Chapter Fifteen

Hujan di Tol

POV: Chakra


Pak Richard memintaku menjaga jarak dari anaknya. Sembilan hari kemudian, anaknya memasukkanku ke dalam satu mobil dengannya selama tujuh jam.

“Ini jadwal kunjungan proyek,” kata Sisca Senin pagi, meletakkan selembar kertas di mejaku dengan senyum yang sangat sopan dan sangat tidak polos. “Proyek Tol Jatiluhur Seksi Dua, SC Construction. Rabu. Berangkat jam enam pagi dari SC Tower, kembali sore. Peserta: Bu Serena, Pak Chakra, Pak Yosef dari Operasional, dan Ir. Bonar dari SC Construction.”

“Kenapa saya ikut, Mbak?”

“Bu Serena bilang NEXUS perlu memahami operasional konstruksi untuk proyek analitik berikutnya.” Sisca berhenti sebentar. “Itu kutipan langsung. Dan Pak Yosef ikut sebagai pendamping.”

“Pendamping?”

Sisca tidak menjawab. Senyumnya hanya sedikit melebar.

Rabu pagi, pukul 05.52, Pak Yosef menelepon. Suaranya serak dan diselingi batuk berat.

“Pak Chakra, saya mohon maaf. Saya demam tiga puluh sembilan derajat dari semalam. Istri saya nggak izinkan saya keluar rumah. Mohon sampaikan maaf saya ke Bu Serena.”

Aku menatap ponsel.

Pukul 05.58, aku berdiri di lobi SC Tower. Sedan hitam Rena berhenti di jalur penurunan. Pak Udin turun dan membukakan pintu belakang.

Rena duduk di kursi belakang sebelah kiri. Kemeja putih, celana kargo krem, sepatu bot kerja yang terlalu bersih untuk proyek konstruksi, dan rambut dikepang satu ke belakang. Di pangkuannya ada helm proyek putih bertuliskan SC Construction dan rompi oranye yang terlipat rapi.

Dia menatapku. Aku menatapnya.

“Pak Yosef demam,” kataku.

“Saya tahu. Dia sudah WA saya.”

“Jadi…”

“Jadi masuk.” Dia menggeser tasnya dari kursi sebelah kanan. “Kita sudah telat dua menit.”

Aku masuk. Kursi belakang sedan itu luas. Ada sandaran tangan di tengah, cukup lebar untuk menjadi garis batas. Aku duduk di sisi kanan. Dia di sisi kiri. Sandaran tangan di antara kami seperti pagar perbatasan dua negara yang baru saja berdamai.

Pak Udin menyalakan mesin. Dari spion tengah aku melihat matanya menatap kami berdua sekilas, lalu kembali ke jalan dengan ekspresi sopir yang sudah dua belas tahun bekerja untuk keluarga Sinclair dan sudah melihat segalanya.


Proyek Tol Jatiluhur Seksi Dua adalah ruas sepanjang tiga puluh dua kilometer yang membelah perbukitan Purwakarta. Nilai kontraknya empat koma tujuh triliun. Proyek ini adalah kebanggaan SC Construction, karena dimenangkan dalam tender terbuka dua tahun lalu, dengan Pak Hendra sebagai penanggung jawab tertinggi.

Ir. Bonar Siregar, manajer proyek, menyambut kami di kantor lapangan. Laki-laki besar berkulit gelap dengan suara seperti pengeras suara masjid dan logat Medan yang kental.

“Selamat datang, Bu CEO! Selamat datang, Pak Doktor!” Dia menjabat tanganku sampai jari-jariku berbunyi. “Saya dengar Bapak yang ramal banjir itu! Hebat, Pak! Kemarin istri saya bilang, Pak, minta ramalin kapan harga cabai turun. Saya bilang, Mak, itu bukan AI, itu mukjizat.” Dia tertawa sampai perutnya bergoyang.

Aku tersenyum sopan. Rena menahan tawa di balik helm proyeknya.

Rena memakai rompi oranye dan helm putih itu dengan serius, mengencangkan tali dagu helmnya dengan teliti. Hasilnya, CEO SC Group yang biasanya terlihat seperti dewi di puncak gedung sekarang terlihat seperti anak SD yang sedang ikut kunjungan lapangan. Rompinya kebesaran. Helmnya sedikit miring. Kepang rambutnya menyembul dari belakang helm seperti ekor anak kucing.

Dia terlihat sangat lucu. Aku harus memalingkan wajah supaya tidak tersenyum.

“Kenapa?” tanyanya, curiga.

“Nggak apa-apa, Bu.”

“Kamu senyum.”

“Saya selalu senyum, Bu.”

“Senyum yang ini beda.”

“Helmnya miring, Bu.”

Dia mengangkat tangan dan meraba helmnya. Miring ke kanan. Dia membetulkannya dengan kesal, dan sekarang miring ke kiri.

Ir. Bonar menatap kami berdua dengan ekspresi orang Medan yang melihat sesuatu yang menarik dan tidak berniat diam.

“Wah, Bu CEO sama Pak Doktor ini cocok, ya,” katanya keras. “Kayak saya sama istri saya waktu pacaran. Berantem terus!”

“Pak Bonar,” kata Rena, dengan suara CEO. “Kita mulai inspeksinya.”

“Siap, Bu!”


Inspeksi berlangsung tiga jam. Kami berjalan menyusuri ruas tol yang sedang dibangun. Tanah merah, debu, alat-alat berat yang meraung, pekerja dengan helm kuning yang berhenti bekerja untuk menatap Rena lewat. Ir. Bonar menjelaskan semuanya dengan semangat. Ruas ini sudah selesai pengecoran, ruas itu sedang pemasangan girder, jembatan di kilometer delapan belas sudah delapan puluh persen.

Aku mendengarkan. Lalu aku melihat.

Pengamat selalu melihat.

Di kilometer dua puluh tiga, ada jembatan penyeberangan yang menurut laporan progres bulanan yang kubaca minggu lalu sudah selesai pemasangan tiang pancang, dua puluh empat titik, seratus persen. Laporan itu ditandatangani subkontraktor bernama PT Bumi Cipta Persada dan disetujui untuk pembayaran termin.

Aku menghitung tiang pancang yang terlihat di lapangan.

Empat belas.

“Pak Bonar,” kataku ringan. “Tiang pancang di jembatan ini berapa titik?”

“Dua puluh empat, Pak.”

“Yang kelihatan empat belas.”

Ir. Bonar menoleh ke arah jembatan. Senyumnya membeku sepersekian detik, lalu kembali.

“Oh, sisanya di sisi seberang, Pak. Ketutup timbunan.”

Aku menatap sisi seberang. Tanah merah rata. Tidak ada timbunan setinggi tiang pancang.

“Subkontraktornya Bumi Cipta Persada, ya, Pak?”

“I-iya, Pak.” Ir. Bonar menyeka keringat di dahinya. Matahari memang terik, tapi keringatnya mendadak terlalu banyak. “Itu… subkon yang ditunjuk kantor pusat, Pak. Bukan saya yang pilih. Saya cuma di lapangan.”

Ditunjuk kantor pusat.

Aku mengangguk. Mencatat. Mengambil tiga foto dengan ponselku. Satu jembatan, satu papan nama proyek yang mencantumkan nama subkontraktor, dan satu Ir. Bonar yang sedang menyeka keringat.

Rena berdiri di sebelahku. Dia tidak bilang apa-apa. Tapi aku melihatnya menatap jembatan itu, lalu menatapku, lalu menatap Ir. Bonar. Matanya menyipit di bawah helm yang miring.

Dia tidak bertanya. Belum.


Kami meninggalkan proyek pukul tiga sore. Langit di atas Purwakarta mulai kelabu.

Pukul empat, di tol Cipularang arah Jakarta, hujan turun.

Bukan hujan biasa. Hujan yang datang tiba-tiba seperti seseorang membalik ember raksasa di atas bukit. Kaca depan sedan langsung menjadi air terjun. Wiper bergerak secepat mungkin dan tetap kalah. Lampu-lampu kendaraan di depan berubah menjadi bulatan merah yang buram.

Pukul empat lewat dua belas, di kilometer delapan puluh tujuh, sedan itu tersentak. Mesinnya terbatuk sekali, dua kali.

Lalu mati.

Pak Udin menepikan mobil ke bahu jalan dengan sisa momentum, menyalakan lampu hazard, dan mencoba menyalakan mesin lagi. Tidak ada apa-apa. Hanya bunyi tek-tek-tek yang menyedihkan.

“Mohon maaf, Bu,” kata Pak Udin. “Kayaknya aki, Bu. Atau alternator. Saya telepon derek.”

Dia menelepon. Bicara cepat. Menutup telepon.

“Derek datang satu jam, Bu. Paling cepat. Hujannya bikin macet di mana-mana.”

Satu jam.

Pak Udin keluar dari mobil dengan payung dan jas hujan untuk memasang segitiga pengaman di belakang. Lalu dia menelepon lagi dari luar, berdiri di bawah payung di samping mobil, dengan punggung menghadap kami. Sopan, sangat sopan, sangat terlatih.

Di dalam mobil, mesin mati, AC mati, hanya ada suara hujan yang memukul atap seperti ribuan jari mengetuk.

Rena dan aku duduk di kursi belakang. Sandaran tangan masih di antara kami.

Lalu dia mendorong sandaran tangan itu ke atas, melipatnya ke dalam jok, tanpa bicara.

Perbatasan dua negara hilang.


Hening yang lama.

Dia menatap jendela di sisinya, ke hujan yang mengalir di kaca. Aku menatap jendela di sisiku. Kami seperti dua orang yang sedang menonton film yang berbeda di bioskop yang sama.

“Kita pernah kehujanan kayak gini,” katanya akhirnya, pelan, tanpa menoleh.

“Saya ingat.”

“Waktu itu kamu nggak berani pegang tanganku.”

Aku ingat. Kencan ketiga. Kami pergi ke Kebun Raya Bogor naik kereta, karena dia ingin tahu rasanya naik kereta komuter, karena dia belum pernah. Hujan turun waktu kami di tengah taman. Kami berlari ke bawah pohon beringin tua dan berdiri di sana empat puluh menit. Bahu kami bersentuhan. Tangannya ada di sebelah tanganku, lima senti, empat senti, tiga senti. Dan aku tidak berani. Selama empat puluh menit aku tidak berani.

Akhirnya dia yang memegang tanganku. Sambil menghela napas panjang dan bilang, kamu ini doktor matematika tapi nggak bisa ngitung jarak tiga senti?

Waktu itu aku belum doktor. Dia bilang aku pasti akan jadi doktor.

“Waktu itu,” kataku, “saya belum doktor.”

Dia menoleh. Matanya berkilat di keremangan mobil. “Sekarang?”

“Sekarang apa, Bu?”

“Sekarang kamu doktor.” Dia menatap tanganku yang tergeletak di jok di antara kami. “Sekarang berani?”

Aku tidak menjawab.

Hujan memukul atap.

Lalu dia mengeluarkan ponselnya. Mengusap layar beberapa kali. Lalu memutar ponsel itu ke arahku.

Foto kebaya champagne. Foto yang sama dengan yang kulihat di tablet Sisca, Rena di depan cermin butik dengan rambut terurai. Tapi yang ini sudut berbeda, dan dia sedikit memutar badan, sehingga terlihat punggung kebaya yang dibordir halus.

“Menurutmu,” katanya, suaranya sangat datar, sangat terkendali, “bagus?”

Aku menatap foto itu. Lalu menatapnya.

“Bu…”

“Sebagai teman kantor,” katanya cepat. “Aku minta pendapat teman kantor. Mama bilang terlalu polos. Tante Hartanto bilang terlalu terbuka di punggung. Desainernya bilang sempurna. Aku nggak tahu siapa yang benar.”

Teman kantor.

Aku mengambil ponsel itu dari tangannya. Menatap foto itu lama. Kebaya champagne. Bordiran emas samar di kerah. Rambutnya yang terurai sampai ke punggung. Wajahnya yang tidak tersenyum.

Dia cantik. Dia selalu cantik. Dia akan berdiri di samping laki-laki lain dalam tujuh belas hari dengan kebaya ini, dan dia akan tetap cantik, dan aku akan berdiri di belakang ruangan, atau mungkin aku tidak akan datang sama sekali.

“Cantik,” kataku.

Dia menatapku, menunggu.

Aku mengembalikan ponselnya. Tangan kami bersentuhan di sana, di antara kami, di jok yang tidak lagi punya perbatasan.

“Terlalu cantik,” kataku pelan, “buat dia.”

Dia membeku.

Hujan terus memukul atap. Di luar, Pak Udin masih berdiri di bawah payung, membelakangi mobil, menatap jalan tol yang kabur.

Ponsel itu jatuh dari tangannya ke jok. Layarnya masih menyala, kebaya champagne menatap langit-langit mobil.

Dia tidak mengambilnya.

Tangannya tetap di sana, di jok, di antara kami, tempat ponsel tadi berada. Telapak tangannya menghadap ke bawah. Jari-jarinya sedikit terbuka. Lima senti dari tanganku.

Empat senti.

Tiga senti.

Aku menatap tangan itu. Tangan yang dulu menggenggam tanganku di bawah pohon beringin, yang mengikatkan dasiku setiap pagi, yang menandatangani otorisasi tiga koma delapan miliar karena percaya pada angkaku. Tangan yang akan memakai cincin laki-laki lain dalam tujuh belas hari.

Jaga jarakmu dari anak saya.

Aku tidak berani.

Aku masih tidak berani. Setelah delapan tahun, gelar doktor, dan paten di tiga negara, aku masih laki-laki yang sama di bawah pohon beringin yang tidak bisa menghitung jarak tiga senti.

Lalu, seperti dulu, dia yang bergerak.

Jari kelingkingnya menyentuh jari kelingkingku. Pelan sekali. Hanya ujungnya. Seperti bertanya.

Aku tidak menarik tanganku.

Jari kelingkingnya melingkar di jari kelingkingku. Lalu jari manisnya menyusup di antara jari-jariku. Lalu jari tengahnya. Lalu seluruh tangannya, hangat, sedikit dingin di ujung karena AC yang tadi mati, sedikit gemetar, menggenggam tanganku di atas jok kulit sedan hitam di bahu jalan tol Cipularang, di tengah hujan.

Aku menggenggam balik.

Kami tidak bicara. Dia menatap jendela di sisinya. Aku menatap jendela di sisiku. Tangan kami bertaut di antara kami, dan tidak satu pun dari kami menoleh, karena kalau menoleh, kami harus mengakui apa yang sedang terjadi, dan tidak satu pun dari kami siap untuk itu.

Ibu jarinya bergerak sekali, menyapu punggung tanganku. Pelan. Seperti dulu, setiap kali dia ingin bilang sesuatu tapi tidak menemukan kata-katanya.

Aku membalas dengan ibu jariku.

Hujan turun empat puluh tujuh menit. Aku menghitung, karena aku selalu menghitung.

Selama empat puluh tujuh menit itu, tangannya tidak lepas dari tanganku.


Derek datang pukul lima lewat delapan belas.

Kami melepaskan tangan saat Pak Udin mengetuk jendela, tiba-tiba, cepat, seperti dua remaja yang tertangkap basah. Rena mengambil ponselnya dari jok dan menutup foto kebaya itu. Aku merapikan kacamataku yang tidak berantakan.

Pak Udin membuka pintu dengan payung. Wajahnya sangat netral. Terlalu netral.

“Mobil pengganti sudah di belakang derek, Bu. Silakan pindah.”

Mobil pengganti adalah Innova kantor dengan sopir lain. Kami pindah. Kali ini Rena duduk di kursi depan, di sebelah sopir. Aku di belakang. Tidak ada yang mengusulkan susunan itu. Itu terjadi begitu saja, seperti tubuh kami tahu bahwa empat puluh tujuh menit tadi tidak bisa diulang di depan sopir baru yang tidak dikenal.

Sepanjang sisa perjalanan ke Jakarta, dia tidak bicara. Hanya sekali, di gerbang tol Cikunir, dia membuka mulut.

“Mama bilang,” katanya, sangat pelan, ke arah kaca depan, “aku mau mengulangi kesalahan yang sama.”

Aku menatap tengkuknya dari kursi belakang. Kepangnya sudah setengah terurai.

“Kesalahan yang mana?” tanyaku.

Dia diam lama.

“Itu juga yang aku tanya ke Mama,” katanya akhirnya.

Lalu dia tidak bicara lagi sampai SC Tower.


Malam itu, di lantai 38, aku membuka folder lokal yang tidak pernah kusinkronkan ke mana-mana.

Aku memasukkan nama itu ke basis data: PT Bumi Cipta Persada. Lalu aku menjalankan query yang sudah kusiapkan berminggu-minggu, menunggu nama pertama untuk diuji. Kucari semua subkontraktor SC Construction dalam tiga tahun terakhir yang berbagi alamat korespondensi, nomor telepon, atau nama direktur dengan PT Bumi Cipta Persada.

Layar berpikir selama sebelas detik.

Lalu hasilnya muncul.

Bukan satu. Bukan dua.

Lima.

Lima perusahaan dengan nama berbeda, akta berbeda, NPWP berbeda. Mereka berbagi dua alamat kantor yang sama di Jakarta Barat, satu nomor telepon yang sama, dan tiga direktur yang namanya muncul berulang-ulang di akta yang berbeda-beda.

Lima perusahaan yang memenangkan subkontrak senilai total tiga ratus delapan puluh miliar rupiah di tiga proyek SC Construction, semuanya di bawah tanggung jawab COO.

Dan itu baru dari satu nama. Satu benang yang kutarik. Aku tidak tahu seberapa panjang gulungannya.

Lalu aku mengeluarkan ponsel dan membuka foto ketiga yang kuambil siang tadi. Ir. Bonar, menyeka keringat di depan jembatan dengan empat belas tiang pancang.

Ditunjuk kantor pusat, Pak. Bukan saya yang pilih.

Aku menyimpan semuanya di folder lokal. Mengenkripsinya. Menyalin cadangannya ke dua flashdisk berbeda. Satu kumasukkan ke dompet, di balik KTP, di sebelah dua sticky note dan selembar kertas tua yang terlipat. Satu lagi kumasukkan ke dalam rantang mie ayam Ibu yang besok pagi akan kubawa pulang ke Cibubur, karena tidak ada orang di dunia ini yang akan mencari bukti penggelapan ratusan miliar di dalam rantang mie ayam.

Pukul sebelas malam, ponselku bergetar.

Rena 🌻: Sudah sampai rumah?

Aku menatap pesan itu. Lalu menatap layar laptop, ke lima nama perusahaan yang tersusun rapi seperti batu nisan.

Masih di kantor, Bu.

Kerja?

Kerja.

Jeda.

Jangan lupa makan.

Aku menatap tiga kata itu. Tiga kata yang selama enam tahun di Zürich diucapkan Arini setiap malam, diucapkan Ibu setiap minggu di telepon, dan tidak pernah sekali pun diucapkan oleh orang yang paling ingin kudengar mengucapkannya.

Iya, Bu.

Dan Chakra.

Namaku. Utuh. Untuk pertama kalinya dia mengetik namaku tanpa Pak.

Ya?

Dua centang biru. Mengetik… Berhenti. Mengetik… Berhenti.

Lalu:

Tanganmu masih hangat kayak dulu.

Aku meletakkan ponsel di meja. Menelungkupkannya. Menekan telapak tangan ke mataku di bawah kacamata.

Di layar laptop, lima nama perusahaan menatapku.

Di ponselku, satu kalimat yang tidak bisa kubalas.

Aku mencintai perempuan ini. Aku tidak pernah berhenti mencintainya. Dan dalam beberapa minggu, aku harus memberitahunya bahwa orang yang dia panggil Om sejak kecil, yang memberinya amplop cokelat enam tahun lalu dengan wajah sedih dan suara pelan, sedang mencuri dari perusahaan keluarganya.

Dan bahwa itu mungkin bukan satu-satunya hal yang dia curi.