Chapter Thirty

Kebaya untuk Jebakan

POV: Chakra


Divisi Komunikasi Korporat menyebutnya sesi foto dokumentasi resmi. Aku menyebutnya hukuman.

Jumat pukul dua siang, Sky Hall lantai 50 diubah menjadi studio foto. Lampu-lampu besar berpayung putih. Latar belakang kain champagne. Dua fotografer, tiga penata rias, dan seorang pengarah gaya dari agensi humas Hartanto Group yang memakai kacamata hitam di dalam ruangan dan memanggil semua orang darling.

Untuk rilis pers merger tanggal lima, kata email undangannya, dibutuhkan tiga jenis foto. Foto bersama para direksi dan kepala divisi kedua grup. Foto Chairman dan Komisaris Utama. Dan foto resmi calon pasangan yang akan bertunangan.

Aku diwajibkan hadir untuk jenis foto pertama. Kepala divisi.

Aku tidak diwajibkan tinggal untuk jenis foto ketiga.

Aku tinggal.

“Pak Chakra, kok masih di sini?” bisik Bagas, yang ikut sebagai pengangkut laptop dan, menurut pengakuannya sendiri, saksi sejarah. “Foto direksi sudah selesai sejam lalu.”

“Saya menunggu.”

“Menunggu apa, Pak?”

Aku tidak menjawab. Bagas mengikuti arah pandanganku ke ujung ruangan, ke balik tirai ruang rias darurat, dan mengangguk pelan seperti orang yang mengerti sesuatu yang menyedihkan.

“Siap, Pak,” bisiknya. “Saya temani. Sebagai bentuk solidaritas.”


Tirai ruang rias terbuka pukul tiga lewat sepuluh.

Rena keluar dengan kebaya champagne.

Aku pernah melihat fotonya. Di tablet Sisca, di ponselnya sendiri di kursi belakang mobil yang mogok di tol Cipularang. Aku sudah tahu warnanya, bordirannya, dan potongannya. Aku sudah menyiapkan diri.

Ternyata foto bukan apa-apa.

Kain itu jatuh di tubuhnya seperti cahaya senja yang diberi bentuk. Bordiran emas samar di sepanjang kerah dan lengan berkilau setiap kali dia bergerak. Pinggangnya terlihat lebih ramping dari yang mungkin secara anatomis. Rambutnya disanggul tinggi dengan untaian melati, melati asli, dan aku bisa menciumnya dari jarak sepuluh meter. Wangi yang sama dengan wangi melati di sanggulnya di KUA Beji delapan tahun lalu.

Dia tidak tersenyum. Dia berjalan ke tengah ruangan dengan wajah CEO, dan seluruh Sky Hall berhenti bergerak. Penata rias, fotografer, pengarah gaya berkacamata hitam. Bagas di sebelahku menjatuhkan kabel laptop.

“Oh my God, darling,” kata si pengarah gaya pelan. “You’re a goddess.”

Rena mengangguk sopan. Lalu matanya menyapu ruangan dan berhenti padaku.

Satu detik. Dua.

Di wajah CEO-nya, ada sesuatu yang bergeser. Sudut bibirnya terangkat. Sangat sedikit. Hanya untukku.

Lalu Marcel keluar dari ruang rias sebelah dengan beskap champagne yang senada, dan semuanya kembali ke tempatnya.


“Oke, darlings! Pak Marcel, tangannya di pinggang Bu Serena, ya. Lebih dekat. Lebih dekat lagi. Bu Serena, tolong senyum sedikit. Bayangkan hari bahagia!”

Marcel meletakkan tangannya di pinggang Rena. Dengan sangat hati-hati, seperti meletakkan tangan di atas kompor yang mungkin panas. Dia melirikku dari seberang ruangan. Matanya meminta maaf.

Aku tahu ini sandiwara. Aku tahu Marcel tidak ingin menikahi Rena. Aku tahu Rena tidak ingin menikahi Marcel. Aku tahu seluruh pertunjukan ini adalah papan catur yang Oma susun supaya seseorang di lantai 40 merasa aman.

Tapi tangan laki-laki lain ada di pinggang perempuan yang kucintai, di kebaya yang membuatnya terlihat seperti mimpi, dengan melati yang wanginya sama dengan hari pernikahan kami. Dan pengetahuanku ternyata tidak membantu sama sekali.

“Pak,” bisik Bagas. “Pak, tangan Bapak.”

Aku menunduk. Aku sedang menggenggam pulpen. Lagi. Pulpen plastik dari meja registrasi, yang sekarang melengkung di tengah.

Aku melepaskannya sebelum patah.

“Lebih dekat lagi, Pak Marcel! Bu Serena, kepalanya sedikit menyandar ke bahu Pak Marcel. Iya, begitu… perfect!”

Kepala Rena menyandar ke bahu Marcel. Sedikit. Kilatan lampu.

Ponselku bergetar.

Gendis: MAS.

Gendis: KENAPA MARCEL PEGANG PINGGANG KAK RENA.

Aku menatap layar. Lalu menoleh ke pintu masuk Sky Hall.

Gendis berdiri di sana dengan dua kotak katering di tangan dan name tag bertuliskan Mie Ayam Bu Ratmi — Vendor UMKM. Tiga hari lalu, Rena memasukkan kedai Ibu ke daftar stan makanan di acara tanggal lima, sebagai bagian dari program kemitraan UMKM SinMart. Hari ini Gendis datang untuk sesi uji rasa dengan tim katering.

Dan ternyata waktunya sangat buruk.

Wajah adikku merah. Bukan merah malu. Merah lain, merah yang dulu kulihat di wajah Rena di lobi SC Tower waktu Arini memelukku.

Gendis: Mas, aku tahu ini pura-pura. Kak Rena udah cerita. Tapi TETAP AJA.

Gendis: 😤😤😤

Gendis: Itu tangan yang kemarin aku ajarin ngaduk kuah.

Aku menahan tawa sampai dadaku sakit. Di sebelahku, Bagas membaca layar ponselku dari samping dan menutup mulut dengan dua tangan.

“Pak,” bisiknya, “ini jadi cemburu berantai, ya? Bapak cemburu Pak Marcel, Mbak Gendis cemburu Bu Serena, Bu Serena…”

“Bagas.”

“Siap, Pak.”

Di tengah ruangan, Marcel menangkap pandangan Gendis di pintu. Wajahnya berubah pucat. Tangannya di pinggang Rena terangkat secepat kilat, seperti tersengat listrik.

“Pak Marcel!” teriak si pengarah gaya. “Tangannya! Tangannya kembali ke pinggang!”

“Maaf,” kata Marcel, sangat keras, ke arah pintu. “Maaf. Ini profesional. Sangat profesional.”

Gendis menatapnya dengan mata menyipit. Lalu berbalik dan berjalan ke arah tim katering dengan langkah yang sangat bertekad.

Rena, di tengah ruangan, menatap Marcel yang panik, lalu Gendis yang pergi, lalu aku yang berdiri di dekat jendela dengan pulpen melengkung di tangan.

Dan dia tertawa.

Di tengah sesi foto resmi pertunangannya, dengan kebaya champagne dan melati di rambut, CEO SC Group tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan dan penata riasnya berlari membawa tisu karena maskaranya terancam.

Kilatan lampu. Fotografer memotret tawa itu.

Belakangan aku tahu foto itulah yang dipilih tim humas untuk rilis pers. Foto Serena Sinclair tertawa lepas dengan kebaya champagne, dengan Marcel Hartanto di sebelahnya yang menatap ke arah lain dengan wajah panik.

Bahagia sekali, tulis seorang wartawan di keterangan fotonya.


Dia menemukanku di tangga darurat lantai 50 pukul empat sore.

Aku sedang duduk di anak tangga, menatap ponsel, mencoba menyelesaikan email yang tidak bisa kufokuskan. Pintu besi di atasku terbuka dan menutup. Langkah kaki. Bukan sepatu hak. Selop kain yang biasa dipakai dengan kebaya.

Aku mendongak.

Dia berdiri di anak tangga di atasku dengan kebaya champagne, melati di rambut, dan wajah yang sudah tidak berpura-pura.

“Kamu kabur,” katanya.

“Aku ada email.”

“Kamu kabur di tengah sesi foto, dan Bagas bilang pulpenmu melengkung.”

“Bagas pengkhianat.”

Dia turun satu anak tangga. Lalu satu lagi. Kain kebayanya berbisik di beton. Dia berhenti di anak tangga tepat di atasku, sehingga wajah kami sejajar.

“Kamu cemburu?” tanyanya.

Aku menatapnya. Aku memikirkan jawaban-jawaban yang bisa kuberikan. Data kamu bias. Sampelnya terlalu kecil. Satu sesi foto tidak signifikan secara statistik.

“Iya,” kataku. “Sangat.”

Dia berkedip. Jelas dia tidak menduga jawaban itu.

“Kamu bilang iya.”

“Aku bilang iya.”

“Kamu nggak bilang data kamu bias?”

“Datamu nggak bias. Aku cemburu. Aku cemburu sampai pulpen melengkung, dan aku tahu ini sandiwara, dan aku tetap cemburu.” Aku menarik napas. “Itu bukan data, Rena. Itu cuma aku.”

Dia menatapku lama. Matanya berkaca-kaca. Lalu dia tersenyum. Senyum yang dimulai di sudut bibir dan merambat sampai ke matanya.

“Bagus,” katanya pelan.

“Bagus?”

“Enam tahun kamu nggak pernah cemburu sama siapa pun,” katanya. “Atau kamu nggak pernah bilang. Kamu cuma diam dan tersenyum dan mematahkan pulpen di saku.” Dia mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemejaku, yang tidak miring. “Aku suka kamu bilang.”

Dia membungkuk. Pelan. Melati di rambutnya hampir menyentuh pipiku.

Lalu dia menciumku. Singkat. Lembut. Di tangga darurat lantai 50, dengan kebaya pertunangannya untuk laki-laki lain.

“Itu,” bisiknya di bibirku, “buat pulpennya.”

Dia menegakkan badan, berbalik, dan naik kembali ke atas, sebelum aku sempat bernapas.


Pukul sembilan malam, aku sedang di apartemen studio di Setiabudi, menyiram kaktus. Ini hari Jumat, bukan Senin, tapi aku butuh sesuatu untuk dikerjakan dengan tangan. Lalu ponselku bergetar.

Rena 🌻: [foto]

Aku membukanya.

Ruang ganti butik. Cermin besar. Rena berdiri di depannya dengan kebaya champagne yang sama, tapi kali ini kebaya itu tidak sepenuhnya terpasang. Dia memotret pantulannya dari belakang, dengan ponsel diangkat di atas bahu. Kancing-kancing di punggung kebaya itu belum dikaitkan. Kain champagne terbuka seperti tirai dari tengkuk sampai ke pinggang, memperlihatkan garis punggungnya yang panjang, pucat, dan sangat telanjang. Rambutnya sudah diturunkan dan jatuh ke satu bahu. Bahu yang lain terbuka.

Wajahnya di cermin menatap kamera. Bibirnya tersenyum kecil.

Kaktus di tanganku jatuh ke wastafel.

Pesan berikutnya masuk dua detik kemudian.

Rena 🌻: Fitting terakhir tadi sore. Desainernya minta aku foto bagian belakang buat cek jahitan.

Rena 🌻: Buat referensi.

Jeda.

Rena 🌻: Biar kamu tahu yang kamu tunda.

Aku duduk di lantai dapur. Di sebelah wastafel. Dengan kaktus di wastafel dan ponsel di tangan, dan jantung yang berdetak seperti orang yang baru lari sepuluh kilometer di tepi danau Zürich.

Aku mengetik.

Rena.

Rena 🌻: Hm?

Kamu tahu ini pelanggaran.

Rena 🌻: Pelanggaran apa?

Semuanya.

Rena 🌻: Aku cuma kirim foto kebaya. Ke teman kantor. Minta pendapat.

Pendapatku: aku butuh air dingin.

Rena 🌻: Mandi aja.

Rena 🌻: Atau lihat fotonya lagi. Terserah.

Rena 🌻: Selamat malam, Pak Chakra 🌻

Aku menatap layar sampai meredup sendiri.

Lalu aku berdiri, mengambil kaktus dari wastafel, dan meletakkannya kembali di jendela dengan sangat hati-hati. Lalu aku berjalan ke kamar mandi dan menyalakan pancuran pada suhu paling dingin yang bisa diberikan pemanas air apartemen studio di Setiabudi.

Delapan hari lagi menuju tanggal lima.

Delapan hari lagi, kalau semua berjalan sesuai rencana, aku bisa berhenti menunda.


Pukul dua belas lewat sepuluh malam, ponselku berdering. Bukan WA. Telepon.

Oma Margaret.

Aku mengangkatnya di kasur, dengan rambut masih basah dan kaus abu-abu nomor tiga dari lima.

“Bu?”

“Anak muda.” Suara Oma di seberang terdengar sangat jernih untuk perempuan berusia tujuh puluh sembilan tahun pada tengah malam. “Kamu belum tidur.”

“Belum, Bu.”

“Bagus. Oma juga belum.” Jeda. Aku mendengar bunyi halaman buku dibalik. Buku teka-teki catur, mungkin. “Kamu ingat permainan kita di perpustakaan?”

“Menteri, Bu.”

“Menteri.”

Aku duduk tegak di kasur.

“Tadi sore,” kata Oma, “Oma bilang ke Hendra, di depan Pak Udin, sambil minum teh, bahwa wasiat Oma sudah hampir selesai. Bahwa setelah merger, Oma ingin cucu perempuan Oma yang memimpin yayasan Opa-nya. Untuk kesinambungan.” Suaranya tenang, seperti membicarakan cuaca. “Lalu Oma tidur siang.”

Aku menunggu.

“Jam sembilan malam tadi,” lanjut Oma, “Hendra melakukan sesuatu yang selama tiga tahun selalu dia suruh orang lain lakukan.” Jeda. “Dia melakukannya sendiri. Dengan tangannya sendiri. Dengan namanya sendiri. Karena dia takut waktunya habis.”

Aku memejamkan mata.

“Dan karena minggu lalu, untuk keperluan wasiat, Oma minta notaris mengatur satu hal kecil di yayasan,” kata Oma. “Langkahnya tidak bisa jalan tanpa persetujuan Pembina. Jadi langkahnya berhenti. Dan sekarang ada di meja Sutedjo. Lengkap dengan tanda tangan Hendra.”

Hening.

Aku duduk di kasur apartemen studio di Setiabudi, dengan rambut basah dan kaktus di jendela, dan mendengar napas Oma di seberang. Napas perempuan tua yang baru saja menjebak anak bungsunya sendiri.

“Bu,” kataku pelan. “Ibu baik-baik saja?”

Oma tidak langsung menjawab.

“Tidak, Nak,” katanya akhirnya. Suaranya pelan sekali. “Oma tidak baik-baik saja. Oma baru saja melihat anak yang Oma ajari naik sepeda di bawah pohon mangga, memakan menteri yang Oma taruh di papan.” Dia diam. “Tapi Oma juga tidak menyesal.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Dia makan menterinya, Chakra,” kata Oma. “Sekarang tinggal satu bidak yang harus kita yakinkan. Bidak yang paling keras kepala di keluarga ini.”

“Pak Richard.”

“Richard.” Oma menghela napas. “Serena akan mencobanya Kamis malam depan. Makan malam keluarga. Oma sudah bilang padanya untuk tidak berharap terlalu banyak.”

“Kenapa, Bu?”

“Karena Richard menggendong Hendra waktu Hendra bayi,” kata Oma. “Dan laki-laki tidak pernah percaya bahwa bayi yang mereka gendong bisa tumbuh menjadi orang yang menggigit.” Jeda. “Kamu yang harus bicara padanya setelah itu. Dengan datamu. Dengan matamu yang menyebalkan itu.”

“Saya, Bu?”

“Kamu, Nak.” Suara Oma melembut. “Kamu satu-satunya orang di dunia ini yang punya alasan untuk membenci Richard, dan tidak melakukannya.”

Telepon terputus.

Aku duduk lama di kasur, menatap ponsel yang layarnya sudah gelap.

Lalu ponsel itu menyala lagi. WA.

Rena 🌻: Oma barusan telepon aku juga.

Rena 🌻: Dia makan menterinya?

Iya.

Rena 🌻: Aku nggak bisa tidur.

Aku juga.

Jeda.

Rena 🌻: Chakra.

Ya?

Rena 🌻: Foto tadi. Kebaya. Hapus.

Aku menatap pesan itu.

Kenapa?

Rena 🌻: Karena itu kebaya buat acara pura-pura. Aku nggak mau kamu simpan aku di kebaya pura-pura.

Rena 🌻: Nanti aku kirim yang asli. Setelah halal.

Aku menatap layar lama sekali.

Lalu aku membuka galeri, menemukan foto itu, menatapnya sekali lagi, satu detik, dua, tiga, dan menekan hapus.

Sudah, kubalas.

Rena 🌻: Anak pintar.

Rena 🌻: Tidur. Kamu butuh otakmu buat Papa.

Kamu juga.

Rena 🌻: Aku nggak bisa tidur kalau belum…

Pesan itu menggantung. Titik tiga. Kalimat yang tidak selesai.

Aku tersenyum dalam gelap.

…minum susu hangat?

Rena 🌻: Kamu mikir apa, Pak Data?

Aku menutup mata, menekan ponsel ke dada, dan tertawa sendirian di apartemen studio pukul dua belas lewat dua puluh lima malam. Tawa orang yang sudah terlalu lelah dan terlalu jatuh cinta untuk peduli bahwa tetangga sebelah mungkin mendengar.

Pak Data.

Dia barusan memberitahuku nama kontakku di ponselnya. Mungkin tanpa sadar.

Aku tidak membalas. Aku menyimpannya. Seperti sticky note di balik KTP.