Chapter Four
Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
POV: Serena
Aku membukanya.
Tentu saja aku membukanya. Jempol manusia tidak diciptakan untuk melayang di atas layar selamanya. Pada akhirnya gravitasi menang, atau rasa penasaran, atau kebodohan. Dalam kasusku malam itu, mungkin ketiganya.
Percakapan itu terbuka, dan ternyata enam tahun tidak membuatnya kurang menyakitkan.
Yang paling atas adalah tumpukan pesan dari masa ketika kami masih menikah. Kalau menggulir ke atas, ratusan, mungkin ribuan, pesan kecil yang tidak penting: Udah makan? Pulang jam berapa? Beliin martabak manis yang setengah keju setengah cokelat. Kangen. Kangen juga. Kangen lebih. Lalu stiker kucing gendut berkacamata, berderet-deret, di sela kalimat-kalimat yang sekarang terdengar seperti bahasa asing.
Aku tidak menggulir ke atas. Aku tidak sanggup.
Mataku langsung jatuh ke pesan paling bawah. Pesan terakhir, dari dia, tanggalnya enam tahun lalu, pukul 23.52.
Kamu percaya aku?
Di bawahnya ada dua centang biru. Dibaca.
Dan tidak ada apa-apa lagi setelah itu.
Aku bertemu Chakra di bawah hujan.
Orang bilang cinta pada pandangan pertama itu cuma ada di drama. Aku dulu juga bilang begitu, sampai aku berumur dua puluh empat, baru pulang dari London dengan gelar master dan kepala penuh rencana besar, dan mobilku mogok di Jalan Margonda pada sore hari terburuk di bulan Februari.
Sopirku sedang mencari bengkel. Payungku tertinggal di kantor. Aku berlari ke bangunan terdekat yang punya atap, sebuah warung mie ayam kecil di depan deretan kontrakan, dengan spanduk kuning bertuliskan MIE AYAM BU RATMI — Enak, Murah, Bikin Kangen.
Aku basah kuyup. Gaun sutra biru tua yang tadi pagi kupakai untuk rapat dengan investor menempel di badanku. Rambutku meneteskan air ke lantai semen. Aku berdiri canggung di bawah atap seng yang dipukul hujan begitu keras sampai suara orang harus berteriak.
Lalu seseorang datang membawa payung. Bukan untuk dipakai, karena aku sudah di bawah atap. Dia membawa payung yang terbuka untuk menutupi meja plastik di sudut yang terciprat air dari talang bocor. Dia memindahkan meja itu, mengelapnya dengan serbet, menarik satu kursi plastik merah, lalu menatapku.
“Silakan duduk, Mbak. Di sini nggak kena tampias.”
Dia mengenakan kaus abu-abu yang sudah pudar dan celemek bergambar ayam. Kacamatanya berembun karena uap panci. Rambutnya berantakan, kulitnya sawo matang, dan dia tersenyum dengan cara yang membuatku lupa sedang kedinginan.
Aku duduk. Dia membawakan teh manis hangat tanpa kuminta. Lalu semangkuk mie ayam, juga tanpa kuminta.
“Saya nggak pesan,” kataku.
“Kelihatannya Mbak butuh,” katanya. “Gratis. Kalau nggak enak, boleh komplain ke Ibu saya. Dia yang masak.”
Dari balik gerobak, seorang ibu berdaster melambaikan sendok sayur. “Enak, Neng! Kalau nggak enak, anak saya yang salah!”
Aku tertawa. Lalu aku mulai makan, dan seperti biasa, aku menyisihkan daun bawang ke pinggir mangkuk. Satu per satu, dengan sumpit. Kebiasaan sejak kecil yang membuat Mama selalu bilang aku rewel.
Dia memperhatikanku sebentar. Lalu tanpa bicara, dia mengambil sumpit dari tempat sumpit, duduk di bangku seberangku, dan mulai membantuku mengambili daun bawang dari mangkukku. Pelan, teliti, sampai bersih.
Aku menatapnya. “Kok kamu tahu?”
Dia mendongak. Kacamatanya masih sedikit berembun. “Kelihatan.”
Hujan turun tiga jam sore itu. Mobilku baru selesai diperbaiki pukul tujuh malam. Selama tiga jam itu aku duduk di warung mie ayam, mengobrol dengan laki-laki bercelemek ayam yang ternyata lulusan Matematika ITB, bekerja sebagai analis data di fintech kecil, dan bisa menjelaskan teori probabilitas dengan contoh antrean pembeli mie ayam.
Waktu aku pulang, dia meminjamkan payung. Payung hitam besar, gagangnya kayu dan sudah retak.
Aku tidak pernah mengembalikan payung itu. Delapan bulan kemudian, aku menikahinya.
Malam itu, enam tahun lalu, aku berdiri di ruang tamu apartemen kecil kami di Kalibata dengan amplop cokelat di tangan.
Isinya foto-foto. Chakra di lobi hotel bersama seorang perempuan berambut pendek. Chakra membuka pintu mobil untuk perempuan itu. Chakra dan perempuan itu masuk ke lift. Dan selembar fotokopi bukti transfer: dua miliar rupiah, dari rekening yayasan keluarga Sinclair, ke rekening atas nama Chakra Wirasena. Di kolom keterangan tertulis: Kompensasi penyelesaian.
Uang pisah. Uang supaya dia pergi.
Om Hendra yang memberikan amplop itu padaku sore harinya, dengan wajah sedih dan suara pelan. Om nggak mau kamu tahu dari orang lain, Nak. Om sayang kamu.
Chakra pulang pukul sebelas. Dia melihat amplop itu di meja, foto-foto itu berserakan, lalu melihat wajahku. Dia tidak terlihat kaget. Itu yang paling kuingat. Dia tidak kaget. Dia terlihat lelah, seperti orang yang sudah lama menunggu sesuatu yang buruk datang dan akhirnya datang juga.
“Kamu ambil uangnya?” tanyaku.
Dia tidak menjawab pertanyaan itu. Dia mendekat, berhenti satu meter di depanku, dan menatapku dengan mata yang sangat tenang dan sangat sedih.
“Kamu percaya aku?”
Aku tidak menjawab.
Aku ingin menjawab. Demi Tuhan, aku ingin menjawab. Tapi di kepalaku ada foto-foto itu, bukti transfer itu, suara Om Hendra, suara Mama yang setahun penuh bilang dia cuma mau uangmu, Sayang, dan suara diriku sendiri yang pelan-pelan, selama berbulan-bulan, mulai bertanya-tanya. Kenapa dia tidak pernah mau cerita soal pekerjaannya yang tiba-tiba batal? Kenapa dia sering pulang malam? Kenapa dia tidak pernah marah, bahkan saat keluargaku memperlakukannya seperti debu?
Aku tidak menjawab. Aku mengambil tasku dan pergi ke rumah orang tuaku malam itu juga.
Pukul 23.52, di mobil, ponselku bergetar. Pesan itu masuk. Aku membacanya. Aku membacanya berkali-kali sepanjang jalan tol, sampai sopir bertanya apakah aku baik-baik saja.
Aku tidak membalasnya.
Besok paginya, di tengah minggu paling buruk dalam hidupku, pengacara keluarga mengantarkan sebuah map. Di dalamnya ada surat persetujuan cerai, lengkap dengan tanda tangannya. Tanda tangan yang rapi dan miring ke kanan, yang dulu dia pakai juga di buku nikah kami.
Dia tidak melawan. Dia tidak datang. Dia tidak menelepon. Dia tanda tangan, lalu pergi.
Dan selama enam tahun, aku membenci laki-laki yang tidak melawan untukku.
Pukul 23.47.
Aku menatap layar sampai mataku perih. Kamu percaya aku? Dua centang biru. Kolom ketik kosong di bawahnya, dengan kursor yang berkedip-kedip seperti sedang mengejekku.
Aku bisa menutup aplikasi ini. Aku bisa tidur, bangun besok, dan kembali ke surel ber-CC direksi yang aman, jauh, dan bisa dipertanggungjawabkan di hadapan dewan.
Aku mengetik.
Halaman 32. “Kewenangan atas penempatan kepala area lintas provinsi.” Maksudnya siapa?
Pesan urusan kerja. Murni pekerjaan. Siapa pun yang membaca pesan ini, termasuk pengacara, auditor, atau malaikat pencatat, akan setuju bahwa ini pesan seorang CEO kepada bawahannya soal dokumen resmi.
Aku menekan Kirim dan langsung menyesal.
Satu centang abu-abu. Dua centang abu-abu. Nomornya masih aktif. Dia tidak mengganti nomor selama enam tahun di Eropa. Kenapa dia tidak mengganti nomor?
Dua centang biru.
Mengetik…
Aku melempar ponsel ke kasur, menutup wajah dengan bantal, dan berteriak sangat pelan ke dalamnya.
Ponsel bergetar.
Belum bisa saya sebut, Bu. Datanya belum cukup. Saya nggak mau menuduh orang pakai probabilitas.
Lalu satu lagi.
Tapi Ibu baca sampai halaman 32.
Lalu satu lagi.
Berarti Ibu baca juga halaman 47.
Aku menegakkan duduk. Mengetik dengan cepat, terlalu cepat.
Saya baca karena kewajiban sebagai pimpinan.
Tentu, Bu.
Dan kenapa kamu masih online jam segini? Kamu nggak punya kehidupan?
Aku baru sadar setelah terkirim. Kamu. Bukan Bapak. Jempolku sudah lebih dulu kembali ke kebiasaan lama, sebelum kepalaku sempat memeriksa.
Balasan datang setelah jeda lebih lama dari empat puluh tujuh detik. Satu menit dua belas detik. Aku tahu karena aku menghitung, karena ternyata aku perempuan menyedihkan yang menghitung jeda balasan WA di usia tiga puluh dua.
Punya. Dulu.
Kamu yang pegang.
Aku menatap dua baris itu sangat lama.
Di luar, Jakarta masih berisik. Klakson jauh, sirene ambulans yang lewat, dengung kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di dalam kamarku hanya ada AC, detak jam, dan jantungku sendiri yang tiba-tiba terdengar seperti perkusi.
Jangan sok puitis, aku mengetik. Itu pelanggaran etika kerja.
Maaf, Bu. Saya catat sebagai pelanggaran pertama.
Kamu yang mulai.
Ibu yang kirim WA duluan, jam 23.47.
Itu urusan KERJA.
Iya, Bu. Halaman 32. Saya ingat.
Aku menggigit bibir bawah. Lalu, karena aku sudah terlanjur basah, karena jam hampir tengah malam dan teh chamomile tidak bekerja, karena laki-laki itu baru saja bilang aku yang memegang hidupnya dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengan informasi itu, aku mengetik sesuatu yang bukan urusan kerja.
Kamu masih tidur meluk guling sebelah kiri?
Kirim.
Lalu, sebelum keberanianku habis:
Atau sekarang sebelah kanan ada yang isi?
Kirim.
Aku membalikkan ponsel di kasur dan menatap langit-langit. Aku sudah gila. Aku resmi gila. Aku CEO sebuah grup dengan sembilan ribu delapan ratus gerai, akan bertunangan dalam empat puluh hari, dan baru saja bertanya pada mantan suamiku soal posisi gulingnya.
Ponselku bergetar.
Aku menunggu tiga detik, supaya terlihat bermartabat di hadapan langit-langit. Lalu kubalik.
Masih kiri.
Kanan kosong.
Dari dulu ukurannya cuma pas buat satu orang, dan orangnya pergi.
Napasku tersangkut di suatu tempat di antara dada dan tenggorokan.
Aku nggak pergi, aku mengetik, dengan jari yang mendadak dingin. Aku ngusir.
Lalu kuhapus. Huruf demi huruf, sampai kolom ketik kosong lagi.
Sebelum aku sempat memutuskan mau mengetik apa sebagai gantinya, pesannya masuk lagi.
Kamu juga belum tidur. Masih susah tidur kalau belum…
Hanya itu. Titik tiga dan kalimat yang menggantung, seperti tangan yang terulur di udara.
Darahku naik ke wajah secepat kilat. Aku tahu ke mana kalimat itu bisa mengarah. Aku tahu setiap kemungkinan akhirnya, karena aku pernah menjadi istrinya, karena kami pernah punya ritual-ritual kecil sebelum tidur yang membuat kakiku melengkung hanya dengan mengingatnya.
Aku mengetik dengan huruf kapital semua.
JANGAN LANJUTKAN KALIMAT ITU.
Dua centang biru. Mengetik… Berhenti. Mengetik…
…belum minum susu hangat.
Kamu mikir apa, Bu CEO?
Aku menjerit ke bantal lagi. Kali ini lebih keras.
Lalu aku mengetik: Selamat malam, Pak Chakra. Dengan titik. Dengan Pak. Dengan segala martabat yang masih tersisa.
Selamat malam, Bu Serena.
Jangan lupa susunya.
Aku mematikan layar. Menarik selimut sampai ke dagu. Memejamkan mata.
Pukul 00.31, aku berdiri di dapur penthouse dengan piyama satin, menghangatkan susu di panci kecil karena microwave terlalu berisik dan aku tidak ingin satu gedung tahu aku kalah. Uapnya naik pelan, wangi, manis.
Aku meminumnya sambil berdiri di depan jendela, menatap lampu-lampu kota, membenci laki-laki itu dengan segenap jiwa.
Pukul 00.48, aku tertidur.
Nyenyak. Nyenyak sekali. Seperti enam tahun belum pernah lewat.
“Kamu kelihatan,” kata Oma Margaret keesokan paginya, sambil mengoleskan selai jeruk ke roti dengan presisi seorang ahli bedah, “seperti perempuan yang semalam chatting sama mantannya.”
Aku tersedak kopi.
Kamis pagi, sarapan di rumah keluarga di Menteng, yang wajib setiap Kamis sejak aku kecil, kecuali kalau ada yang meninggal atau ada yang sedang di luar negeri. Ruang makannya terlalu besar untuk empat orang. Mejanya kayu jati dari zaman Opa. Mama sudah berangkat ke yayasan, Papa sedang di teras menerima telepon, jadi hanya aku, Oma, dan seorang asisten rumah tangga yang tiba-tiba sangat sibuk mengelap gelas yang sudah bersih.
“Oma,” kataku setelah berhasil bernapas, “aku cuma kurang tidur.”
“Kurang tidur itu matanya sayu. Matamu nggak sayu. Matamu berbinar kayak lampu SinMart jam dua pagi.” Oma menggigit rotinya. Umurnya tujuh puluh sembilan, rambutnya putih seluruhnya dan dipotong bob pendek, dan lidahnya masih setajam waktu dia ikut mendirikan SC Group bersama Opa empat puluh tahun lalu. “Lagi pula Oma dengar dari Darmawan. Anak mie ayam itu sudah kembali.”
“Oma tahu dari Pak Darmawan?”
“Darmawan tidak bisa menyimpan rahasia, Sayang. Itu sebabnya Oma suka mengajaknya main golf.” Dia menyesap teh. “Dia bilang kalian bertengkar di email dengan CC seluruh direksi. Dia bilang itu hiburan terbaik yang pernah dia lihat sejak sinetron Tersanjung.”
Aku menutup wajah dengan tangan.
“Oma nggak marah?”
“Marah kenapa?” Oma meletakkan cangkir dengan bunyi tik kecil. “Oma suka mie ayam.”
Aku menurunkan tangan dan menatapnya. Oma menatapku balik. Matanya kelabu, tenang, dan untuk satu detik terlihat seperti sedang menimbang sesuatu yang tidak ia katakan.
“Tunanganmu,” kata Oma kemudian, ringan, seperti membicarakan cuaca, “Marcel itu. Anaknya sopan.”
“Iya, Oma.”
“Sopan sekali.” Oma mengambil roti kedua. “Oma pernah satu meja makan dengannya dua jam. Dia bicara soal suku bunga obligasi selama satu jam empat puluh menit. Sisa dua puluh menitnya dia minta maaf karena sudah bicara soal suku bunga obligasi.”
“Oma.”
“Oma cuma bilang dia sopan, Sayang. Itu pujian.”
Asisten rumah tangga di sudut ruangan menahan tawa sampai bahunya bergetar.
Aku menghabiskan kopi dalam satu teguk, mencium pipi Oma, mengambil tas, dan pergi lebih cepat dari biasanya. Hari ini hari Kamis. Hari ini ada rapat SinMart pukul sembilan, laporan proyek pukul sebelas, dan fitting kebaya pukul empat.
Dan aku tidur nyenyak semalam, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, gara-gara secangkir susu hangat.
Aku memutuskan itu tidak ada hubungannya dengan siapa-siapa.
Di mobil, ponselku bergetar. Aku tidak melihatnya. Aku tidak akan melihatnya.
Di lampu merah Jalan Sudirman, aku melihatnya.
Selamat pagi, Bu. Laporan progres 312 gerai hari ketiga sudah saya kirim ke email. CC direksi. Seperti yang Ibu minta.
Lalu satu lagi, dua detik kemudian.
Susunya berhasil?
Aku tidak membalas.
Tapi aku juga tidak mengganti nama kontak itu kembali menjadi JANGAN, padahal semalam, waktu dia sedang mengetik, tanpa sadar aku sempat mengubahnya.
Sekarang di layar tertulis: Pak Data.
Itu juga urusan kerja.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu reading
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat