Chapter Nineteen
NEXA Bocor
POV: Chakra
Senin pagi, pukul 06.14, sebelum aku sempat bangun dari kasur, ponselku bergetar.
Rena 🌻: Udah minum obat?
Aku menatap pesan itu dengan mata setengah terbuka. Demamku sudah turun sejak Minggu siang. Yang tersisa hanya pegal di sendi dan rasa jahe yang masih tertinggal di lidah, sisa bubur yang terlalu asin dan terlalu banyak jahe yang kuhabiskan sampai tetes terakhir.
Sudah, Bu.
Jangan bohong.
Saya nggak pakai kacamata, Bu. Ibu nggak bisa cek.
Dua centang biru. Jeda.
Pakai kacamatanya, terus foto, terus kirim.
Aku duduk di kasur, memakai kacamata, dan menatap kamera ponsel dengan wajah bantal dan rambut yang mencuat ke tiga arah. Aku mengangkat strip parasetamol di samping wajahku. Satu sekat kosong. Lalu aku memotret dan mengirimkannya.
Dua centang biru. Satu menit. Dua menit.
Rambutmu kayak sarang burung.
Saya baru bangun, Bu.
Aku tahu. Dulu juga begitu.
Aku menatap layar sampai pesan berikutnya masuk.
Jangan masuk kantor kalau masih pusing.
Saya nggak pusing.
Kamu dorong kacamata?
Aku menatap foto yang barusan kukirim. Kacamataku duduk sempurna di hidung. Aku tidak menyentuhnya sama sekali.
Nggak, Bu.
Bagus.
Lalu satu pesan lagi, tiga puluh detik kemudian.
Kaktusmu udah disiram?
Aku melirik ke jendela. Kaktus kecil itu masih di sana, dengan sticky note kuning di potnya. Disiram tiap Senin. Bukan tiap tahun. Tulisan tangan dengan huruf g yang ekornya melingkar terlalu panjang.
Hari ini Senin.
Aku bangun, mengisi gelas dengan air, dan menyiram kaktus itu, lalu memotretnya dan mengirimkannya.
Rena 🌻: Anak pintar.
Aku duduk kembali di tepi kasur dan menatap dua kata itu. Lama.
Dulu dia memanggilku begitu setiap kali aku berhasil membuat telur dadar yang tidak gosong. Anak pintar. Sambil mengacak rambutku. Sambil berjinjit dan mencium pipiku dengan bibir yang masih ada sisa kecap.
Aku tidak tahu apa yang terjadi di apartemen ini hari Sabtu. Maksudku, aku tahu apa yang terjadi. Bubur, handuk, panggilan video yang membuat ibuku istighfar empat kali di grup keluarga sepanjang malam. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi di kepala Rena. Sesuatu berubah. Sejak Jumat malam di ruang kaca, sejak kacamata yang kudorong dua kali, sejak dia berlutut di sebelah tempat tidurku ketika aku setengah sadar dan aku, entah bagaimana, merasa ada yang mengusap dahiku sambil menangis tanpa suara.
Mungkin itu mimpi. Demam tiga puluh sembilan koma empat membuat orang bermimpi aneh.
Mungkin bukan.
Masalah di lantai 38 dimulai pukul sepuluh pagi, dalam bentuk tangkapan layar yang menyebar lebih cepat dari banjir bulan lalu.
Aku sedang di tengah rapat dengan Arini soal model computer vision tahap dua ketika Bagas mengetuk pintu kaca dengan wajah seperti orang yang menemukan bom di toilet.
“Pak,” katanya. “Pak harus lihat grup karyawan.”
“Saya nggak ada di grup karyawan, Bagas.”
“Itu masalahnya, Pak. Bapak satu-satunya yang nggak ada. Dan sekarang semua orang lagi ngomongin Bapak.”
Dia menyodorkan ponselnya.
Grup WA SC Tower — Info & Sharing (Resmi), dengan seribu seratus delapan puluh tujuh anggota. Pesan paling atas adalah tangkapan layar percakapan dengan NEXA, dikirim oleh seseorang dari Divisi Pemasaran pukul 09.47.
Pertanyaan: NEXA, siapa perempuan favorit Pak Chakra?
NEXA: Saya tidak memiliki akses ke data preferensi pribadi pimpinan.
NEXA: Namun berdasarkan analisis repositori kode SC NEXUS yang dapat saya akses, kata “Rena” muncul 1.284 kali dalam log commit Chakra Wirasena selama 6 tahun terakhir.
NEXA: Apakah ada hal lain yang bisa saya bantu?
Di bawah tangkapan layar itu ada dua ratus empat puluh tujuh balasan. Aku menggulir dengan jari yang mendadak dingin.
OMG 1.284 KALI
Rena siapa??? 👀
Bentar, Bu Serena kan dipanggil Rena sama ibunya Pak Chakra di TikTok itu
SE-RENA
AKU MERINDING
6 TAHUN BRO ENAM TAHUN
Yang nanya NEXA tadi siapa sih, kasih penghargaan karyawan teladan
ini masih soal data gerai kan? 😭 (pak darmawan pasti nanya gini)
Dan di paling bawah, satu pesan dari seseorang yang namanya kukenali dari daftar staf Divisi Komunikasi Korporat:
Teman-teman, mohon tidak menyebarkan spekulasi tentang pimpinan. Terima kasih. (Tapi 1.284 itu banyak sih)
Aku mengembalikan ponsel itu ke Bagas. Pelan-pelan, seperti mengembalikan granat yang pinnya sudah dicabut.
Di seberang meja, Arini sudah membaca semuanya lewat bahuku. Dia menutup mulut dengan kedua tangan, matanya berair, dan seluruh tubuhnya bergetar menahan tawa.
“Seribu dua ratus delapan puluh empat,” bisiknya. “Chak. Seribu dua ratus delapan puluh empat kali.”
“Itu nama model, Arini.”
“I know itu nama model.” Dia menyeka mata. “Everybody in Zürich knows itu nama model. Tapi nobody in Zürich tahu kenapa namanya itu. Sekarang everybody in Jakarta tahu.”
“Mereka nggak tahu apa-apa.”
“Chak, mereka punya otak. Dan TikTok.”
Aku berdiri. “Yudis!”
Yudis sudah berdiri di ambang pintu dengan laptop terbuka. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajahnya yang biasanya datar terlihat sedikit pucat.
“Pak, saya sudah cek,” katanya cepat. “NEXA memang punya akses baca ke repositori kode NEXUS. Itu bagian dari fitur code assistant yang saya tambahkan minggu lalu, supaya tim bisa tanya soal dokumentasi teknis. Tapi seharusnya dia nggak menjawab pertanyaan soal…” Yudis menelan ludah. “Saya lupa pasang filter untuk pertanyaan yang menyebut nama pimpinan dan kata favorit. Itu salah saya, Pak.”
“Matikan.”
“Sudah saya matikan tiga menit lalu, Pak. Tapi tangkapan layarnya sudah…”
“Saya tahu.”
Telepon mejaku berbunyi.
Aku menatapnya. Lampu kecil di sisi kanan telepon berkedip merah. Saluran internal. Lantai 40.
Semua orang di ruangan itu menatap telepon. Bagas, Arini, Yudis. Tiara, yang baru masuk membawa tiga stabilo dan langsung membeku di ambang pintu.
Aku mengangkatnya.
“Pak Chakra.” Suara Sisca. Sangat profesional. Sangat datar. Dengan sesuatu yang bergetar di bawahnya, seperti orang yang menahan tawa sambil menggigit bibir sampai berdarah. “Bu Serena meminta Bapak ke ruangannya. Sekarang. Dan Bu Serena minta saya menyampaikan, saya kutip langsung, matikan asisten AI-mu sebelum aku matikan kamu.”
“Sudah dimatikan, Mbak.”
“Akan saya sampaikan, Pak.” Jeda. “Pak?”
“Ya?”
“Seribu dua ratus delapan puluh empat itu banyak, Pak.” Jeda lagi. “Maaf. Itu bukan pesan dari Bu Serena. Itu pendapat pribadi saya.”
Perjalanan dari lantai 38 ke lantai 40 biasanya memakan empat puluh detik dengan lift nomor empat.
Hari itu, aku naik tangga darurat. Karena lift itu berhenti di lantai 39 dan pintunya terbuka ke sekelompok karyawan Divisi Pemasaran yang sedang menunggu. Ketika mereka melihatku, enam orang serentak berhenti bicara dan menatapku dengan mata yang sangat lebar dan sangat berbinar. Lalu seseorang di belakang berbisik keras, itu dia, si 1.284.
Aku menekan tombol tutup tiga kali dan turun lagi ke lantai 38, lalu naik lewat tangga.
Ruang CEO di lantai 40 tirainya tertutup. Semua tirai. Untuk pertama kalinya sejak aku bekerja di sini. Sisca duduk di mejanya di luar ruangan itu dengan wajah seperti penjaga gerbang neraka yang sedang menikmati pekerjaannya.
“Silakan, Pak,” katanya. “Bu Serena sudah menunggu.” Dia berhenti, lalu menambahkan pelan: “Semoga Tuhan menyertai Bapak.”
Aku masuk.
Rena berdiri di depan jendela, membelakangiku. Blus sutra biru tua, rok pensil hitam, rambut disanggul sempurna. Tangannya terlipat di dada. Bahunya tegak. Seluruh tubuhnya memancarkan aura CEO yang sedang memutuskan apakah akan memecat seseorang atau melemparnya dari lantai 40.
“Tutup pintunya,” katanya tanpa berbalik.
Aku menutup pintu.
“Kunci.”
Aku menguncinya.
Dia berbalik.
Wajahnya merah. Bukan merah marah. Merah yang lain, merah yang dimulai dari tulang pipi dan menjalar ke telinga dan turun ke leher, warna merah muda yang dulu kusebut warna malu-malu.
“Seribu,” katanya, “dua ratus,” dia maju satu langkah, “delapan puluh,” satu langkah lagi, “empat.”
“Itu nama model, Bu.”
“Kamu kira aku bodoh?”
“Nggak, Bu. Ibu orang paling pintar yang saya kenal.”
“Jangan rayu aku.”
“Saya nggak merayu, Bu. Itu fakta.”
Dia berhenti di depanku. Dekat. Dagunya terangkat, matanya menyala.
“Seluruh gedung,” katanya pelan, sangat pelan, “seribu dua ratus orang, sekarang sedang menebak-nebak apakah Chief Data & AI Officer mereka menulis nama CEO mereka di kode komputer seribu dua ratus kali selama enam tahun.”
“Seribu dua ratus delapan puluh empat.”
“Chakra.”
“Maaf. Kebiasaan presisi.”
Dia menatapku. Aku menatapnya. Di luar tirai yang tertutup, aku bisa mendengar suara samar Sisca di telepon, berbisik dengan nada sangat bersemangat kepada seseorang. Mungkin Tiara.
“Jelaskan,” kata Rena.
Aku menarik napas.
“RENA adalah nama model peramalan yang saya kembangkan selama S3,” kataku. Suaraku tenang, rata, profesional. Suara yang kupakai di depan dewan komisaris. “Singkatan dari Recursive Ensemble Neural Adaptive. Paper pertamanya terbit tiga tahun lalu di jurnal Machine Learning. Model itu yang dipatenkan, yang dilisensikan, yang dipakai untuk prediksi banjir dan tiga ratus dua belas gerai. Setiap kali saya mengubah kode model itu, setiap commit, pesan commit-nya hampir selalu menyebut nama modelnya. Fix RENA bug. Update RENA parameter. Retrain RENA. Enam tahun, ribuan commit.” Aku mengangkat bahu sedikit. “Seribu dua ratus delapan puluh empat.”
Dia mendengarkan semuanya tanpa menyela. Matanya tidak lepas dari wajahku.
Tidak, dari kacamataku.
Aku tidak menyentuh kacamataku. Tanganku tetap di sisi tubuhku, diam, sama sekali tidak bergerak.
“Recursive,” katanya pelan, “Ensemble. Neural. Adaptive.”
“Iya, Bu.”
“R-E-N-A.”
“Iya, Bu.”
Dia diam lama.
“Kamu nggak dorong kacamatamu,” katanya.
“Nggak, Bu.”
“Sama sekali.”
“Sama sekali.”
Dia memiringkan kepala sedikit. Matanya menyipit. Lalu, perlahan, sesuatu berubah di wajahnya. Dia mengerti sesuatu.
“Kamu sengaja,” bisiknya. “Kamu sengaja nggak dorong. Sama sekali. Biar aku nggak bisa baca.”
Aku tidak menjawab.
Itu jawabannya.
Dia menatapku seperti melihat teka-teki catur yang baru saja dia pecahkan setengahnya. Lalu dia tersenyum. Senyum yang pelan dan berbahaya, senyum yang dulu dia berikan sebelum menang debat apa pun denganku, dari soal siapa yang mencuci piring sampai soal apakah bubur diaduk atau tidak diaduk.
“Oke,” katanya.
“Oke?”
“Oke. Itu nama model.” Dia berbalik dan berjalan ke mejanya. “Recursive Ensemble Neural Adaptive. Aku percaya.”
Dia duduk. Membuka laptop. Mengambil pulpen biru.
“Itu saja, Bu?”
“Itu saja.” Dia mulai mengetik. “Pastikan NEXA nggak bocor lagi. Dan bikin pernyataan resmi ke grup karyawan. Jelaskan soal nama model. Pakai bahasa manusia. Jangan pakai kata recursive.”
“Baik, Bu.”
Aku berjalan ke pintu. Membuka kuncinya. Tanganku di gagang.
“Chakra.”
Aku berhenti.
“Paper pertama,” katanya, tanpa mengangkat mata dari laptop. “Tiga tahun lalu, katamu.”
“Iya, Bu.”
“Model itu kamu mulai bikin kapan?”
Aku membeku.
“Tahun pertama S3,” kataku pelan. “Enam tahun lalu.”
“Bulan apa?”
Di luar tirai, Sisca berhenti berbisik di telepon.
“…Bulan pertama,” kataku.
Bulan pertama. Enam tahun lalu. Tiga minggu setelah tanda tangan di rumah sakit. Di kamar asrama sempit di Zürich dengan dasi pinjaman dari teman sekamar, aku membuka laptop pada pukul tiga pagi karena tidak bisa tidur, dan mulai menulis kode untuk sesuatu yang belum punya nama. Ketika kodenya butuh nama untuk folder pertama, aku mengetik empat huruf tanpa berpikir.
Singkatannya baru kubuat dua tahun kemudian, ketika reviewer jurnal bertanya apa arti nama itu.
Rena tidak berkata apa-apa. Dia terus mengetik. Tapi tangannya, yang memegang pulpen biru di samping laptop, mencengkeram pulpen itu sampai buku-buku jarinya memutih.
“Silakan keluar, Pak Chakra,” katanya. Suaranya sedikit bergetar.
Aku keluar.
Pernyataan resmi kukirim pukul dua siang. Tiga paragraf, bahasa manusia, tanpa kata recursive. Aku menjelaskan bahwa RENA adalah nama model peramalan milik SC NEXUS yang sudah dipatenkan, bahwa nama itu muncul di setiap catatan pembaruan kode, dan bahwa kemiripan dengan nama siapa pun adalah kebetulan.
Aku menulis kebetulan dan menatap kata itu lama sebelum menekan kirim.
Grup karyawan menerimanya dengan antusiasme yang sama sekali tidak kuharapkan.
Oh nama model 😌
Kebetulan ya pak 😌😌
Kebetulan yang terjadi 1.284 kali 😌😌😌
Pak Chakra kalau bohong itu dorong kacamata nggak sih? Ada yang lihat pas dia nulis ini?
Ini masih soal data gerai kan (dikirim oleh Pak Darmawan sendiri, kali ini dengan sengaja, dan mendapat tiga ratus like)
Di lantai 38, Bagas mendekat ke mejaku dengan printout paper yang sudah lusuh dan penuh stabilo. Paper RENA versi pertama, dengan tiga warna stabilo milik Tiara.
“Pak,” katanya hati-hati, dengan suara rendah. “Saya mau tanya. Boleh?”
“Kalau soal yang tadi, jangan, Bagas.”
“Bukan, Pak. Soal teknis.” Dia meletakkan paper itu di mejaku dan menunjuk halaman pertama. “Ini versi preprint pertama. Yang diunggah ke arXiv tiga setengah tahun lalu. Di sini judulnya cuma RENA: A Forecasting Framework for Retail Demand. Nggak ada singkatannya.”
Dia membalik ke halaman lain. Fotokopi dari versi jurnal.
“Di versi jurnal yang terbit enam bulan kemudian, baru ada singkatannya. Recursive Ensemble Neural Adaptive. Di catatan kaki, Bapak nulis, atas permintaan reviewer.” Bagas mengangkat wajah. Matanya berkedip di balik kacamatanya yang tebal. “Pak, Bapak bikin singkatannya belakangan, ya?”
Aku menatap Bagas.
Bagas menatapku.
“Bagas,” kataku.
“Ya, Pak?”
“Kamu ingin tetap bekerja di sini?”
“Ingin, Pak.”
“Kalau begitu kamu nggak pernah baca versi preprint.”
Bagas mengangguk pelan. Lalu sangat pelan, dengan gerakan orang yang menyimpan harta karun, dia melipat paper itu, memasukkannya ke tas ranselnya, dan menarik ritsletingnya rapat-rapat.
“Saya nggak pernah baca, Pak,” katanya. “Tapi saya simpan. Buat kenang-kenangan.”
Pukul empat sore, Pak Hendra mengirim email ke seluruh kepala divisi. CC direksi. CC Divisi Keamanan Informasi.
Perihal: Audit Keamanan Sistem Internal — Mendesak
Menyusul insiden kebocoran informasi melalui asisten AI internal pagi ini, yang menunjukkan bahwa sistem SC NEXUS memiliki akses luas ke repositori kode dan berpotensi mengakses data sensitif lainnya, saya meminta Divisi Keamanan Informasi melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh hak akses SC NEXUS, termasuk akses ke data pelanggan program loyalitas SinMart.
Ini bukan tuduhan terhadap siapa pun. Ini langkah pencegahan.
Hendra Sinclair COO
Aku membaca email itu dua kali.
Termasuk akses ke data pelanggan program loyalitas SinMart.
Sembilan juta anggota. Nama, nomor telepon, alamat, riwayat belanja. Data yang memang bisa diakses NEXUS untuk proyek Pola Malam dan personalisasi Meridian, dengan izin tertulis dari Legal dan dalam bentuk yang sudah dianonimkan.
Tidak ada yang salah dengan email itu. Itu langkah yang masuk akal. Setelah insiden pagi ini, COO mana pun akan meminta audit.
Tapi aku ingat log pukul 02.47 pagi, lantai 40, kredensialku yang lama.
Aku ingat jantungnya nggak kuat kalau ada kejutan.
Aku ingat Pak Hendra, enam tahun lalu, di ruang tunggu ICU, dengan tangan di bahuku.
“Yudis,” panggilku.
“Ya, Pak?”
“Semua log akses data loyalitas sejak NEXUS berdiri. Salin. Enkripsi. Simpan di tiga tempat, di luar server SC. Malam ini.”
Yudis menatapku. Lalu dia mengangguk, tanpa bertanya.
“Dan Yudis.”
“Ya, Pak?”
“Kalau ada yang tanya, kamu nggak pernah melakukannya.”
Kamis malam, H-5, Rena tidak turun ke lantai 38.
Dia juga tidak mengirim WA. Tidak ada udah makan?, tidak ada foto kaktus, tidak ada anak pintar. Pukul sembilan malam aku melihat lampu ruangannya di lantai 40 dari parkiran, masih menyala. Pukul sepuluh, Sisca mengirim pesan ke grup koordinasi direksi: Bu Serena hari ini rapat persiapan pertunangan dengan keluarga Hartanto sampai malam. Mohon semua urusan mendesak dialihkan ke saya.
Persiapan pertunangan. Lima hari lagi.
Aku pulang ke apartemen studio dan duduk di tepi kasur yang sama, menatap kaktus yang sama, dengan sticky note kuning yang sama di potnya. Aku tidak menyiramnya. Ini bukan hari Senin.
Pukul sebelas, aku membuka dompet dan mengeluarkan selembar kertas tua yang terlipat. Kertas yang sudah enam tahun kusimpan di balik KTP, di belakang dua sticky note dan satu flashdisk.
Aku tidak membukanya. Aku tidak pernah membukanya. Aku hanya memegangnya, merasakan tepinya yang sudah lunak karena terlalu sering dipegang, lalu memasukkannya kembali.
Lalu aku tidur.
Jumat pagi, H-4, pukul 07.46.
Aku menempelkan kartu akses di gerbang putar lobi SC Tower.
Lampu kecil di gerbang berkedip merah. Bunyi bip pendek yang tidak menyenangkan.
Aku menempelkannya lagi. Merah. Bip.
Dua satpam yang biasanya menyapaku dengan pagi, Pak Doktor berjalan mendekat. Wajah mereka kaku. Salah satunya, Pak Agus, yang setiap pagi menanyakan apakah aku sudah sarapan, menatapku dengan mata yang tidak nyaman.
“Mohon maaf, Pak Chakra,” katanya pelan. “Akses Bapak dinonaktifkan sementara. Perintah dari Divisi Keamanan Informasi, jam enam pagi tadi.”
“Kenapa, Pak?”
Pak Agus menelan ludah.
“Bapak diminta langsung ke Ruang Rapat Sinclair, Pak. Lantai 40. Direksi sudah kumpul.” Dia ragu sebentar. “Katanya ada laporan, Pak. Data pelanggan SinMart. Sembilan juta. Dijual di internet.”
Dia berhenti, lalu menambahkan, lebih pelan:
“Dan katanya, Pak, yang mengunduh datanya pakai akun Bapak.”
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor reading
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat