Chapter Thirty One
Makan Malam Keluarga
POV: Serena
Makan malam Kamis di rumah Menteng adalah tradisi yang lebih tua dariku.
Opa memulainya empat puluh tahun lalu, waktu SC masih dua truk dan satu mimpi. Seberapa pun sibuknya kita, kata Opa, Kamis malam kita makan di meja yang sama. Setelah Opa meninggal, Papa melanjutkannya. Tidak ada yang boleh absen, kecuali ada yang meninggal atau ada yang sedang di luar negeri.
Malam itu, dua hari sebelum tanggal lima, meja jati di ruang makan dipenuhi tujuh orang.
Papa di ujung meja. Mama di sebelah kanannya. Oma di ujung yang lain, dengan kalung mutiara satu lapis dan wajah yang sangat tenang. Aku di sebelah kiri Papa. Dan di seberangku, Om Hendra dan Tante Ratna, yang diundang khusus malam ini untuk membahas persiapan hari bersejarah.
Bi Inah menghidangkan sop buntut, ayam bakar, dan sayur lodeh. Makanan kesukaan Papa. Om Hendra yang memintanya, kata Bi Inah tadi sore di dapur, dengan suara yang sangat datar.
“Mas,” kata Om Hendra, mengangkat gelas air putih, “untuk hari Sabtu. Untuk dua keluarga. Untuk Serena.”
Semua orang mengangkat gelas. Aku juga. Aku tersenyum ke Om Hendra di seberang meja.
Dia tersenyum balik. Hangat. Seperti selimut.
Aku menghitung. Satu.
Om Hendra bercerita sepanjang makan malam. Soal Benny Hartanto yang memesan kembang api lebih besar dari kembang api ulang tahun SC. Soal daftar tamu yang sudah mencapai enam ratus orang, termasuk dua menteri. Soal panggung di Sky Hall yang akan dihias dengan dua ribu tangkai mawar putih.
“Dan stan makanan UMKM,” tambah Tante Ratna, menatapku dengan senyum yang sedikit terlalu manis. “Ide Serena, katanya. Mie ayam.”
“Mie ayam Bu Ratmi,” kataku.
Ruangan hening sesaat.
Mama menunduk ke piringnya. Papa berhenti mengunyah. Om Hendra tertawa kecil.
“Ide yang sangat inklusif,” katanya. “Benny suka. Dia bilang itu bagus untuk citra. CEO yang dekat dengan rakyat kecil.”
“Itu bukan untuk citra, Om.”
“Tentu bukan, Nak.” Om Hendra menepuk tanganku di atas meja. Dua kali. Ringan. “Om tahu.”
Dua.
Di ujung meja, Oma menyesap sop buntutnya pelan-pelan. Dia tidak bicara sepanjang makan malam. Dia hanya mengamati. Matanya bergerak dari Om Hendra ke Papa ke aku, seperti mengamati papan catur dari atas.
Lalu, pada piring terakhir, Om Hendra meletakkan sendoknya dan menatap ibunya.
“Ma,” katanya lembut. “Wasiatnya sudah selesai?”
Oma mengangkat wajah. “Hampir, Nak. Kenapa?”
“Tidak apa-apa.” Om Hendra tersenyum. “Hanya ingin memastikan Mama tidak terlalu capek. Hari Sabtu acara besar. Mama harus sehat.”
“Mama sehat, Hendra.” Oma meletakkan sendoknya. “Mama sehat sekali. Mama berencana hidup lebih lama dari yang kamu kira.”
Om Hendra tertawa. Semua orang di meja ikut tertawa, mengira itu candaan.
Aku tidak tertawa. Aku melihat tangan Om Hendra di atas meja, yang sedang memegang serbet. Jari-jarinya meremas kain itu. Sangat sedikit. Sepersekian detik.
Tiga.
Om Hendra dan Tante Ratna pulang pukul sembilan. Om Hendra memelukku di teras, menepuk punggungku dua kali, dan berbisik di telingaku, Sabtu nanti, kamu akan jadi pengantin paling cantik, Nak. Om bangga.
Aku memeluknya balik. Aku tersenyum. Aku melambaikan tangan sampai mobilnya hilang di belokan Jalan Teuku Umar.
Lalu aku masuk ke dalam rumah dan berdiri di lorong. Tanganku menempel di dinding, dan napasku pendek-pendek seperti orang yang baru lari jauh.
“Serena.”
Mama berdiri di ambang dapur. Dia sudah melepas sepatu hak dan anting. Wajahnya lelah.
“Ma.”
Mama menatapku lama. Lalu menatap ke kiri dan ke kanan lorong, memastikan tidak ada Bi Inah, tidak ada Papa. Lalu dia berjalan mendekat dan bicara dengan suara sangat pelan.
“Payung itu,” katanya. “Kamu bawa pulang?”
Aku membeku.
“Iya, Ma.”
Mama mengangguk pelan. Matanya menatap lantai.
“Mama nggak bisa buang,” katanya. “Enam tahun. Tiap kali Mama beresin gudang, Mama lihat kardus itu, Mama tulis buang? di labelnya. Tapi Mama nggak bisa.” Dia menelan ludah. “Mama nggak tahu kenapa.”
“Mungkin Mama tahu, Ma.”
Mama mengangkat wajah. Matanya basah. Mama tidak pernah menangis di depanku, kecuali di ruang tunggu ICU enam tahun lalu.
“Mama dulu bilang dia cuma mau uangmu,” bisiknya. “Setiap hari. Setahun.” Suaranya bergetar. “Lalu dia pergi, dan dia nggak bawa apa-apa. Nggak satu rupiah pun. Nggak gono-gini. Nggak tuntutan. Cuma pergi.” Dia menutup mulut dengan tangan. “Orang yang cuma mau uang nggak pergi kayak gitu, Serena. Mama tahu itu sejak enam tahun lalu. Mama cuma… nggak mau mengakuinya.”
Aku memeluk Mama.
Dia kaku sesaat. Lalu tubuhnya melemas, dan dia memelukku balik. Erat. Wangi parfum mawar yang sama sejak aku kecil.
“Mama yang bikinin dia teh,” bisiknya di bahuku. “Minggu lalu. Kamu lihat?”
“Aku lihat, Ma.”
“Itu pertama kalinya Mama bikin teh untuk siapa pun. Seumur hidup Mama.”
“Aku tahu, Ma.”
“Dia minum sampai habis.”
Aku tertawa pelan, basah, di bahu Mama. “Oma suruh dia minum sebelum Mama berubah pikiran.”
Mama tertawa juga. Tawa kecil yang pecah.
“Oma,” katanya, melepaskan pelukan dan menyeka mata, “selalu tahu segalanya.”
Papa ada di ruang kerjanya di lantai dua.
Bukan ruang kerja Opa yang berdebu. Ruang kerja Papa sendiri, di ujung lorong, dengan rak buku, meja mahoni, dan jendela yang menghadap halaman depan. Dia duduk di kursi kulit di balik meja dengan kacamata baca, membaca dokumen merger untuk terakhir kalinya sebelum Sabtu.
Aku mengetuk pintu yang terbuka.
“Pa.”
Papa mengangkat wajah. Tersenyum. Lelah. “Masuk, Nak.”
Aku masuk. Aku menutup pintu di belakangku. Papa memperhatikannya, dan senyumnya memudar sedikit.
“Ada apa?”
Aku duduk di kursi di seberang mejanya. Aku membuka tas dan mengeluarkan semuanya satu per satu. Aku meletakkannya di atas meja mahoni, di atas dokumen merger.
Surat persetujuan cerai, dengan tulisan pensil yang setengah terhapus di belakangnya. Kartu penunggu pasien ICU yang menguning, Jam Masuk: 01.20, Hubungan dengan Pasien: Menantu. Slip bank yang memudar, Pengembalian. Saya tidak menerima uang ini. Dan foto ketujuh dari amplop cokelat, foto lift, dengan pantulan di pintu baja yang sudah kulingkari dengan pulpen biru.
Papa menatap semua itu. Lama.
“Apa ini?”
Aku menceritakannya.
Semuanya. Dari amplop cokelat yang Om Hendra berikan padaku sore itu. Wawancara kerja palsu di hotel. Lusi Anggraini dan honor lima belas juta dari Yayasan Keluarga Sinclair. Dua miliar yang dikembalikan pukul 17.08. Ruang tunggu kecil di ujung koridor, Om Hendra berdiri di ambang pintu, kalimat serangan berikutnya bisa fatal, map biru yang disiapkan Mama, tanda tangan pukul 04.15 dengan Om Hendra sebagai saksi. Suster di tangga darurat yang bilang serangannya ringan. WA pukul 09.04, dia bilang akhirnya, dia lega.
Aku tidak menceritakan soal empat belas vendor. Soal tiga ratus empat belas miliar. Soal yayasan. Soal menteri yang dimakan dua hari lalu. Oma bilang jangan. Oma bilang Papa harus percaya dulu pada yang kecil sebelum dia bisa menerima yang besar.
Papa mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tidak berubah. Hanya tangannya, yang tadi memegang pulpen, sekarang meletakkan pulpen itu di meja dengan sangat pelan.
Ketika aku selesai, ruangan itu sunyi.
Papa mengambil kartu penunggu pasien yang menguning. Menatapnya. Hubungan dengan Pasien: Menantu. Dia menatapnya lama sekali.
Lalu dia meletakkannya kembali.
“Hendra,” katanya pelan, “jaga Papa semalaman di rumah sakit.”
“Pa…”
“Hendra yang tidak tidur. Hendra yang bicara dengan dokter. Hendra yang mengurus semua administrasi waktu Papa tidak sadar.” Suaranya rendah, sangat terkendali. “Mamamu bilang begitu. Oma bilang begitu. Hendra sendiri tidak pernah menyebutnya. Dia tidak pernah minta terima kasih.”
“Pa, dia ada di sana karena dia harus memastikan…”
“Hendra adik Papa, Serena.” Papa menatapku. “Papa menggendongnya waktu dia bayi. Papa mengajarinya berenang di Anyer. Papa yang membawanya ke dokter waktu dia patah tangan jatuh dari pohon mangga, karena Opa sedang di proyek dan Oma sedang hamil.” Suaranya mulai bergetar. “Kamu mau bilang adik Papa sendiri…”
“Aku cuma bilang apa yang terjadi, Pa.”
“Berdasarkan apa?” Papa menunjuk benda-benda di atas meja. “Kartu rumah sakit? Slip bank? Tulisan pensil yang tidak bisa dibaca? Cerita seorang tukang roti? Semua ini bisa berarti apa saja!”
“Pa…”
“Kamu mau Papa percaya anak mie ayam itu,” suara Papa naik, “daripada adik Papa sendiri?”
Kalimat itu jatuh di antara kami seperti gelas pecah.
Anak mie ayam itu.
Papa melihat wajahku. Aku tidak tahu wajahku sedang menunjukkan apa. Tapi aku melihat wajahnya sendiri berubah. Seperti seseorang yang baru mendengar kata-katanya sendiri setelah kata-kata itu keluar, dan tidak mengenalinya.
“Rena,” katanya. Lebih pelan. “Bukan itu maksud Papa…”
Lalu dia menekan tangannya ke dada.
Bukan serangan. Aku tahu sekarang. Tapi saat itu, ketika Papa meringis dan tangannya mencengkeram kemejanya di atas jantung, aku tidak tahu apa-apa.
Yang kutahu hanya ruang tunggu ICU. Kursi ketiga dari jendela. Mama yang menangis. Oma dengan tasbih.
Dan suara Om Hendra di kepalaku, enam tahun lalu, yang tidak pernah kudengar langsung tapi sekarang terdengar sangat jelas: serangan berikutnya bisa fatal.
“Papa!”
Aku berdiri sangat cepat sampai kursiku terguling. Aku berlari memutari meja. Papa mengangkat tangan yang lain, menahanku.
“Nggak apa-apa,” katanya, napasnya pendek. “Nggak apa-apa. Cuma… sesak sedikit. Obat. Laci kanan.”
Tanganku gemetar membuka laci kanan. Kotak obat tujuh sekat. Kamis. Aku mengeluarkan satu tablet kecil, memberikannya ke Papa dengan segelas air dari meja. Papa menelannya. Memejamkan mata. Bersandar ke kursi.
Aku berlutut di lantai di sebelahnya dengan tangan di lengannya. Tanganku gemetar sangat hebat.
Aku melakukannya lagi.
Enam tahun lalu, kata Om Hendra, aku dan pernikahanku membuat Papa masuk ICU. Itu bohong. Serangannya ringan. Penyumbatannya kecil. Tapi di malam ini, di ruang kerja Papa, dengan kertas-kertas di atas meja dan Papa memegangi dadanya, aku merasa kebohongan itu menjadi kenyataan. Aku membawa sesuatu ke meja ini, dan sekarang Papa sesak.
Kamu mau dia hidup dengan itu?
“Richard.”
Oma berdiri di ambang pintu. Aku tidak mendengarnya datang. Tongkatnya di satu tangan, tangan yang lain di kusen pintu.
“Duduk yang tegak,” kata Oma. “Tarik napas. Pelan.”
Papa membuka mata. Menegakkan punggung. Menarik napas, pelan, seperti yang diperintahkan ibunya.
Satu menit. Dua. Napasnya kembali teratur. Wajahnya yang abu-abu pelan-pelan berwarna lagi.
“Sudah,” katanya akhirnya. “Sudah, Ma. Nggak apa-apa.”
Oma menatapnya dari ambang pintu. Lalu menatapku, yang masih berlutut di lantai dengan tangan gemetar di lengan Papa.
“Serena,” kata Oma. “Berdiri.”
Aku berdiri.
“Kamu tidak membuat Papamu sakit,” kata Oma. “Dengar Oma baik-baik. Jantung Papamu sudah bermasalah sejak umur empat puluh, karena dia makan sop buntut tiga kali seminggu dan tidak pernah olahraga. Bukan karena kamu. Tidak enam tahun lalu. Tidak malam ini.”
Aku menatap Oma. Aku tidak bisa bicara.
Oma berjalan masuk ke ruangan. Pelan. Tongkatnya berbunyi di lantai. Dia berhenti di depan meja mahoni dan menatap benda-benda di atasnya. Surat cerai. Kartu ICU. Slip bank. Foto lift.
Lalu dia menatap anak sulungnya.
“Richard,” katanya. “Kamu bilang kamu butuh bukti.”
Papa menatap ibunya. “Ma, ini tidak…”
“Kamu bilang,” ulang Oma, sangat tenang, “kamu butuh bukti. Bukan cerita.”
Papa diam lama. Lalu mengangguk pelan.
“Saya butuh bukti, Ma,” katanya. Suaranya lelah. “Bukan cerita lama. Bukan kertas yang bisa berarti apa saja. Kalau Hendra benar-benar melakukan semua ini, saya butuh sesuatu yang tidak bisa dibantah. Sesuatu yang bisa saya pegang.” Dia menatapku. “Maaf, Nak. Papa tidak bisa menghukum adik Papa sendiri berdasarkan… ini.”
Oma mengangguk. Tidak kecewa. Tidak marah. Seperti seseorang yang mendapatkan jawaban yang sudah dia perkirakan.
“Baik,” katanya. “Bukti.”
Dia berbalik dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu dia berhenti, tanpa menoleh.
“Besok,” katanya. “Seseorang akan datang menemuimu, Richard. Di kantor. Jam tujuh pagi, sebelum siapa pun datang. Dengarkan dia.”
“Siapa, Ma?”
Oma menoleh. Matanya kelabu, tenang, dan untuk pertama kalinya malam itu, sangat lembut.
“Menantumu,” katanya.
Lalu dia pergi.
Aku menangis di mobil.
Di parkiran depan rumah Menteng, dengan mesin menyala dan AC terlalu dingin, kepalaku di atas setir. Aku tidak berani menyetir. Tanganku masih gemetar.
Ponselku bergetar. Aku tidak melihatnya. Ponselku bergetar lagi. Dan lagi.
Akhirnya aku mengangkatnya tanpa melihat nama.
“Rena.”
Suaranya. Pelan. Tenang. Seperti permukaan danau.
“Oma telepon aku,” katanya. “Oma bilang Papamu sesak. Oma bilang kamu di mobil.”
“Aku…” Suaraku pecah. “Aku bikin Papa sesak. Aku bawa semua itu ke mejanya dan Papa sesak dan aku kira… aku kira…”
“Rena. Papamu baik-baik saja?”
“Iya. Obat. Sudah. Oma bilang bukan karena aku. Oma bilang sop buntut.” Aku tertawa, basah, di tengah tangis. “Oma bilang Papa makan sop buntut tiga kali seminggu.”
Dia diam sebentar. Lalu aku mendengarnya tersenyum. Aku tidak tahu bagaimana seseorang bisa mendengar senyum lewat telepon, tapi aku mendengarnya.
“Oma benar,” katanya.
“Papa bilang…” Aku menelan ludah. “Papa bilang anak mie ayam itu.”
Hening.
“Lalu Papa langsung minta maaf,” lanjutku cepat. “Aku lihat mukanya. Papa nggak bermaksud…”
“Rena.” Suaranya lembut sekali. “Aku memang anak mie ayam.”
Aku menutup mata.
“Aku anak mie ayam,” katanya lagi, “yang bisa ramal banjir. Yang bisa hitung tiang pancang dari foto drone. Yang punya paten di tiga negara pakai nama anak perempuan Papamu.” Jeda. “Dan besok jam tujuh pagi, anak mie ayam itu mau bicara dengan Papamu.”
“Jangan,” bisikku. “Chakra, jangan. Jantung Papa…”
“Aku bawa data, Rena. Bukan cerita.” Suaranya tidak berubah. Tenang, pasti. “Papamu benar. Dia butuh bukti. Kertas-kertas di meja tadi itu bukti buat kita. Buat kamu dan aku. Itu menjelaskan kenapa kita berpisah. Tapi Papamu butuh bukti lain. Bukti yang menjelaskan siapa adiknya.”
“Kalau Papa sesak lagi…”
“Kalau Papamu sesak, aku yang ambilkan obatnya. Laci kanan. Kotak tujuh sekat.”
Aku membuka mata. “Kamu tahu laci kanan?”
“Aku lihat kotak obat itu di mejanya waktu dia panggil aku dan suruh aku jaga jarak.” Jeda. “Aku pengamat, Rena. Aku selalu lihat.”
Aku menyeka mata dengan punggung tangan. Di luar mobil, lampu teras rumah Menteng menyala kuning. Di jendela lantai dua, di ruang kerja Papa, lampunya masih menyala. Siluet Papa duduk di balik meja, tidak bergerak, menatap sesuatu di tangannya.
Kartu kecil, mungkin. Kartu penunggu pasien yang menguning.
“Chakra.”
“Ya?”
“Enam tahun lalu,” kataku pelan, “ada orang yang berdiri di pintu dan nggak biarin kamu masuk ke ruangan tempat aku ada.”
“Aku ingat.”
“Besok pagi,” kataku, “nggak ada yang berdiri di pintu Papa.”
Hening yang panjang di seberang.
“Aku tahu,” katanya. “Kali ini aku masuk.”
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga reading
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat