Chapter One
Kepala yang Baru
POV: Serena
Pukul tujuh lewat dua belas, dan aku sudah membenci hari Senin.
Bukan karena rapat direksi jam sembilan. Bukan juga karena tiga laporan kuartal yang menumpuk di meja seperti anak kucing minta makan. Aku membenci hari Senin karena Mama sudah mengirim tujuh pesan sebelum aku sempat menghabiskan kopi.
Sayang, fitting kebaya hari Kamis jam 4 ya. Jangan dibatalkan lagi.
Tante Marcel tanya, kamu suka warna sage atau champagne?
H-42, Sayang. Empat puluh dua hari lagi. Mama deg-degan.
Aku membalas satu kata: Champagne. Lalu menelungkupkan ponsel di meja, seolah dengan begitu empat puluh dua hari itu ikut tertelungkup.
Lantai 40 SC Tower masih sepi. Dari dinding kacanya, Jakarta Selatan kelihatan seperti maket arsitek yang belum selesai: jalan layang, crane proyek, kabut tipis yang sebenarnya polusi tapi pagi-pagi masih bisa pura-pura jadi embun. Sebagian crane itu milik SC Construction. Sebagian truk yang merayap di tol dalam kota itu milik SC Logistics. Dan di setiap tikungan kota ini, entah di mana, ada SinMart yang lampunya baru menyala.
Sembilan ribu delapan ratus gerai. Kadang aku memikirkan angka itu seperti memikirkan detak jantung sendiri: tidak pernah benar-benar kuhitung, tapi kalau berhenti satu, aku tahu.
Pantulanku di kaca menatap balik. Blazer krem, rambut hitam panjang yang disanggul rendah, anting mutiara kecil peninggalan Oma. Orang bilang aku cantik dengan cara yang membuat rapat jadi canggung. Pak Darmawan dari keuangan pernah lupa membaca slide-nya sendiri karena aku menyelipkan rambut ke belakang telinga, dan sejak itu aku selalu menyanggul rambut saat rapat. Bukan karena kecantikan itu beban. Aku hanya tidak suka laporan keuangan jadi lambat karena alasan yang bukan angka.
“Bu Serena.” Sisca masuk membawa tablet dan wajah orang yang belum sarapan. “Briefing pagi. Mau versi panjang atau versi Ibu-sudah-pusing?”
“Versi kedua.”
“Jam sembilan rapat direksi, peluncuran SC NEXUS. Kepala divisinya hari ini resmi masuk. Jam sebelas call dengan SinMart regional Jawa Timur. Jam dua Pak Marcel mampir mengantar sesuatu, katanya kejutan.”
“Coret kejutan.”
“Nggak bisa, Bu. Itu dari Ibu Vivian. Saya cuma kurir.”
Aku menghela napas. “Kepala divisi NEXUS. Profilnya sudah ada?”
Sisca meringis. “Itu dia, Bu. Masih ‘Kandidat 07’.”
“Sisca.”
“Saya sudah tanya HR tiga kali. Katanya klausul kerahasiaan dari headhunter. Kandidat punya paten aktif dan perjanjian non-kompetisi dengan klien lama di Eropa, jadi identitas lengkap baru dibuka pada hari onboarding. Pak Richard sudah approve. Hasil uji kasusnya katanya…” Sisca menggulir tablet. “…’mengerikan bagusnya’. Itu kutipan langsung dari Pak Darmawan.”
Aku ingat. Tiga bulan lalu, saat aku tenggelam dalam negosiasi merger dengan Hartanto Group, Papa mengirimiku satu memo: Kita butuh orang ini. Percayakan ke Papa. Lampirannya cuma ringkasan hasil uji. Model prediksi permintaan yang dijalankan pada data dua tahun SinMart, dengan galat yang begitu kecil sampai tim internal kami minta diaudit ulang. Diaudit ulang, hasilnya tetap.
Aku menandatanganinya di sela dua rapat. Siapa pun dia, aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah pembukuan tahun depan.
“Satu lagi, Bu.” Sisca menurunkan tablet. “Pulpen Ibu yang biru habis. Saya taruh yang baru di laci.”
Setelah dia keluar, aku membuka laci kanan. Pulpen biru baru ada di depan. Di belakangnya, terselip di antara map lama yang tidak pernah kubuang, ada kotak kacamata hitam yang sudut kulitnya mulai mengelupas.
Kotak yang tidak pernah kubuka.
Aku menutup laci lebih keras dari yang perlu.
Ruang Rapat Sinclair di ujung lantai 40 punya meja kayu sepanjang dua belas meter dan kursi-kursi yang terlalu empuk untuk orang yang harus berpikir. Pukul sembilan kurang lima, semua sudah duduk. Papa di ujung meja, dasi marun, wajah datar yang biasa ia pakai saat sedang menghemat energi jantungnya. Om Hendra di sebelah kanannya, tersenyum ke semua orang seperti biasa. Om Hendra itu tipe paman yang ingat ulang tahun anak sopir. Lalu Pak Darmawan, Bu Lestari dari Legal, Pak Yosef dari Operasional, dan empat direktur lain.
Aku duduk di sisi kiri Papa. Kursi CEO.
“Kandidat 07 sudah di lobi lantai,” kata Om Hendra sambil melirik jam. “Tepat waktu. Saya suka orang yang tepat waktu.”
“Orang Swiss,” gumam Pak Darmawan. “Jamnya bisa dipakai buat nyetel jam lain.”
Beberapa direktur tertawa. Aku tidak. Aku sedang menghitung berapa menit yang bisa kusisihkan untuk perkenalan sebelum masuk ke agenda inti.
Pintu terbuka.
Hal pertama yang kulihat adalah sepatu. Pantofel cokelat tua, bersih, solnya tidak berbunyi. Lalu celana abu-abu arang, kemeja putih, jas biru gelap yang jatuh pas di bahu, seperti dijahit oleh orang yang benar-benar mengukur. Tidak pakai dasi. Lalu tangan yang memegang laptop tipis. Jari-jari panjang, kuku pendek dan bersih.
Lalu kacamata. Bingkai tipis, keperakan.
Lalu wajahnya.
Ada sesuatu yang terjadi pada tubuh manusia saat ia melihat sesuatu yang mustahil. Waktu tidak melambat seperti di film. Yang terjadi lebih memalukan: jantung lupa satu ketukan, lalu menebusnya dengan tiga ketukan sekaligus, dan telinga mendadak mendengar bunyi AC yang tadinya tidak ada.
Chakra.
Chakra Wirasena berdiri di pintu ruang rapatku, enam tahun lebih tua, lebih rapi, lebih tenang. Rambutnya dipotong pendek dan disisir ke samping, bukan lagi rambut acak-acakan yang dulu selalu kuacak lebih acak setiap pagi. Rahangnya lebih tegas. Bahunya lebih lebar, atau mungkin jasnya yang bagus. Matanya, di balik kacamata itu, masih sama: cokelat gelap, sabar, seperti orang yang sedang menunggu air mendidih dan tidak keberatan menunggu lama.
Dan dia tersenyum. Tentu saja dia tersenyum. Chakra selalu tersenyum. Dia tersenyum waktu pertama kali kami bertemu di bawah hujan, dan dia tersenyum di malam aku memintanya pergi.
Di sebelahku, Papa berhenti bernapas sejenak. Aku mendengarnya. Om Hendra tersedak kopinya sendiri.
“Selamat pagi, semuanya.” Suaranya rendah dan jelas, dengan nada yang membuat orang otomatis duduk lebih tegak. “Saya Chakra Wirasena. Mulai hari ini saya memimpin SC NEXUS. Terima kasih sudah mau menunggu identitas saya sampai hari ini. Saya tahu itu menyebalkan.”
Menyebalkan, katanya. Dengan wajah yang sama sekali tidak menyesal.
Dia menyapa semua orang. Dia mengangguk ke Papa dengan sopan (“Pak Richard”), lalu ke Om Hendra (“Pak Hendra”), yang tertawa terlalu keras dan bilang, “Wah, dunia memang kecil, ya.” Dia menjabat tangan Pak Darmawan dan Bu Lestari.
Dia tidak menyapaku.
Matanya melewatiku seperti melewati kursi kosong. Lalu dia berjalan ke ujung meja, menyambungkan laptop ke layar, dan mulai bekerja.
Aku mendengar diriku bicara, dan suaraku, syukurlah, terdengar normal. Datar, dingin, CEO.
“Sebelum demo, Pak Chakra, saya ingin dengar perkenalan singkat. Supaya direksi tahu kami sedang membayar siapa.”
Dia menoleh. Untuk pertama kalinya matanya benar-benar berhenti padaku. Satu detik. Dua. Ada sesuatu yang lewat di sana, terlalu cepat untuk kubaca. Lalu senyumnya kembali.
“Tentu, Bu.”
Bu. Dia memanggilku Bu.
Dia bercerita singkat. S1 Matematika ITB. S2 dan S3 di ETH Zürich, bidang data science dan pembelajaran mesin. Riset di Zürich dan Singapura. Proyek optimasi ritel untuk dua jaringan supermarket Eropa dan satu perusahaan logistik di Rotterdam. Metode peramalan permintaan yang ia kembangkan dipatenkan di tiga negara dan sekarang dilisensikan ke beberapa perusahaan.
Pak Darmawan bersiul pelan. Bu Lestari mencatat sesuatu, mungkin minta nomor HP.
“CV Bapak bagus,” kataku. “Banyak negara. Nggak betah di satu tempat, ya?”
Beberapa direktur tertawa kecil, mengira itu candaan pemecah es.
Chakra tidak tertawa. Dia tersenyum dengan sabar, seperti guru yang mendengar murid menjawab dengan percaya diri dan salah.
“Betah kok, Bu,” katanya. “Kadang tempatnya yang nggak mau ditempati.”
Seluruh direksi menoleh padaku. Delapan kepala bergerak serempak seperti penonton pertandingan tenis.
Aku memiringkan kepala sedikit. Senyum CEO, senyum yang biasa kupakai sebelum memecat vendor. “Menarik. Dari semua proyek itu, mana yang paling Bapak sesali?”
“Yang saya tinggalkan sebelum selesai, Bu.” Jawabannya keluar tanpa jeda, seakan sudah ia siapkan sejak lama. “Bukan karena gagal. Karena klien saya lebih percaya laporan auditor palsu.”
Ruangan jadi sangat sunyi. Papa memindahkan pulpennya dari kiri ke kanan.
“Mungkin auditornya benar,” kataku.
“Mungkin.” Chakra mendorong kacamatanya dengan satu jari, gerakan kecil yang dulu kulihat setiap malam waktu dia membaca di sebelahku. “Makanya saya ambil S3, Bu. Biar lain kali yang salah bisa saya buktikan pakai angka.”
Pak Darmawan berbisik ke Bu Lestari, cukup keras untuk kudengar: “Ini kita lagi bahas proyek Eropa, kan?”
“Silakan mulai demonya, Pak Chakra,” kataku. “Waktu kita terbatas.”
“Baik, Bu.”
Aku ingin bilang demo itu biasa saja. Aku ingin bilang dia cuma bermodal slide bagus dan kosakata asing, seperti konsultan-konsultan yang pernah kami bayar mahal untuk menjelaskan hal yang sudah kami tahu.
Tapi aku tidak suka berbohong, bahkan di kepalaku sendiri.
Layar besar di dinding berubah jadi peta Indonesia. Titik-titik kecil menyala, ribuan jumlahnya, dari Sabang sampai Merauke. Gerai SinMart. Setiap titik berdenyut dengan warna berbeda: hijau, kuning, oranye, merah.
“Ini data penjualan SinMart dua tahun terakhir,” kata Chakra. “Tim Pak Yosef sudah berbaik hati memberi saya aksesnya untuk uji coba. Yang Bapak-Ibu lihat sekarang bukan data lama. Ini prediksi permintaan untuk empat belas hari ke depan, per gerai, per kategori produk, per hari.”
Dia mengetuk satu tombol. Peta itu hidup. Titik-titik berubah warna mengikuti hari: Senin, Selasa, Rabu. Di Jawa Barat sekelompok titik berubah oranye pada hari Jumat.
“Gajian pabrik di Karawang dan Bekasi,” katanya sebelum ada yang bertanya. “Permintaan minyak goreng, beras lima kilo, dan susu formula naik dua puluh tiga sampai tiga puluh satu persen. Sekarang stok gerai-gerai itu habis sebelum Sabtu siang. Pelanggan pindah ke kompetitor, dan sebagian tidak kembali.”
Pak Yosef menegakkan punggung. Itu memang keluhan regionalnya sejak setahun lalu.
“Seberapa akurat?” tanyaku.
“Galat rata-rata model ini sekitar empat persen, Bu. Sistem peramalan yang sekarang dipakai tim internal ada di kisaran dua puluh tiga persen. Saya sudah mengujinya mundur pada data tahun lalu. Hasilnya ada di lampiran, kalau Ibu mau baca.”
“Akurasinya, Pak. Bahasa manusia.”
“Sembilan puluh enam persen.”
“Empat persen sisanya?”
Dia menatapku dari ujung meja. “Manusia yang keras kepala, Bu. Nggak bisa diprediksi.” Jeda sedikit. “Biasanya jabatannya tinggi.”
Pak Darmawan tertawa, lalu cepat-cepat mengubahnya jadi batuk saat melihat wajahku.
Aku menyilangkan kaki. “Model Bapak juga bisa tahu kapan pelanggan berhenti setia?”
“Bisa, Bu. Namanya churn prediction.” Chakra mengetuk layar dan muncul grafik garis yang menukik. “Tanda-tandanya cukup konsisten. Frekuensi kunjungan turun, nilai belanja menyusut, lalu pelanggan berhenti merespons promo. Berhenti balas pesan, kalau dalam bahasa sehari-hari.” Dia berhenti sejenak. “Dan biasanya, sebelum benar-benar pergi, dia lebih percaya kata orang lain daripada pengalamannya sendiri.”
Om Hendra batuk. Batuk betulan, sampai Papa menyodorkan air putih.
Aku tidak bergerak. Kuku-kuku jariku menekan pahaku sendiri di bawah meja.
“Lanjut,” kataku.
Chakra lanjut. Dan di sinilah semuanya berubah dari mengesankan menjadi menakutkan.
“Ada satu hal lagi yang saya temukan waktu membersihkan data,” katanya. Nadanya tidak berubah, masih tenang, masih seperti orang membicarakan cuaca. “Ini bukan bagian dari prediksi. Ini anomali.”
Peta menyempit. Ribuan titik meredup, menyisakan beberapa ratus yang menyala merah.
“Tiga ratus dua belas gerai,” katanya. “Tersebar di sebelas provinsi. Gerai-gerai ini punya pola yang sama: setiap malam Jumat, antara pukul sepuluh malam dan dua dini hari, selisih stok antara catatan sistem dan stok fisik melonjak. Rokok, susu formula, pulsa elektronik, dan kopi sachet. Produk bernilai tinggi yang mudah dijual ulang.”
“Pencurian kecil biasa,” kata Pak Yosef cepat. “Setiap ritel punya shrinkage.”
“Betul, Pak. Tapi pencurian kecil biasa itu acak. Ini tidak.” Chakra mengetuk lagi, dan muncul grafik dengan garis-garis yang naik-turun bersamaan, rapi sekali, seperti barisan tentara. “Tiga ratus dua belas gerai di sebelas provinsi, kehilangan barang di jam yang sama, kategori yang sama, dengan proporsi yang hampir identik. Kebetulan tidak serapi ini, Pak. Ini sistem.”
Tidak ada yang bicara.
“Totalnya,” lanjutnya, “kalau polanya sudah berjalan sejak data saya mulai, kira-kira empat puluh tujuh miliar rupiah dalam dua tahun.”
Pak Darmawan berhenti tertawa. Bu Lestari berhenti mencatat. Papa menatap layar dengan mata menyipit, dan di sebelahnya Om Hendra menatap gelas air putihnya, entah kenapa, lama sekali.
Aku menatap Chakra.
Dia tidak sedang pamer. Itu yang paling menyebalkan. Dia tidak tersenyum menang, tidak menunggu tepuk tangan. Dia hanya berdiri di sana dengan tangan di saku, membiarkan angka bicara, seperti orang yang terbiasa membawa kabar buruk dengan cara yang sopan.
Aku kenal ekspresi itu. Aku pernah mencintai ekspresi itu.
“Kirim analisis lengkapnya ke saya,” kataku. “Hari ini.”
“Sudah di kotak masuk Ibu sejak pukul enam pagi.”
Tentu saja sudah.
Rapat bubar pukul sepuluh lewat empat puluh. Para direktur keluar sambil berbisik-bisik, sebagian ke ponsel. Aku yakin dalam sejam seluruh lantai 40 akan tahu bahwa kepala divisi baru itu adalah “orang yang bikin Pak Darmawan berhenti ketawa”.
Papa menahanku di pintu. Tangannya di lenganku, ringan, tapi jarinya dingin.
“Nak.” Papa hanya memanggilku begitu kalau sedang khawatir. “Papa nggak tahu. Demi Tuhan, Papa nggak tahu itu dia.”
“Aku tahu, Pa.”
“Kalau kamu mau dia keluar, Papa bisa urus. Hari ini juga.”
Aku menatap ke ujung koridor, ke punggung berjas biru gelap yang sedang berjalan ke lift.
“Kontraknya ada penalti pemutusan yang besar, Pa. Dan direksi barusan lihat sendiri dia menemukan empat puluh tujuh miliar dalam satu presentasi.” Aku melepaskan lenganku pelan-pelan. “Kalau kita usir dia sekarang, yang kelihatan bodoh bukan dia.”
Papa menatapku lama. “Kamu yakin kamu nggak apa-apa?”
“Pa.” Aku tersenyum, senyum yang paling meyakinkan. “Itu enam tahun lalu.”
Lalu aku berjalan ke koridor, ke arah lift, dengan langkah yang tidak terburu-buru, karena CEO tidak berlari mengejar mantan suami.
Aku hanya kebetulan perlu ke lift yang sama.
Dia sedang menunggu lift saat aku tiba. Koridor itu panjang, karpetnya abu-abu, dindingnya dihiasi foto-foto proyek SC Construction: jembatan, pelabuhan, tower. Tidak ada orang lain. Sisca entah di mana. Mungkin sengaja menghilang, karena Sisca punya insting gosip yang lebih tajam dari model prediksi siapa pun.
Chakra menoleh mendengar langkahku. Senyumnya masih di sana.
Dari dekat, aku bisa melihat yang tidak terlihat dari ujung meja rapat. Ada kerut halus di sudut matanya yang dulu tidak ada. Ada bekas luka kecil di dagu kirinya yang tidak kukenal. Dan wangi itu, wangi sabun dan sesuatu yang kayu-kayuan, campuran yang dulu menempel di bantalku. Ternyata dia tidak mengganti sabunnya.
Aku benci dia tidak mengganti sabunnya.
“Kamu ke sini mau balas dendam?”
Suaraku lebih rendah dari yang kuinginkan. Tidak ada “Bu”, tidak ada “Pak”. Hanya kami berdua, di koridor yang tiba-tiba terasa terlalu sempit.
Chakra memasukkan tangan ke saku celananya. Dia menatapku dari atas, karena dia memang selalu lebih tinggi sedikit, cukup untuk membuatku dulu harus berjinjit setiap kali ingin…
Tidak. Tidak memikirkan itu.
“Gajinya terlalu besar kalau cuma dipakai buat balas dendam,” katanya pelan. “Sayang.”
Darahku naik ke pipi secepat kilat. “Jangan panggil aku sayang.”
Alisnya terangkat. Sedikit saja, dan sangat menyebalkan.
“Maksudnya sayang uangnya, Bu.” Senyumnya melebar. “Ibu kepedean.”
Pintu lift berdenting dan terbuka. Dia melangkah masuk, berbalik, lalu menahan pintu dengan satu tangan.
“Oh, iya.” Matanya menatapku dengan cara yang membuat lututku lupa tugasnya. “Tadi saya belum sempat.”
“Belum sempat apa?”
“Menyapa.”
Dia mengangguk sopan, sangat sopan, sangat profesional, dengan senyum yang sama persis seperti di bawah hujan delapan tahun lalu.
“Selamat pagi, Bu CEO. Lama nggak ketemu.”
Pintu lift menutup.
Aku berdiri di koridor itu entah berapa lama, menatap angka lantai di atas pintu lift yang turun dari 40 ke 39 ke 38, lalu berhenti.
Lantai 38. Lantai NEXUS. Dua lantai di bawah kakiku.
Empat puluh dua hari lagi aku bertunangan.
Dan mantan suamiku sekarang bekerja dua lantai di bawah kakiku.
- 1 Kepala yang Baru reading
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat