Chapter Sixteen

Tanggal di Surat Cerai

POV: Serena


Rapat perjanjian pranikah diadakan di kantor firma hukum keluarga Hartanto di Mega Kuningan, Jumat pukul sepuluh pagi. Pesertanya enam orang, dengan satu draf setebal enam puluh dua halaman.

Marcel duduk di sebelahku dengan jas abu-abu tiga potong dan ekspresi orang yang sedang membaca novel favoritnya. Di seberang meja duduk dua pengacara Hartanto dan Pak Sutedjo, pengacara keluarga Sinclair sejak zaman Opa. Laki-laki tujuh puluh tahun dengan kacamata setebal pantat botol dan suara seperti radio tua.

“Pasal empat belas,” kata pengacara Hartanto yang lebih muda. “Pembagian portofolio investasi yang diperoleh selama perkawinan.”

Marcel mencondongkan badan. Matanya berbinar. “Termasuk obligasi korporasi?”

“Termasuk, Pak.”

“Bagus sekali,” kata Marcel, dan dia menoleh padaku dengan senyum tulus. “Serena, pasal empat belas ini sangat adil. Saya suka cara mereka mengklasifikasikan instrumen pendapatan tetap.”

“Senang mendengarnya, Marcel.”

Dia benar-benar senang. Aku bisa melihatnya. Marcel Hartanto, tiga puluh tiga tahun, lulusan Wharton, pewaris grup bisnis senilai puluhan triliun, sedang membaca perjanjian pranikah kami dengan kegembiraan seorang anak kecil yang menemukan mainan di kotak sereal.

Aku tidak tahu harus merasa iba atau iri.

“Pasal dua puluh tiga,” lanjut si pengacara, lalu berhenti dan berdeham. “Ini… tambahan dari pihak keluarga Hartanto. Atas permintaan Ibu Lidia Hartanto. Ditambahkan kemarin.”

Dia membacakannya dengan suara yang sedikit terlalu datar.

“Pihak Kedua berkomitmen untuk menjaga nama baik keluarga Pihak Pertama, termasuk namun tidak terbatas pada membatasi interaksi non-profesional dengan pihak-pihak yang memiliki riwayat hubungan personal dengan Pihak Kedua.”

Ruangan hening.

Pihak-pihak yang memiliki riwayat hubungan personal. Satu juta empat ratus ribu tayangan TikTok, dirangkum dalam satu kalimat hukum.

Marcel menurunkan draf di tangannya. Wajahnya memerah, dari leher sampai ke dahi.

“Itu ide Mama saya,” katanya cepat, padaku, dengan suara rendah. “Saya sudah minta dihapus. Kemarin malam. Saya bilang itu tidak pantas.” Dia menoleh ke pengacaranya. “Pak Rudi, saya sudah minta pasal ini dihapus.”

“Iya, Pak, tapi Ibu Lidia…”

“Hapus,” kata Marcel. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, suaranya keras. “Tolong.”

Aku menatap Marcel. Dia tidak menatapku. Dia menatap meja, dengan rahang terkatup dan telinga yang merah.

Di bawah meja, aku menyentuh lengannya. Sebentar.

“Terima kasih,” bisikku.

Dia mengangguk kaku, tanpa menoleh.

Aku menyukai Marcel. Aku menyadarinya saat itu. Aku menyukainya seperti orang menyukai sepupu yang baik, atau rekan kerja yang selalu tepat waktu. Dia baik. Dia sopan. Dia membela aku di depan ibunya sendiri.

Dan aku tidak pernah sekali pun ingin menggenggam tangannya di bawah hujan.


“Satu hal lagi, Bu Serena,” kata Pak Sutedjo setelah rapat selesai. Semua orang membereskan berkas dan Marcel sudah keluar untuk menelepon ibunya dengan suara yang terdengar seperti pertengkaran sopan. “Untuk kelengkapan administrasi, pihak Hartanto memerlukan salinan akta cerai dan surat-surat terkait perceraian Ibu sebelumnya. Asli dan legalisir.”

Perceraian Ibu sebelumnya. Seperti membicarakan kontrak yang sudah kedaluwarsa.

“Bukannya Bapak yang pegang, Pak Sutedjo?”

“Salinan akta cerainya ada di kantor saya, Bu. Tapi berkas lengkapnya, surat persetujuan dan dokumen pendukung, saya serahkan ke Pak Richard enam tahun lalu. Atas permintaan beliau.” Pak Sutedjo melepas kacamatanya dan mengelapnya dengan sapu tangan. “Saya rasa ada di lemari arsip pribadi keluarga.”


Lemari arsip pribadi keluarga Sinclair ada di ruang kerja Opa, di lantai dua rumah Menteng. Ruang itu tidak pernah dipakai lagi sejak Opa meninggal sebelas tahun lalu. Pintunya selalu terkunci. Hanya ada dua kunci, satu dipegang Papa dan satu dipegang Oma.

Papa sedang di Surabaya sampai Minggu.

Jadi Jumat sore aku mengetuk pintu kamar Oma.

“Masuk.”

Oma sedang duduk di kursi goyang di depan jendela dengan buku di pangkuan. Bukan novel. Buku teka-teki catur, dengan halaman yang penuh coretan pensil.

“Oma, aku perlu kunci ruang kerja Opa. Pak Sutedjo bilang berkas perceraianku ada di lemari arsip.”

Oma tidak langsung menjawab. Dia menyelesaikan langkah di buku caturnya, menulis sesuatu dengan pensil, lalu menutup bukunya dengan pelan.

“Untuk perjanjian pranikah?”

“Iya, Oma.”

Oma menatapku lama dengan mata kelabunya. Lalu dia membuka laci meja kecil di sebelah kursi goyang dan mengeluarkan sebuah kunci kuningan tua dengan gantungan berbentuk benteng catur.

“Lemari ketiga dari kiri,” katanya, menyerahkan kunci itu. “Laci paling bawah. Map biru.”

Aku menatapnya. “Oma tahu persis di mana letaknya?”

“Oma tua, Sayang. Bukan pikun.” Dia kembali membuka buku caturnya. “Dan Serena.”

“Ya, Oma?”

“Baca semuanya,” katanya tanpa mengangkat mata dari papan catur di halaman. “Jangan cuma yang kamu cari.”


Ruang kerja Opa berbau kayu tua, kertas lama, dan cerutu yang sudah sebelas tahun tidak dinyalakan. Debu tipis menyelimuti meja jati besar di tengah ruangan. Di dinding ada foto Opa dan Oma muda di depan truk pertama SC, dua orang dengan senyum yang terlalu lebar untuk orang yang hanya punya dua truk.

Lemari ketiga dari kiri. Laci paling bawah. Map biru.

Map itu tipis. Lebih tipis dari yang kuduga untuk mengakhiri sebuah pernikahan.

Di dalamnya ada salinan akta cerai dari Pengadilan Agama, yang terbit empat bulan setelah semuanya selesai. Fotokopi buku nikah kami. Aku tidak sanggup menatap foto kecil di halaman itu: dua orang berumur dua puluh lima tahun yang tersenyum terlalu lebar, persis seperti Opa dan Oma di depan truk. Lalu surat-surat dari Pak Sutedjo. Lalu kuitansi.

Dan surat persetujuan cerai. Dokumen yang dikirim pengacara keluarga ke apartemen Kalibata pagi itu. Dokumen yang ditandatangani Chakra dan diantarkan kembali kepadaku keesokan harinya.

Aku tidak pernah membacanya dengan teliti. Enam tahun lalu aku hanya melihat tanda tangannya. Tanda tangan rapi dan miring ke kanan itu, di kolom yang seharusnya. Lalu aku menutup map itu dan tidak pernah membukanya lagi.

Sekarang aku membacanya.

Halaman satu. Halaman dua. Pernyataan bahwa kedua belah pihak sepakat bercerai secara baik-baik. Pernyataan bahwa Pihak Kedua, Chakra Wirasena, tidak menuntut harta gono-gini, nafkah, atau kompensasi dalam bentuk apa pun.

Tidak menuntut kompensasi dalam bentuk apa pun.

Aku membaca kalimat itu dua kali. Dua miliar rupiah, kata bukti transfer di amplop cokelat itu. Kompensasi penyelesaian. Tapi di sini, di dokumen hukum yang dia tanda tangani sendiri, dia menolak kompensasi dalam bentuk apa pun.

Mungkin itu formalitas. Mungkin pengacara memang selalu menulis begitu. Mungkin…

Halaman tiga. Kolom tanda tangan.

Tanda tangan Chakra, miring ke kanan, rapi. Di bawahnya, tulisan tangan Pak Sutedjo yang miring-miring dan sulit dibaca, di kolom yang tercetak Tempat dan waktu penandatanganan:

RS Pondok Indah, Jakarta Selatan. Pukul 04.15 WIB.

Dan tanggalnya.

Tanggal itu.

Aku mengenal tanggal itu. Semua orang di keluarga ini mengenal tanggal itu. Tanggal Papa terkena serangan jantung di ruang kerjanya di lantai 50, pukul sembilan malam, dan dilarikan ke RS Pondok Indah. Tanggal ketika aku duduk di ruang tunggu ICU dengan gaun yang masih basah oleh air mata dan amplop cokelat yang masih di dalam tas. Tanggal ketika Mama memelukku dan menangis, dan Oma duduk diam dengan tasbih di tangan, dan Om Hendra berjalan mondar-mandir di koridor sambil menelepon.

Pukul dua pagi, Mama memaksaku pulang untuk istirahat. Papa stabil, Sayang. Kamu pulang dulu. Om Hendra yang jaga di sini.

Aku pulang pukul dua.

Pukul empat lewat lima belas, di rumah sakit yang sama, Chakra menandatangani surat cerai kami.

Aku menatap tulisan itu sampai hurufnya berenang.

Dia ada di sana. Di rumah sakit. Di malam yang sama. Dua jam setelah aku pergi.

Kenapa? Kenapa dia ada di rumah sakit? Kenapa dia menandatanganinya di sana, jam empat pagi, dan bukan di apartemen, di kantor pengacara, di mana pun? Kenapa tidak ada seorang pun yang pernah bilang bahwa dia datang?

Mataku turun ke kolom berikutnya.

Saksi.

Satu tanda tangan. Melingkar, besar, dengan coretan panjang di akhir, tanda tangan yang kulihat di setiap memo internal SC Construction selama lima tahun aku menjadi CEO. Di bawahnya, nama yang diketik:

Hendra Sinclair.

Map biru itu jatuh dari pangkuanku ke lantai kayu. Kertas-kertas berhamburan. Buku nikah. Akta cerai. Kuitansi.

Aku tidak memungutnya.

Om Hendra. Om Hendra yang malam itu jaga di sini. Om Hendra yang keesokan harinya, ketika Mama bertanya anak itu datang nggak, menggeleng dengan wajah sedih dan bilang, nggak, Mbak. Nggak kelihatan sama sekali. Mungkin dia memang nggak peduli.

Aku ingat kalimat itu. Aku ingat karena kalimat itu yang membuatku berhenti menangis malam itu. Kalimat itu yang mengubah tangisku menjadi kebencian. Dia nggak peduli. Papa di ICU dan dia nggak peduli.

Tapi dia datang. Dia ada di sana. Dan Om Hendra menjadi saksi tanda tangannya.

Lalu Om Hendra bilang dia tidak datang.


Aku duduk di lantai ruang kerja Opa selama satu jam.

Aku mencoba menjelaskannya. Aku pandai menjelaskan. Lima tahun menjadi CEO membuatku ahli menjelaskan angka yang tidak masuk akal kepada direksi yang skeptis.

Mungkin Om Hendra lupa. Malam itu kacau, Papa hampir meninggal, semua orang panik. Mungkin Om Hendra tidak ingat dia menandatangani sesuatu jam empat pagi. Mungkin.

Mungkin Om Hendra melindungiku. Mungkin dia pikir, kalau aku tahu Chakra datang ke rumah sakit, aku akan goyah. Aku akan kembali kepada laki-laki yang menerima uang dua miliar dan berselingkuh dengan perempuan berambut pendek di lobi hotel. Mungkin Om Hendra hanya ingin aku sembuh lebih cepat. Mungkin.

Mungkin.

Aku mengumpulkan kertas-kertas yang berhamburan. Pelan. Satu per satu. Buku nikah. Akta cerai. Kuitansi. Surat persetujuan.

Di balik surat persetujuan, di bagian belakang halaman tiga, ada sesuatu yang tidak kulihat tadi. Coretan pensil, sangat tipis, hampir terhapus. Seperti seseorang menulis sesuatu lalu berusaha menghapusnya dengan karet, tapi tidak berhasil sepenuhnya.

Aku memiringkan kertas itu ke arah cahaya jendela.

Huruf-hurufnya miring ke kanan. Rapi. Tulisan tangan yang kukenal dari ribuan sticky note di kulkas apartemen Kalibata, dari kartu ulang tahun, dari catatan kecil di bekal makan siangku.

Jaga Papa. Jangan nyalahin diri sendiri.

Hanya itu. Dihapus. Ditulis jam empat pagi di rumah sakit, di balik surat cerai, lalu dihapus sebelum diserahkan.

Aku menekan kertas itu ke dadaku.

Aku tidak menangis. Aku tidak tahu kenapa aku tidak menangis. Mungkin karena terlalu banyak yang harus dipikirkan sehingga tubuhku lupa caranya. Mungkin karena kalau aku mulai menangis sekarang, di ruang kerja Opa, di lantai kayu yang berdebu, aku tidak akan bisa berhenti.

Aku memasukkan surat itu ke tasku. Hanya surat itu. Sisanya kukembalikan ke map biru, ke laci paling bawah, lemari ketiga dari kiri.

Lalu aku keluar, mengunci pintu ruang kerja, dan berjalan ke kamar Oma.

Oma masih di kursi goyang. Buku caturnya terbuka di halaman yang sama.

Aku menyerahkan kuncinya. Oma mengambilnya tanpa bicara dan memasukkannya kembali ke laci.

“Sudah kamu baca semuanya?” tanyanya.

“Sudah, Oma.”

Oma mengangguk. Dia tidak bertanya apa yang kutemukan. Dia hanya menatapku dengan mata kelabu yang tenang, terlalu tenang. Seperti seseorang yang sudah lama menunggu bidak tertentu bergerak ke petak tertentu.

“Oma,” kataku pelan, “Oma tahu?”

Oma kembali menunduk ke buku caturnya. Pensilnya bergerak di atas halaman.

“Oma tahu banyak hal, Sayang,” katanya. “Tapi di catur, tahu itu tidak cukup. Kamu harus bisa membuktikannya di papan.”


Aku menelepon Mama dari mobil.

“Ma. Waktu Papa di ICU, enam tahun lalu. Chakra datang?”

Hening di seberang. Lalu suara Mama, hati-hati, seperti orang yang menginjak lantai yang mungkin berlubang. “Kenapa tiba-tiba tanya itu, Sayang?”

“Jawab aja, Ma.”

“Nggak. Om Hendra yang jaga di luar semalaman. Dia bilang anak itu nggak kelihatan sama sekali.” Mama diam sebentar. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa, Ma.”

“Serena…”

“Nggak apa-apa.” Aku menutup telepon.

Di kursi depan, Pak Udin menyetir dalam diam. Dari spion tengah, matanya menatapku sekilas. Lalu dia bertanya, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun bekerja untuk keluarga ini, pertanyaan yang bukan soal arah atau jadwal.

“Ke Senopati, Bu? Atau ke kantor?”

Aku menatap jendela. Jakarta sudah gelap. Lampu-lampu Sudirman berkedip.

“Ke kantor, Pak Udin.”


Pukul sepuluh malam, lantai 38 masih menyala.

Hanya satu ruangan. Ruang kaca di ujung, dengan sofa hijau tua di luarnya yang kosong. Bagas, Tiara, dan Yudis sudah pulang. Di dalam ruang kaca itu, Chakra duduk sendirian di balik mejanya dengan lengan kemeja digulung dan kacamata yang melorot ke ujung hidung, menatap layar laptop.

Di sebelah laptopnya ada rantang. Terbuka. Mie ayam yang sudah dingin, separuh dimakan, sumpit tergeletak di atasnya seperti dilupakan.

Dia terlihat lelah. Sangat lelah. Lebih lelah dari yang pernah kulihat sejak dia kembali, bahkan lebih dari malam banjir. Bahunya sedikit membungkuk. Ada bayangan gelap di bawah matanya. Tangannya mengusap wajah sekali, lambat, seperti orang yang sedang memikul sesuatu yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.

Aku berdiri di luar dinding kaca, menatapnya, lama.

Jaga Papa. Jangan nyalahin diri sendiri.

Dia mendongak. Melihatku. Untuk sepersekian detik wajahnya terbuka, kaget, lelah, dan sesuatu yang sangat lembut. Lalu dia cepat-cepat menutup laptopnya.

Aku mengetuk pintu kaca. Dia mengangguk. Aku masuk.

“Bu,” katanya, berdiri. “Ada apa? Sudah malam.”

“Kamu juga belum pulang.”

“Ada yang harus saya selesaikan.”

Aku menatap laptop yang tertutup. Lalu menatap mie ayam yang dingin.

“Kamu belum makan.”

“Sudah, Bu. Sedikit.”

“Itu bukan makan. Itu memindahkan mie dari mangkuk ke perut dengan setengah hati.”

Dia tersenyum. Lelah, tapi tulus.

Aku duduk di kursi di seberang mejanya. Menarik rantang itu ke arahku. Mengambil sumpitnya. Lalu, tanpa bicara, aku mengambil mie dengan sumpit dan menyodorkannya ke depan wajahnya.

Dia menatap sumpit itu. Lalu menatapku.

“Bu…”

“Buka mulut.”

“Saya bisa makan sendiri, Bu.”

“Kamu bisa. Tapi kamu nggak mau. Buka mulut.”

Dia membuka mulut. Aku menyuapinya. Mie ayam dingin, kuahnya sudah mengental. Dia mengunyah perlahan, menatapku dengan mata yang aku tidak tahu harus kuterjemahkan sebagai apa.

Aku menyuapinya lagi. Dan lagi. Dia tidak protes. Kami tidak bicara. Hanya sumpit, mie, dan dengung AC yang diprogram terlalu dingin.

Setelah suapan ketujuh, aku meletakkan sumpit.

“Chakra.”

“Ya?”

“Malam itu,” kataku pelan, “kamu di mana?”

Dia membeku.

“Malam yang mana, Bu?”

“Malam Papa masuk ICU.”

Hening. Panjang sekali. Di luar dinding kaca, lampu lorong berkedip sekali.

Lalu dia mendorong kacamatanya ke atas hidung dengan satu jari.

Dua kali.

“Saya di rumah, Bu,” katanya. “Di kontrakan Ibu.”

Aku menatapnya.

Chakra mendorong kacamatanya sekali setiap kali dia akan bicara soal angka. Itu kebiasaannya. Itu yang semua orang lihat.

Tapi dia hanya mendorong kacamatanya dua kali kalau dia berbohong. Aku tahu, karena aku pernah menjadi istrinya. Karena di ulang tahunku yang kedua puluh lima, dia bilang hadiahnya cuma kartu ucapan, maaf ya, bulan ini lagi tipis, lalu mendorong kacamatanya dua kali. Dan di dalam kartu itu ada kalung perak kecil berbentuk bunga matahari yang dia beli dengan menabung tiga bulan.

Kalung itu masih ada. Di kotak perhiasanku, di laci paling bawah, di bawah semua perhiasan mahal yang dibelikan Mama.

“Oh,” kataku.

Hanya itu.

Aku tidak mendesaknya. Aku tidak mengeluarkan surat dari tasku. Aku tidak bertanya kenapa dia menandatangani surat cerai kami di rumah sakit jam empat pagi, dan kenapa Om Hendra menjadi saksinya, dan kenapa dia menulis jaga Papa lalu menghapusnya.

Belum.

Kata Oma, tahu itu tidak cukup. Aku harus bisa membuktikannya di papan.

Aku berdiri. Merapikan rantang. Menutupnya.

“Habiskan besok pagi,” kataku. “Panaskan dulu.”

“Iya, Bu.”

Aku berjalan ke pintu. Di ambang pintu, aku berhenti. Tanpa berbalik.

“Chakra.”

“Ya?”

“Kacamatamu,” kataku. “Kamu dorong dua kali.”

Aku tidak menunggu reaksinya. Aku keluar, berjalan ke lift, dan menekan tombol lobi.

Pintu kuningan menutup. Lift turun.

Aku membuka tas dan mengeluarkan surat itu. Aku menatap tulisan pensil yang setengah terhapus di bagian belakangnya, di bawah lampu lift yang terlalu terang.

Jaga Papa. Jangan nyalahin diri sendiri.

Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku tidak bertanya-tanya apakah aku masih mencintainya.

Aku bertanya-tanya, selama ini, aku sudah membenci orang yang salah atau tidak.