Chapter Forty One

Epilog — Ramalan yang Akurat

POV: Chakra


Setahun kemudian, ada stan mie ayam di lobi SC Tower.

Bukan gerobak kayu bercat biru. Gerobak itu sudah pensiun dan sekarang dipajang di teras rumah Cibubur dengan papan kecil bertuliskan Sejak 2009. Stan di lobi SC Tower adalah kios kecil berdinding kaca, di antara kedai kopi dan toko bunga, dengan spanduk kuning yang tulisannya tidak pernah berubah.

MIE AYAM BU RATMI — Enak, Murah, Bikin Kangen.

Antreannya setiap jam makan siang lebih panjang dari antrean di kedai kopi. Pak Darmawan antre di sana setiap hari Selasa dan Kamis. Pak Agus antre setiap hari. Dan setiap pukul dua belas lewat lima belas, seorang perempuan berblazer putih dengan sanggul rendah turun dari lift nomor empat, berdiri di ujung antrean seperti karyawan biasa, dan memesan satu porsi tanpa daun bawang dengan sambal dipisah.

Tidak ada yang berani menyalipnya. Bukan karena dia CEO. Karena Bu Ratmi, yang setiap Senin dan Kamis turun sendiri dari Cibubur untuk mengecek kualitas, pernah memarahi seorang manajer pemasaran yang mencoba memberikan tempatnya di depan antrean. Neng Rena antre kayak orang biasa! Di sini nggak ada CEO! Adanya pembeli!

Mie ayam beku Mie Ayam Bu Ratmi sekarang ada di empat ribu dua ratus gerai SinMart di seluruh Indonesia. Bukan seribu dua ratus, seperti rencana uji coba. Empat ribu dua ratus. Ibu tidak percaya waktu Tiara menunjukkan angkanya. Dia meminta Tiara mengulang tiga kali, lalu menangis di dapur kedai Cibubur sambil memeluk panci.

Direktur keuangan PT Mie Ayam Bu Ratmi, nama baru yang ditulis Ibu di kertas dan disahkan notaris dengan wajah sangat bingung, adalah Marcel Hartanto.

Dia mengundurkan diri dari Hartanto Group tiga bulan setelah malam di Sky Hall. Ayahnya masih menjalani proses hukum. Ibunya pindah ke Bandung untuk tinggal bersama adiknya. Dan Marcel, pewaris yang membaca perjanjian pranikah seperti novel favorit, datang ke kedai Cibubur suatu Senin pagi dengan spreadsheet tiga puluh dua halaman berjudul Proyeksi Ekspansi Mie Ayam Bu Ratmi, Lima Tahun.

Ibu menatap spreadsheet itu, menatap Marcel, lalu bilang, Nak, Ibu nggak ngerti satu pun. Tapi Ibu percaya.

Marcel menangis di depan gerobak mie ayam. Gendis menyerahkan tisu. Dua bulan kemudian, Marcel melamar Gendis di kedai yang sama, dengan cincin yang dia ukur sendiri menggunakan timbangan digital dan jangka sorong. Gendis menjawab iya sebelum Marcel selesai mengucapkan kalimat lamaran yang sudah dia latih empat puluh kali di depan cermin.

Mereka menikah bulan depan. Marcel sudah membuat spreadsheet untuk itu juga.


Pak Hendra Sinclair masih menjalani proses hukum.

Aku tidak tahu banyak. Aku tidak bertanya. Rena juga tidak. Yang kami tahu, setiap Jumat pertama setiap bulan, Oma Margaret pergi sendirian dengan Pak Udin ke suatu tempat di Jakarta Selatan dan pulang empat jam kemudian dengan mata merah dan wajah yang sangat tenang.

Dia membaca surat itu tiga bulan setelah akad. Amplop putih yang dia pegang di bawah pohon mangga. Dia membacanya sendirian di perpustakaan lantai dua, lalu memanggil Rena dan aku untuk main catur.

Kami bermain tiga jam. Oma tidak bicara sama sekali soal surat itu. Di langkah terakhir, ketika dia mengunci raja putihku untuk ketujuh kalinya tahun itu, dia meletakkan bidak menterinya di papan dengan sangat pelan dan berkata:

“Dia minta maaf. Ke Mama. Ke Richard. Ke kalian berdua.” Dia menatap papan catur. “Oma belum tahu mau bilang apa.”

Rena menggenggam tangan Oma di atas papan catur.

“Oma nggak harus bilang apa-apa sekarang,” katanya.

Oma menatap cucunya. Lalu menatapku. Lalu tersenyum, senyum yang lelah dan tua dan sangat lembut.

“Kalian berdua,” katanya, “sudah lebih pintar catur dari waktu pertama kali main.”

“Kami tetap kalah, Oma.”

“Kalah dengan benar,” kata Oma. “Itu beda.”


Papa sekarang ikut senam pagi.

Setiap Minggu pukul enam, di lapangan kecil di dekat rumah Cibubur, bersama Ibu, Bu Vivian, dan tiga puluh dua ibu-ibu grup arisan komplek. Papa berdiri di barisan paling belakang dengan kaus putih dan celana training yang dibelikan Gendis, mengikuti gerakan instruktur dengan wajah sangat serius. Tiga bulan pertama, dia selalu terlambat satu ketukan. Bulan keempat, dia mulai bisa mengikuti. Bulan keenam, dokternya menurunkan dosis obatnya.

Kotak obat tujuh sekat di sudut mejanya sekarang lebih banyak berisi vitamin daripada obat jantung.

Setiap Kamis malam, makan malam di rumah Menteng. Wajib. Tidak ada yang boleh absen kecuali ada yang meninggal atau ada yang sedang di luar negeri. Dan setiap Kamis, Ibu membawa rantang. Papa mengambil dua potong rendang. Ibu menampar tangannya. Papa mengembalikan satu potong. Ibu mengambilkan potongan yang lebih kecil, tanpa santan, dari wadah khusus di paling atas.

Bu Vivian dan Ibu masih berdebat soal bolu pandan. Setiap Kamis. Tanpa jeda. Bulan lalu, Bu Vivian akhirnya membuat bolu pandan tanpa pewarna sama sekali, dengan daun pandan yang diblender sendiri. Hasilnya pucat dan sangat wangi. Ibu mencicipinya dengan wajah serius, mengunyah lama, lalu meletakkan garpunya.

Lumayan, Bu, kata Ibu.

Bu Vivian menangis. Bahagia, katanya. Bu Ratmi bilang dia lumayan. Dari Bu Ratmi, lumayan adalah pujian tertinggi yang pernah dia dengar seumur hidupnya.


NEXA diaktifkan kembali enam bulan setelah malam di Sky Hall.

Versi 2.0. Yudis menghabiskan dua bulan memperbaikinya, menambahkan filter, pengaman, dan kebijakan privasi sepanjang dua belas halaman yang dia tulis bersama Bu Lestari. Di bagian paling bawah pengumuman peluncurannya ada satu baris tambahan yang aku yakin bukan dari Yudis:

NEXA tidak lagi menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi pimpinan. Kami serius kali ini.

Dua puluh menit setelah diluncurkan, seorang karyawan dari lantai 12 mencobanya. Tangkapan layarnya menyebar ke empat grup WA sebelum makan siang.

Pertanyaan: NEXA, apa prediksi rumah tangga Pak Chakra dan Bu Serena?

NEXA: Maaf, saya tidak diizinkan menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi pimpinan.

NEXA: Namun, berdasarkan data publik (jumlah porsi mie ayam tanpa daun bawang yang dipesan di lobi pukul 12.15 setiap hari kerja selama 6 bulan terakhir: 127), dapat saya sampaikan secara umum:

NEXA: Probabilitas bahagia: 99,7%.

NEXA: Sisa 0,3%: kemungkinan Pak Chakra lupa memisahkan daun bawang.

Yudis mematikan NEXA lagi sore itu. Sambil tersenyum, menurut Bagas, yang bersumpah melihatnya tersenyum. Itu pertama kalinya dalam sejarah NEXUS.

NEXA aktif kembali keesokan paginya. Dengan filter yang lebih ketat. Dan, entah kenapa, dengan satu fitur tersembunyi yang Yudis tolak untuk jelaskan.


Sore itu hujan.

Hari Jumat, pukul lima. Aku turun dari lantai 38 ke lobi SC Tower dengan laptop di tas dan sebuah payung hitam bergagang kayu di tangan. Payung itu sekarang tidak tinggal di gantungan dekat pintu apartemen 14B lagi. Rena bilang payung jodoh harus ikut ke mana pun hujan pergi.

Dia menungguku di lobi. Di dekat pintu putar, dengan blazer putih yang sudah dilepas dan disampirkan di lengan, dan wajah yang aneh. Aku tidak bisa membacanya. Bukan wajah CEO. Bukan wajah malu-malu. Sesuatu di antaranya. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Hai,” katanya.

“Hai.”

“Hujan.”

“Aku tahu. RENA sudah prediksi dari Selasa.”

Dia tersenyum. Lalu mengulurkan tangan, dan di telapak tangannya ada sesuatu yang kecil dan kuning.

Sticky note.

Aku mengambilnya. Membacanya. Tulisan tangan dengan huruf g yang ekornya melingkar terlalu panjang.

Pak Data,

Kopi dua sendok gula saya tunda dulu. Sembilan bulan.

Kata dokter, kopinya harus dikurangi. Gulanya juga.

— R.

Aku membaca tulisan itu sekali. Dua kali. Tiga kali.

Lalu aku mengangkat wajah dan menatapnya.

Dia berdiri di lobi SC Tower, di dekat pintu putar, dengan tangan di perutnya yang masih rata dan wajah yang akhirnya bisa kubaca. Takut, bahagia, gugup, dan sangat, sangat cantik.

“Rena,” kataku. Suaraku tidak seperti suaraku.

“Hm.”

“Ini…”

“Iya.”

“Kapan…”

“Tadi pagi. Dokter di Pondok Indah.” Dia menggigit bibir bawah. “Aku kontrol di rumah sakit yang sama. Aku mau ada kenangan baik di sana.”

Aku tidak bisa bicara. Aku menatap sticky note kuning di tanganku. Aku memikirkan tempat untuk menyimpannya. Dompetku sudah penuh. Di balik KTP ada dua sticky note lama, satu dari Sisca, dan sekarang yang ini.

Mungkin aku butuh dompet baru.

Mungkin aku butuh rumah yang lebih besar.

Mungkin aku butuh menghitung ulang semuanya.

“Kamu nggak bilang apa-apa,” katanya pelan.

“Aku sedang menghitung.”

“Menghitung apa?”

Aku menatapnya. Lobi SC Tower. Pintu putar. Pak Agus di meja satpam yang tiba-tiba sangat sibuk menatap layar CCTV kosong. Stan mie ayam di sudut, dengan Bu Ratmi di balik etalase kaca yang, aku curiga, sudah tahu, karena dia sedang menangis sambil mengaduk kuah.

“Berapa probabilitas aku bisa jadi ayah yang baik,” kataku.

Dia tersenyum.

“Hasilnya?”

“Datanya belum cukup.”

“Trennya?”

Aku melangkah maju. Menarik dia ke dalam pelukanku, di tengah lobi SC Tower, di depan Pak Agus, di depan Bu Ratmi, di depan karyawan-karyawan yang sedang pulang dan tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

“Positif,” bisikku di rambutnya.

Dia tertawa di dadaku. Basah. Bahagia.


Kami keluar ke bawah hujan.

Aku membuka payung jodoh di trotoar di depan SC Tower. Kain hitam besar itu terbuka di atas kepala kami dengan bunyi fwump. Hujan memukulnya seperti tepuk tangan.

Rena menggandeng lenganku. Kami berjalan pelan ke parkiran, di bawah satu payung, bahu bersentuhan.

“Chakra.”

“Hm.”

“Aku tanya NEXA tadi siang.”

Aku berhenti berjalan. “Rena. NEXA nggak boleh jawab pertanyaan soal kehidupan pribadi pimpinan.”

“Aku CEO,” katanya. “Aku yang tanda tangan kebijakan privasinya.”

Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layarnya kepadaku. Tangkapan layar percakapan dengan NEXA, pukul 12.47 siang tadi.

Pertanyaan: NEXA, Pak Chakra masih cinta sama saya?

NEXA: Maaf, saya tidak diizinkan menjawab pertanyaan tentang kehidupan pribadi pimpinan.

NEXA: Namun pertanyaan ini dikirim dari akun CEO, yang memiliki akses ke fitur tersembunyi yang dipasang oleh tim NEXUS khusus untuk akun ini.

NEXA: Fitur ini hanya bisa menjawab satu pertanyaan. Pertanyaan yang Anda ajukan barusan.

NEXA: Berdasarkan data commit repositori RENA (total: 2.847 kali, terus bertambah), log waktu balas pesan (rata-rata: 3 detik), riwayat pemesanan mie ayam tanpa daun bawang (127 porsi, 6 bulan), dan satu disertasi di repositori ETH Zürich, halaman iv:

NEXA: Datanya bilang dia masih cinta.

Aku menatap layar itu.

Fitur tersembunyi yang Yudis tolak untuk jelaskan.

“Yudis,” kataku pelan.

“Yudis,” kata Rena. “Dia bilang itu hadiah pernikahan yang terlambat.”

Aku tertawa. Di bawah payung jodoh, di tengah hujan, di parkiran SC Tower. Aku tertawa sampai harus berhenti berjalan dan menyandarkan dahi di bahunya.

Dia menunggu sampai aku selesai tertawa. Lalu dia mengangkat tangan dan menyentuh pipiku.

“Chakra.”

“Ya?”

Dia menatapku. Di bawah payung, dengan hujan yang jatuh di sekeliling kami seperti tirai, dengan tangan di perutnya dan dua cincin di jari manisnya. Satu emas bertuliskan PERCAYA, satu perak bertuliskan namaku dengan huruf H yang miring.

“Datanya bilang,” katanya pelan, “kamu masih cinta.”

Aku menatapnya. Perempuan yang kutemui di bawah hujan delapan tahun lalu, di warung mie ayam dengan atap seng. Yang kunikahi dengan kebaya sewaan. Yang kulepaskan karena seseorang berdiri di pintu. Yang kurindukan di setiap baris kode selama enam tahun. Yang menjawab percaya di depan semua orang yang dulu membuatnya ragu. Yang berlutut di lantai semen dan bertanya.

Yang sekarang membawa sesuatu yang tidak bisa diprediksi oleh model mana pun.

“Datanya selalu benar,” kataku.

Dia tersenyum.

Lalu dia berjinjit, di bawah payung jodoh, dan menagih bayarannya.

Hujan turun empat puluh tujuh menit sore itu.

Aku menghitung.

Tapi aku tidak lagi menghitung untuk tahu kapan semuanya akan berakhir.

Aku menghitung karena aku ingin mengingat setiap detiknya.


TAMAT