Chapter Three
Reply All
POV: Serena
Aku punya aturan soal email: tidak ada email kantor yang boleh lebih dari tiga paragraf, dan tidak ada email kantor yang dikirim dengan emosi.
Hari Rabu, pukul delapan lewat enam menit, aku melanggar keduanya.
Pemicunya sepele. Atau begitulah yang akan kukatakan pada siapa pun yang bertanya. Pukul tujuh pagi, Pak Yosef dari Operasional meneleponku dengan suara orang yang baru bangun dan langsung disiram air.
“Bu, NEXUS menarik data transaksi mentah dari tiga ratus dua belas gerai. Langsung dari server cabang. Semalam. Tanpa lewat saya.”
“Tanpa lewat Bapak?”
“Mereka pakai akses uji coba yang dulu saya berikan untuk demo. Aksesnya belum dicabut, Bu. Saya lupa. Itu salah saya. Tapi tetap saja… mereka narik data dua tahun, Bu, per jam, per kasir. Server regional Jawa Timur sempat lambat dua puluh menit jam dua pagi.”
Jam dua pagi. Tentu saja jam dua pagi. Chakra selalu bekerja paling baik jam dua pagi. Dulu dia menulis skripsinya jam dua pagi di meja lipat di kamar kontrakan, sementara aku tidur di sebelahnya dengan kaki di pangkuannya. Itu supaya dia tidak bisa pergi ke mana-mana, kataku. Dia bilang memang tidak mau ke mana-mana.
Aku memejamkan mata sedetik, mengusir ingatan itu, lalu membuka laptop.
Kepada: Chakra Wirasena CC: Dewan Direksi SC Group Perihal: Penarikan Data Gerai Tanpa Koordinasi
Pak Chakra,
Saya menerima laporan bahwa tim NEXUS telah menarik data transaksi mentah dari 312 gerai semalam tanpa koordinasi dengan Divisi Operasional maupun persetujuan saya. Tindakan ini menyebabkan gangguan kinerja server regional selama kurang lebih 20 menit.
Mohon Pak Chakra tidak mengambil keputusan sepihak. Saya tidak suka ditinggal dalam proses.
Serena Sinclair CEO
Aku membaca ulang kalimat terakhir itu. Saya tidak suka ditinggal dalam proses.
Sebenarnya bisa kuhapus. Bisa kuganti dengan sesuatu yang lebih netral, mohon setiap penarikan data dikoordinasikan sesuai prosedur, misalnya. Kalimat yang tidak punya ekor, tidak punya bayangan, tidak bisa dibaca dua kali.
Aku menekan Kirim.
Pukul delapan lewat tujuh menit, empat puluh tujuh detik kemudian, balasannya masuk.
Kepada: Serena Sinclair CC: Dewan Direksi SC Group Perihal: RE: Penarikan Data Gerai Tanpa Koordinasi
Bu Serena,
Terima kasih atas masukannya. Penarikan data dilakukan di luar jam operasional untuk meminimalkan gangguan. Gangguan 20 menit tersebut terjadi karena server regional Jawa Timur masih memakai konfigurasi lama tanpa replikasi baca, rekomendasi perbaikannya terlampir. Data yang ditarik diperlukan untuk analisis yang Ibu sendiri minta selesai dalam dua minggu.
Namun Ibu benar soal koordinasi. Ke depan saya akan selalu CC Ibu, supaya Ibu tidak bisa bilang saya pergi tanpa pamit.
Hormat saya, Chakra Wirasena Chief Data & AI Officer, SC NEXUS
Lampiran: Panduan Membaca Grafik untuk Pimpinan (versi bergambar).pdf
Aku menatap layar. Lalu menatap lampirannya. Lalu menatap layar lagi.
Panduan Membaca Grafik untuk Pimpinan (versi bergambar).
Aku membuka PDF itu dengan jari yang tidak sepenuhnya stabil. Sebelas halaman. Halaman pertama menjelaskan beda grafik batang dan grafik garis. Di sudut kanan bawah setiap halaman ada stiker kecil: kucing gendut yang memakai kacamata dan dasi, mengacungkan jempol.
Kucing gendut berkacamata. Itu stiker yang dulu dia buat sendiri di aplikasi gambar, untuk mengejekku karena aku selalu bilang dia mirip kucing kalau sedang serius membaca. Dia memakai stiker itu di chat kami setiap hari selama setahun pernikahan.
Dia masih menyimpannya.
Aku menekan Balas Semua sebelum bagian otakku yang waras sempat mengajukan keberatan.
Pak Chakra,
Saya bisa membaca grafik.
Serena Sinclair CEO
Empat puluh tujuh detik.
Bu Serena,
Mohon maaf atas kesalahpahamannya. Versi tanpa stiker menyusul.
Hormat saya, Chakra Wirasena
Aku menutup laptop. Membukanya lagi. Menutupnya lagi.
Di luar dinding kaca, Sisca berdiri dengan tablet di tangan dan ekspresi orang yang sedang menonton sinetron dan tidak sabar menunggu episode berikutnya.
Pukul sembilan, aku berada di ruang rapat untuk tinjauan anggaran kuartalan. Seharusnya aku fokus pada belanja modal SC Construction yang melebihi rencana tujuh persen. Seharusnya.
Ponselku bergetar di meja. Notifikasi email.
RE: RE: RE: Penarikan Data Gerai Tanpa Koordinasi
Rupanya Pak Yosef, dengan kepolosan yang menyedihkan, membalas utas itu untuk mengklarifikasi bahwa akses uji coba memang lupa dicabut olehnya. Ia membalas semua, tentu. Lalu Bu Lestari dari Legal membalas semua untuk mengingatkan prosedur akses data pelanggan menurut undang-undang pelindungan data. Lalu Chakra membalas semua untuk berterima kasih pada Bu Lestari dan menyatakan bahwa semua data yang ditarik sudah dianonimkan di tingkat kasir, dengan dokumentasi terlampir.
Dan entah bagaimana, di tengah semua itu, utas yang tadinya soal server berubah jadi panggung.
Aku membalas, di bawah meja rapat, dengan jempol:
Pak Chakra, mohon analisis disampaikan secara ringkas. Tidak semua orang punya waktu menunggu penjelasan bertahun-tahun.
Aku menekan Kirim, menaruh ponsel telungkup, dan menatap slide anggaran dengan wajah serius.
Ponsel bergetar. Aku tidak melihatnya. Aku tidak akan melihatnya. Aku CEO. Aku sedang rapat anggaran.
Ponsel bergetar lagi. Pak Darmawan, yang duduk di seberangku, juga meraih ponselnya. Lalu Bu Lestari. Lalu Pak Yosef. Ruang rapat penuh orang yang diam-diam menatap ponsel di bawah meja, seperti murid SMA yang menyontek.
Aku membalik ponselku.
Bu Serena,
Baik. Versi ringkas: Ibu salah.
Versi lengkap terlampir, 47 halaman. Sudah saya siapkan sejak lama.
Hormat saya, Chakra Wirasena
Lampiran: Analisis_Pola_312_Gerai_v1_LENGKAP.pdf (47 halaman)
Empat puluh tujuh halaman. Sudah saya siapkan sejak lama.
Aku mengetik. Jempolku menekan layar lebih keras dari yang perlu.
Saya tidak akan membacanya.
Kirim.
Empat puluh tujuh detik.
Saya tahu, Bu. Ibu memang terbiasa memutuskan sebelum membaca.
Aku berhenti bernapas.
Di seberang meja, Pak Darmawan berhenti mengunyah permen mintnya. Di sebelahnya, Bu Lestari pelan-pelan menurunkan kacamata baca dan menatap layar ponselnya seperti menatap akta yang ganjil. Pak Yosef membuka mulut, menutupnya, lalu menyesap air putih dengan kepala tertunduk sangat dalam.
Seseorang di presentasi anggaran masih bicara tentang belanja modal. Tidak ada yang mendengarkan.
Ponselku bergetar sekali lagi, kali ini bukan email. Aku tidak sengaja melihat notifikasinya. Bukan untukku. Itu notifikasi grup WA “Direksi SC (Resmi)” yang muncul di layar kunci. Pak Darmawan mengirim pesan, tapi rupanya salah grup. Seharusnya untuk Sisca, karena pesannya diawali “Sis,”.
Sis, ini masih soal data gerai, kan?
Tiga detik kemudian pesan itu ditarik.
Tapi sudah terlambat. Sebelas orang direksi sudah membacanya, termasuk Papa, yang kini menatapku dari ujung meja dengan alis yang hampir menyentuh garis rambut.
Aku meletakkan ponsel. Menegakkan punggung. Menatap layar presentasi.
“Lanjutkan,” kataku pada direktur yang sedang presentasi. “Tujuh persen kelebihan belanja modal SC Construction. Saya mau tahu proyek mana saja.”
Tidak ada yang berani tertawa. Tapi aku bisa mendengar, di dalam keheningan itu, sebelas orang direksi menahan tawa dengan sekuat tenaga.
Pukul dua siang, Chakra meluncurkan NEXA.
Aku tidak berniat datang. Itu cuma demo internal untuk kepala divisi, di ruang serbaguna lantai 38. Undangannya masuk ke kalenderku dengan judul Peluncuran Asisten Internal NEXA, Opsional untuk CEO.
Opsional untuk CEO. Dia sengaja menulis begitu, supaya kalau aku tidak datang, kelihatannya aku menghindar, dan kalau aku datang, kelihatannya aku penasaran.
Aku datang. Karena aku CEO, dan CEO harus tahu apa yang diluncurkan di gedungnya. Bukan karena alasan lain.
Ruangan itu penuh. Kepala divisi, manajer, beberapa staf yang entah bagaimana berhasil menyelinap masuk. Sebagian besar perempuan, kalau aku perhatikan. Duduk di barisan depan. Memegang ponsel dengan kamera menyala. Aku memutuskan tidak memperhatikannya.
Chakra berdiri di depan layar dengan lengan kemeja digulung sampai siku. Hari ini kemeja biru muda. Lengan bawahnya sedikit lebih kecokelatan daripada yang kuingat, mungkin karena musim panas Eropa. Ada urat halus di punggung tangannya yang tidak seharusnya membuat siapa pun menahan napas.
Seorang staf HR di barisan depan menahan napas. Aku melihatnya.
“NEXA,” kata Chakra, “adalah asisten internal yang dilatih pada dokumen, prosedur, dan data operasional SC Group yang tidak bersifat rahasia. Bapak-Ibu bisa bertanya apa saja soal pekerjaan: prosedur pengadaan, status pengiriman, ringkasan laporan, ringkasan rapat, ringkasan utas email yang terlalu panjang.”
Beberapa orang tertawa. Seseorang melirik ke arahku. Aku pura-pura membaca sesuatu di tablet.
“Silakan coba,” kata Chakra. “Siapa pun.”
Pak Darmawan, yang duduk di baris kedua dan masih tampak sedikit trauma oleh insiden WA tadi pagi, mengangkat tangan dengan semangat yang mencurigakan.
“Saya, Pak. Saya mau coba.”
“Silakan, Pak Darmawan.”
Pak Darmawan mengetik di laptop yang disediakan. Pertanyaannya muncul di layar besar, terbaca oleh seluruh ruangan:
Tolong rangkum utas email “Penarikan Data Gerai Tanpa Koordinasi”.
Seisi ruangan mendadak sangat diam.
Chakra, demi kesopanan, harus disebut, bergerak setengah langkah ke laptop seperti hendak menghentikannya. Lalu berhenti. Lalu menatapku. Lalu menatap langit-langit.
NEXA mengetik jawabannya, huruf demi huruf, dengan kecepatan yang terasa sengaja dramatis.
Ringkasan utas “Penarikan Data Gerai Tanpa Koordinasi” (14 pesan, 6 pengirim):
1. Divisi Operasional mengonfirmasi akses uji coba lupa dicabut. 2. Divisi Legal mengingatkan kepatuhan pelindungan data. Data telah dianonimkan. 3. Rekomendasi teknis perbaikan server regional terlampir. 4. Dua pihak utama dalam utas ini tidak setuju tentang hampir segala hal, kecuali bahwa yang satu harus membalas yang lain secepat mungkin.
Rata-rata waktu balas antara CEO dan Chief Data & AI Officer: 47 detik.
Ruangan itu meledak.
Bukan tawa sopan. Tawa betulan. Tawa yang ditahan sejak pukul delapan pagi dan akhirnya dapat izin keluar. Staf HR di barisan depan menutup mulutnya dengan dua tangan. Seseorang di belakang bertepuk tangan. Pak Darmawan tertawa sampai bahunya berguncang, lalu tiba-tiba ingat aku ada di sana dan langsung pura-pura batuk untuk kedua kalinya minggu ini.
Aku berdiri.
Seketika ruangan sunyi lagi.
Aku berjalan ke depan, pelan-pelan, sepatu hakku berbunyi di lantai vinil. Satu, dua, tiga, empat langkah. Aku berhenti di samping Chakra. Dekat. Cukup dekat sehingga aku bisa mencium sabun kayu-kayuan itu lagi, dan dia harus sedikit menunduk untuk menatapku.
“Pak Chakra.”
“Bu.”
“Asisten Bapak,” kataku dengan suara rendah yang bisa terdengar sampai baris belakang, “terlalu banyak bicara.”
Dia tersenyum. Matanya, di balik kacamata, hangat dan tidak menyesal sama sekali.
“Dia belajar dari data, Bu,” katanya, sama pelannya. “Saya cuma kasih makan.”
“Kurangi porsinya.”
“Baik, Bu. Nanti saya kurangi.” Dia berhenti sejenak. “Tapi dia nggak bohong, kan?”
Aku tidak menjawab. Aku menatap layar besar itu sekali lagi. Rata-rata waktu balas: 47 detik.
Empat puluh tujuh detik. Dia juga membalasku secepat itu.
Aku berbalik dan berjalan keluar ruangan, menembus barisan staf yang tiba-tiba semuanya menatap lantai. Di ambang pintu, aku bisa merasakan sesuatu di tengkukku, seperti tatapan yang mengikuti sampai pintu menutup.
Malam itu aku pulang ke penthouse di Senopati pukul sembilan.
Mama menelepon soal kebaya. Champagne, sudah kupilih, tapi ternyata ada tiga jenis champagne dan Tante Hartanto lebih suka yang rose gold. Aku bilang terserah. Mama bilang, “Kok terserah? Ini pertunanganmu, Sayang.” Aku bilang aku capek. Mama diam sebentar, lalu bertanya dengan suara yang terlalu hati-hati, “Papa cerita… soal pegawai baru itu.”
“Ma. Itu urusan kantor.”
“Mama cuma mau bilang, kamu nggak usah…”
“Ma. Aku capek.”
Marcel mengirim pesan pukul sembilan lewat dua puluh: Selamat malam, Serena. Semoga harimu menyenangkan. Kamis jam 4 saya jemput ke fitting ya. Bunga untukmu sudah saya titipkan ke resepsionis.
Sopan. Rapi. Tanda baca lengkap. Marcel selalu memakai tanda baca lengkap, seperti surat dinas.
Aku membalas: Terima kasih, Marcel.
Lalu aku mandi, memakai piyama satin abu-abu, membuat teh chamomile yang tidak pernah berhasil membuatku mengantuk, dan duduk di kasur dengan tablet di pangkuan.
Aku tidak akan membacanya. Sudah kubilang di email, dengan CC seluruh direksi. Itu janji publik.
Pukul sebelas lewat empat belas, aku membuka Analisis_Pola_312_Gerai_v1_LENGKAP.pdf.
Empat puluh tujuh halaman. Dan aku benci mengakuinya, tapi ini dokumen terbaik yang pernah masuk ke kotak masukku dalam lima tahun memimpin perusahaan ini. Tidak ada kata yang berlebihan. Setiap grafik menjawab satu pertanyaan dan langsung mengantar ke pertanyaan berikutnya. Polanya dijelaskan seperti cerita detektif: gerai-gerai yang kehilangan barang di jam yang sama, kepala area yang dimutasi di bulan yang berdekatan, lalu satu kalimat di halaman tiga puluh dua yang membuat bulu kudukku berdiri.
Pola ini terlalu terkoordinasi untuk dilakukan di tingkat gerai. Ada kemungkinan besar keterlibatan pihak yang memiliki kewenangan atas penempatan kepala area lintas provinsi.
Kewenangan lintas provinsi. Itu bukan level kasir. Bukan juga level kepala toko. Itu level kantor pusat.
Aku membaca sampai halaman terakhir.
Halaman empat puluh tujuh hampir kosong. Hanya ada satu baris kecil di tengahnya, dengan font yang sama, ukuran yang sama, seperti bagian resmi dokumen.
Catatan: kalau Ibu sampai di halaman ini, berarti Ibu masih membaca sampai akhir. Terima kasih.
Dan di bawahnya, kecil sekali, kucing gendut berkacamata dan berdasi itu mengacungkan jempol.
Aku melempar tablet ke ujung kasur.
Lalu aku memungutnya lagi, karena tablet itu mahal dan aku orang yang bertanggung jawab.
Aku duduk lama di sana, menatap kucing kecil itu, dengan teh chamomile yang dingin di nakas dan jam dinding yang berdetak terlalu keras.
Lalu, entah kenapa, aku membuka WhatsApp.
Aku menggulir ke bawah. Jauh ke bawah. Melewati grup keluarga, grup direksi, Marcel, Sisca, vendor katering, desainer kebaya, ratusan percakapan yang semuanya baru dan semuanya penting. Terus ke bawah, sampai ke wilayah daftar kontak yang tidak pernah kusentuh. Percakapan yang tidak kuhapus, tidak kuarsipkan, dan tidak kubuka selama enam tahun.
Fotonya sudah tidak ada. Dia pasti sudah mengganti foto profil, atau menyembunyikannya dariku.
Namanya juga bukan namanya lagi. Enam tahun lalu, di malam yang sama aku memintanya pergi, aku mengganti nama kontak itu dengan satu kata, supaya setiap kali tanganku tergoda, kata itu akan menghentikanku.
JANGAN
Jempolku melayang di atasnya.
Jam di dinding berdetak.
Pukul sebelas lewat empat puluh tujuh.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All reading
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat