Chapter Twenty Three

Ruang Tunggu ICU

POV: Chakra


Dia menjemputku Minggu pukul tujuh pagi dengan mobilnya sendiri, tanpa Pak Udin, dan memarkirnya di depan lobi apartemenku dengan sudut empat puluh lima derajat yang menutupi dua tempat parkir sekaligus.

“Kamu nyetir sendiri,” kataku waktu masuk ke kursi penumpang.

“Aku bisa nyetir.”

“Kamu parkir di dua tempat.”

“Itu namanya efisien. Mobil lain nggak bisa nyerempet.” Dia menyalakan mesin. “Pakai sabuk pengaman.”

Aku memakai sabuk pengaman. Lalu aku memegang pegangan di atas pintu dengan sangat erat, karena Serena Sinclair menyetir seperti dia memimpin rapat direksi: tegas, cepat, dan tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk menyela.

Dia memakai kaus putih polos, cardigan abu-abu, dan jins. Rambutnya digerai, tidak disanggul, tidak dikepang. Wajahnya tanpa riasan. Matanya sedikit bengkak, seperti orang yang menangis sebelum tidur, atau tidak tidur sama sekali.

Kami tidak bicara sepanjang jalan ke Pondok Indah. Jakarta Minggu pagi lengang. Jalanan kosong, langit pucat, beberapa orang bersepeda di jalur hijau. Dia menyetir dengan dua tangan di kemudi, jarinya mengetuk-ngetuk setir setiap kali berhenti di lampu merah.

Di lampu merah terakhir, sebelum belokan ke rumah sakit, jarinya berhenti mengetuk.

“Aku belum pernah balik ke sini,” katanya pelan, ke kaca depan. “Sejak Papa keluar dari ICU enam tahun lalu. Papa kontrol di rumah sakit lain. Aku yang minta.”

Aku tidak bilang apa-apa.

Aku juga belum pernah balik ke sini.


Ruang tunggu ICU RS Pondok Indah ada di lantai tiga. Ruangan persegi panjang dengan dinding hijau pucat, deretan kursi besi berlapis busa biru, televisi di sudut yang menayangkan berita tanpa suara, dan jendela besar yang menghadap taman rumah sakit.

Kursinya sudah diganti. Dulu kursinya oranye. Televisinya juga baru. Tapi jendelanya sama, dan dispenser air di sudut ruangan sama, dan bau antiseptik yang bercampur kopi sachet dari kantin itu sama persis, sampai tenggorokanku tercekat begitu pintu lift terbuka.

Minggu pagi, ruang tunggu itu hampir kosong. Hanya ada seorang ibu tua berkerudung yang tertidur di kursi paling ujung dengan tas jinjing di pangkuan, dan seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai dengan gerakan lambat dan teratur.

Rena berhenti di ambang pintu ruang tunggu itu. Diam lama.

“Aku duduk di sana,” katanya, menunjuk kursi ketiga dari jendela. “Mama di sebelahku. Oma di ujung, pegang tasbih. Om Hendra mondar-mandir di koridor.”

“Aku tahu,” kataku.

Dia menoleh padaku.

“Aku lihat,” kataku.

Dia menatapku lama. Lalu berjalan ke kursi ketiga dari jendela dan duduk di sana. Persis di sana. Seperti tubuhnya masih ingat.

Aku tidak duduk di sebelahnya. Aku berjalan ke ujung lain ruangan. Ke pintu kecil di sudut yang menuju koridor samping. Koridor sempit tempat tangga darurat dan sebuah ruang tunggu kecil, lebih kecil, dengan empat kursi dan satu jendela yang menghadap ke ruang tunggu utama lewat kaca buram setengah badan.

Ruang tunggu kecil itu masih ada.

Aku berdiri di ambang pintunya. Lalu aku memanggilnya.

“Rena. Sini.”


Dia berdiri di sebelahku di ruang tunggu kecil itu. Empat kursi besi. Satu meja kecil dengan majalah kesehatan yang sudah lusuh. Jendela kaca buram setengah badan yang menghadap ke ruang tunggu utama.

Dari jendela itu, kalau kamu berdiri, kamu bisa melihat kursi ketiga dari jendela besar di ruang tunggu utama.

Dia melihatnya. Aku melihatnya melihat. Aku melihat saat dia mengerti.

“Kamu di sini,” bisiknya.

“Aku di sini.”

“Jam berapa?”

Aku merogoh dompet di saku celana. Aku membukanya. Di balik KTP, di belakang dua sticky note kuning dan flashdisk yang tidak lagi berisi bukti yang perlu disembunyikan dari siapa pun, ada selembar kertas kecil yang terlipat dua. Tepinya sudah lunak dan menguning. Enam tahun lebih di dalam dompet. Melewati dua negara, satu asrama, dan tiga apartemen.

Aku tidak pernah membukanya. Sekali pun.

Aku menyerahkannya kepadanya.

Dia membukanya dengan tangan yang gemetar.

Kartu kecil berukuran kartu nama. Kertas karton putih yang sudah menguning, dengan logo rumah sakit di sudut kiri atas dan tulisan cetak KARTU PENUNGGU PASIEN — RUANG ICU. Di bawahnya, kolom-kolom yang diisi tangan dengan pulpen biru yang sudah sedikit pudar.

Nama Pasien: Richard Sinclair. Bed: 4. Nama Penunggu: Chakra Wirasena. Hubungan dengan Pasien: Menantu. Jam Masuk: 01.20.

Di sudut kanan bawah ada stempel ungu bundar, Satpam Lt. 3, dan paraf yang tidak terbaca.

Rena menatap kartu itu sangat lama.

Hubungan dengan Pasien: Menantu.

Dia menekan kartu itu ke dadanya, seperti dia menekan surat cerai dengan tulisan pensil yang setengah terhapus, dua hari yang lalu di ruang kerja Opa. Aku tahu soal itu. Gendis yang memberitahuku semalam di mobil, setelah kami mengantar Rena pulang, karena Rena sempat bercerita padanya sambil menangis di tangga lobi apartemennya.

“Satu dua puluh,” katanya. “Aku masih di sini. Aku pulang jam dua.”

Dia menatap kartu itu, lalu bicara pelan, seperti pada dirinya sendiri. “Mama telepon tujuh kali waktu aku masih di Kalibata. Aku nggak angkat. Aku pikir Mama mau bahas amplop itu. Aku baru tahu soal Papa jam dua belas, waktu sampai di Menteng dan rumahnya kosong. Bi Inah yang bilang.” Dia menelan ludah. “Aku langsung ke sini.”

“Aku tahu.”

“Kamu di sini empat puluh menit. Satu koridor. Dan kamu nggak…” Suaranya pecah. “Kenapa kamu nggak datang ke aku?”

Aku menatap jendela kaca buram itu. Kursi ketiga dari jendela besar.

“Aku coba,” kataku.


Malam itu, pukul sebelas, dia pergi dari apartemen Kalibata dengan amplop cokelat di tasnya.

Aku berdiri di ruang tamu kami yang kecil, di antara foto-foto yang berserakan di lantai, dan menatap pintu yang dia banting. Aku ingin mengejarnya. Aku ingin berlari ke lift, menahannya, dan menjelaskan semuanya. Wawancara palsu. Uang yang sudah kukembalikan. Perempuan bernama Lusi yang berdiri satu meter jauhnya di lift.

Tapi aku tidak tahu itu wawancara palsu. Malam itu, aku belum tahu apa-apa. Yang aku tahu hanya foto-foto itu memperlihatkan aku dengan perempuan yang tidak kukenal di sebuah hotel, di hari yang kurahasiakan dari istriku karena Om-nya memintaku merahasiakannya. Dan uang dua miliar itu memang masuk ke rekeningku, sore itu, dengan keterangan yang membuatku mual.

Aku tidak punya penjelasan. Aku hanya punya pertanyaan.

Jadi pukul 23.52 aku mengirim pertanyaan itu.

Kamu percaya aku?

Dua centang biru, pukul 23.53. Lalu tidak ada apa-apa.

Pukul 00.40, ponselku berdering. Pak Hendra.

“Chakra.” Suaranya tegang dan cepat. “Mas Richard serangan jantung. Di kantor, jam sembilan tadi. Sekarang di RS Pondok Indah, ICU. Serena di sini. Om pikir kamu harus tahu.”

Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di sana. Aku ingat hujan. Aku ingat ojek motor yang kubayar dengan sisa uang di dompet, empat puluh tiga ribu yang tidak cukup sehingga aku harus menambahkan jam tanganku. Aku ingat jas hujan plastik yang robek di bahu. Aku ingat lantai rumah sakit yang licin karena sepatuku basah.

Aku ingat satpam di lantai tiga yang menghentikanku, menanyakan hubungan dengan pasien, dan menuliskan Menantu di kartu itu waktu aku menjawab. Dia menatapku dengan iba. Mungkin karena aku basah kuyup. Mungkin karena wajahku.

Pukul 01.20.

Aku berjalan ke ruang tunggu utama. Dari koridor, lewat pintu kacanya yang terbuka, aku melihatmu.

Kursi ketiga dari jendela. Kamu di sana, Rena, dengan gaun biru tua yang tadi pagi kamu pakai ke kantor, menangis di pelukan Mamamu. Rambutmu berantakan. Maskaramu luntur sampai ke dagu. Tanganmu mencengkeram tas, dan aku tahu amplop cokelat itu masih ada di dalamnya, karena sudutnya menyembul dari ritsleting yang tidak tertutup.

Oma duduk di ujung dengan tasbih. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak.

Aku melangkah ke arahmu.

Tangan seseorang menahan lenganku.

“Jangan sekarang,” kata Pak Hendra. Pelan, di telingaku. “Jangan sekarang, Chakra. Kamu lihat Mbak Vivian? Kamu mau bikin dia tambah histeris? Mas Richard sedang kritis. Kalau keluarga ribut di sini, dokter bisa minta semua orang keluar.”

Aku menatapmu. Kamu tidak melihatku. Kamu sedang menunduk, wajahmu di bahu Mamamu.

“Ikut Om,” kata Pak Hendra. “Kita tunggu di sebelah. Om temani.”

Dia membawaku ke ruang tunggu kecil ini. Empat kursi. Satu meja. Satu jendela kaca buram setengah badan.

Aku berdiri di jendela itu dan melihatmu dari sini.

Empat puluh menit.


“Kamu lihat aku,” bisik Rena. Dia berdiri di jendela kaca buram, di tempatku berdiri enam tahun lalu, menatap kursi ketiga dari jendela besar yang sekarang kosong. “Empat puluh menit. Dari sini.”

“Aku lihat kamu nangis,” kataku. “Aku lihat Mamamu usap rambutmu. Aku lihat kamu minum teh dari gelas plastik yang dikasih suster, cuma dua teguk, terus kamu taruh di kursi sebelah dan lupa. Aku lihat kamu ngeluarin HP tiga kali.” Aku berhenti. “Aku lihat kamu buka WA. Aku nggak tahu chat siapa. Aku berharap chat-ku.”

Dia menutup mulut dengan tangan.

“Itu chat-mu,” katanya di balik tangannya. “Tiga kali. Aku buka chat-mu tiga kali. Aku ketik percaya. Tiga kali. Dan aku hapus.”

Aku memejamkan mata.

Tiga kali. Dua puluh meter. Satu jendela kaca buram.

“Jam dua,” lanjutku, karena kalau aku berhenti sekarang aku tidak akan bisa melanjutkan, “Mamamu suruh kamu pulang. Kamu nggak mau. Kamu nangis lagi. Oma yang akhirnya bilang sesuatu, aku nggak dengar apa, tapi kamu langsung berdiri. Kamu jalan ke lift. Kamu lewat di depan pintu koridor ini.” Aku menunjuk pintu kecil di belakang kami. “Satu meter dari pintu ini. Kamu nggak menoleh.”

“Kenapa kamu nggak panggil aku?”

“Om Hendra berdiri di pintu itu.”

Hening.

Rena berbalik perlahan. Menatap pintu itu. Pintu kayu biasa dengan kaca kecil di tengah. Pintu yang bisa dibuka siapa pun dengan satu dorongan.

“Dia berdiri di situ,” kataku. “Di ambang pintu. Punggungnya ke aku, wajahnya ke koridor. Waktu kamu lewat, dia bilang hati-hati, Nak, istirahat, Om yang jaga di sini. Kamu bilang makasih, Om. Lalu kamu masuk lift.”

Rena menatap pintu itu seperti menatap hantu.

“Aku ingat,” bisiknya. “Aku ingat Om berdiri di situ. Aku ingat bilang makasih.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Aku nggak tahu ada kamu di belakangnya.”


Pukul tiga pagi, Pak Hendra duduk di sebelahku di ruang tunggu kecil ini. Di kursi kedua dari kiri. Dia membawa dua gelas kopi sachet dari dispenser dan menyerahkan satu kepadaku. Aku tidak meminumnya.

“Om baru bicara dengan dokter,” katanya pelan.

Aku menunggu.

“Kondisinya serius, Chakra.” Dia menatap gelas kopinya. “Dokter bilang ini dipicu stres berat. Berkepanjangan. Mas Richard sudah dua kali bertengkar hebat dengan Serena minggu ini. Soal kamu. Soal pernikahan kalian.” Dia menghela napas. “Kata dokter, serangan berikutnya bisa fatal.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Kamu tahu Serena,” lanjutnya. “Kamu tahu betapa keras kepalanya dia. Dia akan memilih kamu. Malam ini dia mungkin ragu karena foto-foto itu. Tapi besok, lusa, minggu depan, dia akan memilih kamu. Dia akan melawan papanya demi kamu. Seperti dia melawan semua orang untuk menikah denganmu.”

Itu benar. Aku tahu itu benar. Rena yang kukenal akan melawan seluruh dunia demi orang yang dia cintai. Dia sudah melakukannya sekali. Dia menangis dan memohon sampai keluarganya menyerah.

“Dan kalau Mas Richard meninggal karena itu,” kata Pak Hendra, sangat pelan, “karena anak satu-satunya terus melawan dia demi suaminya…” Dia menoleh padaku. Matanya basah. “Serena tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, Chakra. Seumur hidup. Kamu mau dia hidup dengan itu?”

Aku menatap kopi di tanganku. Permukaannya bergetar. Tanganku yang bergetar.

Pak Hendra mengeluarkan sesuatu dari tas kulitnya. Sebuah map. Map biru.

“Mbak Vivian sudah minta Pak Sutedjo siapkan ini sejak minggu lalu,” katanya. “Serena belum tanda tangan. Dia belum tahu map ini ada.” Dia meletakkan map itu di pangkuanku. “Kalau kamu tanda tangan duluan, Serena tidak perlu memilih, Chakra. Dia cukup menerima. Dia tidak perlu melawan siapa-siapa. Papanya tidak perlu bertengkar dengannya lagi.”

Aku membuka map itu. Surat persetujuan cerai. Tiga halaman. Kolom tanda tangan yang masih kosong.

“Om tahu kamu sayang dia,” kata Pak Hendra. Tangannya di bahuku. Hangat. Menepuk dua kali. “Justru karena itu Om minta. Kadang sayang itu artinya melepaskan.”

“Uangnya,” kataku. Suaraku tidak seperti suaraku. “Uang dua miliar tadi sore. Saya nggak tahu dari mana. Saya sudah kembalikan.”

Pak Hendra menatapku sebentar. Sesuatu lewat di wajahnya, sangat cepat. Kaget, mungkin. Atau kesal.

“Kamu kembalikan?” katanya pelan. Lalu dia tersenyum, sedih. “Kamu memang anak baik, Chakra. Terlalu baik.” Dia menggeleng. “Tapi Serena sudah lihat bukti transfernya. Dia sudah memutuskan apa yang dia percaya. Bukti pengembalianmu, kalau kamu tunjukkan sekarang, cuma akan bikin semuanya tambah ribut. Bikin dia tambah bingung. Bikin Mas Richard tambah stres.”

Aku tidak menjawab.

“Satu lagi,” kata Pak Hendra. “Jangan pernah cerita ke Serena soal malam ini. Soal kenapa kamu tanda tangan. Kalau dia tahu kamu mengalah demi papanya, dia akan mengejarmu. Kamu tahu dia akan begitu. Dan semuanya akan terulang.” Dia menepuk bahuku lagi. “Biarkan dia membencimu, Chakra. Benci itu lebih mudah disembuhkan daripada rasa bersalah.”


Rena duduk di kursi kedua dari kiri.

Kursi itu. Kursi tempat Pak Hendra duduk enam tahun lalu dengan dua gelas kopi sachet dan map biru. Dia tidak tahu itu kursi yang sama. Atau mungkin dia tahu. Dia duduk dengan punggung tegak dan tangan di pangkuan, kartu penunggu pasien yang menguning itu masih tergenggam di jarinya.

Dia tidak menangis lagi. Wajahnya kosong, seperti orang yang terlalu banyak menangis sampai tidak ada yang tersisa.

“Biarkan dia membencimu,” ulangnya pelan. “Benci itu lebih mudah disembuhkan daripada rasa bersalah.”

“Iya.”

“Dan kamu percaya.”

“Aku percaya.”

“Kenapa?”

Aku duduk di kursi di sebelahnya. Kursi pertama dari kiri. Kursi tempatku duduk enam tahun lalu, dengan kopi sachet yang tidak kuminum dan map biru di pangkuan.

“Karena kamu nggak jawab,” kataku.

Dia menoleh.

“Jam sebelas lima puluh dua, aku tanya kamu percaya aku?” kataku. “Jam empat pagi, kamu belum jawab. Empat jam. Dua centang biru.” Aku menatap tanganku. “Aku pikir, kalau dia percaya, dia pasti sudah jawab. Rena yang aku kenal pasti sudah jawab dalam empat puluh tujuh detik.”

Dia menatapku. Bibirnya bergetar.

“Jadi waktu Om Hendra bilang kamu sudah memutuskan apa yang kamu percaya,” lanjutku, “aku pikir dia benar. Dan kalau kamu sudah memutuskan, kalau kamu nggak percaya aku lagi, lalu bertahan cuma akan bikin papamu sakit dan kamu terpaksa memilih antara dua orang yang nggak bisa kamu tinggalkan…” Aku berhenti. “Aku pikir lebih baik aku yang pergi. Biar kamu nggak perlu pergi dari siapa-siapa.”

Hening panjang.

Di luar ruang tunggu kecil itu, petugas kebersihan berhenti mengepel. Di ujung ruang tunggu utama, ibu tua berkerudung terbangun, menatap kami sebentar, lalu memejamkan mata lagi.

“Jam empat lewat lima belas,” kataku. “Pak Sutedjo datang. Om Hendra yang telepon dia. Dia masih pakai piyama di bawah jasnya, aku ingat, karena celana piyamanya kotak-kotak dan kelihatan waktu dia duduk. Dia tulis tempat dan jam di kolom itu. Om Hendra tanda tangan sebagai saksi. Lalu Pak Sutedjo pergi.”

“Dan tulisan di belakangnya,” bisik Rena. “Jaga Papa.”

“Aku tulis waktu mereka keluar ruangan sebentar,” kataku. “Pakai pensil dari tasku. Aku mau kamu tahu. Aku mau kamu tahu aku nggak pergi karena nggak sayang.” Aku menelan ludah. “Lalu Om Hendra kembali dan bilang jangan pernah cerita. Aku ingat kalimatnya: biarkan dia membencimu. Jadi aku hapus. Pakai penghapus di ujung pensil itu. Tapi pensilnya terlalu tajam waktu aku tulis. Bekasnya nggak bisa hilang semua.”

Rena menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku keluar lewat tangga darurat,” kataku. “Jam lima. Aku duduk di tangga antara lantai dua dan tiga. Aku nggak bisa jalan. Aku cuma duduk di situ.”

Aku ingat tangga itu. Dinding beton abu-abu, pegangan besi yang dingin, lampu neon yang berkedip. Aku ingat menangis di sana, sendirian, pukul lima pagi, sampai tidak bisa bernapas.

“Lalu ada suster turun,” kataku. “Suster jaga malam. Masih muda. Dia lihat aku nangis di tangga, dan dia duduk di sebelahku. Dia kasih aku tisu. Dia tanya aku keluarga pasien siapa. Aku bilang Bed 4. Pak Richard Sinclair.”

Rena menurunkan tangannya pelan-pelan.

“Suster itu bilang,” kataku, dan suaraku pecah di sini, untuk pertama kalinya pagi itu, “Oh, Bapak yang serangan jantung ringan itu, ya, Pak? Alhamdulillah, Pak, penyumbatannya kecil. Sudah dipasang ring tadi malam. Besok siang mungkin sudah bisa pindah ke kamar biasa. Bapak jangan khawatir.”

Hening.

Hening yang begitu total sampai aku bisa mendengar dengung lampu neon di langit-langit.

Rena menatapku.

“Ringan,” katanya.

“Ringan.”

“Om Hendra bilang fatal.”

“Om Hendra bilang serangan berikutnya bisa fatal.” Aku tersenyum. Senyum yang paling menyedihkan yang pernah kubuat. “Secara teknis, itu benar. Serangan berikutnya bisa fatal. Semua serangan jantung bisa fatal. Dia nggak bohong, Rena. Dia cuma memilih kalimat yang benar dan menaruhnya di tempat yang salah.” Aku menatap tanganku. “Aku ilmuwan data. Aku seharusnya tahu bedanya probabilitas dan kepastian. Itu pelajaran semester satu.”

“Kamu tahu jam lima,” bisik Rena. “Kamu tahu jam lima bahwa Papa nggak apa-apa. Kenapa kamu nggak… kenapa kamu nggak tarik lagi? Kenapa kamu nggak datang ke aku dan bilang…”

“Aku coba.”

Dia membeku.

“Aku pulang ke Kalibata naik ojek. Jam tujuh. Aku mau tunggu kamu. Aku mau bilang semuanya. Aku pikir, kalau kamu pulang ke apartemen, aku bisa jelaskan.” Aku berhenti. “Jam sembilan, Om Hendra kirim WA.”

Aku mengeluarkan ponselku. Bukan ponsel yang sama. Ponsel yang sama sudah rusak bertahun-tahun lalu, tapi aku memindahkan semua percakapan lamaku ke setiap ponsel baru, satu demi satu, karena aku tidak sanggup kehilangannya. Aku membuka percakapan dengan nama Pak Hendra Sinclair dan menggulir jauh ke atas, enam tahun ke atas.

Aku menyerahkan ponsel itu kepadanya.

Pak Hendra Sinclair, 09.04: Chakra, map sudah Om serahkan ke Serena lewat Pak Sutedjo pagi ini. Dia sudah terima. Dia tidak menangis. Dia bilang “akhirnya.” Dia lega. Tolong jangan ganggu dia lagi. Om mohon. Demi kesembuhannya dan kesembuhan papanya.

Rena membaca pesan itu.

Membacanya lagi.

Lalu dia mengangkat wajah, dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya. Bukan sedih. Bukan marah. Sesuatu yang jauh lebih dalam dari keduanya, seperti tanah yang terbelah.

“Aku nggak bilang akhirnya,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Pak Sutedjo datang ke rumah Menteng jam sembilan. Aku buka map itu. Aku lihat tanda tanganmu. Aku nggak bilang apa-apa. Aku masuk kamar mandi dan muntah.”

Aku memejamkan mata.

“Aku nggak lega,” katanya. “Aku nggak pernah lega. Enam tahun.”


Kami duduk di ruang tunggu kecil itu lama. Aku tidak tahu berapa lama. Aku berhenti menghitung, untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Petugas kebersihan sudah selesai mengepel dan pergi. Ibu tua berkerudung dipanggil suster ke dalam ICU. Televisi di sudut ruang tunggu utama menayangkan berita olahraga tanpa suara. Matahari pagi naik dan masuk lewat jendela besar, jatuh di kursi ketiga dari jendela yang kosong.

Rena duduk di kursi kedua. Aku di kursi pertama. Kartu penunggu pasien yang menguning itu ada di pangkuannya. Ponselku dengan pesan Pak Hendra yang masih terbuka ada di pangkuanku.

“Kamu bodoh,” katanya akhirnya.

“Ibu juga bilang begitu.”

“Ibu bilang apa?”

“Bodoh. Tapi bodoh yang benar.”

Rena menggeleng pelan. Air mata mengalir lagi di pipinya, diam-diam, tanpa isak.

“Bukan,” katanya. “Bodoh yang salah. Kamu harusnya lawan. Kamu harusnya dobrak pintu itu jam dua pagi dan teriak namaku di depan Om Hendra, di depan Mama, di depan seluruh lantai tiga. Kamu harusnya datang ke Menteng jam sembilan dan gedor pagarnya. Kamu harusnya tanya aku. Langsung. Ke mukaku.”

“Aku sudah tanya, Rena.”

Dia membeku.

“Jam sebelas lima puluh dua,” kataku pelan. “Aku tanya. Kamu nggak jawab.”

Dia menatapku. Mulutnya terbuka. Lalu menutup.

Dan di situ, di ruang tunggu kecil berkursi empat dengan jendela kaca buram, aku melihatnya mengerti. Bahwa ini bukan hanya cerita tentang laki-laki yang pergi. Ini juga cerita tentang perempuan yang tidak menjawab. Bahwa di antara pukul 23.52 dan pukul 04.15, ada empat jam dua puluh tiga menit di mana satu kata bisa mengubah segalanya, dan kata itu tidak pernah dikirim.

Bahwa kami berdua salah. Kami berdua bodoh. Dan ada seseorang yang berdiri di ambang pintu di antara kami, yang tahu persis betapa bodohnya kami berdua, dan menggunakannya.

“Aku ketik percaya,” bisiknya. “Tiga kali.”

“Aku tahu. Kamu sudah bilang.”

“Aku hapus tiga kali.”

“Aku tahu.”

“Kalau aku kirim…”

“Rena.” Aku meraih tangannya. Tangan yang memegang kartu penunggu pasien. “Jangan.”

“Kalau aku kirim, kamu nggak akan tanda tangan.”

“Jangan.”

“Kamu nggak akan tanda tangan, dan kita nggak akan…”

“Rena.”

Dia berhenti.

Aku menggenggam tangannya. Erat. Dengan kartu itu terjepit di antara telapak tangan kami.

“Kemarin pagi,” kataku, “di ruang rapat. Di depan semua orang. Di depan Om Hendra. Kamu kirim.”

Dia menatapku.

“Enam tahun, dua bulan, sebelas hari,” kataku. “Tapi kamu kirim.”

Dia menangis. Kali ini dengan suara. Isak yang keluar dari dadanya seperti sesuatu yang patah, keras, tidak terkendali, di ruang tunggu ICU di lantai tiga rumah sakit, pada Minggu pagi.

Aku menariknya ke dalam pelukanku.

Dia datang tanpa melawan. Wajahnya di dadaku, tangannya mencengkeram kemejaku, tubuhnya bergetar. Aku memeluknya erat, seerat yang aku inginkan enam tahun lalu, pukul dua pagi, ketika dia berjalan satu meter dari pintu koridor ini dan aku hanya bisa berdiri di balik punggung seseorang yang menjaga pintu itu.

Tidak ada yang menjaga pintu itu sekarang.

“Maaf,” isaknya di dadaku. “Maaf, maaf, maaf…”

Persis seperti dulu. Setiap kali dia menyesal mengatakan sesuatu, dia akan memelukku dari belakang dan berbisik maaf, maaf, maaf ke punggungku. Sekarang dia membisikkannya ke dadaku, dan kata itu menembus kemeja, kulit, tulang, dan langsung ke tempat yang selama enam tahun kututup rapat-rapat.

“Aku juga,” kataku di rambutnya. “Aku juga, Rena. Maaf.”

Kami tidak tahu siapa yang lebih salah. Kami berhenti menghitung.


Pukul sepuluh, seorang suster keluar dari pintu ICU untuk memanggil keluarga pasien lain. Dia melihat kami di ruang tunggu kecil itu, Rena yang masih memeluk pinggangku dengan wajah sembap, aku yang mengusap rambutnya. Dia berhenti sebentar dengan senyum kecil di wajahnya.

Suster itu sudah tidak muda lagi. Akhir tiga puluhan, mungkin. Kerudung putih, seragam biru, name tag di dada.

Aku menatap name tag itu. Lalu menatap wajahnya.

Dia juga menatapku. Matanya menyipit, seperti orang yang mencoba mengingat sesuatu yang sangat lama.

“Mas,” katanya pelan, ragu. “Maaf. Mas yang dulu… di tangga darurat? Bed empat?”

Aku tidak bisa bicara.

Suster itu menatapku lebih lama. Lalu menatap Rena dalam pelukanku. Lalu tersenyum. Senyum yang sangat lebar, sangat tulus, dengan mata yang tiba-tiba berkaca-kaca.

“Alhamdulillah,” katanya. “Alhamdulillah, Mas. Saya sering ingat Mas. Enam tahun. Saya selalu doain Mas sama istrinya.”

Lalu dia berjalan pergi ke ujung koridor, memanggil nama keluarga pasien lain, dan tidak menoleh lagi.

Rena mengangkat wajah dari dadaku. Matanya merah, hidungnya merah, bibirnya bergetar. Dia menatap punggung suster itu sampai menghilang di balik pintu.

Lalu dia menatapku.

“Papa,” katanya pelan. “Papa tahu?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku memikirkan Pak Richard di ruang kerjanya di lantai 50, dengan kotak obat tujuh sekat dan pigura foto anak perempuannya yang berumur enam tahun. Saya pernah melihat anak saya pulang ke rumah jam satu pagi dengan mata bengkak. Saya tidak mau melihatnya lagi.

“Aku nggak tahu, Rena,” kataku jujur. “Aku nggak tahu apa yang Papa tahu.”

Aku tidak mendorong kacamataku.

Dia menatapku lama. Lalu dia menyandarkan kepala ke bahuku. Kartu penunggu pasien yang menguning itu masih ada di tangannya.

“Aku simpan ini,” katanya.

“Itu punyaku.”

“Enam tahun kamu simpan. Sekarang giliranku.” Dia menyelipkan kartu itu ke saku cardigan-nya. Pelan, hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang sangat rapuh. “Hubungan dengan pasien: menantu.”

Dia diam sebentar.

“Kamu masih,” katanya. “Di kartu ini. Kamu masih menantu.”

Aku tidak menjawab.

Aku menatap jendela kaca buram. Di baliknya, kursi ketiga dari jendela besar masih kosong, disinari matahari Minggu pagi. Enam tahun lalu kursi itu terasa sejauh Zürich.

Sekarang kursi itu kosong, dan perempuan yang dulu duduk di sana sedang bersandar di bahuku, di sisi yang benar dari pintu.