Chapter Thirteen
Pola Jam Dua Pagi
POV: Chakra
Pak Richard Sinclair memanggilku ke ruangannya Senin pukul delapan pagi, dan aku tahu ini bukan soal tender.
Ruangan Chairman SC Group ada di lantai 50, di sisi yang berlawanan dengan Sky Hall. Lebih kecil dari ruangan Rena, lebih gelap, dengan rak-rak buku tua, karpet Persia, dan aroma cerutu yang sudah lama tidak dinyalakan. Di mejanya ada pigura foto. Rena kecil, mungkin enam tahun, berseragam TK, tersenyum ompong di pangkuan ayahnya.
Pak Richard tidak menyuruhku duduk.
Dia berdiri di depan jendela, membelakangiku, dengan tangan di belakang punggung. Di meja ada tablet yang menampilkan video yang sudah kuhafal. Langit-langit ruang makan Ibu, suara Ibu tertawa, suara Rena berkata data Pak Chakra bilang mie ayam Ibu enak. Dua juta tayangan pagi ini.
“Saya sudah minta tim Komunikasi mengeluarkan pernyataan,” katanya tanpa berbalik. “Kunjungan bisnis CEO dalam rangka penjajakan kemitraan UMKM. Tidak ada hubungan pribadi.”
“Itu memang kunjungan bisnis, Pak.”
“Saya tahu apa itu, Chakra.” Dia berbalik. Wajahnya lebih tua dari yang kuingat. Kerut di dahinya lebih dalam, kantong matanya lebih gelap. Di sudut meja, di sebelah pigura, ada kotak obat plastik dengan tujuh sekat. Senin sampai Minggu. “Saya pernah melihat anak saya pulang ke rumah jam satu pagi dengan mata bengkak, enam tahun lalu. Saya pernah melihat dia tidak bicara selama tiga bulan setelah itu. Saya tidak mau melihatnya lagi.”
Aku tidak menjawab.
“Kontrakmu bagus. Pekerjaanmu luar biasa. Saya tidak akan memecatmu, dan saya tidak akan mempersulit pekerjaanmu.” Dia menatapku lurus. “Tapi tiga minggu lagi anak saya bertunangan. Hartanto Group akan menjadi mitra kita. Dan saya minta, sebagai seorang ayah, jaga jarakmu dari anak saya.”
Ruangan itu sunyi. Hanya ada detak jam dinding dan dengung samar AC.
Aku memikirkan banyak hal yang bisa kukatakan. Bahwa dulu aku tidak pernah ingin dia pulang dengan mata bengkak. Bahwa enam tahun lalu, di ruang tunggu sebuah rumah sakit, aku membuat keputusan supaya Pak Richard tidak perlu memilih antara anaknya dan jantungnya. Bahwa amplop cokelat itu, foto-foto itu, bukti transfer itu…
Aku tidak mengatakan semua itu. Datanya belum cukup. Aku tidak mau menuduh orang pakai probabilitas.
“Saya di sini untuk kerja, Pak,” kataku. “Hanya itu.”
Pak Richard menatapku lama. Lalu dia mengangguk sekali dan kembali menghadap jendela.
“Terima kasih, Chakra. Silakan.”
Aku keluar. Di koridor lantai 50, aku berpapasan dengan Pak Hendra yang sedang berjalan menuju ruangan kakaknya, membawa map dan senyum hangat.
“Chakra! Pagi-pagi sudah dipanggil Chairman?” Dia menepuk bahuku. “Jangan dipikirkan, ya. Kakak saya memang begitu. Protektif. Om yang bilang ke dia, Mas, Chakra itu anak baik, kasih kesempatan.” Dia tersenyum. “Om selalu di pihakmu.”
“Terima kasih, Om.”
Dia masuk ke ruangan Pak Richard dan menutup pintu.
Aku berdiri di koridor sebentar, menatap pintu itu. Pria yang selalu di pihakku baru saja masuk ke ruangan Chairman sepuluh detik setelah aku keluar. Aku tidak tahu apa yang dia katakan di dalam. Tapi aku tahu satu hal tentang pola: kebetulan yang terjadi dua kali patut dicatat. Kebetulan yang terjadi tiga kali bukan kebetulan.
Aku mencatatnya.
Proyek Pola Malam dimulai pukul sepuluh pagi, di lantai 38, dengan Tiara yang membanting tiga lembar kertas cetakan ke mejaku.
“Pak, Bapak harus lihat ini. Saya nggak bisa tidur.”
Selama dua minggu terakhir, sambil membantu tender Mandala Food, Tiara menyisir data penjualan seribu dua ratus gerai SinMart yang buka dua puluh empat jam. Dia mencari sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan, katanya. Firasat analis.
Firasatnya benar.
“Penjualan malam, jam sepuluh malam sampai jam lima pagi,” kata Tiara sambil menunjuk grafik, “cuma sebelas persen dari total penjualan gerai dua puluh empat jam. Kompetitor kita, dari data panel yang kita beli, delapan belas persen. Artinya kita kalah di malam hari. Jauh.”
“Kenapa?”
“Itu dia, Pak. Saya nggak tahu.” Tiara menggeser kertas kedua. “Tapi lihat siapa yang belanja jam segitu.”
Grafik batang. Segmen pelanggan dari data program loyalitas, yang sudah dianonimkan dan dikelompokkan berdasarkan pola belanja. Pengemudi ojol yang selalu membeli satu kopi kaleng dan satu roti, setiap malam, di gerai yang berbeda-beda. Perawat dan staf rumah sakit yang membeli mi cup, air mineral, dan pembalut di gerai-gerai dekat rumah sakit, antara pukul satu dan tiga pagi. Satpam dan buruh pabrik shift malam yang membeli rokok, kopi sachet, dan obat sakit kepala. Mahasiswa yang membeli camilan dan minuman energi menjelang subuh.
“Mereka nggak belanja banyak, Pak,” kata Tiara. “Tapi mereka belanja setiap malam. Setia. Dan mereka nggak dapat apa-apa dari kita.”
“Maksudnya?”
“Promo aplikasi SinMart dikirim jam sepuluh pagi, Pak. Waktu mereka tidur. Diskonnya untuk belanja bulanan, susu formula, deterjen ukuran besar. Bukan untuk satu kopi kaleng jam dua pagi.” Tiara menunjuk kertas ketiga. Foto. “Dan ini. Saya minta foto tata letak gerai dari sepuluh kepala toko shift malam. Lihat di mana kopi kaleng sama roti.”
Aku melihat. Kopi kaleng di kulkas paling belakang. Roti di rak tengah, di antara sabun cuci dan tisu. Obat sakit kepala di etalase kasir yang dikunci, yang kuncinya dibawa kepala toko shift pagi.
“Ojol, Pak,” kata Tiara pelan. “Mereka parkir motor, lari ke dalam, harus jalan ke belakang buat ambil kopi, nyari roti di antara sabun, terus antre. Lima menit. Lima menit buat ojol itu bisa satu orderan hilang. Jadi mereka beli di warung kopi pinggir jalan aja.”
Aku menatap foto itu lama.
Lalu aku tersenyum ke Tiara.
“Tiara,” kataku. “Kamu barusan menemukan seratus miliar rupiah.”
Tiara menatapku. Matanya melebar. “Seratus…”
“Mungkin lebih. Kita perlu lihat langsung.”
“Lihat langsung gimana, Pak?”
Aku menutup laptop.
“Malam ini,” kataku. “Jam dua pagi.”
Rencananya sederhana. Aku dan Yudis akan mengunjungi tiga gerai SinMart dua puluh empat jam di Jakarta Selatan dan Timur, mengamati pembeli, mewawancarai kasir shift malam, dan mencoba membeli kopi kaleng dan roti dengan stopwatch di tangan.
Rencana itu berubah pukul sembilan malam, ketika ponselku bergetar.
Rena 🌻: Tiara bilang NEXUS mau observasi gerai malam ini.
Tentu saja Tiara bilang. Tiara dan Sisca, aku baru tahu, ternyata tetangga satu kos waktu kuliah dan sekarang makan siang bersama setiap Rabu.
Iya, Bu. Observasi lapangan. Bukan hal besar.
Saya ikut.
Aku menatap layar.
Bu, ini jam dua pagi. Dan setelah video kemarin…
Saya CEO. Saya mau lihat gerai saya sendiri.
Bu…
Lagipula, lanjutnya, Mama saya sejak semalam ceramah. Tiga jam. Saya butuh alasan keluar rumah yang sah secara profesional. Jemput saya di Senopati jam 01.30. Jangan pakai mobil yang mencolok.
Aku membaca pesan itu tiga kali. Lalu aku menelepon Yudis.
“Yudis, kamu nggak perlu ikut malam ini.”
“Kenapa, Pak?”
“Ada… perubahan rencana.”
Hening di seberang. Lalu suara Yudis, datar seperti biasa, tapi dengan sesuatu yang sangat mirip geli di ujungnya: “Baik, Pak. Saya akan tidur. Semoga observasinya produktif.”
Pukul satu tiga puluh, Senopati.
Aku menunggu di jalan kecil di samping gedung apartemennya dengan mobil yang tidak mencolok. Mobil kantor Bagas, Toyota Avanza abu-abu tahun 2015 yang AC-nya berbunyi seperti kipas angin tua dan joknya bau kopi tumpah, yang kupinjam dengan janji mengisi bensin penuh.
Dia keluar dari pintu samping lobi.
Dan aku lupa caranya menyalakan mesin.
Hoodie abu-abu yang kebesaran. Celana training hitam. Sepatu kets putih. Rambut diikat ekor kuda tinggi, beberapa helai lepas di pelipis. Wajah tanpa riasan, kecuali, aku curiga, sedikit pelembap bibir yang membuat bibirnya berkilau di bawah lampu jalan. Masker hitam di dagu. Topi baseball hitam di tangan.
Dia terlihat seperti mahasiswi yang mau beli mi instan jam dua pagi. Dia terlihat seperti istriku di malam-malam ketika dia lapar dan memaksaku menemaninya ke minimarket depan apartemen Kalibata dengan piyama dan sandal jepit.
Dia membuka pintu penumpang dan masuk. Mencium bau jok. Mengernyit.
“Ini mobil siapa?”
“Bagas.”
“Kenapa bau kopi?”
“Bagas.”
Dia memakai topi dan masker. “Jalan.”
Aku menyalakan mesin. AC berbunyi seperti kipas tua yang batuk. Dia menahan tawa di balik maskernya.
Gerai pertama ada di Jalan Tebet Raya, seratus meter dari rumah sakit swasta. Pukul dua lewat sepuluh pagi.
Kami masuk sebagai pembeli biasa. Rena dengan topi dan masker. Aku dengan kacamata dan jaket. Kasir shift malam, perempuan muda berkerudung dengan name tag bertuliskan Ratih, mengangguk ke kami dengan senyum lelah.
Aku menyalakan stopwatch di ponsel dan berjalan mencari kopi kaleng.
Kulkas paling belakang. Empat puluh tujuh detik dari pintu masuk, setelah melewati rak deterjen, rak popok, dan rak makanan kucing. Roti ada di rak tengah, di antara tisu toilet dan sabun cuci piring. Dua menit tiga puluh detik total sampai aku menemukan keduanya.
Dua orang perawat berseragam biru masuk. Mereka langsung berjalan ke belakang tanpa ragu, karena sudah hafal letaknya, lalu kembali dengan tiga mi cup dan tiga botol air. Wajah mereka lelah sekali. Salah satunya menggosok leher sambil antre.
“Mbak,” katanya ke Ratih. “Obat pegel ada?”
“Ada, Kak, tapi di etalase. Kuncinya dibawa Pak Kepala Toko, shift pagi.”
Perawat itu menghela napas. “Ya udah, deh.”
Aku mencatat.
Seorang pengemudi ojol masuk dengan helm masih di kepala. Dia melihat ke kanan dan kiri dengan bingung, berjalan ke belakang, mencari, kembali ke depan, lalu menyerah dan hanya membeli sebungkus rokok di kasir. Dia keluar dalam waktu kurang dari satu menit. Tidak ada kopi. Tidak ada roti.
Aku mencatat.
Rena berdiri di sebelahku di depan rak mi instan. Dari balik masker, matanya menyapu seluruh gerai: rak demi rak, pembeli demi pembeli. Aku mengenali tatapan itu. Tatapan CEO yang sedang melihat sesuatu yang selama ini hanya dia lihat di laporan.
“Ini gerai saya,” katanya pelan. “Saya nggak pernah ke sini jam segini.”
“Nggak ada CEO yang pernah ke sini jam segini, Bu.”
“Seharusnya ada.”
Dia berjalan ke kasir. Ratih menatapnya, lalu matanya menyipit, lalu melebar.
“Kakak…” Ratih memiringkan kepala. “Maaf, Kak. Kakak mirip… yang di TikTok itu. Yang ke rumah mantan mertua.”
Rena membeku.
Aku menahan napas.
Lalu Rena menurunkan maskernya sedikit, hanya sedikit, dan tersenyum pada Ratih. “Mbak Ratih, ya? Sudah berapa lama kerja di sini?”
“Tiga tahun, Kak.” Ratih masih menatapnya dengan mulut setengah terbuka. “Ya Allah. Kakak beneran Bu… Bu CEO?”
“Sst.” Rena menaruh telunjuk di bibir. “Rahasia, ya. Saya mau tanya sesuatu. Kalau Mbak Ratih jadi saya, apa yang mau Mbak ubah dari gerai ini buat shift malam?”
Ratih menatapnya selama lima detik penuh. Lalu, seperti bendungan yang jebol, dia bicara.
Kopi harus di depan, dekat kasir, karena ojol dan perawat nggak punya waktu. Roti juga. Obat pegal dan obat sakit kepala jangan dikunci di etalase, atau kuncinya dititipkan ke shift malam. Charger HP dan kabel data harus ada di dekat kasir, karena ojol sering kehabisan baterai. Lalu mi cup dan air panas. Kak, ini penting banget, dispenser air panasnya harus nyala sepanjang malam, karena perawat sering makan di sini sebelum balik ke rumah sakit. Sekarang dispensernya dimatikan jam sepuluh malam untuk hemat listrik, atas instruksi pusat, Kak.
Rena mendengarkan semuanya tanpa menyela. Lalu dia mengeluarkan ponsel, mengetik sesuatu, dan menunjukkan layarnya ke Ratih.
“Mbak, ini nomor saya. Kalau ada yang mau Mbak sampaikan lagi, langsung WA saya. Jangan lewat pusat.”
Ratih menatap nomor itu seperti menatap tiket lotere.
Kami mengunjungi dua gerai lagi. Satu di dekat pangkalan ojol di Pancoran, satu di dekat kawasan pabrik di Pulogadung. Polanya sama. Kopi di belakang. Roti tersembunyi. Obat dikunci. Dispenser air panas mati. Pembeli malam yang setia, lelah, dan tidak pernah dilayani dengan benar.
Pukul tiga lewat dua puluh, di gerai Pulogadung, ponselku bergetar. Yudis. Ternyata dia tidak tidur.
Pak, maaf mengganggu observasinya. Saya iseng jalankan query di data transaksi malam 312 gerai yang kemarin. Ada yang aneh. ID supervisor SPV-0447 melakukan transaksi void (pembatalan) di tiga gerai berbeda, di tiga provinsi berbeda (Jatim, Jateng, Lampung), di menit yang sama. 01.14, 01.14, 01.15. Tiga malam Jumat berturut-turut.
Lalu satu lagi.
Satu orang tidak bisa ada di tiga provinsi dalam satu menit, Pak. Kecuali kredensialnya dipakai banyak orang. Atau dikendalikan dari satu tempat.
Aku menatap pesan itu lama.
Kredensial yang dipakai bersama. Dikendalikan dari satu tempat. Satu tempat yang punya akses ke sistem kasir lintas provinsi.
Itu bukan kasir. Itu bukan kepala toko. Itu kantor pusat.
Simpan di folder lokal, kubalas. Jangan kirim ke mana-mana. Besok kita bahas.
“Ada apa?” tanya Rena di sebelahku.
Aku memasukkan ponsel ke saku. “Yudis. Soal data.”
“Jam tiga pagi?”
“Data nggak kenal jam, Bu.”
Dia menatapku curiga dari balik topi. Tapi dia tidak bertanya lagi.
Aku belum bisa memberitahunya. Belum. Kalau aku bilang sekarang, ada seseorang di kantor pusat yang sudah dua tahun mencuri dari gerai-gerai kecil di sebelas provinsi, dia akan bertanya siapa. Lalu aku harus menjawab dengan probabilitas, dengan nama yang belum bisa kubuktikan, nama orang yang dia panggil Om sejak kecil.
Belum.
Pukul tiga lewat empat puluh, kami duduk di trotoar di depan gerai Pulogadung.
Rena yang memilih tempatnya. Dia keluar dari gerai dengan dua kantong plastik, duduk di trotoar begitu saja, di sebelah tempat sampah, dengan kaki terulur ke aspal. Lalu dia menepuk trotoar di sebelahnya.
“Duduk.”
“Bu, ini trotoar.”
“Saya tahu ini trotoar. Duduk.”
Aku duduk.
Dia mengeluarkan isi kantong plastik. Dua roti cokelat. Dua kopi kaleng. Satu bungkus kacang. Satu mi cup yang mengepul. Ternyata dia meminta Mbak kasir di gerai ini menyalakan dispenser, dengan kekuasaan seorang CEO yang menyamar.
Dia menyodorkan kopi kaleng padaku. Aku mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Dia tidak memberikannya. Dia menempelkan kaleng itu ke leherku.
Dingin. Sangat dingin, langsung dari kulkas paling belakang. Aku tersentak dan hampir jatuh ke aspal.
“Bu!”
Dia tertawa. Tawa yang lepas, tidak tertahan, dengan kepala tertunduk dan bahu berguncang. Topinya miring. Ekor kudanya berayun.
“Kamu dulu,” katanya di sela tawa, “suka kalau aku bangunin pakai yang dingin-dingin.”
Aku menatapnya. Leherku masih terasa dingin di tempat kaleng tadi menempel.
Aku ingat. Pagi-pagi di apartemen Kalibata, ketika aku tidur terlalu nyenyak dan alarm tidak berhasil membangunkanku, dia akan mengambil sekaleng soda dari kulkas dan menempelkannya ke leherku, ke pipiku, ke perutku yang terbuka. Aku akan terbangun dengan jeritan yang sangat tidak jantan, dan dia akan tertawa seperti ini, persis seperti ini. Lalu aku akan menariknya kembali ke kasur, dan kami berdua akan terlambat.
“Aku nggak suka,” kataku. “Aku cuma nggak punya pilihan.”
“Bohong.” Dia akhirnya menyerahkan kaleng itu. “Kamu selalu narik aku balik ke kasur sesudahnya.”
Kalimat itu jatuh di antara kami dan diam di sana.
Dia tidak menariknya kembali. Dia tidak membetulkan aku menjadi saya. Dia hanya membuka kopi kalengnya sendiri, meneguknya, lalu menatap jalanan Pulogadung yang kosong. Ada truk kontainer yang lewat. Lampu jalan berkedip. Langit di ufuk timur mulai sedikit abu-abu.
Aku membuka kopi kalengku. Tanganku sedikit gemetar.
Kami makan dalam diam. Roti cokelat, kacang, mi cup berdua bergantian dengan satu garpu plastik, karena kasir hanya memberi satu. Dia menyodorkan garpu itu padaku setiap habis menyuap, dan aku menerimanya, dan tidak ada yang berkomentar soal betapa tidak higienisnya atau betapa tidak profesionalnya ini.
Ponselnya bergetar di trotoar. Layarnya menyala.
Marcel.
Bukan panggilan. Pesan. Aku tidak bermaksud membaca, tapi layarnya menghadap ke atas dan tulisannya besar.
Serena, saya sudah lihat videonya. Saya ingin kamu tahu bahwa saya tidak keberatan. Saya percaya kamu. Selamat tidur.
Saya percaya kamu.
Empat kata dari laki-laki yang menghitung langkah dansanya. Empat kata yang tidak pernah bisa diucapkan Rena untukku.
Rena melihat pesan itu. Wajahnya berubah. Bukan senang. Bukan lega. Sesuatu yang lebih mirip rasa bersalah, yang jatuh di wajahnya seperti bayangan awan.
Dia membalik ponselnya hingga menelungkup di trotoar.
Kami tidak bicara selama satu menit. Dua menit.
Lalu, tanpa peringatan, dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Topinya miring. Ekor kudanya jatuh ke punggungku. Beratnya ringan, hangat, dan sangat nyata di bahu kiriku. Wangi sampo melati di bawah hidungku.
Aku membeku. Seluruh tubuhku. Bahkan napasku.
“Lima menit,” katanya pelan, tanpa membuka mata. “Aku capek.”
Aku tidak bergerak.
“Jangan GR,” tambahnya.
“Saya nggak GR, Bu.”
“Kamu GR. Bahu kamu tegang.”
Aku melemaskan bahuku. Pelan-pelan. Dia bergeser sedikit, mencari posisi yang lebih nyaman, dan pipinya menekan lebih dalam ke bahuku, dan aku merasakan napasnya melambat.
Di depan kami, Jakarta pelan-pelan bangun. Langit timur berubah dari abu-abu menjadi biru pucat. Seorang penjual kopi keliling lewat dengan sepedanya, menatap kami berdua di trotoar, lalu tersenyum dan mengayuh pergi tanpa menawarkan apa-apa.
Lima menit berlalu.
Lalu sepuluh.
Lalu lima belas.
Dia tertidur di bahuku, di trotoar Pulogadung, pukul empat pagi, dengan hoodie abu-abu dan mi cup kosong di pangkuannya.
Aku tidak membangunkannya.
Aku duduk di sana, dengan bahu yang mulai kesemutan dan leher yang masih terasa dingin di tempat kaleng tadi menempel. Aku menatap langit yang berubah warna, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun, aku tidak memikirkan data. Tidak memikirkan probabilitas. Tidak memikirkan SPV-0447, atau Pak Richard yang memintaku menjaga jarak, atau Pak Hendra yang selalu di pihakku, atau tiga minggu yang tersisa sebelum dia memakai kebaya champagne di samping laki-laki lain.
Aku hanya memikirkan satu hal.
Bahwa ternyata, setelah enam tahun, bahuku masih pas untuk kepalanya.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi reading
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat