Chapter Thirty Nine
Sudah Ada yang Menunggu
POV: Mika
Ibu Evan tidak bisa menyimpan rahasia.
Aku tahu ini sejak syukuran pertama, ketika ia menempelkan papan TUTUP — SYUKURAN ANAK IBU AKHIRNYA LAKU di pintu warung dan menolak menggantinya. Tapi aku tidak tahu seberapa parah, sampai hari Jumat sore, satu bulan setelah ablasi, ketika ia meneleponku.
“Neng Mika!” Suaranya terlalu keras. Terlalu bersemangat. “Neng lagi di mana?”
“Di kantor, Bu. Kenapa?”
“Nggak! Nggak ada apa-apa! Ibu cuma mau nanya, Neng besok pakai baju apa?”
Aku menatap ponselku.
“Besok, Bu?”
“Iya, besok! Hari Sabtu! Ke panti!”
“Ke panti?”
Hening di ujung telepon.
Lalu suara Ibu Evan, jauh dari ponsel, berbisik keras kepada seseorang di sebelahnya: “Darto! Darto, Neng Mika belum tahu! Evan belum bilang!”
Suara Pak Darto, pelan dan panik: “Bu Ratih, kan udah saya bilang jangan telepon...”
“Ibu cuma mau nanya baju!”
“Itu sama aja, Bu...”
Ibu Evan kembali ke telepon. Suaranya sekarang terlalu tenang. Terlalu ringan. Seperti seseorang yang berusaha sangat keras untuk terdengar biasa.
“Neng. Lupain yang Ibu bilang tadi. Ibu salah sambung.”
“Bu, Ibu telepon nomorku.”
“Iya. Salah sambung ke nomor yang benar.” Ibu Evan berdeham. “Pokoknya, besok Neng pakai baju yang cantik ya. Yang putih. Neng cantik kalau pakai putih. Bukan karena apa-apa. Ibu cuma... saran fashion.”
“Bu...”
“Wassalamualaikum!“
Telepon ditutup.
Aku menatap ponselku. Lalu menatap Lulu, yang duduk di meja di seberangku, dengan clipboard di depannya dan wajah yang terlalu datar.
“Lulu.”
“Bu.”
“Besok ada apa di panti?”
Lulu menatapku. Wajahnya tidak berubah. Sama sekali.
Tapi telinganya merah. Merah seperti tomat. Merah seperti lampu darkroom.
“Saya tidak tahu apa-apa, Bu,” katanya. “Saya hanya mencatat.”
Ia menutup clipboard-nya. Dengan sangat cepat.
Tapi tidak cukup cepat. Aku sempat melihat halaman yang terbuka. Halaman dengan judul yang ditulis tangan, digarisbawahi tiga kali:
OPERASI LAMARAN — RAHASIA — JANGAN DIBUKA DI DEPAN BU MIKA.
Aku menatap Lulu.
Lulu menatap jendela.
“Bu,” katanya, dengan suara yang sangat tenang. “Saya akan catat pelanggaran ini di kolom Dosa Lulu.”
Aku memakai baju putih.
Bukan karena Ibu Evan menyuruh. Bukan karena Lulu tidak sengaja membuka clipboard-nya. Bukan karena aku sudah tahu.
Aku memakai baju putih karena aku ingin.
Gaun selutut berwarna putih gading, berbahan katun linen yang jatuh lembut, dengan lengan pendek yang sedikit mengembang dan kerah bulat sederhana. Mirip dengan yang kupakai di pernikahan kelima, di Sukajadi, di sebelah panti yang lain. Rambutku kugerai, dengan satu sisi diselipkan ke belakang telinga, supaya anting mutiara kecilku terlihat. Lipstik merah bata. Yang sama dengan malam pertama di Lembang.
Aku menatap perempuan di cermin.
Perempuan di cermin balas menatapku. Matanya tidak lagi terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawahnya sudah memudar. Pipinya sudah tidak setirus sebulan lalu. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah tidur dengan nyenyak lebih dari empat jam selama berminggu-minggu.
Matanya terlihat seperti sedang menahan senyum.
Lagi.
“Kamu tahu,” kataku padanya.
Perempuan di cermin tidak membantah. Ia hanya tersenyum.
“Tapi kamu bakal pura-pura nggak tahu,” kataku. “Karena dia udah usaha keras.”
Perempuan di cermin mengangguk.
Lalu aku menyemprotkan parfum di pergelangan tangan. Di bagian dalam. Di tempat nadi. Kebiasaan yang tidak akan pernah bisa kuhentikan.
Kak Bima menjemputku. Dengan motor butut hijau tua yang knalpotnya sudah diganti, karena katanya nggak sopan jemput adik yang mau dilamar pakai knalpot bocor.
“Kak,” kataku, berdiri di depan apartemen dengan gaun putih dan helm yang ia sodorkan. “Kakak tahu kan aku udah tahu?”
Kak Bima menatapku. Wajahnya berubah. Dari bangga ke panik.
“Dek, kamu nggak boleh tahu!”
“Ibu Evan telepon kemarin.”
“Ya Allah, Bu Ratih...”
“Lulu nggak sengaja buka clipboard.”
“Ya Allah, Mbak Lulu...”
“Kakak sendiri barusan bilang adik yang mau dilamar.”
Kak Bima membeku. Mulutnya terbuka. Lalu tertutup. Lalu terbuka lagi.
“Dek,” katanya akhirnya, dengan suara yang sangat serius. “Kamu harus pura-pura kaget.”
“Aku tahu, Kak.”
“Mas Evan udah latihan sebulan.”
“Aku tahu, Kak.”
“Dia latihan sama Dodo. Dodo jadi kamu. Pakai wig.”
Aku menatap kakakku.
“Dodo pakai wig?”
“Wig panjang. Hitam. Bergelombang. Dari toko kostum di Pasar Baru.” Kak Bima menggaruk tengkuknya. “Saya lihat sekali. Saya nggak bisa tidur dua malam.”
Aku tertawa sampai harus berpegangan pada jok motor supaya tidak jatuh.
Panti Asuhan Kasih Ibu di hari Sabtu pagi terlihat sama dengan dua belas tahun lalu.
Gerbang besi yang sudah dicat biru muda. Halaman semen yang retak di beberapa tempat. Pohon jambu air di pojok, lebih besar dan lebih tua. Teras dengan tiga anak tangga semen.
Anak tangga ketiga retak di ujung kiri.
Tapi ada yang berbeda.
Di halaman, di antara pohon jambu air dan tiang-tiang besi tempat anak-anak biasa menjemur pakaian, ada tali-tali yang direntang. Tali jemuran. Puluhan. Melintang di udara dari tiang ke tiang, dari pohon ke pagar, dari teras ke gerbang. Seperti jaring laba-laba yang dirajut oleh seseorang yang sangat sabar.
Dan di setiap tali, dengan penjepit kayu kecil, tergantung foto-foto.
Ratusan. Hitam-putih dan berwarna. Dicetak di kertas foto berukuran besar dan kecil. Bergoyang pelan ditiup angin pagi.
Aku berhenti di gerbang.
Kak Bima, di belakangku, menahan napas.
Foto-foto pernikahan. Dua belas pernikahan. Aku mengenalinya satu per satu.
Riko dan Shinta di ballroom Lembang. Dodo memeluk dua tingkat kue dengan kemeja penuh krim.
Tiara, si bridesmaid, menunduk setelah pidato. Wajahnya setengah tersenyum, setengah sesuatu yang lain.
Pak Darmawan dan Bu Sumarni berdansa di lantai kayu yang berkilat seperti madu. Tangan Bu Sumarni tidak gemetar di bahu suaminya.
Dimas dan Rara berdansa di bawah hujan di Lembang. Basah kuyup. Tertawa. Pak Kumis dengan dasi kupu-kupu miring di latar belakang.
Bagas yang pingsan, dengan kepala di pangkuan Dodo.
Wulan yang makan kerupuk dengan anak-anak panti di Sukajadi.
Hendra dan Sinta dengan pilar-pilar Yunani palsu. Burung kenari di sangkar emas.
Gilang dan Sekar di bawah awan baby’s breath di Ciater.
Rendi yang menangis di balik kacamata tebal setelah ijab kabul dalam satu napas.
Yoga dan Rini di tengah kebun teh Pangalengan. Di tempat pagar pembatas dulu berdiri.
Dika dan Saras, dengan dua puluh pemadam kebakaran yang membunyikan sirene di belakang.
Gilbert dan Ayu di taman atap Wisma Prima, di bawah langit jingga. Dan Oma Lies di kursi roda, menatap langit dengan mata yang basah.
Dua belas pernikahan. Dua belas kisah.
Dan di antara semuanya, di setiap tali, di sela-sela foto pengantin, ada foto-foto lain.
Foto-foto aku.
Aku di ballroom Lembang, berjalan di antara empat ratus tamu dengan blazer krem, dengan kepala-kepala yang menoleh.
Aku di Ciumbuleuit, di dekat meja vendor, menoleh ke arah kamera setelah pidato Tiara. Cahaya sore di separuh wajahku. Mata yang menatap langsung ke lensa.
Aku di balkon Braga, dengan langit ungu di belakang. Sebelum drone.
Aku di bawah hujan di Lembang, dengan jaket denim yang terlalu besar dan buku tamu berlumpur di pelukan.
Aku di Sukajadi, berdiri di dekat meja anak-anak panti, dengan gaun putih gading dan pita satin cokelat di rambut. Menatap anak perempuan berkuncir dua.
Aku di puncak bianglala, dari bawah, dengan lampu-lampu warna-warni di sekelilingku. Dodo yang memotret. Pasti Dodo.
Aku di taman Rumah Sakit Borromeus, di bangku besi, memeluk Papa. Wajahku tenggelam di bahunya. Papa mengusap rambutku. Cahaya sore keemasan menembus daun trembesi.
Aku menatap foto itu.
Klik. Satu kali. Lalu tidak ada lagi.
Foto terakhir Papa.
Air mataku jatuh sebelum aku bisa menahannya.
“Mbak!”
Suara anak kecil. Dari teras.
Anak perempuan berumur delapan tahun dengan rambut dikuncir dua yang tidak simetris berlari menuruni anak tangga dan berhenti di depanku. Mengulurkan tangannya. Di telapaknya, sebuah amplop kecil berwarna krem.
“Ini dari Kakak Fotografer,” katanya. “Katanya kasih ke Kakak Putri.”
“Aku bukan putri,” kataku, berlutut supaya mataku sejajar dengan matanya.
“Kata Kakak Fotografer, Kakak putri.” Anak itu menatapku dengan mata besar. “Kakak Fotografer bilang Kakak dulu tinggal di sini. Di tempat tidur nomor tujuh belas.”
Aku membeku.
“Sekarang tempat tidur nomor tujuh belas punyaku,” kata anak itu bangga. “Kasurnya kempis di tengah.”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
Anak itu menyodorkan amplopnya lagi. Aku menerimanya.
Di dalamnya, satu kartu. Kartu krem dengan huruf emas tipis. Persis seperti kartu nama Kaela Wedding. Persis seperti kartu yang kuselipkan di saku kemejanya di ballroom Lembang, malam pertama, tepat di atas jantungnya.
Di baliknya, tulisan tangan. Bukan tulisan tangan anak SMA yang terlalu miring dan terlalu besar. Tulisan tangan laki-laki dua puluh sembilan tahun yang sudah belajar menulis lebih rapi, tapi masih sedikit gemetar.
Ikuti talinya.
Aku menatap tali-tali jemuran yang melintang di halaman. Puluhan. Dengan foto-foto yang bergoyang.
Satu tali berbeda.
Tali merah.
Dari gerbang, tempat aku berdiri, menjulur melintasi halaman. Melewati pohon jambu air. Melewati tiang-tiang jemuran. Tali merah tipis, setebal benang jahit, dengan foto-foto yang tergantung di sepanjangnya.
Ke teras.
Ke anak tangga ketiga.
Aku mengikuti talinya.
Foto pertama di tali merah: anak perempuan tiga belas tahun di anak tangga ketiga. Hitam-putih. Print baru, dari negatif lama, yang dicetak di darkroom studio. Diperbesar sampai hanya wajahnya yang tersisa. Mata yang terlalu besar. Tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
Di bawahnya, kertas kecil dengan tulisan tangan: Hari pertama aku lihat benang. Hari pertama aku lihat kamu.
Foto kedua: kartu nama krem dengan huruf emas tipis. Difoto dari dekat. Bagian belakangnya, dengan tulisan tangan yang miring ke kanan. Jangan minum decaf besok. Kamu butuh tenaga untuk menolakku.
Di bawahnya: Aku nggak berhasil nolak.
Foto ketiga: dua gelas kopi di meja jati. Satu decaf yang sudah dingin. Satu Gayo yang masih mengepul.
Di bawahnya: Pagi kedua. Aku pilih yang hangat.
Foto keempat: boneka beruang cokelat setinggi lutut, duduk di kasur di lantai atas studio, menatap kamera dengan mata kancing hitam.
Di bawahnya: Satu-Dua-Nol. Kode rahasia. Sekarang nggak rahasia lagi.
Foto kelima: bangku besi di taman Rumah Sakit Borromeus. Kosong. Di bawah pohon trembesi. Pagi hari.
Di bawahnya: Empat jam. Pertama kalinya aku nunggu.
Foto keenam: tangga darurat. Dari atas. Melalui celah di antara pegangan tangga yang berputar turun. Gelap. Hanya lampu hijau pucat di setiap bordes.
Di bawahnya: Delapan lantai. Kamu tanya aku di lantai berapa. Aku jawab. Itu yang paling penting.
Foto ketujuh: gelas kertas kopi Gayo di meja jati. Dengan sticky note kuning di sebelahnya.
Di bawahnya: 88. Aku ketawa. Aku nangis. Aku nggak lari ke toilet.
Aku sampai di teras.
Tali merah itu berakhir di anak tangga ketiga. Diikat di tiang besi pegangan tangga. Di ujung kiri. Di bagian yang retak dan sedikit miring.
Dan di sana, tergantung dengan penjepit kayu, foto terakhir.
Aku menatap foto itu.
Anak tangga ketiga. Ujung kiri. Panti Asuhan Kasih Ibu.
Seorang perempuan duduk di sana. Dua puluh lima tahun. Dengan blus putih dan celana jins. Rambut tergerai. Ia tidak menatap gerbang.
Ia menatap kamera. Menatap seseorang di balik kamera. Dengan mata yang besar, sedikit sipit di ujung, yang terlihat seperti sedang menahan senyum.
Dan ia tersenyum.
Bukan senyum menggoda. Bukan senyum sopan untuk klien. Senyum yang lain. Senyum seseorang yang tidak lagi menunggu, karena yang ditunggu sudah datang.
Aku mengenali foto itu. Hari kami datang ke panti, setelah warung soto. Setelah guntingan koran jatuh. Kami duduk di anak tangga ketiga, bahu bersentuhan, tangan bergenggaman. Lalu Bu Ningsih memanggil kami untuk teh, dan aku berdiri lebih dulu, dan berbalik, dan tersenyum padanya.
Aku tidak tahu ia memotretku.
Di bawah foto itu, kertas kecil dengan tulisan tangan. Bukan kertas biasa. Plakat kuningan kecil. Seperti plakat di bawah foto di dinding studio.
Sudah Ada yang Menunggu.
Evan Mahendra, 29 tahun.
Aku tidak bisa bernapas.
“Judulnya kurang bagus?”
Suaranya. Dari belakangku.
Aku berbalik.
Ia berdiri di halaman. Di bawah pohon jambu air. Di antara tali-tali jemuran dan foto-foto yang bergoyang. Dengan kemeja putih dan celana kain cokelat. Rambutnya diikat setengah. Leica tua milik ayahnya tergantung di lehernya.
Wajahnya tidak pucat lagi. Pipinya berwarna. Matanya jernih.
Ia terlihat sehat. Ia terlihat hidup.
Ia terlihat sangat, sangat gugup.
“Aku udah ganti judulnya tujuh kali,” katanya. “Dodo bilang yang ini paling bagus. Lulu bilang terlalu sentimental. Ibu bilang kurang panjang. Bima bilang dia nangis baca judulnya, jadi pasti bagus.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku mau cerita sesuatu,” katanya. “Sebelum... sebelum yang lain.”
Ia berjalan ke arahku. Pelan. Berhenti di bawah anak tangga pertama. Mendongak menatapku, yang berdiri di anak tangga ketiga.
Persis seperti dua belas tahun lalu.
Anak laki-laki di bawah tangga. Anak perempuan di atas.
“Sebulan lalu,” katanya, “setelah ablasi, aku mimpi. Soal hari itu. Di sini. Waktu aku pertama kali lihat benang.”
Aku menunggu.
“Aku mimpi aku jalan ke gerbang. Terus noleh. Dua kali.” Ia menelan ludah. “Dan di mimpi itu, waktu noleh kedua kali, aku lihat sesuatu.”
“Apa?”
“Aku nggak tahu. Aku bangun sebelum lihat jelas.” Ia menatapku. “Jadi aku masuk darkroom. Jam tiga pagi. Aku duduk di bawah lampu merah sampai subuh. Nyoba ingat.”
“Dan?”
“Dan pelan-pelan aku ingat.” Suaranya bergetar. “Kayak foto yang muncul di nampan pengembang. Pelan. Bayangan dulu. Terus bentuk. Terus jelas.”
Ia menarik napas.
“Hari itu, Mika. Dua belas tahun lalu. Waktu aku noleh untuk kedua kalinya di gerbang. Jantungku masih kencang. Masih di atas seratus dua puluh. Dunia masih merah.”
Ia menatapku.
“Dan dari dadamu, dari anak perempuan yang nggak punya benang, aku lihat sesuatu muncul. Tipis. Lebih tipis dari rambut. Merah.”
Aku membeku.
“Waktu itu aku pikir aku halusinasi. Aku pusing. Aku mau muntah. Aku baru pertama kali lihat benang. Aku nggak ngerti apa-apa. Jadi aku jalan pulang dan nggak mikirin lagi. Dua belas tahun.”
Air matanya mulai jatuh.
“Benang itu tipis banget, Mika. Setipis benangmu ke Kak Bima di Ciater. Waktu aku salah paham. Waktu aku nggak bisa bedain.”
Ia menggeleng pelan.
“Waktu itu juga aku nggak bisa bedain. Aku nggak tahu itu benang keluarga atau benang sayang atau benang apa. Aku cuma tahu itu benang pertamamu. Yang pertama. Dari anak yang nggak punya benang sama sekali.”
Ia menatapku.
“Dan benang itu ke arahku.”
Aku tidak bisa berdiri.
Kakiku lemas. Aku duduk di anak tangga ketiga. Ujung kiri. Di bagian yang retak dan sedikit miring.
Evan naik satu anak tangga. Dua. Berlutut di anak tangga kedua, di bawahku. Wajahnya sekarang sejajar dengan wajahku.
“Kamu nggak punya benang,” katanya pelan. “Waktu itu. Aku bilang nanti juga punya.”
“Kamu bilang nanti ada yang nungguin kamu,” bisikku.
“Dan empat hari kemudian, Papa datang. Dan kamu punya benang ke Papa. Setebal tali tambang.” Ia tersenyum. Dengan air mata. “Tapi yang pertama bukan ke Papa.”
Ia meraih tanganku.
“Benang pertamamu punyaku, Mika.”
Aku menangis. Di anak tangga ketiga. Di panti asuhan tempat aku menunggu tujuh tahun.
“Dua belas tahun,” kataku di antara isak. “Dua belas tahun aku pikir aku jatuh cinta duluan. Aku pikir aku yang nunggu sendirian. Aku pikir kamu nggak pernah tahu.”
“Aku tahu,” katanya. “Aku lihat. Aku cuma nggak ingat.”
“Kamu bodoh.”
“Aku tahu.”
“Kamu lupa benang pertama yang kamu lihat ke arahmu.”
“Aku tahu, Mika.”
“Dua belas tahun, Evan.”
Ia tertawa. Basah. Menundukkan kepalanya sampai dahinya menyentuh tanganku yang ia genggam.
Lalu ia mengangkat kepalanya. Dan merogoh saku celananya.
Dari pohon jambu air, terdengar suara.
BZZZZZZZZZ.
Aku mendongak.
Ibu Negara Dua. Drone putih dengan empat baling-baling dan lampu merah yang berkedip-kedip. Melayang dari balik dahan pohon jambu air. Dengan sesuatu yang menggantung di bawahnya, diikat dengan tali rafia merah.
Kotak kecil. Beludru. Merah tua.
Dari balik pohon jambu air, suara Dodo, panik: “Bang! Bang, sinyalnya kehalang daun! Bang, saya nggak bisa kontrol!“
Drone itu oleng. Ke kiri. Ke kanan. Ke arah tali jemuran.
“DODO!“ Suara Lulu. Dari balik tembok panti. “Turunkan sekarang! Sesuai protokol!“
“Saya lagi coba, Mbak!“
Drone itu menabrak tali jemuran. Tersangkut. Berputar-putar di tempat dengan baling-baling yang berdengung marah. Foto Pak Darmawan dan Bu Sumarni bergoyang hebat. Kotak beludru merah tua berayun di ujung tali rafia, seperti bandul jam.
Lalu tali rafianya putus.
Kotak itu jatuh.
Tepat ke tangan Kak Bima, yang entah sejak kapan berdiri di sebelah gerbang, dan menangkapnya dengan refleks montir yang terbiasa menangkap kunci inggris yang dilempar dari bawah kolong motor.
Hening.
Semua orang menatap Kak Bima. Ibu Evan dan Pak Darto, yang muncul dari balik pintu panti. Lulu, yang muncul dari balik tembok dengan clipboard. Dodo, yang muncul dari balik pohon jambu air dengan remote drone dan wajah pucat. Bu Ningsih, dengan tongkat, di teras. Fikri, dengan kucing bernama Stetoskop di gendongan. Teh Neneng. Dua puluh anak panti yang berkerumun di jendela.
Kak Bima menatap kotak di tangannya.
Lalu ia mulai menangis.
“Ya Allah,” isaknya. “Ya Allah. Saya yang nangkep. Saya nangkep cincin adik saya.”
“Bang Bima!” bisik Evan keras dari anak tangga kedua. “Bang, kotaknya!”
“Iya, iya. Maaf.” Kak Bima berjalan ke teras. Dengan langkah berat dan air mata yang mengalir ke berewoknya. Menyerahkan kotak itu ke tangan Evan. Lalu, karena ia tidak bisa menahan diri, ia memeluk Evan. Dari belakang. Dengan dua lengan yang besar. “Jaga dia, Mas. Jaga adik saya.”
“Bang, aku belum lamar.”
“Saya tahu. Saya cuma mau peluk dulu.”
Ibu Evan, di pintu panti, menangis sambil tertawa. Lulu menulis sesuatu di clipboard. Dodo menatap drone-nya yang masih tersangkut di tali jemuran, berputar-putar, dengan wajah orang yang baru saja kehilangan kehormatan.
“Pidato pernikahan,“ bisik Lulu, cukup keras untuk kudengar dari teras. “Saya catat.“
Kak Bima akhirnya melepaskan Evan. Mundur ke halaman. Menyeka matanya dengan lengan kemeja batik.
Evan berlutut lagi di anak tangga kedua. Dengan kotak beludru merah tua di tangannya, yang sedikit basah karena tangan Kak Bima.
Ia membuka kotak itu.
Cincin. Emas putih. Sederhana. Dengan satu batu kecil yang tidak berkilau seperti berlian, tapi bersinar lembut seperti mutiara.
Seperti anting di telingaku.
“Aku nggak pinter ngomong,” katanya. Suaranya bergetar. “Kamu tahu itu.”
Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.
“Tapi kamu bilang kamu mau dengar,” katanya. “Bukan cuma lihat. Jadi aku latihan. Sebulan. Sama Dodo pakai wig.”
Seseorang di kerumunan terkikik. Dodo.
“Mikaela Wirawan,” kata Evan.
Ia menarik napas. Napas yang panjang dan gemetar. Seperti Rendi di depan meja akad.
“Dua belas tahun lalu, aku bilang ke kamu, nanti ada yang nungguin kamu. Aku nggak tahu siapa. Aku cuma berharap.”
Ia menatapku.
“Sekarang aku tahu siapa. Aku mau jadi orang itu. Seumur hidup. Nungguin kamu pulang tiap hari. Nungguin kamu bangun tiap pagi. Nungguin kamu jawab hari ini setebal apa.” Air matanya jatuh. “Aku nggak bisa lihat benang lagi. Aku nggak akan pernah bisa. Aku nggak tahu benangmu ke aku setebal apa besok, atau lusa, atau sepuluh tahun lagi.”
Ia mengangkat kotak cincin itu sedikit.
“Tapi aku percaya. Tanpa lihat.”
Ia berhenti. Menelan ludah.
“Mau nikah sama aku?”
Dua puluh anak di jendela panti menahan napas. Ibu Evan memegang lengan Pak Darto sampai Pak Darto meringis. Lulu berhenti menulis. Dodo menurunkan remote drone. Fikri memeluk Stetoskop. Kak Bima menutup mulutnya dengan dua tangan besar. Bu Ningsih bersandar pada tongkatnya.
Dan di atas sana, di langit Bandung yang biru, di tempat benang Papa pergi, aku tahu Papa menonton.
Aku menatap Evan.
Laki-laki yang berlutut di anak tangga kedua. Di bawahku. Di tempat yang sama dengan anak laki-laki berseragam SMA, dua belas tahun lalu, yang duduk membelakangiku dengan kamera pinjaman dan berkata kamu nggak punya benang.
Dua belas tahun aku tidak pernah bisa mengatakannya.
Lalu aku mengatakannya di IGD. Dua kali. Lalu di ruang pemulihan. Lalu setiap pagi, ketika ia bertanya hari ini setebal apa, dengan jawaban-jawaban konyol tentang kabel charger dan selang air dan gulungan kertas foto.
Sekarang tidak sulit lagi.
Sekarang mudah.
Aku tidak menjawab dengan anggukan kecil. Seperti anak tiga belas tahun yang takut kalau ngangguknya kebesaran, orang di depannya akan berubah pikiran.
Aku menjawab dengan suara.
“Mau,” kataku. Keras. Jelas. Supaya dua puluh anak di jendela bisa dengar. Supaya Papa bisa dengar, di atas sana. “Aku mau, Evan. Aku cinta kamu. Aku mau nikah sama kamu.”
Halaman Panti Asuhan Kasih Ibu meledak.
Dua puluh anak berlari keluar dari pintu panti, menjerit dan bertepuk tangan. Ibu Evan menangis dengan suara yang bisa terdengar sampai ke Jalan Cibeunying. Pak Darto memeluknya. Kak Bima menangis paling keras, dengan Teh Neneng yang menepuk-nepuk punggungnya seperti menepuk punggung bayi. Fikri bersiul. Stetoskop mengeong.
Dodo berlari ke Lulu. Memeluknya. Mengangkatnya dari tanah. Clipboard Lulu jatuh ke halaman semen.
Lulu tidak memungutnya.
Evan memasangkan cincin itu di jari manisku. Tangannya gemetar. Butuh dua kali percobaan.
Lalu ia berdiri. Naik satu anak tangga. Duduk di sebelahku. Di anak tangga ketiga. Ujung kiri. Di bagian yang retak dan sedikit miring.
Bahunya menyentuh bahuku. Lututnya menyentuh lututku. Anak tangga itu terlalu sempit untuk dua orang dewasa.
Kami duduk di sana. Menatap gerbang.
Gerbang yang terbuka. Dengan orang-orang yang berdiri di halaman. Berteriak. Menangis. Tertawa.
Untuk kami.
“Mika,” bisiknya.
“Hm.”
“Dulu kamu duduk di sini nunggu gerbang.”
“Iya.”
“Sekarang?”
Aku menatap halaman. Kak Bima. Ibu Evan. Pak Darto. Lulu dan Dodo. Fikri dan Stetoskop. Teh Neneng. Bu Ningsih. Dua puluh anak panti yang berlari-lari di antara tali jemuran dan foto-foto yang bergoyang.
Dan di sebelahku, laki-laki yang memotretku dua belas tahun lalu, waktu tidak ada yang melihatku.
“Sekarang,” kataku pelan, “aku nggak perlu nunggu lagi.”
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
“Sudah ada yang menunggu.”
- 1 Seratus Tiga Puluh Empat
- 2 Kontrak
- 3 Strategi
- 4 Pernikahan Pertama: Mempelai yang Salah Arah
- 5 Hidup di Bawah 110
- 6 Pernikahan Kedua: Lima Puluh Tahun
- 7 Benang yang Tidak Bergetar
- 8 Pernikahan Ketiga: Payung
- 9 Lari dari 120
- 10 Pernikahan Keempat: Pengantin Pingsan
- 11 Pernikahan Kelima: Pagar Panti
- 12 Belum Ada yang Menunggu
- 13 Dua Belas Tahun
- 14 Pernikahan Keenam: Uji Coba
- 15 Ulang Tahun Pernikahan Fikri
- 16 Bianglala
- 17 Resmi
- 18 Lampu Merah di Darkroom
- 19 Pernikahan Ketujuh: Benang Baru
- 20 Amplop
- 21 Yang Kedua Kalinya
- 22 Kamu Lihat Benangku ke Dia?
- 23 Gadis Tanpa Benang
- 24 Kunci Inggris
- 25 Pernikahan Kedelapan: Latihan Bicara
- 26 Aku Udah Tahu
- 27 Potret Terakhir
- 28 Pernikahan Kesembilan: Diagnosis Kedua
- 29 Malam Terakhir Hadi
- 30 Benang yang Naik
- 31 Kali Ini Aku yang Tanya
- 32 Botol Obat
- 33 Pernikahan Kesepuluh: Jaket
- 34 Cinta yang Bisa Diawasi
- 35 Pernikahan Kesebelas: Benang Ibu
- 36 Pernikahan Kedua Belas: Tangga Darurat
- 37 Seratus Dua Puluh Satu
- 38 Kopi Asli
- 39 Sudah Ada yang Menunggu reading
- 40 Pernikahan Ketiga Belas
- 41 Epilog — Sekarang Berapa?