Chapter Forty

Malam Pertama, Lagi

POV: Serena


Dia tidak mau bilang kami akan ke mana.

Pukul delapan malam, setelah semua tamu pulang, setelah Oma tertidur di kursi rotan di bawah pohon mangga dengan amplop putih yang belum dibuka di pangkuannya, setelah Mama dan Bu Ratmi berdebat soal bolu pandan untuk ketiga kalinya hari itu, dan setelah Papa diam-diam mengambil mangkuk mie ayam ketiganya waktu Bu Ratmi sedang ke toilet, Chakra menggandeng tanganku ke mobil.

Mobilnya sendiri. Bukan mobil Bagas. Dia membukakan pintu penumpang untukku.

“Aku yang nyetir,” katanya.

“Kamu nggak pernah nyetir kalau ada aku.”

“Kamu parkir di dua tempat, Rena.”

“Itu efisien.”

“Malam ini,” katanya, menutup pintu penumpang dengan lembut, “aku nggak mau efisien.”

Aku masih memakai kebaya putih gading. Melati di sanggulku sudah layu, tapi wanginya masih tersisa. Kalung perak bunga matahari di leherku. Dua cincin di jari manis kiriku, satu emas, satu perak. Di pangkuanku, payung jodoh.

Dia menyetir ke selatan. Melewati Sudirman. Melewati Kuningan. Melewati Pancoran.

Lalu dia berbelok ke Kalibata.

Aku berhenti bernapas.


Gedung apartemen itu tidak berubah banyak. Catnya sudah dicat ulang, warna krem yang lebih terang. Taman kecil di depan lobi sekarang punya air mancur yang dulu tidak ada. Tapi gerbang besinya sama. Pos satpam di sebelah kiri gerbang sama. Dan pohon ketapang besar di sudut parkiran, tempat dulu kami memarkir motor bebek bekas yang dia beli dengan cicilan delapan belas bulan, masih berdiri di sana, sedikit lebih tinggi, sedikit lebih rimbun.

Dia memarkir mobil di bawah pohon ketapang itu. Dengan benar. Satu tempat.

Lalu dia mematikan mesin dan menatapku.

“Chakra,” bisikku. “Ini…”

“Aku tahu.”

“Ini Kalibata.”

“Aku tahu.”

“Kenapa kita ke sini?”

Dia tidak menjawab. Dia merogoh saku beskapnya, saku yang sama tempat dia menyimpan dua dasi biru tua, dan mengeluarkan sesuatu.

Sebuah kunci.

Kunci pintu biasa, kuningan, dengan gantungan kunci plastik berbentuk kucing gendut berkacamata dan berdasi.

Stiker kami. Dibuat jadi gantungan kunci.

“Unit 14B,” katanya pelan. “Lantai empat belas. Pintu ketiga dari lift.”

Aku tahu. Aku tidak perlu diberi tahu. Aku hafal.

“Dijual dua bulan lalu,” katanya. “Pemiliknya yang terakhir pindah ke Surabaya. Aku lihat iklannya di situs properti. Jam tiga pagi. Di apartemen studio di Setiabudi. Seminggu setelah aku kembali ke Indonesia.” Dia menatap kunci itu. “Aku beli hari itu juga. Belum bilang ke siapa-siapa. Bahkan ke Ibu.”

“Kamu beli…” Suaraku pecah. “Waktu itu kita masih saling benci.”

“Kamu masih saling benci,” katanya. “Aku cuma pura-pura.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Aku nggak tahu kamu akan kembali,” katanya. “Aku nggak tahu apa-apa. Aku cuma tahu aku nggak bisa membiarkan orang lain tinggal di tempat itu. Tempat terakhir aku pernah bahagia.” Dia menyerahkan kunci itu kepadaku. “Kalau kamu nggak mau, aku jual lagi. Kita cari rumah lain. Rumah besar, di mana saja. Aku sudah bisa beli rumah besar sekarang.”

Aku menatap kunci di telapak tanganku. Gantungan kucing gendut berkacamata.

“Kamu bilang,” bisikku, “kamu sudah hitung.”

“Aku sudah hitung.”

“Dari kapan?”

Dia mendorong kacamatanya. Sekali.

“Dari jam tiga pagi itu,” katanya. “Dua bulan lalu.”


Lift itu masih berbunyi aneh di lantai sembilan, seperti batuk orang tua.

Koridor lantai empat belas masih berkarpet abu-abu, sedikit lebih bersih dari dulu. Pintu ketiga dari lift. Unit 14B. Pintu kayu cokelat dengan angka kuningan.

Aku memasukkan kunci. Tanganku gemetar sangat hebat sampai kunci itu tidak bisa masuk di percobaan pertama. Lalu yang kedua. Lalu Chakra meletakkan tangannya di atas tanganku dan membantuku memutarnya.

Pintu terbuka.

Apartemen itu kosong dan tidak kosong. Dindingnya sudah dicat ulang, putih gading yang hangat. Lantai keramiknya masih sama, abu-abu dengan corak marmer palsu yang dulu kami tertawakan. Jendela ruang tamu masih menghadap lampu-lampu Jalan Kalibata Raya dan rel kereta di kejauhan.

Dan ada barang-barang.

Bantal sofa kotak-kotak dari pasar Mayestik, di sofa baru yang warnanya sama dengan sofa lama. Toples kerupuk dari kaca di meja dapur. Bingkai kayu murah di dinding, yang dulu berisi foto akad kami di KUA Beji dan sekarang kosong.

Kardus Kalibata — buang?

Mama.

“Mama yang kirim?” bisikku.

“Bu Vivian yang kirim,” kata Chakra. “Kemarin. Lewat Pak Udin. Dengan catatan.” Dia mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Tulisan tangan Mama yang rapi.

Chakra. Ini barang-barang kalian. Mama simpan enam tahun. Mama nggak bisa buang. Sekarang Mama tahu kenapa. — Vivian. (Mama.)

Mama. Dalam kurung. Seperti Mama tidak yakin dia boleh menulisnya.

Aku menangis lagi. Untuk keberapa kalinya hari ini, aku sudah berhenti menghitung.

Lalu aku melihat dapur.

Di rak kayu di atas wastafel, di antara toples-toples bumbu yang baru, berdiri dua mug keramik. Satu biru, satu merah muda. MAS dan NENG. Huruf S di MAS masih terlihat seperti cacing kepanasan.

“Ibu,” bisikku.

“Ibu,” kata Chakra. “Kemarin. Lewat Gendis. Ibu bilang, mugnya pulang ke rumahnya.”

Dan di jendela dapur, di samping wastafel, sebuah pot kecil. Kaktus. Dengan sticky note kuning yang sudah lusuh di potnya: Disiram tiap Senin. Bukan tiap tahun.

Aku tertawa sambil menangis.

“Kaktusnya juga pindah?”

“Kaktusnya juga pindah.”

Aku berjalan ke pintu. Ke dinding di sebelah pintu. Ke gantungan besi kecil yang dipasang di sana. Gantungan yang sama, yang dulu, delapan tahun lalu, aku pasang sendiri dengan obeng pinjaman dari satpam, karena aku bilang payung jodoh harus punya tempat di rumah kita.

Gantungan itu kosong.

Aku mengangkat payung hitam bergagang kayu di tanganku. Payung yang dipinjamkan kepadaku di depan warung mie ayam di Margonda delapan tahun lalu. Yang kubawa pulang. Yang kukembalikan ke tempat ini, lalu kulupakan. Yang Mama simpan di gudang dengan label buang? dan dibungkus plastik bening. Yang kubuka di gudang Menteng sampai Oma berteriak dari jendela. Yang kubuka di trotoar Margonda di bawah hujan.

Aku menggantungnya di sana. Di gantungan besi kecil di sebelah pintu.

Payung itu bergoyang sedikit. Lalu diam.

Di tempatnya.


Kamar tidur di ujung lorong.

Aku tahu itu sebelum dia bilang apa-apa. Aku tahu dari caranya berdiri di ambang lorong, dengan tangan di saku beskap dan telinga yang merah. Aku tahu dari caranya tidak menatapku.

“Rena.”

“Hm.”

“Kasurnya,” katanya, “sudah aku ganti.”

Aku menoleh. “Ganti?”

“Yang dulu kekecilan.” Dia menatap lantai. “Ukuran satu orang setengah. Kakiku selalu keluar.” Jeda. “Sekarang ukuran dua orang. Aku sudah hitung.”

Aku menatapnya.

Lalu aku tertawa. Tertawa sampai harus bersandar ke dinding, dengan kebaya putih gading dan melati yang layu dan maskara yang luntur. Tertawa sampai perutku sakit.

“Kamu,” kataku di sela tawa, “sudah hitung ukuran kasur.”

“Aku menghitung semuanya, Rena.”

“Sejak kapan?”

Dia mengangkat wajah. Telinganya merah. Matanya, di balik kacamata, sangat gelap dan sangat jujur.

“Sejak kamu bilang apartemenmu atau apartemenku di lift,” katanya. “Tiga minggu lalu.”

Aku berhenti tertawa.

Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Dengan kaki telanjang di atas lantai keramik abu-abu dengan corak marmer palsu. Selop kain pengantinku sudah kulepas di dekat pintu, di bawah payung jodoh. Aku berhenti di depannya, di ambang lorong, sangat dekat.

Aku mengangkat tangan dan meletakkannya di dadanya. Di atas beskap putih. Aku merasakan jantungnya berdetak di bawah telapak tanganku. Cepat. Sangat cepat.

“Kamu bilang,” bisikku, “kancing keempat itu batas terakhir pertahanan.”

Napasnya tersangkut.

Aku menyentuh kancing beskapnya. Kancing pertama. Kancing kain kecil yang dibungkus batik. Aku membukanya.

“Satu,” bisikku.

Dia tidak bergerak.

Kancing kedua.

“Dua.”

Tangannya terangkat. Tidak menahan pergelangan tanganku kali ini. Tangannya bergerak ke sanggulku, ke melati yang layu, dan mulai melepas jepit-jepitnya satu per satu. Pelan. Hati-hati. Seperti dia memisahkan daun bawang dari mangkukku. Satu per satu.

Kancing ketiga.

“Tiga.”

Rambutku terurai. Melati jatuh ke lantai, ke kaki kami, wanginya naik ke udara di antara kami.

Jariku berhenti di kancing keempat.

Aku mendongak.

Dia menatapku. Matanya sangat gelap di balik kacamata. Rahangnya mengeras. Napasnya berat, tidak teratur, panas di wajahku.

“Rena,” katanya. Suaranya serak. Hancur.

“Hm?”

“Sudah halal.”

Aku tersenyum.

“Aku tahu,” bisikku. “Aku yang tanda tangan buku nikahnya. Pakai pulpen biru.”

Aku membuka kancing keempat.

Dia tidak bertahan.

Dia melepas kacamatanya dengan satu tangan. Meletakkannya di mana saja, di rak sepatu, di lantai, aku tidak peduli. Lalu dia menangkup wajahku dengan kedua tangan dan menciumku. Tidak seperti di ruang kaca lantai 38. Tidak seperti di bawah payung di gudang Menteng. Tidak seperti di lantai semen kedai mie ayam di Margonda.

Dia menciumku seperti orang yang sudah menunggu enam tahun, dua bulan, sebelas hari, ditambah tiga minggu, ditambah dua minggu, dan tidak mau menunggu satu detik pun lagi.

Lalu dia mengangkatku.

Aku terkejut. Aku tertawa di bibirnya. Kebaya putih gading berbisik di lengannya. Dia membawaku melewati lorong pendek apartemen 14B, melewati kamar mandi dengan ubin biru yang dulu kami pilih karena murah, melewati foto-foto yang belum dipasang, ke kamar tidur di ujung lorong.

Kasur ukuran dua orang. Dengan dua bantal. Dan dua guling.

Satu di kiri. Satu di kanan.

“Kamu beli dua guling,” bisikku, sambil tertawa, dengan tangan di lehernya.

“Satu buat aku,” katanya, meletakkanku di atas kasur dengan sangat pelan. “Satu buat kamu.”

“Aku nggak butuh guling.”

“Kenapa?”

Aku menarik kerah beskapnya yang sudah setengah terbuka. Menariknya turun. Sampai wajahnya sejajar dengan wajahku. Sampai napas kami bercampur.

“Karena aku punya kamu,” kataku.

Dia memejamkan mata.

Lalu dia mematikan lampu.


Aku terbangun pukul dua pagi karena hujan.

Hujan pelan. Bukan hujan deras seperti di Margonda. Gerimis yang jatuh di jendela kamar dengan bunyi yang lembut, seperti seseorang mengetuk-ngetuk dengan jari yang sangat sabar.

Aku berbaring di kasur ukuran dua orang, di bawah selimut, dengan kepala di dadanya. Lengannya melingkari bahuku. Napasnya pelan dan teratur. Jantungnya berdetak di bawah telingaku. Pelan, sekarang. Tenang. Seperti permukaan danau.

Dua guling tergeletak di lantai. Entah kapan jatuh.

Aku mengangkat wajah dan menatapnya dalam gelap. Tanpa kacamata, wajahnya terlihat lebih muda. Seperti laki-laki dua puluh empat tahun bercelemek ayam di bawah atap seng.

Ada pusaran kecil di belakang kepalanya. Masih mencuat ke atas.

“Kamu belum tidur,” gumamnya, tanpa membuka mata.

“Kamu juga.”

“Aku sedang menghitung.”

“Menghitung apa?”

Dia membuka mata. Menatapku dalam gelap, buram tanpa kacamata, tapi dia tidak perlu melihat dengan jelas.

“Berapa lama,” katanya pelan, “sampai aku bisa berhenti takut kamu pergi lagi.”

Aku menatapnya.

“Hasilnya?”

Dia diam lama. Jarinya bergerak pelan di rambutku.

“Datanya belum cukup,” katanya. “Tapi trennya positif.”

Aku tertawa. Pelan, di dadanya.

“Kamu tahu,” kataku, “aku baca disertasimu lagi tadi pagi. Sebelum akad. Halaman empat.”

“Rena…”

“Datanya bilang aku masih cinta.” Aku mengangkat tangan dan menyentuh pipinya. “Kamu bilang modelnya mungkin salah. Kamu bilang kamu butuh satu data lagi.”

“Aku ingat.”

“Kamu dapat datanya?”

Dia menatapku. Lama. Lalu tersenyum. Senyum yang dimulai pelan di sudut bibir, merambat ke matanya, dan tidak berhenti.

“Dapat,” katanya.

“Dan?”

Dia menarikku lebih dekat. Menempelkan dahinya di dahiku. Napasnya hangat di wajahku.

“Datanya bilang,” bisiknya, “kamu masih cinta.”

Aku memejamkan mata.

“Datanya benar,” bisikku.

Di luar jendela, gerimis terus turun. Di pintu depan, payung jodoh tergantung di gantungan besi kecil, di tempatnya. Di dapur, dua mug keramik berdiri bersebelahan di rak kayu.

Di jari manis kiriku, dua cincin. Di jari manis kirinya, satu.

Dan di kasur ukuran dua orang di apartemen 14B, Kalibata, aku tertidur di dada suamiku.

Lagi.


Pagi itu, aku bangun karena bau mentega.

Bukan bau gosong. Mentega.

Aku duduk di kasur dengan selimut di dada dan rambut yang berantakan ke empat arah. Dari dapur di ujung lorong terdengar desis wajan, bunyi spatula, dan suara laki-laki yang bersenandung pelan. Lagu dangdut. Lagu yang dulu diputar tetangga sebelah kontrakan Margonda keras-keras setiap Minggu pagi.

Aku memakai kaus abu-abu yang kutemukan di lantai. Kausnya. Salah satu dari lima yang sama. Lalu aku berjalan ke dapur dengan kaki telanjang.

Dia berdiri di depan kompor dengan celana training dan tanpa kaus, karena kausnya kupakai. Kacamatanya miring. Rambutnya berantakan. Di wajan ada sesuatu yang kuning keemasan, mengembang, dan sempurna.

Telur dadar.

Dia mengangkatnya dengan spatula. Meletakkannya di piring. Berbalik.

Lalu dia melihatku di ambang dapur, dengan kausnya dan rambut berantakan, dan wajahnya melakukan sesuatu yang membuatku ingin menangis untuk kesekian kalinya dalam dua puluh empat jam.

Dia tersenyum seperti orang bodoh. Seperti laki-laki yang baru bangun dari mimpi dan mendapati mimpinya ternyata nyata.

“Pagi,” katanya.

“Pagi.”

Dia menyodorkan piring itu kepadaku. Telur dadar yang sempurna. Tidak gosong. Tidak berbentuk Pulau Sulawesi. Kuning keemasan, dengan sedikit garam dan merica di atasnya.

Aku memotong sepotong dengan garpu. Memakannya.

Enak. Sangat enak.

Dia menunggu. Dengan spatula di tangan dan wajah yang tegang.

“Gimana?” tanyanya.

Aku menelan. Lalu aku berjalan ke arahnya, mengangkat tangan, dan mengacak rambutnya. Yang sudah berantakan, jadi makin berantakan.

“Anak pintar,” kataku.

Dia tertawa.

Di rak kayu di atas wastafel, dua mug keramik menunggu diisi kopi. MAS untuk kopi tanpa gula. NENG untuk kopi dengan gula, dua sendok, karena mulai pagi ini, enam tahun kemudian, aku tidak perlu lagi meminum kopi seperti laki-laki yang kurindukan.

Laki-laki itu sudah di sini.

Di dapur kecil di Kalibata. Tanpa kaus, dengan spatula di tangan. Menatapku seperti aku satu-satunya data yang dia butuhkan.