Chapter Thirty Three
Hari Penandatanganan
POV: Chakra
Ir. Bonar Siregar meneleponku pukul 04.51 pagi, hari Sabtu, tanggal lima.
Aku sudah bangun. Aku tidak tidur sama sekali semalam. Aku sedang duduk di tepi kasur, menatap kemeja putih yang tergantung di pintu lemari untuk acara malam ini, ketika ponselku bergetar dengan nama yang hanya pernah kusimpan karena sopan santun.
“Pak Doktor.” Suara Medan yang biasanya seperti pengeras suara masjid itu sekarang pelan dan gemetar. “Maaf ganggu subuh-subuh. Saya nggak tahu harus telepon siapa lagi.”
“Ada apa, Pak Bonar?”
“Jembatan, Pak. Kilometer dua puluh tiga. Yang Bapak tanya waktu itu.” Dia menarik napas. “Semalam hujan deras di Purwakarta. Dari jam sembilan sampai jam tiga. Tadi jam empat mandor jaga malam lapor ada retak di pilar sisi timur. Saya baru lihat sendiri. Pak, retaknya nggak kecil.”
Aku berdiri.
“Ada orang di bawah jembatan itu?”
“Ada, Pak.” Suaranya pecah. “Tiga puluh dua pekerja shift malam. Bedeng mereka di bawah jembatan, di bantaran sungai. Sama warung kopi Bu Euis yang buka dua puluh empat jam buat sopir truk.”
Aku sudah memakai sepatu sebelum dia selesai bicara.
“Pak Bonar, dengar saya. Jangan tunggu siapa pun. Pindahkan semua orang dari bawah jembatan sekarang. Bedeng, warung, semuanya. Tutup akses kendaraan proyek di atasnya. Saya berangkat sekarang.”
“Pak, kantor pusat bilang…”
“Siapa yang bilang apa, Pak?”
Hening.
“Saya sudah telepon Pak Hendra jam empat lewat sepuluh,” katanya pelan. “Beliau bilang itu retak rambut biasa. Beliau bilang jangan bikin panik, apalagi hari ini. Beliau bilang tunggu tim teknis kantor pusat datang jam sepuluh.”
Aku berhenti di ambang pintu apartemen.
Retak rambut biasa.
“Pak Bonar,” kataku. “Bapak ingat empat belas tiang pancang yang saya hitung waktu itu? Dari dua puluh empat?”
Hening yang lebih panjang.
“Ingat, Pak.”
“Sepuluh yang nggak ada itu,” kataku, “sekarang sedang ditanyakan oleh hujan semalaman.”
Di seberang, aku mendengar laki-laki besar dengan suara pengeras suara masjid itu mulai menangis.
“Pindahkan orangnya, Pak,” kataku pelan. “Sekarang. Kalau ada yang marah, bilang saya yang suruh.”
Rena meneleponku pukul 05.03, waktu aku sudah di tol dalam kota.
“Bonar telepon aku juga,” katanya tanpa salam. “Dia bilang kamu sudah jalan.”
“Aku sudah di tol.”
“Aku juga.”
Aku menoleh ke spion. Tidak ada apa-apa, tentu saja. Dia pasti di belakang, entah di mana.
“Rena, ini lokasi proyek. Kalau jembatannya…”
“Aku CEO SC Group,” katanya. Suaranya tenang, dingin, tajam. Suara yang kudengar di ruang rapat waktu dia meletakkan pulpen biru di tengah meja. “Tiga puluh dua orang yang tidur di bawah jembatan itu pekerja perusahaanku. Kalau ada yang harus berdiri di sana dan bilang tutup, itu aku.”
Aku tidak membantah. Aku tahu tidak ada gunanya.
“Hati-hati nyetirnya,” kataku.
“Kamu juga.” Jeda. “Aku sudah telepon Yudis. Dia bawa drone dan laptop. Dia nyusul pakai mobil Bagas.”
“Mobil Bagas yang AC-nya kayak kipas tua?”
“Itu satu-satunya mobil yang siap jam lima pagi.”
Aku hampir tertawa. Hampir.
Pukul 06.40, kami tiba di kilometer dua puluh tiga Tol Jatiluhur Seksi Dua.
Hujan sudah berhenti, tapi langit masih kelabu dan rendah, seperti tutup panci yang belum dibuka. Tanah merah di sekitar lokasi proyek sudah berubah menjadi lumpur pekat. Sungai di bawah jembatan, yang tiga minggu lalu hanya aliran kecil cokelat, sekarang meluap deras, menghantam pilar-pilar beton dengan suara gemuruh.
Ir. Bonar sudah melakukan apa yang kuminta. Di tanggul di atas bantaran, jauh dari jembatan, tiga puluh dua pekerja berdiri berkerumun dengan sarung, jaket, dan wajah bingung. Beberapa masih membawa piring nasi. Bu Euis, perempuan paruh baya pemilik warung kopi, duduk di atas termos besar dengan wajah marah, karena dia harus meninggalkan dua panci mi rebus yang sedang dimasak.
Ir. Bonar berlari ke arah kami begitu mobilku berhenti. Wajahnya pucat di bawah helm kuning.
“Pak Doktor! Semua sudah dipindah. Tapi, Pak…” Dia menunjuk jembatan. “Lihat sendiri.”
Aku melihat.
Jembatan itu masih berdiri. Dari jauh terlihat biasa saja, beton abu-abu panjang di atas pilar-pilar besar. Tapi di pilar sisi timur, pilar yang menurut laporan berdiri di atas dua puluh empat tiang pancang padahal hanya empat belas, ada garis gelap.
Bukan garis rambut. Garis yang bisa kulihat dari jarak lima puluh meter. Garis yang berkelok dari dasar pilar ke atas, seperti sungai kering di peta.
Sedan hitam Rena berhenti di belakang mobilku. Dia keluar dengan jaket hujan krem, celana panjang, dan sepatu bot karet yang jelas baru dibeli dari minimarket di rest area, karena label harganya masih menempel di tumit. Rambutnya diikat asal. Wajahnya tanpa riasan.
Dia berdiri di sebelahku dan menatap pilar itu.
“Itu retak rambut biasa?” tanyanya pelan.
“Menurut Om Hendra.”
Dia tidak menjawab. Rahangnya mengeras.
Yudis tiba pukul 07.15 dengan Avanza abu-abu Bagas. AC-nya berbunyi seperti kipas tua yang sekarat, bahkan dari luar. Bagas sendiri ikut, duduk di kursi penumpang dengan wajah hijau, karena Yudis menyetir di jalan tol seperti orang yang tidak punya rasa takut sama sekali.
“Pak,” kata Yudis, keluar dari mobil dengan tas drone di punggung. “Saya bawa dua drone. Satu kamera biasa, satu kamera termal. Dan laptop dengan model yang kita pakai buat sembilan proyek kemarin.”
“Bagus.”
“Bagas bawa…”
“Saya bawa roti, Pak,” kata Bagas lemah, masih bersandar di pintu mobil. “Dan muntah sekali di Cikampek.”
Kami bekerja.
Yudis menerbangkan drone pertama. Gambarnya muncul di laptop yang kuletakkan di kap mobil: pilar sisi timur dari dekat, retak itu jelas terlihat, lebar dan gelap. Aku memintanya terbang mengitari pilar dari empat sisi. Lalu turun ke dasar, ke tempat air sungai menghantam beton.
Di dasar pilar, di sisi hulu, ada sesuatu yang membuatku berhenti bernapas.
Tanah di sekitar pondasi sudah tergerus. Air sungai yang meluap semalam membawa pergi lumpur dan batu, dan sekarang sebagian dasar pondasi menggantung tanpa tanah di bawahnya.
Pondasi yang seharusnya ditopang dua puluh empat tiang pancang. Hanya empat belas yang ada.
“Yudis,” kataku. “Foto udara proyek ini dari minggu lalu. Bandingkan dengan sekarang. Posisi dek jembatan.”
Yudis mengetik. Model computer vision yang dibangun Arini membandingkan dua gambar, mencari pergeseran.
Tiga menit.
“Pak,” kata Yudis pelan. “Ujung dek di atas pilar timur turun sebelas sentimeter dibanding minggu lalu.”
“Sebelas sentimeter dalam seminggu?”
“Bukan seminggu, Pak.” Yudis menatap layar. “Saya bandingkan juga dengan foto drone vendor yang diambil kemarin sore. Sembilan sentimeter dari sebelas itu terjadi semalam.”
Sembilan sentimeter dalam satu malam.
Aku menatap Rena. Dia menatapku. Dia tidak perlu mengerti teknik sipil untuk mengerti apa artinya.
“Berapa lama?” tanyanya.
Aku tidak langsung menjawab. Aku menyuruh Yudis menerbangkan drone sekali lagi, lima belas menit kemudian. Pergeseran bertambah. Lima belas menit setelahnya, bertambah lagi. Lebih cepat.
Aku menghitung. Tanganku dingin di atas kap mobil.
“Bukan hari ini sore,” kataku akhirnya. “Bukan besok. Jam. Beberapa jam. Mungkin kurang.”
Rena tidak bergerak. Lalu dia mengeluarkan ponselnya.
“Om Hendra.”
Dia menyalakan pengeras suara. Aku mendengar suara hangat yang kukenal, sedikit serak karena baru bangun.
“Nak? Pagi-pagi sekali. Kamu di mana?”
“Di Jatiluhur, Om. Kilometer dua puluh tiga.”
Hening. Satu detik. Dua.
“Jatiluhur?” Suara Pak Hendra tetap hangat, tapi ada sesuatu yang bergeser di bawahnya. “Nak, kamu nggak perlu ke sana. Bonar memang suka panik. Itu cuma retak permukaan. Tim teknis Om sudah dalam perjalanan, jam sepuluh mereka sampai. Kamu pulang saja, istirahat. Malam ini hari besarmu.”
“Dek jembatannya turun sembilan sentimeter semalam, Om. Pondasinya tergerus.”
“Itu…” Jeda. “Itu bisa diperbaiki, Nak. Kita perkuat. Kita injeksi. Tapi jangan tutup aksesnya hari ini. Jangan ada berita apa pun hari ini. Kamu tahu media akan bilang apa? SC Construction gagal di hari merger. Benny akan pakai itu untuk menekan rasio. Pemegang saham akan panik.” Suaranya melembut. “Biar Om yang urus, Nak. Kamu fokus ke malam ini.”
Rena menatap pilar itu. Menatap garis gelap yang berkelok. Menatap tiga puluh dua pekerja di tanggul, dan Bu Euis yang duduk di atas termos.
“Om,” katanya pelan. “Tiang pancangnya ada berapa?”
Hening total di seberang.
“Apa maksudmu, Nak?”
“Di laporan, dua puluh empat,” kata Rena. “Om yang tanda tangan pembayarannya. Berapa yang sebenarnya ada di bawah pilar itu, Om?”
Aku mendengar napas di seberang telepon. Tiga kali. Panjang. Seperti orang yang sedang menghitung langkah di papan catur.
“Nak,” kata Pak Hendra akhirnya. Suaranya tetap lembut. Sangat lembut. “Om nggak tahu apa yang Chakra katakan padamu. Tapi ini bukan waktunya. Pulang. Kita bicara setelah acara.”
Rena menutup telepon tanpa menjawab.
Lalu dia menelepon nomor lain.
“Pak Yosef. Ini Serena. Tutup total akses jalan proyek Tol Jatiluhur Seksi Dua dari kilometer dua puluh sampai dua puluh enam. Hubungi Dinas PU Purwakarta dan BPBD, minta jalan desa di bawah jembatan ditutup juga. Evakuasi warga di radius tiga ratus meter dari bantaran. Atas nama saya. Sekarang.” Dia diam mendengarkan. “Iya, Pak. Saya tahu hari ini tanggal berapa. Kerjakan.”
Dia menutup telepon. Tangannya gemetar sedikit. Dia memasukkan ponsel ke saku jaket.
Lalu dia menatapku.
“Kamu yakin?” tanyanya. Sama seperti malam banjir di lantai 38.
“Nggak,” kataku. “Aku cuma tahu probabilitasnya.”
“Berapa?”
Aku menatap layar laptop. Grafik pergeseran yang terus naik.
“Tinggi,” kataku. “Sangat tinggi.”
Dia mengangguk.
“Yakin itu urusanku,” katanya.
Pukul sembilan, polisi lalu lintas dan petugas BPBD sudah menutup jalan desa di bawah jembatan. Dua puluh tiga rumah di bantaran sungai dikosongkan. Warga berdiri di tanggul bersama para pekerja, dengan anak-anak di gendongan dan ayam di keranjang, menatap jembatan yang terlihat biasa saja dengan wajah tidak senang.
“Neng,” kata seorang bapak tua bersarung kepada Rena, dengan logat Sunda yang kental. “Jembatanna mah ngadeg kénéh. Naha urang kudu indit?”
(Neng, jembatannya kan masih berdiri. Kenapa kita harus pergi?)
Rena menatap bapak itu. Lalu berjongkok di lumpur di depannya, dengan sepatu bot yang label harganya masih menempel.
“Pak,” katanya pelan. “Saya yang punya proyek ini. Kalau jembatan itu nggak roboh, saya yang salah. Bapak boleh marah ke saya. Saya yang ganti ongkos Bapak pindah hari ini. Tapi kalau jembatan itu roboh dan Bapak masih di rumah…” Dia diam sebentar. “Saya nggak bisa ganti itu.”
Bapak tua itu menatapnya lama. Lalu mengangguk pelan dan berjalan ke arah tanggul sambil menarik tangan cucunya.
Bagas, yang sudah tidak hijau lagi, membagikan roti ke anak-anak. Yudis menerbangkan drone setiap sepuluh menit. Ir. Bonar berdiri di sebelahku, menatap jembatan yang dulu dia banggakan, dengan helm kuning di tangan dan air mata yang mengalir di pipinya yang legam.
“Pak Doktor,” katanya pelan. “Saya yang tanda tangan laporan progres itu. Setiap bulan.”
Aku menatapnya.
“Saya tahu tiang pancangnya kurang,” katanya. “Dari awal. Saya protes. Ke kantor pusat. Dua kali.” Dia menyeka hidung dengan punggung tangan. “Orang dari kantor Pak Hendra datang ke sini. Bilang subkon sudah ditunjuk dari atas. Bilang saya cukup tanda tangan. Bilang kalau saya nggak mau, banyak insinyur lain yang mau.” Dia menatap tanah. “Saya punya empat anak, Pak. Yang sulung kuliah di ITB.”
Aku tidak bilang apa-apa. Aku meletakkan tanganku di bahunya.
“Bapak yang telepon saya jam lima pagi,” kataku. “Bukan kantor pusat. Bukan Pak Hendra. Saya.” Aku menatapnya. “Bapak yang pindahkan tiga puluh dua orang itu sebelum saya sampai. Itu yang akan saya ingat, Pak.”
Ir. Bonar menangis lebih keras. Laki-laki besar dengan suara pengeras suara masjid itu menangis di bahu seorang doktor ilmu data di tanggul berlumpur di Purwakarta, dan tidak ada yang menertawakannya.
Pukul 10.47, jembatan itu runtuh.
Tidak ada suara ledakan. Tidak ada drama seperti di film. Yang ada hanya suara yang sangat berat dan sangat dalam, seperti bumi yang mengerang. Lalu pilar sisi timur miring perlahan, sangat perlahan, ke arah hulu, seperti orang tua yang lelah duduk. Lalu dek beton di atasnya patah di tengah dengan suara retakan yang menggema di seluruh lembah, dan dua bentang jembatan jatuh ke sungai yang meluap di bawahnya.
Air cokelat menyembur ke udara setinggi pohon kelapa.
Lalu sunyi.
Di tanggul, seratus orang berdiri tanpa suara. Tiga puluh dua pekerja. Dua puluh tiga keluarga dari bantaran. Polisi, petugas BPBD, Bu Euis dengan termosnya. Semua menatap tempat di mana bedeng-bedeng pekerja dan rumah-rumah kecil di bantaran tadi berdiri. Sekarang tempat itu terkubur di bawah beton, besi, dan lumpur.
Bapak tua bersarung itu jatuh berlutut di tanah. Cucunya menangis di pelukannya.
Bu Euis berdiri dari termosnya, menatap tempat warungnya tadi berdiri, dan berbisik, “Ya Allah. Mi rebusnya.”
Lalu dia menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis.
Rena berdiri di sebelahku. Dia tidak bergerak. Tidak bicara. Tangannya mencari tanganku di antara kami, dan menemukannya, dan menggenggamnya begitu erat sampai tulang-tulang jariku sakit.
“Semuanya selamat?” bisiknya.
Ir. Bonar yang menjawab. Dia memegang daftar nama dengan tangan gemetar, nama-nama yang dia kumpulkan sendiri sejak pukul lima pagi.
“Tiga puluh dua pekerja, Bu,” katanya, suaranya serak. “Lengkap. Dua puluh tiga keluarga, delapan puluh tujuh orang, lengkap. Bu Euis, lengkap.” Dia menatap Rena. “Semua selamat, Bu.”
Rena memejamkan mata. Tangannya di tanganku melemas sedikit.
Lalu dia membuka mata dan berbalik ke arah warga di tanggul.
“Bapak, Ibu,” katanya, cukup keras untuk didengar semua orang. “Mulai hari ini, semua kebutuhan Bapak-Ibu ditanggung SC Group. Tempat tinggal sementara, makan, sekolah anak-anak. Rumah yang rusak kami bangun ulang.” Dia menatap Bu Euis. “Warung Ibu juga, Bu. Lebih besar.”
Bu Euis menurunkan tangan dari wajahnya. Menatap Rena dengan mata merah.
“Mi rebusnya juga diganti, Neng?”
Rena tertawa. Tawa yang pecah, basah, di tengah lembah yang sunyi.
“Mi rebusnya juga, Bu.”
Pukul sebelas, ponselku tidak berhenti bergetar.
Berita. Video drone dari seseorang di tanggul sudah tersebar, entah siapa yang merekam, mungkin warga, mungkin pekerja. Jembatan yang miring dan patah, air cokelat menyembur. Judulnya bermacam-macam. Jembatan Tol Jatiluhur Ambruk, Nol Korban. SC Construction Evakuasi Warga 4 Jam Sebelum Jembatan Roboh. Dan yang paling cepat menyebar: Retak Rambut Biasa? Rekaman Telepon Diduga Pejabat SC Minta Jangan Ada Evakuasi.
Aku menatap judul terakhir itu. Lalu menoleh ke Rena.
Dia sedang menatap ponselnya sendiri dengan wajah pucat.
“Itu bukan dari kita,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku pakai pengeras suara waktu telepon Om Hendra.” Dia menatap ke arah tanggul. “Di depan Bonar. Di depan pekerja. Seseorang merekam.”
Aku mengikuti arah pandangannya. Di antara para pekerja di tanggul, seorang laki-laki muda berkaus lusuh sedang menatap ponselnya dengan wajah takut. Ketika dia melihat kami menatapnya, dia berjalan mendekat dengan langkah ragu.
“Bu,” katanya, menunduk. “Maaf, Bu. Saya yang rekam. Saya nggak tahu itu siapa. Saya cuma… saya cuma marah, Bu. Bedeng saya di bawah situ. Kalau Ibu nggak datang…” Dia menelan ludah. “Saya kirim ke grup WA keluarga. Terus nggak tahu siapa yang sebar.”
Rena menatapnya lama.
“Siapa namamu?”
“Asep, Bu.”
“Asep.” Rena menepuk bahunya. “Kamu nggak salah.”
Asep menatapnya dengan mata lebar.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan berita. Telepon.
Pak Richard Sinclair.
Aku mengangkatnya.
“Chakra.” Suaranya tegang. “Saya lihat beritanya. Semua selamat?”
“Semua selamat, Pak. Seratus dua puluh orang.”
Hening. Lalu napas panjang, seperti seseorang yang menahan napas sejak tadi.
“Benny Hartanto baru menelepon saya,” katanya. “Dia bilang penandatanganan malam ini harus tetap jalan. Tapi dengan rasio baru. Dia bilang SC sedang krisis tata kelola, jembatan roboh, CEO-nya bertindak gegabah tanpa koordinasi dengan COO.” Suaranya mengeras. “Dia minta Serena dinonaktifkan sementara. Sebagai syarat.”
Aku menatap Rena, yang sedang berjongkok di lumpur memberikan roti kepada cucu bapak tua bersarung itu.
“Pak Hendra juga menelepon,” lanjut Pak Richard. “Lima menit setelah Benny. Dia bilang hal yang sama. Dengan kata-kata yang hampir sama.” Jeda. “Dia minta rapat direksi darurat jam tiga sore. Sebelum acara. Untuk mengamankan merger.”
“Bapak akan datang ke rapat itu?”
“Saya akan datang,” kata Pak Richard. “Saya akan duduk di kursi saya. Dan saya akan diam.” Suaranya pelan sekali. “Seperti yang ibu saya bilang. Biarkan dia mengira dia sudah makan menteri.”
“Pak…”
“Jembatan itu, Nak,” kata Pak Richard. Suaranya pecah sedikit. “Sepuluh tiang pancang yang tidak pernah ada. Sembilan sentimeter dalam satu malam.” Dia menarik napas. “Delapan puluh tujuh orang di bantaran. Anak-anak.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Saya menggendongnya waktu dia bayi,” kata Pak Richard. “Dan pagi ini dia bilang ke anak saya, jangan bikin panik, sementara ada anak-anak tidur di bawah jembatan yang dia bangun dengan setengah pondasi.” Dia diam lama. “Pulang, Nak. Bawa Serena pulang. Dia harus siap malam ini.”
Telepon terputus.
Aku menatap jembatan yang sekarang tinggal reruntuhan beton di dasar lembah, dengan air cokelat mengalir di sela-selanya.
Lalu aku menatap Rena. Dia berdiri dari lumpur, dengan sepatu bot yang label harganya masih menempel di tumit, jaket hujan krem yang belepotan tanah merah, dan rambut yang berantakan ditiup angin lembah.
Dia terlihat seperti orang yang baru saja menyelamatkan seratus dua puluh nyawa dengan satu kata.
Tutup.
Dia berjalan ke arahku. Berhenti di depanku. Menatap wajahku.
“Kamu nangis,” katanya pelan.
Aku menyentuh pipiku. Basah. Aku tidak sadar.
“Kamu juga,” kataku.
Dia menyentuh pipinya sendiri. Lalu tertawa kecil, lelah.
“Papa bilang apa?”
“Papamu bilang,” kataku, “bawa kamu pulang. Kamu harus siap malam ini.”
Dia menatapku. Matanya berubah. Bukan lagi lelah. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang tajam dan dingin dan sangat, sangat siap.
“Om Hendra minta rapat direksi jam tiga,” katanya. Bukan pertanyaan.
“Kamu sudah tahu?”
“Sisca WA aku.” Dia mengangkat ponselnya. “Agendanya: Penonaktifan sementara CEO demi stabilitas merger.”
“Rena…”
“Biarkan.” Dia memasukkan ponsel ke saku. “Biarkan dia mengira dia makan menteri.”
Dia berjalan ke mobilnya. Di pintu pengemudi, dia berhenti dan menoleh padaku.
“Chakra.”
“Ya?”
“Malam ini,” katanya, “jangan duduk di belakang ruangan.”
Lalu dia masuk ke mobil dan menyetir pergi. Kali ini dia memutar di lumpur tanpa menyerempet apa pun.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan reading
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat