Chapter Twenty Two
Foto-Foto Lama
POV: Serena
Aku membangunkannya pukul dua siang dengan sekaleng kopi dingin di leher.
Dia terbangun dengan jeritan yang sama sekali tidak pantas untuk seorang doktor ilmu data lulusan ETH Zürich, pemegang paten di tiga negara, dan orang yang dua puluh empat jam lalu membersihkan namanya dari tuduhan kebocoran data terbesar dalam sejarah SC Group.
“Rena!”
“Empat jam,” kataku, duduk di tepi kasurnya. “Sudah.”
Dia menatapku dengan mata menyipit tanpa kacamata, rambut mencuat ke empat arah, kaus abu-abu yang miring di bahu. Lalu dia menutup wajah dengan bantal dan mengerang.
“Kamu masuk pakai apa?”
“Kode lobi dari Ibu. Kode pintu dari Ibu juga.” Aku menempelkan kaleng itu ke punggung tangannya yang menyembul dari bawah bantal. Dia tersentak lagi. “Ibu bilang, kalau dia nggak bangun, siram aja.”
“Ibu bilang begitu?”
“Ibu bilang banyak hal. Termasuk soal Sabtu lalu.” Aku berhenti. “Ibu sudah cerita ke seluruh grup arisan.”
Dia menurunkan bantal dari wajahnya. Pelan. Matanya ngeri.
“Seluruh?”
“Dua puluh tiga ibu-ibu komplek Cibubur.” Aku menyodorkan kaleng kopi. “Mereka minta foto.”
Dia menatap langit-langit selama sepuluh detik. Lalu mengambil kaleng itu, membukanya, dan meminum setengahnya dalam satu teguk, seperti orang yang butuh kafein untuk menghadapi kenyataan.
Lalu dia melihat apa yang kuletakkan di kasur, di sebelah lututku.
Amplop cokelat.
Ukuran A4, sudut-sudutnya sudah lunak dan sedikit sobek, karena enam tahun terselip di laci paling bawah lemari perhiasanku, di bawah kotak beludru kecil berisi kalung perak bunga matahari. Aku tidak pernah membukanya lagi sejak malam itu. Aku juga tidak pernah membuangnya. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena membuangnya berarti mengakui bahwa amplop itu tidak penting lagi, dan aku tidak siap mengakuinya. Mungkin karena aku tahu, di suatu tempat yang tidak ingin kuakui, bahwa suatu hari aku akan membutuhkannya lagi.
Chakra menatap amplop itu. Wajahnya berubah. Tenang, sangat tenang, seperti permukaan danau.
Dia meraih kacamata di nakas dan memakainya.
“Oke,” katanya pelan. “Buka.”
Isinya tujuh lembar foto, satu lembar fotokopi bukti transfer, dan sebuah amplop putih kecil yang aku lupa ada di dalamnya.
Kami membentangkannya di meja kerjanya, di bawah jendela, di sebelah kaktus yang sekarang sudah tidak kering lagi. Tujuh foto berukuran 4R, dicetak di kertas foto mengkilap yang warnanya mulai pudar di tepi.
Foto pertama. Lobi hotel. Chakra berjalan masuk lewat pintu kaca bersama seorang perempuan berambut pendek sebahu, blazer merah marun, rok pensil hitam. Perempuan itu tersenyum ke arah Chakra.
Foto kedua. Area penurunan di depan hotel. Hujan. Chakra memegang payung hitam bergagang kayu, payung itu, payungku, yang dia pinjamkan padaku dan tidak pernah kukembalikan, kenapa dia punya payung yang sama, dan membukakan pintu mobil untuk perempuan itu.
Foto ketiga. Meja di lobi. Mereka berdua duduk berhadapan, perempuan itu mencondongkan badan ke depan, tangannya di atas meja dekat tangan Chakra.
Foto keempat sampai keenam, dari sudut yang berbeda-beda. Lobi. Koridor. Mereka berjalan bersebelahan.
Foto ketujuh. Pintu lift. Mereka berdua berdiri di dalamnya, pintu sedang menutup, dan perempuan itu berdiri sangat dekat dengan Chakra, kepalanya hampir menyandar di bahunya.
Foto ketujuh adalah foto yang membuatku berhenti bernapas enam tahun lalu. Foto yang membuatku tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Chakra menatap ketujuh foto itu dalam diam yang panjang. Lalu dia mengambil foto kedua. Yang di depan hotel, di bawah hujan.
“Payung itu,” katanya pelan.
“Payungku,” kataku. “Yang kamu pinjamkan waktu pertama ketemu. Kenapa kamu punya yang sama?”
Dia menoleh padaku. “Bukan yang sama. Itu payung yang kamu pinjam. Kamu kembalikan.”
“Aku nggak pernah kembalikan.”
“Kamu kembalikan,” katanya. “Ke apartemen, waktu kita pindahan. Kamu taruh di gantungan dekat pintu. Kamu bilang, ini payung jodoh, harus di rumah kita.” Dia menatap foto itu. “Pagi itu hujan. Aku bawa payung itu karena cuma itu payung yang ada di apartemen.”
Aku tidak ingat. Aku tidak ingat mengembalikannya. Aku tidak ingat menyebutnya payung jodoh. Tapi aku ingat gantungan di dekat pintu apartemen Kalibata, dan aku ingat sesuatu yang hitam dan panjang selalu tergantung di sana, dan aku tidak pernah memperhatikannya karena memang selalu ada di sana.
Enam tahun aku melihat foto ini dan berpikir dia membawa perempuan lain dengan payung kami.
Enam tahun aku tidak sadar bahwa dia membawa payung kami karena hanya itu payung di rumah kami.
“Ini hotel di Sudirman,” kata Chakra, meletakkan foto itu. “Tanggal dua belas, enam tahun lalu. Tiga minggu sebelum…” Dia berhenti. “Aku ingat hari ini.”
“Kenapa kamu di sana?”
Dia menatapku. Lalu menatap tangannya sendiri.
“Wawancara kerja,” katanya.
Dia menceritakannya pelan-pelan, sambil memegang foto-foto itu satu per satu seperti orang membaca surat lama.
Enam tahun lalu, tawaran kerjanya di tiga perusahaan berbeda dibatalkan dalam empat bulan. Selalu dengan alasan yang samar. Restrukturisasi. Posisi dibekukan. Kami memutuskan mencari kandidat dengan profil berbeda. Dia tidak pernah cerita padaku, karena dia malu. Karena aku selalu membelanya di depan keluargaku, bilang dia akan sukses, dia jenius, kalian lihat saja, dan dia tidak sanggup bilang bahwa dia terus gagal.
Lalu suatu hari, Om Hendra mengajaknya makan siang.
“Om bilang dia kenal pemilik perusahaan analitik data baru, PT Arunika Data,” kata Chakra. “Om bilang dia bisa atur wawancara. Om bilang, ini rahasia kita berdua, ya, Chakra. Jangan bilang Serena dulu. Biar jadi kejutan buat dia kalau kamu diterima. Biar dia bangga.”
Aku memejamkan mata.
Biar jadi kejutan buat dia.
“Wawancaranya di hotel ini,” lanjut Chakra. “Perempuan ini,” dia mengetuk foto pertama, “memperkenalkan diri sebagai Bu Lusi, manajer HR mereka. Dia menjemputku di lobi. Hujan, jadi aku bukakan pintu mobilnya waktu dia baru datang. Kami duduk di lobi sebentar, dia tanya soal CV-ku. Lalu kami naik ke lantai dua belas. Ruang rapat. Ada dua laki-laki di sana yang mengaku direktur. Mereka wawancara aku dua jam.”
“Lalu?”
“Lalu mereka bilang aku diterima. Gajinya tiga kali lipat gajiku di fintech.” Dia tersenyum, pahit. “Dua hari kemudian mereka telepon dan bilang posisinya dibatalkan. Restrukturisasi.”
Aku menatap foto ketujuh. Lift. Perempuan itu berdiri sangat dekat dengannya, kepalanya hampir di bahunya.
“Di lift,” kataku. “Dia…”
Chakra mengambil foto ketujuh. Mendekatkannya ke matanya. Lalu dia mengeluarkan ponselnya, membuka kamera, memotret foto itu dengan resolusi tertinggi, dan memperbesarnya di layar.
Dia diam lama.
“Rena,” katanya. “Lihat pintunya.”
Aku mendekat. Bahu kami bersentuhan.
Di layar ponselnya, foto ketujuh diperbesar sampai butir-butir cetakannya kelihatan. Pintu lift dari baja tahan karat yang mengilap seperti cermin. Di permukaannya ada pantulan samar dua orang yang berdiri di dalam lift.
Pantulan Chakra ada di sana. Berdiri tegak, memegang tas laptop, menatap angka lantai.
Pantulan perempuan itu juga ada di sana.
Tapi bukan di sebelahnya. Satu meter darinya. Di sudut lift yang lain, dengan tangan terlipat di dada, menatap ponselnya.
Di foto, perempuan itu menyandar di bahu Chakra.
Di pantulan, perempuan itu berdiri satu meter jauhnya.
“Ini digabung,” kata Chakra pelan. “Dua foto berbeda. Dia dipotong dari satu foto dan ditempel lebih dekat. Tukang editnya lupa pantulannya.” Dia memperbesar lagi, ke tepi rambut perempuan itu. “Lihat garis di sini. Ada pinggiran yang terlalu tajam. Dan bayangannya…” dia menggeser layar, “…bayangannya jatuh ke kiri, sedangkan bayanganku jatuh ke kanan. Sumber cahayanya beda. Dua foto, Rena. Disatukan.”
Aku menatap pantulan itu. Perempuan yang berdiri satu meter jauhnya, menatap ponselnya, tidak peduli.
Enam tahun.
Enam tahun aku menatap foto ini setiap kali aku mulai merindukannya. Mengeluarkannya dari laci, menatapnya sampai rasa rindu itu berubah jadi marah, lalu memasukkannya kembali. Enam tahun aku menggunakan foto ini seperti obat, seperti racun yang menyembuhkan.
Dan selama enam tahun itu, jawabannya ada di sana. Di pintu lift. Di pantulan yang tidak pernah kuperhatikan, karena aku tidak pernah mencarinya.
Karena aku tidak pernah bertanya.
Tanganku gemetar. Aku meletakkan foto itu di meja dan menekan telapak tanganku ke mulut.
Chakra tidak bilang apa-apa. Dia hanya meletakkan tangannya di punggungku. Pelan. Di antara tulang belikat. Tempat yang sama di mana dia meletakkan tangannya waktu kami berdansa di gala.
“Bukan salahmu,” katanya pelan.
“Jangan,” kataku di balik tanganku. “Jangan bilang itu. Jangan bilang itu sekarang.”
Dia diam. Tapi tangannya tetap di punggungku.
“Lusi Anggraini!” Gendis berteriak di telepon sebelum aku selesai mengirim foto pertama. “Kak, ini Mbak Lusi! Ya Allah, aku kenal!”
Pukul empat sore. Aku memotret foto pertama dan mengirimkannya ke Gendis atas usul Chakra. Kalau ada satu orang di dunia ini yang mengenal setiap wajah di industri hiburan dan iklan Jakarta, orangnya adalah adiknya yang punya empat ratus ribu pengikut dan nol rasa malu.
“Kamu kenal?” tanyaku.
“Kenal, Kak! Dia dulu model iklan. Model sama talent buat acara-acara. Terus berhenti, sekarang punya toko roti di Bekasi. Roti Lusi. Dia sering endorse bareng temenku. Rotinya enak, Kak, apalagi roti sobek pandan kejunya…”
“Gendis.”
“Iya, iya. Fokus.” Suara Gendis berubah. Lebih serius dari yang pernah kudengar. “Kak. Ini foto apa? Kenapa ada Mas Chakra?”
Aku menatap Chakra. Dia mengangguk pelan.
“Nanti Kakak ceritakan,” kataku. “Gendis, bisa antar kami ke toko rotinya? Sekarang?”
Hening sebentar.
“Kak,” kata Gendis. “Aku jemput dalam setengah jam. Dan Kak, aku janji, janji, nggak akan live.”
Gendis menjemput kami dengan mobil hatchback merah yang dipenuhi tripod, ring light, dan tiga kardus sampel produk endorsement. Di kursi belakang, aku duduk berdesakan dengan sekardus sabun cuci muka dan sekardus keripik pedas level tiga puluh.
Sebelum menyalakan mesin, Gendis menyerahkan ponselnya kepadaku.
“Pegang, Kak,” katanya serius. “Taruh di tas Kakak. Jangan kasih ke aku sampai kita pulang. Aku nggak percaya sama diriku sendiri.”
Aku memasukkan ponselnya ke tasku.
Perjalanan ke Bekasi memakan satu jam. Gendis menyetir seperti pembalap Formula Satu yang sedang marah, sambil menginterogasi kakaknya dengan semangat jaksa penuntut umum.
“Mas. Itu foto kapan?”
“Enam tahun lalu.”
“Kenapa Mbak Lusi di situ?”
“Ceritanya panjang.”
“Mas, ini mobil aku, perjalanannya satu jam, ceritanya bisa sepanjang apa pun.” Gendis menatap kakaknya dari spion. “Ini soal kenapa Mas sama Kak Rena cerai, ya?”
Hening di mobil.
Gendis menekan gas lebih dalam. “Aku tahu itu ada hubungannya. Dari dulu aku tahu Mas nggak selingkuh. Mas itu nggak bisa bohong. Mas dorong kacamata dua kali tiap…”
“Gendis,” kata Chakra dan aku bersamaan.
Gendis menatap kami bergantian lewat spion. Lalu matanya melebar.
“Kakak juga tahu soal kacamata?”
Aku tidak menjawab. Chakra menatap jendela.
“Ya Allah,” bisik Gendis. “Ya Allah, kalian berdua ini…” Dia menggeleng, matanya berkaca-kaca. “Ibu bener. Ibu bilang dari dulu, kalian berdua itu kayak dua orang bodoh yang sayang-sayangan tapi nggak ada yang mau ngomong duluan.”
Roti Lusi adalah toko kecil di deretan ruko di Bekasi Barat, dengan etalase kaca penuh roti sobek, roti abon, dan kue bolu, serta papan nama berwarna merah muda dengan logo roti tersenyum. Wangi mentega dan gula panas menyambut kami di pintu.
Di balik etalase berdiri seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan celemek bermotif bunga, rambut pendek yang sekarang dikuncir kecil, dan wajah yang lebih bulat dari wajah di foto. Lebih bahagia. Lebih tua. Tapi jelas wajah yang sama.
“Selamat sore, mau beli… Gendis!” Dia tersenyum lebar. “Ya ampun, kok nggak bilang mau datang? Mau endorse lagi? Aku baru bikin varian baru…”
Lalu matanya bergeser ke belakang Gendis. Ke Chakra.
Senyumnya membeku.
Lalu matanya bergeser ke aku, dan senyum itu runtuh sepenuhnya. Wajahnya memucat. Tangannya yang memegang penjepit roti gemetar, dan sepotong roti sobek pandan keju jatuh ke lantai.
“Mbak Lusi,” kata Chakra pelan. “Masih ingat saya?”
Lusi Anggraini menatap Chakra lama sekali.
Lalu dia meletakkan penjepit roti, melepas celemeknya dengan tangan gemetar, dan berkata kepada pegawainya, seorang remaja yang sedang menata kue di rak, “Dek, jaga toko sebentar, ya.”
Dia membawa kami ke ruang belakang. Dapur kecil dengan oven besar, meja stainless, dan karung-karung tepung. Dia tidak menyuruh kami duduk. Dia berdiri di depan oven yang masih hangat, memeluk dirinya sendiri, dan menatap lantai.
“Saya sudah tahu kalian akan datang,” katanya pelan. “Suatu hari.”
“Mbak Lusi…”
“Dua minggu lalu,” potongnya, “saya lihat video TikTok. Yang viral itu. Yang CEO SC Group ke rumah mantan mertuanya. Saya nggak tahu kenapa video itu muncul di beranda saya. Tapi saya lihat wajah Mas,” dia menatap Chakra, “di sudut video, waktu kameranya miring. Saya langsung kenal. Enam tahun, tapi saya langsung kenal.” Matanya beralih padaku. “Lalu saya baca komentarnya. Saya baca soal Ibu. Soal perceraian. Soal mantan suami yang… yang katanya selingkuh.” Suaranya pecah. “Saya nggak bisa tidur dua minggu.”
Aku menatapnya. Aku tidak tahu harus merasa apa. Marah, mungkin. Seharusnya marah. Perempuan ini adalah wajah dari mimpi burukku selama enam tahun.
Tapi perempuan di depanku sekarang hanya seorang tukang roti dengan celemek bunga-bunga, tangan bertepung, dan mata yang basah.
“Ceritakan,” kataku. “Semuanya.”
Dia menceritakannya.
Enam tahun lalu dia masih bekerja sebagai talent lepas di sebuah agensi kecil, Bintang Talent Management. Suatu hari agensinya menawarkan pekerjaan aneh. Bukan iklan. Bukan acara. Simulasi. Klien ingin seseorang berperan sebagai manajer HR untuk sebuah wawancara kerja, untuk keperluan konten edukasi tentang rekrutmen atau prank atau sesuatu, dia tidak terlalu ingat penjelasannya, karena bayarannya lima belas juta untuk satu hari dan waktu itu dia butuh uang untuk ibunya yang sakit.
“Mereka kasih naskah,” katanya. “Saya harus jemput seorang laki-laki di lobi hotel, ajak dia ngobrol, lalu antar ke lantai dua belas. Ada fotografer di lobi. Mereka bilang itu untuk dokumentasi konten.” Dia menatap Chakra. “Mas baik sekali waktu itu. Hujan, Mas bukain pintu mobil saya, padahal saya cuma figuran. Di lobi Mas cerita soal istri Mas. Mas bilang istri Mas yang paling cantik sedunia, dan Mas mau dapat kerjaan ini supaya keluarga istri Mas nggak menghina dia lagi karena menikah sama Mas.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Di lift,” lanjut Lusi, “saya berdiri jauh. Saya ingat, karena Mas sangat sopan, Mas berdiri di sudut, menjaga jarak. Saya sampai mikir, wah, suami yang baik.” Dia menyeka matanya dengan punggung tangan yang bertepung. “Saya nggak pernah lihat fotonya. Saya nggak tahu foto-foto itu dipakai buat apa. Saya cuma dibayar, lalu pulang.”
“Siapa yang bayar Mbak?” tanya Chakra pelan.
Lusi diam. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ponsel tua dengan layar retak di sudut.
“Saya nggak pernah ganti rekening,” katanya. “Saya nggak pernah hapus riwayat transaksi. Waktu saya lihat video itu dua minggu lalu, saya buka lagi. Saya cari.” Dia membuka aplikasi bank, menggulir jauh ke bawah, sangat jauh, lalu memutar layarnya ke arah kami.
Transfer masuk. Rp15.000.000. Dari: YAYASAN KELUARGA SINCLAIR. Keterangan: Honor talent, kegiatan sosial.
Ruangan itu berputar.
Yayasan Keluarga Sinclair.
Nama yang sama dengan nama di bukti transfer dua miliar di dalam amplop cokelat.
Yayasan yang didirikan Opa untuk beasiswa anak-anak sopir dan buruh proyek. Yayasan yang tujuh tahun lalu berganti pengurus. Ketua yang baru adalah…
Aku tahu siapa ketuanya. Semua orang di keluarga tahu. Mama selalu memuji betapa rajinnya Om Hendra mengurus yayasan itu, dia yang paling peduli sama anak-anak sopir, Sayang, Om Hendra itu hatinya emas.
Kakiku lemas. Aku bersandar ke meja stainless. Dingin.
Tangan seseorang menahan lenganku. Chakra. Dia berdiri di sebelahku, memegang lenganku, dan menatapku dengan wajah yang tidak terkejut sama sekali.
Dia tidak terkejut.
Dia sudah tahu.
“Kamu tahu,” bisikku.
Dia tidak menjawab. Matanya menatapku, sedih, sangat sedih, seperti seseorang yang sudah lama membawa sesuatu yang berat dan baru saja melihatnya jatuh ke kaki orang lain.
“Sejak kapan?” bisikku.
“Belum lama,” katanya pelan. “Dan aku belum punya cukup bukti. Aku nggak mau menuduh orang pakai probabilitas, Rena. Apalagi dia.”
Lusi menatap kami berdua. Air mata mengalir di pipinya, membuat garis di tepung yang menempel di wajahnya.
“Mbak,” katanya kepadaku. “Bu. Saya minta maaf. Saya nggak tahu. Demi Allah, saya nggak tahu.”
Aku menatapnya. Perempuan yang selama enam tahun kubenci tanpa tahu namanya. Perempuan yang ternyata berdiri satu meter jauhnya di lift itu, dan mengingat bahwa suamiku berbicara soal istrinya yang paling cantik sedunia.
“Mbak Lusi,” kataku. Suaraku keluar serak. “Mbak bersedia jadi saksi? Kalau suatu hari dibutuhkan?”
Lusi menatapku. Lalu menatap Chakra. Lalu menegakkan punggungnya, menyeka matanya dengan celemek bunga-bunga, dan mengangguk.
“Bersedia, Bu,” katanya. “Saya sudah dua minggu nunggu ada yang tanya.”
Gendis menyetir pulang dengan sangat pelan, tanpa satu kata pun. Itu mungkin pertama kalinya dalam hidup Gendis Wirasena.
Di kursi belakang, aku duduk berdesakan dengan kardus sabun cuci muka dan menatap jendela. Di sebelahku Chakra diam. Di pangkuanku ada sekantong roti sobek pandan keju yang Lusi paksakan pada kami di pintu sambil menangis, gratis, Bu, gratis, tolong, biar saya sedikit lega.
Di tol Bekasi, aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya.
Dia tidak kaget. Dia menggenggam balik. Jari-jari kami bertaut di atas kardus sabun cuci muka, di kursi belakang hatchback merah adiknya yang penuh ring light.
Gendis melihatnya lewat spion. Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menyeka mata dengan punggung tangan dan menyalakan radio, pelan.
“Uang dua miliar itu,” kataku akhirnya, sangat pelan, ke jendela. “Bukti transfernya. Masuk ke rekeningmu.”
“Masuk,” katanya.
Aku menutup mata.
“Sore itu,” lanjutnya. “Jam empat. Aku lihat notifikasinya waktu masih di kantor. Aku nggak tahu dari mana, nggak tahu buat apa. Keterangannya kompensasi penyelesaian.”
“Terus?”
“Aku kembalikan,” katanya. “Hari itu juga. Jam lima sore. Aku ke bank, ke kantor cabang, transfer balik semuanya ke rekening yang sama. Lalu pulang naik kopaja, karena saldoku tinggal empat puluh tiga ribu dan aku nggak cukup buat ojek.”
Aku membuka mata. Menoleh.
“Kamu punya buktinya?”
“Punya.” Dia menatap jalan di depan. “Ibu yang simpan. Di kaleng Khong Guan di lemari.”
Lalu dia diam. Tangannya di tanganku sedikit mengencang.
“Rena,” katanya. “Uang itu, nanti aku tunjukkan buktinya. Tapi sebelum itu, ada yang lebih penting.”
Aku menunggu.
“Malam di rumah sakit,” katanya pelan. “Kamu sudah tanya dua kali. Aku bohong sekali.” Dia menarik napas. “Kali ini aku nggak mau bohong.”
Hatchback merah itu berhenti di lampu merah di Cawang. Di luar, Jakarta mulai menyalakan lampu-lampunya. Di kursi depan, Gendis mematikan radio.
“Tapi nggak di sini,” kata Chakra. “Nggak di mobil adikku dengan kardus sabun.”
“Di mana?”
Dia menoleh padaku. Matanya, di balik kacamata, sudah memutuskan sesuatu.
“Di rumah sakit itu,” katanya. “Di ruang tunggu itu. Besok pagi.”
Aku menatapnya lama.
Lalu aku mengangguk.
Gendis menginjak gas ketika lampu berubah hijau. Matanya merah, tapi dia tidak bicara. Tangannya meraba kursi penumpang di sebelahnya, mencari ponsel yang tidak ada di sana karena masih di tasku.
“Kak,” katanya akhirnya, dengan suara serak. “Boleh aku ambil HP-ku sekarang?”
“Buat apa?”
“Mau WA Ibu.” Dia menyeka hidung. “Mau bilang Ibu bener. Dari dulu Ibu bener.”
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama reading
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat