Chapter Twenty One

Log Akses

POV: Chakra


Percaya.

Satu kata. Delapan huruf. Dua suku kata, tiga kalau dieja pelan seperti dia mengejanya di ruang rapat itu, dengan suara yang tidak bergetar sedikit pun.

Enam tahun aku menunggu kata itu. Enam tahun, dua negara, satu gelar doktor, satu paten, seribu dua ratus delapan puluh empat commit. Dan ketika akhirnya kata itu datang, dia mengucapkannya di depan semua orang yang dulu membuatnya ragu, dengan risiko kehilangan segalanya.

Aku tidak boleh memikirkannya sekarang. Kalau aku memikirkannya sekarang, aku tidak akan bisa bekerja.

Jadi aku menyimpannya. Seperti sticky note di balik KTP. Nanti. Setelah ini selesai. Kalau ini selesai.

Pukul 09.04, aku duduk di depan laptop di ruang kaca lantai 38, dengan Pak Teguh Wibowo di kursi sudut dan analis mudanya, Danu, di kursi lain. Yudis di sebelahku. Akses baca ke lingkungan analitik NEXUS sudah dibuka kembali, dan setiap ketukanku direkam.

Dua puluh empat jam.

“Pak Teguh,” kataku. “Saya butuh tiga hal dari Divisi Bapak. Log VPN lengkap untuk sesi pukul 23.12, termasuk alamat IP asal sebelum masuk ke VPN. Log direktori akun, semua akun yang punya nama tampilan Chakra Wirasena. Dan log semua salinan data loyalitas yang dibuat dalam tujuh hari terakhir, oleh siapa pun, untuk keperluan apa pun.”

Pak Teguh menatapku. “Semua akun dengan nama tampilan Bapak?”

“Semua, Pak.”

“Bapak kan cuma punya satu akun.”

“Itu yang mau saya pastikan, Pak.”


Pukul 11.30, log direktori datang.

Pak Teguh yang membukanya pertama kali, karena prosedur mengharuskan begitu. Dia membaca layar laptopnya, lalu berhenti. Membaca lagi. Lalu mengangkat wajah dan menatapku dengan ekspresi orang yang baru melihat hantu di siang bolong.

“Pak Chakra,” katanya pelan. “Ada dua.”

“Dua apa, Pak?”

“Dua akun dengan nama tampilan Chakra Wirasena.” Dia memutar laptopnya ke arahku. “Satu, chakra.wirasena, dibuat oleh HR tanggal Bapak masuk. Itu akun Bapak. Yang kedua…”

c.wirasena.

Dibuat hari Senin. Empat hari lalu. Pukul 19.42. Hari yang sama dengan insiden NEXA, hari yang sama dengan email audit keamanan dari COO.

Dibuat oleh akun administrator: adm.ferdi.

“Ferdi,” kata Pak Teguh. Suaranya berubah. “Ferdi Kurniawan. Staf infrastruktur TI. Dia… dia salah satu dari empat orang yang punya hak admin direktori.”

“Divisi TI melapor ke siapa, Pak?”

Pak Teguh diam sebentar. “Ke Direktur TI. Yang melapor ke COO.”

Aku mengangguk. Lalu aku membuka detail akun kedua itu.

Akun c.wirasena ditambahkan ke grup akses NEXUS pada hari Selasa pukul 08.15, juga oleh adm.ferdi. Autentikasi dua faktornya terdaftar ke sebuah nomor ponsel.

Bukan nomorku.

“Pak Teguh,” kataku. “Bisa tolong cek nomor ini terdaftar atas nama siapa?”

Danu, si analis muda, sudah mengetik sebelum Pak Teguh sempat menjawab. Dua menit kemudian dia mendongak.

“Nomor prabayar, Pak. Diaktifkan Senin sore. Registrasinya pakai NIK yang… yang ternyata milik orang yang sudah meninggal tahun lalu.”

Hening.

Di luar ruang kaca, Bagas yang tadi tidur dengan kepala di atas keyboard sekarang duduk tegak, menempel ke dinding kaca seperti anak kecil di akuarium. Tiara di sebelahnya, dengan tiga stabilo tergenggam di satu tangan.

“Jadi,” kata Pak Teguh perlahan, seperti orang yang sedang menyusun puzzle di kepalanya, “sesi VPN pukul 23.12 tadi malam bukan pakai akun Bapak. Pakai akun kloning dengan nama tampilan yang sama. Dua faktor yang lolos itu bukan ponsel Bapak. Ponsel prabayar dengan NIK orang meninggal.”

“Betul, Pak.”

“Dan di laporan pagi tadi, saya bilang akun atas nama Chakra Wirasena.” Pak Teguh menutup matanya. “Karena sistem menampilkan nama tampilan. Saya nggak cek nama penggunanya. Ya Tuhan.”

“Bapak bekerja dengan data yang diberikan, Pak. Itu bukan salah Bapak.”

Pak Teguh membuka mata dan menatapku. “Pak Chakra, Bapak tahu dari mana ada akun kedua?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku tahu karena enam tahun lalu, ada bukti transfer dua miliar rupiah ke rekening atas namaku. Rekening itu benar milikku, dan uangnya benar masuk. Tapi bukti transfer di amplop cokelat itu hanya menunjukkan setengah cerita, dan tidak ada yang pernah bertanya soal setengah yang lain. Aku belajar dari situ: ketika seseorang menunjukkan bukti dengan namamu di atasnya, pertanyaan pertama bukan apa yang kamu lakukan. Pertanyaan pertamanya adalah nama itu benar-benar milikmu, atau hanya terlihat seperti milikmu?

“Insting, Pak,” kataku.


Pukul 15.00, giliran data.

Ini bagian yang lebih sulit. Akun kloning membuktikan bahwa bisa bukan aku, tapi belum membuktikan bahwa bukan aku. Pengacara mana pun, termasuk pengacara Pak Hendra, bisa berargumen bahwa aku yang meminta Ferdi membuat akun kloning untuk menutupi jejakku sendiri. Aku butuh lebih.

“Tiara,” kataku lewat interkom ruang kaca. Tiara tidak boleh masuk, tapi dia boleh bicara. “Kolom segmen_malam. Kapan terakhir kamu ubah ambang batasnya?”

Suara Tiara keluar dari interkom, cepat dan bersemangat seperti biasa. “Rabu, Pak! Dua hari lalu! Setelah uji coba tiga puluh gerai, kita sadar ambang batas pembeli setia malam terlalu ketat. Saya ubah dari minimal empat kunjungan per minggu jadi tiga. Jumlah pelanggan di segmen itu naik dari delapan ratus ribu jadi satu koma satu juta.”

“Data yang bocor,” kataku ke Pak Teguh, “pakai ambang batas yang mana?”

Pak Teguh membuka sampel lima ratus baris dari forum gelap. Danu menghitung. Tiga menit.

“Empat kunjungan, Pak,” kata Danu. “Ambang batas lama.”

“Artinya datanya diambil sebelum Rabu,” kataku. “Tapi sesi VPN mengunduhnya hari Kamis malam. Dari lingkungan NEXUS yang sejak Rabu sudah memakai ambang batas baru. Kalau sesi itu benar-benar mengunduh dari NEXUS hari Kamis, datanya pasti memakai ambang batas tiga, bukan empat.”

Pak Teguh menegakkan punggung. “Jadi…”

“Jadi data yang dijual itu tidak diambil dari NEXUS hari Kamis. Diambil dari salinan yang dibuat sebelum Rabu.” Aku membuka log salinan data yang tadi kuminta. “Pak, ada salinan data loyalitas yang dibuat antara Senin dan Rabu?”

Pak Teguh membaca layar. Lalu wajahnya berubah lagi. Kali ini bukan hantu. Kali ini sesuatu yang lebih buruk.

“Ada,” katanya pelan. “Satu. Senin malam, pukul 21.30. Salinan lengkap lingkungan analitik NEXUS, termasuk data loyalitas yang sudah diolah. Untuk keperluan…” dia menelan ludah, “…audit keamanan menyeluruh. Sesuai email instruksi COO. Disimpan di server audit Divisi TI.”

“Siapa yang membuat salinannya?”

Pak Teguh tidak perlu menjawab. Aku sudah tahu.

“adm.ferdi,” katanya.


Pukul tiga pagi hari Sabtu, ruang kaca lantai 38 sunyi kecuali dengung pendingin server dan bunyi ketikan Yudis.

Danu tertidur di sofa hijau. Pak Teguh masih terjaga di sudut, dengan mata merah dan kopi tubruk keempatnya dari termos Pak Komar. Di luar ruang kaca, Arini tidur dengan kepala di atas tumpukan kertas cetakan, Tiara meringkuk di kursi dengan cardigan hijau toska, dan Bagas menempel di dinding kaca seperti cicak.

Sisa satu hal. Alamat IP asal.

Sesi VPN pukul 23.12 masuk dari sebuah alamat IP sebelum terhubung ke jaringan SC. Kalau orangnya cukup pintar, IP itu akan berasal dari layanan VPN publik, warnet, atau Wi-Fi kafe. Sesuatu yang tidak bisa dilacak.

Orangnya tidak cukup pintar. Atau terlalu percaya diri.

Yudis menelusuri pemilik alamat IP itu lewat basis data publik penyedia layanan internet. Sebuah langganan internet bisnis, IP statis, terdaftar atas nama sebuah perusahaan di Jakarta Barat.

Yudis memutar layarnya ke arahku tanpa bicara.

Aku membaca nama perusahaan itu. Lalu alamatnya.

Salah satu dari tiga alamat. Alamat kantor yang sama dengan empat dari empat belas vendor di graf bunga beracun itu.

Aku menatap layar itu lama.

Lalu aku menoleh ke Pak Teguh, yang sedang menatap kopinya dengan mata setengah terpejam.

“Pak Teguh.”

“Ya, Pak?” Dia tersentak bangun.

“Untuk laporan besok pagi,” kataku pelan, “saya rasa akun kloning dan ambang batas data sudah cukup untuk membuktikan bahwa bukan saya pelakunya. Bapak setuju?”

Pak Teguh menatapku. Dia orang yang jujur. Aku sudah mengamatinya sepanjang malam. Dia mencatat setiap ketukan, setiap jeda, setiap kali aku ke toilet, dengan ketelitian orang yang percaya pada prosedur lebih dari pada apa pun.

“Cukup, Pak,” katanya. “Lebih dari cukup.”

“Alamat IP asal,” lanjutku, “saya minta tidak dimasukkan ke laporan besok. Simpan di catatan terpisah. Terenkripsi. Bapak, Yudis, dan saya saja yang tahu.”

Pak Teguh mengerutkan kening. “Kenapa, Pak?”

Aku menatap layar Yudis. Alamat di Jakarta Barat itu. Graf bunga beracun dengan empat belas kelopak dan satu tangkai.

“Karena kalau alamat ini disebut di rapat besok,” kataku, “orang yang perlu kita tangkap akan tahu seberapa banyak yang sudah kita tahu. Dan dia akan menghapus semuanya sebelum kita bisa membuktikannya.”

Pak Teguh menatapku lama. Lalu menatap alamat itu. Lalu menatap ke luar ruang kaca, ke arah lift, ke arah lantai 40.

Dia orang yang jujur. Tapi dia bukan orang bodoh.

“Saya simpan, Pak,” katanya pelan.


Sabtu, pukul 09.00. Ruang Rapat Sinclair. Dua puluh empat jam tepat.

Kursi-kursi yang sama. Wajah-wajah yang sama, sedikit lebih lelah. Pak Richard dengan kotak obat tujuh sekatnya. Benny Hartanto dengan pengacaranya. Pak Darmawan dengan kalkulator yang tidak dia butuhkan. Oma Margaret di kursi Komisaris Utama di sudut, dengan tongkat bersandar di lengan kursi dan buku teka-teki catur di pangkuan.

Pak Hendra di sebelah kanan kakaknya. Senyumnya kembali hangat, tenang, sabar. Seperti paman yang menunggu keponakannya kalah dengan anggun.

Dan Rena. Di kursi CEO. Blazer putih, sanggul rendah, wajah tanpa ekspresi. Di tengah meja, tepat di tempat dia meletakkannya kemarin, masih ada pulpen biru itu.

Tidak ada yang memindahkannya selama dua puluh empat jam.

Pak Teguh yang presentasi. Bukan aku. Itu permintaanku semalam. Laporan ini lebih kuat kalau disampaikan oleh orang yang kemarin pagi menuduhku.

Dia menjelaskan semuanya dengan suara yang tenang dan prosedural. Dua akun dengan nama tampilan sama. Akun kloning dibuat Senin oleh adm.ferdi. Dua faktor terdaftar ke nomor prabayar dengan NIK orang yang sudah meninggal. Ambang batas segmen_malam yang membuktikan data diambil sebelum Rabu. Salinan audit Senin malam, juga oleh adm.ferdi, di server Divisi TI.

“Kesimpulan Divisi Keamanan Informasi,” kata Pak Teguh, menatap seluruh meja, “Pak Chakra Wirasena tidak terlibat dalam kebocoran data. Akunnya tidak digunakan. Ponselnya tidak digunakan. Lingkungan NEXUS tidak menjadi sumber data yang bocor. Data berasal dari salinan audit yang disimpan Divisi TI, dan diakses menggunakan akun yang dibuat dengan nama Pak Chakra untuk…” dia berhenti sejenak, memilih kata, “…untuk menimbulkan kesan bahwa beliau pelakunya.”

Ruangan sunyi.

Lalu Pak Darmawan, di tengah keheningan itu, berbisik terlalu keras ke Bu Lestari:

“Akhirnya ini beneran soal data, ya.”

Bu Lestari menyikut rusuknya.

“Ferdi Kurniawan,” kata Pak Richard. Suaranya serak. “Di mana dia?”

“Sudah kami panggil sejak jam tujuh, Pak. Sedang menunggu di ruang Legal dengan pengawasan.” Pak Teguh ragu sebentar. “Dia… sudah memberi keterangan awal.”

“Apa katanya?”

“Dia mengaku membuat akun itu dan salinan itu, Pak.” Pak Teguh menelan ludah. “Dia bilang dia diperintah atasan. Lewat telepon. Tapi dia tidak mau menyebut nama. Dia bilang dia takut.”

Semua kepala bergerak. Bukan ke arahku. Ke arah lain.

Pak Hendra tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Tapi tangannya, yang tadi bertumpu santai di atas map, sekarang terkepal.

Lalu dia berdiri.

“Bapak-Ibu sekalian.” Suaranya berat, sedih, penuh penyesalan. Suara paman di pemakaman. “Divisi TI ada di bawah koordinasi saya. Ferdi Kurniawan adalah bawahan dari bawahan saya. Kalau ada pengkhianat di divisi saya, saya yang bertanggung jawab.” Dia menoleh padaku. Matanya basah. “Chakra, Om minta maaf. Om yang memanggil rapat kemarin. Om yang paling keras. Om… Om malu.”

Dia mengucapkannya dengan begitu tulus sampai aku hampir percaya.

Hampir.

“Saya akan memastikan Ferdi diberhentikan hari ini,” lanjutnya, menatap Pak Richard. “Dan saya akan memimpin sendiri pelaporan ke kepolisian. Kita harus menemukan siapa atasan yang dia maksud. Siapa pun orangnya.” Dia berhenti. “Bahkan kalau orang itu ada di ruangan ini.”

Dan dia menatap meja, satu per satu, dengan wajah polos orang yang tidak punya apa-apa untuk disembunyikan.

Aku tidak bilang apa-apa. Pak Teguh tidak bilang apa-apa. Alamat IP di Jakarta Barat tetap tersimpan di catatan terenkripsi, di tiga tempat, di luar server SC.

Di sudut ruangan, Oma Margaret membalik halaman buku caturnya. Pelan. Bunyi kertasnya terdengar jelas di ruangan yang sunyi.

“Hendra,” katanya, tanpa mengangkat mata. “Langkah yang bagus.”

Pak Hendra menoleh. “Ma?”

“Mengorbankan pion untuk melindungi raja.” Oma menulis sesuatu di halaman buku caturnya dengan pensil. “Langkah klasik. Opamu dulu sering pakai.”

Hening total.

Pak Hendra tersenyum. “Saya tidak mengerti maksud Mama.”

“Tentu tidak, Nak.” Oma menutup bukunya. “Saya cuma bicara soal catur.”


Rapat bubar pukul sepuluh. Benny Hartanto menjabat tangan Pak Richard dan mengumumkan bahwa Hartanto Group menghargai tata kelola SC Group yang transparan dan akan melanjutkan proses merger sesuai jadwal yang disesuaikan. Dia tidak menyebut pertunangan. Tidak ada yang menyebut pertunangan.

Rena berdiri dari kursi CEO. Dia berjalan ke tengah meja, mengambil pulpen biru itu, dan memasukkannya kembali ke saku blazernya.

Pelan. Tanpa bicara. Di depan semua orang.

Lalu dia berjalan keluar.


Aku menemukannya di ruang server lantai 38.

Atau mungkin dia yang menemukanku. Aku tidak tahu. Aku turun ke ruang server setelah rapat untuk memastikan semua log sudah diamankan dan salinan terenkripsi sudah di tempatnya. Itu pekerjaan sepuluh menit, tapi aku butuh sepuluh menit di tempat yang sunyi, dingin, dan tidak ada manusia.

Ruang server SC Tower ada di balik pintu baja di ujung lantai 38. Ruangan panjang tanpa jendela, dengan deretan rak hitam setinggi dua meter yang dipenuhi lampu-lampu kecil hijau dan biru yang berkedip. Suhunya delapan belas derajat. Suaranya dengung konstan, seperti napas raksasa yang tertidur.

Aku berdiri di antara dua rak, memeriksa log di tablet, ketika pintu baja di belakangku terbuka dan menutup.

Aku tidak menoleh. Aku tahu langkah itu.

Dia berjalan mendekat. Pelan. Hak sepatunya berbunyi di lantai yang ditinggikan, lalu berhenti tepat di belakangku.

Lalu dua lengan melingkar di pinggangku dari belakang.

Erat. Sangat erat. Wajahnya menempel di punggungku, di antara tulang belikat, dan aku bisa merasakan napasnya yang tidak teratur menembus kemejaku yang kusut setelah dua puluh empat jam.

Tablet di tanganku hampir jatuh.

“Rena…”

“Diam,” bisiknya di punggungku.

Aku diam.

Kami berdiri di sana, di antara rak-rak server yang berkedip. Lengan-lengannya melingkari pinggangku, pipinya di punggungku. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar. Bukan karena dingin. Aku tahu bedanya.

Lalu aku merasakan kemejaku basah. Di tempat pipinya menempel.

“Jangan,” katanya, suaranya pecah, “jangan pernah bikin aku takut kehilangan kamu dua kali.”

Aku meletakkan tablet di atas rak server. Pelan. Lalu aku meletakkan kedua tanganku di atas tangannya, yang terkunci di depan perutku. Jari-jarinya dingin. Aku menggenggamnya.

“Aku nggak ke mana-mana,” kataku.

“Enam tahun lalu kamu juga bilang begitu.”

Aku memejamkan mata.

Dia benar. Enam tahun lalu, di malam pertama pernikahan kami, di apartemen Kalibata dengan kasur yang terlalu kecil, aku berbisik di rambutnya aku nggak ke mana-mana. Setahun kemudian aku pergi. Ke Zürich, ke ujung dunia, ke tempat yang paling jauh dari dia yang bisa kujangkau. Karena aku pikir, waktu itu, kepergianku adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sesuatu.

“Kali ini,” kataku, “aku nggak akan pergi tanpa kamu tahu kenapa.”

Lengannya mengencang di pinggangku.

“Kalau gitu kasih tahu aku,” bisiknya. “Kenapa dulu kamu pergi.”

Aku tidak menjawab. Belum. Aku tidak bisa menjawab di sini, di ruang server, dengan kemeja yang basah oleh air matanya dan suara yang masih bergetar karena dua puluh empat jam tanpa tidur.

Dia merasakan keraguanku. Aku tahu dia merasakannya, karena dia selalu bisa membaca punggungku lebih baik daripada wajahku.

Lalu dia melepaskan pelukannya, pelan, dan aku berbalik.

Wajahnya basah. Maskaranya sedikit luntur di bawah mata. Hidungnya merah. Dia terlihat seperti perempuan dua puluh lima tahun di akad nikah kami, yang menangis sepanjang ijab kabul dan bilang jangan lihat, aku jelek.

Dia tidak pernah jelek. Tidak sekali pun dalam hidupnya.

“Aku punya sesuatu,” katanya, menyeka mata dengan punggung tangan. “Di rumah. Aku masih simpan.”

“Apa?”

Dia menatapku. Matanya merah, basah, dan sangat, sangat tegas.

“Amplop cokelat,” katanya. “Foto-foto itu. Bukti transfer itu. Semuanya. Enam tahun aku simpan di laci paling bawah, di bawah kalung bunga matahari dari kamu.” Dia menarik napas. “Aku mau kamu lihat. Aku mau kamu periksa, kayak kamu periksa log tadi. Pakai matamu yang menyebalkan itu, yang selalu bisa lihat hal-hal yang orang lain nggak lihat.”

Aku menatapnya.

Enam tahun lalu dia tidak bertanya. Dia memegang amplop itu dan bertanya satu hal saja: kamu ambil uangnya? Dan aku tidak bisa menjawab, karena jawabannya iya, tapi, dan kata tapi itu terlalu panjang untuk diceritakan malam itu, di depan wajahnya yang sudah memutuskan.

Sekarang dia membawa amplop itu kepadaku. Bukan untuk menuduh.

Untuk diperiksa.

“Besok,” kataku. “Aku periksa besok.”

“Hari ini,” katanya. “Aku nggak mau nunggu satu hari lagi.”

“Rena, aku belum tidur tiga puluh jam.”

“Aku tahu.” Dia mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemejaku yang kusut. Benar-benar kusut kali ini. “Tidur dulu. Empat jam. Aku bangunin pakai kopi kaleng dingin.”

Aku tertawa. Lelah, pendek, dan terlalu lega.

Dia tersenyum. Lalu, sebelum aku sempat bergerak, dia berjinjit dan menempelkan bibirnya ke pipiku. Sebentar. Ringan. Di tulang pipi, dekat sudut kacamata.

Bukan ciuman. Bukan sepenuhnya.

Tapi enam tahun tidak ada apa-apa, dan ini terasa seperti semuanya.

“Itu bayaran,” bisiknya. “Buat dua puluh empat jam.”

Lalu dia berbalik dan berjalan ke pintu baja. Membukanya. Berhenti di ambang pintu, tanpa menoleh.

“Chakra.”

“Ya?”

“Pulpenku,” katanya. “Aku taruh di meja itu dua puluh empat jam. Kamu tahu kenapa aku nggak takut?”

“Kenapa?”

Dia menoleh. Matanya masih basah, tapi bibirnya tersenyum.

“Karena kamu nggak dorong kacamata waktu bilang kamu nggak melakukannya. Sama sekali.” Dia diam sebentar. “Dan waktu kamu nanya kamu percaya aku, kamu dorong sekali. Itu artinya kamu mau bicara angka.”

“Angka apa?”

“Kamu yang tahu,” katanya. “Kamu yang selalu menghitung.”

Pintu baja menutup di belakangnya.

Aku berdiri di ruang server, di antara rak-rak yang berkedip dan dengung yang tidak pernah berhenti, dengan pipi yang masih terasa hangat dan kemeja yang masih basah di punggung.

Aku memang menghitung.

Enam tahun, dua bulan, sebelas hari. Dari pukul 23.52 malam itu sampai pukul 08.27 kemarin pagi.

Itu angkanya.