Chapter Twenty Five

RENA

POV: Serena


Restoran Jepang langganan Om Hendra di Plaza Senayan punya ruang privat dengan pintu geser kertas, meja kayu hinoki rendah, dan bantal duduk dari sutra abu-abu. Jendelanya menghadap taman batu kecil dengan pohon maple merah yang tidak seharusnya bisa hidup di Jakarta, tapi entah bagaimana tetap hidup karena seseorang menyiramnya dengan air mineral impor setiap pagi.

Om Hendra sudah duduk ketika aku tiba pukul dua belas tepat. Dia berdiri, tersenyum lebar, dan merentangkan tangan.

“Nak!”

Aku masuk ke pelukannya.

Pelukan yang sama. Wangi parfum kayu cendana yang sama, yang dulu kucium setiap kali dia menggendongku di pundaknya di pantai Anyer. Tepukan di punggung yang sama, dua kali, ringan.

Tepukan yang sama yang dia berikan ke bahu Chakra di ruang tunggu kecil berkursi empat, pukul tiga pagi, enam tahun lalu.

Aku memeluknya balik. Aku tersenyum ke bahunya. Aku menghitung.

Satu.

“Duduk, duduk.” Dia menarik bantal untukku. “Om sudah pesan omakase. Kamu suka otoro, kan? Dari kecil kamu suka otoro.”

“Masih, Om.”

Om Hendra tertawa. Dia menuangkan teh hijau ke cangkirku. Tangannya stabil, tidak gemetar sedikit pun.

Kami makan. Otoro, uni, ikura. Om Hendra bercerita soal Tante Ratna yang baru belajar merangkai bunga ikebana dan menghancurkan tiga vas antik. Soal anak sulungnya yang baru diterima di Melbourne. Soal golf hari Sabtu dengan Pak Darmawan, yang katanya kalah empat belas pukulan karena terus membicarakan ini masih soal data gerai, kan di setiap hole.

Aku tertawa di tempat-tempat yang tepat. Aku bertanya di tempat-tempat yang tepat. Aku Serena Sinclair. Aku bisa senyum ke siapa pun.

Lalu, di piring kedelapan, Om Hendra meletakkan sumpitnya.

“Nak,” katanya, dengan suara yang sedikit lebih rendah. “Om mau bicara serius sebentar.”

“Silakan, Om.”

“Soal Chakra.”

Aku tidak berhenti mengunyah. Aku menelan uni dengan anggun, meletakkan sumpit di sandarannya, dan menatap Om Hendra dengan wajah keponakan yang penasaran.

“Ada apa soal Chakra, Om?”

“Om lihat kamu membelanya hari Jumat.” Dia tersenyum. Senyum sabar. “Om bangga sama kamu. Sungguh. Itu keputusan berani. Dan kamu benar, ternyata. Om yang salah.”

Dua. Dia tidak pernah salah. Dia tahu persis siapa yang membuat akun kloning itu.

“Tapi Nak, Benny khawatir,” lanjutnya. “Dia lihat cara kamu membela Chakra di rapat. Dia lihat cara Chakra… memanggilmu kamu. Di depan semua orang.” Om Hendra menghela napas, sangat pelan. “Benny bertanya ke Om, apakah pertunangan ini serius. Apakah merger ini serius. Om bilang serius. Tapi Om juga perlu kamu yakinkan Om. Supaya Om bisa meyakinkan Benny.”

“Om mau aku apa?”

“Jaga jarak,” katanya lembut. “Sedikit. Sampai merger selesai. Sampai pertunangan selesai. Biarkan Chakra fokus di NEXUS. Kamu fokus di kursi CEO.” Dia menatapku dengan mata yang sedih. “Om nggak mau kamu terluka lagi, Nak. Om ingat enam tahun lalu. Om yang lihat kamu di rumah sakit. Om yang…”

Tiga.

“…yang jaga di sana semalaman,” kataku pelan.

Om Hendra mengangguk. “Iya. Om yang jaga di sana.”

Aku tersenyum. Aku menuangkan teh ke cangkir Om Hendra yang sudah kosong.

“Om baik sekali,” kataku.

Dia tersenyum. “Om cuma ingin keluarga ini utuh, Nak.”

Lalu, sambil mengangkat cangkir tehnya, dengan nada ringan seperti membicarakan cuaca, dia bertanya:

“Ngomong-ngomong, kemarin kamu ke mana? Pak Udin bilang kamu nyetir sendiri seharian. Om sempat khawatir.”

Cangkir di tanganku tidak bergetar. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Mungkin lima tahun duduk di kursi CEO memang mengajarkan tanganku sesuatu yang tidak bisa diajarkan sekolah bisnis mana pun.

Pak Udin bilang. Pak Udin, sopirku. Yang dua belas tahun bekerja untuk keluargaku. Yang tidak pernah bertanya apa-apa.

Yang ternyata melapor.

“Cuma muter-muter, Om,” kataku sambil tersenyum. “Kadang aku butuh nyetir sendiri. Biar kepala jernih.”

“Ke mana?”

“Nggak ke mana-mana. Sudirman, Pondok Indah, Cibubur.” Aku menyesap teh. Setengah kebenaran adalah kebohongan terbaik. Aku belajar itu dari orang di depanku. “Aku mampir ke kedai mie ayam ibunya Chakra. Proposal kemitraan SinMart, Om ingat? Aku belum dapat jawaban dari Bu Ratmi.”

Om Hendra menatapku. Tiga detik. Matanya hangat, ramah, dan di balik keduanya ada sesuatu yang menghitung, seperti mesin kasir.

Lalu dia tertawa.

“Kamu ini. Kerja terus. Hari Minggu pun ngurus proposal.” Dia menggeleng sayang. “Kayak Opa-mu.”

“Kayak Om,” kataku.

Dia tersenyum. Senyum itu sampai ke matanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, senyum itu membuatku ingin muntah.


“Satu lagi, Nak,” kata Om Hendra waktu kami berjalan keluar restoran. “Jadwal baru dari Benny. Penandatanganan merger dan pertunangan, digabung. Tiga minggu lagi. Sabtu, tanggal lima. Sky Hall.” Dia menepuk bahuku dua kali. “Acara besar. Pers, investor, pejabat. Hari bersejarah untuk dua keluarga.”

“Tiga minggu,” ulangku.

“Kamu setuju?”

Aku tersenyum. “Nanti aku bicarakan dengan Marcel, Om.”

“Tentu, tentu.” Om Hendra membukakan pintu mobilku. “Hati-hati di jalan, Nak. Om sayang kamu.”

“Aku tahu, Om.”

Pak Udin menyetir. Aku duduk di kursi belakang dan menatap tengkuk Pak Udin di depanku. Tengkuk yang sudah dua belas tahun kulihat setiap hari, rambutnya mulai beruban di bagian belakang.

Dari spion tengah, matanya menatapku sekilas. Lalu kembali ke jalan.

Aku tidak tahu apakah dia tahu bahwa aku tahu.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan ke satu-satunya orang yang bisa kupercaya untuk ini, selain laki-laki di lantai 38.

Ke Oma: Pak Udin melapor ke Om Hendra.

Dua centang biru. Satu menit.

Oma: Oma tahu, Sayang. Sejak tiga tahun lalu.

Oma: Pak Udin punya anak yang kuliah kedokteran. Biayanya mahal. Oma sudah bicara dengannya bulan lalu.

Oma: Sejak bulan lalu, laporannya ke Hendra sudah Oma yang tulis.

Aku menatap layar ponselku.

Lalu aku menatap tengkuk Pak Udin.

Dari spion tengah, mata Pak Udin menatapku lagi. Kali ini lebih lama. Dan sangat pelan, sangat sedikit, dia mengangguk.

Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak tertawa. Atau menangis. Aku tidak tahu yang mana.

Oma: Omakase-nya enak? Hendra selalu pesan otoro buat kamu. Dia pikir kamu masih delapan tahun.


Marcel menemuiku pukul tiga sore di rooftop garden lantai 51 SC Tower.

Taman atap itu jarang dikunjungi. Pohon-pohon kecil dalam pot beton, bangku kayu, dan pemandangan Jakarta yang luas. Angin di atas sana kencang dan bising, cukup bising untuk membuat percakapan apa pun tidak terdengar dari kejauhan.

Marcel datang tanpa jas, dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung. Di tangannya ada dua gelas kopi kemasan. Dia menyerahkan satu kepadaku.

“Tanpa gula,” katanya. “Sisca yang bilang.”

“Terima kasih.”

Kami duduk di bangku kayu. Lama tidak ada yang bicara. Angin meniup rambutku, yang hari ini tidak kusanggul.

“Om Hendra sudah bicara denganmu,” kata Marcel akhirnya. Bukan pertanyaan.

“Tanggal lima. Sky Hall. Tiga minggu.”

“Ayah saya sangat bersemangat.” Marcel menatap kopinya. “Dia sudah memesan kembang api. Lebih besar dari kembang api ulang tahun SC.”

Aku menatap Marcel. Laki-laki yang membaca perjanjian pranikah seperti novel favorit. Yang menghitung langkah dansanya. Yang menghapus pasal dua puluh tiga di depan ibunya sendiri. Yang DM adiknya Chakra dengan hormat saya untuk bertanya soal bawang putih tunggal.

Dia orang baik. Aku sangat yakin. Dia orang baik yang terjebak di keluarga yang sama seperti aku.

“Marcel,” kataku. “Aku nggak bisa.”

Dia tidak menoleh. Dia terus menatap kopinya.

“Aku nggak bisa menikah denganmu,” kataku. “Bukan karena kamu kurang baik. Kamu terlalu baik. Kamu pantas dapat seseorang yang membaca perjanjian pranikah bareng kamu sambil senyum. Seseorang yang tahu bedanya bawang putih tunggal dan biasa.” Aku menarik napas. “Dan aku… aku sudah enam tahun mencintai orang lain. Aku baru berani mengakuinya minggu ini.”

Hening. Angin bertiup.

Lalu Marcel tersenyum. Senyum yang sangat lega, sangat lelah, dan sangat tulus.

“Saya tahu,” katanya. “Sejak kamu bilang percaya.”

“Maaf, Marcel.”

“Jangan minta maaf.” Dia akhirnya menoleh padaku. “Serena, boleh saya jujur?”

“Tentu.”

“Saya juga tidak ingin menikah denganmu.” Dia meringis. “Maaf. Itu kedengarannya sangat tidak sopan.”

Aku tertawa. Tawa yang lepas, mengejutkan, terbawa angin di atap lantai 51.

“Itu kalimat paling jujur yang pernah kamu ucapkan ke aku,” kataku.

“Saya tahu. Saya sudah latihan di depan cermin tiga hari.” Dia tersenyum malu. Lalu senyumnya memudar, dan wajahnya berubah serius. “Tapi Serena, saya minta satu hal.”

“Apa?”

“Tolong jangan umumkan dulu. Ke siapa pun. Termasuk keluargamu. Termasuk Ayah saya.” Dia menatap ke arah Jakarta, ke arah selatan, ke arah gedung kantor pusat Hartanto Group yang menjulang di kejauhan. “Ada sesuatu soal Ayah saya. Soal merger ini. Saya belum yakin. Saya butuh waktu untuk memastikan. Kalau kamu membatalkan sekarang, Ayah akan… saya tidak tahu apa yang akan dia lakukan.”

Aku menatapnya. Wajah Marcel yang biasanya sopan dan kosong sekarang tegang, dengan rahang terkatup.

“Sesuatu soal apa?”

“Saya belum bisa bilang.” Dia berdiri. “Satu minggu. Beri saya satu minggu.”

Aku menatapnya lama. Lalu mengangguk.

“Satu minggu.”

“Terima kasih.” Dia membungkuk sedikit, kebiasaan sopannya yang tidak bisa hilang, lalu berbalik ke pintu tangga. Tiga langkah. Lalu dia berhenti, berbalik lagi, dan dengan wajah yang tiba-tiba merah sampai ke telinga, bertanya:

“Serena. Mbak Gendis itu… dia suka bunga apa?”

Aku menatapnya.

“Saya cuma… dia balas DM saya. Soal bawang putih tunggal. Dia bilang saya boleh datang ke kedai untuk belajar. Saya pikir, kalau saya datang, sopan santunnya bawa sesuatu…”

“Bunga matahari,” kataku, sebelum aku sempat berpikir.

Marcel mengangguk serius, seperti mencatat data penting. “Bunga matahari. Terima kasih.”

Dia pergi. Aku duduk sendirian di atap lantai 51, dengan kopi tanpa gula dan angin di rambut, tertawa sampai mataku basah.

Bunga matahari. Aku tidak tahu Gendis suka bunga apa. Aku hanya tahu satu-satunya orang di dunia yang tahu aku suka bunga matahari adalah kakaknya.


Pukul tujuh malam, ketika aku sedang membereskan meja dan bersiap pulang, ponselku bergetar.

Nomor yang tidak kusimpan. Kode negara Singapura.

Bu Serena, ini Arini. Maaf ganggu. Saya ambil nomor Ibu dari Sisca. Dia bilang saya boleh, asal saya bawakan dia kue dari Singapura minggu depan.

Lalu satu pesan lagi.

Chakra will kill me. But I think you should read this.

Lalu sebuah tautan. research-collection.ethz.ch. Repositori riset ETH Zürich.

Lalu pesan terakhir.

Disertasinya. Terbit dua tahun lalu. Terbuka untuk umum. Halaman iv. Acknowledgments.

Paragraf terakhir.

Dia tulis dalam bahasa Indonesia, karena katanya nggak ada orang di Zürich yang bisa baca. Dia lupa bahwa saya bisa.

— A.

Aku menatap tautan itu lama.

Lalu aku menutup pintu ruanganku, menurunkan semua tirai, duduk di kursi CEO, dan membukanya.


Doctoral Thesis — ETH Zürich

RENA: Recursive Ensemble Neural Adaptive Methods for Hierarchical Demand Forecasting in Retail Networks

A thesis submitted to attain the degree of Doctor of Sciences

presented by Chakra Wirasena

Aku menggulir melewati halaman judul. Abstrak dalam bahasa Inggris dan Jerman. Lalu halaman iv.

Acknowledgments

Paragraf-paragraf pertama dalam bahasa Inggris. Untuk profesor pembimbingnya, yang mengajarinya bahwa model yang baik adalah model yang tahu batasnya. Untuk teman-teman lab. Untuk Arini Tjandra, yang memastikan saya makan, tidur, dan tidak pernah lolos dengan argumen yang malas. Untuk ibunya, yang menjual mie ayam selama tujuh belas tahun supaya anaknya bisa belajar matematika. Untuk adiknya, yang mengirim video kucing setiap kali saya terlihat terlalu serius di panggilan video.

Lalu satu baris kosong.

Lalu paragraf terakhir. Dalam bahasa Indonesia. Dengan huruf miring.

Untuk R.

Namamu kupinjam untuk model ini tanpa izin. Maaf.

Model ini bisa memprediksi permintaan di sembilan ribu toko. Bisa memprediksi curah hujan tiga hari ke depan dan kemacetan di jalan yang belum pernah kulewati. Para penguji disertasi ini bilang akurasinya luar biasa.

Tapi ada satu hal yang tidak bisa diprediksi oleh model ini: kapan aku berhenti merindukanmu.

Sudah empat tahun aku mencoba. Setiap malam aku melatih ulang modelnya dengan data baru. Hasilnya selalu sama.

Datanya bilang aku masih cinta.

Mungkin modelnya salah. Mungkin aku butuh data yang lebih banyak. Mungkin aku cuma butuh satu data saja: kamu, menjawab pertanyaan yang dulu tidak kamu jawab.

Sampai saat itu, model ini akan tetap bernama RENA. Supaya setiap kali aku menulis kode, setiap kali aku memperbaiki kesalahan, setiap kali aku mencoba lagi, aku ingat kenapa aku belajar memprediksi masa depan.

Karena aku tidak bisa memperbaiki masa lalu.


Aku tidak menangis.

Aneh. Setelah ruang tunggu ICU, setelah kaleng Khong Guan, setelah tiga hari menangis lebih banyak daripada enam tahun terakhir, aku tidak menangis membaca paragraf itu.

Aku hanya duduk di kursi CEO, di lantai 40, dengan tirai tertutup, dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kunamai. Bukan sedih. Bukan bahagia. Sesuatu yang lebih besar dari keduanya, seperti air yang naik pelan-pelan di dalam bendungan yang sudah terlalu lama ditahan.

Datanya bilang aku masih cinta.

Aku membaca kalimat itu sekali lagi. Lalu aku menutup laptop, berdiri, merapikan rambutku di pantulan jendela yang gelap, dan memoles lipstik mawar tua.

Lalu aku berjalan ke lift nomor empat.


Lantai 38 pukul delapan malam hampir kosong.

Bagas sedang memakai jaket di dekat lift, dengan tas ransel di punggung. Tiara sudah pulang. Fikri menjemputnya pukul enam dengan martabak lagi, kata Sisca. Yudis memakai headphone di meja, matanya terpaku ke layar.

Bagas melihatku keluar dari lift dan membeku seperti rusa di sorot lampu mobil.

“Selamat malam, Bu.”

“Malam, Bagas. Mau pulang?”

“Iya, Bu. Saya… iya.” Dia menatapku. Lalu menatap ruang kaca di ujung lantai, tempat lampunya masih menyala. Lalu menatapku lagi, dan matanya melebar pelan-pelan, seperti orang yang menyadari sesuatu. “Saya pulang, Bu. Sekarang. Langsung.” Dia menoleh ke meja Yudis. “Mas Yudis. Pulang. Sekarang.”

Yudis melepas headphone-nya. Dia menatap Bagas. Menatapku. Menatap ruang kaca.

Lalu, dalam satu gerakan yang sangat efisien, dia menutup laptopnya, mengambil tasnya, dan berjalan ke lift tanpa sepatah kata pun. Di depan lift, dia berhenti di sebelahku.

“Bu,” katanya datar. “CCTV ruang kaca ada di sudut kanan atas. Lensa wide-angle. Rekamannya disimpan tiga puluh hari.”

Lalu dia masuk ke lift bersama Bagas, dan pintu kuningan menutup.

Aku berdiri sendirian di lantai 38.

Di ujung lantai, di balik dinding kaca, Chakra duduk di mejanya. Lengan kemeja digulung. Kacamata. Wajah yang menunduk ke layar laptop. Rantang mie ayam di sebelah laptop, kali ini kosong.

Dia sudah makan. Anak pintar.

Aku berjalan ke ruang kaca. Pelan. Sepatu hakku berbunyi di lantai vinil.

Dia mendongak. Melihatku.

Aku mendorong pintu kaca dan masuk. Aku tidak berhenti di depan mejanya. Aku berjalan memutar ke sudut kanan atas ruangan, ke kamera CCTV kecil berlensa wide-angle, dan menarik kursi di bawahnya.

“Rena?”

Aku naik ke kursi itu, dengan sepatu hak sembilan senti, mengeluarkan satu sticky note kuning dari saku blazer, dan menempelkannya di lensa kamera.

Lalu aku turun.

Chakra menatapku dengan mulut setengah terbuka.

“Kamu… barusan nutup CCTV.”

“Iya.”

“Itu melanggar prosedur keamanan.”

“Aku CEO,” kataku. “Aku yang tanda tangan kontrak CCTV-nya.”

Dia berdiri. Pelan. Matanya waspada, seperti orang yang melihat badai datang dari jauh dan tidak tahu harus lari atau menunggu.

Aku berjalan ke arahnya. Memutari meja. Berhenti di depannya. Dekat. Sangat dekat.

Lalu aku mengangkat ponselku dan memperlihatkan layarnya kepadanya.

Halaman iv. Acknowledgments. Paragraf terakhir, dalam bahasa Indonesia, dengan huruf miring.

Wajahnya berubah. Aku melihatnya. Darah naik dari leher ke pipi ke telinga, warna yang dulu kusebut warna malu-malu, warna yang tidak pernah kulihat di wajahnya bahkan di malam pertama pernikahan kami.

“Arini,” katanya. Suaranya serak.

“Arini.”

“Aku akan membunuhnya.”

“Dia sudah memperkirakan itu.” Aku memasukkan ponsel ke saku. “Dia minta maaf duluan.”

Dia tidak bisa menatapku. Dia menatap lantai, menatap laptop, menatap rantang yang kosong. Tangannya bergerak ke kacamatanya, berhenti di udara, lalu turun lagi.

“Kemarin,” kataku pelan, “aku bilang aku mau tanya sesuatu. Setelah aku beresin satu hal.”

Dia mengangkat wajah.

“Aku sudah beresin,” kataku. “Siang tadi. Atap lantai 51. Marcel tahu. Marcel bahkan lega.” Aku diam sebentar. “Kami sepakat belum mengumumkan ke siapa-siapa. Ada sesuatu soal ayahnya. Tapi di antara aku dan dia, sudah selesai.”

Dia menatapku. Matanya membesar di balik kacamata.

“Sekarang,” kataku, “aku tanya.”

Aku mengangkat tangan dan meletakkan telapak tanganku di dadanya. Di atas kemejanya, tepat di atas jantungnya. Aku bisa merasakannya berdetak. Cepat. Sangat cepat.

“Kenapa RENA?”

Dia tidak menjawab. Dia menatapku. Aku menatap matanya, lalu kacamatanya, lalu tangannya yang tergantung diam di sisi tubuhnya.

“Jangan dorong kacamata,” bisikku. “Jangan diam juga. Jawab.”

Dia menarik napas. Panjang. Bergetar. Aku merasakannya di bawah telapak tanganku.

“Karena malam pertama di Zürich,” katanya pelan, “aku nggak bisa tidur. Jam tiga pagi. Aku buka laptop. Aku mau bikin sesuatu, apa saja, supaya tanganku sibuk, supaya kepalaku nggak memutar ulang semuanya. Aku bikin folder baru. Folder itu butuh nama.” Dia berhenti. “Aku ketik nama yang pertama muncul di kepalaku. Nama yang selalu muncul di kepalaku. Setiap jam. Setiap hari.”

Tangannya terangkat. Pelan. Ke wajahku. Ujung jarinya menyentuh pipiku, ringan sekali, seperti takut aku akan hancur.

“Aku nggak pernah bisa ganti namanya,” bisiknya. “Aku coba. Sekali. Tahun kedua. Aku ganti jadi Model-A. Bertahan sebelas menit. Lalu aku ganti balik.”

Aku menatapnya.

Aku menatap laki-laki ini. Laki-laki yang menyimpan sticky note di balik KTP, kartu penunggu pasien di dompet, slip bank di kaleng biskuit, dan namaku di dalam kode komputer seribu dua ratus delapan puluh empat kali. Laki-laki yang mengubur semuanya dalam diam karena seseorang memintanya membiarkanku membencinya.

“Kamu kasih nama paten pakai namaku,” kataku pelan, dan suaraku mulai bergetar. “Disertasimu. Model yang menyelamatkan empat ratus gerai dari banjir. Semuanya pakai namaku.” Tanganku di dadanya mengepal, mencengkeram kemejanya. “Tapi kamu nggak pernah balik nyari aku.”

“Rena…”

“Enam tahun. Kamu pakai namaku buat semua hal, kecuali buat nyari aku.”

“Aku nggak tahu kamu mau dicari.”

“Bodoh.” Aku menarik kemejanya, sekali, keras, sampai wajahnya turun mendekati wajahku. Sampai jarak di antara kami tinggal sejengkal. “Kamu doktor matematika. Kamu bisa ramal banjir. Kamu bisa hitung tiang pancang dari foto drone. Dan kamu nggak bisa ngitung kalau perempuan yang enam tahun minum kopi tanpa gula, enam tahun bikin susu hangat jam setengah satu pagi, enam tahun nyimpen foto lama di laci di bawah kalung bunga matahari dari kamu, itu perempuan yang mau dicari?”

Dia membeku.

“Kamu kasih nama paten pakai namaku,” bisikku, sekarang sangat dekat, napasku di bibirnya, “tapi nggak pernah balik nyari aku.”

Aku berjinjit.

“Bayar bunganya sekarang.”


Kali ini dia tidak menahan bahuku.

Kali ini, waktu bibirku menyentuh bibirnya, dia tidak mundur, tidak membeku, tidak bilang itu bukan jawaban. Karena kali ini, ini memang jawabannya. Pertanyaan yang dia ajukan di balkon lantai 50, di ruang rapat Sinclair, enam tahun lalu pukul 23.52. Aku menjawabnya dengan suara di ruang rapat. Sekarang aku menjawabnya dengan cara lain.

Ciuman pertama setelah enam tahun.

Awalnya pelan. Hampir ragu. Bibirnya hangat dan sedikit kering, persis seperti dulu, persis seperti setiap pagi di depan pintu apartemen Kalibata setelah aku mengencangkan dasinya dan menagih bayaran. Aku merasakan napasnya tertahan. Aku merasakan tangannya di pipiku bergetar.

Lalu sesuatu di dalam dirinya pecah.

Tangannya bergerak dari pipiku ke belakang kepalaku, ke sanggulku, dan jepit mutiara itu jatuh ke lantai dengan bunyi tik kecil. Rambutku terurai. Jari-jarinya menyusup di antara helai-helai rambutku, menarikku lebih dekat. Tangannya yang lain melingkari pinggangku, mengangkatku sedikit dari lantai, sampai aku tidak perlu berjinjit lagi, sampai seluruh tubuhku menempel ke tubuhnya.

Ciuman itu berubah. Dalam. Lapar. Ciuman yang menyimpan enam tahun, dua bulan, sebelas hari, dan semua malam yang dia habiskan di asrama di Zürich, mengetik namaku di folder komputer pukul tiga pagi. Ciuman yang tahu persis di mana harus menekan dan di mana harus melembut, karena dulu dia sudah mempelajarinya tiga ratus enam puluh lima pagi, dan ternyata dia tidak lupa satu pun.

Aku mencengkeram kemejanya. Lalu kerahnya. Lalu tengkuknya, rambut pendek di belakang lehernya yang dulu selalu kuacak setiap pagi. Aku menariknya lebih dekat, lebih dalam, dan aku mendengar suara kecil keluar dari tenggorokanku, suara yang tidak pernah kudengar dari diriku sendiri selama enam tahun.

Dia mendengarnya juga. Aku merasakan dia tersenyum di bibirku.

Lalu dia mendorongku mundur. Pelan. Satu langkah, dua langkah, sampai punggungku menyentuh dinding kaca ruangan itu, dingin di balik blazerku. Dan dia menciumku lagi, lebih dalam, satu tangan di dinding kaca di sebelah kepalaku, satu tangan di pinggangku.

Kacamatanya miring. Aku melepasnya. Menaruhnya di mana saja, di meja, di lantai, aku tidak peduli. Sekarang dia tidak bisa melihat dengan jelas, dan aku tidak peduli, karena dia tidak perlu melihat. Dia tahu jalannya. Dia selalu tahu jalannya.

Aku tidak tahu berapa lama. Satu menit. Lima. Selamanya.

Ketika akhirnya kami berhenti, itu bukan karena kami ingin berhenti. Itu karena kami lupa bernapas.

Dahinya menempel di dahiku. Napas kami berdua kacau, cepat, panas di antara wajah kami yang terlalu dekat. Tanpa kacamata, matanya terlihat lebih gelap, lebih dalam, dan sangat basah.

“Rena,” bisiknya. Suaranya hancur.

“Hm.”

“Aku…” Dia menelan ludah. “Aku nggak mau berhenti.”

Aku tersenyum. Aku merasakan senyumku di bibirnya.

“Siapa yang nyuruh berhenti?”

Dia tertawa. Tawa yang pecah, basah, dan sangat bahagia, dengan dahi masih menempel di dahiku dan tangan masih di pinggangku.

“Ada CCTV,” katanya.

“Sudah aku tutup.”

“Yudis bisa lihat rekaman sebelum kamu tutup.”

“Yudis sudah pulang. Dan Yudis yang kasih tahu aku letak kameranya.”

Dia mundur sedikit. Menatapku dengan mata buram tanpa kacamata.

“Yudis?”

“Yudis.”

Dia tertawa lagi, lebih keras, menunduk sampai dahinya menempel di bahuku.

“Aku dikelilingi pengkhianat,” gumamnya di bahuku.

“Kamu dikelilingi orang-orang yang sayang kamu,” kataku, mengusap rambut di belakang kepalanya. “Kamu cuma terlalu bodoh buat lihat.”

Dia mengangkat wajah. Aku memungut kacamatanya dari meja, entah kapan aku menaruhnya di sana, lalu memakaikannya kembali. Membuka gagangnya, menyelipkannya ke balik telinga, mendorong bagian tengahnya ke atas hidung dengan satu jari.

Dunianya kembali tajam. Dan aku ada di sana, sangat dekat, sangat jelas. Rambut terurai, lipstik yang pasti sudah berantakan, dan pipi yang aku tahu sedang berwarna merah malu-malu.

Dia menatapku seperti melihat sesuatu yang selama enam tahun hanya bisa dia lihat buram.

“Kamu cantik,” katanya pelan.

“Aku tahu.”

“Kamu selalu cantik.”

“Aku tahu.”

“Aku mencintaimu.”

Aku tidak bilang aku tahu untuk yang itu.

Aku menatapnya. Aku menatap laki-laki yang mengucapkan tiga kata itu dengan suara yang sama persis seperti di malam pertama kami di apartemen Kalibata, di kasur yang terlalu kecil, dengan lampu jalan yang masuk lewat celah tirai.

“Datanya bilang,” kataku pelan, “aku juga.”

Dia memejamkan mata.

Lalu dia menciumku lagi. Lebih pelan kali ini. Lebih lembut. Bukan ciuman orang lapar. Ciuman orang yang akhirnya pulang.


Pukul sembilan lewat dua puluh, kami berdiri di depan lift nomor empat.

Rambutku kusanggul lagi, buru-buru, dengan jepit mutiara yang kami temukan di bawah meja setelah mencari lima menit sambil tertawa. Lipstikku sudah kuhapus semua, karena tidak ada lagi yang bisa diselamatkan. Kemejanya kusut di bagian kerah. Ada noda lipstik mawar tua di kerahnya, samar sekali, yang tidak kuberitahukan kepadanya.

Biar saja. Biar Bagas melihatnya besok pagi.

Pintu lift terbuka. Kami masuk. Pintu menutup.

Hanya kami berdua, dinding kayu, cermin kuningan, dan angka lantai yang mulai turun.

Aku menatap pantulan kami di cermin. Dua orang dewasa berusia tiga puluh dua tahun dengan pipi yang sama merahnya dan senyum yang sama bodohnya.

“Rena,” katanya.

“Hm.”

“Pulang ke mana?”

Aku menoleh padanya. Pelan. Lalu aku tersenyum. Senyum yang dulu dia sebut senyum yang bikin aku telat ke kantor.

“Apartemenmu,” tanyaku, “atau apartemenku?”

Dia tersedak.

Benar-benar tersedak. Dengan ludahnya sendiri, di lift eksekutif SC Tower, pukul sembilan lewat dua puluh malam. Dia terbatuk-batuk sampai harus berpegangan pada pegangan kuningan di dinding lift. Matanya berair. Kacamatanya miring.

Aku menepuk punggungnya. Pelan. Dua kali.

Di lantai 20, batuknya reda. Dia menatapku dengan wajah merah padam.

“Kamu,” katanya serak, “nggak bisa bilang kayak gitu di lift.”

“Kenapa?”

“Karena aku bisa mati.”

“Kamu sudah bilang itu waktu dasimu kukencangkan.”

“Kali ini serius.”

Aku tertawa. Lift berdenting. Lobi.

Pintu kuningan terbuka. Di luar, lobi SC Tower sepi, hanya ada Pak Agus di meja satpam yang mendongak dan tersenyum lebar ke arah kami. Senyum yang terlalu lebar.

Aku melangkah keluar. Chakra tidak bergerak. Dia masih berdiri di dalam lift, menatapku dengan wajah orang yang sedang menghitung sesuatu yang sangat rumit dan sangat penting.

“Chakra?”

Dia menatapku. Lama. Lalu, pelan sekali, dia mendorong kacamatanya ke atas hidung.

Sekali.

Aku tahu artinya. Mau bicara angka.

“Apartemenku,” katanya. “Tapi Rena…”

“Hm?”

Dia keluar dari lift. Berdiri di depanku, di lobi yang sepi, di bawah lampu kristal yang redup.

“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan dulu,” katanya pelan. Telinganya merah. “Sebelum… apa pun.”

Aku menatapnya. Menatap telinga merah itu, kacamata yang tadi didorong sekali, dan cara dia berdiri sedikit terlalu tegak, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu dan berusaha keras bertahan pada keputusannya.

Aku punya firasat aku tahu apa yang akan dia bicarakan.

Dan aku punya firasat aku tidak akan suka.