← Gadis Tanpa Benang

Chapter Eleven

Pernikahan Kelima: Pagar Panti

POV: Mika

Aku tahu venue itu bersebelahan dengan panti asuhan sejak survei lokasi pertama. Aku melihat papan namanya dari parkiran: Panti Asuhan Bina Kasih, cat hijau yang sudah mengelupas, huruf-huruf yang miring karena paku di salah satu sudutnya sudah lepas. Aku melihat pagar besinya yang tinggi, dicat hitam, dengan ujung-ujung berbentuk tombak kecil. Aku melihat halaman semennya yang retak dan ayunan besi yang rantainya berkarat.

Aku tahu semua itu. Aku sudah menyiapkan diri.

Ternyata menyiapkan diri tidak sama dengan siap.


Pernikahan kelima digelar di sebuah gedung serbaguna milik yayasan di daerah Sukajadi. Gedung sederhana dengan atap tinggi dan jendela-jendela lebar, yang disewakan murah karena pemiliknya, sebuah yayasan sosial, memakai uang sewanya untuk membiayai panti di sebelah.

Pengantinnya, Fajar dan Wulan, sengaja memilih tempat ini. Wulan dulu relawan di panti itu selama kuliah. Fajar seorang guru SD yang setiap Sabtu mengajar matematika gratis untuk anak-anak panti. Mereka bertemu di ruang belajar panti, di antara papan tulis kapur dan meja-meja kayu yang kakinya diganjal kertas.

“Kami mau anak-anak itu ikut makan,” kata Wulan waktu konsultasi pertama. “Semuanya. Dua puluh tiga anak. Bukan sisa makanan. Makanan yang sama dengan tamu. Di meja yang sama.”

Aku menatapnya lama waktu ia mengatakan itu. Lalu aku menulis di catatan: 23 anak. Meja sama. Makanan sama. Lalu aku menggarisbawahinya tiga kali.

Lulu, yang membaca catatan itu dari sebelahku, tidak bertanya apa-apa. Ia hanya menambah anggaran katering tanpa meminta persetujuanku.


Pagi itu aku datang jam enam. Lebih awal dari siapa pun. Bahkan sebelum Lulu.

Aku berdiri di parkiran, di samping mobilku, dengan segelas kopi yang mulai dingin di tangan, dan menatap pagar besi hitam itu.

Di balik pagar, anak-anak sudah bangun. Hari Sabtu. Ada yang menyapu halaman dengan sapu lidi yang lebih tinggi dari badannya. Ada yang menjemur pakaian di tali yang direntang di antara dua tiang besi. Dua anak perempuan kecil, mungkin enam dan delapan tahun, duduk di undakan teras sambil saling mengepang rambut.

Undakan teras. Tiga anak tangga semen.

Aku menelan sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku.

Panti Kasih Ibu di Cibeunying juga punya tiga anak tangga semen di depan terasnya. Anak tangga ketiga retak di ujung kiri. Aku tahu karena aku duduk di sana setiap hari Minggu, dari umur enam sampai tiga belas, dan aku selalu memilih ujung kiri, karena retakannya membuat permukaannya sedikit miring, dan dari sudut itu aku bisa melihat gerbang dengan jelas tanpa perlu menoleh.

Hari Minggu adalah hari jenguk. Jam sepuluh sampai jam dua.

Jam sembilan lima puluh, anak-anak mulai berkumpul di dekat gerbang. Jam sepuluh, mobil dan motor pertama datang. Ayah. Ibu. Kakak. Paman. Nenek. Mereka membawa kantong plastik berisi jajanan, baju bekas yang masih bagus, kadang mainan. Anak-anak berlari. Ada yang memeluk. Ada yang menangis. Ada yang langsung membuka kantong plastik dan berebut jajanan dengan saudaranya.

Aku tidak pernah berlari.

Bukan karena aku tidak mau. Karena aku tahu tidak ada yang datang. Bu Ningsih, pengasuh kami, sudah memberitahuku waktu aku berumur enam tahun, dengan suara yang sangat lembut: Mika, orang tuamu sudah di surga. Nggak ada keluarga lain yang tercatat. Tapi kamu punya kami.

Aku punya mereka. Aku tahu itu. Bu Ningsih yang mengepang rambutku. Anak-anak lain yang berbagi selimut waktu musim hujan. Tempat tidur nomor tujuh belas di kamar besar, dekat jendela, yang kasurnya sedikit kempis di bagian tengah.

Tapi hari Minggu, dari jam sepuluh sampai jam dua, aku duduk di ujung kiri anak tangga ketiga dan menatap gerbang.

Menunggu.

Bukan menunggu siapa-siapa. Hanya menunggu. Karena itu yang dilakukan semua anak di panti pada hari Minggu, dan aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.

Tujuh tahun. Tiga ratus enam puluh empat hari Minggu.

Aku menghitungnya, kemudian. Setelah aku punya Papa dan punya kalender sendiri dan punya waktu untuk menghitung hal-hal yang menyakitkan.

“Bu.”

Aku tersentak. Lulu berdiri di sebelahku, dengan clipboard di dada dan wajah datar yang menatapku, lalu menatap pagar, lalu menatapku lagi.

“Ibu sudah di sini dari jam berapa?”

“Enam.”

Lulu melihat jam tangannya. “Sekarang tujuh lewat dua puluh.”

Aku tidak menjawab.

Lulu diam sebentar. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dalam tiga tahun. Ia mengambil gelas kopi dingin dari tanganku, membuangnya ke tempat sampah di ujung parkiran, dan kembali dengan sebotol teh hangat dari termosnya sendiri. Ia menyerahkannya padaku tanpa berkata apa-apa.

Lalu ia berdiri di sebelahku. Menatap pagar yang sama. Tidak bertanya.

Kami berdiri seperti itu sampai jam setengah delapan, saat van tim B datang membawa bunga.


Evan datang jam delapan dengan Dodo dan tiga tas peralatan.

Ia berbeda hari ini. Aku menyadarinya begitu ia turun dari mobil.

Sejak malam di studio, malam ketika ia bercerita tentang Sasha dan aku menutup tangannya yang terbalut dengan tanganku, sesuatu di antara kami bergeser. Pesannya tidak lagi satu kata. Ia membalas lebih cepat. Ia datang ke rumah Papa untuk ayam bakakak seperti janjinya, dan Papa memberinya tujuh poin sekaligus karena ia makan tiga potong paha dan memuji sambal Bi Iyah. Ia mengirimiku foto kucing liar di depan studio dengan caption Teman barumu. Aku tahu kamu takut kucing. Ini kucing paling nggak menakutkan se-Dago.

Papa yang memberitahunya aku takut kucing. Aku akan membalas Papa nanti.

Tapi hari ini ada yang lain.

Ia menatapku. Itu bukan hal baru. Ia sering menatapku, meskipun ia selalu pura-pura sedang mengecek komposisi atau cahaya. Tapi hari ini ia menatapku dengan cara yang berbeda. Lebih lama. Lebih teliti. Seperti fotografer yang sedang mencari sesuatu yang spesifik di sebuah wajah.

Matanya selalu berhenti di tempat yang sama.

Di bawah mata kiriku.

“Ada yang salah sama mukaku?” tanyaku, waktu kami berdiri berdua di dekat pelaminan yang sedang dirangkai tim B.

“Nggak.”

“Kamu dari tadi lihatin mukaku kayak lihatin peta harta karun.”

Ia memalingkan wajah. “Aku cuma ngecek cahaya.”

“Cahayanya di mataku?”

“Di... bawahnya.”

Aku menatapnya. Ia menatap pelaminan. Telinganya merah.

Ada sesuatu yang dingin dan hangat sekaligus merayap di punggungku.

Dia lihat sesuatu.

Aku tidak bertanya lagi. Aku sudah belajar bahwa Evan Mahendra adalah laki-laki yang harus dibiarkan sampai sendiri ke kesimpulannya. Kalau didorong, ia lari ke toilet. Kalau dibiarkan, ia akan sampai. Pelan, tapi sampai.

Aku sudah menunggu dua belas tahun. Aku bisa menunggu sampai ia selesai mengecek cahaya di bawah mataku.


Hari itu, aku melihat diriku sendiri lewat mata orang lain berkali-kali.

Ibu pengantin perempuan memegang tanganku di ruang rias dan berkata, “Mbak Mika ini cantiknya kebangetan, ya. Kalau Mbak yang jadi pengantin, saya yakin tamunya lupa makan.”

Aku tersenyum dan berterima kasih, seperti biasa. Aku sudah mendengar kalimat seperti itu ratusan kali. Aku tahu cara menerimanya tanpa merasa canggung dan tanpa merasa terlalu senang.

Lalu bapak penghulu, yang sudah berumur tujuh puluhan dan memakai peci hitam yang sudah pudar, berhenti di depanku waktu aku mengantarnya ke meja akad, menatapku lama, lalu berkata dengan suara gemetar khas orang tua: “Neng, sudah menikah?”

“Belum, Pak.”

“Masya Allah. Kenapa? Laki-laki Bandung pada buta?”

“Mungkin pada takut, Pak.”

“Takut sama apa?”

Aku melirik ke seberang ruangan, ke tempat Evan sedang memasang lampu di atas tripod. Ia sedang menatapku. Lagi. Dan begitu tertangkap, ia memalingkan wajah begitu cepat sampai hampir menjatuhkan lampunya.

“Takut lihat, Pak,” jawabku.

Penghulu itu mengikuti arah pandanganku. Ia menatap Evan, yang sekarang sibuk sekali dengan kabel lampu. Lalu ia tertawa, tawa tua yang serak dan berbunyi seperti engsel pintu.

“Oh, yang itu,” katanya. “Yang itu mah sudah lihat, Neng. Dari tadi. Cuma pura-pura nggak.”

Lalu ia berjalan ke meja akad sambil terkekeh.

Aku berdiri di sana dengan wajah yang mendadak panas.

Hari ini aku memakai gaun panjang berwarna putih gading dengan potongan sederhana. Lengan panjang yang longgar, kerah bulat, bahan katun linen yang jatuh lurus dan bergoyang setiap kali aku bergerak. Rambutku dikuncir rendah dengan pita satin tipis berwarna cokelat. Riasanku tipis. Lebih tipis dari biasanya. Hanya alas bedak ringan, sedikit perona pipi, dan lipstik warna mawar yang lembut.

Aku tidak memilih baju ini untuk lensa 85mm-nya.

Aku memilih baju ini karena aku tahu hari ini aku akan melihat anak-anak di balik pagar, dan aku ingin terlihat seperti seseorang yang aman untuk didekati. Seseorang yang tidak menakutkan. Seseorang yang, kalau mereka melihatnya, mungkin berpikir suatu hari aku juga bisa jadi seperti itu.

Itu bodoh, mungkin. Tapi itu yang kupikirkan pagi tadi di depan cermin.


Akad berjalan lancar. Fajar mengucapkan ijab kabul dengan suara guru SD yang terbiasa bicara di depan kelas: lantang, jelas, dan sedikit terlalu formal. Wulan menangis. Penghulu tua terkekeh lagi.

Lalu, pukul sebelas, anak-anak panti datang.

Mereka berbaris dari gerbang panti ke pintu gedung, dipimpin dua pengasuh perempuan yang memakai kerudung seragam. Dua puluh tiga anak. Yang paling kecil mungkin empat tahun, digandeng kakak yang lebih besar. Yang paling besar mungkin enam belas, berjalan di belakang dengan bahu yang sedikit membungkuk, seperti malu terlihat terlalu bersemangat.

Mereka semua memakai baju terbaik mereka. Aku bisa melihatnya. Kemeja yang disetrika terlalu rapi. Rok yang sedikit kependekan karena dipakai sejak dua tahun lalu. Sepatu yang dicuci semalam dan belum benar-benar kering, meninggalkan jejak basah samar di lantai keramik.

Mereka berhenti di pintu gedung. Ragu. Menatap ruangan yang penuh bunga, meja-meja yang ditutup kain putih, tamu-tamu berbaju bagus.

Aku tahu tatapan itu. Aku tahu persis.

Tatapan anak yang tidak yakin apakah ia benar-benar diundang, atau hanya diperbolehkan hadir.

Aku sudah berjalan ke arah mereka sebelum aku memutuskan untuk berjalan.

“Halo,” kataku, berlutut di depan anak paling kecil, seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua yang tidak simetris. “Aku Kak Mika. Kalian tamu kehormatan hari ini. Mau duduk di meja yang paling dekat sama pengantin?”

Anak perempuan itu menatapku dengan mata besar. Sangat besar. Terlalu besar untuk wajahnya.

“Kakak cantik,” bisiknya.

“Kamu juga cantik.”

“Kakak putri?”

“Bukan. Kakak tukang ngatur kursi.”

Ia tertawa. Tawa kecil yang malu-malu, dengan tangan menutupi mulut. Lalu ia menggenggam tanganku, dan aku memimpin dua puluh tiga anak ke dua meja terdepan yang sudah Lulu siapkan dengan kartu nama satu per satu. Nama mereka, ditulis tangan dengan kaligrafi oleh tim dekorasi, sama dengan kartu nama tamu-tamu lain.

Seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun memegang kartu namanya dengan dua tangan, menatapnya lama, lalu memasukkannya ke saku kemeja dengan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang berharga.

Aku harus berbalik dan menatap langit-langit selama sepuluh detik.


Dodo, secara mengejutkan, adalah orang paling populer di ruangan itu.

Dalam setengah jam, ia sudah dikerubungi delapan anak laki-laki yang ingin melihat drone-nya. Ibu Negara Dua, yang baling-balingnya sudah diganti, terbang rendah di atas meja anak-anak sementara Dodo menjelaskan dengan semangat yang berlebihan tentang teori bahwa piramida dibangun alien menggunakan drone kuno.

“Bohong!” teriak seorang anak.

“Bukan bohong. Teori. Teori itu belum terbukti tapi belum terbantah,” kata Dodo dengan serius.

“Kak Dodo pernah lihat alien?”

“Belum. Tapi Kak Dodo pernah lihat Mbak Lulu marah. Itu lebih serem.”

Delapan anak menoleh ke arah Lulu, yang sedang berdiri di dekat meja prasmanan dengan clipboard. Lulu menatap mereka balik dengan wajah datar.

Delapan anak menjerit dan bersembunyi di belakang Dodo.

Lulu menulis sesuatu di clipboard. Lalu, ketika Dodo menoleh dan nyengir padanya, Lulu memalingkan wajah dengan cepat.

Tapi aku sudah melihatnya. Sudut bibirnya naik. Satu milimeter. Mungkin dua.


Saat makan siang, aku berdiri di pinggir ruangan dan memperhatikan dua puluh tiga anak makan rendang, sayur labu, dan kerupuk udang di meja yang sama dengan tamu-tamu lain. Mereka makan dengan rapi, terlalu rapi, seperti takut ditegur. Lalu pengantin perempuan, Wulan, datang ke meja mereka dengan gaun pengantin lengkap, duduk di antara mereka, dan mulai makan kerupuk dengan berisik.

Anak-anak menatapnya. Lalu tertawa. Lalu mulai makan dengan berisik juga.

Dan di saat itu, aku merasakan sesuatu.

Bukan suara. Bukan sentuhan. Hanya sesuatu. Perasaan sedang ditatap.

Aku menoleh.

Evan berdiri di sisi ruangan, di dekat jendela, dengan cahaya siang yang masuk miring di belakangnya. Kameranya terangkat. Lensanya mengarah padaku.

Bukan ke pengantin. Bukan ke anak-anak. Padaku.

Ia tidak tahu aku melihatnya. Matanya menempel di viewfinder, dan jarinya di tombol rana. Aku bisa melihat bahunya yang sedikit miring ke kiri, karena berat kamera. Aku bisa melihat perban di tangan kirinya yang sudah lebih tipis, hanya plester besar di telapak.

Klik.

Aku tidak bergerak. Aku tidak berpose. Aku tidak tersenyum ke kamera.

Aku membiarkannya.

Klik. Klik.

Aku membalikkan wajah kembali ke anak-anak. Ke Wulan yang sedang mengajari anak perempuan berkuncir dua cara menggigit kerupuk paling keras. Ke dua puluh tiga anak yang makan di meja yang sama dengan tamu-tamu lain, dengan kartu nama mereka sendiri.

Dan aku membiarkan Evan memotretku. Dari samping. Saat aku tidak tahu. Saat aku pura-pura tidak tahu.

Karena aku ingin ia punya foto ini. Foto seorang perempuan yang berdiri di dekat anak-anak panti, yang dulu duduk di undakan tangga semen dan sekarang berdiri di sini. Di sisi yang lain dari gerbang.

Aku ingin ia melihat.

Ia selalu harus melihat sendiri. Itu satu-satunya cara ia percaya.


Sore hari, setelah resepsi selesai dan anak-anak panti pulang dengan kantong-kantong plastik berisi kue dan buah, aku berjalan ke pagar besi hitam itu.

Sendiri. Lulu sedang membongkar dekorasi. Dodo sedang membereskan peralatan sambil dibuntuti tiga anak yang belum mau pulang. Evan, aku tidak tahu di mana.

Di balik pagar, anak perempuan berkuncir dua duduk di undakan teras. Anak tangga ketiga. Ujung kiri.

Ia sedang memakan kue lapis yang dibawanya dari resepsi, satu lapisan demi satu lapisan, pelan-pelan, seperti ingin membuatnya bertahan lama. Matanya menatap gerbang.

Bukan gerbang ke arahku. Gerbang depan, ke jalan.

Aku berdiri di balik pagar dan menatapnya. Ia tidak melihatku. Matahari sore jatuh di rambutnya yang dikuncir tidak simetris.

Aku ingin memanjat pagar itu. Aku ingin duduk di sebelahnya di undakan tangga. Aku ingin berkata padanya, nanti ada yang datang. Nanti ada yang nungguin kamu. Aku ingin mengatakan semua yang ingin kudengar waktu aku seumurnya.

Tapi aku tidak bisa menjanjikan itu. Tidak ada yang bisa menjanjikan itu.

Aku hanya berdiri di sana, memegang jeruji besi yang dingin, sampai mataku panas dan pandanganku buram.

“Kamu nggak apa-apa?”

Suaranya dari belakangku. Pelan. Hati-hati.

Aku tidak menoleh. Aku tidak mau ia melihat wajahku sekarang.

“Aku nggak apa-apa.”

Langkahnya mendekat. Ia berdiri di sebelahku, bahunya hampir menyentuh bahuku, dan menatap ke balik pagar ke arah yang sama.

Ke anak perempuan di undakan tangga.

Ia tidak berkata apa-apa. Lama. Hanya berdiri di sana, di sebelahku, menatap anak perempuan yang memakan kue lapis sambil menunggu gerbang yang tidak akan terbuka.

Lalu, perlahan, ia mengangkat kameranya. Leica tua milik ayahnya.

Ia tidak memotret anak perempuan itu.

Ia menurunkan kameranya lagi, tanpa menekan apa-apa, dan berkata dengan suara yang sangat pelan:

“Ada beberapa orang yang nggak boleh difoto dua kali.”

Aku menoleh padanya.

Ia tidak menatapku. Ia menatap anak perempuan di undakan tangga, dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bukan ekspresi fotografer. Ekspresi seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang sangat lama, sangat jauh, dan sangat menyakitkan.

“Kenapa?” bisikku.

Ia diam lama.

“Karena foto yang pertama sudah cukup buat bikin orang datang,” katanya akhirnya. “Foto yang kedua cuma bikin dia jadi tontonan.”

Aku menatapnya.

Ia ingat. Bukan namaku. Bukan wajahku. Tapi ia ingat apa yang foto itu lakukan.

Dan ia tidak tahu, belum tahu, bahwa anak perempuan yang ia foto pertama kali sekarang berdiri di sebelahnya. Dengan gaun putih gading dan mata yang buram. Di sisi yang lain dari pagar.

Hampir. Hampir saja aku bilang. Kata-katanya sudah ada di ujung lidahku: Evan, itu aku. Anak di foto itu aku.

Tapi ia harus melihatnya sendiri.

Kalau aku bilang, ia akan merasa berutang. Ia akan merasa harus membalas sesuatu. Ia akan menatapku dan melihat anak tiga belas tahun yang harus diselamatkan, bukan perempuan yang berdiri di sebelahnya.

Jadi aku menelan kata-kata itu. Dan rasanya seperti menelan pecahan kaca.

“Kamu orang baik, Evan Mahendra,” kataku akhirnya, dengan suara yang hampir tidak bergetar.

Ia menoleh padaku. Menatap wajahku. Mataku yang merah. Pipiku yang mungkin basah.

Lalu matanya turun. Sedikit. Ke bawah mata kiriku.

Dan berhenti di sana.

Lama sekali.

Aku tidak bergerak. Aku membiarkannya menatap. Aku membiarkannya mencari apa pun yang ia cari di wajahku, di tahi lalat kecil yang sudah ada sejak aku lahir, yang dulu Bu Ningsih bilang tanda kamu dicium malaikat sebelum turun ke bumi.

Napasnya berubah. Aku mendengarnya. Lebih pendek. Lebih cepat.

Ia membuka mulut seperti mau mengatakan sesuatu.

Lalu menutupnya lagi.

“Ayo pulang,” katanya akhirnya. Suaranya serak. “Udah mau magrib.”

Ia berbalik dan berjalan ke parkiran. Langkahnya tidak lurus. Sekali ia hampir tersandung batu kecil di jalan setapak.

Aku berdiri di pagar sebentar lagi. Menatap anak perempuan berkuncir dua, yang sudah menghabiskan kue lapisnya dan sekarang menatap remah-remahnya di telapak tangan.

“Nanti ada yang nungguin kamu,” bisikku, terlalu pelan untuk didengar siapa pun. “Aku janji.”

Aku tidak berhak menjanjikan itu.

Tapi aku menjanjikannya juga.


Malamnya, di apartemen, ponselku bergetar pukul sebelas.

Yang Melihat: Kamu tidur?
Aku: Belum.
Yang Melihat: Besok malam kamu sibuk?
Aku: Nggak. Kenapa?
Yang Melihat: Ibu mau masak soto spesial. Katanya kamu harus datang. Katanya kalau kamu nggak datang, dia mogok jualan.

Aku menatap pesan itu. Lalu, sebelum aku sempat membalas:

Yang Melihat: Itu bohong. Ibu nggak bilang gitu.
Yang Melihat: Aku yang mau kamu datang.

Aku menutup mulutku dengan tangan, sendirian di tempat tidur, di apartemen lantai dua belas yang sunyi.

Aku: Jam berapa?
Yang Melihat: Tujuh.
Yang Melihat: Bawa dompet.

Aku mengernyit.

Aku: Dompet? Buat apa? Ibumu nggak pernah mau dibayar.
Yang Melihat: Nggak tahu. Bawa aja.
Yang Melihat: Selamat tidur, Mika.

Itu pertama kalinya ia memanggilku Mika. Bukan Mikaela. Bukan kamu.

Mika.

Aku menatap nama itu di layar sampai layarnya meredup. Lalu aku menyentuhnya lagi supaya menyala. Lalu menatapnya lagi.

Lalu aku membuka dompetku, yang tergeletak di nakas, dan menyentuh guntingan koran yang dilipat empat di balik foto KTP.

Satu kali. Dengan ujung jari.

Bawa dompet.

Untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun, aku merasa guntingan koran itu berdenyut di ujung jariku. Seperti jantung kecil yang sudah lama menunggu untuk ditemukan.