Chapter Fourteen

The AI Duo

POV: Serena


Mama menceramahiku selama tiga jam empat belas menit pada Minggu malam itu. Aku tahu durasinya karena aku menghitung, karena menghitung membuatku tidak menangis.

Ruang keluarga di Menteng. Mama di sofa, tisu di tangan, mata merah. Papa di kursi berlengan dekat jendela, diam, menatap gelas teh yang tidak dia minum. Oma tidak ada. Oma bilang dia terlalu tua untuk drama hari Minggu dan tidur pukul delapan.

“Dua juta orang, Serena,” kata Mama untuk kesebelas kalinya. “Dua juta orang mendengar perempuan itu memanggilmu menantu.”

“Bu Ratmi, Ma. Namanya Bu Ratmi.”

“Mama tahu namanya!”

“Mama nggak pernah menyebut namanya. Delapan tahun, Mama nggak pernah sekali pun menyebut namanya.”

Mama terdiam. Tisu di tangannya berhenti bergerak.

“Tante Hartanto menelepon Mama tadi sore,” katanya, lebih pelan. “Dia bertanya apakah kamu serius dengan pertunangan ini. Kamu tahu betapa malunya Mama?”

“Marcel bilang dia nggak keberatan.”

“Marcel itu terlalu baik.” Mama menyeka mata. “Sayang, Mama cuma nggak mau kamu mengulangi kesalahan yang sama.”

Aku menatapnya. Aku menatap Mama, perempuan yang dulu menjauhkan Chakra dari setiap acara keluarga, yang menyebut ibunya tukang mie di depan sosialita lain, yang setahun penuh berbisik di telingaku dia cuma mau uangmu.

“Kesalahan yang mana, Ma?” tanyaku pelan. “Menikah dengan dia? Atau menceraikannya?”

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Mama menatapku seperti tidak mengenaliku. Di kursi dekat jendela, Papa mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya malam itu, dia menatapku. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang lelah dan takut dan tidak bisa kubaca.

Aku berdiri, mengambil tas, dan pulang ke Senopati.

Di mobil, aku tidak menangis. Aku menghitung lampu jalan sampai rumah. Seratus empat puluh tujuh.


Kamis pagi, Tiara mengirim laporan pertama proyek Pola Malam ke kotak masukku pukul 06.12, dengan CC ke Chakra dan Pak Yosef.

Tiga puluh gerai uji coba. Tiga malam. Perubahannya sederhana, semuanya dari daftar yang dibuat Mbak Ratih di gerai Tebet. Kopi kaleng dan roti dipindah ke rak di samping kasir. Obat pegal dan obat sakit kepala keluar dari etalase terkunci. Charger dan kabel data digantung di dekat mesin kasir. Dispenser air panas menyala sepanjang malam. Dan promo aplikasi untuk segmen malam dikirim pukul sepuluh malam, bukan sepuluh pagi: Kopi + roti Rp15.000, khusus jam 22.00–05.00.

Penjualan malam di tiga puluh gerai itu naik dua puluh tujuh persen. Dalam tiga malam.

Di halaman terakhir laporan, Tiara menambahkan satu catatan kecil yang jelas bukan bagian dari templat resmi:

Catatan: Mbak Ratih (kasir shift malam, SinMart Tebet Raya) melaporkan lewat WA bahwa perawat-perawat RS sekarang makan mi cup di gerai sebelum kembali bertugas. Salah satu perawat bilang ke Mbak Ratih, “Akhirnya ada yang ingat kami juga kerja malam.” Mbak Ratih nangis. Saya juga.

Aku membaca catatan itu dua kali. Lalu aku membuka email baru dan menulis ke Divisi SDM: Mohon usulkan penghargaan dan kenaikan grade untuk Sdri. Ratih Komalasari, kasir SinMart Tebet Raya, atas kontribusi langsung terhadap proyek Pola Malam. Tembusan ke saya.

Lalu, setelah ragu sebentar, aku membuka WA.

Ke Pak Data: 27%.

Dua detik.

Pak Data: Saya lihat, Bu. Bukan saya. Mbak Ratih.

Dan Tiara.

Dan Ibu, yang tanya Mbak Ratih jam dua pagi.

Aku menatap layar. Dia melakukannya lagi. Memberikan semua yang baik kepada orang lain. Kepada Mbak Ratih, kepada Tiara, kepadaku. Seolah dia sendiri hanya kebetulan lewat.

Kamu selalu begitu, aku mengetik.

Begitu gimana, Bu?

Nggak pernah mau ambil bagian.

Jeda. Lama. Satu menit. Dua.

Bagian saya sudah diambil, Bu.

Maksudnya?

Dia tidak membalas.


Pukul sepuluh, Sisca masuk ke ruanganku dengan wajah yang terlalu netral dan majalah di tangan.

“Bu,” katanya. “Ibu mungkin mau lihat ini. Atau mungkin nggak mau. Saya serahkan ke Ibu.”

Dia meletakkan majalah itu di mejaku. Forbes Asia, edisi Indonesia, terbit hari itu.

Halaman sampulnya bukan Chakra. Syukurlah. Tapi di pojok kanan atas ada tulisan kecil berwarna kuning: Wajah Baru AI Asia: Duo Zürich yang Mengubah Ritel. Di bawahnya, foto kecil dua orang yang berdiri berdampingan.

Aku membuka halaman empat puluh dua.

Foto berukuran satu halaman penuh. Laboratorium berdinding kaca dengan papan tulis penuh rumus di latar belakang. Chakra berdiri dengan kemeja biru muda dan lengan digulung, tangan di saku, tersenyum tipis ke kamera. Di sebelahnya, Arini Tjandra memakai setelan putih, satu tangan memegang spidol dan tangan yang lain bertumpu ringan di bahu Chakra. Arini tertawa. Mereka terlihat seperti pasangan peneliti di film-film Hollywood, yang nantinya akan jatuh cinta di babak ketiga.

Judulnya besar, huruf tebal:

THE AI DUO Chakra Wirasena dan Arini Tjandra: enam tahun di Zürich, tiga paten, dan satu misi membawa kecerdasan buatan ke rak minimarket Asia.

Artikelnya empat halaman. Aku membacanya. Tentu saja aku membacanya. Aku CEO, dan ini artikel tentang Chief Data & AI Officer perusahaanku, dan aku perlu tahu apa yang dikatakan media tentang karyawanku.

Itu satu-satunya alasan.

Sebagian besar artikel bicara soal riset mereka. Proyek di Rotterdam. Paten metode peramalan. Kerja sama SC Group dan Meridian. Banyak kutipan dari Arini, yang ternyata sangat pandai bicara dengan wartawan, lucu, cerdas, dan penuh anekdot.

“Chak adalah orang paling keras kepala yang pernah saya kenal,” kata Tjandra sambil tertawa. “Di tahun pertama, dia hampir nggak pernah tidur. Dia kerja seperti orang yang sedang lari dari sesuatu. Saya yang setiap malam membawakan makanan ke labnya supaya dia nggak pingsan.”

Lari dari sesuatu.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Lalu aku membaca kutipan Chakra. Hanya ada satu, di akhir artikel, karena menurut si wartawan Wirasena dikenal pendiam dan menolak bicara soal kehidupan pribadinya.

Ketika ditanya apa yang membuatnya kembali ke Indonesia setelah enam tahun dan tawaran dari tiga perusahaan teknologi di Eropa, Wirasena hanya tersenyum. “Ada sesuatu yang belum selesai di sini,” katanya. Ia menolak menjelaskan lebih jauh.

Ada sesuatu yang belum selesai di sini.

Aku menutup majalah. Meletakkannya di meja. Mendorongnya ke ujung meja, sejauh mungkin dariku.

Lalu aku menariknya kembali dan membuka halaman empat puluh dua lagi, untuk menatap tangan Arini di bahunya.

“Bu,” kata Sisca dari ambang pintu. Ternyata dia belum pergi. “Rapat review anggaran proyek Meridian jam sebelas.”

Aku menutup majalah itu dengan bunyi plak yang terlalu keras.

“Bagus,” kataku. “Saya mau lihat semua invoice.”


Rapat review anggaran biasanya rapat yang paling membosankan di SC Group. Biasanya Pak Darmawan yang memimpin, CEO tidak hadir, dan semua orang menatap spreadsheet sampai mata mereka berair.

Hari itu, CEO hadir.

Ruang rapat kecil di lantai 40 berisi lima orang: Pak Darmawan dengan laptop dan kalkulator, Chakra dan Tiara dari NEXUS, Arini dan seorang analis junior dari Meridian. Dan aku, di ujung meja, dengan tumpukan invoice yang kuminta dicetak, karena aku tidak percaya pada angka yang tidak bisa kucoret dengan pulpen biru.

Arini menyambutku dengan senyum cerah. “Bu Serena! Sudah lihat Forbes? Cringe banget, ya? Fotografernya maksa saya pegang bahu Chak. Eh, Chakra.” Dia tertawa. “Dua suku kata. Saya ingat.”

“Sudah,” kataku. “Fotonya bagus.”

“Ah, thanks…”

“Mari kita mulai,” kataku. “Halaman satu.”

Dua puluh menit pertama berjalan normal. Biaya konsultan, biaya lisensi perangkat lunak, biaya komputasi awan. Semuanya wajar, semuanya sesuai kontrak.

Lalu aku sampai di halaman tujuh.

Reimbursement — Biaya makan dan entertainment konsultan. Tanggal: Sabtu, dua minggu lalu. Tempat: Restoran Swiss di SCBD. Keterangan: Makan malam kerja dengan Chakra Wirasena (SC NEXUS). Menu: Cheese fondue untuk dua orang, roti, salad, minuman. Total: Rp2.430.000.

Aku meletakkan pulpen biruku di atas baris itu dan mengetuknya dua kali.

“Dr. Arini.”

“Ya, Bu?”

“Fondue,” kataku.

Ruangan hening. Pak Darmawan berhenti mengetik di kalkulatornya. Tiara menatap kertas di depannya dengan konsentrasi orang yang sedang membaca Al-Fatihah.

“Oh!” Arini tersenyum. “Itu makan malam pertama saya di Jakarta, Bu. Chakra yang ajak. Katanya biar saya nggak homesick. Di Zürich kami biasa…”

“Fondue,” ulangku, “bukan kebutuhan proyek.”

“Sorry?”

“Biaya makan dan entertainment dalam kontrak konsultan kami dibatasi untuk pertemuan dengan klien atau pemangku kepentingan proyek, dengan agenda kerja yang terdokumentasi.” Aku membalik halaman kontrak yang sudah kutandai dengan sticky note kuning. “Pasal sebelas, ayat tiga. Saya tidak melihat agenda kerja di sini. Saya hanya melihat keju yang dilelehkan.”

Hening.

Pak Darmawan menatapku. Lalu menatap Chakra. Lalu menatap tumpukan invoice. Dari wajahnya aku tahu dia sedang bertanya-tanya dalam hati apakah ini masih soal anggaran.

“Bu,” kata Arini hati-hati, “dua juta empat ratus ribu itu… kalau memang nggak bisa diganti, nggak apa-apa, saya bayar sendiri. Saya cuma…”

“Saya juga akan meminta semua invoice makan dan perjalanan Meridian tiga bulan ke depan diaudit secara terpisah,” lanjutku, dengan nada yang paling profesional sedunia. “Rutin. Bukan karena ada masalah.”

“Bu Serena.” Suara Chakra. Tenang, dari seberang meja. “Fondue-nya saya yang bayar.”

Aku menoleh padanya. Dia menatapku dengan wajah netral, kecuali sudut bibirnya yang sedikit terangkat.

“Saya yang bayar, Bu,” ulangnya. “Arini salah memasukkan receipt. Saya punya bukti transfernya ke rekening Arini, malam itu juga. Nanti saya kirim ke Pak Darmawan.”

Arini menoleh ke Chakra dengan mata lebar. Lalu dia menutup mulut dengan tangan, dan aku bisa melihat bahunya mulai bergetar menahan tawa.

“Oh,” kata Arini, suaranya teredam. “Oh. Iya. Benar. Saya salah masukin. Sorry, Bu. Saya hapus.”

Pak Darmawan menghela napas lega seperti orang yang baru selamat dari kecelakaan.

Aku menatap Chakra. Dia menatapku balik. Di antara kami ada meja rapat, tumpukan invoice, dan satu fondue untuk dua orang yang tiba-tiba terasa seperti barang bukti di persidangan.

“Baik,” kataku. “Lanjut ke halaman delapan.”


Rapat selesai pukul dua belas lewat lima belas. Semua orang keluar dengan kecepatan orang yang meninggalkan gedung terbakar. Tiara keluar pertama, menarik tangan analis junior Meridian. Pak Darmawan kedua, sambil memeluk kalkulatornya. Arini ketiga. Di ambang pintu dia menoleh, menatap Chakra dengan alis terangkat dan senyum yang sangat, sangat geli, lalu menatapku dan mengedipkan satu mata.

Mengedipkan mata. Padaku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan kedipan itu.

Lalu tinggal kami berdua. Aku membereskan invoice. Dia tidak bergerak dari kursinya.

“Bu.”

“Saya sibuk, Pak Chakra.”

“Kamu cemburu?”

Tanganku berhenti di atas tumpukan kertas.

Aku mengangkat wajah. Dia duduk bersandar di kursinya, tangan terlipat di dada, menatapku dengan kepala sedikit dimiringkan. Seperti ilmuwan yang mengamati sampel yang menarik.

“Saya mengaudit invoice,” kataku dingin. “Itu pekerjaan saya.”

“Satu invoice. Di halaman tujuh. Dari empat puluh tiga halaman.” Dia tersenyum. “Ibu baca empat puluh dua halaman lainnya dalam dua puluh menit, dan halaman tujuh selama empat menit.”

“Kamu menghitung?”

“Saya selalu menghitung, Bu.”

Aku meletakkan pulpen biruku. “Data kamu bias.”

“Bias gimana?”

“Sampelnya terlalu kecil. Satu fondue. Satu artikel majalah. Kamu nggak bisa menarik kesimpulan dari satu observasi.”

Dia tertawa. Pelan, hangat, dengan mata yang menyipit di balik kacamata.

“Ibu benar,” katanya. “Satu observasi nggak cukup. Secara statistik nggak signifikan.”

“Tepat.”

“Jadi kesimpulannya: Ibu tidak cemburu.”

“Tepat.”

“Baik, Bu.” Dia berdiri dan mengambil laptopnya. “Saya catat.”

Dia berjalan ke pintu.

Aku seharusnya membiarkannya pergi. Aku seharusnya merasa menang. Tapi kalimat di majalah itu masih terngiang di kepalaku, saya yang setiap malam membawakan makanan ke labnya, dan bersamanya bayangan perempuan lain di laboratorium berdinding kaca di Zürich, membawakan makanan untuk laki-laki yang dulu kubiarkan pergi tanpa satu kalimat pun.

Enam tahun dia tidak makan dengan benar. Dan yang memastikan dia makan bukan aku.

“Pak Chakra.”

Dia berhenti di ambang pintu. Berbalik.

Aku berdiri. Berjalan memutari meja, pelan, sampai berhenti di depannya. Dekat. Cukup dekat sehingga aku harus mendongak, dan dia harus menunduk, dan pintu di belakangnya masih terbuka setengah ke lorong yang kosong.

Aku mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemejanya. Tidak miring. Sama sekali tidak miring. Aku hanya ingin menyentuhnya.

“Lain kali,” kataku pelan, dengan jari-jari masih di kerahnya, “kalau mau makan fondue, ajak aku.”

Matanya berubah gelap di balik kacamata.

“Biar invoice-nya nggak perlu diaudit,” tambahku.

Aku menepuk kerahnya dua kali, ringan, seperti menepuk dasinya di koridor lantai 38. Lalu aku berjalan melewatinya, menyenggol bahunya sedikit, keluar ke lorong, menuju ruanganku.

Aku tidak menoleh. Aku tidak perlu menoleh.

Aku mendengar laptopnya jatuh ke karpet.


Malam itu, NEXA diperbarui ke versi 1.2. Yudis mengumumkannya di grup karyawan dengan daftar fitur baru yang panjang dan membosankan. Di bagian paling bawah ada satu baris tambahan yang aku yakin bukan dari Yudis:

Perbaikan: NEXA tidak lagi menjawab pertanyaan tentang waktu balas antarpimpinan.

Dua puluh menit kemudian, seorang karyawan dari lantai 12 mencobanya. Tangkapan layarnya menyebar ke tiga grup WA sebelum pukul sembilan malam.

Pertanyaan: Berapa rata-rata waktu balas CEO dan Chief AI minggu ini?

NEXA: Maaf, saya tidak lagi diizinkan menjawab pertanyaan tersebut.

NEXA: Namun secara umum, dapat saya sampaikan bahwa trennya positif.

NEXA: 4 detik.

Aku menatap tangkapan layar itu di kasurku, di bawah selimut, dengan wajah yang terbakar.

Lalu aku membuka WA.

Ke Pak Data: NEXA kamu bocor lagi.

Pak Data: Saya tahu, Bu. Yudis sedang memperbaikinya.

Pak Data: Tapi dia nggak bohong, kan?

Aku tidak membalas.

Aku menatap pesan itu sampai layar ponselku meredup sendiri. Di lemari, lengan jas biru tua itu masih menyembul di antara blazer-blazerku. Di meja rias ada majalah Forbes Asia yang terbuka di halaman empat puluh dua. Aku membawanya pulang, entah kenapa, dan entah kenapa aku melipat sudut halaman itu.

Bukan halaman fotonya. Halaman terakhir artikel.

Ada sesuatu yang belum selesai di sini.