Chapter Ten
Gala Lantai 50
POV: Serena
“Punggungnya,” kata Mama untuk keempat kalinya, “terlalu terbuka, Sayang.”
“Ma.”
“Ini acara perusahaan. Ada komisaris. Ada pers. Ada keluarga Hartanto.”
“Ma, ini Elie Saab. Mama sendiri yang pesan dari Paris.”
“Mama pesan yang ada lengannya!”
“Lengannya ada, Ma.” Aku mengangkat tangan kanan. Lengan panjang dari tulle biru malam yang hampir transparan, bertabur payet kecil seperti langit di atas pantai. “Dua-duanya ada.”
“Punggungnya yang nggak ada!”
Aku menatap cermin besar di ruang rias lantai 49. Gaun itu biru malam, jatuh lurus sampai ke lantai, dengan leher tinggi di depan yang sopan dan sangat tertutup. Di belakang, punggungnya terbuka dari tengkuk sampai ke pinggang, hanya disilang dua untai mutiara tipis. Rambutku disanggul rendah, ada beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh di leher, dan antingku mutiara Oma.
Aku terlihat seperti malam yang sedang memutuskan untuk berbuat dosa.
Aku sangat puas.
“Vivian,” kata suara dari sofa di sudut ruangan. Oma Margaret duduk di sana dengan gaun beludru hitam dan cangkir teh, seperti ratu yang menonton pertunjukan yang tidak terlalu penting. “Biarkan saja. Dulu waktu umurku tiga puluh dua, aku pakai yang lebih terbuka dari itu ke pesta duta besar Prancis. Opamu langsung melamarku malam itu juga.”
Mama menatap Oma dengan wajah menantu yang sudah empat puluh tahun kalah debat. “Ma, Serena sudah ada calon tunangannya.”
“Tepat,” kata Oma, menyesap tehnya. “Jadi gaun itu bukan untuk dia.”
Hening.
Mama membuka mulut. Menutupnya. Membukanya lagi.
Aku pura-pura sangat sibuk memasang gelang.
Sky Hall di lantai 50 malam itu seperti bagian dalam kotak perhiasan.
Langit-langitnya digantungi ribuan lampu kristal kecil. Dinding kacanya menampilkan Jakarta seperti lautan cahaya di bawah kaki. Empat ratus tamu: direksi, komisaris, mitra bisnis, pejabat, pers, sosialita yang tidak jelas hubungannya dengan SC Group tapi selalu muncul di setiap acara dengan gaun yang lebih mahal dari gaji setahun karyawan gerai. Ada orkestra kecil di sudut, memainkan musik jazz pelan. Pelayan berjas putih berseliweran membawa sampanye dan kanape yang terlalu kecil untuk dimakan dengan martabat.
Aku masuk bersama Papa dan Mama pukul tujuh lewat lima belas. Kilatan kamera menyala dari arah pers. Aku tersenyum, mengangguk, menjabat tangan, mencium pipi. Aku tahu urutannya di luar kepala. Aku sudah melakukan ini sejak umur delapan belas.
Marcel menemukanku dalam empat menit. Tuksedo hitam, dasi kupu-kupu hitam yang terikat sempurna, rambut dengan pomade yang jumlahnya mengkhawatirkan. Dia mencium pipiku dengan sopan, kiri lalu kanan.
“Serena. Kamu cantik sekali malam ini.”
“Terima kasih, Marcel.”
Matanya turun sedikit ke leher tinggi gaunku, dan dia mengangguk puas. Dia belum melihat bagian belakangnya.
“Ayah saya ingin bicara denganmu sebelum pengumuman,” katanya. “Soal susunan acara. Dan soal merger. Dia ingin memastikan semuanya…”
Aku tidak mendengar sisa kalimatnya.
Karena di pintu masuk Sky Hall, dua orang baru saja tiba, dan seluruh sisi kiri ruangan menoleh serempak, seperti bunga matahari yang menemukan matahari.
Chakra memakai tuksedo hitam. Pas. Sangat pas. Seperti dijahit oleh seseorang yang memahami bahwa bahu laki-laki adalah sebuah argumen. Kemeja putihnya berkancing mutiara kecil. Kacamatanya tetap bingkai tipis keperakan. Rambutnya disisir lebih rapi dari biasanya, tapi satu helai jatuh di dahinya, seperti tanda tangan kecil yang tidak bisa dihapus.
Di sebelahnya, Arini Tjandra memakai gaun merah. Merah menyala, off-shoulder, panjang, dengan belahan di sisi kiri yang memperlihatkan kaki jenjang setiap kali dia melangkah. Rambut pendeknya disisir ke belakang dan berkilau. Lipstiknya merah yang sama dengan gaunnya.
Mereka terlihat seperti sampul majalah. Sampul majalah yang membuatku ingin membakar majalahnya.
Di sekitarku, aku mendengar bisikan-bisikan. Seorang istri direktur Hartanto Group berbisik ke temannya: Itu siapa? Yang kacamata? Temannya menjawab: Kepala AI-nya SC. Yang viral waktu banjir itu. Lalu: Ya ampun. Di TikTok nggak seganteng itu. Lalu: Yang merah pacarnya?
Aku meneguk sampanyeku sampai habis.
“Serena?” kata Marcel. “Kamu dengar?”
“Ayahmu. Susunan acara. Merger,” kataku. “Aku dengar.”
Aku tidak mendekatinya. Tentu saja tidak. Dia yang mendekatiku.
Pukul delapan kurang sepuluh, ketika Marcel sedang ditarik ayahnya untuk bertemu seorang menteri, aku berdiri sendirian di dekat meja dessert. Aku sedang memegang gelas sampanye kedua dan mencoba tidak memperhatikan bahwa Arini sedang tertawa bersama Oma Margaret di seberang ruangan. Oma, dari semua orang. Oma tertawa. Oma tidak pernah tertawa di pesta.
“Selamat malam, Bu.”
Aku tidak menoleh. “Selamat malam, Pak Chakra.”
Dia berdiri di sebelahku, menghadap meja dessert yang sama, seperti dua orang asing yang kebetulan tertarik pada éclair yang sama.
Aku meliriknya. Lalu melirik lehernya.
Dasi kupu-kupu. Hitam, simetris, sempurna. Terlalu sempurna.
“Dasi kupu-kupu jepit,” kataku. “Murahan.”
Dia tersenyum ke arah éclair. “Efisien, Bu.”
“Efisien?”
“Nggak butuh orang lain untuk mengikatnya.” Dia mengambil satu macaron. “Nggak butuh alasan.”
Gelas sampanye di tanganku berhenti di tengah jalan ke bibir.
Lalu dia menoleh padaku. Matanya turun dari wajahku, ke leher tinggi gaunku, ke lengan tulle yang bertabur payet, lalu kembali ke atas. Tatapannya sopan, sepenuhnya sopan, kecuali bagian ketika matanya kembali ke wajahku dan tinggal di bibirku setengah detik lebih lama dari yang seharusnya.
Aku berbalik. Pelan. Pura-pura mencari pelayan.
Dan dengan begitu, punggungku menghadapnya.
Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi aku mendengar macaron yang dia pegang jatuh ke lantai.
Aku tersenyum ke arah pelayan yang lewat, mengambil gelas sampanye ketiga, dan berjalan pergi tanpa menoleh.
Pukul delapan lewat seperempat, orkestra berhenti. Lampu meredup. Satu lampu sorot menyinari podium kecil di depan dinding kaca.
Om Hendra naik ke podium dengan senyum hangat dan gelas sampanye di tangan.
“Bapak-Ibu, hadirin yang terhormat.” Suaranya hangat dan bersahabat, suara paman favorit semua orang. “Empat puluh tahun lalu, ayah saya dan ibu saya, Ibu Margaret Sinclair yang malam ini masih secantik dulu…”
Tepuk tangan. Oma mengangkat gelas tehnya, tanpa senyum.
“…memulai sebuah perusahaan konstruksi kecil dengan dua truk dan satu mimpi besar. Malam ini, SC Group berdiri dengan sembilan ribu delapan ratus gerai SinMart, ribuan kilometer jalan yang kami bangun, dan ribuan truk yang setiap hari menggerakkan perekonomian Indonesia.”
Tepuk tangan lagi. Lebih keras.
“Dan malam ini,” Om Hendra tersenyum ke arah meja keluarga, “saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan dua kabar bahagia sekaligus.”
Aku tahu apa yang akan datang. Aku sudah tahu sejak tiga minggu lalu. Tapi tetap saja perutku menegang seperti sedang naik roller coaster yang tiba-tiba turun.
“Pertama, SC Group dan Hartanto Group akan segera menandatangani perjanjian kerja sama strategis, yang akan membawa kedua grup ini ke level berikutnya.”
Tepuk tangan meriah. Benny Hartanto, ayah Marcel, mengangkat gelas dengan senyum lebar.
“Dan kedua,” Om Hendra mengangkat gelasnya lebih tinggi, “yang lebih membahagiakan lagi, keponakan saya tercinta, Serena Sinclair, akan resmi bertunangan dengan Marcel Hartanto. Empat minggu dari hari ini.”
Lampu sorot berpindah dan jatuh padaku.
Silau. Hangat. Empat ratus kepala menoleh. Kilatan kamera. Tepuk tangan yang bergemuruh seperti hujan. Marcel muncul di sisiku entah dari mana dan menggenggam tanganku. Mama menangis bahagia di meja keluarga. Papa tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya.
Aku tersenyum. Senyum yang sempurna, senyum yang sudah kulatih bertahun-tahun di depan cermin, senyum untuk kamera dan majalah dan gosip sosialita.
Di balik silau lampu sorot, mataku mencari seseorang.
Aku menemukannya di dekat dinding kaca, setengah tersembunyi di balik pilar. Dia berdiri dengan satu tangan di saku, satu tangan memegang gelas sampanye. Dia mengangkat gelas itu ke arahku. Bersulang. Dia tersenyum. Senyum yang sama sopannya, sama tenangnya, sama sempurnanya dengan senyumku.
Lalu dia menurunkan gelasnya, menatap isinya sebentar, dan tidak meminumnya.
Dansa pertama adalah untuk pasangan yang akan bertunangan. Tentu saja.
Orkestra memainkan lagu waltz pelan. Marcel membawaku ke tengah lantai dansa dengan genggaman sopan, satu tangan di tanganku, satu tangan di punggungku.
Lalu dia merasakan kulit, dan dia membeku.
“Oh,” katanya. Tangannya bergeser cepat dari punggungku yang terbuka ke pinggangku yang tertutup kain. “Maaf. Saya tidak tahu gaunmu…”
“Nggak apa-apa, Marcel.”
Kami berdansa. Marcel berdansa seperti dia bicara: rapi, benar, sesuai buku. Dia menghitung langkahnya dengan bibir yang bergerak tanpa suara, satu-dua-tiga, satu-dua-tiga, dan matanya terus melihat ke bawah, ke kaki kami, untuk memastikan tidak ada yang salah.
“Kamu tahu,” katanya di tengah lagu, “imbal hasil obligasi pemerintah tenor sepuluh tahun minggu ini turun lima basis poin. Ayah bilang itu momen yang bagus untuk penerbitan obligasi korporasi setelah merger.”
“Oh ya?”
“Ya. Maaf, saya bicara soal obligasi lagi.”
“Nggak apa-apa.”
Satu-dua-tiga. Aku menatap melewati bahunya. Pasangan-pasangan lain mulai bergabung di lantai dansa. Pak Darmawan dengan istrinya. Om Hendra dengan Tante Ratna. Dan di tepi lantai dansa, Arini sedang menarik tangan Chakra, tertawa, mengajaknya turun.
Chakra menggeleng. Dia bilang sesuatu ke Arini. Arini cemberut dengan cara yang lucu, lalu menyerah dan berbalik untuk mengajak Bagas, yang memakai tuksedo sewaan kebesaran dan langsung pucat seperti mau pingsan.
Chakra tidak menatap Arini. Dia menatap lantai dansa. Menatapku. Menatap tangan Marcel di pinggangku.
Lalu dia meletakkan gelasnya di nampan pelayan yang lewat dan mulai berjalan.
Langkahnya tenang dan tidak terburu-buru, menembus kerumunan seperti orang yang sedang menuju lift. Dia berhenti di samping kami, tepat ketika orkestra berpindah ke lagu kedua.
“Maaf, Pak Marcel.” Suaranya sopan, hangat, sepenuhnya profesional. “Saya perlu bicara sebentar dengan Bu Serena. Ada data urgen.”
Marcel berhenti menghitung langkah. Dia menatap Chakra dengan bingung yang sopan. “Data urgen? Jam segini? Di tengah pesta?”
“Data nggak kenal jam, Pak.”
Marcel menatapku, minta pertolongan. Aku menatap Chakra. Chakra menatapku dengan wajah polos ilmuwan yang sedang menyampaikan laporan penting.
“Tentu,” kataku pada Marcel. “Sebentar saja.”
Marcel melepaskan tanganku dengan sopan, membungkuk sedikit, lalu mundur ke tepi lantai dansa. Di sana dia langsung disergap seorang tante sosialita yang ingin tahu tanggal pastinya.
Chakra mengulurkan tangan.
Aku menatap tangan itu. Jari-jari panjang, kuku pendek, bekas tinta biru yang samar di sela jari tengah.
Aku menaruh tanganku di sana.
Dia tidak menghitung langkah.
Itu hal pertama yang kusadari. Dia tidak menghitung, tidak menunduk ke kaki, tidak ragu. Dia memelukku masuk ke irama musik seperti dulu, di kontrakan Ibu, di ruang tamu tiga kali tiga meter, dengan radio tetangga yang memutar dangdut koplo dan kami berdansa slow dengan sengaja, melawan irama, tertawa sampai Gendis yang masih SMA keluar dari kamar dan bilang kami menjijikkan.
Tangannya di punggungku.
Bukan di pinggang. Di punggung, di kulit, telapak tangannya yang hangat dan lebar menempel tepat di tengah tulang belakangku, di antara dua untai mutiara. Dia tidak bergeser. Dia tidak minta maaf. Dia hanya meletakkan tangannya di sana seolah tempat itu memang miliknya, seolah tidak pernah ada enam tahun yang memisahkan.
Seluruh tubuhku merinding. Dari tengkuk sampai ke jari kaki.
“Data urgen apa?” tanyaku. Suaraku keluar lebih rendah dari yang kuinginkan.
Dia memutarku pelan. Gaunku berayun, payet-payetnya berkilau di bawah lampu kristal.
“Probabilitas Ibu menginjak kaki Pak Marcel di lagu berikutnya,” katanya serius, “delapan puluh tujuh persen. Saya menyelamatkan aset perusahaan.”
Aku menahan tawa. Menahannya dengan sangat keras sampai dadaku sakit. Lalu, dengan sengaja, aku menginjak kakinya. Hak sepatuku yang sembilan senti mendarat tepat di ujung sepatunya.
Dia tidak berhenti berdansa. Dia hanya mengerjap sekali.
“Sekarang,” kataku manis, “kaki kamu yang aku injak.”
“Silakan.” Dia menarikku sedikit lebih dekat. Tangannya di punggungku menekan pelan. “Saya sudah terbiasa.”
Kami berdansa. Di sekitar kami, pasangan-pasangan lain berputar, lampu kristal berkilau, orkestra memainkan lagu yang aku tidak tahu judulnya. Aku hanya tahu bahwa ibu jarinya bergerak, sangat pelan, nyaris tidak terasa, menggambar garis kecil di kulit punggungku. Satu senti ke kiri. Satu senti ke kanan.
“Tanganmu,” bisikku, “turun dua senti.”
Ibu jarinya berhenti. “Maaf.”
Dia mulai menaikkan tangannya.
“Aku nggak bilang suruh naik,” kataku.
Dia membeku di tengah langkah. Hanya sepersekian detik. Lalu dia melanjutkan dansa seolah tidak terjadi apa-apa, tapi aku bisa merasakan jantungnya berdebar di bawah telapak tanganku yang bertumpu di dadanya. Cepat. Sangat cepat.
Delapan puluh tujuh persen, katanya tadi. Aku ingin tahu berapa persen kemungkinan jantung laki-laki ini meledak di lantai dansa.
Lagu berakhir. Dia melepaskanku. Sopan, mundur satu langkah, membungkuk sedikit seperti yang dilakukan Marcel tadi.
“Terima kasih, Bu.”
Lalu dia berbalik dan berjalan pergi, menembus kerumunan, meninggalkanku berdiri di tengah lantai dansa dengan punggung yang masih terasa hangat di tempat telapak tangannya tadi menempel.
Aku keluar ke balkon pukul sepuluh lewat dua puluh.
Bukan untuk mencarinya. Aku butuh udara. Sky Hall terlalu panas, terlalu ramai, terlalu banyak orang yang ingin tahu tanggal pertunanganku dan warna kebayaku dan apakah benar aku akan pindah ke rumah keluarga Hartanto di Pondok Indah setelah menikah.
Balkon lantai 50 sepi. Angin malam Jakarta bertiup hangat, membawa bau hujan yang belum turun. Di bawah sana kota berkilau seperti seseorang menumpahkan sekantong berlian di atas beludru hitam.
Aku berdiri di pagar kaca, memegang gelas sampanye keempat yang belum kuminum, dengan dua tangan.
“Selamat, Bu.”
Tentu saja dia ada di sini. Tentu saja.
Dia berdiri tiga meter di belakangku, di ambang pintu balkon, dengan tangan di saku dan cahaya Sky Hall di punggungnya, sehingga wajahnya setengah gelap.
Aku tidak berbalik. “Selamat untuk apa?”
“Untuk pertunangannya.” Dia berjalan mendekat. Berhenti di pagar, satu meter di sebelahku. “Dan untuk malam ini. Semua orang bilang Ibu yang paling cantik di ruangan.”
“Semua orang juga bilang kamu yang paling ganteng.” Aku menatap kota di bawah. “Selamat, Pak. Malam ini semua perempuan di ruangan itu ngelirik Bapak.”
“Semua?”
“Kecuali saya.”
Dia diam sebentar. Lalu dia tertawa pelan. Bukan tawa mengejek, tapi tawa yang hangat dan lelah.
“Iya,” katanya. “Ibu nggak ngelirik.” Dia menoleh padaku. “Ibu ngeliatin. Dari jam delapan.”
Aku menoleh cepat. “Kamu kepedean.”
“Saya pakar pola, Bu.” Dia mendorong kacamata dengan satu jari, gerakan kecil yang selalu membuatku ingin melepas kacamata itu dan melemparnya ke jurang. “Dan pola Ibu nggak pernah berubah dari dulu. Tiap cemburu, Ibu pegang gelas pakai dua tangan.”
Aku menunduk.
Dua tangan. Gelas sampanye keempat yang belum kuminum itu kupegang dengan dua tangan, erat, di depan dada, seperti anak kecil memegang boneka.
Aku tidak tahu sejak kapan. Aku tidak sadar.
Aku melepaskan satu tangan dengan cepat, terlalu cepat, sampai sampanye di gelas bergoyang dan tumpah sedikit ke lantai balkon.
Dia tidak tertawa. Dia hanya menatapku dengan mata yang terlalu lembut untuk orang yang baru saja menang.
Dadaku terasa panas. Mataku terasa panas. Semuanya terasa panas, dan aku tidak tahu harus kubuang ke mana, jadi aku membuangnya kepadanya seperti biasa.
“Aku benci kamu,” kataku.
Suaraku bergetar. Aku benci suaraku bergetar.
Chakra menatapku lama. Angin malam meniup helai rambut yang jatuh di dahinya.
“Iya,” katanya pelan. “Dulu juga kamu bilang gitu.”
Dia diam sebentar.
“Tiap mau minta dipeluk.”
Seluruh kota di bawah kami seperti berhenti berkedip.
Aku ingat. Tentu saja aku ingat. Setiap kali aku bertengkar dengannya, soal hal-hal kecil seperti dia lupa membeli martabak atau aku cemburu pada rekan kerjanya, aku akan berdiri di dapur kontrakan dengan tangan terlipat dan bilang aku benci kamu, dan dia akan berjalan ke arahku tanpa bicara, dan aku akan membiarkannya memelukku dari belakang sampai aku berhenti marah.
Aku benci kamu tidak pernah berarti benci. Dulu, kalimat itu artinya peluk aku.
Aku melangkah mendekat. Aku tidak tahu kenapa. Kakiku yang bergerak, bukan kepalaku. Satu langkah. Lalu satu lagi. Sampai jarak di antara kami tinggal sejengkal, sampai aku bisa mencium sabun kayu-kayuan itu dan wangi sampanye yang tidak dia minum.
Dia tidak mundur.
Dia menunduk. Aku mendongak. Napasnya di dahiku. Napasku di dagunya.
“Rena,” katanya.
Utuh. Jelas. Pelan seperti doa.
Bukan Bu. Bukan Bu Serena. Bukan Re… yang terpotong. Namaku yang dulu, yang hanya dia yang memanggilku begitu, yang tidak pernah kudengar lagi selama enam tahun.
Seluruh tubuhku membeku.
Dia juga membeku. Aku melihatnya di matanya, kesadaran yang datang terlambat, seperti orang yang baru sadar sudah mengucapkan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Lalu dia tersenyum. Senyum kecil, miring, separuh menyesal dan separuh pasrah. Dan dengan suara yang setengah bercanda, setengah tidak sama sekali, dia bertanya:
“Kamu percaya aku?”
Kalimat yang sama. Empat kata yang sama. Dua centang biru, enam tahun lalu, pukul 23.52.
Aku tidak bisa menjawab. Kerongkonganku tertutup. Kalimat itu seperti tangan yang mencengkeram leherku, dan aku tidak punya jawaban. Bukan karena aku tidak percaya. Karena aku tidak tahu lagi harus percaya pada apa. Pada foto-foto itu, pada Om Hendra, pada Mama, atau pada laki-laki yang selama tiga minggu ini menyerahkan semua pujian kepadaku dan menelan semua sindiranku tanpa membalas dengan kejam.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk tidak menjawab.
Aku berjinjit.
Bibirku bergerak ke arah bibirnya. Satu senti. Setengah senti. Aku bisa merasakan napasnya, hangat, bergetar…
Kedua tangannya memegang bahuku dan menahanku.
Lembut. Tidak kasar sama sekali. Tapi tegas.
Aku membuka mata. Dia menatapku dari jarak yang sangat dekat, dan matanya penuh dengan sesuatu yang membuatku ingin menangis.
“Itu bukan jawaban, Rena,” bisiknya.
Di belakang kami, langit meledak.
Kembang api. Ulang tahun ke-40 SC Group. Merah, emas, perak, mekar di atas Jakarta seperti bunga-bunga raksasa, dan suaranya menggelegar, dan cahayanya jatuh di wajahnya, di kacamatanya, di tangannya yang masih memegang bahuku. Dari dalam Sky Hall terdengar sorak-sorai empat ratus orang yang berlarian ke dinding kaca untuk menonton.
Aku melepaskan diri dari tangannya.
Aku mundur satu langkah. Dua langkah. Gelas sampanye di tanganku tumpah ke gaun, tapi aku tidak peduli.
Lalu aku berbalik dan lari.
Melewati pintu balkon. Melewati kerumunan yang sedang menonton kembang api. Melewati Marcel yang memanggil namaku dengan bingung. Melewati Arini yang menatapku dengan wajah terkejut. Melewati Oma, yang tidak memanggilku, hanya menatapku lewat dengan mata kelabu yang tenang, terlalu tenang, seperti sedang menghitung lima langkah ke depan.
Lift nomor empat. Tombol lobi. Pintu kuningan menutup.
Aku bersandar di dinding kayu lift dan menutup mulut dengan tangan.
Pak Udin tidak bertanya apa-apa ketika aku masuk ke mobil dengan gaun yang ternoda sampanye dan maskara yang luntur. Dia hanya menyalakan mesin, menyetel AC sedikit lebih hangat, dan menyetir menembus Jakarta yang masih diterangi sisa kembang api.
Aku duduk di kursi belakang dan membuka ponsel.
Tidak ada pesan dari Pak Data.
Aku membuka percakapan itu. Di bagian paling bawah, tepat di atas pesan-pesan baru tentang halaman 32 dan susu hangat, masih ada pesan lama itu. Kamu percaya aku? Dua centang biru. Enam tahun.
Dan malam ini dia menanyakannya lagi. Di depan wajahku. Dengan suaranya sendiri.
Aku mengetik.
Aku…
Kursor berkedip.
Aku menghapusnya. Huruf demi huruf, sampai kolom ketik kosong.
Di luar jendela mobil, gedung-gedung Sudirman lewat satu per satu, lampu-lampunya buram di mataku yang basah.
Empat minggu lagi aku bertunangan dengan laki-laki yang menghitung langkah dansanya, minta maaf karena menyentuh punggungku, dan bicara soal obligasi.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, ada seseorang yang memanggilku Rena.
Lalu menolak dicium olehku, karena ciuman bukan jawaban.
Aku menempelkan ujung jari ke bibirku. Bibir yang tidak dicium.
Rasanya lebih sakit daripada kalau dia menciumku.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50 reading
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat