Chapter Thirty Nine
Akad Kedua
POV: Chakra
Pukul tujuh pagi, hari Sabtu, aku berdiri di kamar tamu lantai dua rumah Menteng dengan beskap putih, kain batik, blangkon, dan dasi yang tidak bisa kupakai, karena beskap tidak memakai dasi.
Gendis yang mengingatkanku soal itu, pukul enam pagi, lewat panggilan video, ketika aku berdiri di depan cermin apartemen studio dengan dasi biru tua di tangan.
“Mas. Mas. Beskap itu nggak pakai dasi.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa Mas pegang dasi?”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menatap dasi itu, simpul Windsor yang belum diikat, dan merasa ada sesuatu yang kurang.
Jadi dasi itu ada di saku beskapku sekarang. Terlipat. Untuk berjaga-jaga.
Pintu kamar tamu diketuk. Tiga kali. Pendek-panjang-pendek.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Dan yang masuk bukan Gendis, bukan Ibu, bukan Pak Richard yang semalam bilang Papa akan datang jam tujuh untuk mengecek kamu.
Yang masuk adalah Rena.
Aku membeku.
Dia belum memakai kebaya pengantin. Dia memakai kebaya putih sederhana yang dia buat ulang untuk makan malam Kamis, dengan rambut yang sudah disanggul penata rias tapi belum dihias melati, dan wajah yang sudah dirias setengah. Satu mata dengan eyeliner, satu belum. Di tangannya, sesuatu yang biru tua.
Dasi.
“Kamu nggak boleh di sini,” kataku. “Pamali. Pengantin perempuan nggak boleh lihat pengantin laki-laki sebelum akad.”
“Itu pamali buat pernikahan pertama,” katanya, menutup pintu di belakangnya. “Kita sudah pernah. Pamalinya sudah habis.”
“Itu bukan cara kerja pamali, Rena.”
“Sekarang iya.” Dia berjalan mendekat. Berhenti di depanku. Menatap beskap putihku dari atas ke bawah. Blangkon. Kain batik. Lalu matanya berhenti di dadaku, tempat saku beskap menyembulkan ujung dasi biru tua yang terlipat.
Dia tersenyum.
“Kamu bawa dasi,” katanya.
“Untuk berjaga-jaga.”
“Beskap nggak pakai dasi.”
“Aku tahu.”
Dia mengangkat dasi biru tua di tangannya. Dasi yang sama. Dua dasi yang sama, satu di sakuku, satu di tangannya.
“Aku juga bawa,” katanya. “Untuk berjaga-jaga.”
Lalu dia melingkarkan dasi itu di leherku.
Di atas kerah beskap. Tempat yang sama sekali tidak dirancang untuk dasi. Dia tidak peduli. Jari-jarinya bergerak cepat dan yakin, seperti di koridor lantai 38. Lebar ke kiri, sempit ke kanan. Lebar lewat atas, putar. Tiga ratus enam puluh lima kali delapan tahun lalu. Satu kali di koridor sebelum rapat komisaris. Dan sekarang, sekali lagi.
“Ini terakhir kali,” katanya pelan, tanpa mengangkat mata dari simpul yang sedang dia bentuk, “aku ngajarin kamu.”
“Aku sudah bisa, Rena.”
“Aku tahu.” Jarinya menarik ujung lebar lewat loop leher. Sedikit lebih panjang ke kiri. Caranya. “Tapi habis ini kamu tetap nggak boleh bisa sendiri.”
Aku menatapnya. Puncak kepalanya di bawah daguku. Bulu matanya, satu dengan eyeliner, satu tanpa.
“Kenapa?” bisikku.
Dia mengencangkan simpul itu. Pelan. Tidak terlalu kencang kali ini.
“Biar ada alasan,” katanya.
Kalimatku. Kalimat yang kuucapkan di koridor lantai 38, enam minggu lalu, dengan dasi yang sengaja kubiarkan terurai. Dia mengembalikannya padaku.
Lalu dia menarik dasi itu. Pelan. Sampai wajahku turun sejajar dengan wajahnya. Seperti biasa.
“Inget bayarannya apa?” bisiknya.
Aku tidak menjawab. Aku menciumnya.
Singkat. Lembut. Di kamar tamu lantai dua rumah Menteng, dengan dasi di atas beskap dan eyeliner di satu mata.
Pintu terbuka tanpa diketuk.
“SERENA SINCLAIR!”
Oma. Di ambang pintu. Dengan kebaya beludru ungu tua, kalung mutiara tiga lapis, dan tongkat yang diacungkan seperti pedang.
“Penata riasmu mencarimu ke mana-mana! Eyeliner-mu baru satu! Dan kamu…” Tongkatnya beralih ke arahku. “Lepas dasi itu. Kamu pakai beskap, bukan jas kantor.”
“Baik, Bu.”
“Bukan Bu.” Oma menatapku dengan mata kelabu yang tiba-tiba sangat lembut. “Mulai hari ini, Oma.”
Lalu dia menarik cucunya keluar dari kamar dengan tongkat, sambil bergumam soal anak-anak zaman sekarang dan pamali itu ada gunanya, Serena.
Aku melepas dasi itu dari leherku. Melipatnya. Memasukkannya ke saku beskap, di sebelah dasi yang satunya.
Dua dasi yang sama. Untuk berjaga-jaga.
Pukul sembilan pagi, ruang tamu rumah Menteng.
Ruang tamu yang dulu tidak boleh kumasuki. Delapan tahun lalu, di acara lamaran yang paling dingin dalam sejarah keluarga Sinclair, aku duduk di ujung sofa paling dekat pintu, karena tidak ada yang menawariku tempat lain. Hari ini, ruang tamu itu dipenuhi bunga melati dan mawar putih, dan karpet Persia tua yang digelar di tengah, dengan meja kecil untuk akad.
Di belakang meja akad, Pak Richard. Beskap hitam, wajah yang sudah tidak abu-abu, kotak obat tujuh sekat di saku dalam. Dia memeriksanya tiga kali sebelum duduk, kata Bu Vivian.
Di sebelahnya, penghulu dari KUA Menteng. Laki-laki tua bersarung dan berpeci yang tersenyum ramah dan, menurut bisikan Gendis tadi pagi, sudah dengar semua gosip dari TikTok.
Dua saksi. Dari pihakku, Pak Komar. Topi SC Logistics — 25 Tahun Pengabdian diganti peci hitam baru, kumis putihnya disisir rapi, dan wajahnya sudah basah sejak pukul delapan. Dari pihak Rena, Pak Sutedjo. Jas lengkap, kacamata setebal pantat botol, dan, aku perhatikan dengan lega, sama sekali tidak memakai piyama.
Dan di sekeliling ruangan, duduk di kursi-kursi yang ditata melingkar, orang-orang yang tidak pernah kubayangkan akan berada di ruangan yang sama.
Ibu, di kursi paling depan sebelah kanan, dengan kebaya merah baru dan kerudung yang dipasang Gendis dengan empat peniti. Di sebelahnya Bu Vivian, dengan kebaya lavender, memegang tangan Ibu. Memegang tangan Ibu. Aku melihatnya dan harus memalingkan wajah supaya tidak menangis sebelum akad.
Oma di kursi paling depan sebelah kiri. Tongkat di pangkuan. Buku teka-teki catur tidak ada. Hari ini, katanya, dia tidak butuh.
Gendis, dengan kebaya biru muda, duduk di sebelah Marcel. Marcel memakai beskap cokelat dan wajah yang sangat serius, dan dia memegang ponsel karena Bu Serena minta saya merekam lagi, untuk dokumentasi keluarga. Tangan Gendis, aku perhatikan, ada di lengan Marcel.
Arini, yang terbang dari Singapura semalam dengan penerbangan paling akhir. Dia memakai kebaya hitam modern, menangis dengan maskara tahan air yang ternyata tidak tahan air, dan berbisik ke Bagas, Bagas, tisu, tisu, tisu.
Bagas, Tiara, dan Yudis. Bagas memakai batik dan memeluk printout paper RENA versi preprint yang dia bawa untuk kenang-kenangan. Tiara memegang tiga stabilo, entah kenapa. Yudis dengan wajah datar dan mata yang, menurut pengamatanku, sedikit lebih merah dari biasanya.
Fikri, pacar Tiara, dengan martabak setengah keju setengah cokelat dalam kotak di pangkuannya, untuk jamuan setelah akad.
Sisca, dengan kebaya hijau dan tablet di tangan, karena dia sudah tiga minggu mengatur semua ini dengan ketelitian seorang jenderal.
Pak Darmawan dan istrinya. Bu Lestari. Pak Yosef. Pak Teguh dari Keamanan Informasi, yang menjabat tanganku tadi pagi dan bilang, Pak, saya catat setiap detiknya, untuk prosedur.
Ir. Bonar, dengan kemeja batik yang kekecilan, istrinya, dan anak sulungnya yang kuliah di ITB.
Mbak Ratih, kasir shift malam SinMart Tebet, yang sekarang menjadi kepala toko dan duduk di kursi belakang dengan wajah tidak percaya.
Bu Euis dari Purwakarta, yang datang naik bus dengan termos besar berisi kopi tubruk.
Pak Agus. Pak Udin. Bi Inah, yang berdiri di dekat pintu dapur dengan sepiring pisang goreng wijen yang dia buat sejak subuh.
Dan di meja kecil di dekat pintu, sebuah kotak roti dengan logo roti tersenyum warna merah muda. Roti Lusi. Dengan kartu kecil: Selamat, Mas Chakra dan Bu Serena. Kali ini saya berdiri di tempat yang benar. — Lusi.
Enam puluh orang. Di ruang tamu yang dulu tidak boleh kumasuki.
Aku duduk di depan meja akad, berhadapan dengan Pak Richard. Tidak, dengan Papa. Dan aku menunggu.
Rena turun dari tangga pukul sembilan lewat sepuluh.
Aku mendengarnya sebelum aku melihatnya. Ruangan yang tadinya berisik dengan bisik-bisik tiba-tiba sunyi. Enam puluh kepala menoleh serempak ke arah tangga.
Aku tidak menoleh. Aku tidak berani. Aku menatap meja akad dan menghitung serat kayu di permukaannya.
“Mas,” bisik Gendis keras dari belakangku. “Mas. Lihat.”
Aku menoleh.
Kebaya putih. Bukan champagne. Bukan kebaya katun sederhana yang dia jahit ulang untuk makan malam Kamis. Kebaya putih gading dari brokat halus dengan bordiran perak samar di sepanjang kerah dan lengan, yang jatuh di tubuhnya seperti cahaya bulan. Sanggulnya dihias melati. Melati asli, banyak sekali, wanginya sampai ke meja akad. Di lehernya, di atas kerah kebaya, kalung perak kecil berbentuk bunga matahari.
Dan di tangannya, tidak ada buket bunga. Dia membawa sesuatu yang lain.
Payung hitam bergagang kayu, tertutup, dengan retak di dekat ujungnya.
Dia berjalan menuruni tangga dengan payung jodoh di tangan, seperti membawa tongkat kerajaan. Di belakangnya, penata rias berlari kecil membawa ekor kebaya dengan wajah putus asa.
Ruangan diam.
Lalu, dari kursi paling depan, suara Ibu, pelan tapi terdengar ke seluruh ruangan:
“Ya Allah. Neng bawa payung.”
Dan seluruh ruang tamu rumah Menteng tertawa.
Rena tertawa juga. Matanya sudah basah sebelum dia sampai di anak tangga terakhir.
Dia berjalan ke meja akad. Berhenti di sebelahku. Menyandarkan payung jodoh di kaki meja, di samping kakiku. Lalu duduk di bantal di sebelahku, dengan kebaya putih yang berbisik di karpet Persia.
Dia tidak menatapku. Dia menatap ayahnya.
Aku juga menatap ayahnya.
Papa menggenggam tanganku di atas meja akad.
Genggamannya kuat. Telapak tangannya basah. Aku bisa merasakan jari-jarinya gemetar.
Penghulu berdeham dan menatap Papa. “Bapak sudah siap?”
Papa tidak langsung menjawab. Dia menatapku. Lalu menatap anaknya di sebelahku. Lalu menatap payung hitam yang bersandar di kaki meja.
“Delapan tahun lalu,” katanya. Suaranya pelan, tapi di ruangan yang sunyi itu terdengar sampai ke pintu dapur. “Saya tidak datang ke akad anak saya. Saya mewakilkan perwalian saya lewat surat. Saya duduk di ruang kerja saya di lantai lima puluh, menatap jam, dan tidak datang.”
Hening.
“Hari ini saya datang,” kata Papa. “Dan saya akan menikahkan anak saya dengan suara saya sendiri.”
Di kursi depan, Bu Vivian menangis di bahu Ibu. Ibu memeluknya.
Papa menarik napas panjang. Menegakkan punggung. Menatapku lurus.
“Chakra Wirasena bin Suryadi.”
“Saya, Pa.”
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak kandung saya, Serena Sinclair binti Richard Sinclair, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar satu juta dua ratus delapan puluh empat ribu rupiah, dibayar tunai.”
Satu juta dua ratus delapan puluh empat ribu.
Di kursi belakang, Bagas tersedak. Tiara menjatuhkan tiga stabilonya sekaligus. Dari kursi tamu, Pak Darmawan berbisik keras ke istrinya, Ma, seribu dua ratus delapan puluh empat, itu angka yang di NEXA, dan istrinya mencubitnya.
Rena yang memilih angka itu. Seminggu lalu, waktu penghulu bertanya soal mahar. Dia menatapku dengan senyum nakal dan bilang ke penghulu, satu juta dua ratus delapan puluh empat ribu, Pak. Pas. Jangan dibulatkan.
Aku menarik napas.
“Saya terima nikah dan kawinnya Serena Sinclair binti Richard Sinclair dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Satu tarikan napas. Tidak tersendat. Tidak ada huruf yang hilang. Aku sudah latihan empat ratus kali di depan cermin apartemen studio, di depan kaktus, di depan Ibu, di depan Gendis, dan satu kali di depan Pak Komar di dalam truk boks SC Logistics, yang mendengarkan dengan serius lalu bilang Pak Doktor, napasnya kurang panjang di bagian “binti”.
Penghulu menoleh ke dua saksi.
“Bagaimana, para saksi? Sah?”
Pak Komar, dengan peci baru dan wajah basah. “SAH!”
Pak Sutedjo, dengan kacamata setebal pantat botol. “Sah.”
Dan dari kursi paling depan sebelah kiri, sebelum penghulu sempat menoleh ke hadirin, suara perempuan berusia tujuh puluh sembilan tahun yang lebih keras dari siapa pun:
“SAH! AKHIRNYA!”
Ruangan meledak.
Tepuk tangan. Tangis. Tawa. Seseorang bersorak. Kurasa Bagas. Seseorang berteriak alhamdulillah dengan logat Medan yang sangat keras. Ir. Bonar, jelas. Bu Euis membuka termos kopi tubruknya dengan bunyi pop seperti membuka sampanye. Arini menangis begitu keras sampai Yudis, yang duduk di sebelahnya, menyerahkan sapu tangannya tanpa menoleh.
Papa melepaskan tanganku. Tidak. Dia tidak melepaskannya. Dia memegangnya lebih erat. Menariknya sedikit. Lalu dia berdiri dari belakang meja akad, berjalan memutar, dan memelukku.
Papa memelukku. Di depan enam puluh orang. Erat, dengan tangan di punggungku, di beskap putih yang mulai basah di bahu.
“Nak,” bisiknya di telingaku. “Maaf. Terima kasih. Maaf.”
“Pa,” bisikku balik. Aku tidak bisa bilang apa-apa lagi.
Dia melepaskanku dan menyeka matanya dengan punggung tangan. Lalu menoleh ke anaknya.
Rena masih duduk di bantal di sebelah meja akad. Wajahnya basah, eyeliner di kedua matanya sudah luntur, dan dia tertawa sambil menangis.
Papa berlutut di depannya. Di karpet Persia. Dengan beskap hitam dan kotak obat di saku dalam.
“Anak Papa,” katanya.
Rena memeluk ayahnya. Dan dia menangis, keras dan basah dan tidak terkendali, di bahu laki-laki yang delapan tahun lalu tidak datang ke akadnya. Laki-laki yang hari ini datang, dan menikahkannya dengan suaranya sendiri.
Lalu cincin.
Rena mengeluarkannya dari balik kebaya. Dari sebuah kantong kecil yang dijahit di dalam lengan bajunya, entah sejak kapan. Cincin perak kecil. Sederhana. Murah.
Dia menyerahkannya kepadaku di telapak tangannya.
Aku mengambilnya. Membaliknya. Melihat ukiran di dalamnya.
CHAKRA.
Dengan huruf H yang miring, lebih kecil dari huruf-huruf lainnya, menyelip di antara C dan A seperti orang yang datang terlambat ke pesta.
Aku meraih tangan kirinya. Di jari manisnya sudah ada cincin emas polos dengan ukiran PERCAYA. Aku memasangkan cincin perak itu di sebelahnya.
Dua cincin. Satu emas, satu perak. Satu baru, satu lama. Satu bertuliskan PERCAYA, satu bertuliskan namaku dengan huruf H yang miring.
Pas. Delapan tahun, dan masih pas.
Rena menatap kedua cincin di jarinya. Lalu menatap cincin perak di jariku, yang bertuliskan namanya.
“Huruf H-nya,” bisiknya.
“Masih miring.”
“Jangan pernah diperbaiki.”
“Nggak akan.”
Dia tertawa. Lalu dia menarik kerah beskapku, karena tidak ada dasi untuk ditarik, sampai wajahku turun sejajar dengan wajahnya. Di depan enam puluh orang. Di depan ayahnya, ibunya, ibuku, Oma.
“Inget bayarannya apa?” bisiknya.
Dari kursi paling depan, Oma mengetukkan tongkatnya ke lantai dua kali.
“Cium saja!” katanya keras. “Oma sudah terlalu tua untuk nunggu cicit!”
Seluruh ruangan tertawa sampai Pak Teguh dari Keamanan Informasi harus menyeka mata dengan tisu.
Aku menciumnya.
Di ruang tamu rumah Menteng, yang dulu tidak boleh kumasuki. Di depan meja akad, dengan payung jodoh bersandar di kaki meja. Di bawah wangi melati dan mawar putih, dengan dua dasi biru tua yang terlipat di saku beskapku untuk berjaga-jaga, dan dua cincin di jarinya yang akhirnya kembali ke tempatnya.
Di belakangku, aku mendengar Ibu berkata kepada Bu Vivian dengan suara yang sangat bangga:
“Tuh. Anak kita ketawa.”
Dan Bu Vivian menjawab, dengan suara yang pecah:
“Iya, Bu. Dua-duanya.”
Tidak ada kembang api.
Pukul sebelas siang, di halaman belakang rumah Menteng, di bawah pohon mangga yang ditanam Opa, ada gerobak mie ayam kayu bercat biru dengan spanduk kuning. Gendis dan Marcel di belakangnya, memakai celemek ayam di atas kebaya dan beskap. Bu Ratmi mengawasi dari kursi plastik, sambil menampar tangan Papa setiap kali dia mencoba mengambil mangkuk kedua.
Di sebelah gerobak, meja panjang dengan rendang, bolu pandan tanpa pewarna buatan Bu Vivian yang hasilnya agak pucat, Bu, tapi wangi, roti sobek dari Lusi, martabak dari Fikri, pisang goreng wijen dari Bi Inah, dan kopi tubruk dari termos Bu Euis.
Oma duduk di kursi rotan di bawah pohon mangga, tempat dia dulu mengajari anak bungsunya naik sepeda. Di pangkuannya ada surat. Satu amplop putih yang datang pagi ini, diantar pengacara. Dia belum membukanya. Aku melihatnya mengusap amplop itu pelan dengan ibu jari, berulang-ulang, dengan mata yang menatap ke tempat yang jauh.
Aku duduk di sebelahnya.
“Oma.”
“Hm.”
“Dari Om Hendra?”
Oma mengangguk. Dia tidak membuka amplop itu. Dia hanya memegangnya.
“Nanti,” katanya pelan. “Nanti Oma baca. Bukan hari ini.” Dia menatapku. “Hari ini hari kalian.”
Aku tidak bilang apa-apa. Aku hanya duduk di sebelahnya di bawah pohon mangga, sampai dia meletakkan tangannya di atas tanganku. Tangan yang kurus, keriput, dan dingin.
“Kamu tidak menyerah kali ini,” katanya.
“Menyerah apa, Oma?”
“Caturnya.” Oma tersenyum. “Kamis kemarin. Kamu main sampai habis.”
“Saya tetap kalah, Oma.”
“Kalah dengan benar,” kata Oma. “Itu beda.”
Dia menepuk tanganku dua kali. Persis seperti cucunya.
Di seberang halaman, Rena berdiri di dekat gerobak mie ayam dengan kebaya putih dan melati yang mulai layu. Dia memegang semangkuk mie ayam dan menatapku dari jauh. Dia mengangkat mangkuk itu sedikit, seperti bersulang.
Aku tahu tanpa perlu melihat dari dekat. Tidak ada daun bawang di mangkuk itu.
Bu Ratmi tidak pernah lupa.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua reading
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat