Chapter Nine
Dasi
POV: Chakra
Ada tiga hal di dunia ini yang tidak bisa dikalahkan oleh gelar doktor: ibu yang sedang marah, jalan tol Jagorawi pada Jumat sore, dan dasi.
“Pak,” kata Bagas, berdiri di ambang pintu toilet pria lantai 38 dengan ponsel terangkat, “saya sudah cari tutorialnya. Simpul Windsor. Ini video dengan view terbanyak, dua puluh tiga juta. Bapak mau saya putar?”
“Saya bisa sendiri, Bagas.”
“Siap, Pak.” Bagas tidak bergerak. “Tapi Bapak sudah di dalam sini sebelas menit.”
Aku menatap cermin. Di sana berdiri laki-laki berusia tiga puluh dua tahun dengan kemeja putih yang baru disetrika, jas abu-abu arang yang sangat bagus, dan selembar dasi sutra biru tua yang melilit lehernya seperti ular yang kalah bertarung.
Rapat dewan komisaris pukul sepuluh. Rapat tahunan, satu-satunya rapat di SC Group yang mewajibkan dasi. Bukan aturan tertulis, kata Pak Darmawan, tapi tradisi sejak zaman Opa Sinclair, dan Komisaris Utama sangat menghargai tradisi.
Komisaris Utama SC Group adalah Margaret Sinclair. Oma Rena.
Aku pernah bertemu Oma Margaret tepat empat kali. Pertama di acara lamaran yang dingin dan kaku, di mana semua orang Sinclair tersenyum seperti sedang difoto untuk koran, kecuali Oma, yang menatapku dari ujung meja dan bertanya, Kamu bisa main catur? Aku bilang bisa. Dia bilang, Bagus. Nanti kita main. Kami tidak pernah main. Pernikahan kami tidak bertahan cukup lama untuk itu.
Ketiga pertemuan lainnya terlalu singkat untuk dihitung. Tapi setiap kali, Oma Margaret menatapku dengan mata kelabu yang tidak bisa kubaca, mata seorang pemain catur yang sedang menghitung lima langkah ke depan.
“Pak,” kata Bagas lagi, hati-hati. “Mau saya panggilkan Mas Yudis? Mas Yudis bilang simpul Windsor itu algoritma sembilan langkah. Dia hafal.”
Dari luar terdengar suara Yudis, datar: “Sembilan langkah, Pak. Lebar lewat atas, putar ke kanan, lewat bawah…”
“Terima kasih, Yudis.”
“…lalu ke kiri, ke depan, naik ke loop leher, turun lewat simpul depan, kencangkan.”
“Terima kasih, Yudis.”
Aku menatap cermin lagi.
Ini rahasia yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, termasuk Ibu, termasuk Gendis, termasuk Arini yang sudah enam tahun memastikan aku tidak mati kelaparan di Zürich. Aku bisa mengikat dasi. Simpul Windsor, half-Windsor, four-in-hand, bahkan Eldredge yang ribet itu. Aku belajar di tahun pertama di Zürich, di kamar asrama yang sempit, dengan dasi pinjaman dari teman sekamar asal Jerman dan video tutorial yang kuputar ulang sampai jam tiga pagi.
Aku belajar karena aku tidak punya pilihan. Karena selama setahun pernikahan, setiap pagi ada sepasang tangan yang mengikatkan dasi untukku, dan setelah tangan itu tidak ada lagi, aku harus bisa sendiri.
Malam itu, waktu simpul pertamaku akhirnya berhasil, rapi dan simetris di cermin asrama, aku menangis. Satu-satunya kali aku menangis di Zürich.
Aku menarik ujung dasi dan membiarkan simpul setengah jadi itu terurai.
“Bagas,” kataku. “Tolong ambilkan kopi. Saya keluar sebentar lagi.”
Aku keluar dari toilet dengan dasi menjuntai di leher, tidak terikat, dan berjalan ke koridor menuju lift.
Aku sudah menghitung. Rena selalu turun ke lantai 38 sebelum rapat besar untuk memeriksa slide. Itu kebiasaan yang kucatat selama dua minggu ini. Dia tidak percaya pada slide yang belum dia lihat sendiri. Pukul sembilan lewat empat puluh, dia akan keluar dari lift nomor empat.
Pukul sembilan lewat tiga puluh delapan, aku berdiri di koridor lantai 38, di depan jendela, pura-pura membaca ponsel, dengan dasi menjuntai di leher seperti laki-laki yang sedang kehilangan arah dalam hidup.
Ini manipulatif. Aku tahu ini manipulatif. Aku pengamat pola, dan aku sedang memanfaatkan pola orang lain untuk kepentinganku sendiri.
Pukul sembilan lewat empat puluh, pintu kuningan lift nomor empat terbuka.
Dia keluar.
Gaun hari ini hitam, potongan lurus sebatas lutut, lengan tiga perempat, dengan kerah tinggi yang membuat lehernya terlihat panjang dan anggun. Rambutnya disanggul rapi dan rendah. Antingnya mutiara. Di tangannya ada tablet dan pulpen biru. Dia terlihat seperti seseorang yang akan menghadap dewan komisaris dan memenangkan setiap pertanyaan.
Dia melihatku. Langkahnya melambat.
Matanya turun ke leherku. Ke dasi yang menjuntai.
Aku menunggu.
“Kenapa,” katanya, dengan nada orang yang sudah tahu jawabannya dan tidak suka, “dasimu kayak gitu?”
“Selamat pagi, Bu.”
“Pak Chakra. Rapat komisaris dua puluh menit lagi.”
“Saya tahu, Bu.”
“Oma saya Komisaris Utama.”
“Saya tahu, Bu.”
“Dan dasimu,” dia berhenti di depanku, satu meter, dan menatap dasi itu seperti menatap laporan keuangan yang salah ketik, “kayak tali jemuran.”
Aku mengangkat bahu. “Simpulnya nggak mau, Bu.”
Dia menatapku. Aku menatapnya. Di ujung koridor, aku mendengar pintu NEXUS terbuka setengah, lalu menutup lagi dengan sangat pelan. Bagas, pasti. Atau Tiara. Atau keduanya.
Rena menghela napas, panjang dan dramatis, seperti CEO yang harus mengurus segala sesuatu sendiri. Dia menyerahkan tablet dan pulpen birunya padaku tanpa bicara.
Lalu dia mengulurkan tangan dan meraih dasiku.
Dia berdiri sangat dekat.
Lebih dekat dari di lift. Lebih dekat dari di war room. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium parfumnya, kayu dan rempah, dan di bawahnya wangi sampo yang tidak berubah sejak delapan tahun lalu: melati, samar, nyaris tidak tercium kecuali dari jarak sedekat ini.
Jari-jarinya bergerak di dasiku dengan cepat dan yakin. Lebar ke kiri, sempit ke kanan. Lebar lewat atas, putar. Gerakan yang sudah dia lakukan tiga ratus enam puluh lima kali, setiap pagi, di depan pintu apartemen Kalibata, sebelum aku berangkat kerja.
Dia tidak lupa. Tangannya tidak lupa.
“Enam tahun di Eropa,” katanya, tanpa mengangkat mata dari simpul yang sedang dia bentuk. “Gelar doktor. Paten di tiga negara.” Jarinya menarik ujung lebar lewat loop leher. “Kalah sama simpul Windsor.”
Aku menunduk menatapnya. Puncak kepalanya ada di bawah daguku. Bulu matanya panjang, menunduk, fokus.
“Simpulnya saya bisa, Bu,” kataku pelan.
Jarinya berhenti.
Dia mengangkat wajah. Matanya bertemu mataku, dekat sekali, dan ada sesuatu di sana yang bergeser. Pertama bingung, lalu curiga, lalu mengerti.
“Kamu bisa?”
“Bisa.”
“Terus kenapa…”
“Saya cuma pura-pura nggak bisa.”
Hening. Di luar jendela, Jakarta berkilau di bawah matahari pagi, crane-crane SC Construction berputar lambat di kejauhan.
“Kenapa?” bisiknya.
Aku tidak menjawab dengan cepat. Aku membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara di antara kami, di antara jari-jarinya yang masih memegang dasiku dan napasku yang tiba-tiba terasa terlalu keras.
“Biar ada alasan,” kataku.
Alasan untuk berdiri sedekat ini. Alasan untuk merasakan tanganmu lagi, sekali saja. Alasan yang bukan data, bukan probabilitas, bukan email dengan CC direksi.
Aku tidak mengatakan semua itu. Aku hanya mengatakan tiga kata, dan aku melihat ketiganya mendarat di wajahnya.
Matanya berkilat. Pipinya memerah, dari tulang pipi turun ke leher, warna merah muda yang dulu kusebut warna malu-malu. Dia menunduk lagi ke dasiku, cepat, dan jarinya melanjutkan simpul.
Lalu, tanpa peringatan, dia menarik dasiku.
Bukan untuk mengencangkan simpul. Dia menariknya ke bawah, pelan tapi tegas, sampai aku terpaksa menunduk, sampai wajahku sejajar dengan wajahnya, sampai jarak di antara kami tinggal sejengkal. Lalu kurang dari sejengkal.
Napasnya hangat di daguku.
“Dulu,” katanya, suaranya rendah, nyaris berbisik, “tiap pagi aku yang pasangin.”
“Aku ingat.”
“Inget bayarannya apa?”
Aku ingat. Tentu saja aku ingat. Tiga ratus enam puluh lima pagi. Setiap pagi, setelah simpul terakhir dikencangkan, dia berjinjit, menarik dasiku sedikit, dan menagih bayarannya. Satu ciuman. Kadang singkat, kadang tidak. Kadang tidak singkat sama sekali sampai aku terlambat ke kantor, dan atasanku di fintech dulu pernah bertanya kenapa aku selalu terlambat di hari Senin.
Mataku turun ke bibirnya. Dia memakai lipstik warna mawar tua hari ini. Bibirnya sedikit terbuka.
Satu senti lagi. Itu saja yang dibutuhkan.
Aku tidak bergerak.
Dia juga tidak.
Jarak itu bertahan, satu senti yang terasa seperti satu kilometer, dan aku bisa mendengar jantungku sendiri, dan aku bisa mendengar jantungnya, atau mungkin itu jantungku juga yang terdengar dua kali.
Lalu dia mengencangkan simpul itu. Keras.
Sangat keras.
Dasi sutra biru tua itu menjerat leherku seperti tali gantungan. Aku tersedak.
“Ugh. Bu…”
“Kekencangan?” tanyanya manis.
“Sedikit.” Suaraku keluar seperti peluit rusak. “Ibu mau saya mati?”
Dia tersenyum. Senyum yang sangat cantik dan sangat kejam.
“Pelan-pelan aja,” katanya. “Biar kerasa.”
Lalu dia melonggarkan simpulnya, sedikit saja, cukup untuk membiarkanku bernapas. Dia merapikan kerah kemejaku, menepuk dasi itu dua kali dengan telapak tangan, ringan, seperti menepuk kepala anak kecil, lalu mengambil kembali tablet dan pulpen birunya dari tanganku.
“Simpulnya rapi,” katanya, kembali ke nada CEO. “Jangan disentuh sampai rapat selesai.”
Dia berbalik dan berjalan ke ruang NEXUS untuk memeriksa slide. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Aku berdiri di koridor, satu tangan memegang simpul dasi di leher, menatap punggungnya.
Di ujung koridor, pintu NEXUS terbuka dan Rena masuk. Aku mendengar suara tiga kursi bergeser serempak dengan panik, dan Bagas berkata dengan sangat keras, “SELAMAT PAGI, BU, KAMI SEDANG BEKERJA.”
Rapat dewan komisaris berlangsung di lantai 50, di ruang rapat yang dindingnya seluruhnya kaca, dengan pemandangan Jakarta tiga ratus enam puluh derajat yang dirancang untuk membuat siapa pun yang presentasi di sana merasa kecil.
Lima komisaris duduk di satu sisi meja. Di tengah, Oma Margaret, dengan setelan abu-abu muda, kalung mutiara tiga lapis, dan rambut putih bob yang tidak bergerak sedikit pun ketika dia menoleh. Di sisi lain duduk direksi: Pak Richard, Pak Hendra, Rena, dan beberapa direktur lain.
Aku presentasi di urutan ketiga. Roadmap NEXUS untuk tahun depan, hasil proyek banjir, dan proyeksi penghematan.
Aku memulai dengan angka. Selalu dengan angka.
“Selama banjir minggu lalu, tiga ratus tujuh puluh satu dari empat ratus tujuh gerai di zona risiko tetap beroperasi. Penjualan di gerai-gerai tersebut naik dua ratus empat belas persen dibanding hari normal. Kerugian stok rusak turun dari estimasi sembilan belas miliar menjadi satu koma dua miliar. Dengan biaya persiapan tiga koma delapan miliar, penghematan bersihnya kurang lebih empat belas miliar.” Aku menggeser slide. “Itu angka finansial. Angka yang lebih penting menurut saya adalah ini.”
Layar menampilkan grafik sederhana. Garis biru yang naik tajam.
“Pendaftaran anggota baru program loyalitas SinMart di wilayah terdampak banjir, dalam tujuh hari setelah banjir: naik enam ratus persen. Mereka bukan pelanggan yang kita beli dengan diskon. Mereka pelanggan yang memilih kita karena kita ada waktu mereka butuh.”
Ruangan hening. Seorang komisaris, laki-laki tua berkacamata tebal, mengangguk perlahan.
Oma Margaret tidak mengangguk. Dia menatapku dengan mata kelabunya, tenang, menghitung.
Lalu dia bicara untuk pertama kalinya pagi itu.
“Anak muda.”
“Ya, Bu.”
“Kamu masih suka makan mie ayam?”
Seluruh ruangan menoleh ke Oma Margaret. Lalu ke aku. Pak Richard memejamkan mata sejenak, seperti orang yang menyesali sesuatu. Di sebelahnya, Rena menutup wajah dengan tablet.
Aku tersenyum. “Masih, Bu. Setiap hari. Ibu saya yang masak.”
“Bagus.” Oma Margaret mengangguk sekali, puas. “Orang yang tidak lupa asal-usulnya biasanya tidak gampang dibeli.” Matanya bergeser, sangat sedikit, sepersekian detik, ke arah Pak Hendra yang duduk di sebelah Pak Richard. Lalu kembali padaku. “Lanjutkan.”
Aku lanjut. Aku tidak tahu apa yang barusan terjadi, tapi aku mencatatnya. Pengamat selalu mencatat.
Pak Hendra tertawa kecil, ramah. “Ibu Margaret memang selalu punya cara unik untuk menguji orang.”
“Hendra,” kata Oma tanpa menoleh. “Saya belum selesai bicara dengan anak muda ini. Nanti giliranmu.”
Pak Hendra berhenti tertawa.
Rapat selesai pukul dua belas lewat sepuluh. Aku sedang membereskan laptop ketika bayangan jatuh di atas meja.
Oma Margaret berdiri di sampingku. Dekat, lebih kecil dari yang kuingat, mungkin karena aku yang bertambah tinggi atau dia yang bertambah tua. Tapi matanya sama. Mata pemain catur.
“Dasimu bagus,” katanya.
“Terima kasih, Bu.”
“Siapa yang ikat?”
Aku membeku sepersekian detik.
“…Saya sendiri, Bu.”
Oma Margaret mengamati simpul itu. Lama. Dengan kepala sedikit dimiringkan.
“Hm.” Dia mengangguk pelan. “Lucu. Simpulnya mirip simpul cucu saya. Dia selalu menarik ujung lebarnya sedikit lebih panjang ke kiri. Kebiasaan sejak kecil, dari waktu dia belajar mengikat dasi Opa-nya.”
Aku tidak berkata apa-apa. Tidak ada yang bisa kukatakan.
Oma Margaret menepuk lenganku dua kali, ringan, persis seperti Rena menepuk dasiku tadi pagi. Mereka punya tangan yang sama.
“Kapan-kapan kita main catur,” katanya. “Kita pernah janji.”
Lalu dia berjalan pergi dengan tongkat yang tidak benar-benar dia butuhkan, meninggalkanku berdiri di ruang rapat kaca lantai 50 dengan dasi yang tiba-tiba terasa sangat ketat.
Siang itu aku naik ke lantai 40 untuk mengantarkan salinan presentasi ke Sisca.
Sisca tidak ada di mejanya. Mungkin makan siang. Aku meletakkan map di mejanya, dan saat itulah aku melihatnya.
Tablet Sisca tergeletak menyala di samping keyboard. Di layarnya terbuka galeri foto dari WA, kiriman dari nomor yang disimpan sebagai Ibu Vivian — Kebaya.
Foto fitting kebaya.
Rena berdiri di depan cermin besar di sebuah butik, memakai kebaya champagne yang berkilau samar, dengan bordiran halus di sepanjang kerah dan lengan. Kainnya jatuh pas di tubuhnya, memeluk pinggangnya, dan rambutnya dibiarkan terurai panjang sampai ke punggung. Dia tidak tersenyum di foto itu. Dia hanya menatap cermin dengan wajah kosong, seperti orang yang sedang menunggu sesuatu selesai.
Di foto berikutnya, Marcel berdiri di sebelahnya dengan beskap senada. Tangan Marcel di pinggang Rena. Sopan. Rapi. Seperti sudah dijadwalkan.
Aku tahu aku tidak seharusnya melihat. Aku tahu aku harus berbalik dan pergi. Tapi aku berdiri di sana, menatap layar tablet yang menyala, dan untuk satu menit yang sangat panjang aku lupa caranya bernapas.
Dia cantik. Tentu saja dia cantik. Dia selalu cantik. Di hari akad kami, dia memakai kebaya putih sederhana sewaan, karena dia menolak dibelikan Mama-nya dan aku tidak mampu membeli yang mahal. Rambutnya disanggul dengan melati asli yang dipetik Ibu dari halaman kontrakan. Dia menangis di sepanjang akad, menangis bahagia, dan maskaranya luntur sampai ke pipi, dan dia bilang padaku, jangan lihat, aku jelek, dan aku bilang, kamu nggak pernah secantik ini.
Di foto ini dia tidak menangis. Dia juga tidak tersenyum. Dia hanya cantik, sendirian di depan cermin, dalam kebaya yang harganya mungkin setara dengan seluruh biaya pernikahan kami dulu.
“Pak?”
Aku berbalik. Sisca berdiri di belakangku dengan kotak makan siang di tangan, menatapku. Lalu menatap tablet. Lalu menatapku lagi.
Aku menunggu dia marah, atau curiga, atau langsung melaporkan ke Rena.
Sisca tidak melakukan semua itu. Dia meletakkan kotak makan siangnya, berjalan ke meja, dan dengan sangat tenang membalik tabletnya sampai menelungkup.
“Pak,” katanya, dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. “Mau kopi?”
Aku menatapnya. Sisca, sekretaris dengan IPK tiga koma tujuh yang selama dua minggu ini kujadikan kurir rantang dan sticky note, menatapku dengan mata yang penuh simpati. Simpati yang tidak diucapkan, yang sangat dalam.
“Cantik,” kataku. Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mungkin karena aku harus mengatakannya pada seseorang, dan Sisca kebetulan ada di sana.
“Iya, Pak,” kata Sisca pelan. “Cantik.”
Hening sebentar.
“Kopinya pakai gula, Pak?”
“Nggak, Mbak. Terima kasih.”
“Saya tahu,” kata Sisca. “Bu Serena juga selalu pesan begitu. Nggak pakai gula.” Dia berhenti, lalu menambahkan dengan nada yang sangat netral, “Sejak enam tahun lalu. Sebelumnya beliau suka manis, kata OB yang lama.”
Aku berdiri diam.
Sisca berjalan ke pantri, meninggalkanku sendirian di depan meja yang tabletnya menelungkup.
Sore itu, di lantai 38, sebuah amplop krem tebal tergeletak di atas keyboardku. Kertasnya bertekstur, dengan logo SC Group timbul berwarna emas.
Malam Perayaan Ulang Tahun ke-40 SC Group Sabtu, pukul 19.00 Sky Hall, Lantai 50, SC Tower Busana: Formal
Bapak Chakra Wirasena + 1
Plus satu.
Aku memutar amplop itu di tanganku. Pak Hendra akan mengumumkan tanggal pertunangan di acara itu, kata Gendis, yang tahu dari Instagram story salah satu sepupu Sinclair. Seluruh direksi, komisaris, mitra bisnis, dan pers akan hadir. Dan aku akan berdiri di sana, di antara mereka, melihat tangan Marcel Hartanto di pinggang Rena di depan empat ratus orang.
“Chak.”
Arini berdiri di ambang pintu ruang kacaku, menyandar di kusen, dengan amplop krem yang sama di tangannya.
“Kamu dapat juga?” tanyanya.
“Semua mitra dapat.”
“Aku dapat plus satu.” Dia mengangkat amplopnya. “Tapi aku nggak kenal siapa-siapa di Jakarta, you know. Kecuali kamu.” Dia tersenyum, senyum yang biasa, hangat dan cerdas, tapi ada sesuatu di ujungnya yang sedikit lebih hati-hati dari biasanya. “Jadi gimana kalau kita plus one satu sama lain? Biar efisien. Kamu kan suka efisien.”
Aku menatap amplop di tanganku.
Lalu aku menatap ke luar jendela, ke arah lantai 40 yang tidak kelihatan dari sini, tapi aku tahu persis di mana letaknya.
“Sebagai kolega,” kataku.
“Sebagai kolega,” kata Arini. Senyumnya tidak berubah. “Tentu.”
Dia pergi. Aku duduk di kursiku, melonggarkan dasi yang sejak tadi pagi tidak kusentuh, karena aku sudah berjanji pada CEO untuk tidak menyentuhnya sampai rapat selesai, dan rapat sudah selesai enam jam lalu, dan aku masih belum menyentuhnya.
Simpul Windsor itu terurai di tanganku. Ujung lebarnya sedikit lebih panjang ke kiri.
Aku tidak mengikatnya lagi.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi reading
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat