Chapter Eighteen

Demam

POV: Serena


Bu Ratmi meneleponku Sabtu pukul sembilan pagi, dan suaranya terdengar seperti sedang mengumumkan perang.

“Neng! Neng Rena! Chakra demam!”

Aku sedang di tengah sesi pilates di studio Senopati, dalam posisi plank yang sudah empat puluh detik, dengan instruktur yang menghitung mundur. Ponselku di lantai, di sebelah matras, dan aku menjawab dengan dagu.

“Demam, Bu?”

“Tiga puluh sembilan koma empat! Tadi pagi dia telepon Ibu, suaranya kayak kaset rusak, terus bilang Bu, nggak usah ke sini, cuma masuk angin. Masuk angin dari mana tiga puluh sembilan koma empat!”

Aku jatuh dari posisi plank. Instrukturku menatapku dengan kecewa.

“Ibu di mana sekarang?”

“Ibu di Depok, Neng! Cabang Margonda kompornya meledak tadi subuh, nggak ada yang luka, tapi dapurnya hancur, Ibu harus urus sampai sore. Gendis lagi di Bandung, ada endorsement.” Suara Bu Ratmi bergetar. “Neng, Ibu nggak minta macam-macam. Ibu cuma minta tolong lihat dia. Sebentar aja. Dia di apartemen yang di Setiabudi. Dia bandel, Neng. Dari kecil kalau sakit nggak mau ke dokter, nggak mau makan, cuma tidur sambil meluk guling.”

Sebelah kiri.

“Bu, saya…”

“Ibu kirim alamatnya, ya, Neng. Makasih, Neng. Ibu doain.”

Telepon ditutup sebelum aku sempat menjawab.

Tiga detik kemudian, WA masuk. Alamat lengkap, dengan nomor unit dan kode akses lobi. Lalu satu pesan lagi.

Kalau Neng mau masakin bubur, resepnya Ibu kirim lewat voice note ya. Jangan beli bubur di luar, Chakra nggak suka bubur yang ada kacangnya.

Lalu sebuah voice note berdurasi empat menit tiga puluh dua detik.

Aku menatap ponselku. Lalu menatap instruktur pilates, yang masih menunggu dengan tangan di pinggang.

“Maaf, Mbak,” kataku sambil berdiri. “Ada keadaan darurat.”


Aku tidak bisa memasak.

Itu bukan rahasia. Seluruh keluarga Sinclair tahu. Waktu aku kecil, aku pernah membakar panci di dapur Menteng waktu mencoba merebus telur, dan sejak itu Mama melarangku masuk dapur tanpa pengawasan. Selama setahun pernikahan, Chakra yang memasak. Aku hanya bertugas mencicipi dan berkomentar, kurang garam atau kebanyakan micin, dan dia akan menurut dengan senyum sabar.

Jadi waktu aku berdiri di dapur kecil apartemen studio Chakra di Setiabudi, pukul sepuluh lewat dua puluh pagi, dengan beras, ayam, jahe, daun salam, dan voice note Bu Ratmi yang diputar keras di ponsel, aku sadar bahwa ini mungkin keputusan terburuk dalam karierku.

“…berasnya dicuci tiga kali, Neng, terus direbus pakai air yang banyak, perbandingannya satu banding delapan, jangan satu banding dua, nanti jadi nasi, bukan bubur…”

Satu banding delapan. Aku menuang air. Terlalu banyak. Aku mengurangi. Terlalu sedikit. Aku menambah lagi.

“…masukin jahe yang udah digeprek. Geprek itu ditekan pakai pisau, Neng, bukan dipotong…”

Aku menekan jahe dengan pisau. Jahe itu melompat dari talenan dan meluncur ke bawah kulkas.

Aku berlutut di lantai dapur dengan pakaian pilates dan rambut ekor kuda yang berantakan, merogoh ke bawah kulkas mantan suamiku untuk mengambil sepotong jahe, sambil voice note ibu mertuaku berbicara tentang daun salam di latar belakang.

Kalau dewan komisaris SC Group bisa melihatku sekarang, mereka akan mengadakan RUPS luar biasa.


Apartemen itu kecil. Satu ruangan dengan dapur di satu sisi, tempat tidur di sisi lain, meja kerja di bawah jendela, dan kamar mandi di balik pintu geser. Rapi dengan cara laki-laki yang terlalu sibuk untuk punya barang: rak buku penuh jurnal ilmiah, dua monitor di meja kerja, satu tanaman kaktus kecil di jendela yang jelas hadiah dari Gendis karena potnya bertuliskan JANGAN LUPA DISIRAM, MAS!!!

Kaktusnya kering.

Dan di tempat tidur, di bawah selimut abu-abu, Chakra tidur.

Dia tidak bangun waktu aku masuk dengan kode akses yang dikirim Bu Ratmi. Dia tidak bangun waktu jahe meluncur ke bawah kulkas. Dia tidak bangun waktu aku menjatuhkan tutup panci dengan bunyi yang cukup keras untuk membangunkan seluruh lantai.

Dia hanya bergerak sekali. Berguling ke kiri. Lengannya memeluk guling.

Sebelah kiri.

Bubur itu jadi pukul sebelas lewat empat puluh. Bentuknya mirip bubur. Warnanya mirip bubur. Aku mencicipinya dan rasanya… mirip bubur. Sedikit keasinan, mungkin. Sedikit terlalu banyak jahe. Tapi mirip bubur.

Aku menuangnya ke mangkuk, membawanya ke tempat tidur, dan duduk di tepi kasur.

Dari dekat, dia terlihat buruk. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan sedikit pecah-pecah, keringat membasahi dahi dan lehernya. Rambutnya menempel di pelipis. Kausnya basah. Dia tidak memakai kacamata, dan tanpa kacamata wajahnya terlihat lebih muda dan lebih rapuh. Seperti laki-laki dua puluh empat tahun di bawah atap seng warung mie ayam.

Aku menempelkan punggung tanganku di dahinya.

Panas. Sangat panas.

Dia membuka mata. Pelan, berat, menyipit, tanpa fokus.

“…Rena?”

“Iya.”

Dia mengerjap. Sekali. Dua kali. Lalu wajahnya melakukan sesuatu yang membuat dadaku sakit. Dia tersenyum, senyum lemah yang bodoh dan sangat bahagia, seperti orang yang baru bangun dari mimpi dan mendapati mimpinya ternyata nyata.

“Aku mimpi,” gumamnya.

“Kamu demam. Tiga puluh sembilan koma empat. Ibu kamu panik.”

“Ibu…” Dia mencoba duduk. Gagal. Jatuh lagi ke bantal. “Ibu bilang ke kamu?”

“Ibu kirim alamat, kode lobi, resep bubur, dan voice note empat setengah menit.” Aku mengangkat mangkuk. “Duduk. Makan.”

“Kamu masak?”

“Iya.”

Dia menatap mangkuk itu dengan ekspresi yang sangat hati-hati.

“Kamu,” katanya pelan, “masak.”

“Jangan lihat aku kayak gitu.”

“Kamu dulu bakar panci waktu rebus telur.”

“Itu umur sembilan tahun! Duduk!”

Dia duduk. Pelan, dengan bantuanku. Tanganku di punggungnya, merasakan kaus yang basah dan panas tubuhnya yang menembus kain. Aku menumpuk dua bantal di belakangnya. Lalu aku mengambil sendok, meniup bubur itu, dan menyodorkannya ke mulutnya.

Dia menatap sendok. Lalu menatapku.

“Buka mulut,” kataku. “Kita sudah pernah lakukan ini. Minggu lalu. Mie ayam dingin.”

Dia membuka mulut. Aku menyuapinya.

Dia mengunyah. Pelan. Ekspresinya tidak berubah.

“Gimana?” tanyaku.

Dia menelan. Matanya sedikit berair. Aku tidak tahu apakah karena demam, karena jahe, atau karena sesuatu yang lain.

“Keasinan,” katanya.

“Oh.”

“Jahenya kebanyakan.”

“…Oh.”

“Ini bubur paling enak yang pernah kumakan,” katanya.

Dia tidak menyentuh kacamata. Dia tidak sedang memakai kacamata. Aku tidak bisa membaca apakah dia bohong.

Tapi aku tahu dia tidak bohong.


Dia menghabiskan setengah mangkuk sebelum tertidur lagi. Aku memberinya parasetamol dari kotak obat di kamar mandi. Kotak obat itu berisi tepat tiga butir parasetamol yang hampir kedaluwarsa, satu plester, dan sebotol minyak kayu putih dari Bu Ratmi dengan stiker PAKAI INI KALAU MASUK ANGIN — IBU.

Lalu aku menunggu.

Aku duduk di kursi kerjanya dan menatap kamar itu. Rak buku. Kaktus kering. Meja kerja yang rapi. Laptopnya tertutup, dengan sticky note kuning di atasnya bertuliskan dua kata dengan huruf kapital: JANGAN BUKA. Catatan untuk siapa, aku tidak tahu. Mungkin untuk dirinya sendiri.

Aku tidak membukanya.

Di sebelah laptop ada dompetnya. Kulit cokelat tua, lusuh di bagian tepi. Terbuka sedikit. Dari celahnya menyembul ujung kertas kuning. Sticky note. Dengan huruf g yang ekornya melingkar terlalu panjang.

Tulisan tanganku.

Aku tidak menariknya. Aku tidak perlu. Aku tahu kertas apa itu. Dulu lidahku masih naif.

Dia menyimpannya. Di dompet. Di tempat orang menyimpan foto anak, kartu identitas, dan uang darurat.

Aku menatap dompet itu lama, dengan dada yang terasa terlalu penuh.

Lalu dari tempat tidur terdengar gumaman.

“…jangan…”

Aku menoleh. Chakra masih tidur, tapi kepalanya bergerak gelisah di bantal. Dahinya berkerut. Keringat mengalir dari pelipis ke leher.

“…jangan bilang Rena…”

Aku berdiri. Pelan. Berjalan ke tempat tidur.

“…jantungnya… Pak Richard… jangan bilang…”

Aku membeku.

Napasnya cepat dan pendek. Tangannya mencengkeram selimut. Lalu dia menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kutangkap. Kata-kata yang tidak jelas, terputus-putus, campuran bahasa Indonesia dan sesuatu yang terdengar seperti Jerman.

Lalu, sangat jelas, dengan suara yang pecah:

“…aku tanda tangan… biar dia nggak harus milih…”

Aku berlutut di sebelah tempat tidur. Tanganku gemetar ketika menyentuh dahinya. Dahi yang panas, basah, dan berkerut seperti sedang menahan sakit yang bukan dari demam.

“Chakra,” bisikku. “Chakra, bangun.”

Matanya terbuka. Tidak fokus. Menatap langit-langit, lalu menatapku.

“Rena,” katanya, lemah. “Kamu masih di sini.”

“Aku masih di sini.”

“Kamu nggak pulang?”

“Aku nggak pulang.”

Dia menatapku lama dengan mata yang setengah sadar. Lalu dia tersenyum lagi, senyum bodoh dan bahagia, dan memejamkan mata.

“Bagus,” gumamnya. “Jangan pulang.”

Dia tertidur lagi. Napasnya sedikit lebih tenang.

Aku tetap berlutut di lantai, di sebelah tempat tidurnya, dengan tangan masih di dahinya, dan kata-kata itu berputar di kepalaku seperti burung yang terkurung.

Jantungnya. Pak Richard. Jangan bilang Rena. Aku tanda tangan, biar dia nggak harus milih.

Biar dia nggak harus milih.

Antara apa dan apa?

Di tasku, yang tergeletak di kursi dekat pintu, ada surat persetujuan cerai dengan tulisan pensil setengah terhapus di bagian belakangnya.

Jaga Papa. Jangan nyalahin diri sendiri.

Aku tidak menangis. Lagi-lagi aku tidak menangis. Aku hanya berlutut di sana, menatap wajahnya yang tertidur, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun aku membiarkan diriku memikirkan kemungkinan yang selama ini tidak pernah berani kupikirkan.

Bahwa dia tidak pergi karena tidak mencintaiku.

Bahwa dia pergi karena terlalu mencintaiku.


Pukul tiga sore, demamnya turun ke tiga puluh delapan koma dua. Keringat membanjiri tubuhnya. Kausnya basah kuyup, sprei di bawahnya lembap, dan rambutnya menempel di dahi seperti habis kehujanan.

Dia bangun. Kali ini benar-benar bangun. Matanya fokus, meskipun masih lelah. Dia meraba nakas mencari kacamata, menemukannya, memakainya, dan menatapku yang duduk di tepi kasurnya dengan baskom air dan handuk kecil.

“Kamu masih di sini,” katanya. Suaranya serak, tapi jelas.

“Kamu sudah bilang itu tadi.”

“Aku bilang?”

“Kamu juga bilang jangan pulang.”

Dia menatapku. Telinganya memerah.

“Aku… ngigau?”

Aku tidak menjawab. Aku tidak siap menjawab. Aku tidak siap bilang iya, kamu ngigau, dan kamu bilang soal Papa dan tanda tangan dan memilih, dan sekarang aku tahu sesuatu yang aku nggak tahu harus aku apakan.

Jadi aku melakukan hal lain.

Aku memeras handuk kecil di baskom.

“Kausmu basah keringat,” kataku. “Buka.”

Dia menatapku seperti aku baru saja menyuruhnya melompat dari lantai 50.

“Rena…”

“Buka bajunya. Basah keringat. Kamu bisa masuk angin lagi.” Aku mengangkat handuk. “Jangan GR. Aku pernah lihat semuanya.”

Hening.

Lalu, pelan, dengan gerakan orang yang masih lemah, dia menarik kausnya ke atas kepala.

Aku pernah melihat semuanya. Itu benar. Aku pernah melihat punggung ini setiap pagi selama setahun, waktu dia berdiri di depan kompor membuat telur dadar untukku. Aku pernah melihat dada ini dari dekat, sangat dekat, di malam-malam yang tidak bisa kuingat tanpa merasa panas di seluruh tubuh.

Tapi dulu dia kurus. Laki-laki dua puluh lima tahun yang hidup dari gaji analis fintech dan mie ayam ibunya. Tulang rusuknya kelihatan. Bahunya sempit.

Sekarang tidak.

Enam tahun di Eropa telah melakukan sesuatu padanya. Bahunya lebar. Dadanya bidang dengan otot yang tidak berlebihan tapi jelas, seperti laki-laki yang berlari setiap pagi di tepi danau Zürich untuk mengusir sesuatu dari kepalanya. Kulitnya sawo matang dan berkilau oleh keringat. Ada bekas luka kecil di bawah tulang selangka kiri yang tidak kukenal.

Aku menelan ludah. Terlalu keras.

Dia mendengarnya. Aku tahu dia mendengarnya, karena sudut bibirnya bergerak, sangat sedikit.

“Kamu bilang,” katanya pelan, “jangan GR.”

“Diam.”

Aku mengusap lehernya dengan handuk basah. Pelan. Dari bawah telinga turun ke tulang selangka. Air menetes ke dadanya. Aku mengikuti tetesan itu dengan handuk. Bahu kiri. Bahu kanan. Dadanya.

Dia tidak bergerak. Napasnya berubah. Lebih lambat. Lebih dalam. Lebih berat.

Tanganku dengan handuk itu bergerak ke perutnya. Otot-otot di sana menegang di bawah sentuhanku.

Lalu tangannya menangkap pergelangan tanganku.

Tidak keras. Lembut, tapi tegas. Jari-jarinya melingkar di pergelangan tanganku, hangat, masih sedikit panas karena demam.

Aku mengangkat wajah.

Dia menatapku. Kacamatanya sedikit berembun karena uap dari baskom. Di balik lensa yang buram itu, matanya gelap. Gelap sekali. Seperti langit Jakarta sebelum badai.

Jarak kami sejengkal. Aku duduk di tepi kasurnya, dia setengah bersandar di bantal, telanjang dada, dengan tanganku dan handuk basah di perutnya dan jarinya di pergelangan tanganku.

“Rena,” katanya. Suaranya sangat rendah, sangat serak, dan bukan karena demam. “Kamu calon tunangan orang.”

Kalimat itu seperti seember air dingin. Dan seperti seember air dingin, kalimat itu tidak memadamkan apa pun. Kalimat itu hanya membuat semuanya mendesis.

“Aku tahu,” bisikku.

“Sembilan hari lagi.”

“Aku tahu.”

Dia tidak melepaskan pergelangan tanganku. Aku tidak menarik tanganku.

Kami hanya diam di sana, menatap satu sama lain, dengan napas yang terlalu keras di apartemen studio yang terlalu sunyi. Jempolnya bergerak sekali di nadi pergelangan tanganku, menghitung, mungkin, karena dia selalu menghitung. Dan aku tahu nadiku sedang berlari seperti kuda lepas.

Aku mencondongkan badan. Satu senti.

Dia tidak mundur.

Satu senti lagi.

Ponselku berbunyi.

Bukan getar. Berbunyi. Nada dering panggilan video yang keras, nyaring, dan sangat menyebalkan, dari ponsel yang kuletakkan di nakas, menghadap ke atas, dengan nama penelepon di layar.

Bu Ratmi.

Kami berdua membeku.

Panggilan video. Bukan telepon biasa. Video.

Nadanya terus berbunyi. Tiga kali. Empat kali.

“Jangan diangkat,” kata Chakra.

“Kalau nggak diangkat, Ibu kamu panik dan nyetir ke sini dari Depok.”

“Rena…”

Aku mengangkatnya. Dengan tangan yang tidak dipegang Chakra. Tanpa berpikir. Dan tanpa memperhatikan bahwa kamera depan ponselku sedang menghadap ke arah yang sangat salah.

Wajah Bu Ratmi memenuhi layar. Dapur cabang Margonda yang setengah hancur di belakangnya. Jelaga di pipinya. Kerudung instan yang miring.

“Neng! Gimana Chakra? Udah makan? Udah turun panas…”

Matanya bergerak dari wajahku ke sesuatu di sebelah wajahku. Ke anaknya. Yang telanjang dada. Yang sedang memegang pergelangan tanganku. Dengan handuk basah di perutnya.

Bu Ratmi menatap layar selama tiga detik penuh.

“ASTAGHFIRULLAHALADZIM.”

“Bu…” kataku dan Chakra bersamaan.

“Ibu nggak lihat apa-apa!” Bu Ratmi menutup matanya dengan satu tangan, tapi jari-jarinya terbuka lebar. “Ibu nggak lihat apa-apa! Lanjut, lanjut! Eh, maksud Ibu, jangan lanjut! Belum halal! Eh, maksudnya, Neng cuma ngelap keringat, kan? Iya, kan? Ngelap keringat?”

“Ngelap keringat, Bu,” kataku. Wajahku terbakar.

“Ngelap keringat!” Bu Ratmi mengangguk dengan semangat yang berlebihan. “Bagus! Ngelap keringat itu sunnah! Eh, nggak tahu sunnah atau nggak, pokoknya bagus! Chakra! Kamu jangan macam-macam sama Neng Rena! Kamu lagi sakit!”

“Bu, saya nggak…”

“Ibu tutup, ya! Ibu sibuk! Kompor meledak! Assalamualaikum!”

Layar mati.

Hening.

Di apartemen studio di Setiabudi, Sabtu sore, pukul tiga lewat dua puluh, dua orang dewasa berusia tiga puluh dua tahun duduk di tepi kasur, satu telanjang dada dan satu dengan handuk basah, menatap ponsel yang layarnya sudah gelap.

Lalu Chakra tertawa.

Tawa yang lemah, serak, dan tidak terkendali. Dia melepaskan pergelangan tanganku untuk menutup wajahnya dengan dua tangan, dan bahunya berguncang. Aku ikut tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai air mataku keluar, sampai perutku sakit, sampai aku harus berbaring di sebelahnya di kasur yang terlalu kecil itu, menatap langit-langit.

Kami tertawa berdua, berbaring bersebelahan, bahu bersentuhan, sampai tawanya berubah jadi batuk dan aku harus duduk dan menepuk punggungnya.

Lalu tawanya reda. Napasnya kembali normal. Dia bersandar ke bantal lagi, memejamkan mata, dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya.

“Ibu,” gumamnya, “nggak akan pernah berhenti bahas ini.”

“Seumur hidup.”

“Di pernikahanku.”

Dia membeku. Aku membeku.

Di pernikahanku. Bukan di pernikahan kita. Bukan di pernikahanmu. Kalimat yang menggantung di udara tanpa pengantin yang jelas.

Aku berdiri. Mengambil kaus bersih dari lemari kecilnya. Kaus abu-abu, persis sama dengan yang tadi. Dia punya lima kaus abu-abu yang sama, karena laki-laki ini tidak pernah berubah. Aku melemparnya ke dadanya.

“Pakai,” kataku. “Sebelum aku lupa kamu lagi sakit.”

Dia menangkap kaus itu. Menatapku. Lalu memakainya, pelan, dan aku memalingkan wajah ke arah kaktus kering di jendela, karena kalau aku terus menatapnya, aku akan lupa segalanya.


Aku pulang pukul tujuh malam, setelah demamnya turun ke tiga puluh tujuh koma delapan, setelah dia menghabiskan sisa bubur yang keasinan itu sampai bersih, setelah aku menyiram kaktusnya dan meninggalkan sticky note di potnya: Disiram tiap Senin. Bukan tiap tahun.

Di ambang pintu, dia berdiri bersandar di kusen, dengan kaus abu-abu dan kacamata, menatapku memakai sepatu.

“Rena.”

“Hm.”

“Terima kasih.”

“Buat bubur yang keasinan?”

“Buat datang.”

Aku menegakkan badan. Menatapnya. Dia terlihat lebih baik. Masih pucat, masih lelah, tapi matanya sudah hidup lagi.

“Chakra,” kataku.

“Ya?”

Aku ingin bertanya. Aku ingin bertanya soal igauannya. Soal jangan bilang Rena dan biar dia nggak harus milih. Soal rumah sakit, pukul empat lima belas pagi, Om Hendra sebagai saksi, dan tulisan pensil yang dihapus di balik surat cerai kami.

Aku tidak bertanya.

Belum.

“Kaktusmu,” kataku, “hampir mati. Kayak kamu.”

Dia tersenyum. “Dua-duanya sudah disiram hari ini.”

Aku berbalik dan berjalan ke lift sebelum dia sempat melihat wajahku.

Di lift, aku membuka ponsel. Ada pesan dari Marcel, dikirim pukul empat sore.

Serena, saya sudah konfirmasi dengan katering untuk acara tanggal 14. Menu final terlampir. Ibu saya ingin tahu apakah kamu lebih suka sup asparagus atau sup jagung untuk hidangan pembuka.

Sembilan hari lagi.

Aku menatap pesan itu sampai lift tiba di lobi.

Lalu aku membalas: Terserah kamu, Marcel.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang membuat perutku dingin, bahwa itu adalah jawaban paling jujur yang pernah kuberikan padanya.