Chapter Thirty Six

Dua Ibu

POV: Serena


Papa memintaku mengantarnya ke Cibubur hari Minggu pukul dua siang. Tanpa sopir.

“Kamu yang nyetir,” katanya di teras rumah Menteng, memakai kemeja batik cokelat dan wajah yang sudah dia siapkan sejak pagi. “Papa nggak mau ada orang lain dengar apa yang Papa omongkan di mobil.”

“Papa mau ngomong apa di mobil?”

“Nggak ada.” Papa membuka pintu penumpang. “Papa cuma mau latihan.”

Mama keluar dari pintu depan lima menit kemudian. Gaun linen krem, tas kecil, dan sebuah kotak kue dari toko roti langganan di Menteng yang dia peluk di dada seperti perisai. Wajahnya tegang. Mama tidak pernah tegang. Mama adalah perempuan yang bisa menghadapi istri menteri, istri duta besar, dan istri konglomerat di satu meja arisan tanpa berkeringat.

Sekarang Mama berkeringat.

“Mama ikut?” tanyaku.

“Mama ikut.” Mama masuk ke kursi belakang. “Papamu nggak bisa minta maaf sendirian. Dia nggak pernah bisa. Waktu kami pacaran, dia minta maaf karena telat dua jam dengan cara mengirim seratus tangkai mawar ke kantor Mama. Seratus. Tanpa kartu.” Mama memangku kotak kue. “Mama sampai harus pinjam ember dari OB.”

Papa tidak membantah.

Aku menyalakan mesin dan keluar dari halaman rumah Menteng. Kali ini aku memutar dengan benar.


Papa latihan di mobil.

Di tol Jagorawi, dia menatap jendela dan bergumam pelan. Kalimat-kalimat yang dimulai dan tidak selesai. Bu Ratmi, saya… Ibu, saya mau… Saya datang untuk…

Di belakang, Mama menatap kotak kuenya dan bergumam sesuatu yang terdengar seperti astaga, astaga, astaga.

Aku menyetir dan tidak bilang apa-apa. Aku tahu tidak ada yang bisa kukatakan.

Di gerbang tol Cibubur, Papa berhenti bergumam.

“Nak,” katanya. “Ibunya. Bu Ratmi. Dia orangnya bagaimana?”

Aku memikirkan pertanyaan itu. Bu Ratmi dengan daster dan jepit jemuran. Bu Ratmi yang memelukku di ambang kedai tanpa bertanya apa-apa. Bu Ratmi yang menyimpan amplop bertuliskan Untuk Rena, kalau dia tanya selama enam tahun di kaleng biskuit di belakang termos. Bu Ratmi yang memasak seratus dua puluh porsi untuk warga Purwakarta dan menyuruh Pak Komar lewat Subang.

“Dia orang yang paling baik yang aku kenal, Pa,” kataku.

Papa diam.

“Dan dia nggak akan biarin Papa pulang sebelum Papa makan.”

Papa menatapku. Lalu tersenyum. Sedikit. Senyum orang yang tegang.

“Dokter Papa melarang mie ayam.”

“Chakra sudah bilang ke Ibu, Pa. Ibu sudah siapkan yang tanpa minyak ayam.” Aku melirik Papa. “Ibu juga bilang kalau Papa nggak habis, Papa nggak boleh pulang.”

Papa tertawa. Pendek dan gugup.


Kedai Mie Ayam Bu Ratmi cabang Cibubur tutup hari Minggu pukul empat sore. Kami tiba pukul tiga lewat sepuluh. Kedai masih buka, masih ada pelanggan, dan radio dangdut masih diputar pelan.

Rolling door terbuka penuh.

Di balik gerobak, Bu Ratmi berdiri dengan daster batik hijau pupus, celemek ayam, dan jepit jemuran yang miring ke kiri. Dia sedang mengaduk kuah. Gendis di sebelahnya, mengurus kasir. Dan di meja paling pojok, dengan kemeja abu-abu dan kacamata, duduk Chakra dengan secangkir teh manis dan wajah orang yang sudah menunggu sejak pukul satu.

Bu Ratmi melihat mobilku berhenti di depan kedai.

Dia berhenti mengaduk.

Aku keluar dari mobil. Papa keluar dari pintu penumpang, merapikan kemeja batiknya dua kali. Mama keluar dari pintu belakang, memeluk kotak kue.

Bu Ratmi menatap Papa.

Papa menatap Bu Ratmi.

Delapan tahun. Mereka hanya pernah bertemu sekali, di acara lamaran yang paling dingin dalam sejarah keluarga Sinclair, di ruang tamu rumah Menteng. Bu Ratmi datang waktu itu dengan kebaya merah terbaiknya, kerudung yang dia pakai terbalik, dan rantang berisi rendang yang tidak disentuh siapa pun. Papa duduk di sofa dengan wajah batu dan berkata total empat belas kata sepanjang malam. Aku menghitung. Aku ingat semuanya.

Bu Ratmi meletakkan sendok sayur di pinggir panci. Melepas celemek. Merapikan dasternya. Berjalan keluar dari balik gerobak, pelan, dan berhenti tiga meter dari Papa.

Pelanggan-pelanggan di dalam kedai berhenti makan. Gendis berhenti menghitung uang kembalian. Di meja pojok, Chakra meletakkan cangkir tehnya.

“Pak Richard,” kata Bu Ratmi.

Papa membuka mulut.

Semua kalimat yang dia latih di mobil, Bu Ratmi, saya… Ibu, saya mau…, tidak ada yang keluar.

Lalu Papa melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat dia lakukan dalam tiga puluh dua tahun hidupku. Tidak di depan menteri, tidak di depan komisaris, tidak di depan Opa.

Papa membungkuk.

Bukan anggukan sopan. Bukan bungkukan kecil ala Marcel. Papa membungkuk dalam-dalam, tubuhnya hampir sembilan puluh derajat, kepalanya tertunduk sampai aku bisa melihat uban di puncak kepalanya. Kedua tangannya di sisi tubuh. Di depan kedai mie ayam di Cibubur, di depan pelanggan dan radio dangdut dan gerobak kayu bercat biru, di depan perempuan berdaster yang dulu dia sebut tukang mie.

“Bu Ratmi,” katanya, dengan kepala tertunduk. Suaranya pecah. “Saya minta maaf.”

Hening.

Radio dangdut terus memutar lagu tentang kekasih yang pergi.

“Delapan tahun lalu,” kata Papa, masih membungkuk, “Ibu datang ke rumah saya dengan rendang. Saya nggak menyentuhnya. Saya nggak datang ke akad anak kita. Saya menelepon orang supaya anak Ibu nggak dapat kerja. Saya membiarkan adik saya…” Suaranya tersangkut. “Saya membiarkan keluarga saya memperlakukan Ibu dan anak Ibu seperti… seperti…”

Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

“Saya minta maaf,” ulangnya. “Saya nggak pantas dimaafkan. Tapi saya minta maaf.”

Bu Ratmi menatap laki-laki yang membungkuk di depannya. Lama.

Lalu dia berjalan mendekat. Tiga meter. Dua meter. Satu.

Dia berhenti di depan Papa dan meletakkan tangannya di bahu Papa. Tangan yang kasar, hangat, berbau bawang putih dan sabun cuci piring.

“Pak,” katanya. “Berdiri.”

Papa tidak bergerak.

“Pak Richard. Berdiri.” Suara Bu Ratmi tegas. Suara yang sama dengan yang dia pakai untuk menyuruh Marcel mengaduk kuah. “Punggung Bapak nanti sakit. Bapak kan punya jantung.”

Papa menegakkan badan. Pelan. Wajahnya basah.

Bu Ratmi menatap wajah itu. Lalu, tanpa peringatan, dia mengeluarkan tisu dari saku dasternya, tisu yang selalu dia bawa untuk mengelap meja, dan menyeka pipi Papa. Seperti menyeka pipi anak kecil yang menangis.

“Udah,” katanya. “Udah, Pak.”

Papa menatapnya. “Ibu nggak marah?”

“Marah.” Bu Ratmi melipat tisu itu. “Ibu marah delapan tahun. Ibu marah tiap kali lihat anak Ibu nggak bisa ketawa. Ibu marah tiap kali lihat Neng Rena di TikTok, kurus, mukanya kayak mau mecat orang.” Dia menghela napas. “Tapi minggu lalu anak Ibu ketawa. Di kedai ini. Neng Rena juga. Dua-duanya ketawa sampai teh manisnya tumpah.”

Dia menatap Papa.

“Jadi Ibu udah capek marah, Pak. Sekarang Ibu cuma mau satu.”

“A-apa, Bu?”

Bu Ratmi menunjuk ke meja kosong di sebelah meja Chakra.

“Duduk. Makan.”


Papa makan mie ayam.

Mie ayam tanpa minyak ayam, kuahnya bening, ayamnya dipotong kecil-kecil, tanpa kerupuk karena kerupuk itu digoreng, Pak, nanti dokternya marah sama Ibu. Bu Ratmi meletakkan mangkuk itu di depan Papa dan berdiri di sebelahnya dengan tangan di pinggang sampai Papa menyendok suapan pertama.

Papa mengunyah. Pelan.

Lalu matanya berkaca-kaca lagi.

“Enak,” katanya.

“Ya enak,” kata Bu Ratmi. “Itu tujuh belas tahun latihan.”

Di meja sebelah, Chakra menutup wajahnya dengan tangan. Bahunya berguncang. Aku duduk di sebelahnya dan menyikut rusuknya, tapi aku juga tertawa, pelan, sambil menyeka mata.

Mama berdiri di dekat pintu.

Dia belum bergerak sejak turun dari mobil. Dia masih memeluk kotak kue dari toko roti di Menteng, dengan wajah yang pucat dan kaku. Gaun linen kremnya sudah sedikit kusut di bagian pelukan.

Bu Ratmi menatapnya.

Mama menatap Bu Ratmi.

Dua perempuan berusia hampir enam puluh tahun, berdiri di kedai mie ayam dengan radio dangdut. Yang satu memakai daster dan jepit jemuran. Yang satu memakai gaun linen dan anting mutiara. Yang satu dulu disebut tukang mie. Yang satu dulu yang menyebutnya begitu.

“Bu Vivian,” kata Bu Ratmi.

“Bu Ratmi,” kata Mama. Suaranya kecil.

Mama berjalan maju. Satu langkah. Dua. Lalu dia menyodorkan kotak kue itu dengan kedua tangan, seperti orang menyerahkan bendera putih.

“Ini,” katanya. “Bolu pandan. Dari toko langganan saya di Menteng. Saya… saya nggak tahu Ibu suka apa.”

Bu Ratmi menerima kotak itu. Membukanya. Menatap bolu pandan hijau yang lembut dan wangi di dalamnya.

“Ini pakai pewarna,” katanya.

Mama membeku.

“Pandan asli nggak sehijau ini, Bu.” Bu Ratmi mengangkat kotak itu dan mencium aromanya. “Ini pasta pandan. Bukan daun pandan.”

Hening.

Aku menutup mulut dengan tangan. Di sebelahku, Chakra berhenti tertawa dan menatap ibunya dengan wajah ngeri.

Mama menatap Bu Ratmi. Wajahnya berubah. Dari pucat, ke merah, ke sesuatu yang belum pernah kulihat di wajah Mama sejak aku lahir.

Tersinggung.

“Toko itu,” kata Mama, suaranya naik sedikit, “sudah buka tiga puluh tahun. Bolu pandannya terkenal se-Menteng.”

“Terkenal kan belum tentu pakai daun asli, Bu.”

“Bu Ratmi, saya sudah langganan di sana sejak Serena masih SD…”

“Kasihan Neng Rena dari SD makan pewarna.”

“Bu Ratmi!”

“Bu Vivian!”

Seluruh kedai menahan napas. Gendis membeku di balik kasir dengan uang kembalian di tangan. Papa berhenti mengunyah, mie menjuntai dari sendoknya.

Dua ibu itu saling menatap, satu dengan kotak bolu pandan di tangan, satu dengan tangan di pinggang.

Lalu Bu Ratmi tertawa.

Tawa yang keras, lepas, sampai jepit jemurannya melorot ke samping. Dia tertawa sampai harus berpegangan pada meja. Kotak bolu pandan bergoyang di tangannya.

Mama menatapnya dengan mulut terbuka. Lalu sudut bibirnya bergerak. Pelan. Tanpa izin. Dan Mama, Vivian Sinclair, perempuan yang tidak pernah tertawa keras di depan siapa pun karena tertawa keras itu tidak anggun, Sayang, tertawa.

Tertawa sampai menutup mulut dengan tangan. Tertawa sampai matanya berair. Tertawa sampai harus duduk di bangku plastik merah di kedai mie ayam, dengan gaun linen kremnya.

Bu Ratmi duduk di sebelahnya. Mereka berdua tertawa, bahu bersentuhan, dengan kotak bolu pandan berpewarna di antara mereka.

“Ibu…” Mama menyeka mata di sela tawa. “Ibu nyebelin.”

“Ibu memang nyebelin, Bu,” kata Bu Ratmi. “Tanya anak Ibu.”

“Anak saya juga nyebelin.”

“Ya iyalah. Makanya mereka jodoh. Sama-sama nyebelin.”

Mama berhenti tertawa. Pelan. Dia menatap Bu Ratmi, lalu menatap ke meja pojok. Ke aku dan Chakra, yang duduk bersebelahan dengan bahu bersentuhan dan wajah basah.

“Bu,” katanya pelan. “Mereka… masih?”

Bu Ratmi mengikuti arah pandangannya. Lalu tersenyum. Senyum yang lembut sekali.

“Dari dulu, Bu,” katanya. “Dari hari pertama di warung saya di Margonda. Neng Rena basah kuyup, anak saya ambilin daun bawangnya satu-satu.” Dia menatap Mama. “Nggak pernah berhenti. Mereka cuma lupa caranya bilang.”

Mama menatap kami lama.

Lalu dia menoleh ke Bu Ratmi, dan matanya basah lagi. Kali ini bukan karena tertawa.

“Saya yang bikin mereka lupa,” bisiknya. “Saya. Setiap hari saya bilang ke anak saya…”

“Bu.” Bu Ratmi meletakkan tangannya di atas tangan Mama. Tangan kasar berbau bawang di atas tangan halus berkuku french manicure. “Udah.”

Mama menangis.

Bu Ratmi tidak bilang apa-apa lagi. Dia hanya menggenggam tangan Mama, di bangku plastik merah, di kedai mie ayam, sementara radio dangdut memutar lagu tentang kekasih yang akhirnya pulang.


Pukul lima sore, kedai sudah tutup. Rolling door setengah turun.

Papa menghabiskan dua mangkuk mie ayam tanpa minyak ayam. Dua. Bu Ratmi berdiri di sebelahnya sampai mangkuk kedua kosong. Papa juga menghabiskan teh manis yang ternyata dibuat tanpa gula, karena Bu Ratmi menelepon Chakra tadi pagi dan bertanya Papanya Neng Rena boleh gula nggak?

Mama dan Bu Ratmi duduk di meja yang sama, berdebat soal resep bolu pandan. Daun asli versus pasta. Diblender versus diparut. Mama mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto bolu dari pesta ulang tahun Oma tahun lalu. Bu Ratmi menyipitkan mata ke layar dan bilang itu juga pewarna, Bu.

Gendis duduk di meja kasir, menatap dua ibu itu dengan ponsel di tangan, tapi tidak merekam. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gendis tidak merekam apa pun. Dia hanya menonton, dengan dagu di atas tangan dan mata yang berkaca-kaca.

Chakra dan aku duduk di meja pojok. Tangan kami bertaut di bawah meja.

Papa datang ke meja kami pukul lima lewat lima belas. Dia berdiri di sana, menatap kami berdua.

“Nak,” katanya ke Chakra.

Chakra berdiri. “Pak.”

“Kamis,” kata Papa. “Makan malam. Rumah Menteng. Jam tujuh.”

“Saya ingat, Pak.”

“Lewat pintu depan.”

“Lewat pintu depan, Pak.”

Papa mengangguk. Lalu menoleh ke arah Bu Ratmi, yang sedang menunjukkan cara memeras daun pandan dengan tangan kosong kepada Mama, sementara Mama mengernyit jijik dan mencatat di ponselnya.

“Ibu kamu juga,” kata Papa. “Dan adikmu.”

Chakra membeku.

“Ibu saya, Pak?”

“Ibu kamu.” Papa menatap Bu Ratmi. Lama. “Delapan tahun lalu, ibumu datang ke rumah saya dengan rendang. Saya nggak menyentuhnya.” Dia menelan ludah. “Kamis ini, saya mau ibumu datang lagi. Dan kali ini saya mau makan rendangnya.”

Hening.

Di meja seberang, Bu Ratmi berhenti memeras daun pandan. Mama berhenti mencatat. Mereka berdua menatap Papa.

“Rendang, Pak?” tanya Bu Ratmi pelan.

“Rendang, Bu.” Papa tersenyum. Senyum yang pecah. “Tanpa minyak. Kalau bisa.”

Bu Ratmi menatapnya lama. Lalu meletakkan daun pandan di meja dan berdiri dengan tangan di pinggang.

“Rendang itu nggak bisa tanpa minyak, Pak,” katanya tegas. “Rendang itu santan. Bapak makan dikit aja. Satu potong. Habis itu minum obat.”

Papa tertawa. Untuk pertama kalinya sore itu, lepas.

“Satu potong, Bu.”

“Satu potong. Ibu yang ambilkan. Biar Bapak nggak curang.”


Sebelum kami pulang, Bu Ratmi menyerahkan sesuatu kepada Mama di ambang rolling door.

Kantong kresek. Di dalamnya ada sebungkus daun pandan segar dari halaman belakang kedai, diikat dengan karet. Dan di kantong itu, menempel dengan selotip, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Bu Ratmi yang miring-miring.

Mama membacanya. Lalu menunduk, menekan kertas itu ke dadanya, dan berjalan cepat ke mobil tanpa menoleh.

Aku tidak bertanya apa isinya. Tapi di tol Jagorawi, ketika Papa tertidur di kursi penumpang dengan perut kenyang dua mangkuk mie ayam, Mama mengulurkan kertas itu dari kursi belakang tanpa bicara.

Aku membacanya di lampu merah.

Bu Vivian,

Anak kita sama-sama keras kepala. Dua-duanya. Kayak kita.

Makan dulu. Nanti kita debat bolu lagi.

Ratmi

NB: Pandan diblender, bukan diparut. Ibu yang benar.

Aku menyerahkan kertas itu kembali ke Mama.

Di spion tengah, aku melihat Mama melipat kertas itu dengan sangat hati-hati dan menyimpannya di dalam dompetnya. Di balik kartu identitas. Seperti seseorang yang kukenal menyimpan sticky note kuning.

Lalu Mama menatap jendela, dan aku melihatnya tersenyum.