. Waktu syukuran. Dua-duanya ada. Berdampingan.”

Ibu menangis.

Pelan. Diam. Dengan tangan yang masih menutup mulut dan air mata yang mengalir ke punggung tangannya.

“Ibu takut, Van,” bisiknya. “Ibu takut kalau Ibu sayang Pak Darto, Ibu ngekhianatin Bapak.”

“Nggak, Bu.”

“Ibu takut Bapak marah. Dari atas.”

“Bapak nggak marah, Bu.” Aku meraih tangannya. “Benangnya nggak tipis. Kalau Bapak marah, atau kalau Ibu berhenti sayang Bapak, benangnya bakal tipis. Tapi nggak. Sama aja. Kayak empat belas tahun lalu.”

Ibu menatapku dengan mata yang basah.

“Benang Ibu ke Bapak nggak putus, ya, Van,” katanya pelan. “Cuma naik.”

“Cuma naik, Bu.”

“Ibu boleh punya yang baru,” katanya, seolah sedang mengatakannya untuk dirinya sendiri, “tanpa ngebuang yang lama.”

Aku mengangguk.

Ibu tersenyum. Di tengah air matanya. Senyum yang lega, seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang sudah ia bawa terlalu lama.


Lalu Ibu menatapku. Dan senyumnya berubah.

“Sekarang Ibu tanya kamu,” katanya.

“Apa, Bu?”

“Empat belas tahun Ibu nggak bisa lihat benang Ibu ke Bapak.” Ibu menatapku. “Empat belas tahun. Ibu nggak punya mata ajaib. Ibu nggak bisa naik tangga terus lihat benang merah dari dada Ibu ke langit.”

Aku diam.

“Tapi Ibu tahu,” kata Ibu. “Empat belas tahun Ibu tahu Ibu masih sayang Bapak. Dan Ibu tahu Bapak masih sayang Ibu. Dari atas.”

Ia menepuk dadanya sendiri.

“Ibu nggak perlu lihat. Ibu tahu dari sini.”

Aku menatapnya.

“Itu namanya percaya, Van,” kata Ibu pelan. “Semua orang di dunia ngelakuin itu. Tiap hari. Ibu ngelakuinnya empat belas tahun. Pak Darto ngelakuinnya lima belas tahun. Neng Mika ngelakuinnya dua belas tahun.”

Ia meremas tanganku.

“Cuma kamu yang nggak pernah belajar. Karena kamu nggak pernah perlu. Kamu selalu bisa lihat.”

Kalimat itu menancap di dadaku. Lebih dalam dari semua kalimat lain.

Kamu nggak pernah belajar percaya. Karena kamu nggak pernah perlu.

Dua belas tahun. Aku bisa melihat ke dalam hati semua orang. Aku tahu siapa cinta siapa, siapa bohong, siapa pergi. Aku tidak pernah perlu percaya pada siapa pun. Aku hanya perlu naik tangga.

Dan karena itu, aku tidak pernah belajar.

Semua orang di dunia ini, Ibu, Fikri, Pak Darto, Bima, Dodo, Lulu, Mikaela, semua orang belajar percaya karena mereka tidak punya pilihan.

Aku punya pilihan. Dan aku memilih untuk tidak pernah belajar.

“Bu,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar. “Kalau aku operasi. Aku nggak akan pernah bisa lihat lagi.”

“Terus?”

“Terus aku harus percaya.”

“Terus?”

“Terus aku nggak tahu caranya, Bu.”

Ibu menatapku. Lalu tertawa. Tawa yang basah, tapi tawa.

“Ya belajar, atuh,” katanya. “Kamu kan pinter. Kamu bisa belajar motret dari kamera pinjaman sekolah. Kamu bisa belajar cuci foto pakai cairan kimia. Masa nggak bisa belajar percaya?”

Ia menepuk pipiku. Dua kali. Seperti waktu aku kecil.

“Mulai dari Neng Mika. Dia gampang dipercaya. Dia nunggu kamu dua belas tahun. Itu udah bukti. Kamu nggak perlu benang buat lihat itu.”


Pak Darto datang pukul sepuluh malam.

Dengan kemeja batik cokelat yang disetrika dan kotak kardus kecil berisi... aku menyipitkan mata... kipas angin baru. Kipas angin dinding berwarna putih, masih dalam kemasan.

“Bu Ratih,” katanya di pintu belakang. Lalu ia melihatku. Berhenti. “Oh. Mas Evan.”

Aku berdiri.

Kami saling menatap. Di dapur warung soto. Di bawah lampu neon yang berkedip.

Pak Darto memegang kotak kipas angin di depan dadanya, seperti perisai. Wajahnya gugup. Seperti seseorang yang baru saja tertangkap mencuri mangga di kebun orang.

“Kipas angin, Pak?” tanyaku.

“Iya, Mas.” Pak Darto menelan ludah. “Kipas yang di dapur bunyinya berderit. Udah lama. Saya pikir... ya... Bu Ratih mungkin butuh yang baru.”

Aku menatap kipas angin tua di dinding dapur. Yang berputar dengan suara berderit, seperti kursi goyang Papa.

Lalu aku menatap Pak Darto.

Laki-laki setengah baya dengan rambut yang mulai memutih di pelipis. Yang istrinya meninggal lima belas tahun lalu. Yang membawa freon ke syukuran dan kipas angin ke dapur warung pukul sepuluh malam, karena ia tidak tahu cara lain untuk bilang saya peduli.

Yang benangnya ke Ibu, aku ingat, setipis benang jahit. Tumbuh. Pelan. Seperti tunas.

Aku mengulurkan tanganku.

Pak Darto menatap tanganku. Lalu meletakkan kotak kipas angin di bangku. Dan menjabat tanganku dengan tangan yang kasar dan hangat dan sedikit gemetar.

“Terima kasih, Pak,” kataku. “Udah benerin AC Ibu tiap bulan.”

Pak Darto menatapku. Matanya berkaca-kaca.

“Sama-sama, Mas,” katanya. Suaranya serak. “Sama-sama.”

Di belakangku, Ibu menangis lagi. Tapi kali ini sambil tertawa.


Aku pulang ke studio pukul sebelas.

Aku tidak menyalakan lampu. Aku duduk di sofa abu-abu di ruang depan, di sebelah jaket denim yang masih terlipat rapi di tempat Mikaela meletakkannya tiga hari lalu.

Aku menatap jaket itu.

Lalu aku menatap dinding foto. Anak perempuan di undakan tangga. Dan bekas persegi panjang di sebelahnya, tempat foto Fikri dan Nadia dulu tergantung.

Itu namanya percaya, Van. Semua orang di dunia ngelakuin itu.

Aku mengeluarkan ponselku.

Membuka kontak.

dr. Fikri Kardio.

Aku menelepon. Pukul sebelas lewat dua belas malam.

Fikri mengangkat di dering kedua. Suaranya serak. Mengantuk.

“Van? Kenapa? Jantungmu? Kamu di mana?”

“Aku nggak apa-apa, Fik.”

“Terus kenapa telepon jam sebelas malam?”

Aku menatap jaket denim di sebelahku.

“Jadwalin,” kataku.

Hening di ujung telepon.

“Apa?”

“Ablasi. Jadwalin.” Suaraku pelan. Tapi tidak gemetar. “Aku mau operasi.”

Hening lagi. Lebih lama.

Lalu aku mendengar Fikri menarik napas panjang. Sangat panjang. Seperti seseorang yang sudah menahannya berminggu-minggu.

“Alhamdulillah,” bisiknya. “Ya Allah. Alhamdulillah.”

“Fik.”

“Senin. Aku masukin hari Senin. Slot pagi. Aku telepon dr. Haris sekarang...”

“Fik. Jangan Senin.”

Hening.

“Kenapa?”

“Sabtu ada pernikahan kedua belas. Yang terakhir di kontrak. Gedung Wisma Prima, lantai sembilan.” Aku menatap jaket denim itu. “Aku mau selesaiin itu dulu. Buat Mika. Aku janji dua belas pernikahan.”

“Van...”

“Satu pernikahan lagi, Fik. Habis itu Senin depannya. Aku janji.”

Fikri diam lama.

“Kamu minum obatnya tiap hari,” katanya akhirnya. “Tiap hari. Nggak boleh skip satu kali pun. Aku pantau dari aplikasi.”

“Iya.”

“Kamu nggak naik tangga.”

“Iya.”

“Sabtu kamu motret dari satu tempat. Nggak jalan-jalan. Nggak lari-lari. Dodo yang gerak.”

“Iya, Fik.”

“Dan Senin depan, jam tujuh pagi, kamu di sini. Di depan ruang tindakan. Kalau kamu telat satu menit, aku jemput sendiri pakai ambulans.”

Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari.

“Oke, Fik.”

“Van.”

“Hm?”

“Kamu udah bilang ke Mika?”

Aku menatap jaket denim itu.

“Belum,” kataku. “Aku mau bilang langsung. Sabtu. Setelah pernikahan selesai.”

“Kenapa nggak sekarang?”

“Karena aku mau dia lihat aku bilang.” Aku menarik napas. “Bukan lewat telepon. Bukan lewat pesan. Di depan dia. Supaya dia tahu aku serius.”

Fikri diam sebentar.

“Oke,” katanya. “Sabtu.”

Ia menutup telepon.

Aku duduk di sofa abu-abu dalam gelap. Dengan ponsel di tangan dan jaket denim di sebelahku.

Lalu, pelan, aku mengambil jaket itu. Membuka lipatannya. Memakainya.

Masih ada wanginya. Sedikit. Di bagian kerah.

Bukan wangiku. Wanginya.

Kayu basah dan jeruk.

Aku menarik kerah itu ke hidungku dan memejamkan mata.

Sabtu, kataku pada diriku sendiri. Sabtu aku bilang.

Aku tidak tahu bahwa Sabtu, lift Gedung Wisma Prima akan mati.

Aku tidak tahu bahwa Sabtu, aku tidak akan sempat bilang apa-apa.