Chapter Thirty Two
Data Tidak Punya Keluarga
POV: Chakra
Pukul 06.52, lift nomor empat membawaku ke lantai 50.
SC Tower di pagi buta adalah gedung yang berbeda. Lobi kosong kecuali Pak Agus, yang mengangguk padaku dari meja satpam tanpa senyum lebarnya yang biasa. Dia hanya mengangguk, serius, seperti orang yang tahu ada sesuatu yang penting akan terjadi. Lampu-lampu koridor setengah menyala. AC berdengung pelan. Di jendela, Jakarta masih abu-abu kebiruan, belum sepenuhnya bangun.
Di tanganku ada laptop dan sebuah map biru. Bukan map biru yang dulu. Map baru, yang diserahkan Pak Sutedjo kepadaku pukul enam pagi di lobi apartemen studioku. Dia memakai jas lengkap dan wajah yang sangat lelah.
“Ibu Margaret bilang ini untuk Pak Richard,” katanya waktu itu. “Dan Ibu Margaret bilang, Anda yang harus menyerahkannya. Bukan saya.” Dia menatapku dari balik kacamatanya yang tebal. “Enam tahun lalu saya datang ke rumah sakit dengan piyama, Pak. Saya menulis jam dan tempat di sebuah dokumen tanpa bertanya apa-apa. Saya sudah tua. Saya tidak bertanya.” Dia menyerahkan map itu. “Kali ini saya bertanya. Dan Ibu Margaret menjawab semuanya.”
Pintu kuningan lift terbuka. Lantai 50.
Koridor menuju ruang Chairman panjang, sunyi, berkarpet tebal. Aku berjalan di atasnya dengan langkah yang tidak berbunyi.
Pintu ruang Chairman terbuka sedikit. Ada cahaya dari dalam.
Tidak ada siapa pun yang berdiri di ambang pintu.
Aku mengetuk.
“Masuk.”
Pak Richard Sinclair duduk di balik meja mahoninya di lantai 50, di ruangan yang beraroma cerutu yang sudah lama tidak dinyalakan. Dia tidak memakai jas. Kemejanya putih, lengan digulung sampai siku, dasinya belum dipasang dan tergeletak di sudut meja. Wajahnya abu-abu dan lelah. Lelah seperti orang yang tidak tidur sama sekali semalam.
Di depannya, di atas meja, ada kartu kecil yang menguning.
Kartu penunggu pasien. Jam Masuk: 01.20. Hubungan dengan Pasien: Menantu.
Rena pasti meninggalkannya di sana semalam. Atau Pak Richard yang menahannya.
Dia mengangkat wajah ketika aku masuk. Matanya menatapku. Menatap laptop di tanganku, map biru, kemeja putihku yang sudah kuperiksa tiga kali untuk memastikan tidak ada noda lipstik. Lalu kembali ke wajahku.
“Duduk,” katanya.
Kali ini dia menyuruhku duduk.
Aku duduk di kursi di seberang mejanya. Kursi yang sama dengan yang tidak dia tawarkan tiga minggu lalu, ketika dia memintaku menjaga jarak dari anaknya.
Kami saling diam. Jam dinding di ruangan itu berdetak. Di sudut meja, di sebelah dasi yang belum dipasang, ada kotak obat tujuh sekat. Jumat.
Sekat Jumat masih penuh.
“Bapak belum minum obat,” kataku.
Pak Richard mengikuti arah pandanganku. Dia menatap kotak obat itu sebentar. Lalu, tanpa bicara, dia membuka sekat Jumat, mengambil tablet kecil di dalamnya, dan menelannya dengan air dari gelas di meja.
“Ibu saya,” katanya setelah menelan, “bilang kamu akan datang dengan bukti.”
“Iya, Pak.”
“Bukan cerita.”
“Bukan cerita, Pak.” Aku meletakkan laptop di meja, tapi tidak membukanya. “Tapi sebelum saya tunjukkan, saya mau minta satu hal.”
Pak Richard mengangkat alis.
“Kalau di tengah-tengah Bapak merasa sesak,” kataku, “bilang. Kita berhenti. Saya ambilkan air. Kita lanjut nanti, atau besok, atau minggu depan. Saya sudah menunggu enam tahun. Saya bisa menunggu lebih lama lagi.” Aku menatapnya. “Saya nggak mau ada orang di keluarga ini yang masuk ICU karena saya. Termasuk Bapak.”
Pak Richard menatapku sangat lama.
Lalu dia mengangguk sekali. “Tunjukkan.”
Aku menunjukkannya.
Tidak semua. Tidak setiap baris, setiap angka, setiap log. Pak Richard bukan ilmuwan data, dan aku tidak datang untuk mengajarinya statistik. Aku datang untuk menunjukkan apa yang dia butuhkan untuk percaya.
Foto udara sebuah jembatan di Tol Jatiluhur, dengan sepuluh titik kosong di tempat yang menurut laporan resmi seharusnya ada tiang pancang. Laporan progres yang ditandatangani dan dibayar penuh. Lalu foto-foto lain dari proyek-proyek lain. Delapan proyek lagi. Pola yang sama.
Graf empat belas perusahaan dengan satu tangkai. Alamat yang sama, nama-nama yang berpindah dari satu akta ke akta lain.
Dokumen-dokumen yang dipotret Marcel di laci ayahnya. Kesepakatan pribadi dua orang. Di halaman terakhir ada dua tanda tangan yang sangat dikenal Pak Richard. Salah satunya tanda tangan adiknya sendiri.
Pasal yang menyebut anaknya akan dialihkan ke posisi non-eksekutif setelah menikah.
Pak Richard membaca pasal itu tiga kali. Rahangnya mengeras.
Lalu aku membuka map biru dari Pak Sutedjo dan meletakkannya di depannya.
Satu lembar. Dengan kop Yayasan Keluarga Sinclair. Dengan tanggal hari Jumat minggu lalu, pukul sembilan malam. Dengan tanda tangan di bagian bawah yang melingkar, besar, dengan coretan panjang di akhir. Tanda tangan yang Pak Richard lihat setiap minggu selama tiga puluh tahun di setiap memo internal SC Construction.
Dan di sebelahnya, cap kecil dari kantor notaris: DITAHAN — MENUNGGU PERSETUJUAN PEMBINA.
Pak Richard menatap lembar itu.
Dia tidak bicara. Tidak bergerak. Hanya tangannya yang perlahan terangkat dan menyentuh tanda tangan itu dengan ujung jari, pelan, seperti menyentuh luka.
“Hendra,” katanya. Hanya itu. Sangat pelan.
Aku tidak menjawab.
“Jumat malam,” katanya. “Jumat malam minggu lalu, dia makan malam di rumah Mama. Dia bilang dia pulang cepat karena capek.” Suaranya tidak bergetar. Terlalu tenang. “Dia peluk Mama di teras. Dia bilang Ma, istirahat yang cukup.”
Dia meletakkan lembar itu di meja. Lalu menutup map biru itu.
Lalu dia menutup wajah dengan kedua tangan.
Aku tidak tahu berapa lama dia duduk seperti itu. Aku tidak menghitung. Untuk kedua kalinya dalam hidupku, aku berhenti menghitung.
Aku berdiri, mengisi gelasnya dengan air dari teko di meja samping, dan meletakkannya di dekat tangannya. Lalu aku duduk kembali dan menunggu.
Di luar jendela, matahari pagi mulai naik di atas gedung-gedung Sudirman. Cahaya oranye masuk lewat kaca dan jatuh di meja mahoni, di atas kartu penunggu pasien yang menguning.
Akhirnya Pak Richard menurunkan tangannya.
Wajahnya basah. Laki-laki yang dulu menatapku dari ujung meja lamaran dengan wajah seperti batu, yang tidak datang ke akad pernikahan putrinya, yang menyuruhku menjaga jarak dari anaknya tiga minggu lalu, sekarang duduk di depanku dengan pipi basah dan mata merah.
“Kenapa,” katanya, suaranya serak, “kamu nggak pernah bilang?”
Aku menatapnya.
“Enam tahun,” katanya. “Kamu punya kartu ini. Kamu punya slip bank itu. Kamu tahu soal ruang tunggu itu, soal Hendra di pintu, soal kebohongan serangan berikutnya bisa fatal. Kamu bisa datang kapan saja. Kamu bisa menghancurkan Hendra kapan saja. Kenapa kamu diam?”
“Karena Bapak sedang sakit, Pak,” kataku pelan. “Dan Rena butuh ayahnya.”
Pak Richard membeku.
“Waktu itu,” lanjutku, “saya pikir, kalau saya bertahan, Rena harus memilih antara saya dan Bapak. Dan saya tahu dia akan memilih saya, karena dia keras kepala. Lalu kalau Bapak kenapa-kenapa…” Aku berhenti. “Dia nggak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Saya nggak mau dia hidup dengan itu.”
“Tapi aku nggak kenapa-kenapa. Serangannya ringan.”
“Saya baru tahu jam lima pagi, Pak. Setelah tanda tangan.” Aku tersenyum, sedikit. “Dan jam sembilan, Om Hendra bilang ke saya Rena lega. Bilang akhirnya.” Aku menatap tanganku. “Saya pikir, kalau dia lega, lebih baik saya diam. Setelah itu, setiap tahun yang lewat, rasanya makin terlambat untuk bicara.”
Pak Richard menatap kartu penunggu pasien di mejanya.
“Menantu,” bacanya pelan.
“Satpamnya yang tulis, Pak. Saya cuma jawab pertanyaannya.”
“Kamu basah,” kata Pak Richard tiba-tiba.
Aku mengangkat wajah.
“Malam itu,” katanya. Matanya menatap ke suatu tempat yang jauh, bukan ke aku. “Kamu basah kuyup. Pakai jas hujan plastik yang robek di bahu. Rambutmu menempel di dahi. Kamu berdiri di koridor di luar kaca ICU, sekitar jam dua pagi.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Aku setengah sadar,” kata Pak Richard. “Obatnya bikin semuanya kabur. Tapi aku ingat lampu koridor. Dan aku ingat ada seseorang berdiri di luar kaca, menatapku. Seorang anak muda dengan kacamata yang berembun.” Dia menelan ludah. “Dia nggak bicara. Dia cuma berdiri di sana, lama. Lalu bibirnya bergerak. Aku nggak bisa dengar, tapi aku bisa baca bentuknya.”
Maaf, Pak.
Aku ingat. Pukul dua lewat sepuluh pagi, setelah Rena pulang, sebelum Om Hendra memanggilku kembali ke ruang tunggu kecil. Aku berjalan ke kaca ICU, sendirian, untuk pertama dan terakhir kalinya. Aku melihat laki-laki di ranjang nomor empat dengan selang-selang di lengannya. Ayah dari perempuan yang kucintai. Laki-laki yang tidak pernah menerimaku.
Aku berdiri di sana dan meminta maaf. Tanpa suara. Untuk alasan yang bahkan aku sendiri tidak tahu. Mungkin karena aku merasa bersalah. Mungkin karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi.
“Aku kira aku mimpi,” kata Pak Richard. Suaranya pecah. “Enam tahun aku kira itu mimpi. Halusinasi obat. Aku nggak pernah cerita ke siapa pun, karena siapa yang percaya? Semua orang bilang kamu nggak datang. Hendra bilang kamu nggak datang.” Dia menatap kartu itu. “Jadi aku pikir aku membayangkannya. Aku pikir aku ingin kamu datang, entah kenapa, dan otakku menciptakannya.”
“Bapak ingin saya datang?”
Pak Richard menatapku. Lama sekali.
“Aku ingin seseorang datang,” katanya pelan. “Seseorang yang mencintai anakku sebesar aku mencintainya. Supaya kalau aku mati malam itu, dia nggak sendirian.”
Dia menyeka matanya dengan punggung tangan.
“Ternyata kamu memang datang,” katanya. “Dan aku kira kamu mimpi.”
Dia menceritakan sesuatu yang lain setelah itu. Sesuatu yang tidak kutanyakan.
“Tiga tawaran kerjamu,” katanya. “Yang dibatalkan. Delapan tahun lalu.”
Aku diam.
“Satu di antaranya aku,” katanya. “Perusahaan konsultan di Kuningan. Direkturnya teman golfku. Aku telepon dia. Aku bilang… aku bilang menantuku belum siap untuk posisi itu.” Dia tidak menatapku. “Aku pikir, kalau kamu gagal, Serena akan sadar. Akan pulang.”
Aku tidak bilang apa-apa.
“Yang dua lagi,” lanjutnya, “aku nggak tahu. Aku kira juga kebetulan. Sekarang…” Dia menatap map biru. “Sekarang aku rasa aku tahu.”
“Pak…”
“Aku bagian dari ini, Chakra.” Suaranya pelan dan pahit. “Hendra yang menyusun semuanya. Hendra yang berdiri di pintu. Tapi aku yang membuka pintunya. Aku yang menolakmu di meja lamaran. Aku yang nggak datang ke akad. Aku yang menelepon temanku. Aku yang bertengkar dengan Serena dua kali dalam seminggu soal kamu, sampai Hendra punya alasan untuk bilang stres soal pernikahan.” Dia menatapku. “Aku ikut menghancurkan pernikahan anakku sendiri.”
Aku menatap laki-laki di depanku. Chairman SC Group. Ayah dari perempuan yang kucintai. Laki-laki yang selama delapan tahun kuanggap batu.
Dia bukan batu. Dia hanya ayah yang takut, yang membuat kesalahan karena takut, dan yang kesalahannya dimanfaatkan oleh orang yang dia gendong waktu bayi.
“Bapak menelepon satu orang,” kataku. “Om Hendra membangun empat belas perusahaan.”
Pak Richard tertawa. Pahit, pendek, basah.
“Itu cara yang sangat matematis untuk memaafkan seseorang.”
“Saya nggak tahu cara lain, Pak.”
Pukul 07.40, Pak Richard meminum air yang kutuang untuknya. Sampai habis.
“Besok,” katanya. “Apa yang harus aku lakukan?”
Aku menatapnya. “Biarkan acaranya berjalan, Pak.”
“Pertunangan anakku dengan…”
“Marcel tahu, Pak. Marcel di pihak kita. Rena sudah bicara dengannya.” Aku membuka laptop dan menunjukkan satu jadwal. Jadwal acara Sky Hall besok, susunan acara dari menit ke menit. “Om Hendra akan berdiri di podium pukul delapan malam. Untuk membuka acara, sebelum penandatanganan. Itu momennya.”
“Momen apa?”
“Momen dia merasa paling aman,” kataku. “Di depan enam ratus orang. Di depan pers. Di depan Benny Hartanto.” Aku menatap Pak Richard. “Oma bilang itu skakmat.”
Pak Richard menatap jadwal itu lama.
“Ibu saya,” katanya pelan, “merencanakan ini bersama kamu.”
“Bersama Rena juga, Pak.”
“Tanpa aku.”
“Oma bilang Bapak harus percaya dulu, Pak.” Aku menutup laptop. “Oma bilang, laki-laki nggak pernah percaya bayi yang mereka gendong bisa tumbuh menjadi orang yang menggigit.”
Pak Richard menatapku. Lalu tertawa lagi, kali ini lebih lepas.
“Itu kalimat Mama,” katanya. “Itu jelas kalimat Mama.”
Pukul 07.48, ketika aku sedang membereskan laptop, Pak Richard bertanya sesuatu yang tidak kuduga.
“Ibumu,” katanya. “Masih jual mie ayam?”
Aku berhenti. “Masih, Pak. Tiga cabang. Besok ada stannya di Sky Hall.”
“Stan UMKM itu?”
“Ide Rena.”
Pak Richard mengangguk pelan. Lalu dia menatap kotak obat tujuh sekat di sudut mejanya.
“Dokterku melarang aku makan mie ayam,” katanya. “Minyaknya.”
“Ibu bisa bikin tanpa minyak ayam, Pak. Pakai kaldu saja. Dia sering bikin begitu buat pelanggan lansia.”
Pak Richard menatapku. “Ibumu mau bikinkan untukku? Setelah… setelah semua yang keluargaku lakukan?”
Aku memikirkan Ibu. Ibu di kedai Cibubur, memeluk Rena tanpa bertanya. Ibu nggak apa-apa dihina keluargamu. Yang bikin Ibu sedih itu lihat anak Ibu enam tahun nggak bisa ketawa.
“Ibu saya,” kataku, “bilang semua masalah di dunia ini dimulai dari perut kosong, Pak. Dia akan bikinkan. Dan dia akan suruh Bapak habiskan.”
Pak Richard menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum yang pertama kali kulihat dari laki-laki ini dalam delapan tahun. Senyum yang sama dengan senyum Rena waktu dia sedang malu dan tidak mau mengaku.
“Nak,” katanya.
Aku membeku.
Nak.
“Satu pertanyaan lagi.” Dia melipat tangan di atas meja. “Setelah besok. Setelah semua ini. Kamu masih mau anakku?”
Aku tidak perlu menghitung.
“Dari dulu, Pak.”
Pak Richard mengangguk. Pelan. Dia menatap kartu penunggu pasien di mejanya, lalu menggesernya pelan ke arahku.
“Kalau begitu,” katanya, “setelah semua ini selesai, datang ke rumah. Hari Kamis. Makan malam keluarga.” Dia diam sebentar. “Lewat pintu depan.”
Aku menatap kartu itu. Lalu menatapnya.
“Pintu depan, Pak?”
“Pintu depan.” Suaranya serak. “Delapan tahun lalu aku biarkan kamu menunggu tiga jam di teras. Inah yang bawakan pisang goreng.” Dia menunduk. “Kali ini kamu masuk.”
Aku tidak bisa bicara. Aku mengambil kartu itu dan memasukkannya ke saku kemejaku, di atas jantung.
Pukul 07.53, pintu ruang Chairman terbuka.
“Mas! Pagi-pagi sudah di kantor? Om pikir Om yang paling pagi.”
Pak Hendra berdiri di ambang pintu dengan jas abu-abu, dasi marun, dan senyum hangat. Di tangannya ada dua gelas kopi kemasan dari kedai di lobi. Satu untuk kakaknya, pasti. Seperti biasa.
Dia melihatku. Senyumnya tidak goyah sedikit pun.
“Chakra! Wah, pagi-pagi sudah di ruang Chairman?”
Aku berdiri. Merapikan laptop. Tersenyum.
“Pak Richard minta laporan NEXUS untuk besok, Om. Proyeksi dampak merger ke operasional SinMart.”
“Rajin sekali.” Pak Hendra menepuk bahuku. Dua kali. Ringan. Hangat. “Om selalu bilang ke Mas Richard, kamu ini aset perusahaan.”
“Terima kasih, Om.”
Aku menatap Pak Richard di balik mejanya. Wajahnya sudah tidak basah. Dia sudah memasang dasi, kapan, aku tidak melihatnya. Dasi biru tua, simpul Windsor yang rapi. Dia duduk tegak di kursi Chairman, dengan wajah datar yang dulu kukira batu, dan sekarang aku tahu itu wajah seorang ayah yang sedang menahan sesuatu yang sangat besar.
“Hendra,” kata Pak Richard. Suaranya normal. Sangat normal. “Duduk. Kita bahas besok.”
“Siap, Mas.” Pak Hendra meletakkan satu gelas kopi di depan kakaknya. “Ini, kopi pahit kesukaan Mas.”
Pak Richard menatap gelas kopi itu.
Lalu dia mengangkatnya dan menyesapnya. Tenang. Tanpa ekspresi.
“Terima kasih, Dra,” katanya.
Aku keluar dari ruangan itu. Melewati Pak Hendra yang sudah duduk di kursi tempat aku duduk tadi. Melewati ambang pintu yang tidak dijaga siapa pun.
Di koridor, aku berjalan ke lift tanpa menoleh. Lift nomor empat. Tombol 38. Pintu kuningan menutup.
Lalu aku bersandar ke dinding kayu lift dan memejamkan mata.
Di saku kemejaku, di atas jantung, ada kartu kecil yang menguning.
Hubungan dengan Pasien: Menantu.
Ponselku bergetar.
Rena 🌻: Gimana?
Aku menatap layar. Lalu mengetik.
Papamu panggil aku “Nak”.
Dua centang biru. Tidak ada balasan. Satu menit. Dua.
Lalu:
Rena 🌻: Aku lagi nangis di toilet lantai 40 dan Sisca ketuk-ketuk pintu tanya aku kenapa.
Rena 🌻: Aku bilang maskaraku kemasukan sesuatu.
Rena 🌻: Sisca bilang “Kemasukan Pak Chakra ya, Bu?”
Aku tertawa sendirian di lift nomor empat, sampai pintunya terbuka di lantai 38 dan Bagas yang berdiri di depannya dengan dua gelas kopi menatapku seperti melihat orang gila.
“Pak,” katanya hati-hati. “Bapak ketawa sendiri.”
“Iya, Bagas.”
“Bapak baik-baik saja?”
Aku keluar dari lift. Mengambil salah satu gelas kopi dari tangannya. Menyesapnya. Kopi susu gula aren, terlalu manis, bukan kesukaanku.
“Besok,” kataku, “kita semua bekerja sampai malam. Di Sky Hall.”
“Bekerja apa, Pak?”
Aku menatap jendela. Di luar, matahari pagi sudah naik penuh di atas Jakarta. Di kejauhan, crane-crane SC Construction mulai berputar.
“Menyelesaikan sesuatu yang belum selesai,” kataku.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga reading
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat