Chapter Seven

Satu-Satunya yang Buka

POV: Serena


Aku bangun karena bau mie ayam dingin dan suara hujan.

Untuk beberapa detik aku tidak tahu di mana aku berada. Pipiku menempel di sesuatu yang kasar, hangat, dan wanginya kukenal. Wol. Kayu. Sabun. Leherku kaku. Rambutku entah kenapa terurai menutupi separuh wajah. Ada bunyi dengkur dari arah sofa, dan di luar ada deru air yang sangat keras, seperti seseorang menuang samudra ke atas gedung.

Lalu aku ingat. Lantai 38. Empat ratus tujuh gerai. Tiga koma delapan miliar.

Aku menegakkan duduk terlalu cepat. Jas biru tua itu melorot dari bahuku ke kursi.

Jendela lantai 38 sudah bukan jendela lagi. Kacanya jadi tirai air. Hujan turun begitu deras sampai Jakarta di luar sana hanya kelihatan seperti lukisan cat air yang luntur: kelabu, buram, dengan titik-titik lampu jalan yang berkedip-kedip.

Chakra berdiri di depan jendela itu dengan ponsel di telinga. Kemejanya kusut, lengannya digulung, dan rambutnya berantakan seperti dulu sebelum dia mengenal pomade. Dia sedang bicara dengan seseorang, suaranya rendah dan cepat.

“…Kampung Melayu sudah satu meter, Pak? Gerainya? Oke. Gensetnya nyala? Bagus. Jangan tutup. Saya ulangi, jangan tutup selama airnya belum masuk ke dalam gerai. Kalau masuk, naikkan barang ke lantai dua kalau ada, kalau nggak ada, ke atap mobil boks. Iya, Pak. Terima kasih. Hati-hati.”

Dia menutup telepon dan menoleh. Matanya menemukanku.

“Pagi, Bu.”

“Jam berapa ini?”

“Enam lewat empat puluh.”

“Kenapa kamu nggak bangunin aku?”

Dia mendorong kacamata dengan satu jari. “Ibu kelihatan butuh.”

Kelihatan. Jawaban yang sama seperti di bawah hujan delapan tahun lalu. Aku tidak tahu apakah dia sengaja. Dengan Chakra, aku tidak pernah tahu apakah dia sengaja.

Aku merapikan rambutku dengan jari, menyadari betapa berantakannya aku. Blus kusut, maskara mungkin luntur, bekas lipatan jas di pipi. Aku mencari jepit rambutku di meja. Tidak ada.

“Di sini,” kata Chakra, mengulurkan tangannya. Jepit mutiara itu tergeletak di telapak tangannya. “Jatuh jam setengah lima. Saya simpan.”

Aku mengambilnya tanpa menyentuh tangannya. Hampir tanpa menyentuh. Ujung jariku menyerempet telapak tangannya sepersekian detik, dan rasanya seperti menyentuh kompor.

“Bagaimana gerai-gerainya?” tanyaku, dengan suara CEO yang syukurlah masih ada.

Dia tersenyum. Bukan senyum sopan. Senyum lelah, lebar, dan sangat, sangat lega.

“Lihat sendiri, Bu.”

Dia memutar layar besar ke arahku.


Hari Sabtu itu, Jakarta tenggelam.

Ciliwung meluap sebelum pukul delapan pagi. Kali Bekasi menyusul pukul sepuluh. Kampung Melayu, Bidara Cina, Cipinang Melayu, Pondok Gede, Jatiasih, sebagian Kemang, sebagian Kelapa Gading. Nama-nama yang tiap tahun muncul di berita dengan foto yang sama: atap-atap rumah yang menyembul dari air cokelat, perahu karet, anak-anak di pundak ayahnya.

Dan di tengah semua itu, ada empat ratus tujuh lampu hijau-oranye yang tetap menyala.

Aku melihatnya pertama kali di layar NEXUS, berupa titik-titik di peta: hijau artinya buka normal, kuning artinya buka dengan genset, merah artinya tutup. Pukul sepuluh pagi, dari empat ratus tujuh gerai di zona merah, tiga ratus delapan puluh dua masih buka. Pukul dua siang, tiga ratus tujuh puluh satu. Hanya tiga puluh enam yang terpaksa tutup karena air masuk melewati karung pasir.

Lalu aku melihatnya di media sosial, dan di situlah semuanya meledak.

Video pertama diunggah seorang pengemudi ojol pukul sebelas pagi. Dia mengarungi air setinggi pinggang di Cipinang, mendorong motornya yang mogok, dan merekam satu-satunya bangunan yang lampunya menyala di sepanjang jalan itu: SinMart, dengan karung pasir bertumpuk di pintu, genset meraung di samping, dan seorang kasir perempuan yang melambai dari balik kaca. Gila, cuma SinMart doang yang buka, yang lain udah pada tutup dari subuh. Salut sama karyawannya.

Dua juta tayangan dalam empat jam.

Video kedua lebih menyakitkan. Seorang ibu muda di pengungsian Kampung Melayu, menggendong bayi, berdiri di depan rak SinMart yang penuh. Popok, susu formula, pembalut, roti, air mineral. Dia menangis sambil bicara ke kamera: Tahun lalu saya nyari pembalut sama susu anak saya muter-muter nggak ada yang buka. Tahun ini ada. Ya Allah. Terima kasih. Terima kasih.

Aku menonton video itu di ruang kerja NEXUS dengan jas Chakra masih di pundakku. Mataku perih, dan aku memutuskan itu karena kurang tidur.

Di sebelahku Tiara menangis tanpa malu-malu, sambil memeluk tiga stabilonya.

“Ini kan yang saya bilang, Bagas,” isaknya. “Pembalut.”

Bagas, yang baru bangun dari sofa dengan kacamata miring dan bekas jahitan bantal sofa di pipi, mengangguk dengan khidmat. “Kamu benar, Tiara. Saya minta maaf atas muka saya kemarin.”

Pukul tiga sore, tagar #SinMartBuka masuk sepuluh besar trending nasional. Pukul lima, masuk tiga besar. Seorang komedian terkenal mencuit: Pemerintah: siaga banjir. SinMart: siaga stok pembalut. Respect.

Pukul enam sore, grup WA Direksi SC (Resmi) bergetar.

Pak Darmawan mengirim sebuah foto. Ruang tamu rumahnya di Bekasi, airnya selutut, sofa kulit mengambang miring, dan seekor kucing persia gembul duduk di atas kulkas dengan wajah sangat tersinggung.

Mohon maaf mengganggu, Bapak/Ibu. Rumah saya kebanjiran. Apakah ada SinMart yang buka di sekitar Perumahan Galaxy?

Chakra mengetik balasan bahkan sebelum aku selesai membaca.

Selamat sore, Pak Darmawan. Ada tiga. Yang terdekat di Jl. Pulo Sirih, 400 meter dari rumah Bapak, buka dengan genset sampai pukul 22.00. Stok air mineral, roti, dan makanan kucing tersedia. Semoga Bapak sekeluarga, dan kucingnya, aman.

Hening sepuluh menit. Lalu:

Terima kasih, Pak Chakra. Dan mohon maaf atas stiker matahari kemarin.

Aku menutup mulut dengan tangan supaya tawaku tidak keluar.

Di sebelahku Chakra tersenyum ke layar ponselnya. “Kucingnya lucu,” katanya.

“Kucingnya kelihatan mau menuntut,” kataku.

“Kucing selalu kelihatan mau menuntut, Bu. Itu ekspresi bawaan.”

Aku menoleh padanya. Dia menoleh padaku. Untuk satu detik kami hanya dua orang yang sangat lelah dan sangat lega, duduk bersebelahan di depan layar, dan aku lupa bahwa seharusnya aku membencinya.

Lalu ponselku bergetar. Mama.

Sayang, kamu di mana? Kebayamu sudah jadi. Jangan lupa Sabtu depan gala ulang tahun SC. Om Hendra mau umumkan tanggal pertunangan.

Aku ingat lagi.


Senin pagi, SC Group menggelar konferensi pers di lobi lantai dasar.

Bukan ideku. Ide Divisi Komunikasi Korporat, yang sejak Sabtu dibanjiri permintaan wawancara dari media. Bagaimana SinMart bisa tahu banjir akan datang? Apakah benar SinMart menggunakan AI? Siapa orang di balik sistem itu?

Aku berdiri di podium dengan blazer biru navy, rambut disanggul sempurna, dan wajah yang sudah dirias untuk kamera. Di sebelahku Chakra berdiri dengan setelan abu-abu, tanpa dasi, tangan di saku, terlihat lebih tidak nyaman di depan kamera daripada di depan sebelas direksi yang skeptis.

Para wartawan bertanya. Aku menjawab dengan kalimat-kalimat yang sudah disiapkan tim Komunikasi: komitmen kami pada masyarakat, kesiapsiagaan bencana, teknologi untuk kemanusiaan. Lalu seorang wartawan perempuan dari stasiun TV bisnis mengangkat tangan dan bertanya langsung pada Chakra.

“Pak Chakra, Anda kembali ke Indonesia baru dua minggu, dan model Anda sudah menyelamatkan ratusan gerai dari banjir. Bagaimana rasanya jadi pahlawan?”

Chakra tersenyum dengan canggung, seperti anak SMA dipanggil ke depan kelas.

“Saya bukan pahlawan, Mbak,” katanya. “Model saya cuma kasih angka. Delapan puluh satu persen. Angka nggak bisa menyelamatkan siapa-siapa.” Dia diam sebentar, lalu matanya bergeser padaku. Hanya sebentar, tapi kamera menangkapnya. Belakangan aku tahu itu, karena potongan videonya diputar ulang dua ratus ribu kali di TikTok. “Yang berani tanda tangan otorisasi jam sebelas malam, di saat semua orang ragu, itu CEO kami. Keputusannya ada di beliau. Saya cuma kebetulan tahu cuacanya.”

Ruangan diam sesaat. Lalu kilatan kamera menyala ke arahku.

Aku tidak tahu wajahku sedang menunjukkan apa. Aku hanya tahu bahwa di depan tiga puluh wartawan dan dua belas kamera, mantan suamiku baru saja memberikan seluruh pujian untuk sesuatu yang dia kerjakan sendiri selama dua minggu tanpa tidur, kepadaku.

Dulu dia juga selalu begitu. Semua yang baik, dia berikan padaku. Semua yang buruk, dia telan sendiri.

Aku tidak pernah bertanya kenapa.

“Pertanyaan berikutnya,” kataku, dan suaraku hanya sedikit bergetar.


Masalah dimulai Senin siang.

“Bu,” kata Sisca pukul dua belas lewat lima belas, berdiri di ambang pintu ruanganku dengan ekspresi wartawan perang. “Saya perlu melaporkan situasi di lantai 38.”

“Ada apa? Server lagi?”

“Bukan, Bu.” Sisca menurunkan suaranya. “Antrean.”

Aku turun lewat tangga darurat. Bukan karena penasaran. Karena lift sedang ramai dan aku perlu olahraga.

Pintu tangga darurat lantai 38 berhadapan langsung dengan area resepsionis NEXUS. Aku membukanya sedikit, cukup untuk mengintip, dan aku melihatnya.

Antrean.

Tujuh, tidak, sembilan perempuan berdiri berbaris di depan ruang kaca Chakra. Aku mengenali sebagian. Dua staf HR, satu dari Legal, satu manajer pemasaran SinMart, dua dari Keuangan, satu dari Pengadaan, dan dua lagi yang aku bahkan tidak tahu bekerja di divisi apa. Mungkin mereka sengaja naik dari lantai lain.

Semuanya membawa sesuatu. Map. Laptop. Dan, ini bagian yang membuat pembuluh darah di pelipisku berdenyut, wadah makanan.

Kotak bekal bermotif bunga. Rantang kaca. Tupperware ungu. Satu orang membawa paper bag dari toko kue mahal di Senopati. Satu lagi membawa kotak bento dengan karakter beruang di tutupnya.

“Mbak Tiara,” kata staf HR di barisan paling depan dengan suara manis, “saya mau konsultasi soal data absensi karyawan. Pak Chakra ada?”

Tiara duduk di meja resepsionis darurat yang sepertinya baru dibuat pagi ini, dengan wajah perempuan yang sudah melewati batas kesabaran.

“Mbak, data absensi itu urusan HRIS, bukan NEXUS.”

“Tapi kan ini data. Pak Chakra kan Chief Data.”

“Mbak.”

“Oh iya, ini saya bawain rendang. Buat Pak Chakra. Sama tim,” tambahnya cepat. “Buat tim juga.”

Di dalam ruang kaca itu, Chakra duduk di balik mejanya, sedang menjelaskan sesuatu dengan sabar pada manajer pemasaran SinMart yang duduk di seberangnya. Manajer itu tertawa terlalu keras, rambutnya diurai, dan dia condong ke depan dengan sudut tubuh yang tidak ada hubungannya dengan diskusi data.

Di meja Chakra sudah ada tiga wadah makanan. Di meja Bagas, dua. Bagas sedang makan salah satunya dengan ekspresi orang yang tidak percaya nasibnya.

Aku menutup pintu tangga darurat dengan sangat pelan.

Lalu aku naik ke lantai 40, duduk di meja, dan membuka laptop.

Kepada: Seluruh Karyawan SC Tower Perihal: Memo CEO No. 017/2026 — Ketertiban Lantai Kerja

Demi menjaga kebersihan dan kenyamanan area kerja, terhitung mulai hari ini, karyawan dilarang membawa makanan dan minuman dari luar ke Lantai 38 (SC NEXUS), kecuali untuk konsumsi pribadi staf NEXUS.

Konsultasi dengan SC NEXUS dilakukan melalui sistem tiket internal dan dijadwalkan sesuai prioritas bisnis.

Atas perhatiannya, terima kasih.

Serena Sinclair CEO

Aku membaca ulang. Lantai 38. Hanya lantai 38. Kenapa hanya lantai 38? Karena… karena lantai 38 punya banyak perangkat elektronik mahal, dan kuah rendang bisa merusak server. Itu alasan yang masuk akal. Alasan yang sangat profesional.

Kirim.

Empat puluh detik kemudian, ponselku bergetar. Tentu saja dia membalas semua. Seluruh gedung. Seribu dua ratus karyawan.

Kepada: Seluruh Karyawan SC Tower Perihal: RE: Memo CEO No. 017/2026 — Ketertiban Lantai Kerja

Bu Serena, terima kasih atas memo ini. Tim NEXUS menyambut baik penerapan sistem tiket.

Mohon izin bertanya untuk kejelasan: apakah larangan ini juga berlaku untuk mie ayam dari Ibu saya yang dikirim ke Lantai 40?

Hormat saya, Chakra Wirasena

Seribu dua ratus karyawan.

Aku menutup mata. Menghitung sampai lima. Membukanya. Mengetik.

Pak Chakra,

Lantai 40 dikecualikan.

Serena Sinclair

Kirim. Empat puluh detik.

Bu Serena,

Atas dasar?

Chakra Wirasena

Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi. Menghapus lagi. Di luar dinding kaca, Sisca pura-pura menyiram tanaman plastik untuk ketiga kalinya minggu ini. Tanaman plastik itu, kalau bisa bicara, pasti sudah mengajukan pengaduan ke HR.

Pak Chakra,

Kebersihan.

Serena Sinclair

Kirim.

Aku tahu, aku sangat tahu, bahwa kalimat itu tidak masuk akal. Mie ayam dengan kuah, sambal dalam botol bekas selai, dan kerupuk pangsit yang remahnya ke mana-mana tidak mungkin lebih bersih daripada rendang dalam Tupperware ungu.

Tapi aku CEO. CEO tidak harus masuk akal. CEO cukup tegas.

Tidak ada balasan dari Chakra kali ini. Yang ada malah pesan WA dari Bagas, yang entah bagaimana punya nomorku. Mungkin dari grup proyek banjir.

Bu, mohon maaf. Ini Bagas dari NEXUS. Saya cuma mau lapor, Mas Yudis tadi baca email Ibu keras-keras terus nanya, “Itu logikanya gimana?” Pak Chakra ketawa sampai harus keluar ruangan. Sudah dua puluh menit belum balik. Mohon maaf kalau laporan ini tidak relevan. Saya hanya merasa Ibu perlu tahu.

Aku meletakkan ponsel telungkup di meja. Lalu aku menutup wajah dengan kedua tangan dan tertawa tanpa suara di ruang CEO lantai 40, sendirian, sampai perutku sakit.

Di grup karyawan, aku tahu belakangan, seseorang bertanya pada NEXA: Berapa rata-rata waktu balas CEO dan Chief AI hari ini?

NEXA menjawab: 38 detik. Turun dari 47 detik minggu lalu. Tren: menurun.


Malam itu, pukul sepuluh, aku duduk di kasur dengan laptop di pangkuan.

Di lemari pakaianku, di antara blazer-blazer berwarna netral yang tersusun rapi menurut warna, tergantung sebuah jas biru tua yang tidak cocok dengan apa pun. Aku membawanya pulang Sabtu malam. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa jas itu perlu di-dry clean sebelum dikembalikan, karena aku orang yang bertanggung jawab.

Jas itu sudah kembali dari laundry Senin sore. Sekarang tergantung di lemariku, bersih, wangi pewangi, dan sama sekali tidak ada alasan untuk tidak segera dikembalikan.

Aku membuka email baru.

Kepada: Aku mengetik namanya. Lalu aku melihat kolom CC, kosong.

Aku membiarkannya kosong.

Perihal: Aku menatap kolom itu lama. Akhirnya kutulis: Terima kasih.

Pak Chakra,

Terima kasih. Untuk 407 gerai.

Serena

Tanpa Sinclair. Tanpa CEO. Aku tidak sengaja. Atau mungkin sengaja. Aku tidak tahu lagi.

Kirim.

Aku menunggu empat puluh detik. Tiga puluh delapan detik. Satu menit. Dua menit.

Lima menit.

Aku menutup laptop. Membukanya lagi. Merapikan bantal. Memeriksa ponsel. Mengirim pesan ke Sisca soal jadwal besok, padahal jadwal besok sudah ada di kalender. Membuka laptop lagi.

Tujuh menit dua belas detik setelah aku menekan Kirim, balasannya masuk.

Bu Serena,

Sama-sama. Untuk tanda tangan jam 23.20.

Saya sudah ketik balasan ini tujuh kali dan menghapusnya enam kali. Jadi mohon maaf kalau terlambat. Ternyata email tanpa CC lebih sulit ditulis.

Chakra

P.S. Jasnya boleh dikembalikan kapan saja.

Atau nggak usah.

Aku membacanya. Lalu membacanya lagi. Lalu aku menatap lemari pakaian di seberang kasur, ke ujung lengan biru tua yang menyembul di antara blazer-blazer krem dan abu-abuku.

Tujuh kali. Dia mengetiknya tujuh kali.

Aku mematikan lampu, menarik selimut, dan tidak mengembalikan jas itu.

Bukan karena alasan apa-apa. Lemariku memang butuh warna.