Chapter Eleven
Rute yang Lebih Pendek
POV: Chakra
Aku menghabiskan hari Minggu dengan melakukan hal paling tidak ilmiah yang bisa dilakukan seorang doktor ilmu data: memutar ulang satu kejadian di kepala sampai kejadian itu kehilangan bentuk.
Rena.
Aku mengucapkannya. Setelah tiga minggu menahan diri, setelah Bu dan Bu Serena yang kuucapkan seperti orang memasang pagar, setelah Re… yang berhasil kutarik kembali di ruang kaca. Aku mengucapkannya utuh, di balkon lantai 50, dengan dia berdiri sejengkal di depanku dan gelas sampanye bergetar di tangannya.
Lalu dia berjinjit, dan aku menahan bahunya.
Ibu menemukanku Minggu sore di halaman belakang, duduk di bangku taman dengan laptop terbuka yang layarnya sudah gelap dua jam.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
Ibu duduk di sebelahku. Lama. Lalu dia menyodorkan semangkuk bakso urat yang entah dari mana datangnya.
“Kamu bilang nggak apa-apa,” katanya, “berarti ada apa-apa. Dari SD.”
Aku makan baksonya. Ibu tidak bertanya lagi. Itu kelebihan ibuku: dia tahu kapan harus bertanya dan kapan cukup memberi makan.
“Bu,” kataku setelah mangkuk itu kosong. “Kalau ada orang yang mau cium Ibu, tapi bukan karena dia mau. Karena dia nggak mau jawab pertanyaan Ibu. Ibu terima ciumannya?”
Ibu menatapku lama. Matanya, cokelat dan lelah, sama seperti mataku.
“Kamu tolak?”
“…Iya.”
Ibu mengangguk pelan, lalu menepuk lututku dua kali.
“Bapakmu dulu juga begitu,” katanya. “Bodoh. Tapi bodoh yang benar.”
Senin pagi, lift nomor empat kosong pukul 07.46.
Aku menunggu sampai 07.55. Tetap kosong. Pukul delapan, Sisca mengirim pesan ke grup koordinasi direksi: Bu Serena hari ini masuk via parkir basement dan lift barang.
Lift barang. CEO SC Group naik lift barang, di antara troli kebersihan dan galon air, supaya tidak satu lift denganku.
Aku tidak tahu harus merasa terhina atau tersanjung.
Di lantai 38, Bagas menyambutku dengan wajah orang yang semalaman menonton video kembang api di media sosial dan membaca terlalu banyak komentar.
“Pak,” katanya hati-hati. “Selamat pagi. Saya cuma mau bilang, kemarin di gala saya nggak lihat apa-apa di balkon.”
“Kamu di balkon?”
“Nggak, Pak. Makanya saya nggak lihat apa-apa.”
Tiara menoleh dari mejanya. “Bagas lihat dari dinding kaca, Pak. Dia nonton kembang api, terus tiba-tiba dia bilang astaghfirullah tiga kali.”
“Tiara!”
“Saya cuma melaporkan data, Bagas.”
Yudis, dari balik layarnya, tanpa menoleh: “Pak, NEXA tadi pagi ditanya orang. Berapa rata-rata waktu balas CEO dan Chief AI minggu ini?” Dia berhenti mengetik. “NEXA jawab: Data tidak tersedia. Tidak ada komunikasi tercatat selama 52 jam terakhir. Anomali.”
Aku meletakkan tas di meja dan menatap ketiganya.
“Saya mau kita semua fokus kerja,” kataku.
“Siap, Pak,” kata mereka serempak.
“Dan Yudis, tolong ajari NEXA untuk berhenti mengomentari kehidupan pribadi pimpinan.”
“Itu bukan komentar, Pak,” kata Yudis datar. “Itu analisis tren.”
Krisisnya datang pukul sepuluh, dalam bentuk email dari Pak Yosef dengan judul huruf kapital semua.
URGENT — TENDER MANDALA FOOD TERANCAM
Mandala Food adalah produsen makanan kemasan terbesar ketiga di Indonesia: mi instan, biskuit, minuman serbuk, saus, kecap. Barang-barang yang ada di dapur hampir setiap rumah di negeri ini. Kontrak distribusi nasional mereka untuk tiga tahun ke depan sedang ditenderkan. Nilainya hampir dua triliun rupiah. Bagi SC Logistics, ini bukan sekadar kontrak besar. Ini kontrak yang menentukan apakah divisi itu akan tumbuh atau sekadar bertahan dalam tiga tahun ke depan.
Masalahnya ada di halaman dua email itu.
Trans Arka Logistik, pesaing terbesar SC Logistics, menawarkan harga dua belas persen lebih murah. Presentasi final hari Jumat. Mandala Food sudah memberi isyarat bahwa kecuali SC bisa menurunkan harga secara signifikan tanpa mengurangi kualitas layanan, tender akan jatuh ke Trans Arka.
Pak Yosef menutup emailnya dengan satu kalimat yang terdengar seperti orang yang sudah menyerah: Margin kita tidak cukup untuk turun 12%. Kalau dipaksa, kita rugi.
Rapat darurat pukul sebelas. Di Ruang Rapat Sinclair, sebelas wajah yang lelah. Pak Yosef dengan tumpukan spreadsheet. Pak Darmawan dengan kalkulator. Pak Hendra dengan senyum prihatin.
Dan Rena. Di ujung meja, dengan blus putih berkerah tinggi dan sanggul yang sangat rapi. Dia tidak menatapku. Dia menatap semua orang kecuali aku. Matanya melewatiku seperti aku pilar, seperti aku AC, seperti aku bagian dari dekorasi.
Tapi aku melihatnya melirik sekali, pukul sebelas lewat delapan menit, waktu aku menuang air ke gelas. Matanya ke tanganku, lalu cepat-cepat kembali ke laptop.
“Opsinya cuma dua,” kata Pak Hendra dengan nada bijak. “Kita lepas tender ini dengan anggun, atau kita turunkan harga dan menanggung rugi beberapa tahun dengan harapan bisa naik di kontrak berikutnya. Om pribadi…” dia menoleh ke Rena, “condong ke opsi pertama. Kita jangan berdarah-darah demi satu klien. Lagi pula, setelah merger dengan Hartanto, kita bisa pakai jaringan subkontraktor mereka, dan itu akan jauh lebih efisien.”
Jaringan subkontraktor Hartanto. Aku mencatatnya.
“Ada opsi ketiga,” kataku.
Semua orang menoleh. Termasuk Rena. Untuk pertama kalinya hari itu, matanya berhenti padaku.
“Kita nggak turunkan harga dengan memotong margin,” kataku. “Kita turunkan biaya.”
Pak Yosef menghela napas panjang. “Pak Chakra, dengan segala hormat, biaya logistik kami sudah dipangkas habis-habisan sejak tiga tahun lalu. Tidak ada yang bisa dipotong lagi tanpa memecat sopir.”
“Saya nggak bilang memecat sopir, Pak. Justru saya butuh sopir.” Aku menyambungkan laptop ke layar. “Saya bilang, rute kita salah.”
Layar besar menampilkan peta Pulau Jawa, dan di atasnya ribuan garis tipis yang saling silang seperti benang kusut. Rute armada SC Logistics selama satu bulan terakhir. Setiap garis adalah perjalanan truk. Setiap titik adalah gudang, distributor, atau gerai.
“Ini rute kita sekarang,” kataku. “Disusun manual oleh tim dispatcher di setiap gudang regional, berdasarkan pengalaman dan kebiasaan. Bagus. Tapi lihat ini.”
Aku mengetuk tombol. Sebagian garis berubah merah.
“Tiga puluh empat persen perjalanan truk kita kembali ke gudang dalam keadaan kosong. Truk berangkat penuh dari Cikarang ke Semarang, lalu pulang kosong. Sementara di saat yang sama, truk lain berangkat kosong dari Cikarang ke Semarang untuk mengambil barang. Kita membayar solar dua kali untuk satu jarak.”
Pak Yosef mencondongkan badan ke depan.
“Lalu jendela waktu.” Aku mengetuk lagi. Muncul grafik batang. “Gerai dan distributor punya jam bongkar muat. Rute kita sekarang tidak memperhitungkannya dengan baik. Rata-rata truk kita menunggu dua jam empat puluh menit di lokasi bongkar. Dua jam empat puluh menit mesin menyala, sopir menganggur, dan truk itu tidak bisa dipakai untuk pengiriman berikutnya.”
“Itu…” Pak Yosef berhenti. “Itu memang masalah lama.”
“Masalah lama punya solusi lama, Pak. Optimasi rute kendaraan. Matematikanya sudah ada sejak tahun lima puluhan. Bedanya, sekarang kita punya data dan daya komputasi untuk menyelesaikannya dalam skala nasional, dengan kemacetan real-time, kapasitas truk, jendela bongkar setiap lokasi, dan muatan balik.”
Aku mengetuk tombol terakhir.
Benang-benang kusut di peta itu bergetar, lalu pelan-pelan menata diri. Garis-garis merah memendek. Garis-garis yang tumpang tindih bergabung. Truk yang tadinya pulang kosong sekarang berhenti di gudang Mandala Food di Semarang, mengangkut muatan balik, lalu pulang penuh. Ribuan garis yang tadinya berantakan menjadi pola yang rapi, efisien, dan, harus kuakui, sedikit indah.
“Dengan rute ini,” kataku, “konsumsi BBM armada turun sekitar delapan belas persen. Waktu tunggu turun dari dua jam empat puluh menit menjadi lima puluh menit. Rata-rata waktu pengiriman ke distributor Mandala Food bisa sembilan jam lebih cepat dari standar mereka sekarang.” Aku menoleh ke Pak Darmawan. “Pak, dengan penghematan itu, berapa persen kita bisa turunkan harga tanpa mengurangi margin?”
Pak Darmawan menatap kalkulatornya. Lalu menatap layar. Lalu kalkulatornya lagi. Bibirnya bergerak tanpa suara.
“…Empat belas persen,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Kita bisa turun empat belas persen. Dua persen di bawah Trans Arka. Dengan margin yang… Ya Tuhan. Dengan margin yang lebih baik dari sekarang.”
Ruangan hening.
Lalu Pak Yosef berdiri dari kursinya, berjalan ke layar, dan menatap peta itu dari jarak setengah meter, seperti orang tua yang melihat foto USG cucunya.
“Rute Cikampek–Cirebon itu,” katanya serak. “Lewat Subang. Kami nggak pernah pakai rute itu.”
“Model bilang lebih cepat empat puluh menit di jam-jam tertentu, Pak.”
“Tapi…” Pak Yosef mengerutkan kening. “Malam Jumat di Subang ada pasar tumpah. Jalannya macet total jam sebelas malam sampai jam tiga pagi.”
Aku menatapnya. Lalu tersenyum.
“Itu yang saya butuhkan, Pak.”
“Hah?”
“Data yang nggak ada di data.” Aku menutup laptop. “Model saya pintar, tapi dia nggak pernah nyetir truk. Saya butuh sopir-sopir Bapak. Yang paling senior. Yang tahu di mana ada pasar tumpah, di mana jembatan nggak kuat dilewati truk sepuluh roda, di mana warung kopi yang aman buat istirahat. Kita uji setiap rute dengan mereka sebelum Jumat.”
Pak Yosef menatapku seperti melihat makhluk asing. Lalu, perlahan, dia tertawa. Tawa yang lepas, tawa orang yang sudah dua puluh tahun bekerja di logistik dan baru pertama kali ada orang kantor pusat yang ingin mendengar sopir.
“Pak Komar,” katanya. “Sopir kami paling senior. Tiga puluh satu tahun di jalan. Dia tahu semua lubang di Pantura.”
“Undang beliau ke lantai 38, Pak. Besok pagi. Saya traktir kopi.”
Dari ujung meja, aku merasakan sesuatu. Tatapan. Aku menoleh.
Rena menatapku. Tidak lagi melewatiku seperti pilar. Matanya berhenti padaku dan tidak bergerak, dan ada sesuatu di dalamnya yang tidak bisa kubaca, sesuatu yang hangat dan rumit dan sedikit sedih.
Lalu dia berkedip, dan semua itu hilang di balik wajah CEO.
“Laksanakan,” katanya. “Presentasi final Jumat. Saya ikut.”
Di sebelahnya, Pak Hendra masih tersenyum. Tapi tangannya, yang tadi memegang pulpen dengan santai, sekarang memegangnya terlalu erat.
Pak Komar ternyata laki-laki kecil berumur lima puluh delapan tahun dengan kulit legam terbakar matahari, kumis putih tebal, dan topi bertuliskan SC Logistics — 25 Tahun Pengabdian. Dia datang ke lantai 38 hari Selasa pagi bersama empat sopir senior lainnya, semuanya memakai seragam terbaik mereka yang baru disetrika, dan semuanya menatap ruang NEXUS dengan layar-layar besar dan sofa hijau tua itu seperti menatap kokpit pesawat luar angkasa.
“Pak Doktor,” kata Pak Komar, menjabat tanganku dengan genggaman sekeras besi. “Pak Yosef bilang Bapak mau belajar jalan?”
“Saya mau belajar dari yang paling tahu jalan, Pak.”
Selama tiga hari berikutnya, lantai 38 berubah menjadi tempat paling aneh di SC Tower. Lima sopir senior duduk di depan layar besar, menunjuk-nunjuk peta dengan jari yang tebal, sambil berdebat dengan Bagas soal rute.
“Mas, ini jalan di Batang nggak bisa. Jembatannya lagi diperbaiki dari bulan lalu.”
“Tapi di Google Maps…”
“Google Maps nggak pernah nyetir fuso, Mas.”
Tiara mencatat semua masukan mereka dengan tiga stabilo. Kuning untuk jalan rusak, hijau untuk warung aman, merah muda untuk pungutan liar, yang membuat Bagas bertanya dengan polos itu apa? dan kelima sopir itu tertawa sampai Pak Komar terbatuk-batuk.
Yudis memasukkan setiap koreksi ke model. Rute dihitung ulang setiap jam. Setiap kali, petanya sedikit lebih masuk akal dan sedikit lebih manusiawi.
Rabu malam, Pak Komar duduk di sofa hijau dengan segelas kopi tubruk yang dia bawa sendiri dari rumah, menatap layar besar, dan berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri:
“Tiga puluh satu tahun saya nyetir, Pak Doktor. Baru sekali ini orang kantor nanya saya lewat mana.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku duduk di sebelahnya dan minum kopi tubruknya, yang rasanya seperti aspal panas yang dicampur gula, dan dia menepuk punggungku sekali.
Kamis, pukul dua pagi.
Timku sudah pulang pukul sebelas, atas perintahku, setelah Tiara tertidur di atas keyboard dan menulis “kkkkkkkkkkkkkkkkk” sepanjang tiga halaman dokumen. Pak Komar dan sopir-sopirnya pulang pukul delapan malam dengan janji membawakan kopi tubruk lagi besok.
Aku sendirian di lantai 38, berdiri di depan papan tulis putih yang penuh coretan rumus dan diagram rute. Simulasi terakhir. Aku harus memastikan model tetap bekerja kalau ada gangguan besar: jalan tol tutup, banjir di Pantura, atau mogok massal di pelabuhan.
Pintu lift berdenting.
Aku tidak menoleh. Aku tahu langkah itu. Tiga minggu cukup untuk menghafalnya lagi, setelah enam tahun aku berusaha melupakannya.
“Kamu belum pulang,” katanya.
“Ibu juga.”
“Saya CEO.”
“Saya tahu, Bu. Ibu selalu di kantor.”
Dia berdiri di sebelahku, di depan papan tulis. Dari sudut mata aku bisa melihatnya. Dia sudah melepas blazer. Rambutnya tidak disanggul. Diikat ekor kuda rendah dengan karet rambut hitam biasa, seperti dulu waktu dia mencuci piring di kontrakan Ibu. Dia memakai kaus cardigan krem yang kebesaran. Wajahnya bersih tanpa riasan, kecuali sisa lipstik samar di bibir.
Dia terlihat seperti dua puluh lima tahun lagi. Seperti istriku.
Aku kembali menatap papan tulis.
“Soal Sabtu…” katanya pelan.
“Nggak usah dibahas, Bu,” kataku cepat. “Kita kerja.”
Hening. Lalu aku mendengarnya mendengus pelan, kesal.
“Kamu ini,” katanya, “dari dulu selalu begitu.”
“Begitu gimana?”
“Tenang. Rapi. Nggak pernah kebawa.” Dia melipat tangan di dada. “Aku hampir… di balkon itu… dan kamu cuma bilang kita kerja. Kayak nggak terjadi apa-apa.”
Aku tidak menjawab. Spidol di tanganku berhenti di tengah rumus.
Tenang. Rapi. Nggak pernah kebawa.
Kalau saja dia tahu aku menghabiskan hari Minggu di bangku taman dengan laptop mati selama dua jam. Kalau saja dia tahu aku memutar ulang balkon itu ratusan kali, seperti video yang rusak. Kalau saja dia tahu aku menahan bahunya karena kalau tidak, aku tidak akan pernah bisa berhenti. Dan aku tidak mau dia menciumku karena dia tidak bisa menjawab. Aku mau dia menciumku karena jawabannya iya.
Aku menulis angka berikutnya di papan tulis. Tanganku sedikit gemetar. Angkanya miring.
Dia melihat angka itu. Aku tahu dia melihatnya.
Lalu, tanpa peringatan, dia mengulurkan tangan ke wajahku dan melepas kacamataku.
Dunia langsung buram. Papan tulis jadi kabut putih. Lampu-lampu jadi bulatan cahaya yang lebar. Rumus-rumus jadi coretan abstrak. Dan dia jadi siluet hangat berbalut krem di sebelahku, buram di tepi tapi tetap jelas di bagian yang penting.
“Bu…”
Dia memakai kacamataku.
Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi aku bisa membayangkannya. Bingkai tipis keperakan itu bertengger di hidungnya, terlalu besar untuk wajahnya, dan matanya berkedip di balik lensa minus tiga koma lima yang terlalu tebal untuk mata normal.
“Ya ampun,” katanya. “Ini minus berapa?”
“Tiga setengah.”
“Kamu dulu dua setengah.”
“Naik di Zürich. Kebanyakan baca.”
Dia memutar badan pelan, melihat sekeliling ruangan lewat kacamataku. Lalu dia berbalik menghadapku, berdiri sangat dekat, dan mendongak. Bahkan dengan mata yang buram, aku bisa melihat bentuk wajahnya, lekuk pipinya, dan senyum kecil di bibirnya.
“Oh,” katanya pelan. “Jadi gini rasanya lihat dunia kayak kamu.”
Dia mendekat satu langkah lagi. Aku bisa merasakan napasnya.
“Buram semua.” Jeda. “Kecuali aku.”
Spidol jatuh dari tanganku. Aku mendengarnya menggelinding di lantai, entah ke mana.
Jarak kami sejengkal. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, tapi aku tidak perlu melihat. Aku bisa merasakannya. Hangat tubuhnya, wangi sampo melati, napasnya yang sedikit bergetar.
Tanganku terangkat. Pelan. Ke arah pipinya.
Lalu berhenti di udara, satu senti dari kulitnya.
Karena dalam empat minggu, tidak, tiga minggu dua hari, perempuan ini akan bertunangan dengan laki-laki lain. Karena dia belum menjawab pertanyaanku. Karena kalau aku menyentuhnya sekarang, di sini, jam dua pagi, dengan mata yang buram dan hati yang terlalu jelas, aku akan menjadi laki-laki yang mencuri sesuatu yang bukan miliknya lagi.
Aku menurunkan tanganku.
“Kembalikan kacamata saya, Bu,” kataku, suaraku serak. “Saya nggak bisa lihat simulasinya.”
Hening sebentar.
Lalu dia tertawa. Tawa kecil, pelan, sedikit getir. Dia melepas kacamata itu, dan sebelum mengembalikannya, dia melakukan sesuatu yang membuatku lupa caranya bernapas. Dia memakaikannya kembali ke wajahku. Kedua tangannya membuka gagang kacamata, memasukkannya dengan hati-hati ke balik telingaku, lalu ujung jarinya mendorong bagian tengahnya ke atas hidungku dengan satu jari. Persis seperti gerakanku sendiri.
Dunia kembali tajam. Dan wajahnya ada di sana, sangat dekat, sangat jelas, dengan pipi yang memerah dan mata yang berkilat.
“Sudah,” katanya. “Sekarang kamu bisa lihat simulasinya.”
Dia berbalik dan berjalan ke lift.
Aku berdiri di depan papan tulis, dengan spidol yang hilang entah di mana dan rumus yang angkanya miring, dan menyadari bahwa aku sama sekali tidak bisa melihat simulasinya. Yang bisa kulihat hanya bayangan ekor kuda yang berayun di lorong menuju lift.
Jumat, pukul tiga sore. Kantor pusat Mandala Food di Kuningan.
Presentasi final berlangsung empat puluh lima menit. Pak Yosef bicara soal kapasitas armada. Pak Darmawan bicara soal harga. Aku bicara soal rute, dengan peta animasi di layar besar: ribuan truk kecil bergerak di atas peta Jawa, berhenti, mengangkut, berbalik penuh, semuanya mengikuti pola yang diperbaiki oleh lima sopir senior dan satu model matematika.
Lalu Rena berdiri.
Dia tidak bicara soal angka. Dia bicara soal Pak Komar.
“Rute ini,” katanya, sambil menunjuk peta, “bukan hanya hasil algoritma. Ini hasil tiga puluh satu tahun pengalaman seorang sopir kami bernama Pak Komar, yang tahu bahwa malam Jumat di Subang ada pasar tumpah. SC Logistics tidak menawarkan teknologi untuk menggantikan manusia. Kami menawarkan teknologi yang mendengarkan manusia. Itu sebabnya kami bisa lebih murah. Dan itu sebabnya kami tidak akan mengecewakan Bapak-Ibu.”
Direktur Utama Mandala Food, perempuan enam puluhan dengan rambut kelabu dan mata tajam, menatap Rena lama sekali.
Lalu dia tersenyum.
Pukul enam sore, pengumumannya datang lewat email. SC Logistics memenangkan tender. Tiga tahun. Nasional.
Di lantai 38, Pak Komar dan keempat sopir itu bersorak seperti suporter sepak bola. Bagas memeluk Yudis, yang kaku seperti tiang listrik. Tiara menangis lagi. Pak Yosef menelepon istrinya dan tertawa sampai terbatuk-batuk.
Aku duduk di kursiku dan mengeluarkan ponsel.
Satu pesan masuk. Dari kontak yang di ponselku masih bernama Rena 🌻.
Terima kasih.
Aku mengetik balasan.
Tanpa CC?
Dua centang biru. Empat detik.
Tanpa CC.
Lalu satu pesan lagi, satu menit kemudian.
Minggu ini saya mau ke Cibubur. Ketemu Ibu. Ada proposal kemitraan bisnis untuk Mie Ayam Bu Ratmi di SinMart.
Aku menatap layar.
Proposal bisnis? kubalas.
Proposal bisnis.
Ibu saya pasti senang. Tapi saya perlu peringatkan, Bu. Kalau Ibu datang, Gendis juga ada.
Jeda. Lama.
Saya CEO. Saya bisa menghadapi Gendis.
Aku tersenyum ke layar. Di sebelahku, Bagas yang sedang memeluk Pak Komar menoleh dan melihat senyumku. Dia menatapku lama, lalu menyenggol Tiara dengan siku.
“Tiara,” bisiknya keras. “Pak Chakra senyum ke HP.”
“Aku lihat, Bagas.”
“Rata-rata waktu balasnya empat detik.”
“Aku lihat, Bagas.”
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek reading
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat