Chapter Twenty Three
Gadis Tanpa Benang
POV: Mika
Kak Bima menemukanku di halte bus di depan Jalan Dago 312, duduk sendirian dengan sepatu flat di pangkuan dan kaki telanjang yang berdarah sedikit di punggung kaki kiri.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia berjongkok di depanku, lututnya berderak, mengeluarkan sapu tangan kumal berbau oli dari saku celananya, dan mengikatkannya di punggung kakiku. Simpul mati. Simpul montir.
Lalu ia memakaikan sepatuku. Kiri dulu, pelan, supaya lukanya tidak tergesek. Lalu kanan.
Tangannya besar dan kasar dan ada noda oli di buku-buku jarinya yang tidak pernah benar-benar hilang meskipun dicuci. Tangan yang sama yang menepuk kepalaku dengan canggung di parkiran Ciater. Tangan yang sama yang menggenggam tanganku di Kafe Lereng.
Tangan kakakku.
Aku menangis lagi. Aku tidak tahu air mataku masih ada.
“Dek,” katanya pelan, masih berjongkok. “Saya nggak ngerti apa-apa tadi. Benang apa?”
Aku menggeleng.
“Nanti,” kataku. “Nanti aku cerita. Semuanya.”
Ia menatapku lama. Lalu mengangguk.
“Oke. Saya tunggu.”
Ia berdiri, mengulurkan tangannya, dan membantuku berdiri. Lalu ia menyetopkan taksi, karena katanya saya nggak mau adik saya naik motor butut dalam kondisi begini, nanti masuk angin, nanti saya dimarahin almarhumah nenek dari kubur.
Aku tertawa. Di halte bus. Dengan mata bengkak dan kaki dibalut sapu tangan berbau oli.
Aku tidak tahu tawaku juga masih ada.
Papa sedang tidur ketika aku kembali ke kamar 512.
Lulu duduk di sofa penunggu dengan laptop di pangkuan, mengerjakan sesuatu yang aku tahu bukan pekerjaan, karena layarnya menampilkan spreadsheet berwarna-warni dengan judul yang tidak bisa kubaca dari pintu. Ia mendongak begitu aku masuk.
Ia melihat wajahku. Kakiku yang dibalut sapu tangan. Rambutku yang berantakan.
Lalu ia melihat Kak Bima, yang berdiri di belakangku di lorong, terlalu besar untuk ambang pintu, dengan kemeja flanel basah dan wajah orang yang tidak tahu harus masuk atau tidak.
Lulu menutup laptopnya.
“Bu,” katanya pelan, “itu siapa?”
Aku menatap Papa yang tidur. Monitor berbunyi pelan. Delapan puluh satu. Delapan puluh tiga.
“Nanti, Lulu.”
Lulu menatapku. Lalu menatap Kak Bima lagi. Lalu, dengan gerakan yang sangat tenang dan sangat efisien, ia berdiri, mengambil tasnya, dan berjalan ke pintu.
“Mas,” katanya pada Kak Bima, “ikut saya ke kantin. Bapak nggak boleh lihat Mas dulu. Saya nggak tahu kenapa, tapi saya bisa lihat dari muka Bu Mika.”
Kak Bima menatapnya. “Mbak siapa?”
“Saya Lulu. Asisten Bu Mika. Mas bisa anggap saya sistem keamanan.”
“Saya Bima. Saya...”
“Saya nggak tanya, Mas. Ayo. Kantin. Ada soto.”
Kak Bima menatapku dengan wajah bingung. Aku mengangguk. Ia mengikuti Lulu menyusuri lorong, dengan langkah berat dan sepatu bot yang berdecit di lantai rumah sakit, dan aku mendengar Lulu berkata dengan suara datarnya:
“Mas, tolong jalan di belakang pilar kalau lewat depan nurse station. Bapak punya mata-mata di sana. Suster Dewi. Dia suka gosip.”
“Saya harus sembunyi?”
“Mas terlalu besar untuk sembunyi. Tapi usahakan.”
Aku menutup pintu kamar 512, bersandar di baliknya, dan menutup mulutku dengan tangan supaya tawa yang bercampur tangis itu tidak membangunkan Papa.
Aku duduk di kursi di sebelah tempat tidur Papa dan tidak bisa berhenti memikirkan wajahnya.
Wajah Evan. Di lantai ruang editing. Ketika aku bilang benang.
Seperti seseorang yang sudah hidup sendirian di pulau terpencil selama dua belas tahun, dan tiba-tiba mendengar suara manusia lain memanggil namanya dari pantai.
Kaget. Takut. Tidak percaya.
Dan di bawah semua itu, sesuatu yang lain. Sesuatu yang terlihat seperti lega.
Aku tidak berencana mengatakannya seperti itu. Aku sudah merencanakannya dengan sangat berbeda. Dua belas tahun aku merencanakan, dan di semua rencana itu, aku tidak pernah mengatakannya. Ia yang akan tahu. Ia yang akan menyadari, suatu hari, pelan-pelan, bahwa aku tahu. Mungkin setelah kami menikah. Mungkin setelah kami punya anak. Mungkin ketika kami sudah tua dan duduk di teras rumah dan ia akhirnya bertanya, Mika, dari dulu kamu tahu, ya?
Dan aku akan tersenyum dan bilang, Dari umur tiga belas.
Itu rencananya.
Rencana itu hancur di lantai ruang editing, dengan kaki telanjang dan wajah basah, dengan satu kalimat yang keluar sebelum aku bisa menahannya.
Kamu lihat benangku ke dia, kan?
Aku menatap Papa yang tidur. Menatap monitor. Menatap jendela, di mana langit Bandung sudah berubah gelap dan lampu-lampu di sepanjang Jalan Juanda mulai menyala.
Lalu aku memejamkan mata.
Dan aku membiarkan diriku kembali ke sana.
Hari Minggu. Bulan Agustus. Dua belas tahun lalu.
Aku tiga belas tahun. Kurus. Rambutku pendek, dipotong sendiri seminggu sebelumnya dengan gunting dapur karena aku bosan Bu Ningsih menyisirnya setiap pagi dan menarik-narik kusutnya sampai kepalaku sakit. Poninya miring. Bu Ningsih bilang kayak dipotong kambing. Aku tidak peduli.
Aku duduk di anak tangga ketiga. Ujung kiri. Di bagian yang retak dan sedikit miring.
Jam sepuluh lewat dua puluh. Gerbang sudah terbuka. Mobil dan motor sudah datang. Ayah-ayah, ibu-ibu, kakak-kakak, paman-paman. Anak-anak lain sudah berlari. Dina, yang tidurnya di tempat tidur nomor enam belas, sebelahku, sudah dipeluk ayahnya yang supir angkot dan sekarang sedang membuka kantong plastik berisi kue cucur. Agus, nomor dua puluh tiga, sedang menangis di pelukan neneknya yang datang dari Sumedang.
Aku menatap gerbang.
Tidak menunggu siapa-siapa. Hanya menatap. Karena itu yang dilakukan semua anak di panti pada hari Minggu, dan aku tidak tahu harus melakukan apa lagi.
Lalu ada anak laki-laki.
Aku melihatnya masuk dari gerbang. Bukan dengan orang dewasa. Sendirian. Dengan seragam SMA abu-abu yang lengannya digulung dan kamera hitam besar yang menggantung di lehernya dengan tali pinjaman berwarna oranye. Rambutnya hitam, agak panjang untuk ukuran anak SMA, dan menutupi sebagian dahinya.
Aku mengenalnya. Sedikit. Ia anak soto. Yang setiap Jumat mengantar panci besar dari warung ibunya. Yang dua bulan lalu jatuh dari motor di depan gerbang, membuat sotonya tumpah ke aspal, dan menangis sambil minta maaf ke Bu Ningsih. Aku salah satu anak yang memunguti potongan daging dari aspal dengan mangkuk.
Tapi hari ini bukan hari Jumat. Dan ia tidak membawa soto.
Ia membawa kamera. Dan ia mulai memotret.
Ia memotret Dina dan ayahnya. Ia memotret Agus dan neneknya. Ia memotret anak-anak yang berlari ke gerbang, yang berebut kantong plastik, yang menangis dan tertawa. Ia bergerak di antara mereka dengan pelan, hati-hati, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu.
Lalu ia berhenti.
Di tengah halaman. Di dekat pohon jambu air.
Ia menurunkan kameranya, dan wajahnya berubah.
Aku ingat. Aku ingat dengan sangat jelas, seperti foto yang dicetak di kepalaku dengan kertas fiber terbaik. Wajahnya tiba-tiba pucat. Keringat muncul di pelipisnya, padahal hari itu tidak terlalu panas. Ia memegang dadanya dengan satu tangan, seperti seseorang yang baru saja dipukul. Napasnya cepat dan pendek.
Dan matanya.
Matanya bergerak ke mana-mana. Ke Dina dan ayahnya. Ke Agus dan neneknya. Ke udara di antara mereka. Ke udara di atas mereka. Seperti seseorang yang tiba-tiba melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Seperti seseorang yang tiba-tiba melihat hantu di siang bolong.
Lalu matanya berhenti di aku.
Di anak tangga ketiga. Ujung kiri.
Ia menatapku lama. Lama sekali. Dengan wajah yang pucat dan berkeringat dan bingung.
Lalu wajahnya berubah lagi. Dari bingung ke sesuatu yang lain. Aku tidak tahu namanya waktu itu. Sekarang aku tahu.
Marah.
Bukan marah padaku. Marah pada sesuatu. Pada dunia. Pada apa pun yang ia lihat, atau tidak ia lihat, di udara di sekitarku.
Ia berjalan ke arahku. Pelan. Dengan tangan yang masih memegang dada.
Ia berhenti di bawah tangga. Mendongak menatapku. Aku menatapnya balik. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tidak pernah ada yang berjalan ke arahku pada hari Minggu.
“Kamu,” katanya. Suaranya gemetar. Napasnya masih pendek. “Kamu nggak punya.”
Aku mengernyit. “Nggak punya apa?”
Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap ke udara di sekitarku. Ke kiri. Ke kanan. Ke atas. Seperti mencari sesuatu yang hilang.
Lalu ia duduk.
Di anak tangga pertama. Di bawahku. Membelakangiku. Dengan kamera di pangkuan dan kepala yang menunduk.
“Aku nggak tahu kenapa,” katanya. Pelan. Bukan padaku. Seperti bicara pada diri sendiri. “Aku nggak tahu ini apa. Ini baru pertama kali. Jantungku kenceng banget, terus tiba-tiba semuanya merah. Ada benang. Benang merah. Di mana-mana.”
Aku menatap punggungnya. Bahu kurus di bawah seragam SMA. Rambut yang basah keringat di tengkuk.
“Benang?” tanyaku.
“Dari dada orang. Ke orang lain.” Ia mengangkat satu tangan, menunjuk ke arah Dina dan ayahnya. “Itu. Ada benang dari anak itu ke bapaknya. Lurus. Tenang. Kayak tali jemuran.” Ia menunjuk Agus. “Itu juga. Dari anak itu ke neneknya. Semuanya punya. Semua anak di sini punya. Ke bapaknya. Ke ibunya. Ke kakaknya. Ke siapa pun yang datang.”
Ia berhenti.
“Kecuali kamu.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Aku tidak mengerti. Tiga belas tahun, dan aku tidak mengerti apa yang ia katakan. Benang? Benang merah? Dari dada orang?
Tapi aku mengerti satu hal.
Aku mengerti bahwa ia baru saja mengatakan sesuatu yang selama tujuh tahun aku tahu tapi tidak pernah ada yang mengatakannya keras-keras.
Semua anak di sini punya. Kecuali kamu.
Ia menoleh. Menatapku dari bawah tangga. Matanya basah. Aku tidak tahu kenapa matanya basah. Aku tidak menangis. Kenapa ia yang menangis?
“Maaf,” katanya. “Maaf. Aku nggak bermaksud... Aku nggak tahu kenapa aku bilang ini. Aku cuma...”
Ia berhenti. Menelan ludah. Menatapku lama.
Lalu ia mengatakannya.
Kalimat itu.
Kalimat yang aku simpan dua belas tahun. Kalimat yang aku ulang setiap malam sebelum tidur, di kamar baruku di rumah Papa, di asrama sekolah internasional di Singapura, di apartemen lantai dua belas di Dago. Kalimat yang aku tulis di halaman pertama setiap buku catatan baru yang aku beli. Kalimat yang aku bisikkan ke diriku sendiri di kamar mandi apartemen Singapura jam dua pagi, waktu dokter menelepon dan bilang Papa stadium empat.
“Kamu nggak punya benang,” katanya. “Sekarang belum.”
Ia tersenyum. Senyum kecil, gemetar, dengan mata yang basah.
“Nanti juga punya. Nanti ada yang nungguin kamu.”
Ia mengangkat kameranya setelah itu. Dan memotretku.
Lama. Berkali-kali. Dari bawah tangga. Dari samping. Dari dekat pohon jambu air. Aku tidak berpose. Aku tidak tersenyum. Aku hanya duduk di sana, di anak tangga ketiga, menatap gerbang, dan membiarkannya memotretku, karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Aku tidak tahu waktu itu bahwa ia sedang melakukan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan. Satu-satunya cara seorang anak laki-laki tujuh belas tahun dengan kamera pinjaman untuk berkata: aku melihatmu.
Lalu ia pergi.
Di gerbang, ia menoleh. Menatapku. Lalu berjalan. Lalu menoleh lagi.
Dua kali.
Belum pernah ada yang menoleh ke aku dua kali.
Empat hari kemudian, foto itu dimuat di koran.
Empat hari kemudian, Papa datang.
Laki-laki gemuk berkemeja batik, yang berlutut di ruang tamu panti supaya matanya sejajar dengan mataku, dan bertanya boleh saya jadi papamu.
Aku diam lama. Lama sekali. Papa sampai pegal berlutut.
Karena aku sedang memikirkan anak laki-laki di bawah tangga. Dan kalimatnya.
Nanti ada yang nungguin kamu.
Dan aku berpikir, dengan logika anak tiga belas tahun yang tidak pernah punya apa-apa: ini. Ini yang dia maksud. Dia tahu. Dia lihat. Dia lihat aku nggak punya benang, dan dia bilang nanti punya, dan empat hari kemudian orang ini datang.
Aku mengangguk. Satu kali. Kecil sekali.
Aku tidak tahu apakah anak laki-laki itu benar-benar bisa melihat benang. Aku tidak tahu apakah ia hanya anak SMA yang aneh, yang sedang sakit, yang berhalusinasi karena demam. Aku tidak tahu apakah Papa datang karena fotonya, atau karena takdir, atau karena kebetulan.
Aku hanya tahu bahwa seseorang melihatku, mengatakan nanti ada yang nungguin kamu, dan itu menjadi kenyataan.
Jadi aku percaya.
Aku percaya pada anak laki-laki itu dengan cara anak tiga belas tahun percaya pada sesuatu yang menyelamatkan hidupnya. Tanpa syarat. Tanpa bukti. Tanpa ragu.
Aku tidak langsung mencarinya. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku punya Papa sekarang, dan Singapura, dan sekolah baru, dan bahasa baru, dan hidup yang sama sekali berbeda.
Tapi aku membaca. Semua yang bisa kutemukan.
Umur lima belas, aku mencari namanya di internet. Evan Mahendra. Satu hasil. Foto di pameran pemenang, dengan kemeja kotak-kotak kebesaran.
Umur tujuh belas, aku menemukan akun Instagram-nya. Foto-foto pernikahan. Orang-orang yang menangis, tertawa, berpelukan. Foto-foto yang terlihat seperti diambil oleh seseorang yang bisa melihat sesuatu di dalam mereka yang orang lain tidak bisa lihat.
Umur dua puluh, aku membaca wawancara pertamanya. Dan di paragraf ketiga, ada satu kalimat yang membuatku menjatuhkan ponselku di lantai asrama:
Saya minum decaf karena alasan kesehatan. Jantung saya agak sensitif. Kalau kebanyakan kafein, detaknya suka naik terlalu tinggi, dan itu... nggak nyaman buat saya.
Jantungku kenceng banget, terus tiba-tiba semuanya merah.
Aku duduk di lantai asrama dan menyambungkan dua kalimat itu dengan tangan gemetar.
Umur dua puluh dua, aku melihat foto profil majalahnya yang baru. Matanya terlihat lebih tua. Lebih lelah. Seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu. Dan aku membaca kalimat di paragraf terakhir, foto yang paling jujur adalah foto orang yang baru saja kehilangan sesuatu, dan aku menangis di kamar mandi apartemen jam dua pagi untuk laki-laki yang tidak tahu aku ada.
Umur dua puluh empat, Lulu bergabung denganku. Dan aku memintanya mencari tahu, dengan sangat sopan dan sangat diam-diam, apakah Evan Mahendra masih minum decaf. Apakah ia memakai jam tangan yang mengukur detak jantung. Apakah ia menghindari tangga.
Ya. Ya. Ya.
Lulu tidak bertanya kenapa.
Dan aku mulai menyusun rencana.
Bukan rencana untuk membuatnya mencintaiku. Aku tidak bisa membuat siapa pun mencintaiku. Aku sudah tahu itu sejak tujuh tahun di anak tangga ketiga.
Rencana untuk membuatnya melihat.
Karena aku tahu, dari kalimatnya di bawah tangga, bahwa ia bisa melihat ke mana hati orang pergi. Dan aku tahu, dari dua belas tahun, ke mana hatiku pergi.
Kalau ia melihat, aku tidak perlu mengatakannya.
Kalau ia melihat, aku tidak perlu mempertaruhkan kalimat yang paling menakutkan di dunia. Kalimat yang kalau tidak dibalas, akan membuatku kembali ke anak tangga ketiga. Ujung kiri. Menatap gerbang yang tidak terbuka.
Kalau ia melihat, ia akan tahu. Tanpa aku harus bilang.
Itu sebabnya aku memegang nadinya di ballroom Lembang. Itu sebabnya aku berbisik di telinganya. Itu sebabnya aku mengganti decaf-nya dengan kopi asli. Itu sebabnya aku menantangnya naik tangga. Itu sebabnya aku bertanya sekarang berapa? setiap kali aku bisa.
Setiap kali angka itu naik, ia melihat.
Setiap kali ia melihat, ia tahu.
Dan setiap kali ia tahu, aku tidak perlu mengucapkan apa-apa.
Itu rencana yang sangat bagus. Rencana yang sangat pengecut. Rencana seorang anak perempuan yang tidak pernah berani berlari ke gerbang, jadi ia menunggu sampai gerbang yang datang padanya.
Pukul dua pagi, Papa bangun.
“Mika,” katanya serak.
“Pa.” Aku meraih tangannya. “Papa butuh apa? Air?”
“Kamu nangis lagi.”
“Nggak, Pa.”
“Kamu tidur di kursi. Mukamu ada bekas lengan kursi.” Ia tersenyum lemah. “Fotografermu?”
Aku tidak menjawab.
Papa menatapku lama dari balik selang oksigen. Lalu matanya bergerak ke jendela. Ke langit malam Bandung yang gelap.
“Mika,” katanya pelan. “Papa mau bilang sesuatu. Dari dulu.”
“Apa, Pa?”
“Kamu nggak pernah minta apa-apa sama Papa. Dua belas tahun. Kamu nggak pernah minta mainan. Nggak pernah minta baju. Nggak pernah minta jalan-jalan. Kamu nunggu Papa kasih. Kamu selalu nunggu.” Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya. “Papa tahu kenapa. Karena kamu takut kalau minta, Papa bilang nggak. Dan kalau Papa bilang nggak, kamu nggak tahu harus ke mana lagi.”
Aku menunduk.
“Tapi Mika,” lanjut Papa. “Orang yang sayang sama kamu nggak akan pergi cuma karena kamu minta sesuatu. Orang yang sayang sama kamu nggak akan pergi cuma karena kamu bilang sesuatu.”
Ia diam sebentar. Napasnya berat.
“Kamu udah bilang ke dia?”
“Bilang apa, Pa?”
“Kamu tahu bilang apa.”
Aku menatap tangan Papa di tanganku. Kurus. Bertulang. Dengan jarum infus di punggung tangan.
“Belum,” bisikku.
“Kenapa?”
“Karena aku takut, Pa.” Suaraku pecah. “Aku takut kalau aku bilang, dan dia nggak... dan dia cuma diam... aku balik lagi ke tangga.”
Papa menatapku lama.
“Kamu nggak akan balik ke tangga, Mika,” katanya. “Tangga itu udah nggak ada. Kamu udah turun dari sana dua belas tahun lalu. Papa yang gendong kamu turun.”
Aku menangis di tangan Papa sampai ia tertidur lagi.
Pukul lima pagi, langit Bandung mulai abu-abu di ujung timur.
Aku berdiri di depan jendela kamar 512, memeluk jaket denim tua Evan, dan menatap halaman rumah sakit di bawah. Taman kecil dengan bangku-bangku besi dan pohon-pohon besar yang daunnya masih basah embun. Lampu-lampu taman yang masih menyala, kuning pucat di udara pagi yang dingin.
Dan di salah satu bangku, di bawah pohon trembesi yang paling besar, ada seseorang.
Duduk sendirian. Dengan jaket bomber cokelat tua yang tidak cukup tebal untuk udara subuh Bandung. Bahu yang sedikit membungkuk. Rambut yang diikat setengah, berantakan, seperti diikat dengan terburu-buru.
Di pangkuannya, boneka beruang cokelat setinggi lutut.
Ia tidak bergerak. Ia tidak main ponsel. Ia tidak tidur.
Ia hanya duduk di sana. Menatap pintu masuk rumah sakit.
Menunggu.
Aku menekan telapak tanganku ke kaca jendela yang dingin.
Aku tidak tahu sudah berapa lama ia di sana. Satu jam? Dua? Sejak tengah malam?
Laki-laki yang tidak pernah menunggu siapa pun. Yang selalu lari. Ke toilet. Ke darkroom. Ke balik tujuh aturan dan alarm di angka seratus sepuluh.
Laki-laki itu duduk di bangku besi yang dingin di taman rumah sakit pukul lima pagi, memeluk boneka beruang bernama Satu-Dua-Nol, dan menatap pintu.
Menunggu aku.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tahu persis bagaimana rasanya berada di sisi yang lain dari gerbang.
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang reading
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?