Chapter Thirty Eight
Kedai Pertama
POV: Serena
Bu Ratmi membocorkan rahasianya hari Rabu, lewat voice note berdurasi tiga menit empat belas detik yang dimulai dengan kalimat Neng, Ibu nggak bilang apa-apa ya.
“…jadi Chakra minta kedai Margonda tutup jam enam hari Sabtu. Katanya ada urusan. Ibu tanya urusan apa, dia bilang rahasia. Ibu bilang, kamu mau ngelamar Neng Rena, ya? Dia diam. Terus dia dorong kacamatanya, Neng. Sekali.
Ibu nggak bilang apa-apa ya, Neng. Ibu cuma kasih tahu jam tutupnya.
Oh iya, ramalan cuaca katanya hari Sabtu hujan. Chakra senang banget waktu lihat ramalannya. Ibu nggak ngerti kenapa orang senang hujan.
Assalamualaikum. Ibu nggak bilang apa-apa ya.”
Aku memutar voice note itu empat kali di ruang CEO lantai 40, dengan tirai tertutup dan pulpen biru di tangan, sambil tersenyum sampai pipiku sakit.
Lalu aku membalas.
Bu, kedainya boleh dibuka buat saya jam setengah enam?
Dua centang biru. Lima detik.
Bu Ratmi: Boleh, Neng. Ibu nggak bilang apa-apa ke Chakra ya.
Bu Ratmi: Ibu juga nggak bilang apa-apa ke Neng.
Bu Ratmi: Ibu orangnya netral.
Sabtu, pukul lima lewat dua puluh sore, hujan turun di Margonda.
Bukan hujan biasa. Hujan sore yang deras dan tiba-tiba, seperti seseorang di langit membalik ember. Persis seperti sore itu delapan tahun lalu.
Ramalan cuaca benar. Model RENA, kurasa, juga sudah memperkirakannya. Dia pasti sudah tahu sejak seminggu lalu. Pasti itu sebabnya dia memilih hari ini.
Aku memarkir mobil di depan kedai dengan sudut empat puluh lima derajat yang memakan dua tempat. Di kursi penumpang ada payung hitam besar bergagang kayu dengan retak di dekat ujungnya. Di dalam tasku ada kotak kacamata kulit hitam yang sudutnya mengelupas.
Aku keluar dari mobil dan membuka payung itu.
Payung jodoh. Terbuka di atas kepalaku dengan bunyi fwump. Hujan memukul kain hitamnya seperti tepuk tangan.
Kedai Mie Ayam Bu Ratmi cabang Margonda. Spanduk kuning baru dengan tulisan lama. Rolling door setengah terbuka. Cahaya kuning dari dalam. Dan suara radio yang tidak memutar dangdut kali ini. Radio itu memutar lagu lama yang lembut, entah kenapa, lagu yang kurasa dipilih seseorang dengan sengaja.
Aku menunduk dan masuk.
Kedai itu kosong. Bersih. Semua kursi plastik merah dirapikan di meja-meja, kecuali satu meja di sudut. Meja di sudut yang tidak kena tampias dari talang. Ada dua kursi di sana. Di atas meja, ada vas kecil berisi setangkai bunga matahari.
Di balik gerobak, Bu Ratmi berdiri dengan daster batik ungu, celemek ayam, dan jepit jemuran. Dia sedang mengaduk kuah dengan wajah yang sangat netral. Terlalu netral.
“Neng,” katanya. “Kamu datang.”
“Saya datang, Bu.”
“Ibu nggak tahu apa-apa ya.”
“Iya, Bu.”
Dari pintu dapur di belakang gerobak, aku mendengar sesuatu jatuh. Panci. Lalu suara Gendis berbisik keras, Mas Marcel! Pelan-pelan!, dan suara Marcel berbisik balik, Maaf! Saya tidak melihat panci itu! Lampunya terlalu redup!
Bu Ratmi menutup mata. Menghela napas.
“Mereka juga nggak tahu apa-apa ya, Neng,” katanya.
“Iya, Bu.”
Aku menutup payung, menyandarkannya di dinding dekat pintu, dan berjalan ke meja di sudut. Aku duduk di salah satu kursi plastik merah. Yang menghadap pintu.
Lalu aku menunggu.
Dia datang pukul enam kurang dua menit.
Tanpa payung. Tentu saja tanpa payung, karena payungnya ada padaku sejak minggu lalu. Dan aku tahu, aku sangat tahu, dia sengaja tidak membawa payung lain.
Dia berlari dari arah jalan ke kedai di bawah hujan deras, dengan kemeja putih yang langsung basah kuyup dan menempel di bahunya, celana bahan hitam yang lumpurnya terciprat sampai ke lutut, dan kacamata yang berembun. Satu tangannya di saku celana, menggenggam sesuatu dengan erat.
Dia menunduk di bawah rolling door dan masuk ke kedai. Air menetes dari rambutnya, dari dagunya, dari ujung kemejanya ke lantai semen.
Lalu dia mengangkat wajah dan melihatku.
Dia membeku.
Aku duduk di meja di sudut, dengan gaun katun putih sederhana dan rambut tergerai, kalung perak bunga matahari di leher, dan semangkuk mie ayam di depanku. Mie ayam tanpa daun bawang. Tidak, salah. Mie ayam dengan daun bawang. Daun bawang yang banyak, hijau, berserakan di atas mi dan ayam, karena aku sendiri yang meminta Bu Ratmi menambahkannya tadi.
“Kamu,” katanya. Air menetes dari kacamatanya.
“Aku,” kataku.
“Kamu nyalip.”
“Aku bilang aku nggak akan nyalip.”
“Kamu nyalip, Rena.”
“Ibu yang bilang jam tutupnya.”
Dia menoleh ke gerobak. Bu Ratmi sedang mengaduk kuah dengan wajah orang yang tidak tahu apa-apa dan tidak pernah tahu apa-apa sepanjang hidupnya.
“Ibu.”
“Ibu netral, Chakra.”
“Ibu bukan netral, Ibu agen ganda!”
“Ibu belajar dari Bu Margaret.”
Dari dapur, suara Gendis tertawa keras sebelum ditutup sesuatu. Mungkin tangan Marcel, atau celemek, atau panci.
Chakra menatapku lagi. Masih basah kuyup di ambang kedai. Hujan memukul genteng metal di atas kami. Genteng metal yang, kata Bu Ratmi, tidak seindah bunyi atap seng.
Aku menunjuk kursi di seberangku.
“Duduk,” kataku. “Di sini nggak kena tampias.”
Dia duduk. Air menetes ke lantai di bawah kursinya. Kacamatanya masih berembun. Dia melepasnya, mengelapnya dengan ujung kemeja yang juga basah, lalu menyerah dan meletakkannya di meja.
Tanpa kacamata, dia menatapku dengan mata menyipit. Buram, kurasa. Tapi dia tidak perlu melihat dengan jelas. Dia tahu jalannya.
Aku menyodorkan mangkuk mie ayam itu ke arahnya.
Dia menatap mangkuk itu. Mendekatkan wajahnya. Menyipitkan mata lebih lagi.
Lalu dia mengerti.
Daun bawang. Banyak sekali. Hijau di mana-mana.
Dia mengangkat wajah dan menatapku, dan aku melihat sesuatu di matanya yang buram itu. Sesuatu yang sangat lembut dan sangat pecah.
“Kamu sengaja,” katanya pelan.
“Aku sengaja.”
Dia tidak bertanya kenapa. Dia tidak perlu bertanya. Dia mengambil sepasang sumpit dari tempat sumpit di meja, persis seperti delapan tahun lalu, dan mulai mengambil daun bawang dari mangkukku.
Satu per satu.
Pelan. Teliti. Tanpa kacamata, dengan mata menyipit dan wajah yang sangat dekat dengan mangkuk. Dia meletakkan setiap potongan daun bawang di tepi piring kecil di sebelah mangkuk, rapi, berbaris, seperti data yang disusun.
Hujan memukul genteng metal. Radio memutar lagu lama yang lembut. Di balik gerobak, Bu Ratmi berhenti mengaduk kuah.
Aku menatapnya bekerja.
Delapan tahun lalu, aku menatapnya melakukan hal yang sama. Dengan gaun sutra biru tua yang basah kuyup, di bangku plastik di bawah atap seng yang berisik. Laki-laki bercelemek ayam dengan kacamata berembun, mengambil daun bawang dari mangkukku tanpa bertanya, karena dia melihatku menyisihkannya.
Kok kamu tahu?
Kelihatan.
Potongan daun bawang terakhir.
Dia meletakkannya di tepi piring. Lalu meletakkan sumpitnya. Lalu mendorong mangkuk itu kembali ke arahku.
Bersih. Tidak ada satu pun daun bawang yang tersisa.
Dia mendongak.
“Sudah,” katanya.
Aku tidak bilang kok kamu tahu.
Aku berdiri.
Aku berdiri dari kursi plastik merah. Mengambil tas dari sandaran kursi. Mengeluarkan kotak kacamata kulit hitam yang sudutnya mengelupas.
Lalu aku berlutut.
Di lantai semen kedai mie ayam di Margonda, yang basah oleh tetesan air dari kemejanya. Di depan kursinya. Dengan gaun katun putih yang langsung ternoda air dan debu, dengan lutut di atas semen yang dingin.
Dia membeku sepenuhnya.
“Rena…”
“Diam,” kataku. “Aku belum selesai.”
Aku membuka kotak kacamata itu. Kacamata lama, bingkai hitam murah, minus dua setengah, satu engsel longgar. Dan di atasnya, dua cincin perak sederhana. Satu lebih besar, satu lebih kecil.
Aku mengangkat kotak itu ke arahnya.
“Delapan tahun lalu,” kataku, dan suaraku bergetar, “kamu tanya aku satu pertanyaan. Jam sebelas lima puluh dua malam. Aku nggak jawab.” Aku menelan ludah. “Dua minggu lalu, di ruang rapat, aku jawab. Tapi kamu yang nanya. Selalu kamu yang nanya.”
Aku menatapnya. Matanya buram tanpa kacamata, basah oleh hujan, atau mungkin oleh sesuatu yang lain.
“Kali ini,” kataku, “aku yang nanya.”
Hujan memukul genteng. Radio memutar lagu lama. Di balik gerobak, Bu Ratmi menutup mulut dengan dua tangan.
“Chakra Wirasena,” kataku. “Kamu percaya aku?”
Dia menatapku.
Lama sekali. Lebih lama dari empat puluh tujuh detik. Lebih lama dari dua centang biru. Lebih lama dari enam tahun, dua bulan, sebelas hari.
Lalu dia tersenyum.
Senyum yang sama persis seperti di bawah hujan delapan tahun lalu. Senyum laki-laki bercelemek ayam dengan kacamata berembun.
“Dari dulu,” katanya.
Aku tidak tahu siapa yang menangis duluan. Mungkin aku. Mungkin dia. Mungkin Bu Ratmi di balik gerobak, yang sekarang terisak keras dengan sendok sayur masih di tangan.
Aku tahu Gendis menangis, karena dari dapur terdengar suara isak yang sangat tidak tertahan, diikuti suara Marcel yang berbisik Mbak, Mbak, ini tisu, saya bawa tiga bungkus untuk berjaga-jaga.
Chakra tidak mengambil cincin dari kotak kacamata itu.
Dia berdiri dari kursinya.
Lalu dia berlutut juga. Di depanku. Di lantai semen yang basah, dengan celana bahan hitam yang berlumpur. Lutut kami hampir bersentuhan.
Aku menatapnya. “Kamu ngapain?”
“Kamu nyalip,” katanya, “tapi aku nggak mau kalah.”
Dia merogoh saku celananya. Saku yang tadi dia genggam erat sepanjang berlari di bawah hujan. Lalu dia mengeluarkan sesuatu.
Kotak beludru kecil. Biru tua. Sedikit basah.
Dia membukanya.
Cincin emas. Bukan perak. Emas kuning, sederhana, tanpa berlian, tanpa ukiran di luar. Hanya lingkaran emas polos yang berkilau di bawah lampu kuning kedai.
“Aku sekarang mampu beli emas,” katanya pelan. “Akhirnya.”
Aku menatap cincin itu. Lalu menatap cincin-cincin perak di kotak kacamata di tanganku.
“Kamu mau aku pakai yang mana?” bisikku.
“Dua-duanya.”
“Dua-duanya?”
Dia mengambil cincin emas itu dari kotaknya dan membaliknya, memperlihatkan bagian dalamnya kepadaku.
Ada ukiran di sana. Dengan huruf kecil yang rapi, dibuat oleh tukang emas yang kali ini, kurasa, dibayar sangat mahal untuk tidak salah eja.
PERCAYA.
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Yang perak,” kata Chakra, “itu cincin pernikahan pertama kita. Huruf H-nya miring. Kita pakai lagi waktu akad. Karena pernikahan itu nggak pernah salah. Yang salah cuma orang yang berdiri di pintu.” Dia mengangkat cincin emas itu. “Yang ini cincin lamaran. Karena kali ini aku mau ngelamar kamu dengan benar.”
“Kamu belum ngelamar,” bisikku. “Aku yang ngelamar duluan.”
“Aku tahu.” Dia tersenyum. “Jadi aku jawab dulu, baru aku lamar balik.”
Dia meraih tangan kiriku. Pelan. Dengan jari-jari yang dingin karena hujan dan gemetar karena sesuatu yang lain.
“Serena Sinclair,” katanya. “Kamu mau menikah sama anak mie ayam?”
Aku tertawa. Tertawa sambil menangis, keras dan basah, dengan lutut di lantai semen dan gaun putih yang sudah kotor.
“Itu pertanyaan paling nggak romantis,” isakku, “yang pernah aku dengar.”
“Aku doktor matematika, Rena. Romantis bukan keahlianku.”
“Kamu kasih nama paten pakai namaku.”
“Itu bukan romantis. Itu gejala.”
Aku tertawa lebih keras.
“Mau,” kataku. “Mau. Dari dulu. Dari bangku plastik ini. Mau.”
Dia memasang cincin emas itu di jari manisku.
Pas. Tentu saja pas. Dia pasti mengukurnya dari cincin perak di kotak kacamata, entah kapan, tanpa aku tahu, karena dia pengamat, dan dia selalu lihat.
Lalu aku mengambil cincin perak yang lebih besar dari kotak kacamata. Cincin dengan ukiran SERENA di dalamnya. Aku meraih tangan kirinya dan memasangkannya di jari manisnya.
Masih pas. Delapan tahun, dua negara, satu gelar doktor. Jarinya tidak berubah.
Dia menatap cincin perak di jarinya. Lalu menatapku.
“Dan yang satunya?” tanyanya, menunjuk cincin perak kecil di kotak kacamata, yang bertuliskan CHAKRA dengan huruf H yang miring.
“Yang itu,” kataku, “kamu yang pasang. Waktu akad. Di depan Papa.”
Dia memejamkan mata. Mengangguk.
Lalu dia membuka mata, menangkup wajahku dengan kedua tangannya yang basah, dan menciumku.
Di lantai semen kedai mie ayam di Margonda. Di bawah genteng metal yang dipukul hujan. Dengan lutut yang kotor, cincin emas di jariku, dan cincin perak di jarinya.
“BERDIRI DUA-DUANYA!”
Kami terpisah.
Bu Ratmi berdiri di sebelah gerobak dengan sendok sayur teracung seperti tongkat sihir, wajah basah oleh air mata, jepit jemuran melorot ke samping.
“Berdiri! Lantainya basah! Kalian bisa masuk angin! Neng Rena, gaunnya kotor! Chakra, celanamu lumpur semua!”
Kami berdiri. Pelan. Sambil tertawa. Lututku sakit. Gaunku kotor. Chakra mengambil kacamatanya dari meja, memakainya, dan menatapku dengan mata yang akhirnya jelas.
“Ibu,” katanya ke Bu Ratmi. “Ibu kan netral.”
“Ibu netral sampai kalian berlutut di lantai basah,” kata Bu Ratmi. “Habis itu Ibu jadi ibu.”
Dari pintu dapur, Gendis keluar dengan wajah sembap, maskara luntur sampai ke dagu, dan tiga bungkus tisu yang sudah kosong di tangannya. Di belakangnya Marcel, dengan celemek ayam yang kekecilan, wajah merah, dan ponsel di tangan.
“Mas Marcel,” kata Gendis, menyeka mata. “Ponselnya kenapa dipegang?”
“Saya merekam, Mbak,” kata Marcel. “Atas permintaan Bu Serena. Seminggu lalu. Untuk dokumentasi keluarga.” Dia menatapku. “Tidak untuk TikTok.”
Gendis menatapnya dengan mulut terbuka. Lalu menatapku.
“Kak Rena minta Mas Marcel yang rekam? Bukan aku?”
“Kamu bakal live, Gendis.”
Gendis membuka mulut untuk membantah. Lalu menutupnya. Lalu mengangguk pelan, jujur.
“Iya, Kak. Aku bakal live.”
Pukul tujuh malam, hujan masih turun.
Aku berdiri di ambang kedai, di bawah rolling door. Chakra di sebelahku. Payung jodoh di tanganku, masih tertutup.
“Telepon Papa,” kataku.
Dia mengeluarkan ponselnya. Menelepon. Menyalakan pengeras suara.
Satu dering. Dua.
“Nak.”
Suara Papa. Hangat. Serak.
“Pak,” kata Chakra. “Saya… kami…”
“Saya tahu,” kata Papa. “Bu Ratmi kirim WA ke Bu Vivian lima menit lalu. Bu Vivian menangis di ruang tamu. Mama saya bilang, akhirnya, saya sudah terlalu tua untuk menunggu.” Jeda. “Oma juga bilang dia minta jatah kursi paling depan.”
Aku tertawa. Chakra tertawa.
“Pak,” kata Chakra. “Kapan?”
Hening sebentar.
“Dua minggu,” kata Papa. “Sabtu, dua minggu lagi. Di rumah Menteng. Akad di ruang tamu. Ruang tamu yang dulu kamu tidak boleh masuk.”
Chakra tidak bisa bicara.
“Dan, Nak.”
“Ya, Pak?”
“Saya yang menikahkan.” Suara Papa pecah. “Dengan suara saya sendiri. Bukan lewat surat.”
Chakra menutup mata. Aku menggenggam tangannya. Cincin perak di jarinya menekan cincin emas di jariku.
“Terima kasih, Pak,” bisiknya.
“Panggil Papa,” kata Papa. “Mulai sekarang.”
Telepon terputus.
Chakra menatap ponselnya lama. Lalu menatapku. Matanya basah di balik kacamata.
“Papa,” ulangnya pelan, seperti mencoba sebuah kata dalam bahasa asing untuk pertama kalinya.
“Papa,” kataku.
Aku membuka payung jodoh.
Di ambang kedai. Di bawah rolling door. Kain hitam besar itu terbuka di atas kepala kami dengan bunyi fwump.
“KAK! JANGAN BUKA PAYUNG DI DALAM KEDAI!” teriak Gendis dari balik gerobak. “PAMALI! NANTI NGGAK JADI NIKAH!”
Aku melangkah keluar. Ke trotoar. Ke bawah hujan.
“Sudah di luar,” kataku. “Sudah aman.”
Chakra melangkah keluar bersamaku. Di bawah payung yang sama. Bahu kami bersentuhan. Hujan memukul kain hitam di atas kepala kami seperti tepuk tangan.
Delapan tahun lalu, dia meminjamkan payung ini kepadaku di depan warung ini. Aku membawanya pulang. Aku tidak pernah mengembalikannya, lalu aku mengembalikannya ke rumah kami dan melupakannya. Lalu Mama menyimpannya di gudang dengan label buang? dan tidak pernah membuangnya.
Sekarang payung itu kembali ke Margonda. Ke depan warung yang sama. Di atas dua orang yang sama.
“Rena,” katanya.
“Hm.”
“Ini payung jodoh.”
“Aku tahu. Aku yang bilang.”
“Dulu kamu bilang,” katanya pelan, “payung jodoh harus di rumah kita.”
Aku menatapnya. Di bawah payung. Di bawah hujan.
“Kita belum punya rumah,” kataku.
“Belum.”
“Kamu sudah hitung?”
Dia mendorong kacamatanya ke atas hidung. Sekali.
Aku tahu artinya.
“Aku sudah hitung,” katanya. “Dari dulu.”
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama reading
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat