Chapter Twelve

Rumah di Cibubur

POV: Serena


Aku mengganti baju empat kali sebelum berangkat ke Cibubur.

Blazer terlalu formal. Ini kunjungan bisnis, tapi ke rumah, dan Bu Ratmi akan menatapku seperti menatap tamu dari kantor pajak. Gaun terlalu santai. Ini kunjungan bisnis, dan aku membawa proposal setebal empat puluh halaman. Kaus dan jins terlalu… seperti dulu. Terlalu seperti menantu yang pulang ke rumah mertua di hari Minggu.

Akhirnya aku memakai blus linen putih, celana kulot krem, sandal tali, dan rambut yang diikat setengah. Profesional tapi ramah. Tidak terlalu mahal, tidak terlalu cantik.

Lalu aku memakai lipstik warna mawar tua, karena aku tidak setolol itu.

Pak Udin menyetir ke Cibubur dengan wajah yang tidak bertanya apa-apa. Di kursi belakang, aku membaca proposal itu untuk kesembilan kalinya. Kemitraan Produk Siap Saji: Mie Ayam Bu Ratmi × SinMart. Mie ayam beku dalam kemasan, kuah terpisah, sambal sachet, bisa dipanaskan dalam lima menit. Dijual di seribu dua ratus gerai SinMart di Jabodetabek sebagai uji coba, lalu nasional kalau berhasil.

Proposal ini bagus. Aku tahu proposal ini bagus. Tim pengembangan produk SinMart sudah lama mencari mitra UMKM kuliner untuk lini siap saji. Data penjualan mie instan premium di SinMart naik terus tiga tahun terakhir. Mie ayam adalah makanan nomor dua yang paling sering dicari di aplikasi pesan antar di Jabodetabek. Semua angka mendukung.

Aku tidak membuat proposal ini karena alasan pribadi. Sama sekali tidak.

Proposal ini kebetulan saja selesai dua hari setelah Chakra memenangkan tender senilai dua triliun dan aku memakai kacamatanya di lantai 38 pukul dua pagi.

Kebetulan saja.


Rumah Bu Ratmi berada di sebuah kluster baru di Cibubur. Rumahnya dua lantai bercat putih, berpagar hitam, dengan taman kecil yang sangat rapi di depannya. Ada pohon mangga muda, deretan pot cabai, dan, ini yang membuatku tersenyum sebelum turun dari mobil, sebuah gerobak mie ayam kayu yang sudah dicat ulang dan dipajang di teras seperti monumen.

Gerobak itu. Aku mengenalinya. Dulu gerobak itu berdiri di depan kontrakan di Margonda, dengan spanduk kuning Enak, Murah, Bikin Kangen. Cat birunya sudah dipernis ulang, tapi bekas goresan di sudut kirinya masih ada. Goresan dari motor tetangga yang menabraknya waktu aku dan Chakra masih pacaran.

Pintu rumah terbuka sebelum aku sempat mengetuk.

“NENG RENA!”

Bu Ratmi berlari keluar dengan daster batik ungu, sandal jepit hijau, dan rambut dicepol dengan jepit jemuran. Persis seperti delapan tahun lalu. Persis. Seolah waktu bisa diawetkan dalam daster dan jepit jemuran.

Dia memelukku. Erat. Lama. Wangi bawang putih goreng dan minyak kayu putih.

Aku tidak siap. Proposal empat puluh halaman di tanganku terjepit di antara kami. Aku membeku sesaat, lalu, tanpa izin dari otakku, tanganku sendiri memeluknya balik.

“Ya Allah, Neng,” katanya di bahuku, suaranya bergetar. “Ya Allah. Makin cantik. Kurus. Kamu makan nggak, sih? CEO juga harus makan.”

“Makan, Bu.”

“Bohong. Ibu lihat di TikTok-nya Gendis, kamu kurus.” Dia melepaskan pelukan dan memegang kedua lenganku, menatapku dari atas ke bawah dengan mata yang basah. “Masuk, masuk. Ibu udah masak dari subuh.”

“Bu, saya ke sini untuk urusan bisnis. Ada proposal…”

“Iya, iya, proposal. Nanti. Makan dulu.” Dia menarik tanganku ke dalam rumah. “Bisnis itu urusan perut kenyang. Orang lapar nggak bisa tanda tangan.”

Logika Bu Ratmi. Aku sudah lupa betapa tak terbantahkannya logika Bu Ratmi.


Ruang tamu rumah itu nyaman dan sedikit terlalu penuh. Sofa beludru cokelat. Lemari kaca berisi piring-piring pajangan yang tidak pernah dipakai. Foto-foto keluarga di dinding: Chakra kecil berseragam SD dengan gigi depan ompong, Gendis bayi di gendongan, dan foto almarhum ayah Chakra, laki-laki kurus berkumis tipis dengan senyum yang sama persis seperti senyum anaknya.

Dan foto wisuda Chakra di Zürich. Toga hitam, kacamata, senyum yang sedikit canggung. Bu Ratmi berdiri di sebelahnya dengan kebaya merah dan kerudung yang dipakai terbalik, jelas belum pernah pakai kerudung sebelumnya dan diajari orang di bandara.

“Ibu ke Swiss?” tanyaku.

“Iya, Neng. Pertama kali naik pesawat. Mabuk dua belas jam.” Bu Ratmi tertawa. “Di sana dingin banget. Ibu bawa rendang satu koper, disita di bandara.”

Aku tertawa. Lalu berhenti, karena di sudut ruangan, di ambang tangga, Chakra berdiri dengan kaus abu-abu, celana pendek, dan rambut yang masih basah habis mandi.

Tanpa kacamata.

Dia menyipitkan mata ke arahku, jelas tidak bisa melihat dengan jelas, lalu buru-buru meraba saku celananya, lalu meja di sebelah tangga, lalu menyerah.

“Bu,” katanya. “Bu Serena sudah datang?”

“Udah dari tadi! Kamu mandinya kayak putri keraton!”

“Kacamata saya di mana, Bu?”

“Di kepalamu!”

Chakra mengangkat tangan ke kepalanya. Kacamata itu ada di sana, tersangkut di rambut basahnya. Dia menurunkannya, memakainya, mengedip dua kali, dan matanya akhirnya fokus padaku.

Lalu dia berdiri diam di ambang tangga, menatapku di ruang tamu ibunya, dengan blus linen putih dan lipstik mawar tua, dan wajahnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat sejak dia kembali.

Dia tidak tersenyum. Dia terlihat seperti orang yang baru saja ditinju di perut.

“Selamat siang, Bu,” katanya akhirnya.

“Selamat siang, Pak Chakra.”

Bu Ratmi menatap kami bergantian, lalu menghela napas seperti ibu-ibu yang menonton sinetron dengan pemeran yang terlalu lambat.

“Bu. Pak.” Dia menggeleng. “Di rumah Ibu nggak ada Bu-Pak. Di sini cuma ada anak-anak Ibu.”


Makan siang terdiri dari sebelas jenis makanan.

Mie ayam, tentu saja, tanpa daun bawang untukku dan sambal di mangkuk terpisah. Lalu ayam goreng, sayur asem, tempe mendoan, sambal terasi, perkedel kentang, sop buntut, pepes ikan, kerupuk, emping, dan es buah. Meja makan yang muat enam orang dipenuhi piring sampai tidak ada ruang untuk siku.

“Bu, ini terlalu banyak.”

“Nggak ada yang terlalu banyak buat menantu.” Bu Ratmi menaruh perkedel ketiga di piringku. “Eh. Maksud Ibu, buat tamu. Tamu.”

Chakra tersedak sop buntut.

Gendis turun dari lantai dua di tengah makan siang, dengan rambut seperti baru keluar dari mesin cuci dan ponsel di tangan. Dia melihatku dan menjerit pelan.

“Kak Rena! Kakak beneran datang! Aku kira Mas bohong!”

“Halo, Gendis.”

“Ya ampun, Kak, aku harus bikin konten. Ini momen bersejarah. Kak, boleh nggak aku…”

“Gendis,” kata Chakra dan Bu Ratmi bersamaan.

“…duduk dan makan dengan tenang,” lanjut Gendis lancar. “Itu yang mau aku bilang.”

Dia duduk di sebelahku, menyendok mie ayam, dan selama tiga menit dia benar-benar makan dengan tenang. Selama tiga menit itu juga, ponselnya tergeletak di samping piring dengan layar menyala, dan aku tidak memperhatikan bahwa ikon merah kecil di pojok kiri atas layarnya sedang berkedip.


Setelah makan, akhirnya, aku menyerahkan proposal itu ke Bu Ratmi.

Kami duduk di ruang tamu. Bu Ratmi membaca halaman pertama dengan kacamata baca yang dipinjam dari Chakra. Kacamata minus yang membuatnya mengernyit dan menjauhkan kertas sejauh lengan, sampai Chakra bangkit dan mengambilkan kacamata plus milik Ibu dari laci.

Bu Ratmi membaca dengan lambat. Halaman satu. Halaman dua. Halaman tiga.

Lalu dia meletakkan proposal itu di pangkuannya dan menatapku.

“Neng,” katanya. Suaranya berubah. Bukan suara ibu-ibu yang menyuruh makan. Suara perempuan yang sudah berdagang sejak umur sembilan belas. “Ini karena kasihan?”

Aku tidak siap untuk pertanyaan itu.

“Bukan, Bu.”

“Ibu nggak mau dikasihani. Dulu keluargamu…” dia berhenti. Menarik napas. “Dulu Ibu pernah dibilang tukang mie nggak tahu diri. Ibu nggak apa-apa. Ibu memang tukang mie. Tapi Ibu nggak mau anak Ibu kerja di kantormu, terus Ibu dapat kontrak cuma karena itu. Itu namanya dikasihani.”

Hening. Di sebelahku, Chakra tidak bergerak. Gendis berhenti mengunyah emping.

Aku menatap Bu Ratmi. Perempuan yang dulu memelukku di hari akad dan bilang Neng sekarang anak Ibu juga. Perempuan yang keluargaku sebut tukang mie nggak tahu diri di belakangnya, di acara-acara yang tidak pernah mengundangnya.

Aku tidak pernah membelanya. Waktu itu aku tidak pernah membelanya.

“Bu,” kataku pelan. “Ini bukan karena kasihan. Ini karena data.”

Bu Ratmi mengangkat alis.

Aku membuka proposal itu ke halaman dua belas. Grafik penjualan. “Mie ayam adalah makanan nomor dua paling sering dipesan lewat aplikasi pesan antar di Jabodetabek. Pembeli mie instan premium di SinMart naik tiga puluh persen per tahun. Tim produk kami sudah dua tahun cari mitra UMKM kuliner yang punya rasa yang konsisten, merek yang dikenal, dan sejarah. Mie Ayam Bu Ratmi punya ketiganya. Tiga cabang, rating empat koma delapan di semua aplikasi, dan tujuh belas tahun berdiri.”

Aku menutup proposal.

“Dan,” kataku, lebih pelan lagi, “data Pak Chakra bilang mie ayam Ibu enak.”

Hening sebentar.

Lalu Bu Ratmi tertawa. Tawa yang lepas, keras, sampai kacamata plus-nya melorot. Gendis ikut tertawa. Chakra, di sebelahku, menutup wajah dengan tangan, tapi bahunya berguncang.

“Data!” Bu Ratmi menepuk lututnya. “Data Pak Chakra! Neng, Pak Chakra-mu itu dari kecil udah makan mie ayam Ibu tiap hari. Datanya bias!”

“Bias positif, Bu,” kata Chakra di balik tangannya. “Tetap valid.”

Bu Ratmi menyeka matanya. Lalu dia menatapku lama, dengan mata yang masih basah tapi sekarang tidak lagi curiga.

“Ibu pikirin, ya, Neng,” katanya. “Ibu baca dulu semuanya. Ibu tanya Gendis, dia yang pegang Instagram. Ibu tanya Chakra, dia yang ngerti angka.”

“Tentu, Bu.”

“Tapi Neng,” Bu Ratmi menggenggam tanganku, “makasih. Bukan buat proposalnya. Buat datang.”


Chakra mencuci piring. Aku membantunya, karena Bu Ratmi bilang tamu nggak boleh cuci piring dan aku membalas tamu yang makan sebelas lauk harus cuci piring. Bu Ratmi kalah debat untuk pertama kalinya dalam sejarah, lalu masuk ke kamar untuk istirahat sebentar, dengan senyum yang sangat mencurigakan.

Dapur itu sempit. Wastafel di bawah jendela kecil yang menghadap halaman belakang. Chakra mencuci, aku mengeringkan dengan serbet. Siku kami bersenggolan setiap kali dia menyerahkan piring.

Kami tidak bicara. Hanya suara air, dentingan piring, dan dengung kulkas.

Lalu aku melihatnya.

Di rak kayu di atas wastafel, di antara toples-toples bumbu dan gelas-gelas biasa, berdiri dua mug keramik. Satu biru, satu merah muda. Di mug biru tertulis MAS, di mug merah muda tertulis NENG, dengan huruf kapital yang sedikit miring, dicat tangan.

Aku membuat mug itu. Di kelas keramik di Kemang, sebulan sebelum akad. Hadiah untuk Chakra, karena dia selalu minum kopi dari gelas plastik bekas selai. Dia tertawa sampai menangis waktu menerimanya, lalu bilang huruf S di MAS terlihat seperti cacing kepanasan.

Mug itu ada di sini. Bersih. Tanpa debu. Di rak yang paling mudah dijangkau.

“Itu…” Suaraku tersangkut.

Chakra mengikuti arah mataku. Tangannya berhenti di bawah kucuran air.

“Ibu yang simpan,” katanya pelan.

Dari pintu dapur, suara Bu Ratmi terdengar, sama sekali tidak terdengar seperti orang yang sedang istirahat: “Bohong! Chakra yang nggak mau dibuang! Ibu mau kasih ke tukang loak tahun lalu, dia marah tiga hari!”

“Ibu.”

“Ibu tidur! Ibu nggak dengar apa-apa!”

Aku menatap mug itu. Lalu menatap Chakra. Dia menatap air yang mengucur dari keran, dengan telinga yang memerah sampai ke ujung.

Aku mengambil segenggam air dari wastafel dan memercikkannya ke wajahnya.

Dia tersentak. Air menetes dari kacamatanya, dari dagunya, ke kausnya.

“Rena…”

Dia berhenti. Kami berdua berhenti.

Itu kedua kalinya. Dan kali ini dia tidak menariknya kembali. Dia tidak membetulkannya menjadi Bu. Dia hanya berdiri di sana, wajahnya basah, kacamatanya berembun, menatapku dengan mata yang terlihat seperti seseorang yang menyerah pada sesuatu.

Aku tersenyum. Lalu aku melepas kacamatanya yang berembun, untuk kedua kalinya minggu ini, dan mengeringkannya dengan ujung blus linenku. Pelan-pelan, satu lensa, lalu lensa yang lain.

Dia berdiri diam sementara aku melakukannya. Buram, tanpa kacamata, hanya bisa melihatku samar-samar dari jarak dua puluh senti.

“Kenapa kamu simpan?” bisikku, sambil membersihkan lensa.

Dia tidak menjawab.

Aku memakaikan kacamatanya kembali. Membuka gagangnya, menyelipkannya ke balik telinga, mendorong bagian tengahnya ke atas hidungnya dengan satu jari.

“Kenapa?” ulangku.

Dia menatapku. Dunia di matanya kembali tajam. Dan aku bisa melihat jawabannya di sana, utuh, jelas, tidak tertutup apa pun.

Tapi bibirnya hanya berkata: “Mugnya masih bagus. Sayang kalau dibuang.”

Sayang.

Aku mendengus. “Sayang mugnya, ya?”

“Sayang mugnya, Bu.”

“Kamu kepedean kalau kamu kira aku kepedean.”

Dia tertawa. Tawa yang tulus dan hangat, tawa yang memenuhi dapur sempit itu. Aku tertawa juga. Kami berdiri di depan wastafel, basah, tertawa seperti dua orang bodoh. Dari balik pintu, aku yakin Bu Ratmi juga sedang tertawa sambil menutup mulut dengan bantal.


Sebelum pulang, aku naik ke lantai dua untuk ke kamar mandi. Bu Ratmi yang menunjukkan jalannya, dengan senyum yang sangat sengaja: “Kamar mandinya di ujung, Neng, lewat kamar Chakra.”

Pintu kamar Chakra terbuka setengah.

Aku tidak berniat masuk. Aku hanya melihat ke dalam saat lewat. Kamar itu sederhana. Rak buku penuh, meja kerja dengan dua monitor, jendela yang menghadap pohon mangga. Dan tempat tidur. Kasur tunggal, sprei abu-abu, satu bantal.

Dan satu guling. Di sisi kiri.

Aku masuk.

Aku duduk di tepi kasur itu. Pelan. Menekan permukaannya dengan telapak tangan. Empuk. Kecil. Sangat kecil untuk laki-laki setinggi dia.

“Bu.”

Dia berdiri di ambang pintu. Kacamatanya sudah kering. Wajahnya kembali tenang, tapi tangannya menggenggam kusen pintu sedikit terlalu kuat.

“Ini kasurmu?” tanyaku.

“Iya.”

“Kecil, ya.” Aku menepuk-nepuk sisi kanan kasur yang kosong. “Pas buat satu orang.”

Dia tidak menjawab.

Aku menatap guling di sisi kiri. Lalu menatapnya. Lalu menyilangkan kaki dengan gerakan yang sangat pelan, di atas kasur tunggal di kamar tidurnya, di rumah ibunya, di hari Minggu siang.

“Bu,” katanya, suaranya sangat rendah. “Keluar dari kamar saya.”

“Kenapa?” Aku memiringkan kepala. “Takut?”

Dia menatapku. Lama. Napasnya berat. Jakunnya naik turun.

Lalu dia melangkah masuk. Satu langkah. Dua langkah.

Aku menahan napas.

“MAS! KAK RENA!”

Gendis menerobos ke ambang pintu dengan ponsel teracung di depan wajahnya, matanya lebar, rambutnya berantakan.

“Jangan marah ya, tapi aku tadi lupa matiin live dari pas makan siang.”

Hening.

“…Berapa lama?” tanya Chakra pelan.

“Dua jam empat puluh menit.” Gendis menelan ludah. “Kameranya ngadep ke langit-langit, kok. Kebanyakan. Tapi suaranya kedengeran semua. Terus pas di meja makan kameranya miring dikit, jadi muka Kak Rena kelihatan setengah. Dan…” dia memutar ponselnya ke arah kami, “…ada yang udah screen record. Udah diunggah ulang. Judulnya, eh…”

Aku membaca judul itu di layar ponselnya.

CEO SC GROUP KE RUMAH MANTAN MERTUA?? DIPANGGIL “MENANTU” 😭😭 [FULL AUDIO]

Satu juta empat ratus ribu tayangan. Dalam tiga jam.

Ponselku di saku celana bergetar. Lalu bergetar lagi. Lalu terus bergetar, tanpa henti, seperti alarm kebakaran.

Aku mengeluarkannya. Tiga puluh dua pesan WA.

Sisca: Bu. Ibu masuk FYP.

Sisca: Bu, tim Komunikasi Korporat minta arahan.

Sisca: Bu, Pak Darmawan nanya apakah ini masih soal data gerai.

Dan di atas semuanya, sebuah panggilan tak terjawab, lalu pesan dari nama yang membuat darahku dingin.

Mama: Serena. Pulang. Sekarang.

Aku menatap layar. Lalu menatap Chakra, yang berdiri di tengah kamarnya dengan wajah setengah panik, setengah sesuatu yang lain.

Lalu menatap Gendis, yang menggigit bibir.

“Kak,” kata Gendis pelan. “Mau aku bikin video klarifikasi?”

“JANGAN,” kata Chakra dan aku bersamaan.