Chapter Six

400 Gerai Sebelum Hujan

POV: Chakra


Pukul sembilan malam, lantai 38 berubah jadi ruang perang.

Bagas mengambil alih dua layar besar dan menampilkan peta risiko genangan yang diperbarui setiap lima belas menit. Yudis duduk bersila di sofa hijau tua, laptop di pangkuan, menggabungkan data stok gerai dengan kapasitas gudang SC Logistics. Tiara berdiri di depan papan tulis dengan tiga stabilo, menulis daftar produk dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Dan aku berdiri di tengah semua itu, mencoba menjelaskan kepada otakku sendiri kenapa aku yakin.

Aku tidak yakin. Itu masalahnya. Ilmuwan data yang baik tidak pernah yakin. Kami hanya punya probabilitas, dan probabilitas, seberapa pun tingginya, tetap menyisakan ruang untuk dunia membuktikan kami salah.

Delapan puluh satu persen. Angka itu bagus untuk jurnal ilmiah. Untuk meyakinkan sebelas orang direksi agar menghabiskan miliaran rupiah dalam dua hari, angka itu kurang.

“Pak, ini peta finalnya.” Bagas memperbesar layar. “Empat ratus tujuh gerai di zona merah. Seratus dua belas di zona oranye. Paling parah di Jakarta Timur dan Bekasi. Bantaran Ciliwung dan Kali Bekasi.”

Aku mendekat. Peta itu bukan sekadar peta cuaca. Di bawahnya ada lapisan-lapisan yang kutumpuk selama dua minggu terakhir: data ketinggian tanah, catatan genangan historis dari laporan BPBD lima tahun terakhir, kepadatan saluran air, proyeksi muka air dari pos pantau Katulampa dan Manggarai, dan, ini bagian yang membuatku paling bangga sekaligus paling malu, ribuan unggahan warga di media sosial dari banjir-banjir sebelumnya. Foto-foto genangan setinggi lutut, video motor mogok, keluhan air udah masuk rumah lagi nih, semuanya kuolah supaya tahu jalan mana yang benar-benar tergenang, bukan hanya yang diprediksi tergenang.

“Pola belanjanya,” kataku. “Tiara?”

Tiara berbalik dari papan tulis. “Sudah, Pak. Saya ambil data penjualan tiga hari sebelum dan sesudah banjir besar tahun-tahun lalu. Polanya konsisten.” Dia menunjuk daftarnya satu per satu dengan stabilo kuning. “Air mineral galon dan botol naik empat sampai enam kali lipat. Mi instan tiga kali lipat. Popok, susu formula, roti tawar, biskuit. Obat-obatan dasar: parasetamol, oralit, minyak kayu putih, obat gatal. Senter, baterai, lilin. Pembalut. Terus, ini aneh, Pak, tapi konsisten: kopi sachet dan rokok.”

“Nggak aneh,” kata Yudis dari sofa, tanpa mengangkat kepala. “Orang yang rumahnya kebanjiran begadang. Begadang butuh kopi.”

“Dan stresnya butuh rokok,” tambah Bagas.

“Dan pembalut,” kata Tiara dengan nada keras, “karena perempuan tetap menstruasi meskipun ada banjir, Bagas, dan tahun lalu ada video viral ibu-ibu di pengungsian Kampung Melayu yang nangis karena nggak ada satu pun minimarket yang buka.”

Bagas mengangkat dua tangan. “Saya nggak bilang apa-apa.”

“Muka kamu bilang.”

Aku tidak bisa menahan senyum. Lalu aku kembali ke layar, dan senyumku hilang.

“Masalahnya bukan cuma stok,” kataku. “Masalahnya akses. Kalau banjir sudah datang, truk nggak bisa masuk. Jadi stok harus sudah ada di gerai sebelum air naik. Empat puluh delapan jam sebelumnya, minimal. Gerai di dataran rendah juga harus menaikkan barang ke rak atas, menyiapkan karung pasir di pintu, dan…” aku menunjuk satu kolom di lembar Yudis, “…genset. Gerai yang listriknya padam nggak bisa melayani transaksi digital. Kalau mau tetap buka, kita butuh genset sewaan di minimal seratus lima puluh titik.”

Yudis mengetik sesuatu, lalu menatap layarnya dengan ekspresi orang yang melihat tagihan rumah sakit.

“Estimasi biaya total, Pak. Logistik tambahan, lembur sopir, sewa genset, karung pasir, insentif karyawan gerai untuk tetap buka…” Dia memutar laptopnya. “Tiga koma delapan miliar.”

Tiga koma delapan miliar rupiah. Untuk sesuatu yang belum terjadi.

“Kalau nggak jadi banjir?” tanya Bagas pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Ponselku bergetar. Nama pengirimnya masih seperti yang kusimpan delapan tahun lalu dan tidak pernah kuganti: Rena, dengan satu emoji bunga matahari. Aku tidak tahu apa nama kontakku di ponselnya. Pasti sesuatu yang tidak sopan.

Rena 🌻: Saya dengar NEXUS lembur. Ada apa?

Kubalas: Ibu masih di kantor?

Rena 🌻: Saya CEO. Saya selalu di kantor. Ada apa?

Aku menatap peta merah di layar besar. Lalu kuketik:

Bisa turun ke 38, Bu? Lima menit. Saya butuh Ibu lihat sesuatu sebelum besok pagi.

Dua centang biru. Tidak ada balasan.

Empat menit kemudian, pintu lift berdenting.


Dia turun dengan blazer sudah dilepas. Blus sutranya putih, lengannya digulung sampai siku, dan sanggulnya sedikit longgar, seperti dia sudah melepas dan memasang jepitnya berkali-kali selama sore yang panjang. Dia tidak memakai sepatu hak. Di kakinya ada sandal kantor bertali yang kurasa disimpan di bawah meja untuk lembur.

Dia terlihat lelah dan cantik, kombinasi yang selalu membuatku lupa caranya bicara dalam kalimat utuh.

Timku berdiri serentak, seperti murid saat kepala sekolah masuk.

“Duduk,” kata Rena. “Ini bukan upacara.”

Mereka duduk. Rena berdiri di depan layar besar. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, menyerap peta itu dengan kecepatan yang dulu selalu membuatku kagum. Dia tidak pernah butuh penjelasan panjang. Dia hanya butuh dilihatkan.

“Empat ratus gerai,” katanya.

“Empat ratus tujuh, Bu.”

“Kapan?”

“Puncak curah hujan diproyeksikan Sabtu dini hari sampai Minggu siang. Kalau muka air Katulampa naik sesuai proyeksi, limpasan sampai ke Jakarta sekitar delapan sampai sepuluh jam kemudian. Genangan mulai Sabtu pagi. Kita punya waktu sampai Jumat malam untuk memindahkan semua stok.”

“Berapa biayanya?”

“Tiga koma delapan miliar.”

Dia tidak berkedip. “Kalau kita nggak melakukan apa-apa?”

Aku mengangguk ke Yudis. Yudis memutar laptopnya lagi.

“Dari banjir besar terakhir, Bu,” kata Yudis, suaranya sedikit bergetar, “SinMart kehilangan sekitar sembilan belas miliar. Barang rusak kerendam, gerai tutup tiga sampai lima hari, dan…” dia menggeser layar, “…tiga bulan setelahnya, delapan persen pelanggan di wilayah terdampak nggak kembali. Mereka pindah ke kompetitor yang lebih cepat buka.”

Rena menatap angka itu lama.

“Kamu yakin?” tanyanya. Dia tidak menoleh padaku, tapi aku tahu pertanyaan itu untukku.

“Nggak,” kataku jujur. “Saya nggak pernah yakin, Bu. Saya cuma tahu probabilitasnya. Delapan puluh satu persen.”

“Sembilan belas persennya?”

“Sembilan belas persennya, kita buang tiga koma delapan miliar untuk ramalan cuaca, dan Ibu harus menjelaskannya ke direksi.”

Akhirnya dia menoleh. Matanya menatapku dari jarak dua meter, di bawah cahaya biru layar, dan untuk satu detik aku melihat sesuatu di sana yang tidak pernah kulihat di ruang rapat: ketakutan. Bukan takut gagal. Takut percaya.

“Jadi kamu minta saya pertaruhkan reputasi saya,” katanya pelan, “di atas angka kamu.”

“Nggak, Bu.” Aku menggeleng. “Yakin itu bukan urusan saya. Itu urusan Ibu. Saya cuma kasih probabilitasnya. Yang memutuskan percaya atau nggak, tetap Ibu.”

Hening.

Di sofa, Yudis menahan napas. Bagas berhenti mengunyah keripik. Tiara memegang tiga stabilonya erat-erat seperti orang memegang tasbih.

Rena berjalan ke meja Yudis. Dia menunduk, membaca rincian biaya baris demi baris. Lalu dia mengambil pulpen dari saku blusnya. Pulpen biru, tentu saja.

“Siapkan dokumen otorisasinya,” katanya. “Saya tanda tangan malam ini. Rapat direksi darurat jam tujuh pagi. Saya yang presentasi.”

“Bu…”

“Kamu yang siapkan angkanya.” Dia menatapku. “Saya yang hadapi orang-orangnya. Itu pembagian kerja yang adil.”


Rapat darurat pukul tujuh pagi berlangsung seperti yang kuduga. Ada sebelas wajah yang mengantuk dan skeptis.

“Tiga koma delapan miliar,” kata Pak Darmawan, mengulang angka itu seperti mantra yang terkutuk, “untuk ramalan cuaca.”

“Bukan ramalan cuaca, Pak.” Rena berdiri di ujung meja dengan slide yang semalam kami susun bersama sampai pukul dua pagi. “Ini manajemen risiko. Kita bayar asuransi setiap tahun untuk kemungkinan yang jauh lebih kecil dari delapan puluh satu persen.”

“Asuransi ada polisnya, Bu,” kata Pak Yosef. “Ini ada apanya?”

“Ada model yang menemukan empat puluh tujuh miliar kebocoran dalam satu presentasi minggu ini, Pak Yosef.”

Pak Yosef diam.

Lalu Pak Hendra berbicara. Lembut, hangat, seperti paman yang menasihati keponakan.

“Serena, Om mengerti. Om juga terkesan sekali dengan pekerjaan Chakra.” Dia tersenyum padaku, senyum yang sama dengan senyum di ruangannya, di atas kopi Toraja. “Tapi kita ini perusahaan publik, Nak. Pemegang saham kita bukan ilmuwan. Kalau Sabtu nanti cerah dan matahari bersinar, berita besok paginya adalah SC Group Buang Miliaran karena Ramalan AI. Kita jangan panik karena ramalan cuaca. Bukankah lebih bijak kita tunggu satu hari lagi? Lihat perkembangannya dulu?”

Beberapa kepala mengangguk. Itu masuk akal. Kedengarannya sangat masuk akal.

Dan karena itulah berbahaya.

“Kalau kita tunggu satu hari, Pak,” kataku, “truk kita nggak akan sempat. Jarak dari gudang Cikarang ke gerai-gerai di Jakarta Timur, dengan kemacetan Jumat sore, rata-rata enam sampai sembilan jam. Kalau kita mulai Sabtu, airnya sudah lebih dulu sampai.”

“Kita bisa pakai rute alternatif,” kata Pak Hendra.

“Rute alternatifnya juga tergenang, Pak. Sudah saya cek. Ada di lampiran halaman sembilan.”

Pak Hendra tersenyum padaku. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Itu pertama kalinya aku melihat senyum Hendra Sinclair tidak sampai ke matanya.

Rena tidak melihat senyum itu. Dia sedang menatap direksi, satu per satu, dengan wajah yang tidak bisa dibaca.

“Saya sudah tanda tangan otorisasinya tadi malam,” katanya. “Pukul sebelas lewat dua puluh. Truk pertama dari Cikarang berangkat pukul lima pagi tadi. Sekarang sudah dalam perjalanan.”

Ruangan meledak dalam keributan sopan.

“Bu, keputusan sebesar ini seharusnya…”

“Bu Serena, dengan segala hormat, prosedur…”

“Nak, Om rasa…”

Rena mengangkat satu tangan. Ruangan diam.

“Saya CEO perusahaan ini,” katanya. Suaranya tidak keras. Tidak perlu keras. “Kalau Sabtu cerah, Bapak-Ibu boleh menulis surat ke komisaris dan meminta saya mempertanggungjawabkan tiga koma delapan miliar ini. Saya akan datang dan menjawab semua pertanyaannya.” Dia diam sejenak. “Tapi kalau Sabtu banjir dan kita nggak siap, saya nggak mau jadi CEO yang harus menjelaskan ke ibu-ibu di pengungsian kenapa nggak ada satu pun SinMart yang buka padahal kita tahu dari dua hari sebelumnya.”

Dia menutup laptopnya.

“Rapat selesai. Terima kasih.”

Aku duduk di ujung meja. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, gelar doktor, paten, dan semua kosakata ilmiah yang kupunya tidak berguna. Satu-satunya kata yang ada di kepalaku hanya istriku.

Lalu aku ingat dia bukan istriku lagi, dan kata itu berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.


Jumat berjalan seperti mimpi buruk yang terorganisasi.

Sepanjang hari truk-truk SC Logistics berangkat dari gudang Cikarang dan Cibitung dalam gelombang-gelombang yang dijadwalkan model Yudis. Rute dihitung ulang setiap jam berdasarkan kemacetan. Kepala-kepala area menelepon ke lantai 38 dengan suara bingung: Pak, kenapa gerai saya dapat kiriman dua ratus galon? Gudang belakang saya nggak muat, Pak. Tiara menjawab semua telepon itu dengan sabar, dengan instruksi yang sudah ia cetak dan tempel di dinding: Naikkan semua barang ke rak setinggi minimal satu meter. Karung pasir di depan pintu. Genset datang jam empat sore. Jangan panik. Ini bukan latihan, tapi juga belum kiamat.

Langit Jakarta sepanjang hari Jumat terang benderang. Biru. Hampir tanpa awan.

Pukul dua siang, seseorang di grup WA direksi mengirim foto langit cerah dari jendela kantornya tanpa keterangan apa-apa. Pukul tiga, Pak Darmawan mengirim stiker matahari tersenyum, lalu cepat-cepat menariknya. Pukul empat, seorang manajer di lantai 12 mengunggah status ke Instagram: Katanya mau banjir. Ini panasnya kayak di neraka 🥵. Seseorang menangkap layarnya dan menyebarkannya ke grup karyawan.

Aku tidak melihat ke luar jendela sama sekali. Aku melihat layar. Di layar, awan-awan yang tidak kelihatan dari jendela sedang berkumpul di atas Samudra Hindia, memutar, menebal, bergerak ke utara.

Pukul sembilan malam, timku masih di lantai 38. Pukul sepuluh, Ibu mengirim empat panci mie ayam lewat ojek online, ditambah satu termos besar teh manis dan satu catatan: Buat semua yang lembur. Chakra jangan lupa makan. Kalau Neng Rena ada, suruh makan juga.

Neng Rena ada.

Dia turun ke lantai 38 pukul setengah sebelas dengan laptopnya sendiri, duduk di ujung meja panjang, dan bekerja tanpa bicara. Membalas email. Menelepon kepala regional. Sesekali menatap layar besar dengan kening berkerut.

Dia makan mie ayam Ibu tanpa protes. Tidak ada sticky note kali ini.

Pukul satu dini hari, Bagas tertidur di sofa hijau dengan mulut terbuka dan kacamata miring. Yudis memakai headphone dan bekerja seperti robot. Tiara menelepon pacarnya di pantri dengan suara pelan.

Rena dan aku berdiri berdua di depan layar besar.

Langit di peta satelit sekarang putih berputar-putar, seperti susu yang tumpah ke peta Jawa.

“Kalau prediksimu salah,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh, “empat ratus gerai rugi, tiga koma delapan miliar hilang, dan aku harus menghadap komisaris minggu depan.”

“Saya tahu.”

“Dan kamu,” lanjutnya, “akan kupotong gajinya.”

Aku menahan senyum. “Kalau benar?”

Dia diam sebentar. “Saya kirim ucapan terima kasih.”

“Lewat?”

“Email.”

“Pakai CC direksi?”

Ada jeda. Panjang sekali. Di layar, awan putih itu berputar pelan.

“…Tanpa CC,” katanya.

Aku menatapnya dari samping. Cahaya biru layar jatuh di pipinya, di bulu matanya, di bibirnya yang sedikit mengerucut. Dulu dia selalu mengerucutkan bibir seperti itu kalau sedang malu dan tidak mau mengaku.

“Wah,” kataku pelan. “Privat.”

Dia tidak menjawab.

“Saya jadi berharap salah, Bu.”

Dia menoleh, cepat, matanya melebar. “Kamu gila? Tiga koma delapan miliar…”

“Bercanda.” Aku tersenyum. “Sedikit.”

Dia menatapku lama. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku kembali, ujung bibirnya terangkat. Bukan senyum CEO. Bukan senyum sopan untuk Gendis. Senyum kecil yang miring, separuh kesal dan separuh geli, yang dulu biasanya dia berikan padaku sebelum mencubit pinggangku.

Dia tidak mencubit pinggangku. Dia berbalik dan kembali ke laptopnya.

Tapi senyum itu sudah terjadi. Aku menyimpannya, seperti sticky note di balik KTP.


Pukul tiga pagi, suhu ruangan turun.

AC gedung ini diprogram mengikuti jam operasional. Di luar jam kerja, sistem gedung menurunkan suhu untuk efisiensi, atau begitulah kata Yudis. Aku curiga itu cuma alasan teknisi gedung untuk menyiksa orang yang lembur.

Rena masih di ujung meja. Lengan blusnya sekarang diturunkan sampai ke pergelangan, dan dia memeluk dirinya sendiri dengan satu tangan sambil mengetik dengan tangan yang lain. Bahunya bergetar, sedikit sekali.

Aku melepas jasku dan berjalan ke arahnya.

“Nggak usah,” katanya, tanpa mengangkat kepala. Rupanya dia sudah melihatku datang. “Saya nggak kedinginan.”

Bahunya bergetar lagi.

Aku menyampirkan jas itu di bahunya. Pelan, dari belakang, seperti menutupkan selimut pada orang yang tertidur di sofa. Kain wol biru tua itu jatuh menutupi blus putihnya, terlalu besar untuknya, lengannya menjuntai sampai ke pangkuan.

Dia membeku sesaat, lalu menoleh setengah. Dari jarak ini aku bisa melihat ujung hidungnya yang memerah karena dingin.

“Saya bilang saya nggak kedinginan.”

“Iya, Bu.” Aku mundur selangkah, tangan di saku. “Jasnya yang kedinginan. Dia minta dipakai.”

Dia menatapku. Aku menatapnya.

Lalu dia kembali menatap laptopnya, tapi tangannya, jari-jari panjang dengan cat kuku nude itu, terangkat dan menarik kerah jasku lebih rapat ke lehernya.

Aku kembali ke layar besar.

Pukul empat lewat sepuluh, aku menoleh lagi. Dia tertidur. Kepalanya bersandar di lengan yang terlipat di atas meja, di samping laptop yang layarnya sudah gelap. Jasku menutupi punggungnya sampai ke pinggang. Sanggulnya sudah terlepas, dan rambutnya terurai di atas lengan jas, hitam dan panjang, persis seperti dulu di bantal kami setiap pagi.

Aku tidak membangunkannya.

Pukul lima lewat dua puluh, langit di luar jendela lantai 38 masih gelap. Bukan gelap malam. Gelap yang berat dan rendah, kelabu kebiruan, seperti langit sedang menahan napas.

Ponselku bergetar. Notifikasi dari pipeline.

Muka air Katulampa: SIAGA 2. Naik 40 cm dalam 60 menit.

Aku berjalan ke jendela. Di bawah sana Jakarta masih tidur, lampu-lampu jalan masih menyala, truk sampah merayap di Jalan Senopati.

Lalu setetes air menempel di kaca. Lalu satu lagi. Lalu sepuluh. Lalu ratusan, seperti seseorang di langit membuka keran.

Di belakangku, Bagas mendengkur di sofa hijau. Yudis melepas headphone dan menatap jendela dengan mata lebar. Tiara berdiri di ambang pantri, ponsel masih di telinga, mulutnya terbuka.

Dan di ujung meja, di bawah jas biru tua yang terlalu besar untuknya, Serena Sinclair masih tertidur.

Aku berdiri di depan jendela, menatap hujan pertama yang memukul kaca lantai 38, dan menyadari bahwa tanganku gemetar.

Bukan karena takut salah.

Karena empat ratus tujuh gerai sudah siap, dan perempuan yang menandatangani otorisasinya, yang memilih percaya pada angkaku di depan sebelas orang yang meragukan, sedang tidur nyenyak di bawah jasku.

Sekarang tinggal membuktikan bahwa dia tidak salah percaya.