Chapter Twenty
Percaya
POV: Serena
Sisca meneleponku pukul enam lewat empat puluh pagi. Aku sedang berdiri di depan cermin dengan satu anting terpasang, dan kebaya champagne tergantung di pintu lemari, sudah dipermak untuk terakhir kalinya.
“Bu.” Suaranya bukan suara Sisca yang biasa. Tidak ada nada geli, tidak ada bisik-bisik gosip. Suaranya tipis dan tegang, seperti kawat yang ditarik terlalu kencang. “Ibu harus ke kantor sekarang. Rapat darurat direksi jam delapan. Pak Hendra yang memanggil.”
“Ada apa?”
“Data pelanggan program loyalitas SinMart, Bu. Sembilan koma satu juta. Ditemukan diperjualbelikan di forum gelap tadi malam. Divisi Keamanan Informasi menerima laporan jam empat pagi dari sebuah lembaga pemantau siber.”
Anting kedua jatuh dari tanganku ke wastafel.
“Siapa?”
Hening di seberang. Terlalu lama.
“Sisca.”
“Bu,” katanya, sangat pelan. “Log aksesnya menunjukkan data itu diunduh semalam, jam sebelas lewat dua belas, lewat VPN. Pakai akun Pak Chakra.”
Ruang Rapat Sinclair pukul delapan kurang lima menit terasa seperti ruang sidang.
Semua kursi terisi. Papa di ujung meja, wajahnya abu-abu, kotak obat tujuh sekatnya di sebelah gelas air. Om Hendra di sebelah kanannya, tanpa senyum, dengan map tebal di depannya. Pak Darmawan, Bu Lestari, Pak Yosef, dan direktur-direktur lain dengan wajah yang belum sempat sarapan. Pak Teguh Wibowo, Kepala Divisi Keamanan Informasi, berdiri di depan layar dengan laptop dan wajah orang yang tidak tidur sejak pukul empat.
Dan di kursi tamu di sisi kiri, dua orang yang seharusnya tidak ada di rapat internal: Benny Hartanto dan pengacaranya.
“Pak Benny,” kataku, berhenti di ambang pintu.
“Serena.” Benny Hartanto mengangguk. Laki-laki enam puluh tiga tahun dengan rambut perak yang disisir rapi dan mata yang terlalu kecil untuk wajahnya. “Maaf hadir mendadak. Hendra menghubungi saya pagi ini. Mengingat proses uji tuntas merger sedang berjalan, Hartanto Group perlu memahami risiko yang sedang dihadapi mitra kami.”
Om Hendra menghubunginya. Pagi ini. Sebelum menghubungiku.
Aku duduk di kursi CEO tanpa bicara.
Pak Teguh mulai presentasi. Suaranya datar dan profesional, tapi tangannya yang memegang pointer sedikit gemetar.
Pukul 03.52 pagi tadi, sebuah lembaga pemantau keamanan siber mengirim peringatan. Ada sebuah daftar penjualan di forum gelap: Data pelanggan ritel Indonesia, 9,1 juta baris, termasuk nama, nomor telepon, alamat, riwayat transaksi, dan segmentasi perilaku. Harga: tiga puluh lima ribu dolar dalam mata uang kripto. Sampel gratis lima ratus baris.
Pak Teguh menampilkan sampel itu di layar. Nama-nama disamarkan dengan tanda bintang untuk rapat ini, tapi kolom-kolomnya jelas terlihat.
Dan kolom terakhir membuat seluruh ruangan sunyi.
segmen_malam
“Kolom ini,” kata Pak Teguh, “tidak ada di basis data induk program loyalitas. Kolom ini adalah hasil olahan. Dibuat oleh model analitik SC NEXUS untuk proyek Pola Malam tiga minggu lalu. Satu-satunya tempat kolom ini bergabung dengan data identitas pelanggan adalah lingkungan analitik NEXUS.”
Semua kepala menoleh ke kursi kosong di ujung meja. Kursi yang biasa diduduki Chief Data & AI Officer.
“Log server,” lanjut Pak Teguh, menggeser slide, “menunjukkan bahwa tadi malam, Kamis, pukul 23.12, sebuah sesi VPN masuk ke lingkungan analitik NEXUS menggunakan akun atas nama Chakra Wirasena. Sesi itu mengunduh berkas berukuran empat koma tujuh gigabita ke luar jaringan. Durasi sesi dua puluh tiga menit.”
“Autentikasi dua faktor?” tanyaku. Suaraku keluar lebih tenang dari yang kurasakan.
“Lolos, Bu,” kata Pak Teguh pelan. “Sesinya terautentikasi.”
Hening.
Lalu Om Hendra bicara.
“Saya tidak ingin percaya ini,” katanya. Suaranya berat, sedih, seperti paman yang terpaksa memberi kabar buruk di pemakaman. “Saya yang paling mendukung Chakra sejak hari pertama. Bapak-Ibu semua tahu itu. Saya yang bilang ke Mas Richard untuk memberinya kesempatan.” Dia menatap seluruh meja, satu per satu. “Tapi kita tidak bisa mengabaikan fakta. Sembilan juta data pelanggan kita bocor. Kolom yang hanya ada di sistem NEXUS. Akun Chakra. Tanda tangan digitalnya ada di mana-mana.”
Dia membuka map tebal di depannya.
“Saya sudah menyiapkan tiga langkah. Pertama, pemutusan hubungan kerja hari ini, dengan alasan pelanggaran berat. Kedua, laporan resmi ke kepolisian dan Kementerian Komunikasi. Ketiga, siaran pers pagi ini sebelum media menemukan sendiri, yang menyatakan bahwa perusahaan sudah mengidentifikasi pelaku dan mengambil tindakan tegas.” Om Hendra menatapku. “Serena, Om tahu ini berat untukmu. Tapi kamu CEO. Pemegang saham, regulator, dan sembilan juta pelanggan itu menunggu.”
Benny Hartanto berdeham. “Saya perlu menyampaikan, dengan segala hormat, bahwa Hartanto Group akan sulit melanjutkan proses merger jika SC Group tidak menunjukkan tata kelola yang tegas dalam situasi seperti ini.”
Dia tidak perlu mengatakan bagian selanjutnya. Semua orang di meja itu sudah menyelesaikannya di kepala masing-masing: dan pertunangan anak saya dengan putri Anda juga.
Aku menatap Om Hendra.
Om Hendra yang menggendongku di pundaknya waktu aku kecil di pantai Anyer. Om Hendra yang mengajariku naik sepeda di halaman rumah Menteng. Om Hendra yang menyerahkan amplop cokelat enam tahun lalu dengan wajah sedih dan suara pelan, Om nggak mau kamu tahu dari orang lain.
Om Hendra yang menandatangani kolom saksi di surat cerai kami, pukul empat lewat lima belas pagi, di rumah sakit, lalu bilang ke Mama bahwa Chakra tidak pernah datang.
Surat itu ada di tasku. Di bawah meja. Di dekat kakiku.
“Di mana Pak Chakra sekarang?” tanyaku.
“Di lobi, Bu,” kata Pak Teguh. “Aksesnya dinonaktifkan pukul enam pagi, atas instruksi…” dia melirik Om Hendra, “…atas instruksi prosedur keamanan.”
“Panggil dia ke sini.”
“Serena,” kata Om Hendra lembut. “Itu tidak perlu. Ini rapat direksi, bukan sidang…”
“Dia kepala divisi yang dituduh,” kataku. “Dia berhak mendengar tuduhannya sendiri. Panggil dia.”
Dia masuk pukul delapan lewat dua puluh, diantar dua satpam.
Pak Agus dan seorang lagi yang tidak kukenal. Pak Agus berjalan di belakangnya dengan langkah ragu, seperti orang yang mengantar sesuatu yang tidak ingin dia antar. Di pintu ruang rapat, Pak Agus berhenti, menatap punggung Chakra sebentar, lalu mundur ke koridor dan menutup pintu pelan-pelan.
Chakra berdiri di ujung meja. Kemeja putih, tanpa jas. Kacamata. Laptop di tangan, laptop pribadinya, karena laptop kantornya pasti sudah disita. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Tenang seperti permukaan danau yang dalam, dan aku tahu, karena aku pernah tenggelam di danau itu, bahwa di bawah permukaannya ada arus yang bisa menarik siapa pun ke dasar.
Dia tidak menatap Om Hendra. Tidak menatap Benny Hartanto. Tidak menatap Papa.
Dia menatapku.
“Selamat pagi,” katanya ke seluruh ruangan.
Pak Teguh mengulang presentasinya, lebih singkat. Chakra mendengarkan tanpa menyela. Matanya mengikuti setiap slide. Log VPN. Sampel data. Kolom segmen_malam. Saat slide terakhir muncul, aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Sangat cepat. Bukan rasa bersalah. Bukan kaget.
Pengenalan. Seperti orang yang melihat tulisan tangan yang dia kenali.
“Pak Chakra,” kata Om Hendra. “Kamu punya penjelasan?”
“Saya tidak mengunduh data itu, Pak,” kata Chakra. “Tadi malam pukul 23.12, saya tidur di apartemen saya di Setiabudi.”
“Ada yang bisa membuktikan?”
“Tidak ada, Pak. Saya tinggal sendiri.”
“Akunmu. Autentikasi dua faktormu. Ponselmu yang menyetujui sesi itu.” Om Hendra menggeleng pelan, sedih. “Chakra, Om ingin percaya padamu. Sungguh. Tapi datanya…”
“Datanya bisa direkayasa, Pak.”
“Semua orang yang tertangkap bilang begitu.”
Hening. Benny Hartanto mencatat sesuatu di bukunya. Pak Darmawan menatap meja. Bu Lestari menggigit bibir.
“Saya minta dua puluh empat jam,” kata Chakra.
“Untuk apa?” kata Om Hendra. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang tajam di bawah kehangatan suaranya. “Untuk menghapus jejak?”
“Untuk membuktikan bahwa bukan saya. Dengan pengawasan Divisi Keamanan Informasi. Dengan akses yang direkam setiap detiknya. Dengan Pak Teguh sendiri duduk di sebelah saya kalau perlu.” Chakra menatap Pak Teguh. “Bapak bisa awasi saya. Bapak bisa catat setiap klik saya.”
“Memberi akses kembali ke sistem,” kata Om Hendra pelan, ke seluruh meja, “kepada tersangka utama kebocoran data terbesar dalam sejarah perusahaan ini. Bapak-Ibu sekalian, saya rasa itu tidak masuk akal.”
Beberapa kepala mengangguk. Pak Yosef tidak mengangguk. Pak Darmawan tidak mengangguk. Tapi yang lain mengangguk, pelan, dengan wajah orang yang tidak ingin terlihat berpihak pada siapa pun.
Benny Hartanto menutup bukunya. “Hendra benar. Dari sudut pandang tata kelola…”
“Pak Benny,” kataku.
Dia berhenti.
Semua orang menoleh padaku.
Dan Chakra, dari ujung meja, tidak menoleh. Dia sudah menatapku sejak tadi.
Lalu dia bicara. Bukan ke ruangan. Ke aku. Pelan, sangat pelan, dengan suara yang tidak dia pakai di ruang rapat ini selama tujuh minggu, suara yang dulu dia pakai di apartemen Kalibata pukul sebelas malam, di depan amplop cokelat dan foto-foto yang berserakan.
“Kamu percaya aku?”
Kamu. Bukan Ibu. Di depan sebelas direktur, Chairman, COO, dan calon besan.
Ruangan membeku.
Pak Darmawan berhenti bernapas. Bu Lestari menurunkan pulpennya. Papa mengangkat wajah, perlahan, dan menatap Chakra, lalu menatapku. Om Hendra tidak bergerak sama sekali. Matanya menyipit, sedikit sekali, seperti kucing yang melihat tikus bergerak ke arah yang tidak terduga.
Empat kata. Dua centang biru. Enam tahun.
Balkon lantai 50. Kembang api. Itu bukan jawaban, Rena.
Dan sekarang, di ruang rapat ini, dengan semua orang yang dulu membuatku ragu duduk mengelilingi meja yang sama, dia menanyakannya lagi.
Aku memikirkan foto-foto di amplop cokelat. Aku memikirkan bukti transfer dua miliar. Aku memikirkan semua yang pernah membuatku tidak menjawab.
Lalu aku memikirkan hal-hal lain.
Rantang mie ayam tanpa daun bawang. Panduan Membaca Grafik untuk Pimpinan dengan stiker kucing gendut. Empat ratus tujuh gerai yang tetap menyala di tengah banjir, dan seorang laki-laki di depan kamera yang bilang keputusannya ada di CEO kami. Lima sopir senior di sofa hijau tua. Mbak Ratih dan dispenser air panas. Tangan yang menggenggam tanganku empat puluh tujuh menit di bahu tol Cipularang. Bubur yang keasinan, ini bubur paling enak yang pernah kumakan. Mug MAS dan NENG di rak dapur Cibubur.
Seribu dua ratus delapan puluh empat kali, sejak bulan pertama.
Jaga Papa. Jangan nyalahin diri sendiri.
Aku menatapnya. Di ujung meja, laki-laki berkemeja putih tanpa jas, dengan tuduhan terberat dalam hidupnya di layar di belakangnya. Dan dia tidak menatap layar itu. Dia tidak menatap Om Hendra. Dia tidak menatap siapa pun.
Hanya aku.
“Percaya,” kataku.
Satu kata. Jelas. Tidak bergetar.
Seluruh ruangan seperti menarik napas bersamaan dan lupa menghembuskannya.
Di ujung meja, wajah Chakra tidak berubah. Dia tidak tersenyum. Dia tidak bergerak. Tapi matanya, di balik kacamata itu, tiba-tiba menjadi sangat terang. Lalu basah. Lalu dia menunduk, cepat, dan mendorong kacamatanya dengan satu jari.
Sekali.
Aku berdiri.
“Pak Teguh,” kataku. Sekarang suaraku adalah suara CEO. Suara yang membuat Pak Darmawan lupa membaca slide-nya sendiri. “Kembalikan akses Pak Chakra ke lingkungan analitik NEXUS dalam mode baca, dengan pengawasan penuh Divisi Keamanan Informasi. Setiap sesi direkam. Bapak atau orang yang Bapak tunjuk duduk di ruangan yang sama dua puluh empat jam. Pak Yudis dari NEXUS membantu, juga di bawah pengawasan.”
“Baik, Bu,” kata Pak Teguh. Dan aku bersumpah aku mendengar kelegaan di suaranya.
“Serena.” Om Hendra berdiri juga. Wajahnya masih lembut, tapi sekarang ada sesuatu di sudut matanya, sesuatu yang belum pernah kulihat sepanjang hidupku menatap wajah itu. “Om mohon. Pikirkan. Ini bukan soal perasaan pribadi. Ini soal perusahaan. Kalau kamu salah…”
“Kalau saya salah, Om,” kataku, “saya mundur sebagai CEO.”
Hening total.
Papa menegakkan punggung. “Serena…”
“Dua puluh empat jam, Pa.” Aku tidak menoleh pada Papa. Aku menatap Om Hendra. “Kalau dalam dua puluh empat jam Pak Chakra tidak bisa membuktikan dia tidak bersalah, saya sendiri yang menandatangani pemutusan hubungan kerjanya, laporan polisinya, dan surat pengunduran diri saya. Ketiganya, di meja yang sama, dengan pulpen yang sama.”
Aku mengambil pulpen biru dari saku blazerku dan meletakkannya di tengah meja rapat.
“Ini pulpennya.”
Om Hendra menatap pulpen itu. Lalu menatapku. Untuk satu detik, hanya satu detik, senyum hangatnya hilang sepenuhnya, dan di baliknya ada wajah yang tidak kukenal. Wajah yang dingin, dan menghitung.
Lalu senyum itu kembali.
“Tentu, Nak,” katanya pelan. “Tentu. Kalau itu keputusanmu.”
Dia duduk.
Pintu ruang rapat terbuka.
Oma Margaret berdiri di ambang pintu, dengan setelan abu-abu muda, kalung mutiara tiga lapis, dan tongkat yang tidak benar-benar dia butuhkan. Di belakangnya, Sisca dengan wajah pucat, seperti orang yang baru saja gagal menghalangi tank.
“Saya dengar,” kata Oma, berjalan masuk dengan tenang, “ada pesta pagi-pagi. Dan Komisaris Utama tidak diundang.”
“Ma,” kata Papa, setengah berdiri. “Ini rapat direksi…”
“Saya tahu ini rapat direksi, Richard. Saya yang membangun ruangan ini.” Oma berhenti di sebelah kursiku. Dia menatap pulpen biru di tengah meja, menatap layar dengan log VPN dan kolom segmen_malam, lalu menatap Chakra di ujung meja. “Dua puluh empat jam, kata cucu saya?”
“Ya, Bu,” kata Chakra.
“Bagus.” Oma mengangguk sekali. “Saya juga mau lihat.” Dia menoleh ke Benny Hartanto dengan senyum kecil yang sangat sopan. “Pak Benny, saya rasa Bapak juga tidak keberatan menunggu dua puluh empat jam? Merger sebesar ini tentu layak ditunggu satu hari.”
Benny Hartanto menatap Oma Margaret. Tiga detik. Lalu dia tersenyum, tipis. “Tentu, Ibu Margaret.”
“Tentu,” ulang Oma. Lalu, tanpa menoleh: “Hendra, kamu kelihatan pucat. Sudah sarapan?”
Om Hendra tersenyum. “Sudah, Ma.”
“Bagus. Orang yang belum sarapan biasanya mengambil keputusan terburu-buru.” Oma menepuk bahuku dua kali, lalu berbalik ke pintu. “Saya di ruang Komisaris lantai 50. Kabari saya kalau ada yang menarik.”
Rapat bubar pukul sembilan kurang sepuluh. Chakra dibawa Pak Teguh dan Yudis ke lantai 38. Benny Hartanto pergi dengan pengacaranya dan wajah yang tidak terbaca. Om Hendra pergi paling cepat. Para direktur keluar sambil berbisik.
Papa menahanku di pintu. Sama seperti hari pertama Chakra datang, tangannya di lenganku.
“Nak,” katanya pelan. Wajahnya lebih tua dari kemarin. “Kamu baru saja mempertaruhkan seluruh kariermu untuk dia.”
“Aku tahu, Pa.”
“Kenapa?”
Aku menatap Papa. Laki-laki yang enam tahun lalu masuk ICU, dan yang menurut Chakra dalam igauan demamnya jantungnya, jangan bilang Rena.
“Karena enam tahun lalu,” kataku, “aku nggak menjawab pertanyaan yang sama. Dan aku sudah enam tahun menyesal.”
Papa membuka mulut. Menutupnya. Matanya basah.
“Rena…”
“Pa.” Aku menyentuh tangannya di lenganku. “Papa minum obatnya hari ini?”
“Sudah.”
“Bagus.” Aku tersenyum. “Jangan khawatir. Kalau aku salah, aku masih bisa jualan mie ayam.”
Aku melepaskan lenganku dan berjalan ke lorong.
Di lorong, aku berhenti di depan jendela besar yang menghadap Jakarta. Aku menekan telapak tanganku ke kaca yang dingin. Lututku bergetar. Tanganku gemetar. Jantungku berdebar seperti baru lari maraton.
Aku baru saja mempertaruhkan segalanya. Jabatanku. Reputasiku. Merger. Pertunangan.
Untuk satu kata.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya dalam enam tahun, dadaku terasa ringan.
Pukul satu siang, Marcel menemuiku di ruanganku.
Dia masuk tanpa jas, dengan kemeja yang lengannya digulung, dan wajah yang terlihat seperti tidak tidur. Dia duduk di kursi di seberang mejaku dan diam lama.
“Ayah saya,” katanya akhirnya, “mengusulkan sesuatu tadi siang. Ke keluargamu. Lewat telepon ke Om Hendra.”
“Apa?”
“Menunda pertunangan.” Marcel menatap tangannya sendiri. “Dengan alasan situasi perusahaan. Tidak pantas merayakan sesuatu saat ada krisis data. Lalu menggabungkannya dengan penandatanganan merger. Satu acara besar. Setelah semuanya selesai. Ayah bilang itu lebih strategis.” Dia tersenyum pahit. “Kata itu. Strategis.”
Aku menatapnya. Aku seharusnya merasa sesuatu. Kecewa, terhina, marah. Sebagian diriku yang terlatih untuk itu menunggu perasaan itu muncul.
Yang muncul hanya lega. Lega yang begitu besar sampai aku harus menggenggam ujung meja.
“Kamu setuju?” tanyaku.
Marcel mengangkat wajah. Matanya menatapku. Dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di balik kesopanan Marcel Hartanto yang sempurna. Sesuatu yang lelah. Sesuatu yang, mungkin, juga lega.
“Serena,” katanya pelan. “Tadi pagi di ruang rapat. Kamu bilang percaya.”
Aku diam.
“Saya sudah kenal kamu delapan bulan,” lanjutnya. “Saya belum pernah dengar kamu bilang kata itu dengan suara seperti tadi.” Dia tersenyum. Senyum yang tulus dan sedih. “Ke siapa pun. Termasuk saya.”
“Marcel…”
“Saya setuju menunda,” katanya, dan berdiri. “Bukan karena strategis.” Dia merapikan kemejanya. “Karena saya rasa kita berdua butuh waktu untuk berpikir.”
Dia berjalan ke pintu. Lalu berhenti, berbalik, dan dengan wajah merah sampai ke telinga, menambahkan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga:
“Oh, dan. Kalau kamu ketemu adiknya Pak Chakra. Gendis. Tolong sampaikan bahwa video resep mie ayam bawang putihnya yang terakhir sangat… informatif.”
Lalu dia keluar, sebelum aku sempat menutup mulutku yang terbuka.
Pukul sebelas malam, aku turun ke lantai 38.
Ruang kaca Chakra terang benderang. Di dalamnya ada empat orang. Chakra di depan laptop, dengan kemeja yang sudah kusut dan lengan digulung sampai siku. Yudis di sebelahnya, dengan tiga layar dan wajah biksu. Pak Teguh di kursi di sudut, laptopnya terbuka, matanya merah, mengawasi setiap gerakan. Dan seorang analis muda dari Keamanan Informasi yang tertidur di sofa hijau tua dengan mulut terbuka, persis seperti Bagas di malam banjir.
Bagas sendiri, dan Tiara, dan Arini, duduk di luar ruang kaca, di meja-meja mereka, karena mereka tidak diizinkan masuk ke sesi yang diawasi. Tapi mereka tidak mau pulang. Arini menyortir kertas-kertas cetakan. Tiara mewarnai sesuatu dengan stabilo. Bagas tidur dengan kepala di atas keyboard.
Di meja panjang di tengah ruangan ada empat panci. Mie ayam, ayam goreng, sayur asem, dan perkedel. Dan satu termos besar kopi tubruk dengan sticky note tulisan tangan yang miring-miring: Dari Pak Komar dan teman-teman sopir. Semangat Pak Doktor.
Aku berdiri di luar ruang kaca dan menatapnya bekerja.
Dia tidak tahu aku ada di sana. Matanya terpaku ke layar, jarinya bergerak di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Sesekali dia berhenti, mengusap wajah, mendorong kacamata ke atas hidung, sekali, lalu kembali mengetik.
Arini melihatku. Dia berdiri, berjalan mendekat, dan berhenti di sebelahku.
“Dia nggak makan dari pagi,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Dia bilang dia nggak bisa makan sebelum selesai.” Arini menatap Chakra lewat kaca. “Enam tahun lalu di Zürich, waktu dia baru datang, dia juga begitu. Nggak makan, nggak tidur, kerja seperti orang yang mau membuktikan sesuatu ke seseorang yang nggak ada di sana.” Arini menoleh padaku. “Sekarang orangnya ada di sana.”
Aku tidak menjawab.
“Bu Serena,” kata Arini. “Thank you.”
“Untuk apa?”
“Untuk bilang percaya.” Dia tersenyum. Senyum yang sangat tulus, tanpa sisa senyum geli yang biasa. “Enam tahun aku nunggu ada orang yang bilang itu ke dia.”
Lalu dia kembali ke mejanya, meninggalkanku berdiri di luar ruang kaca dengan mata yang tiba-tiba perih.
Aku mengambil mangkuk dari meja panjang. Mengisinya dengan mie ayam, tanpa daun bawang. Lalu aku mengetuk pintu kaca.
Pak Teguh mendongak. Chakra mendongak.
Aku masuk, berjalan ke meja Chakra, dan meletakkan mangkuk itu di sebelah laptopnya.
“Makan,” kataku.
“Rena, aku belum…”
“Aku nggak pertaruhkan jabatanku buat orang yang pingsan sebelum deadline.” Aku menyerahkan sumpit. “Makan. Lima menit. Pak Teguh bisa catat sebagai jeda resmi.”
Pak Teguh, di sudut ruangan, mengetik sesuatu di laptopnya dengan sangat serius. “Tercatat, Bu. Jeda makan, 23.14.”
Chakra menatap mangkuk itu. Lalu menatapku. Lalu, pelan, dia mengambil sumpit.
Dia makan. Aku berdiri di sebelahnya dan menunggu sampai mangkuk itu kosong. Lima menit tepat. Yudis menghitung dengan stopwatch di ponselnya, tanpa diminta.
Setelah suapan terakhir, Chakra meletakkan sumpit dan mendongak padaku.
“Rena,” katanya pelan, cukup pelan supaya hanya aku yang mendengar. “Tadi pagi…”
“Kerja,” kataku. “Bilang terima kasihnya nanti. Kalau menang.”
“Kalau kalah?”
Aku membungkuk, sangat dekat, dan berbisik di telinganya:
“Kalau kalah, kita buka cabang mie ayam keempat. Di Senopati. Aku yang jadi kasir.”
Dia tertawa. Tawa pendek, kaget, dan sangat lelah. Tawa yang membuat Pak Teguh mendongak dan Yudis mengerjap.
Aku keluar dari ruang kaca tanpa menoleh.
Di belakangku, aku mendengar suara keyboard kembali berbunyi. Lebih cepat dari sebelumnya.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya reading
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat