Chapter Twenty Four

Rp2 Miliar yang Pulang

POV: Serena


Kedai Mie Ayam Bu Ratmi cabang Cibubur tutup setiap Minggu pukul empat sore.

Kami tiba pukul lima lewat sepuluh. Rolling door-nya sudah setengah turun. Dari celah di bawahnya keluar cahaya kuning dan suara radio dangdut yang diputar pelan, bercampur bunyi sapu lidi dan seseorang yang bernyanyi sumbang mengikuti lagu.

Chakra menunduk dan mengetuk rolling door itu tiga kali. Ketukan pendek-panjang-pendek.

Nyanyian sumbang itu berhenti.

“CHAKRA? Itu kamu?”

“Iya, Bu.”

“Kok lewat depan? Biasanya lewat belakang!”

“Sama Rena, Bu.”

Hening sebentar. Lalu bunyi sapu jatuh ke lantai, langkah kaki tergesa, dan rolling door itu terangkat ke atas dengan bunyi yang memekakkan telinga. Bu Ratmi berdiri di baliknya dengan daster hijau pupus, celemek bermotif ayam, dan rambut dicepol pakai jepit jemuran yang miring ke kiri.

Dia menatapku. Dia menatap mataku yang sembap, hidungku yang merah, dan cardigan abu-abu yang kancingnya salah pasang karena aku memakainya terburu-buru di parkiran rumah sakit.

Lalu dia menatap anaknya, yang matanya juga merah.

Bu Ratmi tidak bertanya apa-apa.

Dia menarikku ke dalam pelukannya. Erat, wangi minyak bawang, bahunya yang empuk menempel di pipiku. Tangannya mengusap punggungku pelan, naik turun, seperti mengusap punggung anak kecil yang baru jatuh dari sepeda.

“Udah,” katanya pelan. “Udah, Neng. Udah.”

Aku tidak tahu apa yang dia maksud dengan udah. Udah menangis? Udah enam tahun? Udah tahu?

Aku tidak bertanya. Aku hanya membiarkan diriku dipeluk, di ambang kedai mie ayam, di bawah rolling door yang setengah terangkat, sementara radio dangdut di dalam memutar lagu tentang kekasih yang pergi dan tidak kembali.


Gendis ada di dalam, duduk di salah satu meja plastik dengan laptop, ring light, dan ekspresi orang yang sudah menunggu sejak tadi.

“Aku udah cerita ke Ibu,” katanya begitu kami masuk. “Soal Mbak Lusi. Soal foto. Semalam.” Dia menatap kakaknya. “Mas, maaf. Aku nggak tahan.”

“Nggak apa-apa,” kata Chakra.

“Ibu nangis tiga jam.”

“Ibu nangis empat jam,” koreksi Bu Ratmi dari dapur, sambil menyalakan kompor. “Gendis tidurnya duluan.”

Bu Ratmi memasak. Tentu saja dia memasak. Dalam sepuluh menit, di meja plastik di depanku ada semangkuk mie ayam tanpa daun bawang, sambal di mangkuk terpisah, teh manis hangat, dan sepiring kerupuk pangsit. Persis seperti sore pertama di Margonda, delapan tahun lalu, di bawah atap seng yang berisik.

“Makan dulu,” kata Bu Ratmi. “Ngomong nanti.”

“Bu…”

“Makan dulu, Neng.”

Aku makan. Chakra makan di sebelahku. Gendis menatap kami berdua dengan dagu di atas tangan, matanya berkaca-kaca, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia tidak mengeluarkan ponsel.

Setelah mangkukku kosong, Bu Ratmi duduk di seberangku. Dia menatap Chakra.

“Kaleng?” tanyanya.

Chakra mengangguk.

Bu Ratmi berdiri tanpa bicara lagi dan berjalan ke ruang belakang kedai. Gudang kecil tempat menyimpan karung tepung, kardus mie, dan barang-barang yang tidak muat di rumah. Kami mendengarnya membongkar sesuatu. Kardus digeser. Sesuatu jatuh. Bu Ratmi bergumam astaghfirullah dan mana sih.

Gendis berdiri. “Bu, di rak paling atas! Di belakang termos!”

“Ibu tahu!”

“Ibu nggak tahu! Waktu pindahan Ibu mau buang kalengnya, aku yang selamatin!”

Hening dari gudang.

Lalu suara Bu Ratmi, sedikit malu: “…Iya. Di belakang termos.”


Kaleng Khong Guan.

Kaleng merah klasik dengan gambar keluarga sedang minum teh di tutupnya. Catnya sudah mengelupas di sudut-sudut, dan ada penyok kecil di sisi kiri. Kaleng yang dulu, waktu aku masih menantu Bu Ratmi, ada di atas lemari kayu di kontrakan Margonda. Aku selalu mengira isinya biskuit. Aku pernah membukanya sekali, berharap biskuit kelapa, dan ternyata isinya benang, jarum, dan kancing baju. Aku tertawa sampai Chakra harus menutup mulutku supaya tidak membangunkan Gendis.

Bu Ratmi meletakkan kaleng itu di meja plastik di depanku. Pelan. Seperti meletakkan sesuatu yang sangat berharga.

“Buka, Neng,” katanya.

Aku membukanya.

Bukan benang. Bukan jarum. Bukan kancing.

Di atas ada sertifikat. Sertifikat tanah rumah Cibubur, dalam map plastik bening. Di bawahnya ijazah. Ijazah SD Chakra, SMP, SMA, S1 ITB, dan, dalam map yang lebih tebal dengan logo yang tidak kukenal, ijazah S3 dari ETH Zürich. Lalu akta kelahiran Gendis. Lalu buku tabungan lama dengan sampul yang sudah lusuh. Lalu foto almarhum ayah Chakra, berkumis tipis, tersenyum di depan gerobak mie ayam biru yang masih baru.

Semua barang yang paling penting bagi sebuah keluarga, disimpan dalam kaleng biskuit di belakang termos.

Dan di paling bawah, di dasar kaleng, sebuah amplop putih.

Amplop putih panjang, ukuran surat kantor, sudah menguning. Di depannya ada tulisan tangan. Bukan tulisan Bu Ratmi yang miring-miring. Tulisan yang rapi dan miring ke kanan.

Untuk Rena. Kalau dia tanya.

Aku menatap tulisan itu.

Tanganku berhenti di udara, di atas amplop itu, dan tidak bisa bergerak.

“Waktu Chakra mau berangkat ke Swiss,” kata Bu Ratmi pelan, “dia kasih amplop itu ke Ibu. Malam sebelum berangkat. Dia bilang, Bu, simpan ini. Kalau suatu hari Rena tanya, kasih ke dia. Kalau dia nggak pernah tanya, nggak usah.” Bu Ratmi menatap amplop itu. “Ibu tanya, isinya apa? Dia bilang, bukti, Bu. Ibu tanya bukti apa? Dia nggak jawab. Dia cuma bilang jangan dibuka, Bu, itu buat Rena.”

Aku menatap Chakra. Dia tidak menatapku. Dia menatap mangkuk mie ayamnya yang kosong.

“Enam tahun, Neng,” kata Bu Ratmi. “Ibu simpan enam tahun di kaleng ini. Sama sertifikat. Sama ijazah. Ibu nggak pernah buka.” Suaranya bergetar. “Ibu tunggu Neng tanya.”

Aku tidak pernah bertanya.

Enam tahun, ada amplop dengan namaku di dalam kaleng biskuit di belakang termos, di gudang kedai mie ayam di Cibubur. Dan aku tidak pernah bertanya.

Aku membuka amplop itu.

Dua lembar kertas.

Lembar pertama adalah slip. Slip transaksi bank, kertas termal tipis yang sudah memudar, angkanya hampir hilang di beberapa bagian. Tapi masih terbaca. Masih bisa dibaca dengan jelas, karena seseorang menyimpannya dengan sangat hati-hati di dalam amplop, jauh dari cahaya, selama enam tahun.

BUKTI TRANSAKSI — TRANSFER ANTAR REKENING Tanggal: [tanggal itu]. Jam: 17.08. Dari: CHAKRA WIRASENA. Ke: YAYASAN KELUARGA SINCLAIR. Jumlah: Rp2.000.000.000,00. Berita: PENGEMBALIAN. SAYA TIDAK MENERIMA UANG INI.

Saya tidak menerima uang ini.

Huruf kapital semua, di kolom berita transfer yang biasanya diisi orang dengan bayar utang atau uang kos atau untuk Ibu.

Jam 17.08. Enam jam sebelum aku berdiri di apartemen Kalibata dengan amplop cokelat dan bertanya kamu ambil uangnya?

Dia sudah mengembalikannya. Sebelum aku bertanya. Sebelum aku tahu ada yang perlu ditanyakan.

Lembar kedua adalah kertas biasa, dilipat tiga. Kertas HVS bergaris, sobekan dari buku tulis. Tulisan tangan yang rapi dan miring ke kanan, dengan pulpen biru.

Aku membukanya.

Rena,

Kalau kamu baca ini, berarti kamu tanya ke Ibu. Berarti kamu ragu. Berarti, setidaknya sedikit, kamu masih ingin percaya.

Itu cukup buat aku.

Slip ini bukti aku kembalikan uangnya. Sore itu juga, sebelum kamu tahu. Aku nggak tahu siapa yang kirim dan kenapa. Aku cuma tahu aku nggak mau uang itu. Aku nggak pernah mau uang keluargamu. Aku cuma mau kamu.

Aku nggak bisa cerita kenapa aku tanda tangan. Aku sudah janji. Tapi aku mau kamu tahu satu hal: aku nggak pergi karena aku nggak sayang kamu.

Aku pergi karena aku sayang kamu, dan aku nggak tahu cara lain.

Jaga dirimu. Makan yang benar. Jangan minum kopi kebanyakan gula, nanti kamu susah tidur. Kalau susah tidur, minum susu hangat.

Chakra.

P.S. Payungnya tolong jangan dibuang. Itu payung jodoh. Kamu sendiri yang bilang.


Aku tidak ingat kapan aku mulai menangis.

Aku hanya ingat, di satu titik, Bu Ratmi sudah ada di sebelahku. Bukan di seberang meja. Di sebelahku, di bangku plastik yang sama, dengan lengannya melingkari bahuku. Aku menangis di bahunya, dengan surat itu terjepit di tanganku dan slip bank yang memudar di pangkuanku.

Dia tidak bertanya. Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya memelukku dan mengusap rambutku, pelan, naik turun.

Aku menangis seperti anak kecil. Isakan keras yang tidak bisa kutahan, yang memenuhi kedai mie ayam kecil di Cibubur. Kedai dengan rolling door setengah terangkat, radio dangdut yang masih menyala, dan wangi kaldu ayam yang sudah meresap di dinding.

Aku menangis untuk enam tahun. Untuk kopi tanpa gula yang kuminum setiap pagi tanpa tahu kenapa. Untuk susu hangat yang kubuat di dapur penthouse jam setengah satu pagi, membenci laki-laki itu dengan segenap jiwa sambil meminum resep yang dia tinggalkan. Untuk payung hitam bergagang kayu yang ternyata sudah kukembalikan ke rumah kami dan tidak pernah kuingat lagi. Untuk tiga kali mengetik percaya dan tiga kali menghapusnya.

Untuk perempuan berdaster di sebelahku yang memelukku sekarang, yang dulu disebut tukang mie nggak tahu diri oleh keluargaku, dan aku tidak pernah sekali pun membelanya.

“Bu,” isakku di bahunya. “Bu, maaf.”

“Udah, Neng.”

“Keluargaku… Mama… dulu…”

“Udah.”

“Aku nggak pernah belain Ibu. Nggak sekali pun. Waktu Tante Ratna bilang Ibu…” Aku tersedak. “Waktu Mama nggak undang Ibu ke ulang tahun Papa, aku cuma diam. Aku cuma… aku…”

“Neng.” Bu Ratmi menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Tangan yang kasar, hangat, berbau bawang putih dan sabun cuci piring. Dia menatapku dengan mata yang basah tapi tegas. “Dengar Ibu.”

Aku menatapnya.

“Ibu dari umur sembilan belas jualan mie ayam,” katanya. “Ibu sudah dihina orang lebih banyak dari jumlah mangkok yang Ibu jual. Dihina pelanggan, dihina preman, dihina tetangga, dihina keluarga sendiri. Ibu nggak apa-apa.” Ibu jarinya mengusap air mata di pipiku. “Yang bikin Ibu sedih bukan dihina keluargamu. Yang bikin Ibu sedih itu lihat anak Ibu enam tahun nggak bisa ketawa. Dan lihat kamu, Neng, di TikTok-nya Gendis, kurus, mukanya kayak mau mecat orang, padahal dulu di sini kamu ketawa sampai teh manisnya tumpah.”

Aku menangis lebih keras.

“Kamu nggak salah karena nggak belain Ibu,” kata Bu Ratmi. “Kamu masih muda. Kamu takut. Keluargamu keluargamu. Ibu ngerti.” Dia menarik napas. “Tapi kalau kamu mau minta maaf ke Ibu, Ibu cuma mau satu.”

“A-apa, Bu?”

Bu Ratmi menatap anaknya, yang duduk di seberang meja dengan kacamata di tangan dan wajah yang dia tutupi dengan telapak tangan.

“Bikin dia ketawa lagi,” kata Bu Ratmi. “Itu aja.”


Hari sudah gelap ketika tangisku akhirnya reda.

Bu Ratmi membuatkan teh manis lagi. Gendis, yang selama setengah jam menangis diam-diam di pojok kedai dengan wajah di balik ring light yang dimatikan, akhirnya mengeluarkan ponselnya. Dia menatap layarnya. Lalu matanya melebar.

“Kak,” katanya. “Kak Rena.”

“Hm?” Suaraku serak.

“Ini…” Gendis memutar ponselnya ke arahku. Instagram. Pesan langsung. “Ini tunangan Kakak, kan? Yang kaku itu?”

Aku menatap layarnya.

Akun terverifikasi. Foto profil seorang laki-laki berjas abu-abu tiga potong dengan rambut berpomade terlalu banyak.

marcel.hartanto

Selamat malam, Mbak Gendis. Mohon maaf mengganggu. Saya Marcel. Saya mengikuti akun Mbak sejak beberapa minggu lalu, setelah video pertama dari rumah Bu Ratmi. Saya ingin bertanya, apakah resep mie ayam bawang putih di video tanggal 12 itu menggunakan bawang putih tunggal atau bawang putih biasa? Saya sudah mencoba tiga kali di rumah dan hasilnya belum sesuai. Terima kasih atas waktunya. Hormat saya, Marcel Hartanto.

Hening di kedai.

Bu Ratmi mendekat dan membaca lewat bahu Gendis. Chakra menurunkan tangan dari wajahnya.

“Hormat saya,” ulang Gendis pelan. “Kak. Dia DM aku pakai hormat saya.”

“Itu Marcel,” kataku. “Dia selalu begitu.”

“Dia masak mie ayam?” Gendis menatap layar. “Tiga kali?”

“Kayaknya iya.”

“Kak.” Gendis menurunkan ponselnya dan menatapku dengan wajah serius. “Kakak marah nggak kalau aku balas?”

Aku menatapnya. Gendis Wirasena, dua puluh empat tahun, empat ratus ribu pengikut, nol rasa malu, dengan pipi yang tiba-tiba sedikit merah muda.

Lalu aku tertawa.

Tawa yang keluar dari tempat yang sama dengan tangisku tadi. Tawa yang lepas dan basah dan tidak masuk akal, di kedai mie ayam pada Minggu malam, dengan surat dari enam tahun lalu di pangkuanku.

Bu Ratmi menatapku tertawa. Lalu dia menoleh ke anaknya dan tersenyum. Senyum yang sangat lebar.

Chakra juga tertawa. Pelan, tapi tertawa. Tawa yang sama dengan tawa di dapur Cibubur waktu aku memercikkan air ke wajahnya.

“Balas aja,” kataku pada Gendis, menyeka mata. “Bilang bawang putih tunggal. Dan bilang ke dia, kalau mau belajar, datang langsung ke kedai.”

“Beneran, Kak?”

“Beneran.”

Gendis mengetik dengan kecepatan cahaya. Bu Ratmi menggeleng-geleng sambil membereskan mangkuk, bergumam sesuatu tentang anak-anak zaman sekarang dan orang kaya kok masak mie ayam sendiri.

Lalu Bu Ratmi berhenti di dekat Chakra, membungkuk, dan berbisik ke telinga anaknya. Cukup keras untuk kudengar.

“Tuh. Udah ketawa.”


Pukul sembilan malam, Chakra mengantarku ke mobil di parkiran depan kedai.

Udara malam Cibubur dingin dan lembap. Jangkrik berbunyi dari lapangan kosong di seberang jalan. Lampu jalan berkedip-kedip, berwarna oranye.

Aku berhenti di samping mobilku, yang masih terparkir dengan sudut empat puluh lima derajat di dua tempat parkir.

“Surat itu,” kataku. “Aku simpan.”

“Itu memang buat kamu.”

“Payungnya,” kataku. “Masih ada?”

Dia diam sebentar. “Aku nggak tahu. Aku tinggalkan di Kalibata waktu pergi. Di gantungan dekat pintu.”

Aku ingat apartemen Kalibata. Setelah perceraian, Mama yang mengurus pengosongannya. Aku tidak pernah kembali. Aku tidak sanggup.

“Mungkin dibuang,” kataku pelan.

“Mungkin.”

“Aku cari.”

Dia menatapku.

“Aku cari,” ulangku. “Gudang keluarga di Menteng. Mama nggak pernah buang barang. Dia cuma memasukkannya ke kardus dan melupakannya.”

Dia tersenyum. Sedikit.

Lalu senyumku memudar. Aku menatap jalanan yang gelap.

“Chakra. Om Hendra.”

Wajahnya berubah. Tenang, waspada.

“Yayasan,” kataku. “Foto-foto. Uang. Ruang tunggu. Surat itu. Semuanya Om Hendra.” Suaraku bergetar, tapi bukan karena menangis. Karena marah. Marah yang selama ini kukira adalah benci untuk orang yang salah, dan sekarang, akhirnya, menemukan alamat yang benar. “Besok aku ke kantor. Aku panggil dia ke ruanganku. Aku taruh semua ini di mejanya…”

“Rena.”

“…dan aku tanya dia, kenapa…”

“Rena.”

Aku berhenti.

Dia memegang kedua bahuku. Pelan, tapi tegas. Seperti di balkon gala.

“Belum,” katanya.

“Kenapa belum?”

“Karena foto-foto itu dan slip bank itu membuktikan apa yang dia lakukan ke kita,” katanya pelan. “Enam tahun lalu. Itu jahat, dan itu menyakitkan. Tapi itu bukan kejahatan yang bisa bikin dia dipecat. Dia akan bilang dia melindungimu. Dia akan bilang dia khawatir sama kakaknya. Dia akan menangis di depan Papamu dan bilang aku cuma ingin keluarga ini utuh. Dan Papamu akan percaya, karena Papamu sudah percaya sama dia lima puluh tahun.”

Aku diam.

“Tapi empat belas vendor itu,” lanjutnya, “tiga ratus empat belas miliar itu, tiga ratus dua belas gerai itu, akun kloning itu, alamat IP itu, itu kejahatan. Itu yang bisa menghentikan dia. Selamanya. Bukan cuma dari kita. Dari perusahaanmu. Dari keluargamu.” Dia menatapku. “Tapi kita belum bisa membuktikan uangnya pergi ke mana. Dan kalau dia tahu kita tahu, dia akan menghapus semuanya sebelum kita bisa.”

“Oma bilang,” bisikku, “tahu itu tidak cukup. Kamu harus bisa membuktikannya di papan.”

“Oma benar.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang enam tahun menyimpan semuanya sendirian. Slip bank di kaleng biskuit. Kartu penunggu pasien di dompet. Surat untukku di belakang termos. Kebenaran yang bisa membebaskannya kapan saja, dan dia tidak pernah memakainya, karena seseorang memintanya biarkan dia membencimu.

“Jadi aku harus pura-pura,” kataku. “Besok. Di kantor. Di depan Om Hendra. Senyum. Panggil dia Om. Kayak nggak ada apa-apa.”

“Bisa?”

Aku memikirkan lima tahun menjadi CEO. Lima tahun tersenyum di depan direksi yang meremehkanku karena aku perempuan dan masih muda. Lima tahun menjabat tangan orang-orang yang kutahu menusukku dari belakang.

“Aku Serena Sinclair,” kataku. “Aku bisa senyum ke siapa pun.”

Dia menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum kecil yang bangga.

“Anak pintar,” katanya pelan.

Jantungku melompat.

Anak pintar. Kalimat yang dulu kuucapkan padanya setiap kali dia berhasil membuat telur dadar yang tidak gosong. Kalimat yang kukirim padanya di WA Senin pagi, seminggu lalu, setelah dia menyiram kaktus.

Dia mengembalikannya padaku.

Aku menyentuh pipinya. Tanganku dingin, pipinya hangat. Aku berdiri di sana, di parkiran kedai mie ayam, di bawah lampu jalan oranye yang berkedip, dengan tangan di pipi mantan suamiku.

Aku ingin menciumnya. Aku ingin menciumnya begitu kuat sampai lututku gemetar.

Tapi aku tidak melakukannya. Belum. Karena ada satu hal yang belum kulakukan. Satu orang yang harus kujawab dengan jujur sebelum aku boleh mencium siapa pun.

Aku menurunkan tanganku.

“Besok,” kataku.

“Besok apa?”

“Besok aku mau beresin sesuatu.” Aku membuka pintu mobil. “Habis itu, aku mau tanya sesuatu ke kamu.”

“Tanya apa?”

Aku masuk ke mobil. Menutup pintu. Menurunkan kaca jendela.

“Kamu yang paling pintar,” kataku. “Prediksi sendiri.”

Lalu aku menyalakan mesin dan keluar dari parkiran. Kali ini aku memutar dengan benar, tanpa menyerempet apa pun, dan kulihat di spion dia berdiri di bawah lampu jalan yang berkedip, menatap mobilku pergi, dengan tangan di pipi tempat telapak tanganku tadi.


Pukul sepuluh lewat lima belas, di tol Jagorawi, ponselku berdering lewat speaker mobil.

Nama di layar dasbor membuatku hampir menginjak rem.

Om Hendra.

Aku menatap nama itu. Dua dering. Tiga.

Aku menarik napas panjang. Mengencangkan genggaman di setir. Memikirkan ruang tunggu kecil berkursi empat, jendela kaca buram, punggung seseorang di ambang pintu.

Aku mengangkatnya.

“Malam, Om.”

“Nak!” Suara Om Hendra hangat seperti biasa, selimut yang dulu kupakai setiap kali aku kedinginan. “Maaf telepon malam-malam. Om cuma mau ngecek kamu. Kemarin itu berat sekali, ya. Rapat itu. Om masih merasa bersalah soal Chakra.”

“Nggak apa-apa, Om.” Suaraku terdengar normal. Hangat. Seperti keponakan yang menyayangi pamannya. Aku tidak tahu dari mana suara itu datang. “Semuanya sudah jelas.”

“Syukurlah. Syukurlah.” Jeda. “Nak, besok makan siang sama Om, ya? Om mau bahas soal jadwal merger yang baru. Dan pertunanganmu. Benny ingin kita tetapkan tanggal secepatnya. Om pikir kita bisa diskusikan berdua dulu sebelum ke Papamu.”

Aku menatap jalan tol di depan. Lampu-lampu merah mobil di depanku berkedip seperti mata yang mengawasi.

“Boleh, Om,” kataku. “Jam berapa?”

“Jam dua belas. Di restoran Jepang langganan Om, di Plaza Senayan. Om pesan ruang privat.”

“Oke, Om.”

“Nak.”

“Ya, Om?”

“Om sayang kamu,” katanya. Suaranya lembut sekali. “Kamu tahu itu, kan?”

Tanganku di setir gemetar. Sekali. Lalu diam.

“Aku tahu, Om,” kataku. “Selamat malam.”

“Selamat malam, Nak.”

Telepon terputus.

Aku menyetir sepuluh kilometer berikutnya tanpa merasakan tanganku sendiri.

Lalu, di rest area KM 10, aku menepi, mematikan mesin, membuka surat dari kaleng Khong Guan itu sekali lagi di bawah lampu kabin, dan membaca baris terakhirnya.

P.S. Payungnya tolong jangan dibuang. Itu payung jodoh. Kamu sendiri yang bilang.

Aku melipat surat itu, menyelipkannya ke dalam cardigan, di saku yang sama dengan kartu penunggu pasien yang menguning, lalu menyalakan mesin lagi.

Besok aku akan makan siang dengan Om Hendra. Aku akan tersenyum dan memanggilnya Om.

Dan aku akan menghitung. Seperti seseorang yang kukenal.

Setiap kebohongan. Setiap jeda. Setiap kali dia menyebut nama Papa.

Aku Serena Sinclair. Aku bisa senyum ke siapa pun.