Chapter Two

Mie Ayam Tanpa Daun Bawang

POV: Chakra


Ibuku punya satu keyakinan yang tidak bisa digoyahkan oleh gelar doktor, paten di tiga negara, atau kenyataan bahwa anaknya sekarang menyetir mobil yang harganya setara dua puluh gerobak mie ayam: semua masalah di dunia ini dimulai dari perut kosong.

“Antar ke Neng Rena.”

Pukul enam pagi, Selasa. Dapur rumah Cibubur wangi kaldu ayam dan bawang putih goreng. Ibu berdiri di depan kompor dengan daster batik ungu dan sandal jepit hijau, rambutnya dicepol pakai jepit jemuran. Di meja ada rantang susun tiga dari stainless yang sudah ia isi, ikat, dan beri plastik kresek. Di kresek itu menempel kertas kecil bertuliskan tangan ibu yang miring-miring.

“Bu,” kataku pelan. “Dia CEO. Bukan tetangga.”

“CEO juga perut.”

“Lantainya dijaga satpam, Bu. Ada sekretaris. Ada protokol.”

“Satpam juga perut.” Ibu menaruh sendok sayur dengan tegas. “Kemarin kamu pulang jam sebelas malam, mukanya kayak habis lihat setan. Ibu tanya kenapa, kamu bilang ‘nggak apa-apa’. Kamu itu kalau bilang ‘nggak apa-apa’ artinya ada apa-apa. Dari SD begitu.”

Dari tangga terdengar langkah diseret. Gendis turun dengan rambut seperti sarang burung dan ponsel di tangan. Ponsel itu, sejauh yang kutahu, sudah jadi bagian tubuhnya sejak kelas dua SMP.

“Pagi, Mas Doktor,” katanya sambil menguap. “Gimana hari pertama? Ketemu mantan?”

Ibu dan aku menoleh bersamaan.

“Kok kamu tahu?” tanya Ibu.

“Ya kan aku yang ngeliatin Mas Chakra pulang. Mukanya merah, terus ngelamun di depan kulkas lima menit. Itu muka orang ketemu mantan, Bu. Aku punya data.” Gendis mencomot kerupuk dari toples. “Lagian Mas kerja di SC Tower. SC itu Sinclair. Sinclair itu Kak Rena. Matematikanya gampang.”

Aku menatap adikku. Dua puluh empat tahun, selebgram kuliner dengan tiga ratus ribu pengikut, dan dia baru saja memecahkan dalam lima detik sesuatu yang kurahasiakan dari Ibu selama tiga bulan.

“Kamu,” kata Ibu padaku, pelan dan berbahaya, “kerja di kantornya Neng Rena, dan kamu nggak bilang Ibu?”

“Itu kantor keluarganya, Bu. Bukan kantornya pribadi.”

“Sama aja!”

Lima belas menit kemudian aku keluar dari rumah membawa rantang susun tiga, ditambah satu kresek lagi berisi kerupuk pangsit dan sambal dalam botol bekas selai. Kata Ibu, “Neng Rena suka sambalnya dipisah.”

Aku tidak membantah. Aku memang tidak pernah menang melawan ibuku. Dan kebetulan, Ibu benar. Rena memang suka sambalnya dipisah.


Di mobil, di tengah macet tol Jagorawi yang bergerak dengan kecepatan siput depresi, aku membuka laptop di kursi penumpang.

Ada satu folder yang tidak pernah kusinkronkan ke perangkat kantor. Namanya pendek: sc_watch.

Isinya dashboard yang kubangun sendiri selama dua tahun terakhir di apartemen kecilku di Zürich, setiap malam setelah pekerjaan utama selesai. Bahannya cuma data publik: laporan keuangan tahunan SC Group yang wajib dirilis karena sebagian anak usahanya melantai di bursa, pengumuman tender pemerintah yang dimenangkan SC Construction, data harga komoditas, dan berita. Ribuan baris yang kebanyakan orang tidak akan pernah baca.

Aku membacanya. Semuanya.

Awalnya, jujur saja, bukan karena alasan mulia. Awalnya aku cuma laki-laki menyedihkan yang tidak bisa tidur dan butuh cara untuk tetap merasa dekat dengan seseorang tanpa harus menelepon. Membaca laporan keuangan perusahaan keluarga mantan istri adalah, harus kuakui, cara yang cukup unik untuk patah hati.

Tapi di tahun kedua, angka-angka itu mulai terlihat salah.

Biaya proyek konstruksi yang membengkak di pola yang terlalu teratur. Pemenang subkontrak yang namanya berbeda-beda tapi alamat korespondensinya mirip. Dan selisih persediaan ritel yang dilaporkan sebagai “penyesuaian stok” tapi besarnya naik setiap kuartal, seperti seseorang yang makin berani karena tidak ada yang menegur.

Satu-dua anomali bisa kebetulan. Puluhan anomali yang berbaris rapi tidak.

Ketika headhunter dari Singapura menghubungiku tiga bulan lalu dengan tawaran dari “sebuah grup konglomerasi Indonesia, identitas dirahasiakan sampai tahap akhir”, aku sudah tahu grup mana itu sebelum dia selesai bicara. Hanya ada satu konglomerasi di Indonesia yang data publiknya sudah kuhafal di luar kepala.

Aku bilang ya dalam satu tarikan napas.

Lalu aku minta satu syarat: identitasku juga dirahasiakan sampai hari pertama.

Aku menutup laptop. Di luar jendela, truk bertuliskan SC Logistics merayap di lajur kiri, bannya berdebu, sopirnya mengetuk-ngetuk setir mengikuti dangdut.

Aku datang bukan untuk dia, aku bilang pada diriku sendiri.

Atau setidaknya, bukan cuma untuk dia.


Lantai 38 dulunya ruang arsip. Sekarang dindingnya sudah dicat ulang putih dan abu-abu. Tiga layar besar terpasang di dinding utara, mejanya panjang dan bisa dinaikturunkan, dan ada satu sofa hijau tua yang entah kenapa sudah dianggap keramat oleh tim, meski baru dua minggu ada di sana.

Timku tiga orang. Untuk sekarang.

Bagas, insinyur machine learning, dua puluh enam tahun, berkacamata lebih tebal dariku, dan selalu memakai kaus band metal di balik kemeja kantor yang tidak pernah dikancingkan. Tiara, analis data, dua puluh lima tahun, bicaranya cepat dan selalu membawa tiga stabilo warna berbeda. Yudis, insinyur data, dua puluh delapan tahun, pendiam, dan sanggup membersihkan basis data berantakan dengan ketenangan biksu.

Mereka menyambutku kemarin sore dengan sangat canggung, lalu pagi ini dengan sesuatu yang lebih buruk: kekaguman.

“Pak,” kata Bagas sebelum aku sempat menaruh tas, “saya baca paper Bapak waktu S2. Yang soal hierarchical forecasting dengan adaptive ensemble. Saya sampai print, Pak. Saya stabiloin.”

“Itu stabilo saya,” kata Tiara.

“Kamu pinjamin.”

“Kamu nggak balikin.”

Yudis mengangkat tangan sedikit tanpa menoleh dari layar. “Pagi, Pak.”

Aku tertawa. Untuk pertama kalinya sejak kemarin pukul sembilan pagi, dadaku sedikit lebih ringan.

“Pagi. Hari ini kita mulai dari tiga ratus dua belas gerai itu. Yudis, saya butuh log transaksi per jam dari semua gerai itu, mentah, jangan diagregasi. Tiara, cari tahu siapa saja kepala area yang pegang gerai-gerai itu dalam dua tahun terakhir, ada mutasi atau tidak. Bagas…”

“Ya, Pak?”

“…tolong kembalikan stabilonya Tiara.”

Tiara mengepalkan tangan ke udara dengan penuh kemenangan.


Pukul sepuluh, Pak Hendra memanggilku ke ruangannya di lantai 40.

Ruangannya hangat. Bukan cuma soal suhu, tapi suasananya. Ada foto keluarga di meja, Pak Hendra dengan istri dan dua anak remajanya di pantai. Ada mesin kopi kapsul. Ada piagam penghargaan dari asosiasi kontraktor. Dan ada senyum Pak Hendra sendiri, yang dulu, enam tahun lalu, kurasa satu-satunya senyum tulus di keluarga Sinclair.

“Chakra.” Dia berdiri dan menjabat tanganku dengan dua tangan. “Duduk, duduk. Kopi? Ini yang dari Toraja, enak.”

“Terima kasih, Pak.”

“Aduh, jangan Pak-Pak-an kalau berdua. Om aja. Kayak dulu.” Dia menyerahkan cangkir. “Saya kaget kemarin, terus terang. Tapi kaget yang senang. Lihat kamu sekarang. Doktor. Paten. Ya ampun, Ratmi pasti bangga sekali.”

“Ibu sehat, Om. Terima kasih.”

“Syukurlah.” Dia duduk, menyesap kopinya, menatapku dengan mata yang ramah. “Saya cuma mau bilang satu hal. Masa lalu biar masa lalu, ya. Keluarga kami… yah, kami juga banyak salah. Saya pribadi selalu menyayangkan apa yang terjadi. Kalau ada apa-apa, kalau kamu butuh apa pun di sini, datang ke saya. Pintu saya selalu terbuka.”

“Terima kasih, Om.”

“Oh, satu lagi.” Dia meletakkan cangkir. Nadanya masih sama ringannya. “Soal analisis tiga ratus dua belas gerai itu. Bagus sekali. Luar biasa. Tapi tolong ke depannya, temuan sensitif seperti itu kirim ke saya dulu sebelum ke CEO, ya. Operasional kan di bawah saya. Biar saya verifikasi, saya rapikan, baru kita bawa bersama ke Serena. Supaya dia nggak panik. Kamu tahu sendiri dia orangnya gimana.”

Aku menatap kopi Toraja di tanganku. Wanginya enak.

“Baik, Om,” kataku. “Saya catat.”

Aku mencatatnya. Hanya saja, bukan di kolom yang dia harapkan.


Pukul sebelas lewat lima belas, telepon mejaku berbunyi. Suara Sisca, sekretaris Rena. Dari cara bicaranya aku menduga dia sudah tahu jauh lebih banyak daripada yang pantas diketahui seorang sekretaris.

“Pak Chakra, Bu Serena minta Bapak ke ruangannya. Sekarang. Bawa laptop. Katanya, kutip langsung, ‘bawa laptop, bukan senyum’.”

Ruang CEO di ujung lantai 40 lebih besar dari apartemenku di Zürich. Dindingnya kaca tiga sisi. Mejanya kayu gelap dan sangat rapi, nyaris tidak ada apa-apa di atasnya: satu laptop, satu tablet, satu pulpen biru, dan satu cangkir kopi yang sudah dingin. Rena tidak pernah ingat menghabiskan kopi saat sedang marah.

Dia duduk di balik meja itu, punggung tegak, rambut disanggul, blus sutra hijau zamrud yang membuat kulitnya terlihat seperti cahaya pagi.

Aku sudah melatih diriku selama enam tahun untuk ini. Untuk melihatnya lagi dan tetap bisa bernapas normal.

Ternyata latihannya tidak cukup.

Dia cantik dengan cara yang tidak adil. Dulu, waktu dia masih istriku, dia cantik seperti bunga di jendela: lembut, dekat, dan bisa kusentuh setiap pagi. Sekarang dia cantik seperti puncak gedung ini. Tinggi, berkilau, dingin, dan siapa pun yang mau naik harus melewati dua satpam dan seorang sekretaris yang punya insting gosip.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

“Analisis tiga ratus dua belas gerai. Saya sudah baca.” Dia memutar laptopnya ke arahku, layarnya penuh coretan warna merah. Rena selalu membaca sambil mencoret. “Bapak bilang ini sistem. Saya mau tahu: sistem apa, siapa yang menjalankan, dan berapa lama sampai Bapak bisa membuktikannya dengan sesuatu yang lebih dari grafik cantik.”

“Dua minggu untuk pola lengkapnya, Bu. Untuk nama, tergantung seberapa bersih data kepegawaian dan data mutasi kepala area. Tim saya sudah mulai pagi ini.”

“Dua minggu.” Dia menyandarkan punggung. Matanya menatapku seperti menimbang barang di timbangan. “Bapak yakin bisa mengelola data sembilan ribu delapan ratus gerai? Ini bukan tiga cabang mie ayam.”

Kalimatnya jatuh di antara kami seperti gelas pecah.

Dan aku melihatnya. Dia mungkin mengira wajahnya sudah terkunci rapat, tapi aku pengamat. Aku hidup dari pola. Bibir bawahnya tertarik sedikit ke dalam, digigit dari sisi kiri. Itu kebiasaan lamanya setiap kali dia menyesal mengatakan sesuatu. Kebiasaan yang dulu selalu diikuti pelukan tiba-tiba dari belakang dan bisikan maaf, maaf, maaf di punggungku.

Sekarang tidak ada pelukan. Hanya meja kayu gelap sepanjang dua meter di antara kami.

Aku tersenyum.

“Justru itu, Bu,” kataku pelan. “Mie ayam ngajarin saya satu hal yang nggak diajarin di Zürich.”

Dia diam.

“Pelanggan yang paling setia pun bisa pergi,” aku menutup laptop dengan hati-hati, “cuma karena dengar gosip dari tetangga.”

Hening. AC berdesis. Di luar dinding kaca, Sisca tiba-tiba sangat sibuk menyiram tanaman plastik.

Rena tidak membalas. Matanya berkedip satu kali, lambat. Lalu dia menarik napas, mengambil pulpen biru, dan menulis sesuatu di tablet tanpa melihatku.

“Dua minggu,” katanya. “Silakan keluar.”

Aku keluar. Di ambang pintu aku tidak menoleh, karena kalau menoleh aku tahu aku akan melihat dia menggigit bibir lagi. Dan enam tahun ternyata tidak cukup lama bagiku untuk bisa melihat itu tanpa ingin kembali.


Rantang Ibu baru kuingat pukul dua belas.

Masih ada di bawah mejaku, di dalam kresek. Kertas kecil itu masih menempel. Aku membacanya lagi: Neng, jangan lupa makan. Chakra juga belum makan. Sambel dipisah, daun bawangnya udah Ibu buang.

Daun bawangnya sudah Ibu buang. Enam tahun, dan Ibu masih ingat.

Aku menelepon Sisca.

“Mbak Sisca, maaf. Saya mau titip sesuatu untuk Bu Serena. Makan siang.”

Hening di seberang. Lalu suara Sisca berubah, seperti seseorang yang baru sadar sedang duduk di kursi terdepan sebuah pertunjukan. “Dari Bapak?”

“Dari ibu saya.”

“…Ibu Bapak kenal Bu Serena?”

“Lumayan.”

Sepuluh menit kemudian Sisca turun ke lantai 38, mengambil rantang itu, dan naik lagi. Lima menit kemudian dia turun lagi, masih membawa rantangnya, dan selembar sticky note kuning menempel di tutupnya. Tulisan tangan Rena. Aku mengenalinya dari huruf g yang ekornya selalu melingkar terlalu panjang.

Kembalikan. Saya tidak makan dari vendor yang tidak terdaftar.

Bagas, Tiara, dan Yudis berhenti mengetik. Mereka tidak bertanya apa-apa, tapi keheningan mereka sangat keras.

Aku mengambil sticky note dari laci, kuning juga, dan menulis di bawahnya:

Vendor: Ibu mertua (status: non-aktif). Terdaftar sejak 2018.

Lalu kutempelkan di sebelah catatan Rena dan kuserahkan kembali rantangnya ke Sisca.

Sisca menatap catatan itu. Menatapku. Menatap catatan itu lagi. Mulutnya terbuka, menutup, lalu terbuka lagi.

“Pak,” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Ibu… mertua?”

“Tolong diantar, Mbak. Keburu dingin.”

Sisca naik ke lantai 40 dengan langkah orang yang baru menemukan harta karun dan tidak tahu harus melapor ke siapa.

Tiara memutar kursinya perlahan. “Pak.”

“Hm.”

“Kami nggak lihat apa-apa.”

“Terima kasih, Tiara.”

“Tapi nanti kalau Bapak butuh analisis sentimen dari sticky note,” kata Bagas, “saya siap, Pak.”


Pukul satu siang, aku naik ke lantai 40 untuk mengantar dokumen akses data ke Bu Lestari di Legal.

Dari lorong, ruang CEO terlihat dari sisi kaca yang tidak tertutup tirai. Bukan salahku. Gedung ini yang terlalu transparan.

Rena duduk di balik mejanya. Rantang Ibu terbuka di depannya. Dia sedang makan, cepat, dengan kepala sedikit menunduk, seperti orang yang tidak ingin ketahuan. Sanggulnya sedikit miring. Satu tangan memegang sumpit dan tangan lain memegang ponsel, pura-pura membaca. Sesekali dia menyendok sambal dari botol bekas selai itu, sedikit, lalu menambah lagi.

Dia tidak tahu aku melihat. Aku melihat pantulannya di kaca partisi lorong, jadi bahkan kalau dia mendongak pun, dia hanya akan melihat bayangan.

Mie ayam tanpa daun bawang. Sambal dipisah. Persis seperti delapan tahun lalu di warung kontrakan Ibu, di bawah hujan, waktu seorang perempuan bergaun mahal yang basah kuyup duduk di bangku plastik dan menyisihkan daun bawang satu per satu dari mangkuknya. Waktu itu aku mengambil sumpit dan membantunya, tanpa bertanya, sampai tidak ada daun bawang yang tersisa.

Dia mendongak waktu itu dan bilang, kok kamu tahu?

Aku bilang, kelihatan.

Dia tertawa. Dan aku jatuh cinta, saat itu juga, di bangku plastik, dengan sumpit di tangan dan atap seng yang berisik dipukul hujan.

Aku memalingkan muka dan berjalan ke ruang Legal sebelum siapa pun melihatku berdiri di lorong seperti orang bodoh.


Pukul dua, Sisca turun ke lantai 38 untuk ketiga kalinya hari itu.

Wajahnya datar dengan cara yang sudah dilatih. Dia meletakkan rantang di mejaku. Rantang itu ringan sekali. Kosong. Bahkan kuahnya pun habis.

Di tutupnya ada sticky note baru.

Kurang pedas.

Aku tidak bisa menahan senyum. Aku mengambil pulpen dan menulis jawaban:

Dulu katanya kepedesan.

“Mbak Sisca,” kataku, menyerahkan kembali rantang kosong itu, “maaf, sekali lagi.”

Sisca menerimanya dengan tarikan napas panjang orang yang sedang mempertanyakan pilihan karier. “Pak. Saya ini lulusan Manajemen Bisnis dengan IPK tiga koma tujuh.”

“Saya tahu, Mbak. Saya lihat di profil LinkedIn Mbak. Bagus sekali.”

“Dan sekarang saya kurir rantang.”

“Kurir rantang paling berpengaruh di Indonesia, Mbak.”

Sisca menatapku lama, lalu naik ke lantai 40 sambil bergumam sesuatu yang terdengar seperti aku butuh kenaikan gaji.

Dia kembali dua puluh menit kemudian. Tidak bicara apa-apa. Dia hanya meletakkan satu sticky note kuning di mejaku, di atas keyboard, lalu pergi dengan langkah yang sangat sengaja.

Tulisan tangan Rena. Huruf g yang ekornya melingkar terlalu panjang. Tintanya sedikit tertekan, seolah ditulis dengan pulpen yang dipegang terlalu kuat.

Dulu lidahku masih naif.

Aku membacanya tiga kali.

Lalu aku membuka dompet dan menyelipkan sticky note itu di balik foto KTP. Di sana sudah ada satu kertas lain, terlipat dan pudar, yang sudah enam tahun tidak pernah kukeluarkan.

Bagas, Tiara, dan Yudis tidak melihat apa-apa. Mereka sudah bilang begitu.